Anda di halaman 1dari 16

KELAYAKAN USAHA DAN POLA PEMBIAYAAN

TERNAK AYAM RAS PETELUR


(Business Feasibility and Financing Patterns of Laying Chicken Farm)

Lia Nurlaila
1
)
Program Studi Agribisnis Fakultas Pertanian Universitas Siliwangi
lee_ba_potter@yahoo.com.

Enok Sumarsih
2
)
Fakultas Pertanian Universitas Siliwangi
enoksumarsih@yahoo.com

Djoni
3
)
Fakultas Pertanian Universitas Siliwangi
djoniyudhaatmaja21@gmail.com

ABSTRAK
Tujuan penelitian ini untuk mengetahui kelayakan usaha ternak ayam ras petelur dilihat
dari aspek finansial, mengetahui jangka waktu pengembalian modal yang diinvestasikan
pada usaha ternak ayam ras petelur, mengetahui kelayakan usaha jika terjadi perubahan
harga dan mengetahui pola pembiayaan yang dapat diterapkan pada usaha ayam ras
petelur. Metode yang digunakan yaitu metode studi kasus pada perusahaan ternak ayam
ras petelur Risdya Farm di Desa Medanglayang Kecamatan Panumbangan Kabupaten
Ciamis. Usaha ini dibedakan menurut sistemnya yaitu sistem satu yang memulai
pemeliharaan ayam dari umur 1 hari (DOC) sampai ayam afkir dengan skala usaha
sebanyak 6000 ekor dan sistem dua yang memulai pemeliharaan ayam dari umur 13
minggu sampai ayam afkir dengan skala usaha sebanyak 36088 ekor. Hasil analisis
diperoleh NPV pada sistem satu sebesar Rp. 378.055.273 dan pada sistem dua sebesar
Rp. 4.387.498.935. Net B/C pada sistem satu sebesar 2,7 dan pada sistem dua sebesar
5,9. IRR pada sistem satu sebesar 35 persen dan pada sistem dua sebesar 40 persen.
Nilai payback periods pada sistem satu yaitu 4 tahun 2 bulan dan pada sistem dua yaitu
3 tahun 6 bulan. Analisis sensitivitas menunjukkan bahwa usaha ayam ras petelur
Risdya Farm pada sistem satu, akan mengalami kerugian jika kenaikan harga pakan
lebih dari 8 persen atau penurunan produksi lebih dari 6 persen. Namun jika terjadi
kenaikan Harga DOC sebesar 40 persen usaha tersebut masih layak dikembangkan.
Pada sistem dua, akan mengalami kerugian jika kenaikan harga pakan lebih dari 20
persen atau penurunan produksi lebih dari 13 persen. Namun jika terjadi kenaikan
Harga Pullet sebesar 40 persen usaha tersebut masih layak dikembangkan. Pola
pembiayaan yang dapat diterapkan pada usaha ternak ayam ras petelur yaitu kredit
investasi dan modal kerja dengan pembayaran kredit sistem rekening koran dengan
bunga 12 persen pertahun, masa kredit selama 10 tahun. Proporsi antara modal
pinjaman dan modal pribadi masing-masing 63 dan 37 persen. Besarnya kedit pada
sistem satu Rp. 652.400.000 dan pada sistem dua yaitu sebesar Rp. 3.889.732.682.

Kata kunci : Analisis Finansial, Ayam Ras Petelur, Pola Pembiayaan.

ABSTRACT
The research determine the feasibility of laying chicken farming seen from the financial
aspects, determine the payback period of invested capital on laying chicken farming,
determine the feasibility of the event of changes in costs and determine the financing
pattern that can be applied to laying chicken farming. The method used in this study was
a cas study on a enterprise of laying chicken farm Risdya Farm in Medanglayang,
Panumbangan Ciamis. This business be distinguished based on the systems, namely
first system that starting the nursery of chicken from first day old chicken (DOC)
through rejects, with business scale 6000 tail, and second system that starting the
nursery of chicken from 13 weeks old chicken through rejects, with business scale
36088 tail. Based on the results of the NPV analysis on the one system maintenance
scale of 6.000 tail in the amount of Rp. Rp. 378.055.273 and on the two system
maintenance scale of 36.088 tail in the amount of Rp. 4.387.498.935. Net B/C on the
one system by 2.7 and on the two system by 5.9. IRR on the one system by 35 percent
and on the two system by 40 percent. Payback periods value on the one system that is at
4 years and 2 months and on the two system that is at 3 years 6 months. Sensitivity
analysis showed that laying chicken farming of Risdya Farm on the first system, will
incur a loss if the price of feed increased over 8 percent or decline in production over 6
percent, but if the DOC price increased by 40 percent this business is still feasible to
developed. On the second system, this bussines will incur a loss if the price of feed
increased over 20 percent or decline in production over 13 percent, but if the increase in
pullet prices by 40 percent of the business is still feasible to developed. Financing
patterns that can be applied to the laying chicken farming is a pattern of credit
investment and credit checking account with interest payable system each month by 12
percent, and credit period in 10 years. Proportion between capital loans and private
capital namely 63 percent and 37 percent. The amount of credit on the first system is
Rp. 652.400.000 and on the second system amounting to Rp. 3.889.732.682.
Keywords : financial analysis, layer, lending model.

PENDAHULUAN
Peternakan adalah salah satu subsektor di dalam sektor pertanian yang
menyimpan potensi dan prospek yang menjanjikan pada masa yang akan datang. Usaha
ternak ayam petelur menjadi salah satu alternatif dalam bisnis peternakan di Indonesia.
Selain mampu menyerap tenaga kerja yang banyak, usaha ini juga punya posisi strategis
dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia melalui penyediaan protein hewani.
Protein hewani yang dapat dikonsumsi oleh manusia diantaranya dari susu, telur
dan daging. Diantara ketiga protein tersebut yang lebih mampu diterima oleh
masyarakat yaitu telur. Hal ini disebabkan karena telur memiliki gizi yang populer di
kalangan masyarakat dan hampir dapat dikonsumsi oleh semua lapisan masyarakat.
Ayam ras merupakan jenis ayam hasil teknologi pemuliabiakan peternakan yang
mempunyai mutu genetik, berarti semakin butuh perlakuan manajemen yang tinggi
pula. Berbeda dengan ayam buras yang mudah menyesuaikan dengan lingkungan, ayam
ras memerlukan lingkungan yang bersih, tertata rapi, dan tidak menjadi tempat lalu
lalang manusia. Banyak peternak ayam yang menggampangkan masalah ini sehingga
mereka tidak berhasil dalam membudidayakan ayam ras dan kembali membudidayakan
ayam buras yang terbilang mudah.
Produksi ayam ras di Jawa Barat sendiri tiap tahunnya tidak mengalami
perubahan yang signifikan. Berbeda dengan ayam buras untuk produksinya dua kali
lipat lebih banyak dari ayam ras. Hal ini disebabkan karena masih sedikitnya orang yang
mau berinvestasi dalam usaha ternak ayam ras. Jumlah permintaan yang terus
bertambah akan telur ayam ras di Jawa Barat tidak sebanding dengan jumlah
penawaran. Hal ini disebabkan masih sedikitnya orang yang beternak ayam ras petelur
karena usaha ini membutuhkan modal yang sangat besar serta membutuhkan
manajemen yang tinggi. Sehingga ini menjadi peluang yang sangat besar untuk lebih
mengembangkan usaha ternak ayam ras petelur di wilayah Jawa Barat.
Populasi ternak ayam ras petelur untuk wilayah Priangan Timur paling banyak
terdapat di Kabupaten Ciamis yaitu sebanyak 2.636.136 tercatat dari tahun 2007-2011.
Ini menujukkan bahwa Kabupaten Ciamis mempunyai potensi yang besar untuk
pengembangan peternakan khususnya ayam ras petelur. Kabupaten Ciamis mempunyai
36 kecamatan, sentra produksi ayam ras petelur terkonsentrasi di beberapa Kecamatan
diantaranya Kecamatan Cipaku, Kecamatan Sukamantri dan Kecamatan Panumbangan.
Kecamatan Panumbangan termasuk yang paling rendah dibandingkan Kecamatan
Cipaku dan Kecamatan Sukamantri. Perkembangan usaha ayam ras petelur di
Kecamatan Panumbangan tergolong belum optimal. Padahal ketika survei pendahuluan
ke sana, di Kecamatan ini banyak terdapat Poultry Shop yaitu toko yang menjual aneka
macam pakan ternak, seperti Tanjung Mulya PS, Mulya Jaya PS, Sejahtera PS yang
sudah berdiri cukup lama.
Salah satu perusahaan ternak ayam ras petelur yang terdapat di Kecamatan
Panumbangan yaitu perusahaan ternak ayam ras petelur Risdya Farm yang terletak di
Desa Medanglayang. Risdya Farm sendiri merupakan usaha yang baru dirintis pada
tahun 2008, usaha ini masih relatif muda jika dibandingkan dengan perusahaan yang
berada di wilayah Panumbangan, ini terbukti dari belum dimasukannya perusahaan
tersebut ke dalam arsip resmi Dinas Peternakan Kabupaten Ciamis. Permodalan masih
menjadi kendala utama yang dihadapi pelaku usaha tersebut. Sehingga dibutuhkan
modal dari pihak luar, diantaranya Bank.
Jika melihat pengetahuan yang dimiliki, pengusaha ternak tersebut masih belum
mengetahui kelayakan usaha yang baru dirintisnya dari aspek finansial, jangka waktu
kembalinya modal yang telah diinvestasikan, sejauhmana sensitivitas perubahan harga
yang mempengaruhi usaha tersebut serta pola pembiayaan yang sesuai dengan usaha
tersebut. Dengan demikian, Guna mengevaluasi usaha ayam ras petelur dari aspek
finansial maka perlunya dilakukan studi kelayakan finansial serta dibuat suatu pola
pembiayaan yang sesuai dengan kondisi dan potensi usaha yang dimiliki oleh
pengusaha ternak tersebut.

METODE PENELITIAN
Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode Studi Kasus
pada seorang pengusaha ternak ayam ras petelur di Desa Medanglayang Kecamatan
Panumbangan Kabupaten Ciamis.
Data yang digunakan dalam penelitian ini yaitu data primer dan data sekunder. Data
primer diperoleh dari hasil wawancara langsung dengan pengusaha ternak dan data
sekunder diperoleh dari literatur-literatur dan studi pustaka dan dari dinas peternakan.
Metode analisis yang digunakan dalam penelitian ini dengan menggunakan criteria
investasi. Penilaian kelayakan proyek dengan perbandingan biaya dan benefit yang
ditransformasikan ke dalam nilai rupiah dan dirangkumkan dalam proyeksi cashflow.
Cashflow ini digunakan untuk kriteria investasi yaitu NPV (Net Benefit Value), Net B/C
(Net Benefit Cost Ratio), IRR (Internal Rate Of Return), Payback Periods dan Analisis
Sensitivitas, serta analisis pola pembiayaan yang dapat diterapkan pada usaha ayam ras
petelur ini.
1) Net Present Value (NPV)
Net Present Value (NPV) merupakan nilai sekarang (present value) dari selisih
antara benefit (manfaat) dengan cost (biaya) pada Discount Factor (DF) tertentu. NPV
menunjukkan kelebihan benefit (manfaat) dibandingkan dengan cost (biaya). Cara
perhitungan NPV sebagai berikut :
Keterangan :
Bt = benefit pada tahun ke-t.
Ct = biaya pada tahun ke-t.
i = tingkat bunga yang berlaku.
n = lamanya periode waktu
Dari perhitungan tersebut, apabila diperoleh :
NPV > 0, maka proyek tersebut menguntungkan.
NPV < 0, maka proyek tidak layak diusahakan.
2) Net Benefit Cost Ratio (Net B/C)
Net B/C merupakan perbandingan antara jumlah NPV positif dengan jumlah NPV
negatif. Net B/C ini menunjukkan gambaran berapa kali lipat benefit akan diperoleh dari
cost yang dikeluarkan.
Cara perhitungan Net B/C adalah sebagai berikut :

Dari perhitungan tersebut apabila diperoleh :
Net B/C Ratio > 1, maka proyek layak diteruskan
Net B/C Ratio < 1, maka proyek tidak layak diteruskan.
Net B/C Ratio = 1, maka proyek akan cukup menutupi biaya dan investasi selama umur
proyek.
3). Internal Rate of Return (IRR)
IRR adalah suatu kriteria investasi untuk mengetahui presentase keuntungan dari
suatu proyek tiap-tiap tahun dan sebagai alat ukur kemampuan proyek dalam
mengembalikan bunga pinjaman.
Untuk mencari IRR, maka harus menaikkan Discount Factor (DF) sehingga
tercapai NPV = 0 dengan menggunakan rumus sebagai berikut :

Keterangan :
IRR = Tingkat keuntungan internal
NPV = Nilai Rp pada tingkat bunga terendah dengan NPV positif
NPV = Nilai Rp pada tingkat bunga tertinggi dengan NPV negatif
i =Tingkat bunga terendah yang memberikan nilai NPV positif
i =Tingkat bunga tertinggi yang memberikan nilai NPV negatif
Dari perhitungan IRR apabila diperoleh :
IRR > i, maka proyek layak diteruskan.
IRR < i, maka proyek tidak layak diteruskan.
IRR = i, maka proyek akan cukup menutupi seluruh biaya dengan tingkat bunga yang
sedang berlaku.
4). Payback Periods menurut Abdul Choliq, dkk. (1999) diartikan sebagai jangka
waktu kembalinya investasi yang telah dikeluarkan, melalui keuntungan yang diperoleh
dari suatu proyek.
Perangkat untuk mengukur payback periods yaitu dengan Net Benefit Kumulatif.

HASIL DAN PEMBAHASAN
Asumsi
Guna menghindari beberapa kondisi yang tidak menentu, maka penelitian ini
menggunakan beberapa asumsi. Asumsi-asumsi yang digunakan dalam menganalisis
data pada penelitian ini yaitu sebagai berikut :
a) Selama umur proyek, harga jual produk per kilogram dianggap tetap sesuai dengan
harga yang berlaku saat penelitian.
b) Selama umur proyek, harga faktor produksi dianggap tetap.
c) Selama umur proyek, hasil produksi dianggap habis terjual.
d) Usaha ini dibedakan menurut sistemnya yaitu sistem satu yang memulai
pemeliharaan ayam dari umur 1 hari (DOC) sampai ayam afkir skala 6000 ekor
dengan menggunakan kandang DOC dan kandang pullet. Sistem dua yaitu usaha
yang memulai pemeliharaan ayam dari umur 13 minggu sampai ayam afkir skala
36088 ekor dengan menggunakan kandang pullet saja.

Kebutuhan Biaya Investasi dan Biaya Opeasional
Biaya investasi yang digunakan pada usaha ayam ras petelur Risdya Farm ini
antara lain, biaya lahan, biaya pembuatan kandang DOC, biaya pembuatan kandang
layer, biaya pembelian peralatan produksi, Biaya pembelian DOC, biaya pembelian
ayam pullet, biaya pemeliharaan DOC sampai dengan ayam siap bertelur (18 minggu),
pembelian pakan, antibiotic, vitamin, vaksin, pembelian kendaraan, kulkas, gudang dan
tempat pengemasan. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada Tabel 1.
Tabel 1. Komponen Biaya Investasi Sistem Satu dan Sistem Dua pada Usaha Ayam Ras Petelur Risdya
Farm.

Sumber : data primer (diolah), 2013.

Biaya operasional yang digunakan pada usaha ayam ras petelur Risdya Farm
antara lain pakan, antibiotik, vitamin, vaksin, biaya tenaga kerja pemeliharaan induk
ayam, alat tulis kantor, gaji karyawan, rekening listrik dan telepon, pajak mobil, bahan
bakar minyak, pajak bumi dan bangunan. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada Tabel
2.




Tabel 2. Komponen Biaya Operasional Sistem Satu dan Sistem Dua pada Usaha Ayam Ras Petelur
Risdya Farm.

Sumber : data primer (diolah), 2013.

Penerimaan
Produksi yang dihasilkan dari usaha ayam ras petelur Risdya Farm ini yaitu :
1. Telur ayam
Jumlah ayam yang diusahakan oleh Risdya farm yaitu sebanyak 42.088 ekor yang
tersebar di 19 kandang sekitar wilayah Desa Medanglayang. Telur ayam dijual
dalam satuan kilogram yang dikemas dalam 1 peti yang berisi 15 kilogram telur
ayam. Penerimaan pertahun sistem satu dan dua dapat dilihat pada Tabel 3 dan 4.
Tabel 3 menunjukkan penerimaan tiap tahun sistem satu sebesar Rp.738.900.000
untuk tahun ganjil dan Rp. 1.506.150.000 untuk tahun genap, sehingga penerimaan
selama 10 tahun sebesar Rp. 11.225.250.000. Tabel 4 menujukan penerimaan tiap tahun
sistem dua sebesar Rp. 3.940.800.000 pada tahun ganjil dan Rp. 8.032.800.000 pada
tahun genap, sehingga penerimaan selama 10 tahun dari telur ayam sistem dua sebesar
Rp. 59.868.000.000.




Tabel 3. Penerimaan Pertahun Sistem Satu

Sumber : data primer (diolah), 2013.

Tabel 4. Penerimaan Pertahun Sistem Dua.

Sumber : data primer (diolah), 2013.
2. Ayam afkir
Nilai jual ayam afkir ini yaitu sebesar Rp. 12.500/kg. Pada sistem satu tiap satu
kali proses produksi menghasilkan 10.800 kg sehingga penerimaan yang didapat sebesar
Rp. 135.000.000, sedangkan untuk sistem dua afkir yang dihasilkannya sebanyak
64.958 kg dan penerimaan yang didapatkannya sebesar Rp. 811.975.000. Penerimaan
sampingan dari ayam afkir selama 10 tahun untuk sistem satu sebanyak 54.000 kg dan
untuk sistem dua sebanyak 324.790 kg.
3. Kotoran ayam
Risdya Farm sendiri untuk kotoran ayam sudah ada yang mengontrak tiap
tahunnya yaitu perusahaan pupuk kandang sebesar Rp. 40.000.000/kandang/periode.
Biaya-biaya yang dikeluarkan dari mulai pengambilan kotoran sampai pengangkutan
kotoran sepenuhnya diserahkan kepada perusahaan tersebut. Rincian produksi dan
penerimaan pengusaha ternak dapat dilihat pada Tabel 5 dan 6.

Tabel 5. Rekapitulasi Produksi dan Penerimaan Pada Sistem Satu Risdya Farm.

Sumber : data primer (diolah), 2013.
Total penerimaan yang diperoleh Risdya Farm dari ketiga komoditi tersebut tiap
tahunnya yaitu sebesar Rp. 2.500.050.000 pada sistem satu, sedangkan untuk sistem dua
yaitu sebesar Rp. 13.545.575.000.
Tabel 6. Rekapitulasi Produksi dan Penerimaan Pada Sistem Dua Risdya Farm.

Sumber : data primer (diolah), 2013.

Kriteria Kelayakan Investasi
Kelayakan investasi ini diukur dengan NPV (Net Benefit Value), Net B/C (Net
Benefit Cost Ratio), IRR (Internal Rate of Return), Payback Periods dan Analisis
Sensitivitas, serta analisis pola pembiayaan.
NPV (Net Benefit Value)
NPV menunjukkan kelebihan benefit (manfaat) dibandingkan dengan biaya
(cost). Besarnya nilai NPV yang diperoleh dari sistem satu yaitu Rp. Rp. 378.055.273
dan pada sistem dua yaitu Rp. 4.387.498.935 dengan suku bunga yang berlaku pada saat
penelitian yaitu sebesar 12 persen. Hal ini berarti usaha ayam ras petelur Risdya Farm
ini layak dan menguntungkan untuk diusahakan karena NPV > 0.
Net B/C (Net Benefit Cost Ratio)
Net B/C ini menunjukkan gambaran berapa kali lipat benefit akan diperoleh dari
cost yang dikeluarkan. Besarnya Net B/C dari sistem satu yaitu sebesar 2,7 dan sistem
dua yaitu 5,9. Karena Net B/C lebih besar dari satu, maka proyek tersebut layak untuk
dikembangkan.
I RR (I nternal Rate Of Return)
IRR ini untuk mengetahui presentase keuntungan tiap tahun dari suatu usaha dan
sebagai alat ukur kemampuan usaha dalam mengembalikan bunga bank. Besarnya IRR
pada sistem satu yaitu sebesar 35 persen dan sistem dua yaitu sebesar 40 persen. Hal ini
berarti, Risdya Farm mampu membayar bunga pinjaman dari bank sebesar 35 persen
pertahun untuk sistem satu dan sebesar 40 persen untuk sistem dua. Jika dibandingkan
dengan tingkat bunga yang berlaku yaitu sebesar 12 persen dengan nilai IRR usaha
ternak ayam ras petelur, maka usaha tersebut layak untuk dikembangkan karena nilai
IRR lebih besar dari tingkat bunga bank yang berlaku.
Payback Periods
Payback periods menunjukkan waktu pengembalian modal yang akan
diinvestasikan melalui keuntungan yang diperoleh dari usaha ayam ras petelur. Nilai
payback periods yang didapat pada sistem satu skala usaha 6000 ekor yaitu 4 tahun 2
bulan berarti tingkat pengembalian modal investasi pada usia usaha 4 tahun 2 bulan,
sedangkan skala usaha 36088 ekor payback periodsnya 3 tahun 6 bulan. Waktu
pengembalian modal ini lebih rendah dari umur usaha yaitu 10 tahun maka
pengembangan usaha ini layak dijalankan. Hasil analisis finansial usaha ternak ayam ras
petelur Risdya Farm dapat dilihat pada Tabel 7.
Tabel 7. Hasil Analisis Finansial Usaha Ternak Ayam Ras Petelur Risdya Farm

Sumber : data primer (diolah), 2013.

Analisis Sensitivitas
Tujuan dilakukan analisis sensitivitas yaitu untuk melihat apa yang terjadi
dengan usaha jika terjadi perubahan pada biaya dan manfaat seperti adanya kenaikan
biaya operasional dan penurunan produksi.
Risdya Farm pernah mengalami berbagai perubahan akibat harga pakan yang
melambung tinggi akibat berkurangnya pasokan bahan baku dari luar daerah sehingga
harga pakan yang ditawarkan perusahaan pakan kepada Risdya Farm jauh lebih mahal
dari biasanya. Sehingga pengeluaran biaya operasional dan biaya investasi untuk pakan
sangat besar. Pada sistem satu kenaikan harga pakan sebesar 3 persen NPV yang
didapatkan positif yaitu sebesar Rp. 226.558.233 dengan Net B/C sebesar 1,1 dan IRR
sebesar 29% dan dapat dikategorikan bahwa usaha tersebut masih layak diusahakan.
Pada saat kenaikan sebesar 5 persen Net B/C yang didapatkan kurang dari 1 sehingga
usaha tersebut tidak memberikan manfaat yang sebanding dengan biaya yang telah
dikeluarkan dan pada saat kenaikan 8 persen, usaha tersebut sudah tidak layak
diusahakan karena NPV < 0, sedangkan pada sistem dua kenaikan harga pakan sebesar
10 persen menghasilkan NPV sebesar Rp. 1.847.652.865, Net B/C sebesar 1,2 dan IRR
sebesar 31 persen sehingga dapat dikategorikan usaha tersebut layak diusahakan. Pada
saat kenaikan harga pakan sebesar 15 persen, Net B/C sebesar 0,6 yang dikategorikan
usaha tersebut tidak memberikan manfaat yang besar sehingga pada saat kenaikan
sebesar 20 persen usaha tersebut tidak layak diusahakan.
Disamping masalah kenaikan harga pakan, Risdya Farm juga pernah mengalami
penurunan produksi. Hal ini disebabkan karena cuaca, rendahnya kualitas pakan, kurang
baiknya pekerja dalam pemeliharaan ayam, serta umur ayam yang sudah tua. Penurunan
produksi sistem satu sebesar 1 persen menghasilkan NPV sebesar Rp. 309.046.849, Net
B/C sebesar 1,9 dan IRR sebesar 35% sehingga usaha tersebut layak untuk diusahakan.
Namun pada saat penurunan produksi sebesar 3 persen Net B/C bernilai kurang dari 1
dan usaha tersebut sudah tidak memberikan manfaat bagi pengusaha. Sehingga pada
saat kenaikan 6 persen usaha tersebut sudah tidak layak diusahakan. Penurunan
produksi sistem dua sebesar 5 persen, usaha tersebut masih layak untuk diusahakan. Jika
penurunan produksi sebesar 10 persen, usaha tersebut tidak memberikan manfaat yang
berarti, apalagi jika penurunan produksi sebesar 13 persen usaha tersebut tidak layak
untuk diusahakan.
Selain terjadinya penurunan produksi, Risdya Farm juga pernah mengalami
kenaikan harga DOC dan harga pullet yang disebabkan oleh permintaan yang banyak
yang tidak disertai penawaran oleh perusahaan pembibitan ayam sehingga stok untuk
ayam dikurangi dan akibatnya harga DOC melambung tinggi. Pada kondisi berikut,
terjadi kenaikan DOC dan kenaikan pullet mencapai 40 persen namun dalam kondisi
tersebut perusahaan dapat dikatakan layak karena NPV lebih besar dari satu yaitu
sebesar Rp. 349.399.273, Net B/C lebih besar dari satu sebesar 2,3 dan IRR lebih besar
dari discount factor sebesar 35 persen pada sistem satu dan menghasilkan NPV sebesar
Rp. 2.258.898.778, Net B/C sebesar 1,4 dan IRR sebesar 35 persen pada sistem dua.
Sehingga dengan adanya kenaikan DOC dan kenaikan pullet tidak terjadi perubahan
yang signifikan terhadap keadaan perusahaan tidak seperti kenaikan harga pakan dan
penurunan produksi. Untuk lebih jelasnya tentang perubahan yang terjadi di Risdya
Farm dapat dilihat pada Tabel 8 dan 9.
Tabel 8. Analisis Sensitivitas Sistem Satu

Sumber : data primer (diolah), 2013.

Tabel 9. Analisis Sensitivitas Sistem Dua.
Sumber : data primer (diolah), 2013.

Pola Pembiayaan
Pola pembiayaan yang dapat diterapkan untuk usaha ayam ras petelur yaitu pola
kredit modal kerja dengan menggunakan kredit rekening koran. Hal ini disebabkan
karena dengan pola pembiayaan kredit rekening koran ini, bunga yang dibayarkan
sesuai dengan modal pinjaman yang digunakan. Dalam arti modal pinjaman yang tidak
digunakan oleh peternak, bunganya tidak perlu dibayar. Pembayaran bunga dilakukan
tiap bulan sebesar 1 persen dari modal pinjaman yang digunakan. Jangka waktu untuk
kredit rekening koran ini yaitu selama satu tahun dan bisa diperpanjang setelah jatuh
tempo. Responden dalam hal ini menggunakan pola pembiayaan dengan kredit rekening
koran dari Bank Nasional Indonesia (BNI) Kabupaten Ciamis dengan besarnya
pinjaman sebesar Rp. 4.500.000.000. dan sisanya merupakan modal sendiri sehingga
proporsi antara modal pinjaman dan modal pribadi yaitu 63 pesen merupakan modal
pinjaman bank dan 37 persen merupakan modal pribadi. Maka pada sistem satu yang
dibutuhkan pengusaha ternak yaitu sebesar Rp 652.400.000. dan pada sistem dua yaitu
sebesar Rp. 3.790.800.000.
Tabel 10. Kebutuhan Dana Investasi Usaha Ternak Ayam Ras Petelur

Sumber : data primer (diolah), 2013.
Kredit dari perbankan diasumsikan dengan masa pengembalian pokok pinjaman
dan angsuran bunga selama 10 tahun.
Tabel 11. Rekapitulasi Angsuran Kredit Investasi Sistem Satu.

Sumber : data primer (diolah), 2013.
Tabel 12. Rekapitulasi Angsuran Kredit Investasi Sistem Dua.

Sumber : data primer (diolah), 2013.
KESIMPULAN DAN SARAN
Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan, maka dapat ditarik kesimpulan
sebagai berikut :
1. Usaha ternak ayam ras petelur Risdya Farm yang bertempat di Desa Medanglayang
layak untuk dikembangkan dengan melakukan perluasan usaha dan menambah
kapasitas ayam ras berdasarkan hasil analisis finansial diperoleh :
a) NPV pada sistem satu sebesar Rp. 378.055.273 dan pada sistem dua sebesar Rp.
4.387.498.935.
b) Net B/C pada sistem satu sebesar 2,7 dan pada sistem dua sebesar 5,9.
c) IRR pada sistem satu 35 persen dan pada sistem dua sebesar 40 persen.
2. Nilai payback periods pada sistem satu pada umur usaha 4 tahun 2 bulan, sedangkan
pada sistem dua yaitu pada umur usaha 3 tahun 6 bulan.
3. Analisis sensitivitas menunjukan bahwa :
a) Usaha ayam ras petelur Risdya Farm pada sistem satu yaitu jika kenaikan harga
pakan sebesar 8 persen, penurunan produksi sebesar 6 persen, usaha tersebut
sudah tidak layak dikembangkan, akantetapi kenaikan harga DOC sebesar 40
persen usaha tersebut masih layak dikembangkan.
b) Usaha ayam ras Risdya Farm pada sistem dua yaitu jika kenaikan harga pakan
sebesar 20 persen, penurunan produksi sebesar 13 persen, usaha tersebut sudah
tidak layak dikembangkan, akantetapi kenaikan harga Pullet sebesar 40 persen
usaha tersebut masih layak dikembangkan.
4. Pola pembiayaan yang dapat diterapkan pada usaha ternak ayam ras petelur yaitu
kredit modal kerja secara rekening koran dimana mutasi penarikan dan
penyetorannya dilakukan pada rekening pinjaman. Pembayaran bunga tiap bulan
sebesar 1 persen dan sebesar 12 persen jika pembayaran dilakukan tiap tahun
dengan proporsi antara modal pinjaman dan modal pribadi yaitu 63 pesen
merupakan modal pinjaman bank dan 37 persen merupakan modal pribadi.
Angsuran pokok pinjaman dan bunga selama 10 tahun. Maka pada sistem satu kredit
investasi yang dibutuhkan pengusaha ternak yaitu sebesar Rp. 652.400.000 dan pada
sistem dua yaitu sebesar Rp. 3.889.732.682.

Saran
1. Bagi usaha ternak ayam ras petelur dalam skala kecil maupun besar, khususnya
Risdya Farm sebaiknya lebih memilih skala pemeliharan dari mulai DOC, hal ini
disebabkan terkodinirnya kebutuhan ayam dan terpeliharanya ayam dari pakan
yang buruk yang dapat menghambat proses pertumbuhannya.
2. Bagi peternak ayam ras petelur yang akan mengembangkan usahanya menjadi skala
pemeliharaan besar untuk memilih peminjaman kredit kepada perbankan dengan
kredit rekening koran karena bunga yang dikenakan sangat kecil dan perhitungan
bunganya sesuai pokok pinjaman yang digunakan.
3. Bagi pemerintah setempat untuk lebih memperhatikan terhadap usaha mandiri
seperti ini karena dengan adanya usaha ini dapat memberikan manfaat secara tidak
langsung yaitu dapat meningkatkan perekonomian daerah setempat, disamping itu
juga dapat memberikan lapangan pekerjaan bagi masyarakat sekitar.

DAFTAR PUSTAKA

Abdul Choliq, Rivai Wirasasmita dan Sumarana Hasan, 1999. Evaluasi Proyek. Pionir
Jaya, Bandung.
Bachrawi Sanusi. 2000. Pengantar Evalusai Proyek. Fakultas Ekonomi Universitas
Indonesia, Jakarta.
Bambang Suharno. 2003.Kiat Sukses Berbisnis Ayam. Penebar Swadaya, Jakarta.
. 2011. Agribisnis Ayam Ras. Penebar Swadaya, Jakarta.
Bumi Merdeka. 2010. Sukses Beternak Ayam Petelur. Atma Media Press, Jakarta.
Clive Gray, Payaman Simanjuntak, Lien K. Sabur, P.F.L. Maspaitella. 1985. Pengantar
Evaluasi Proyek. Gramedia Pustaka Utama, Jakarta.
Dinas Peternakan Kabupaten Ciamis. 2011. Laporan Tahunan Tahun 2009-2011.
Ciamis.
Dinas Peternakan Provinsi Jawa Barat, 2011. Jawa Barat Dalam Angka Tahun 2007-
2011. Jawa Barat.
Dinas Peternakan Provinsi Jawa Barat. 2011. Statistik Peternakan. Jawa Barat.
Hadiwidjaja, Rivai Wirasasmita, 1991. Analisis Kredit. Pionir Jaya, Jakarta.
Kadariah. 1988. Evaluasi Proyek Analisis Ekonomis. LPFE-UI, Jakarta.
Said Rusli. 1984. Pengantar Ilmu Kependudukan. Lembaga Penelitian, Pendidikan dan
Penerangan Ekonomi dan Sosial (LP3ES), Jakarta.
Sanapiah Faisal. 2007. Format- Format Penelitan Sosial. Raja Grafindo Persada,
Jakarta.
Thomas Suyatno, H.A. Chalik, Made Sukada, C. Tinon Yunianti Ananda, Djuhaepah T.
Marala, 2003. Dasar-Dasar Perkreditan. Gramedia Pustaka Utama, Jakarta.