Anda di halaman 1dari 6

Pembahasan

Pada praktikum penentuan daya hambat dari suatu sediaan yang berpotensi
sebagai antiseptik atau desinfektan terhadap bakteri uji dilakukan dengan
menggunakan metode koefisien fenol. Hal ini dikarenakan fenol merupakan jenis
desinfektan yang paling kuno dan karena kekuatannya telah diketahui maka
kualitas desinfektan sehingga dijadikan standar pembanding untuk antiseptik
lainnya. Koefisien fenol adalah bilangan pecahan yang menunjukkan
perbandingan kekuatan daya bunuh dari desinfektan uji (wipol) dibandingkan
dengan kekuatan daya bunuh dari desinfektan pembanding (fenol) dalam kondisi
yang sama (jenis bakteri uji dan waktu kontak bakteri). Koefisien fenol lebih besar
dari 1 (>1) berarti bahwa desinfektan uji lebih kuat dari fenol. Begitu pula jika
koefisien fenol kurang dari 1 (<1) berarti bahwa desinfektan uji lenih lemah dari
fenol. Selanjutnya konsentrasi uji yang digunakan antara desinfektan uji (wipol)
dan fenol harus sama yaitu 5% b/v atau 5% v/v. Hal ini dikarenakan untuk
membandingkan kekuatan masing-masing desinfektan dan juga konsentrasi 5%
dimaksudkan agar desinfektan tidak terlalu pekat sehingga dapat dilihat efektivitas
daya bunuh desinfektan pada konsentrasi rendah. Pengenceran bertingkat dari
konsentrasi desinfektan dimaksudkan agar memperkecil atau mengurangi jumlah
mikroba yang tersuspensi dalam cairan. Penentuan besarnya atau banyaknya tingkat
pengenceran tergantung kepada perkiraan jumlah mikroba dalam sampel. Digunakan
perbandingan 1 : 9 untuk sampel dan pengenceran pertama dan selanjutnya, sehingga
pengenceran berikutnya mengandung 1/10 sel mikroorganisma dari pengenceran
sebelumnya. Media yang digunakan adalah Nutrient Broth (NB) dikarenakan merupakan
media cair pertumbuhan bakteri. Selama praktikum, peralatan dan teknik kerja harus
dilakukan secara aseptis agar tidak ada kontaminan yang masuk ke media uji.
Pada tabung-tabung kelompok A, yaitu a1, a2, a3, a4, a5, dan a6 berisi
desinfektan wipol dengan konsentrasi 1/20 g/mL. Pada jajaran tabung A ini
terlihat kekeruhan hanya pada tabung a2 dan a3. Tabung a2 adalah desinfektan
wipol yang memiliki waktu kontak dalam tabung stok A dengan bakteri
Pseudomonas aeruginosa selama 5 menit, sedangkan tabung a3memiliki waktu
kontak dalam tabung stok A dengan bakteri Pseudomonas aeruginosa selama 7,5
menit. Dari hasil tersebut, tabung-tabung A memiliki kejanggalan dimana bakteri
tumbuh hanya pada waktu kontak 5 dan 7,5menit. menit Secara teoretis, yang
mempengaruhi efektivitas suatu desinfektan pertama yang dilihat adalah
konsentrasi desinfektan itu sendiri, kemudian waktu kontaknya. Semakin lama
waktu kontak bakteri dengan desinfektan, maka daya bakterisidal dari desinfektan
akan semakin baik. Kejanggalan ini mungkin dapat dijelaskan karena bakteri
masih berada dalam fase log pertumbuhannya, sehingga masih ada bakteri yang
dapat bertahan hidup.
Tabung-tabung B, yaitu b1, b2, b3, b4, b5, dan b6 berisi desinfektan wipol
dengan konsentrasi 1/60 g/mL, yaitu hasil pengenceran dari desinfektan wipol
konsentrasi 1/30 g/mL dengan perbandingan 4 mL wipol dan 2 mL aquadest yang
dibuang 1 mL agar terambil 5 mL. Pada jajaran tabung B ini terlihat kekeruhan
hanya pada tabung b1dan b3. Tabung b1 adalah desinfektan wipol yang memiliki
waktu kontak dalam tabung stok B dengan bakteri Pseudomonas aeruginosa
selama 2,5 menit sedangkan tabung b3 adalah desinfektan wipol yang memiliki
waktu kontak dalam tabung stok B dengan bakteri Pseudomonas aeruginosa
selama 7,5 menit. Sama seperti pada tabung-tabung A. Kejanggalan ini mungkin
dapat dijelaskan pula oleh karena bakteri masih berada dalam fase log
pertumbuhannya, sehingga masih ada bakteri yang dapat bertahan hidup.
Tabung-tabung C, yaitu c1, c2, c3, c4, c5, dan c6 berisi desinfektan wipol
dengan konsentrasi 1/40 g/mL, yaitu hasil pengenceran dari desinfektan wipol
konsentrasi 1/20 g/mL dengan perbandingan 4 mL wipol dan 4 mL aquadest yang
dibuang 3 mL agar terambil 5 mL. Pada jajaran tabung C ini terlihat kekeruhan
hanya pada tabung a1, a2, a3, a4, a5, dan a6, yang memiliki waktu kontak dalam
tabung stok c dengan bakteri Pseudomonas aeruginosa selama 2,5;5;7,5;10;
dan15 menit. Dari hasil-hasil sebelumnya, hanya tabung-tabung C yang
memberikan hasil tidak janggal dimana bakteri tidak tumbuh hanya pada waktu
kontak 12,5 menit. Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, secara teoretis, yang
mempengaruhi efektivitas suatu desinfektan pertama yang dilihat adalah
konsentrasi desinfektan itu sendiri, kemudian waktu kontaknya. Semakin lama
waktu kontak bakteri dengan desinfektan, maka daya bakterisidal dari desinfektan
akan semakin baik, begitupun sebaliknya. Sedangkan pada tabung C bakteri
tumbuh hamper disemua tabung tapi terdapat kejanggalan pada tabung c5 bakteri
tidak tumbuh sedangkan pada tabung c6 yang mana memiliki waktu kontak lebih
lama bakteri malah ditemukan tumbuh kembali. Hal tersebut mungkin disebabkan
karena bakteri masih berada dalam fase log pertumbuhannya, sehingga masih ada
bakteri yang dapat bertahan hidup.
Kejanggalan-kejanggalan yang terjadi mungkin juga disebabkan karena factor
teknis seperti:
Ketidakakuratan dalam pengambilan kuman menggunakan ose
Dalam menginokulasi kuman uji terhadap desinfektan, kami memindahkan kuman
tersebut hanya dengan 1 ose. Dengan penggunaan ose, terdapat kemungkinan
kuman tidak terangkat sesuai dengan konsentrasi yang diinginkan. Sebab pada
percobaan kami, banyak kuman yang mati. Pengambilan kuman dengan 2 ose
mungkin dapat lebih akurat.
Penggunaan spiritus yang berlebihan
Banyaknya kuman yang mati juga dapat disebabkan terlalu seringnya dilakukan
flambir pada pembuatan inokulum dan pada penginokulasian kuman uji terhadap
desinfektan. Kuman S.aureus tumbuh optimum pada suhu 37C, oleh karena itu
tidak diperlukan suhu panas yang berlebihan.
Pengenceran desinfektan yang tidak akurat
Pada percobaan kali ini, kami mungkin juga melakukan kesalahan ketika
melakukan pengenceran desinfektan ke dalam 1:20, 1:30, 1:40, 1:50,1:60,1:70.
Pengenceran yang dilakukan tidak akurat, yaitu terlalu banyak desinfektan yang
terkandung dalam 1:20 atau 1:30, sehingga desinfektan terlalu pekat dan tidak
sebanding dengan jumlah kuman yang dibiakkan.
Tabung-tabung D, yaitu d1, d2, d3, d4, d5, dan d6 berisi desinfektan wipol
dengan konsentrasi 1/50 g/mL, yaitu hasil pengenceran dari desinfektan wipol
konsentrasi 1/20 g/mL dengan perbandingan 2 mL wipol dan 3 mL aquadest. Pada
jajaran tabung D ini terlihat kekeruhan hanya pada tabung d4. Tabung d4 adalah
desinfektan wipol yang memiliki waktu kontak dalam tabung stok D dengan
bakteri Pseudomonas aeruginosa selama 10 menit. Dari hasil tersebut, tabung-
tabung D memiliki kejanggalan dimana bakteri tumbuh hanya pada waktu kontak
10 menit. Secara teoretis, yang mempengaruhi efektivitas suatu desinfektan
pertama yang dilihat adalah konsentrasi desinfektan itu sendiri, kemudian waktu
kontaknya. Semakin lama waktu kontak bakteri dengan desinfektan, maka daya
bakterisidal dari desinfektan akan semakin baik. Kejanggalan ini mungkin dapat
dijelaskan karena bakteri masih berada dalam fase log pertumbuhannya, sehingga
masih ada bakteri yang dapat bertahan hidup.
Tabung-tabung E, yaitu e1, e2, e3, e4, e5, dan e6 berisi desinfektan wipol
dengan konsentrasi 1/60 g/mL, yaitu hasil pengenceran dari desinfektan wipol
konsentrasi 1/20 g/mL dengan perbandingan 2 mL wipol dan 4 mL aquadest yang
dibuang 1 mL agar terambil 5 mL. Pada jajaran tabung E ini terlihat kekeruhan
hanya pada tabung e3. Tabung e3 adalah desinfektan wipol yang memiliki waktu
kontak dalam tabung stok E dengan bakteri Pseudomonas aeruginosa selama 7,5
menit. Sama seperti pada tabung-tabung D, dari hasil tersebut, tabung-tabung E
memiliki kejanggalan dimana bakteri tumbuh hanya pada waktu kontak 7,5 menit.
Kejanggalan ini mungkin dapat dijelaskan pula oleh karena bakteri masih berada
dalam fase log pertumbuhannya, sehingga masih ada bakteri yang dapat bertahan
hidup.
Tabung-tabung F, yaitu f1, f2, f3, f4, f5, dan f6 berisi desinfektan wipol
dengan konsentrasi 1/70 g/mL, yaitu hasil pengenceran dari desinfektan wipol
konsentrasi 1/20 g/mL dengan perbandingan 2 mL wipol dan 5 mL aquadest yang
dibuang 2 mL agar terambil 5 mL. Pada jajaran tabung F ini terlihat kekeruhan
hanya pada tabung f1. Tabung f1 adalah desinfektan wipol yang memiliki waktu
kontak dalam tabung stok F dengan bakteri Pseudomonas aeruginosa selama 2,5
menit. Dari hasil-hasil sebelumnya, hanya tabung-tabung F yang memberikan
hasil tidak janggal dimana bakteri tumbuh hanya pada waktu kontak tersingkat,
yaitu 2,5 menit. Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, secara teoretis, yang
mempengaruhi efektivitas suatu desinfektan pertama yang dilihat adalah
konsentrasi desinfektan itu sendiri, kemudian waktu kontaknya. Semakin lama
waktu kontak bakteri dengan desinfektan, maka daya bakterisidal dari desinfektan
akan semakin baik, begitupun sebaliknya. Akibat waktu kontak antara bakteri
Pseudomonas aeruginosa dan desinfektan wipol hanya sebentar, maka
desinfektan belum sempat melakukan kerjanya yang bakterisidal untuk menekan
dan menghentikan pertumbuhan bakteri.
Listerine merupakan salah satu produk obat kumur yang mengandung
bahan-bahan yang bersifat bakterisida, sehingga dapat membantu pemakainya
dalam menghilangkan bau mulut. Pada percobaan ini listerin di uji dengan
pembanding fenol. Pengujian dilakukan untuk melihat aktivitas listerine terhadap
bakteri. Perlakuan terhadap listerin disamakan perlakuannya terhadap fenol, yaitu
diencerkan hingga konsentrasi sediaan uji pertama adalah 5% dari sediaan semula
juga beberapa konsentrasi lainnya. Seharusnya, konsentrasi terbagi menjadi 1/20,
1/30, 1/40, 1/50, 1/60, dan 1/70, yang dibagi dalam tabung berurutan a, b, c, d, e,
f. Setiap pembagian tabung konsentrasi telah disisapkan 6 tabung lain berisi NB
(nutrient broth) yang ditujukan untuk pembiakan bakteri yang telah kontak dengan
produk uji; yaitu listerin. Pada masing-masing media tumbuh bakteri harus
berkontak 2,5menit (dan kelipatannya) dengan produk uji. Namun pada saat
perlakuan praktik di lapangan, pada pembuatan konsentrasi 1/60 dan 1/70 terjadi
kesalahan sehingga tidak dilakukan pengujian pada konsentrasi 1/60 dan 1/70 dan
terjadi kesalahan perhitungan waktu sehingga, kontak antara bakteri dengan
produk uji hanya selama 30 detik. Hal ini menyebabkan setelah
pengembangbiakan bakteri pada media hasilnya semuanya positif(keruh) yang
artinya masih ada biakan Pseudomonas aeruginosa, dan hasil pengamatan
percobaan tidak dapat di bandingkan atau dihitung koefisien fenolnya. Indikasi
positifnya adalah ketika media menjadi keruh dan berubah warna menjadi tosca
bukan lagi berwarna gading. Warna tosca ini dihasilkan oleh bateri ujinya
yaitu Pseudomonas aeruginosa, karena bakteri ini merupakan salah satu bakteri
yang mnghasilkan warna yang khas.
Seharusnya listerine efektif membunuh Pseudomonas aeruginosa.Pada
penelitian yang dilakukan oleh Drake dan Villhauer di USA dalam An In
Vitro Comparative Study Determining Bactericidal Activity of Stabilized Chlorine
Dioxide and Other Oral Rinses menunjukan bahwa listerine dapat
membunuh Pseudomonas aeruginosa dalam waktu satu menit.