Anda di halaman 1dari 6

PEMERIKSAAN SETEMPAT (DESCENTE)

Oleh : Mawardy Amien


A. Pendahuluan
Hukum Acara Perdata menegaskan, bahwa apabila seseorang menyatakan mempunyai
sesuatu hak atau mengemukan suatu peristiwa tentang haknya atau membantah adanya hak
oanng lain, dia harus membuktikan adanya hak itu atau adanya peristiwa itu (Pasal 163 HIR, !3
R"g dan 1!6# "$%&
Hukum Pembuktian yang merupakan represensi dari Pasal 16' HIR, Pasal !' R"g, Pasal
1!66 "$ tersebut telah mempormulasikan alat(alat bukti yang terdiri dari )
1& *urat(surat+
& *aksi(sakti+
3& Pengakuan+ dan
'& "ukti dengan persangkaan&
Ada banyak kenyataan yang ter,adi, dalam sidang di pengadilan pembuktian sudah
dianggap lengkap, tetapi ketika pelaksanaan eksekusi di lapangan keadaannya tidak sesuai
dengan -akta yang diungkapkan dalam sidang& .enyataan tersebut bisa muncu secara alami atau
karena perbuatan manusia&
Pengadilan harus ,elimet, supaya putusan yang di,atuhkan dan diucapka ketua ma,elis
dalam sidang ,adi hampa, dengan kata lain putusan tidak dapat dilaksanakan& Hal tersebut dapat
diwanti(wanti dan dan disiati secara dini dengan pemeriksaan setempat&
Pemeriksaan setempat adalah sidang pengadilan yang dilakukan di tempat ob,ek yang
diperkarakan berada untuk mengetahui dengan ,elas dan pasti kuantitas, kualitas atau kondisi
barang yang disengketakan terebut&
.eterangan ahli sangat erat kaitannya dengan pemeriksaan setempat ini, karena dalam
naskah ini akan dikemukakan pula keterkaitan tersebut& /emikian pula peranan ,uru maupun
,uru sita0,uru sita pengganti cukup penting dalam proses sidang setempat, karena itu materi ini
diberikan dalam disusun dan disampaikan dalam acara diklat 1uru *ita01uru *ita Pengganti ini&
B. Dasar u!um
*idang setempat (decsente% dilaksanakan berdasarkan ketentuan sebagaimana diatur dalam)
1& Pasal 1#3 HIR, yang terdiri dari dua ayat, ayat (1% menyatakan, bahwa apabila dianggap
perlu dapat dilakukan pemeriksaan setempat yang dapat dipergunakan oleh hakim sebagai
keterangan dalam mengambil keputusan& Ayat (%, men,elaskan, bahwa panitera membuat
berita acara pemeriksaan setempat yang ditandatangani Hakim .omisaris dan Panitera
tersebut&
1
& Pasal 1!2 R"g yang terdiri dari tiga ayat& Ayat (1% dan (% substansinya sama dengan HIR,
tetapi Ayat (3% men,elaskan pendelegasian pemeriksaan setempat kepada pengadilan P30PA
di tempat ob,ek perkara terletak&
3& "ab II, "agian 4 R5 dengan titel dan Penyaksiannya mengatur secara lebih luas hal(hal yang
berhubungan dengan pemeriksaan setempat ini&
'& *urat 6daran 7ahkamah Agung 3omor 4 8ahun 221 tentang pemeriksaan *etempat&
". Inisia#i$
Pemeriksaan setepat dapat dilakukan atas inisiati- hakim karena ,abatannya secara ex officio
dan dapat pula dilaksakan atas permintaan dari para pihak&
1& Hakim karena ,abatannya, secara ex officio dapat menetapkan atau memerintahkan untuk
melakukan pemeriksaan setempat tersebut apabila dianggap penting untuk mengetahui secara
pasti keadaan ob,ek gugatan, karena hasil proses sidang menun,ukkan ada indikasi atau
petun,uk bahwa ob,ek gugatan tersebut masih kabur& (perhatikan *67A 3o&4 8ahun 221%&
& Hakim yang berwenang menetapkan dan memerintahkan sidang pemeriksaan setempat itu
hanya hakimtingkat pertama&
3& Permintaan pihak yang berpekara& Permintaan atau pemohonan itu mungkin dari pihak
penggugat atau dari pihak tergugat& Hak para pihak ini dimuat dalam dalam Pasal 1#3 HIR,
1!2 R"g atau Pasal 11 R5, yang menyatakan, bahwa atas permintaan para pihak,dapat
dilaksanakan pemeriksaan setempat&
D. Pemeri!saan Se#em%a# dila!sana!an &erdasar!an Perin#ah
Pelaksanaan pemeriksaan *etempat dilaksanaan berdasarkan perintah 7a,elis Hakim yang
memeriksa perkara tersebut& pasal 1#3 HIR, Pasal 1!2 R"g& Perintah ma,elis hakim dalam Pasal
1#3 HIR maupun dalam Pasal 1!2 R"g dituangkan alam putusan sela, tetapi perintah tersebut
masih samar& Pasal 11 R 5, menyatakan secara tegas agar perintah untuk melaksanakan *idang
Pemeriksaan *etempat dituangkan dalam
Putusan sela (interlocutoir vonnis% atau tussen vonnis.
E. Pela!saan Pemeri!saan Se#em%a#
Putusan sela pengadilan tersebut memuat hal(hal penting yang diperlukan agar Pemeriksaan
*etempat itu terlaksana dengan e-ekti- dan e-isien& Hal(hal yang diperlukan untuk pelaksanaan
itu adalah )
1& 3ama pe,abat dan petugas yang diperintahkan sebagai pelaksana yang terdiri dari )
1% 7inimal satu orang hakim dari anggota ma,elis yang memeriksa perkara tersebut dan
boleh dua orang& Pemeriksaan *etempat itu boleh dilakukan oleh satu ma,elis hakim
secara utuh, hal ini dibaca dalam Putusan 7ahkamah Agung RI 3o& 3160*ip019!3& /alam
putusan tersebut di,elaskan, bahwa pemeriksaan setempat dilakukan oleh ma,elis hakim
2
yang memeriksa dan didampingi oleh panitera pengganti yang bersangkutan dianggap
lebih sempurna dari ketentuan yang dimuat oleh HIR0Rbg maupun R5& karena yang
ditugaskan untuk melakukan pemeriksaan setempat itu dalam HIR0Rbg yang disebut
dengan .omisaris, yang diambil dari anggota ma,elis yang menyidangkan perkara
tersebut& R5 menyatakan pula hakim yang diangkat untuk melakukan pemeriksaan
tersebut& Hal itu sangat logis, karena mereka telah memeriksa dan memahami kasus
yang yang diperkarakan&
% *atu orang Panitera Pengganti yang bertugas mendampingi hakim anggota ma,elis dan
membuat berita acara Pemeriksaan *etempat&
3% *eorang atau beberapa ahli, disebutkan dalam Pasal 11 R5, tetapi si-atnya tidak secara
mutlak, yang mutlak itu hanya seorang hakim anggota dan panitera pengganti&
.eterlibatan ahli si-atnya insidentil, artinya apabila diperlukan& 1ika ma,elis merasa perlu
menun,uk ahli dapat disebutkan dalam putusan sela yang ,umlahnya sesuai dengan
kebutuhan&
'% P
#% Para pihak diperintahkan untuk menghadiri sidang pengadilan pemeriksaan setempat
tersebut, karena sidang pemeriksaan setempat dihadiri iu adalah sidang resmi pengadilan,
hanya tempat pelaksanaannya yang dipindahkan dari suang sidang pengadilan ke lokasi
tempat barang terperkara berada, karena itu harus oleh pihak yang berperkara secara
lengkap& Para pihak harus diberi tahu (tegasnya diperintahkan% untuk menghadiri sidang
pemeriksaan setempat itu&
*etelah para pihak diberitahu secara resmi, tetapi tidak hadir tanpa alasan yang sah
(default without reason%, sidang pemeriksaan setempat dapat dilangsungkan tanpa
kehadiran pihak tersebut& artinya sidang tidak boleh digantungkan kepada kehadiran para,
yang kalau ketidakhadirannya tanpa alasan yang sah&
& /atang ke tempat barang terletak
3& "uat berita acara
'& Akta pendapat
#& Pendelagasian
6& "iaya
'. Nilai !e!ua#an %em&u!#ian
*ecara yuridis -ormil, hasil pemeriksaan setempat bukan alat bukti, karena tidak termasuk
sebagai alat bukti yang disebut Pasal 16' HIR, Pasal 1!!6 .:HPerdata, atau Pasal !3R";,
3
<leh karena itu, tidak sah sebagai alat bukti, sehingga pada dasarnya tidak mempunyai nilai
kekuatan pembuktian&
1% *ebagai .eterangan bagi Hakim
"aik pasal 1#3 ayat (1% HIR, Pasal 1!2 ayat (1% R";, dan Pasal 11 menegaskan, nilai
kekuatan hakimyang melekat pada hasil pemeriksaan setempat, dapat di,adikan keterangan bagi
hakim&
7aka pada dasarnya,hasil pemeriksaan setempat merupakan -akta yang ditemukan dalam
persidangan, sehingga mempunyai daya kekuatan mengikat pada hakim dalam mengambil
keputusan& 8etapi si-at daya mengikatnya tidak mutlak& Hakim bebas untuk menentukan nilai
kekuatan pembukatiannya&
% =ariabel 3ilai .ekuatannya dalam Putusan Pengadilan
Hasil pemeriksaan setempat dapat di,adikan dasar pertimbangan+
/apat di,adikan dasar mengabulkan gugatan+
/apat digunakan menentukan luas&
(. Penda%a# Ahli
1& Pengertian Ahli
Adalah orang yang memiliki penegetahuan khusus di bidang tertentu, menurut hukum
seseorang baru ahli apabila )
7emiliki pengetahuan khusus atau spesialisasi dibidang ilmu pengetahuan tertentu
sehingga orang itu benar(benar kompeten di bidang tersebut+
*pesialisasi itu bisa dalambentuk skill karena hasil latihan atau hasil pengalaman+
*edemikian rupa spesialisasi pengatahuan, kecakapan, latih an atau pengalaman yang
dimilikinya sehingga keterangan dan pen,elasan yang diberikannya dapat membantu
menemukan -akta melebihi kemampuan pengetahuan umum orang biasa&
& Pengangkatan Ahli
>ara pengangkatan atau penun,ukan ahli diatur dalam pasal 1#' ayat (1% HIR, Pasal 1#
R5 & ketentuan ini menyebut dua cara pengangkaan ahli )
<leh Hakim secara Ex Officio
Apabila hakim berpendapat, perkara yang diperiksa perlu mendapat pen,elasan yang
lebih terang dari seorang ahli secara Ex Officio. :ntuk itu tidak memerlukan Persetu,uan
Para Pihak&
Atas Permintaan salah satu pihak
*elain penun,ukan secara Ex Officio oleh hakim, ahli ,uga ditun,uk atau diangkat atas
permintaan para pihak(pihak yang berperkara& *alah satu pihak )
a& /apat menga,ukan permintaan kepada hakim,agar ditun,uk sebagai ahli+
b& *ecara yuridis, berdasarkan permintaan itu hakim diharuskan mengabulkannya&
4
3& Alasan Pemeriksaan Ahli
Alasan Pokok pengangkatan menurut pasal 1#' ayat (1% HIR, karena )
7asih terdapat hal(hal yang belum ,elas+
*atu(satunyacara yang dianggap dapat memper,elasnya, hanya berdasarkan laporan
atau keterangan ahli yang benar(benar kompeten memberi opini atau pendapat
mengenai kasus yang diperkarakan sesuai dengan spesialisasi yang dimilikinya&
'& "entuk /an Penyampaian Pendapat Ahli
a& "entuk pendapat Ahli berupa ?aporan+
"entuk ?isan+
"entuk 8ulisan&
b& ?aporan /isampaikan dalam persidangan+
c& ?aporan /ikuatkan dengan *umpah&
#& @ang tidak cakap men,adi ahli
.epada ahli yang berlaku ,uga ketentuan Pasal 1'# HIR& Hal itu ditegaskan dalam pasal
1#' ayat (3% HIR+
@ang tidak cakap atau yang dilarang ,adi saksi tidak cakap men,adi ahli+
/engan demikian, baik yang tidak cakap absolut (keluarga sedarrah dan semenda garis
lurus dan istri atau suami salah satu (pihak%,maupun yang tidak cakap secara relati- (anak
Aanak atau orang gila%, dilarang bertindak men,adi ahli&
6& 3ilai .ekuatan Pembuktian Pendapat Ahli
Pasal 1!66 .:HPerdata, Pasal 16' HIR tidak mencantumkan BahliC atau Bketerangan
ahliC sebagai alat bukti& *ecara Dormil, ahli berada diluar alat bukti, oleh karena itu
menurut hukum pembuktian, tidak mempunyai nilai kekuatan pembuktian&
a& Pendapat ahli tidak dapat berdiri sendiri
7eskipun :ndang(undang memberi kebebasan kepada hakim untuk mengikuti
pendapat ahli, dari segi hukum pembuktian pendapat ahli )
8idak dapat berdiri sendiri sebagai alat bukti+
8empat dan kedudukannya, hanya ber-ungsi menambah atau memperkuat atau
memper,elas masalah perkara&
b& Dungsi dan .ualitasnya 7enambah Alat "ukti ?ain
Pendapat ahli dapat ber-ungsi dan berkualitas menambah alat bukti yang ada, dapat
dikemukakan dalam pedoman berikut )
Apabila alat bukti yang ada sudah ada batas minimal pembuktian+
Hanya sa,a, nilai kekuatan pembuktiannya masih kurang kuat, dalam hal inilah
hakim dibolehkan mengambil pendapat ahli untuk menambah nilai kekuatan
pembuktian yang ada&
5

6