Anda di halaman 1dari 6

Nama : Ravenia Palit

NIM : 03121403001
Shift : A
Kelompok : 03

FURNACE
Industri minyak bumi merupakan industri yang prosesnya banyak
dilakukan dalam suhu dan tekanan tinggi, sehingga kemungkinan terjadi
kecelakaan kerja sangat tinggi pula. Salah satu unit yang penting dalam proses
industri minyak bumi adalah furnace dimana temperatur sebuah furnace bisa
sangat tinggi sehingga sangat berpotensi menimbulkan bahaya. Furnace adalah
suatu alat penukar panas yang mengonsumsi bahan bakar minyak (fuel oil dan fuel
gas) untuk memproduksi gas dengan temperatur yang sangat tinggi. Furnace
sangat berpotensi menimbulkan bahaya pada orang disekitarnya dan plant itu
sendiri. Pengoperasian mesin dan pemakaian bahan bakar secara optimal akan
menghindari kemungkinan terjadi kecelakaan kerja. Namun potensi terjadinya
kecelakaan kerja pada furnace masih sangat tinggi sehingga perlu dibuat sistem.
Furnace sangat berpotensi menimbulkan bahaya pada orang di sekitarnya
dan pabrik. Potensi terjadinya kecelakaan kerja pada furnace masih sangat tinggi
sehingga perlu dibuat sistem pengamanan proses secara optimum. Sistem trip
adalah salah satu dari skenario pengamanan proses yang digunakan pada
pengamanan furnace. Sistem trip akan bekerja secara otomatis melindungi sistem
jika komponen-komponen pengendali sudah tidak bisa mengendalikan variabel-
variabel terkontrol dengan cara mematikan aliran-aliran utama seperti aliran bahan
bakar, aliran udara, dan aliran feed kemudian kondisi furnace dikembalikan ke
keadaan minimum stop conditions agar bisa dilakukan start-up furnace
selanjutnya. Dalam jurnal Simulasi Sistem Trip Pada Furnace Xylene Splitter
peneltian bertujuan untuk mensimulasikan sistem trip furnace xylene splitter milik
PT. Trans Pacific Petrochemical Indotama serta mengetahui waktu respon sampai
trip terjadi dengan berbagai variabel gangguan. Sistem yang diambil sebagai dasar
trip pada simulasi ini adalah sistem heat transfer pada tube. Setelah melakukan
pemodelan terhadap sistem heat transfer didalam tube furnace, dilakukan simulasi
model dengan menggunakan software Matlab dan Simulink untuk mengetahui
temperatur didalam tube sepanjang tube dan pada waktu tertentu. Dari hasil
penelitian didapatkan bahwa ketika fuel gas mendapat gangguan sebesar 80% dari
aliran normal, temperatur mencapai 309
o
C dari seharusnya temperatur normal
[Type text]

286
o
C. Temperatur 308
o
C sudah mencapai 70% dari temperatur maksimal yang
diperbolehkan diterima tube sehingga harus dilakukan trip agar tidak terjadi
overheating pada sistem. Waktu mulai dari terjadi gangguan sampai terjadi trip
dan kemudian kembali ke minimum stop conditions adalah 150 menit.
Furnace (Xylene Splitter Reboiler Heaters) merupakan alat yang sangat
penting dalam proses pengolahan xylene di unit Xylene Splitter. Furnace yang
bekerja pada suhu dan tekanan tinggi, difungsikan sebagai reboiler bottom
product sebelum masuk kembali kedalam xylene splitter. Apabila alat ini tidak
dapat bekerja, maka sama saja mengharuskan xylene splitter untuk berhenti
beroperasi. Secara fisik, furnace adalah pemanas yang berbentuk sebagai sebuah
reaktor pembakaran karena didalamnya berlangsung reaksi pembakaran bahan
bakar dengan bantuan udara untuk menghasilkan energi panas yang digunakan
sebagai pemanas. Bahan bakar yang digunakan oleh furnace (xylene splitter
reboiler heater) terdiri dari fuel gas dan fuel oil. Selain itu alat ini juga dilengkapi
dengan blower yang digunakan untuk mengalirkan udara kedalam furnace untuk
proses pembakaran. Dalam penelitian Anwar Ul-Hamid, 2005, kegagalan pada
tube furnace bagian radian terjadi karena kombinasi creep attack dan
carburization attack. Hasil percobaan menunjukan bahwa tube mengalami
temperatur tinggi berlebihan terutama saat proses decoking.
Kegagalan yang paling sering terjadi disebabkan oleh kombinasi faktor-
faktor yang meliputi : kesalahan design, sistem pengendalian dan kinerja
pemanas, serta kesalahan pada pengengembangan alat yang dikehendaki.
Kekurangan atau kegagalan pada pemanas biasanya disebabkan oleh buruknya
kinerja pemanas yang tidak optimum serta kurangnya optimalisasi pada bahan
bakar. Kekurangan pada design sistem kontrol mencakup mekanisme
pengontrolan dan peredaman gangguan yang diterima oleh sistem. Pada gangguan
fuel gas +80%, waktu respon mulai dari terjadi trip sampai ke kondisi normal
memerlukan waktu 150 menit. Furnace memang menjadi masalah yang penting
yang harus dipelajari. Lalu sistem trip fuel gas diwakili di arus pilot gas yang
sekaligus mewakili trip main gas dimana sistem trip ini difungsikan untuk
mengatasi kegagalan yang disebabkan rendahnya tekanan fuel gas yang akan
[Type text]

dibakar di burner. Simulasi sistem trip pada furnace dapat dilakukan pada
software Matlab dan Simulink, dengan menggunakan model matematis

()

()

(
()
)...........................................(1)
Pada jurnal yang lain, furnace digunakan pada pemrosesan batubara. Coking
coal didefinisikan sebagai batubara yang mengalami pelunakan, pemuaian dan
mengeras kembali menjadi kokas selama proses karbonisasi. Proses tersebut
dinamakan tahapan plastis. Batubara jenis ini digunakan untuk membuat kokas
pada industri besi baja, pengecoran, dan industri lainnya. Bituminous memenuhi
kriteria untuk digunakan sebagai coking coal, terutama pengujian kadar batubara
termasuk moisture, ash, kandungan sulfur, kandungan volatile, tar dan plasticity.
Coking coal merupakan batubara yang diubah menjadi kokas dengan
menghilangkan pengotornya untuk menghasilkan karbon yang hampir murni.
Sifat fisik dari batubara kokas menyebabkan batubara melunak, mencair dan
kemudian membeku kembali menjadi bongkahan keras namun berpori pada saat
dipanaskan tanpa udara. Coking coal juga harus memiliki kandungan sulfur dan
fosfor rendah. Kokas terbuat dari pembakaran dari campuran batubara.
Pencampuran batubara coking dengan batubara lignite hasil harbonisasi sebagai
bahan pembuatan kokas bituminus (disebut juga metallurgical coal atau coking
coal) pada temperatur tinggi tanpa udara sampai volatile matter-nya hilang.
Hampir semua coking coal digunakan dalam oven kokas. Proses tersebut terdiri
dari pemanasan batubara menjadi kokas sekitar 1000-1100C tanpa oksigen untuk
menghilangkan senyawa volatile (pirolisis). Proses ini menghasilkan bahan
berpori keras yang dinamakan kokas. Kokas digunakan terutama untuk melebur
bijih besi dan bahan besi lainnya di dalam blast furnace, penggunaan kokas
sebagai sumber panas dan agen pereduksi untuk menghasilkan pig iron atau hot
metal. Kokas, bijih besi, dan kapur dimasukan kedalam blast furnace secara
continous. Udara panas ditiupkan ke dalam furnace untuk membakar kokas,
sebagai sumber panas dan agen pereduksi oksigen untuk menghasilkan besi cair.
Lalu pada pembuatan kaca magnetik, juga digunakan furnace. Pembuatan
dan karakterisasi kaca magnetik telah berhasil dilakukan dengan menggunakan
[Type text]

bahan kaca jendela bekas (cult) dicampur dengan barium ferit (BaO.6Fe
2
O
3
).
Pembuatan kaca magnetik dilakukan menggunakan teknik cetak yang kemudian
dipanaskan menggunakan furnace dengan suhu 700C. Bahan cult dicampur
dengan bahan serbuk magnet menggunakan mortal kemudian ditambah PVA baru
dicetak menggunakan hydraulic press dengan tekanan maksimum selama kurang
lebih 3 menit. Hasil cetakan (pellet) langsung dipanaskan dengan menggunakan
furnace pada suhu 700C selama 45 menit. Kaca magnetik yang dihasilkan
kemudian dihaluskan permukaannya dengan menggunakan kertas ampelas 500cc
dan 1000cc. Pengujian sifat mekanik kaca magnetik diukur dengan menggunakan
alat California Bearing Ratio. Nilai uji kuat tekan menurun pada komposisi
barium ferit sebesar 0,5% - !%, sedangkan pada komposisi barium ferit sebesar
1% - 1,5% nilai uji kuat tekan naik. Pada komposisi barium ferit sebesar 1% nilai
uji kuat tekan yang paling rendah, hal ini dipandang sebagai gejala anomali yang
perlu dilakukan penelitian lebih lanjut. Kaca magnetik dapat dihasilkan
secaraefektif dengan komposisi barium ferit sebesar 0,5% - 1,5%.
Bahan yang digunakan dalam penelitian Bio-Oil dari Limbah Padat Sawit
adalah limbah padat sawit yang terdiri dari batang, tandan kosong dan pelepah.
Bahan lain yang digunakan adalah gas nitrogen. Sedangkan alat yang digunakan
adalah furnace turbular, pipa stainless steel (sebagai reaktor), kondenser, oven,
piknometer, viskometer ostwald, statif, beaker glass, kertas indikator universal,
bubble flow meter. Limbah padat sawit yang digunakan terlebih dahulu dipotong
kecil-kecil. Limbah padat sawit yang telah dihaluskan kemudian diayak
menggunakan ayakan dengan ukuran 2, 6 dan 10 mesh, sehingga diperoleh
biomasdengan ukuran 6-10 mesh dan 2-6 mesh. Selanjutnya limbah padat sawit
yang telah dihaluskan dimasukkan ke dalam oven untuk menghilangkan kadar air
limbah padat sawit sampai kelembaban kurang dari 10 %-berat. Selanjutnya
partikel biomas diproses dengan proses pyrolisis. Dalam proses pyrolisis
digunakan reaktor yang terbuat dari pipa stainless steel dengan diameter 3,81 cm
dan panjang 60 cm. Reaktor dipanaskan menggunakan furnace turbular dengan
cara mengatur temperatur furnace sehingga mencapai temperatur operasi sesuai
variabel penelitian. Limbah padat sawit yang telah dihaluskan sebanyak 45 gram
[Type text]

dimasukkan ke dalam reaktor. Selanjutnya gas nitrogen dialirkan ke dalam reaktor
dengan kecepatan 1 mL/detik. Uap organik yang dihasilkan dikondensasi
menggunakan kondenser untuk mendapatkan cairan yang dinamakan bio-oil.
Proses berlangsung sampai tidak terlihat lagi uap organik atau cairan yang keluar
dari hasil kondensasi. Bio-oil yang dihasilkan kemudian ditentukan pH dan
densitasnya masing-masing dengan menggunakan kertas indikator dan
picnometer. Untuk menentukan komponen yang terkandung dalam bio-oil,
dilakukan analisa menggunakan gas chromathograpy.
Pada proses pembakaran minyak mentah di furnace, variable temperature
merupakan salah satu variable yang harus dikendalikan sebaik mungkin agar mutu
produk tidak berkurang. Parameter proses pembakaran minyak mentah dapat
berubah-rubah karena gangguan eksternal (perubahan set point dan kondisi beban
yang berubah-ubah) hal ini dapat mengakibatkan perubahan penampilan dinamik
sistem. Untuk itu perlu dirancang suatu system pengendalian temperatur secara
aotomatis. Pada kejadian master fuel trip (MFT) sistem draft dari fossil boiler
dapat mengakibatkan tekanan negatif. Potensi tekanan tersebut meningkat secara
signifikan jika sistem draft dipasang dengan peralatan desulfurisasi gas buang
(FGD). Besarnya tekanan negatif yang menyusul penurunan viral mendadak atau
MFT tergantung pada sejumlah fitur desain dan operasi dari pabrik seperti: jenis
bahan bakar, bahan bakar katup waktu penutupan, ID fan peredam waktu stroke,
ID fan peredam pembukaan maksimum posisi, dan parameter circuit kicker. Pada
Dynamics Furnace memiiki waktu konstan yang besar. Adapun asumsi yang
diambil: dinding furnace lumped pada 3 bagian yang menghubugkan antar lapisan
dari bagian dalam keluar, memiliki temperatur rata-rata, jumlah bagian/daerah
ditentukan secara eksperimen; tube dan oil lumped dalam 5 bagian, yang masing-
masing memiliki temperature rata-rata; dari perhitungan panas steady state dan
pengukuran ditemukan adanya deposit dalam tube, dimana deposit tersebut sama
tebalnya dengan property panas memiliki panjang total tube; radiasi pada daerah
konveksi diabaikan dibandingkan dengan konveksi; gas panas dapat tercampur
dengan sempurna. Feed forward control pada furnace berbahan bakar fuel gas
dengan komposisi yang bervariasi menghasilkan efisiensi yang lebih besar.
[Type text]

Afif Fahri Amrullah, Wahid Hasan, dan Ir. Musfil Ahmad Syukur, M. Eng.
Sc.2012. Simulasi Sistem Trip Pada Furnace Xylene Splitter.
http://digilib.its.ac.id/public/ITS-paper-23889-2308100101-Paper.pdf,
diakses pada tanggal 7 September 2014.
Edy Saputra, Syaiful Bahri, Edward Hs.2007. Bio-Oil dari Limbah Padat Sawit.
http://puslit2.petra.ac.id/ejournal/index.php/rkl/article/download/.../17244,
diakses pada tanggal 7 September 2014.