Anda di halaman 1dari 5

Materi Motivasi 456

Memotivasi anak untuk belajar berbeda-beda menurut usianya. Di jenjang SD, usia ini
dikelompokkan dalam dua kategori, yaitu kelas rendah (kelas 1-3 SD) dan kelas atas (kelas 4-6
SD). Menurut Karmila Wardhana, S.Psi ., memiliki
ciri khas yang berbeda.
KELAS 1-3 SD
Anak-anak di kelas bawah masih menapaki masa transisi dari taman kanak-kanak yang
aktivitas belajarnya dilakukan sambil bermain ke jenjang sekolah dasar yang formal.
Maksudnya, mereka dituntut untuk banyak berada dalam dalam kelas dan duduk tenang
memperhatikan penjelasan guru serta mengerjakan tugas-tugas.

Anak-anak sering mengalami schoolphobia. Ilustrasi: freewebs.com
Tuntutan tersebut tentu saja menyulitkan karena sebenarnya murid-murid kelas rendah masih
dalam usia bermain. Sayangnya, banyak orang tua, bahkan guru, melupakan ciri khas usia ini.
Anak kelas 1-2 belum bisa diharapkan duduk lama karena rentang perhatiannya maksimal
sekitar 15 menit. Jadi mereka bukan nakal kalau enggak bisa diam di kelas.
Berkaitan dengan masa transisi ini pula, seperti dituturkan Mila, orang tua mesti peka dengan
kemungkinan munculnya school phobia pada anak. Pahamilah bahwa perubahan-perubahan
dari TK ke SD sering membuat murid kelas rendah ketakutan.





A

Belajar sambil bermain itu menyenangkan. Foto:wordpress.com
gar anak dapat melalui masa transisinya dengan mulus, orang tua dapat membantu dengan
memberikan motivasi belajar yang pas menurut ciri khas anak usia kelas 1-3 SD atau kurang
lebih 6-8 tahun. Inilah pokok-pokoknya:
Belajar sambil bermain
Pada prinsipnya hampir sama dengan cara belajar anak TK. Namun, untuk anak SD alihkan ke
cara bermain yang lebih konstruktif. Tolong ambilkan Bunda 2 cokelat, dong. Nah, di tangan
Bunda sudah ada 1 cokelat. Bunda jadi punya berapa cokelat sekarang? Suasana belajar pun
tak perlu harus serius. Jadi tak selalu harus belajar di belakang meja, bisa juga sambil tiduran di
lantai, misalnya.
Manfaatkan PR

Manfaatkan kesempatan ini. Ilustrasi: edulink.networks.net
Sampai saat ini Pekerjaan Rumah (PR) untuk murid kelas rendah masih menjadi pro-kontra.
Menurut Mila, selama tidak berlebihan, sebenarnya PR banyak memberi manfaat. Salah
satunya untuk mengulang sedikit pelajaran yang sudah didapat anak di sekolah. Masalah timbul
kalau anak sering dijejali PR. Inilah yang sering menjadi beban bagi anak.
Beri dukungan
Dukungan memang selalu diperlukan, terutama saat anak menghadapi masa-masa sulit di
sekolah. Bentuknya bisa sangat sederhana, misalnya ketika anak memperoleh nilai buruk, kita
tidak perlu menjatuhkan vonis bahwa ia bodoh atau pemalas.

Beri dukungan sepenuhnya, saat mereka belajar. Foto: fabimoy.com
Lebih baik, luangkan waktu untuk mendiskusikan masalah tersebut dengan anak. Sebagai
awal, orang tua perlu mencari tahu perasaan anak ketika memperoleh nilai 50. Apakah ia
kecewa, sedih atau biasa-biasa saja, karena jangan-jangan ia tidak mengerti bahwa nilai 50 itu
berarti kurang. Lalu tetaplah beri dukungan. Untuk hari ini enggak apa-apa dapat 50. Kamu
bisa dapat nilai yang lebih baik di ulangan berikutnya, tapi kamu harus belajar.
Jadilah model yang baik
Ini berarti orang tua jangan sampai terlihat santai saat anak sedang belajar. Misalnya, ketika
sedang mengerjakan PR anak melihat ibunya menonton televisi dan ayahnya tidur. Bisa-bisa
anak merasa diperlakukan tidak adil. Ih, ayah, kok, bisa tidur sedangkan aku harus belajar?"
Akan lebih baik bila saat anak belajar, orang tua juga tampak belajar, seperti menemani anak
sambil membaca koran atau buku. Dengan begitu anak akan mendapat panutan.

Menetapkan jam belajar yang rutin salah satu kunci suksesnya. Ilustrasi: gifted.uconn.edu
Tetapkan jam belajar
Misalnya, dari jam 5 sampai 7 disepakati sebagai jadwal belajar anak. Namun, jadwal harus
dibuat dengan mempertimbangkan jam sekolahnya. Berilah ia waktu untuk berisitirahat sebelum
waktu belajar. Saat waktunya belajar, anak harus diberi pengertian bahwa rentang waktu itu
harus diisi hanya untuk kegiatan belajar. Artinya ia tidak nonton teve, tidak mendengarkan
radio, atau tidak bermain playstation.
ANAK 4-6 SD
Anak-anak SD kelas atas sebenarnya sudah diharapkan memiliki self learning regulation atau
kesadaran untuk belajar sendiri. Jika pada anak kelas 1-3 SD, orang tua masih sangat terlibat
dalam proses belajar anak, maka pada anak kelas 4-6 SD orang tua hanya jadi pendamping
saja. Mereka sudah harus tahu apa yang mesti dikerjakan.
Namun begitu, orang tua tetap perlu menumbuhkan motivasi belajarnya agar tak kendur.
Caranya, ingatlah bahwa salah satu ciri anak usia ini adalah penggunaan logika yang sudah
semakin mendalam. Orang tua perlu memberikan alasan-alasan yang masuk akal tentang
pentingnya belajar. Berikut beberapa kiatnya:
Kaitkan dengan Hobinya
Kalau hobi anak adalah menonton acara kuis di TV, orang tua bisa memberi komentar. Dia
bisa dapat menang dandapat hadiah mobil karena pintar. Wah, pasti dari kecil dia sudah
senang belajar dan bisa mengatur waktu, deh!

Membuat jadwal, yuk! Ilustrasi: hill.troy.mi.us
Ajak untuk Mmembuat Jadwal
Pada usia ini biasanya anak mulai memiliki banyak kegiatan. Ada latihan basket, renang, jalan-
jalan dengan teman, juga main games. Oleh karena itu, libatkan anak dalam pengaturan jadwal
kegiatannya. Jelaskan bahwa anak boleh memiliki kegiatan apa pun, tapi belajar merupakan
prioritas utama. Dengan diberi pengertian seperti itu dan dibiarkan mengatur jadwal sendiri, ia
tidak akan merasa terpaksa. Jangan lupa, keterpaksaan hanya akan mengendurkan motivasi
anak dalam belajar.
Rencanakan Masa Depan
Karena murid-murid kelas atas, terutama kelas 5 dan 6 sudah akan memasuki sekolah lanjutan,
orang tua perlu mengajak anak untuk mengadakan rencana masa depan. Kamu mau masuk
SMP mana? Kira-kira di situ NEM-nya berapa, ya? Yuk kita mulai kejar dari sekarang supaya
kamu bisa lolos ke sana!
Namun, Mila mengingatkan agar orang tua juga melihat kenyataan. Jika harapan anak terlalu
tinggi, maka harus didiskusikan. Kalau orang tua melihat anak akan sulit masuk ke salah satu
sekolah favorit, ia perlu diajak mencari alternatif. Kalau enggak keterima di situ, kamu mau
masuk sekolah mana lagi? Namun tentunya orang tua tetap memotivasi anak untuk belajar
lebih baik.
Berdasarkan penelitian, anak-anak yang berhasil ternyata memiliki pengaturan waktu yang baik,
tertib mengikuti jadwal, dan disiplin dalam belajar. Itu semua bisa didapat bila anak sudah
memiliki self learning regulation.
Namun ingat, selain memotivasi anak untuk belajar, orang tua juga perlu memberinya waktu
bermain. Jangan sampai tujuh hari dalam seminggu diisi kegiatan belajar terus-menerus.
Mentang-mentang Senin-nya masuk sekolah, Minggu pun diharuskan belajar. Lebih baik
gunakan hari libur sebagai playtime untuk menghindari kebosanan anak akan belajar, begitu
Mila menekankan. (Faras Handayani/Nakita)