Anda di halaman 1dari 36

Laporan Kepaniteraan Kedokteran Keluarga

Tuberkulosis Paru Kasus Baru












Disusun Oleh:
Suryo Adi Kusumo Bawono G4A013002


Pembimbing Fakultas:
dr. Nendyah Roestijawati, MKK
NIP. 19701110.200801.2.026

Pembimbing Lapangan
dr. Leni Kurniati Jubaidah
NIP.


JURUSAN KEDOKTERAN
FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU-ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN
PURWOKERTO

SEPTEMBER 2014


2

HALAMAN PENGESAHAN
LAPORAN KEPANITERAAN KEDOKTERAN KELUARGA

Tuberkulosis Paru Kasus Baru







Disusun Oleh :
Fitri Yulianti G1A212113





Telah diperiksa, disetujui, dan disahkan :
Hari :
Tanggal : Desember 2013



Preseptor Lapangan


dr. Sugeng Rahadi
NIP.196010281 198912 1 001
Preseptor Fakultas



dr. Diah Krisnansari, M.Si
NIP. 19770202 200501 2 001




3

BAB I
KARAKTERISTIK DEMOGRAFI KELUARGA


Nama Kepala Keluarga : Ny. S
Alamat lengkap : Desa Pekuncen RT02/RW09, Kec. Pekuncen
Bentuk Keluarga : Extended family

Tabel 1.1. Daftar Anggota keluarga yang tinggal dalam satu rumah
No Nama Kedudukan L/P Umur Pendidikan Pekerjaan Pasien
Klinik
Ket
1. Tn. S Kepala
keluarga
L 37
tahun
SMA Wiraswasta T -
2. Ny. S Istri P 36
tahun
S-1 Guru SMK Y TB
3. An. F Anak P 7
tahun
SD - T -
4. An. R Anak L 2
tahun
Belum
bersekolah
- T -
5. Tn. D Ayah
Kepala
Keluarga
L 66
tahun
SD Wiraswasta T -
6. Ny. J Ibu Kepala
Keluarga
P 53
tahun
SD Wiraswasta T -
Kesimpulan dari karakteristik demografi diatas adalah bentuk keluarga
dari Ny. S berbentuk extended family dengan Tn. S (37 tahun) sebagai kepala
keluarganya yang bekerja sebagai wiraswasta. Ny. S memiliki seorang suami yang
bernama Tn. S (37) sebagai kepala keluarga. Tn. S dan Ny. S saat ini tinggal
bersama kedua anaknya dan kedua mertuanya.
4

BAB II
STATUS PENDERITA


A. PENDAHULUAN
Laporan ini disusun berdasarkan kasus yang diambil dari seorang
perempuan berusia 36 tahun yang datang ke poliklinik Puskesmas Pekuncen
pada hari Selasa tanggal 9 September 2014 jam 10.00. Pasien datang untuk
kontrol dan mengambil obat dengan keluhan batuk.
.
B. IDENTITAS PASIEN
Nama : Ny. S
Umur : 36 tahun
Jenis kelamin : perempuan
Status : Sudah menikah
Pekerjaan : Guru SMK
Pendidikan : S-1
Agama : Islam
Suku bangsa : Jawa
Kewarganegaraan : Indonesia
Alamat : Pekuncen RT 9 RW 2, Kec. Pekuncen
Pengantar : Tn. S
Hubungan dengan pasien : Suami

C. ANAMNESIS
1. Keluhan utama
Batuk berdahak sejak 3 bulan
2. Keluhan Tambahan
Sesak, berat badan menurun
3. Riwayat Penyakit Sekarang
Pasien datang ke poliklinik Puskesmas Pekuncen untuk kontrol dan
mengambil obat diantar oleh suaminya dengan keluhan batuk dan sesak.
Pasien sudah berobat selama 2 minggu ini. Awal mulanya, pasien datang
5

dengan keluhan batuk sejak 3 bulan yang lalu dan tidak kunjung sembuh.
Selain itu pasien juga merasakan sesak, namun sesak yang dirasakan
pasien tidak sampai mengganggu aktivitas. Sesak jarang dirasakan. Berat
badan pasien menurun selama 3 bulan yang lalu. Berat badan awal pasien
adalah 56 kilogram sekarang menurun menjadi 52 kilogram.

4. Riwayat Penyakit Dahulu
a. Riwayat keluhan yang sama : disangkal
b. Riwayat mondok : disangkal
c. Riwayat operasi : disangkal
d. Riwayat kecelakaan : disangkal
e. Riwayat pengobatan : disangkal
f. Riwayat alergi makanan/obat : disangkal
5. Riwayat Penyakit Keluarga
Riwayat penyakit yang sama : disangkal.
6. Riwayat Sosial dan Exposure
a. Community
Lingkungan tempat tinggal pasien merupakan lingkungan yang
cukup padat penduduk. Jarak antar rumah di lingkungan tersebut
sekitar 2 sampai 3 meter.
b. Home
Pasien tinggal di Desa Pekuncen RT 2 RW 9, Kec.Pekuncen.
Pasien tinggal di sebuah rumah permanen dengan dinding bata
dengan sebagian dinding telah dilapisi cat dinding dan hanya gudang
saja yang tidak dilapisi cat. Luas rumah sekitar 64 m
2
dihuni oleh 6
orang. Lantai rumah menggunakan keramik. Atap rumah
menggunakan genting dengan beberapa bagian sudah terpasang
eternit. Kesan pencahayaan dan jumlah ventilasi cukup untuk di
ruang tamu, namun kurang untuk di kamar, dapur, dan ruang makan,
sehingga rumah masih terasa lembab jika pagi hari dan sore hari.
Ruangan di rumah tersebut terdiri dari ruang tamu yang
menyatu dengan ruang keluarga, kamar tidur 3, jamban 1, serta
6

ruang dapur yang menyatu dengan ruang makan dan musholla.
Terdapat sebuah kandang ayam dengan jumlah ayam 4 ekor yang
berada di dalam rumah, terletak di sebelah dapur dan ruang makan.
Sumber air adalah sumur pompa yang letaknya di belakang
bersebelahan dengan kamar mandi (sekitar 1 m dari kamar mandi).
Kamar mandi berjumlah 1 dan memiliki jamban di dalamnya. Kamar
mandi digunakan untuk mandi, cuci baju, dan BAB/BAK. Kesan:
rumah pasien masih kurang memenuhi syarat rumah sehat, terutama
dari kebersihan, dan ventilasi.
c. Hobby
Pasien tidak memiliki hobi tertentu.
d. Occupational
Pasien bekerja sebagai guru di SMK Purwojati. Pasien bekerja dari
pukul 07.00 hingga pukul 15.00.
e. Personal habit
Pasien tidak memiliki kebiasaan merokok maupun minuman
beralkohol. Pasien juga memiliki pendidikan yang tinggi, dan
mampu menjaga kebersihan dirinya dengan baik.
f. Drug
Pasien sudah secara rutin minum OAT untuk pengobatan TB yang ia
derita. Sudah 2 minggu ini pasien rutin meminum OAT.
7. Riwayat Gizi
Saat ini pasien makan makanan yang dimasak olehnya sendiri. Menu
makanan sehari-hari adalah nasi, sayur, dan lauk seadanya. Terkadang
juga menyediakan buah-buahan untuk camilan pasien. Kesan gizi pasien
cukup.
8. Riwayat Ekonomi
Pasien merupakan salah satu tulang punggung keluarga, sehingga
penghasilan keluarga juga sangat berpengaruh dari kesehatan pasien.
9. Riwayat Psikologi
Hubungan kekeluargaan di antara keluarga Ny. S terjalin baik, terbukti
dengan permasalahan-permasalahan yang dapat diatasi dengan baik
7

dalam keluarga ini. Hubungan antara keluarga terlihat akrab dan sangat
dekat. Mereka saling memberi perhatian satu sama lain. Hal ini terbukti
dengan adanya respon anggota keluarga dalam usaha pengobatan pasien
yang sudah diusahakan untuk berobat.
10. Riwayat Demografi
Hubungan dalam keluarga cukup baik. Interaksi diantara anggota
keluarga ini juga terlihat baik, hal ini dibuktikan dengan adanya perhatian
anggota keluarga terhadap kondisi pasien.
11. Riwayat Sosial
Hubungan dengan anak-anaknya terjalin baik, namun pasien mengaku
merasa waktunya untuk anak-anaknya amat kurang. Hubungan pasien
dengan tetangga sekitar juga akrab. Pasien rutin mengikuti perkumpulan
dengan warga sekitar rumahnya.
12. Anamnesis Sistemik
a. Keluhan Utama : batuk selama 3 bulan
b. Kulit : tidak ada keluhan
c. Kepala : tidak ada keluhan
d. Mata : tidak ada keluhan
e. Hidung : tidak ada keluhan
f. Telinga : tidak ada keluhan
g. Mulut : tidak ada keluhan
h. Tenggorokan : tidak ada keluhan
i. Pernafasan : Batuk berdahak, sesak nafas
j. Sistem Kardiovaskuler : tidak ada keluhan
k. Sistem Gastrointestinal : tidak ada keluhan
l. Sistem Muskuloskeletal : tidak ada keluhan
m. Sistem Genitourinaria : tidak ada keluhan
n. Ekstremitas : tidak ada keluhan

D. PEMERIKSAAN FISIK
1. Keadaan Umum
Sedang, compos mentis, status gizi kesan cukup.
8

2. Tanda Vital
a. Tekanan darah : 110/70 mmHg
b. Nadi : 80x /menit, regular, isi dan tegangan cukup
c. RR : 24x /menit, regular
d. Suhu : 36,5
0
C
3. Status gizi
BB : 52 kg
TB : 155 cm
IMT : 21,48
Kesan status gizi : gizi cukup
4. Kulit : tidak ada kelainan
5. Kepala : tidak ada kelainan
6. Mata : tidak ada kelainan
7. Telinga : tidak ada keluhan
8. Hidung : tidak ada kelainan
9. Mulut : tidak ada kelainan
9. Tenggorokan : tidak ada kelainan
10. Leher : tidak ada kelainan
11. Thorak : tidak ada kelainan
Jantung : tidak ada kelainan
Pulmo
Inspeksi : Dinding dada simetris, retraksi (-), gerakan
paru simetris, terdapat usaha nafas.
Palpasi : tidak ada kelainan
Perkusi : tidak ada kelainan
Auskultasi : wheezing (-), ronkhi basah halus (+)
12. Punggung : tidak ada kelainan
13. Abdomen : tidak ada kelainan
14. Genitalia : Tidak dilakukan
15. Anorektal : Tidak dilakukan
16. Ekstremitas :
Superior : tidak ada kelainan
9

Inferior : tidak ada kelainan

E. PEMERIKSAAN PENUNJANG
1. Darah rutin
2. Kultur dahak
3. Rontgen
F. RESUME
1. Anamnesis
a. Keluhan utama : batuk berdahak selama 3 bulan
b. Keluhan tambahan : sesak
c. Riwayat Sosial :
Pasien Ny. S berusia 36 tahun dengan bentuk keluarga extended
family. Dari hasil anamnesis didapatkan bahwa pasien menderita
batuk berdahak yang sudah lama, pasien juga mengeluhkan sesak
namun tidak mengganggu aktivitas. Faktor resiko dari pasien ini
menderita batuk berulang adalah kesehatan rumah yang kurang,
mulai dari ventilasi dan pencahyaan serta penggunaan kandang ayam
yang di dalam rumah dan daerah padat penduduk.
2. Pemeriksaan Fisik
a. Tekanan darah : 110/70 mmHg
b. Nadi : 80x /menit, regular, isi dan tegangan cukup
c. RR : 24x /menit, regular.
d.
Suhu : 36,5
o
e. Mata : dalam batas normal
f. Pulmo : retraksi (-), rhonki basah halus(+).

G. DIAGNOSIS HOLISTIK
1. Aspek Personal
a. Idea
Pasien berharap keluhan batuknya segera berkurang dan tidak
mengganggu aktifitas.

10


b. Concern
Akibat penyakitnya aktifitas pasien terganggu mulai dari aktivitas di
rumah maupun aktivitas rutin di luar rumah. Termasuk aktivitas
pasien mengajar. Pasien juga mengkhawatirkan apabila penyakitnya
dapat menular ke anaknya.
c. Expectacy
Pasien mempunyai harapan penyakit dapat segera disembuhkan
sehingga dapat produktif lagi. Dan agar anaknya tidak tertular oleh
penyakitnya.
d. Anxiety
Pasien cukup gelisah karena takut apabila sakitnya ini dapat menular
ke anak-anaknya maupun anggota keluarga lainnya.
2. Aspek Klinis
a. Diagnosa : Tuberkulosis Paru
b. Gejala klinis : batuk berdahak, sesak, berat badan menurun,
rhonki basah halus.
c. Diferensial diagnosis :
1) Asma
2) Pneumonia
3) ISPA
3. Aspek Faktor Risiko Intrinsik Individu
Kurangnya pasien berolahraga dan gizi yang kurang mencukupi.
4. Aspek Faktor Risiko Ekstrinsik Individu
a. Rumah pasien yang tidak memenuhi syarat rumah sehat (rumah yang
menjadi satu dengan kandang ayam serta ada beberapa bagian yang
belum menggunakan eternit).
b. Paparan terhadap debu yang berlebihan saat bekerja karena pasien
harus menempuh perjalanan dari rumahnya ke tempat kerjanya yang
merupakan jalur utama.


11

5. Aspek Skala Fungsi.
Berdasarkan skala fungsi, aspek skala fungsi Tn. W adalah 1 dimana Ny.
S masih mampu melakukan aktivitas sehari-hari.

H. PENATALAKSANAAN
1. Personal
a. Non medikamentosa
1) Edukasi kepada pasien tentang penyakitnya, termasuk faktor-
faktor yang dapat memperparah keadaan pasien, seperti
menghentikan pengobatan.
2) Menjaga kebersihan rumah.
3) Menganjurkan pasien untuk menggunakan masker.
4) Membiasakan membuka jendela dan pintu ruangan dan kamar
untuk menjaga pencahayaan dan sirkulasi udara cukup.
5) Dianjurkan kontrol setelah obat habis dan selalu rutin meminum
obat supaya tidak terjadi keparahan ataupun penyulit.
b. Medikamentosa
1) OAT FDC 3 tab/hari
2. Keluarga
a. Memberikan edukasi pada keluarga pasien untuk membatasi
aktivitas fisik pasien serta menggunakan masker
b. Menjaga kebersihan rumah, dan sebisa mungkin memisahkan
kandang ayam dari rumah
c. Menunjang nutrisi pasien dengan makanan sehat dan bergizi.

I. FOLLOW UP
Selasa, 9 September 2014
S : batuk berdahak
O :
KU/kesadaran : sedang/ komposmentis
Tekanan darah :110/70 mmHg
Nadi : 80x/menit
12

Suhu : 36,5
0
C
RR : 24x/menit
A : TB Paru
P : Lanjutkan obat yang diberikan.
J. FLOW SHEET
Nama : Ny. S
Diagnosis : TB Paru
Tabel 2.1 Flow Sheet
No Tgl Problem TD
mmHg
N
x/1'
RR
x/1'
T
o
C Planning Target
1 09/09/14 Batuk
berdahak,
110/70 72 20 36,5 Lanjut OAT FDC
1 tab 3
Sesak dan
batuk
berkurang
13

BAB III
IDENTIFIKASI FUNGSI-FUNGSI KELUARGA


A. FUNGSI HOLISTIK
1. Fungsi Biologis
Keluarga Tn. W (74 tahun) merupakan keluarga dengan bentuk
nuclear family karena Tn. W hanya tinggal satu rumah dengan istrinya
yaitu Ny. M (70) dan anaknya yaitu Ny. K (40). Sedangkan keempat anak
lainnya tinggal di Jakarta bersama cucu-cucu Tn. W yang berjumlah 8
orang. Ny.K sebagai anak yang terakhir juga sudah menikah dengan
suaminya yang saat ini bekerja di Jakarta.
2. Fungsi Psikologis
Hubungan antar anggota pada keluarga Tn.W terjalin dengan baik.
Anggota keluarga saling memberi perhatian terhadap satu sama lain
sehingga terbina hubungan yang harmonis antar anggota keluarga.
Permasalahan yang kadang timbul diantara anggota keluarga selalu bisa
diselesaikan dengan baik karena adanya sikap saling pengertian. Masalah
komunikasi dengan keluarga kebanyakan tinggal di luar kota diakui sering
muncul. Tapi masalah ini dapat dikurangi dengan adanya alat komunikasi
yang seringkali bisa menyelesaikan masalah yang terjadi. Jika ada masalah
cukup rumit yang memerlukan penyelesaian bersama, seluruh keluarga
akan berkumpul di satu tempat untuk membahasnya.
3. Fungsi Sosial
Fungsi sosial keluarga Tn. W dengan lingkungan sekitar diakui
cukup baik. Walaupun Tn. W dan istrinya jarang keluar rumah karena
sakit yang diderita, tapi Ny. K selaku anak senantiasa berinteraksi baik
dengan tetangga sekitar. Walaupun termasuk pendatang baru di
lingkungan tersebut, keluarga pasien cukup dikenal oleh lingkungan di
sekitarnya. Kegiatan Tn. W dan Ny.T sehari-harinya adalah bersantai di
rumah. Seluruh pekerjaan rumah dilakukan oleh Ny. K.

14

4. Fungsi Ekonomi dan Pemenuhan Kebutuhan
Untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari maupun biaya pengobatan
pasien menggunakan biaya dari anak-anak dan menantunya.

Kesimpulan :
Penderita tinggal dalam suatu nuclear family sehingga pasien bisa
bersantai dalam kegiatan sehari-harinya karena ada anaknya yang
senantiasa menjaga dan mengurus pasien serta istrinya. Hubungan
kekeluargaan dan hubungan sosial dengan masyarakat terjalin baik. Pasien
berasal dari golongan ekonomi menengah ke bawah.

B. FUNGSI FISIOLOGIS (A.P.G.A.R. SCORE)
Untuk menilai fungsi fisiologis keluarga ini digunakan A.P.G.A.R.
SCORE dengan nilai hampir selalu = 2, kadang = 1, hampir tidak pernah = 0.
A.P.G.A.R. SCORE di sini akan dilakukan pada masing-masing anggota
keluarga dan kemudian dirata-rata untuk menentukan fungsi fisiologis
keluarga secara keseluruhan. Nilai rata-rata 1-5 jelek, 5-7 sedang dan 8-10
adalah baik. Adapun aspek yang dinilai yaitu :
1. Adaptation
Setiap permasalahan yang ada, keluarga ini senantiasa menyikapi dan
menghadapinya secara bersama-sama. Dalam menghadapi permasalahan
yang ada, pasien senantiasa mendapat dukungan dari istri, anak-anak
serta menantunya.
2. Partnership
Komunikasi antara anggota keluarga yang tinggal serumah diakui cukup
baik. Hubungan Tn.W dengan istri dan anaknya yang tinggal serumah
sangat dekat. Hubungan dengan keluarga yang berada di luar kota
memang tidak sedekat dengan keluarga yang tinggal satu rumah.
Walaupun begitu, keharmonisan selalu dijaga melalui alat komunikasi.
3. Growth
15

Setiap keadaan yang sedang dijalani selalu merasa disyukuri oleh Tn. W dan
keluarganya. Kiriman uang tiap bulan dari anak-anaknya memang tidak
terlalu besar tapi masih cukup untuk membiayai kehidupan dasar sehari-hari.
4. Affection
Pasien merasa sangat menerima banyak kasih sayang dari istri dan anak-
anaknya. Dan pasien juga merasa sangat menyayangi istri dan
keluarganya.
5. Resolve
Rasa kasih sayang yang diberikan kepada pasien cukup, baik dari anak,
menantu maupun cucunya.

Tabel 3.1. A.P.G.A.R. Score Keluarga Tn. W
A.P.G.A.R. Tn. W Terhadap Keluarga Sering
/selalu
Kadang
-kadang
Jaran
g/tida
k
A Saya puas bahwa saya dapat kembali ke
keluarga saya bila saya menghadapi
masalah

P Saya puas dengan cara keluarga saya
membahas dan membagi masalah
dengan saya

G Saya puas dengan cara keluarga saya
menerima dan mendukung keinginan
saya untuk melakukan kegiatan baru
atau arah hidup yang baru

A Saya puas dengan cara keluarga saya
mengekspresikan kasih sayangnya dan
merespon emosi saya seperti
kemarahan, perhatian dll

R Saya puas dengan cara keluarga saya
dan saya membagi waktu bersama-sama

Total poin = 7.
16

Nilai A.P.G.A.R Tn. W sedang, dapat dikatakan fungsi fisiologis dalam
keluarga cukup sehat. Hasil penilaian APGAR didapatkan poin 7.

Tabel 3.2. A.P.G.A.R. Score Keluarga Ny. M
A.P.G.A.R. Ny. M Terhadap Keluarga Sering
/selalu
Kadang
-kadang
Jaran
g/tida
k
A Saya puas bahwa saya dapat kembali ke
keluarga saya bila saya menghadapi
masalah

P Saya puas dengan cara keluarga saya
membahas dan membagi masalah
dengan saya

G Saya puas dengan cara keluarga saya
menerima dan mendukung keinginan
saya untuk melakukan kegiatan baru
atau arah hidup yang baru

A Saya puas dengan cara keluarga saya
mengekspresikan kasih sayangnya dan
merespon emosi saya seperti
kemarahan, perhatian dan lain-lain.

R Saya puas dengan cara keluarga saya
dan saya membagi waktu bersama-sama

Total poin = 8.
Nilai A.P.G.A.R Ny. M baik, dapat dikatakan fungsi fisiologis dalam
keluarga sehat. Hasil penilaian APGAR didapatkan poin 8.

Tabel 3.3. A.P.G.A.R. Score Keluarga Ny.K
A.P.G.A.R. Ny. K Terhadap Keluarga Sering
/selalu
Kadang
-kadang
Jaran
g/tida
k
A Saya puas bahwa saya dapat kembali ke

17

keluarga saya bila saya menghadapi
masalah
P Saya puas dengan cara keluarga saya
membahas dan membagi masalah
dengan saya

G Saya puas dengan cara keluarga saya
menerima dan mendukung keinginan
saya untuk melakukan kegiatan baru
atau arah hidup yang baru

A Saya puas dengan cara keluarga saya
mengekspresikan kasih sayangnya dan
merespon emosi saya seperti
kemarahan, perhatian dan lain-lain.

R Saya puas dengan cara keluarga saya
dan saya membagi waktu bersama-sama

Total poin = 8.
Nilai A.P.G.A.R Ny.T baik, dapat dikatakan fungsi fisiologis dalam
keluarga sehat. Hasil penilaian APGAR didapatkan poin 8.

A.P.G.A.R. SCORE keluarga pasien : (7+8+8/3) = 7,6
Kesimpulan : fungsi fisiologis keluarga baik.

Secara keseluruhan total poin dari A.P.G.A.R. keluarga Ny.K adalah
23, sehingga rata-rata A.P.G.A.R. dari keluarga penderita adalah 7,6. Hal ini
menunjukkan bahwa fungsi fisiologis yang dimiliki keluarga pasien dalam
keadaan sedang. Hubungan antar individu dalam keluarga tersebut terjalin
cukup baik dan akur.

C. FUNGSI PATOLOGIS (S.C.R.E.E.M.)
Fungsi patologis dari keluarga Tn. W dinilai dengan menggunakan
S.C.R.E.E.M.

18

Tabel 3.4. S.C.R.E.E.M Keluarga Tn. W
Sumber Patologis
Social
Interaksi dengan tetangga sekitarnya sangat
baik. Tn. W dan keluarganya sangat dikenal
oleh tetangganya.
-
Culture
Dalam sehari-hari keluarga ini menggunakan
budaya jawa, hal ini terlihat pada pergaulan
mereka sehari hari yang menggunakan
bahasa Jawa, tata krama Jawa dan kesopanan.
-
Religious
Ketaatan dalam beragama pada keluarga ini
sangat terlihat dengan Tn. W yang rutin
mengajak menjalankan sholat lima waktu,
serta puasa di bulan Ramadhan.
-
Economic
Ekonomi keluarga ini tergolong menengah ke
bawah. Keluarga ini selalu menggunakan skala
prioritas untuk menentukan pemenuhan
kebutuhan hidup.
-
Educational
Secara formal, tingkat pendidikan keluarga
tergolong kurang karena baik Tn. W maupun
istri dan anaknya lulusan SD dan SMP.
-
Medical
Dalam mencari pelayanan kesehatan keluarga
ini biasanya menggunakan bidan setempat atau
Puskesmas.
-
Kesimpulan :
Dalam keluarga Tn. W, tidak terdapat fungsi patologis yang ditemukan.





19

D. GENOGRAM










: perempuan

: Laki-laki

perempuan meninggal dunia

: Laki-laki meninggal dunia

: Pasien

: Tinggal dalam satu rumah

Gambar 3.1. Genogram

Penderita dengan nama Tn. W berumur 74 tahun menikah dengan Ny.
M (70 tahun) dan mempunyai 5 orang anak. Anak pertama adalah laki-laki,
sudah menikah dan mempunyai 2 orang anak, saat ini tinggal di Jakarta. Anak
kedua adalah laki-laki, sudah menikah dan mempunyai 3 orang anak, saat ini
tinggal di Jakarta. Anak ketiga adalah perempuan, sudah menikah dan
mempunyai 2 orang anak, saat ini tinggal di Jakarta. Anak keempat adalah
laki-laki, sudah menikah dan mempunyai 1 orang anak, saat ini tinggal di
20

Jakarta. Anak kelima adalah Ny. K (45 tahun) yang saat ini tinggal serumah
dengan Tn. W dan Ny. M. Ny.K sudah menikah dan belum punya anak.
Suaminya saat ini bekerja di Jakarta.

E. FORMASI POLA INTERAKSI KELUARGA




Gambar 3. 2. Formasi Pola Interaksi Keluarga
Sumber : Data Primer, Desember 2013
Keterangan : : hubungan baik
: hubungan tidak baik
Kesimpulan :
Hubungan antara anggota keluarga baik.
















Ny.T
Ny. K
Tn. W
21

BAB IV
IDENTIFIKASI FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI
KESEHATAN

A. IDENTIFIKASI FAKTOR PERILAKU DAN NON PERILAKU
KELUARGA
1. Faktor Perilaku
Tn. W merupakan seorang perokok berat di masa mudanya sehingga
memicu terjadinya berbagai penyakit yang terutama menyerang saluran
napasnya.
2. Faktor Non Perilaku
a. Rumah yang dihuni oleh keluarga ini kurang memenuhi standar
kesehatan. Walaupun rumah yang mereka bangun ini adalah rumah
yang permanen namun terasa banyak debu (tanpa eternit dan tungku
dengan kayu bakar).
b. Kesan status gizi Tn. W adalah gizi kurang.
c. Riwayat bekerja di tempat penuh paparan debu dan asap.

Gambar 4.1. Faktor Perilaku dan Non Perilaku

Personal Habit :
Kebiasaan merokok
saat masih muda
Lingkungan :
Lingkungan rumah dan sekitarnya
kurang memenuhi syarat rumah
sehat.
Pengetahuan :
Pengetahuan tentang
kesehatan, degeneratif
dan rumah sehat masih
kurang.
Tn. W
Status Gizi:
Kesan status gizi kurang
Pekerjaan:
Bekerja menjaga tungku
pembakaran sehingga
sering terpapar debu dan
asap
22

Keterangan :
: Faktor Perilaku

: Faktor Non Perilaku


B. IDENTIFIKASI LINGKUNGAN RUMAH
Gambaran Lingkungan Rumah
Pasien dan keluarganya tinggal di Desa Sokaraja Wetan RT 05 RW 01
Kec. Sokaraja. Keluarga ini tinggal di sebuah rumah yang berukuran 12 m
2

dengan jarak cukup dekat dengan rumah sekitarnya. Rumah tersebut termasuk
bangunan permanen yang cukup padat penduduk dan menghadap ke arah
barat. Rumah Tn. W memiliki halaman yang sempit hanya sekitar 1 m dari
bangunan rumah. Tidak ada pagar pembatas antara halaman dan lingkungan
luar. Rumah Tn. W terdiri dari ruang tamu yang menyatu dengan ruang
keluarga, kamar tidur 2, jamban 2, serta ruang dapur yang menyatu dengan
ruang makan.
Sumber air adalah sumur pompa yang letaknya di belakang
bersebelahan dengan kamar mandi (sekitar 1 m dari kamar mandi). Kamar
mandi berjumlah 2 dan memiliki jamban di dalamnya. Kamar mandi
digunakan untuk mandi, cuci baju, dan BAB/BAK. Kesan: rumah pasien
kurang memenuhi syarat rumah sehat, terutama dari kebersihan, pencahayaan,
dan ventilasi untuk pasien dengan sesak menahun.


23

BAB V
DAFTAR MASALAH DAN PEMBINAAN KELUARGA

A. DAFTAR MASALAH
1. Masalah medis
Penyakit paru obstruktif kronik (PPOK).
2. Masalah nonmedis
a. Kondisi lingkungan rumah kurang memenuhi syarat kesehatan.
b. Pengetahuan tentang Pola Hidup Bersih dan Sehat kurang memadai.
3. Diagram permasalahan pasien
(Menggambarkan hubungan antara timbulnya masalah kesehatan yang
ada dengan faktor-faktor resiko yang ada dalam kehidupan pasien)









Gambar 5.1. Diagram Permasalahan Keluarga Pasien

4. Matrikulasi masalah
Prioritas masalah ini ditentukan melalui teknik kriteria matriks :
Tabel 5.1. Matriks Prioritas Masalah
No Daftar Masalah I T R Jumlah
IxTxR P S SB Mn Mo Ma
1 Pengetahuan tentang
PHBS kurang memadai
5

5 3 4 4 5 4 676
2 Status gizi kurang 3 5 3 3 3 3 4 330
3 Lingkungan rumah kurang
memenuhi syarat kesehatan
5 4 3 3 3 2 4 324

Tn. W

Pengetahuam
tentang
kesehatan
kurang
memadai

Kondisi
lingkungan
rumah kurang
memenuhi syarat
kesehatan

Status gizi
kurang
Riwayat paparan
asap rokok dan
pembakaran
24

Keterangan :
I : Importancy (pentingnya masalah)
P : Prevalence (besarnya masalah)
S : Severity (akibat yang ditimbulkan oleh masalah)
SB : Social Benefit (keuntungan sosial karena selesainya masalah)
T : Technology (teknologi yang tersedia)
R : Resources (sumber daya yang tersedia)
Mn : Man (tenaga yang tersedia)
Mo : Money (sarana yang tersedia)
Ma : Material (pentingnya masalah)
Kriteria penilaian :
1 : tidak penting
2 : agak penting
3 : cukup penting
4 : penting
5 : sangat penting
5. Prioritas masalah
Berdasarkan kriteria matriks diatas, maka urutan prioritas masalah
keluarga Tn. W adalah sebagai berikut :
a. Pengetahuan PHBS kurang memadai
b. Status gizi kurang
c. Lingkungan rumah tidak memenuhi syarat kesehatan

B. PEMBINAAN KELUARGA
1. Rencana pembinaan keluarga
a. Tujuan
Tujuan dari pembinaan keluarga ini adalah untuk memberikan
pengetahuan dan pemahaman kepada pasien dan keluarga mengenai
penyakitnya, yaitu PPOK.
b. Materi
Edukasi kepada pasien dan keluarga mengenai PPOK meliputi
pengertian, penyebab, penatalaksanaan, serta pencegahan.
25

c. Cara Pembinaan
Pembinaan dilakukan di rumah pasien dalam waktu yang telah
ditentukan bersama. Pembinaan dilakukan dengan cara memberikan
pemahaman kepada pasien dan keluarga, serta motivasi untuk
berperilaku sehat.
d. Evaluasi
Evaluasi dilakukan dengan memberikan beberapa pertanyaan tentang
materi konseling kepada pasien dan anggota keluarga lain yang
hadir. Apabila setiap anggota keluarga dapat menjawab satu
pertanyan yang diajukan, maka dikategorikan sudah mengetahui dan
memahami materi konseling.
e. Sasaran
Sasaran dari pembinaan keluarga ini adalah pasien dan keluarga
yang tinggal satu rumah.
2. Hasil pembinaan keluarga
Tabel 5.2. Hasil Pembinaan Keluarga
No Tanggal Kegiatan yang dilakukan Anggota
keluarga
yang terlibat
Hasil kegiatan
1 24
Desember
2013
1. Membina hubungan
saling percaya dengan
pasien, diantaranya
perkenalan.
2. Perjanjian dengan pasien
untuk kedatangan
berikutnya
Pasien dan
keluarga
Pasien bersedia
untuk dikunjungi
lebih lanjut untuk
dipantau
perkembangannya.
2 26
Desember
2013
Menggali pengetahuan
dan pemahaman pasien
tentang penyakitnya

Pasien dan
keluarga
Mengetahui sejauh
mana pengetahuan
dan pemahaman
pasien tentang
penyakitkan

3 1 Januari
2013
Memberikan penjelasan
tentang:
pengertian, penyebab,
penatalaksanaan serta
pencegahan
Pasien dan
keluarga
Pasien dan
keluarga
memahami
tentang PPOK
serta pentingnya
perilaku sehat agar
terhindar dari
kekambuhan.
26

BAB VI
TINJAUAN PUSTAKA

A. DEFINISI
Penyakit paru obstruktif kronis (PPOK) adalah keadaan penyakit yang
ditandai oleh keterbatasan alira udara yang tidak sepenuhnya reversibel.
Keterbatsan aliran udara ini biasanya progresif dan berhubungan dengan
respon peradangan yang abnormal dari paru terhadap partikel atau udara yang
berbahaya (Rubenstein, 2007).
Definisi lain menyebutkan bawa PPOK adalah penyakit-penyakit yang
menyebabkan kesulitan dalam bernapas atau sesak napas selain asma dan
penyakit jantung. Yang digolongkan dalam penyakit ini adalah bronkhitis
kronik dengan sesak napas, emfisema dan bronkitis dengan gejala mirip asma
(Djojodibroto, 2001).
Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI) menyebutkan bahwa saat
ini bronkitis kronik dan emfisema tidak dimasukan ke dalam definisi PPOK
karena emfisema merupakan diagnosis patologi sedangkan bronkitis kronik
merupakan diagnosis klinik. Selain itu, keduanya tidak selalu mencerminkan
adanya hambatan aliran udara dalam salura napas (PDPI, 2011)

B. FAKTOR RISIKO
1. Merokok
Kebiasaan merokok merupakan satu - satunya penyebab kausal yang
terpenting, jauh lebih penting dari faktor penyebab lainnya. Dalam
pencatatan riwayat merokok perlu diperhatikan (PDPI, 2011):
a. Riwayat merokok: perokok aktif, perokok pasif, bekas perokok
b. Derajat berat merokok dengan Indeks Brinkman (IB), yaitu perkalian
jumlah rata-rata batang rokok dihisap sehari dikalikan lama merokok
dalam tahun :
1) Ringan : 0-200
2) Sedang : 200-600
3) Berat : >600
27

2. Polusi udara
Berbagai macam partikel dan gas yang terdapat di udara sekitar dapat
mengakibatkan terjadinya polusi udara. Berdasarkan partikel
penyebabnya, polusi udara dibagi menjadi (PDPI, 2011) :
a. Polusi di dalam ruangan
1) Asap rokok
2) Asap kompor
3) Kayu
4) Minyak tanah
b. Polusi di luar ruangan
1) Gas buang kendaraan bermotor
2) Debu jalanan
c. Polusi di tempat kerja
1) Bahan kimia
2) Zat iritasi
3) Gas beracun
3. Stres oksidatif
4. Infeksi saluran napas bawah berulang
5. Sosial ekonomi
6. Tumbuh kembang paru selama kehamilan, kelahiran dan pajanan waktu
kecil
7. Riwayat asma
8. Faktor genetik.
Defisiensi alfa-1-antitripsin merupakan predisposisi untuk
berkembangnya PPOK dini (Davey, 2003).

C. PATOGENESIS
PPOK ditandai oleh inflamasi kronik saluran pernafasan, parenkim, dan
pembuluh darah pulmonal. Patogenesis PPOK tejadi karena beberapa
mekanisme yang terkait satu sama lain yaitu yaitu teori inflamasi, teori
gangguan keseimbangan protease-antiprotease dan teori stress oksidatif.
1. Teori Inflamasi.
28

PPOK terjadi akibat proses inflamasi di bronkiolus dan parenkim paru.
Obstruksi bronkiolus disebabkan oleh fibrosis makrofag dan limfosit T,
dengan predominan oleh limfosit T. Makrofag dan neutrofil melepaskan
berbagai proyeinase yang merusak jaringan ikat parenkim paru,
menyebabkan terjadi emfisema dan merangsang sekresi mukus (Davey,
2003).
2. Teori gangguan keseimbangan protease-antiprotease.
Dalam keadaan normal terjadi keseimbangan antara enzim proteolitik
(protease) dan penghambatnya. Berbagai protease yang diduga merusak
jaringan ikat parenkim paru adalah elastin, neutrophile-derived serine
protease, serta katepsin. Antiproteaase adalah alfa-1-antitripsin, secretory
leukoprotease inhibitor, elafin, dan tissue of matrix metalloproteinase.
Pada PPOK terjadi peningkatan protease atau defisiensi antiprotase
(PDPI, 2011).
3. Teori stress oksidatif.
Oksidan dihasilkan oleh rokok, neutrofil, makrofag alveoli, xantin
oksidase, dan infeksi. Terdapat hubungan antara peningkatan
permeabilitas epitel dan peningkatan jumlah neutrofil di rongga paru
perokok dengan peningkatan stress oksidan. Stress oksidatif
mengakibatkan PPOK melalui mekanisme aktivasi nuclear factor dan
inaktivasi antiprotease (PDPI, 2011).

D. TANDA DAN GEJALA
Batuk dan napas pendek yang bersifat progresif lambat dalam beberapa
tahun pada perokok atau mantan perokok, cukup untuk menegakkan
diagnosis. Beratnya penyakit ditentukan berdasarkan derajat obstruksi saluran
pernapasan (Davey, 2011).
Gambaran klinis PPOK didapat dari anamnesis, pemeriksaan fisik, dan
penunjang. Gambaran klinis PPOK antara lain:
1. Anamnesis:
a. Riwayat (Brashers, 2007) :
1) Riwayat merokok aktif maupun pasif.
29

2) Riwayat pekerjaan yang sering terpapar iritan.
3) Riwayat infeksi saluran napas berulang
4) Riwayat penyakit yang sama pada keluarga
5) Riwayat penurunan berat badan yang signifikan
b. Gejala (PDPI, 2011)
1) Batuk berulang dengan atau tanpa dahak.
2) Sesak dengan atau tanpa bunyi mengi.
2. Pemeriksaan fisik:
PPOK dini umumnya tidak ada kelainan (PDPI, 2011)
a. Inspeksi (PDPI, 2011)
1) Pursed - lips breathing (mulut setengah terkatup mencucu)
2) Barrel chest (diameter antero - posterior dan transversal
sebanding)
3) Penggunaan otot bantu napas
4) Hipertropi otot bantu napas
5) Pelebaran sela iga
6) Bila telah terjadi gagal jantung kanan terlihat denyut vena
jugularis leher dan edema tungkai
7) Penampilan pink puffer yaitu gambaran yang khas pada
emfisema, penderita kurus, kulit kemerahan dan pernapasan
pursed lips breathing atau blue bloater yaitu gambaran khas
pada bronkitis kronik, penderita gemuk sianosis, terdapat edema
tungkai dan ronki basah di basal paru, sianosis sentral dan
perifer
b. Palpasi (PDPI, 2011)
Pada emfisema fremitus melemah, sela iga melebar
c. Perkusi
Pada emfisema hipersonor dan batas jantung mengecil, letak
diafragma rendah, hepar terdorong ke bawah (PDPI, 2011)
d. Auskultasi (PDPI, 2011)
1) suara napas vesikuler normal, atau melemah
30

2) terdapat ronki dan atau mengi pada waktu bernapas biasa atau
pada ekspirasi paksa
3) ekspirasi memanjang
4) bunyi jantung terdengar jauh
3. Pemeriksaan penunjang.
a. Faal paru
1) Spirometri (VEP1, VEP1prediksi, KVP, VEP1/KVP
a) Obstruksi ditentukan oleh nilai VEP1 prediksi ( % ) dan
atau VEP1/KVP ( % ).
b) Obstruksi : % VEP1(VEP1/VEP1 pred) < 80% VEP1%
(VEP1/KVP) < 75 %
c) VEP1 merupakan parameter yang paling umum dipakai
untuk menilai beratnya PPOK dan memantau perjalanan
penyakit.
Apabila spirometri tidak tersedia atau tidak mungkin dilakukan,
APE meter walaupun kurang tepat, dapat dipakai sebagai
alternatif dengan memantau variabiliti harian pagi dan sore,
tidak lebih dari 20%.
2) Uji bronkodilator
a) Dilakukan dengan menggunakan spirometri, bila tidak ada
gunakan APE meter.
b) Setelah pemberian bronkodilator inhalasi sebanyak 8
hisapan, 15 - 20 menit kemudian dilihat perubahan nilai
VEP1 atau APE, perubahan VEP1 atau APE < 20% nilai
awal dan < 200 ml.
c) Uji bronkodilator dilakukan pada PPOK stabil.
b. Darah rutin: Hb, Ht, leukosit.
c. Radiologi
Foto toraks PA dan lateral berguna untuk menyingkirkan penyakit
paru lain. Pada emfisema terlihat gambaran :
1) Hiperinflasi.
2) Hiperlusen.
31

3) Ruang retrosternal melebar.
4) Diafragma mendatar.

E. DIFERENSIAL DIAGNOSIS
Diagnosis banding untuk PPOK antara lain (PDPI, 2011):
1. Asma
2. Gagal jantung kongestif
3. Bronkiektasis
4. Tuberkulosis
5. Pneumothorax

F. PENANGANAN
1. Edukasi
Edukasi merupakan hal penting dalam pengelolaan jangka panjang
pada PPOK stabil. Edukasi pada PPOK berbeda dengan edukasi pada
asma. Karena PPOK adalah penyakit kronik yang ireversibel dan
progresif, inti dari edukasi adalah menyesuaikan keterbatasan aktiviti dan
mencegah kecepatan perburukan fungsi paru. Berbeda dengan asma yang
masih bersifat reversibel, menghindari pencetus dan memperbaiki derajat
adalah inti dari edukasi atau tujuan pengobatan dari asma. Tujuan
edukasi pada pasien PPOK (PDPI, 2011):
a. Mengenal perjalanan penyakit dan pengobatan
b. Melaksanakan pengobatan yang maksimal
c. Mencapai aktivitas optimal
d. Meningkatkan kualitas hidup
Agar edukasi dapat diterima dengan mudah dan dapat dilaksanakan
ditentukan skala prioritas bahan edukasi sebagai berikut (PDPI, 2011):
a. Berhenti merokok
b. Disampaikan pertama kali kepada penderita pada waktu diagnosis
PPOK ditegakkan.
c. Pengunaan obat obatan
d. Penggunaan oksigen
32

e. Mengenal dan mengatasi efek samping obat atau terapi oksigen
f. Penilaian dini eksaserbasi akut dan pengelolaannya
g. Mendeteksi dan menghindari pencetus eksaserbasi
h. Menyesuaikan kebiasaan hidup dengan keterbatasan aktivitas
2. Obat-obatan
Terapi dengan obat-obatan biasanya diberikan (PDPI, 2011), (Doenges,
2000) :
a. Bronkodilator
1) Golongan antikolinergik
2) Golongan agonis beta-2
3) Golongan xantin
b. Antiinflamasi
c. Antibiotik
d. Antioksidan
e. Mukolitik
f. Antitusif
g. Phospodiesterase-4-inhibitor

G. PROGNOSIS
Prognosis penyakit ini bervariasi. Bila pasien tidak berhenti merokok,
penurunan fungsi paru terjadi lebih cepat daripada pasien yang berhenti
merokok (Davey, 2003).
33

BAB VII
PENUTUP

A. KESIMPULAN
Diagnosis Holistik
1. Aspek Personal
a. Idea
Pasien berharap keluhan sesaknya segera berkurang dan tidak
mengganggu aktifitas.
b. Concern
Akibat penyakitnya aktifitas pasien terganggu mulai dari aktivitas di
rumah maupun aktivitas rutin di luar rumah.
c. Expectacy
Pasien mempunyai harapan penyakit dapat segera disembuhkan
sehingga dapat beraktifitas lagi.
d. Anxiety
Pasien cukup gelisah karena sesaknya serta usianya yang sudah
lanjut pasien mencemaskan jika penyakitnya menyebabkan
kematian.
2. Aspek Klinis
a. Diagnosa : penyakit paru obstruktif kronik
b. Gejala klinis :sesak, batuk berdahak, retraksi otot
pernafasan, rhonki basah halus.
c. Diferensial diagnosis :
1) Asma
2) Kor pulmonal kronik
3. Aspek Faktor Risiko Intrinsik Individu
a. Riwayat gizi yang kurang karena masalah ekonomi.
b. Dari faktor usia, Tn. W memiliki resiko karena pada usia tersebut
semua fungsi tubuh mengalami penurunan termasuk jantung dan
paru sehingga pasien menjadi lebih mudah sesak.
c. Kebiasaan merokok.
34

4. Aspek Faktor Risiko Ekstrinsik Individu
a. Rumah pasien yang tidak memenuhi syarat rumah sehat (atap tanpa
eternit dan penggunaan tungku dengan kayu bakar).
b. Paparan terhadap debu yang berlebihan saat bekerja.
5. Aspek Skala Fungsi.
Berdasarkan skala fungsi, aspek skala fungsi Tn. W adalah 3 dimana Tn.
W masih mampu melakukan aktivitas sehari-hari walau agak terhambat.

B. SARAN
1. Sebaiknya pasien dan keluarganya menjaga kebersihan rumah.
2. Sebaiknya pasien berhenti merokok.
3. Sebaiknya jika memang sudah mempunyai kompor gas, berhenti
memasak dengan tungku kayu bakar.











35


DAFTAR PUSTAKA
Brashers, Valentina. 2007. Aplikasi Klinis Patofisiologi : Pemeriksaan dan
Manajemen. Jakarta : Penerbit EGC.
Davey, Patrick. 2003. At a Glance : Medicine. Jakarta : Penerbit Erlangga.
Djojodibroto, Darmanto. 2001. Seluk Beluk Pemeriksaan Kesehatan. Jakarta :
Penerbit Pustaka Populer Obor.
Doenges, Maryllin. 2003. Rencana Asuhan Keperawatan : Pedoman untuk
Perencanaan dan Pendokumentasian Perawatan Pasien. Jakarta : Penerbit
EGC.
Mansjoer, Arif dkk. 2001. Kapita Selekta Kedokteran. Jakarta : Media
Aesculapius.
Perhimpunan Dokter Paru Indonesia. 2003. Penyakit Paru Obstruktif Kronik
(PPOK) Pedoman Diagnosis Dan Penatalaksanaan. Jakarta: PDPI.
Rubenstein, D., D. Wayne dan J. Braide. 2007. Lecture Notes : Kedokteran Klinis.
Jakarta : Penerbit Erlangga.

36

Lampiran 1. Gambar Pasien dan Keadaan Lingkungan Sekitar Rumah





Gambar 1. Pasien dan anaknya di
ruang tamu





Gambar 2. Meja makan









Gambar 3. Sumur timba (sumber air)

















Gambar 4. Jamban











Gambar 5. Dapur












Gambar 6. Tungku untuk memasak