Anda di halaman 1dari 7

Kadar Timbal (Pb) dalam Spesimen Darah Tukang Becak Mesin

di Kota Pematang Siantar dan Beberapa Faktor yang Berhubungan



Indra Chahaya S
*
, Surya Dharma
*
, Lenni Simanullang
**

*
Departemen Kesehatan Lingkungan, Fakultas Kesehatan Masyarakat
Universitas Sumatera Utara Medan
**
Balai Teknik Kesehatan Lingkungan Medan


Abstrak: Tukang becak mesin yang bekerja di jalan selalu terpapar oleh timbal (Pb) yang terdapat di
udara. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui kadar timbal (Pb) dalam spesimen darah tukang becak
mesin dan faktor-faktor yang berhubungan dengan kadar timbal (Pb) dalam spesimen darah tukang
becak mesin, seperti umur, jarak rumah dengan jalan protokol, masa kerja, jumlah jam kerja dalam
sehari, kebiasaan merokok dan kebiasaan memakai alat pelindung diri. Penelitian ini dilakukan di kota
Pematang Siantar. Penelitian ini bersifat diskriptip dengan disain cross sectional. Jumlah sampel
sebanyak 96 orang tukang becak mesin yang diambil secara acak sederhana. Hasil dari penelitian ini
menunjukkan bahwa kadar timbal (Pb) dalam spesimen darah tukang becak mesin 8 orang (8,3%) dalam
kategori normal, 34 orang (53,4%) dalam kategori ditoleransi, 40 orang (41,7%) dalam kegori berlebih
dan 14 orang (14,6%) dalam kategori berbahaya.Kadar timbal (Pb) dalam spesimen darah tukang becak
umumnya tinggi. Hal ini berhubungan dengan jarak rumah dengan jalan protokol, masa kerja dan
kebiasaan merokok. Namun umur, jumlah jam kerja dalam sehari dan kebiasaan memakai alat pelindung
diri tidak berhubungan dengan kadar timbal (Pb) dalam spesimen darah tukang becak mesin.
Disarankan agar dilakukan penyuluhan pencemaran lingkungan dan pemeriksaan kadar timbal (Pb)
dalam spesimen darah secara berkala terhadap kelompok masyarakat resiko tinggi seperti tukang becak
mesin.
Kata Kunci: Kadar timbal (Pb) dalam spesimen darah, tukang becak mesin


Abstract: Machine pedicab workers are working on street always exposed by lead (Pb) contamination on
air. The objective of this study was to know lead (Pb) rate in blood specimen of machine pedicab worker
and related factors likes age, house distance by main street, working duration, daily work duration,
smoking habit and wearing personal protective equipment habit. Located of the study in Pematang
Siantar. This research was descriptive study with cross sectional design. The number of sample were 96
persons with simple random sampling. The result of the study showed that lead (Pb) rate in blood
specimen of machine pedicab worker were 8 (8,3%) in normal category, 34 (53,4%) in tolerance
category, 40 (41,7%) in excessive category and 14 (14,6%) in danger category. The general lead (Pb)
rate in blood specimen of machine pedicab worker was high. That is related with house distance by main
street, working duration and smoking habit. While age, daily work duration and wearing personal
protective equipment habit were not related with lead (Pb) rate in blood specimen of machine pedicab
worker. We recommended to environment pollution education to them and monitoring periodic lead (Pb)
rate in blood specimen to high risk group, like machine pedicab workers.
Key words: lead (Pb) rate in blood spesimen, machine pedicab worker

PENDAHULUAN
Timbal (Pb) adalah senyawa kimia yang
digunakan sebagai campuran bensin yang
bertujuan untuk mengontrol bilangan oktan pada
bahan bakar, sehingga sistem pembakaran dalam
kendaraan menjadi sempurna dan memberikan
tenaga yang besar. Pada oktan yang tinggi suara
letupan pada kendaraan bisa diredam. Namun,
kebaikan untuk kendaraan bermotor belum tentu
memberikan kebaikan bagi manusia. Timbal
(Pb) yang terlepas ke udara dapat masuk ke
dalam tubuh manusia selanjutnya akan
mengendap di dalam darah. Akumulasi
kandungan timbal (Pb) dalam darah akan
menyebabkan berbagai dampak buruk.
1
Dampak
tersebut antara lain: peningkatan jumlah
kematian orang dewasa karena penyakit
kardiovasikuler dan jantung koroner,
Majalah Kedokteran Nusantara Volume 38 No. 3 September 2005 223
Karangan Asli
peningkatan kasus hipertensi, menurunnya IQ
anak-anak, dan dapat menimbulkan gangguan
intestinal, anemia, nephoropathy dan
encephalopathy.
2

Setiap peningkatan konsentrasi timbal (Pb)
di udara sebesar 1g/m
2
menyebabkan
hipertensi pada 70 ribu dari 1 juta pria berusia
20-70 tahun. Di Boston terhadap anak-anak
umur >10 tahun, setiap peningkatan
10 g/desiliter dapat menurunkan 5,8 point
tingkat kecerdasan. Di Australia anak-anak
yang belajar pada 4 tahun I, peningkatan kadar
timbal (Pb) di udara ambien mempengaruhi uji
mental, menurunkan kemampuan membaca,
berbicara dan tingkat kecerdasan. Selain itu
wanita hamil yang telah terpajan timbal (Pb)
akan mengenai anak yang disusui, yaitu melalui
jalur akumulasi timbal (Pb) di tulang ke plasenta
yg kemudian ke Air Susu Ibu (ASI). Orang
dewasa yang terpajan timbal (Pb) dengan
konsentrasi tinggi di lingkungan kerja
menyebabkan kehilangan koordinasi muscular,
kerusakan ginjal, lelah, lesu / apatis, mudah
terinfeksi, encok sendi, dan gangguan saluran
pencernaan.
3

Dari beberapa hasil penelitian FKM UI
tahun 1987 menunjukkan kadar timbal (Pb) pada
spesimen darah pekerja jalan Tol Jagorawi
adalah 39,2 s/d 75,9 g per dL. Demikian juga
hasil penelitian Nani pada tahun 1984
menunjukkan bahwa 30% s/d 46% pengemudi
dan petugas polantas mempunyai kadar timbal
(Pb) dalam darah di atas 40 g per dL
4
.
Sedangkan kadar Timbal (Pb) yang
diperkenankan WHO dalam Depkes (2001) pada
orang dewasa normal adalah 10 - 25 g per dL
dan untuk usia anak-anak adalah 0 - 10 g per
dL.
Untuk mengetahui kandungan timbal (Pb)
di dalam tubuh manusia ditetapkan cara yang
akurat dalam bentuk analisis konsentrasi timbal
(Pb) di dalam darah atau urine. Konsentrasi
timbal (Pb) di dalam darah merupakan indikator
yang lebih baik dibandingkan dengan
konsentrasi timbal (Pb) di dalam urine.
5
Oleh
sebab itu, kadar timbal (Pb) dalam darah
merupakan parameter pemajanan yang sering
dipakai dalam kaitannya dengan pajanan
eksternal. Kadar timbal (Pb) dalam darah dapat
merupakan petunjuk langsung jumlah timbal
(Pb) yang sesungguhnya masuk ke dalam tubuh.
4

Di daerah pertanian maupun perkebunan
yang lokasinya berdekatan dengan jalan raya,
biasanya pada hasil pertanian maupun
perkebunan kandungan timbalnya lebih tinggi
bila dibandingkan dengan lokasi yang jauh dari
jalan raya. Hal ini menggambarkan bahwa
pencemaran timbal (Pb) yang potensial berasal
dari kendaraan bermotor. Pencemaran timbal
(Pb)merupakan masalah utama bagi kaum
miskin di perkotaan, tanah dan debu di sekitar
jalan raya pada umumnya telah tercemar bensin
bertimbal (Pb) selama bertahun-tahun.
Pengerokan cat lama pada bangunan rumah akan
menimbulkan debu yang mengandung timbal
(Pb) sehingga dapat mengganggu kesehatan.
6

Secara umum, dampak negatif pencemaran
timbal (Pb) sangat tinggi terhadap kelompok
masyarakat yang sering dan lama kontak
terhadap sumber pencemaran timbal (Pb) yang
disebut sebagai kelompok masyarakat resiko
tinggi (high risk). Kelompok tersebut antara
lain: polisi lalu lintas, pedagang asongan di
sekitar terminal, pedagang kaki lima, petugas
jalan tol, penjaja koran dan tukang becak mesin.
Walaupun demikian, berdasarkan hasil
penelitian yang pernah dilakukan Balai Teknik
Kesehatan Lingkungan (BTKL) Medan pada
tahun 2002 di kota Tarutung dan Tebing Tinggi
propinsi Sumatera Utara, menunjukkan bahwa
dari berbagai komponen masyarakat yang
merupakan resiko tinggi tersebut, kelompok
tukang becak mesinlah yang merupakan
kelompok masyarakat paling beresiko dimana
hasil penelitian ini menunjukkan kadar timbal
(Pb) dalam darah yang paling tinggi adalah
kelompok tukang becak mesin.
8
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui
kadar timbal (Pb) dalam spesimen darah tukang
becak mesin dan faktor-faktor yang
berhubungan dengan kadar timbal (Pb) tersebut
seperti umur, jarak rumah dengan jalan protokol,
masa kerja, jumlah jam kerja dalam sehari,
kebiasaan merokok dan kebiasaan memakai alat
pelindung diri.

BAHAN DAN CARA
Penelitian dilakukan pada bulan April
Mei tahun 2004 dan berlokasi di Kota Pematang
Siantar mengingat bahwa kota ini merupakan
kota lintas Sumatera dan merupakan kota
terpadat lalu lintasnya setelah kota Medan di
propinsi Sumatera Utara. Penelitian ini
merupakan survei yang bersifat diskriptif
dengan rancangan cross sectional yang
bertujuan untuk mengetahui kadar timbal (Pb)
pada spesimen darah tukang becak mesin dan
faktor-faktor yang berhubungan seperti: umur,
jarak rumah dengan jalan protokol, lamanya
bekerja, jumlah jam kerja dalam sehari,
224 Majalah Kedokteran Nusantara Volume 38 No. 3 September 2005
Indra Chahaya S, dkk Kadar Timbal (Pb) dalam Spesimen Darah
kebiasaan merokok dan pemakaian alat
pelindung diri.
Populasi adalah seluruh tukang becak mesin
yang menjalankan aktifitasnya di jalan raya
kota Pematang Siantar. Penentuan jumlah
sampel dilakukan dengan estimasi proporsi
sehingga diperoleh jumlah sampel 96 orang
yang diambil secara acak sederhana. Kadar
timbal (Pb) dalam spesimen darah diukur
dengan menggunakan Atomic Absorbtion
Spectrofotometer (Spektrofotometer Serapan
Atom) dalam satuan g/ dL kemudian
dikelompokkan dalam 4 kategori
7
yaitu : Kadar
< 40 g/dL termasuk kategori normal, yaitu
tingkat pemaparannya masih normal; Kadar 40
80 g/dL termasuk kategori ditoleransi, yaitu
telah terjadi peningkatan penyerapan tetapi
masih dapat ditoleransi; Kadar 80 120 g/dL
termasuk kategori berlebih, yaitu telah terjadi
peningkatan penyerapan dan memperlihatkan
tanda-tanda keracunan; Kadar > 120 termasuk
kategori bahaya, yaitu telah terjadi peningkatan
penyerapan yang berbahaya sehingga
menunjukkan tanda-tanda keracunan ringan
sampai berat. Selanjutnya dilakukan wawancara
untuk mengetahui faktor-faktor yang
berhubungan dengan kadar timbal (Pb) dalam
spesimen darah dengan menggunakan kuesioner.
Data yang diperoleh dianalisa secara diskriptif.

HASIL DAN DISKUSI
Berdasarkan hasil penelitian terhadap kadar
timbal (Pb) dalam spesimen darah tukang becak
mesin, 8 orang (8,3%) kategori normal, 34 orang
(35,4%) kategori ditoleransi, 40 orang (41,7%)
kategori berlebih dan 14 orang (14,6%) kategori
bahaya. Hasil ini menunjukkan bahwa
sebahagian besar tukang becak mesin telah
tercemar oleh timbal (Pb) akibat pencemaran
yang terjadi di udara terutama dari asap
kendaraan bermotor. Tingginya kadar timbal
(Pb) dalam spesimen darah responden dapat
menimbulkan keluhan kesehatan. Berdasarkan
hasil wawancara terhadap responden diperoleh
data, 89 orang (92,7%) responden mengalami
keluhan kesehatan akibat pencemaran udara dan
86 orang (96,6%) menyatakan bahwa keluhan
kesehatan dialami setelah bekerja sebagai
tukang becak mesin. Keluhan kesehatan yang
dialami seperti susah tidur, sering
bingung/pikiran kacau, konsentrasi berkurang
dan daya ingat menurun.
Tingginya kadar timbal (Pb) dalam darah
tukang becak mesin sesuai dengan hasil
penelitian terhadap masyarakat beresiko tinggi
oleh FKM UI (1987) yang memperoleh kadar
timbal (Pb) pada spesimen darah pekerja jalan
Tol Jagorawi adalah 39,2 s/d 75,9 g per dL,
penelitian Nani (1984) yang menemukan 30%
s/d 46% pengemudi dan petugas polantas
mempunyai kadar Timbal (Pb) dalam darah di
atas 40 g per dL.
4

Dampak timbal (Pb) dalam tubuh
seseorang mempengaruhi kesehatannya.
Menurut Palar keracunan timbal (Pb) dapat
mengganggu sistem syaraf, sistem ginjal, sistem
reproduksi, sistem endokrin dan jantung.
7
Selain
itu menurut Depkes (2001) dapat menyebabkan
kelambanan dalam pengembangan neurologis
syaraf, kerusakan sistem reproduksi pria,
penyakit syaraf, perubahan daya pikir dan
perilaku, tekanan darah tinggi, dan anemia. Pada
kasus terpapar Timbal (Pb) secara kronis, antara
lain kelelahan, kelesuan, irritabilitas dan
gangguan gastrointestinal merupakan tanda awal
dari intoksikasii Timbal (Pb) secara kronis.
Terpapar secara terus-menerus pada sistem
syaraf pusat menunjukkan gejala seperti
insomnia, bingung atau pikiran kacau.
4

Hubungan umur dengan kadar timbal (Pb)
dalam spesimen darah tukang becak mesin
Pada tabel 1 diketahui bahwa tukang becak
mesin di Pematang Siantar sebahagian besar
pada kelompok umur produktif yaitu 26-50
tahun (63%). Sedangkan kadar timbal (Pb)
dalam spesimen darah pada kategori berlebih
dan berbahaya dapat ditemukan pada ketiga
kelompok umur kecuali >50 tahun. Namun
demikian pada kelompok umur >50 tahun juga
ditemukan kadar timbal (Pb) dalam spesimen
darahnya, walau masih dalam kategori
ditoleransi. Ini berarti bahwa pemaparan timbal
(Pb) dapat terjadi pada semua kelompok umur.
Hal ini sesuai dengan data yang diperoleh dari
Depkes (2001) bahwa timbal (Pb) mempunyai
dampak terhadap kesehatan baik kelompok
umur dewasa maupun anak-anak, bahkan
apabila kadar timbal (Pb) dalam darah sudah
berada diatas 100 g/dl dapat menyebabkan
kematian.
4
Majalah Kedokteran Nusantara Volume 38 No. 3 September 2005 225
Karangan Asli

Hubungan jarak rumah dengan jalan
protokol dengan kadar timbal (Pb) dalam
spesimen darah tukang becak mesin
Pada tabel 2 diketahui bahwa umumnya
responden 53 orang (55,2%) tinggal 0,5-1 km
dari jalan protokol. Kadar timbal (Pb) dalam
spesimen darah tukang becak mesin pada
kategori berlebih (80-120 g/dL) dan berbahaya
( >120 g/dL) banyak ditemukan pada tukang
becak mesin yang tinggal < 0,5 km dan 0,5 1
km dari jalan protokol. Hal ini berarti kadar
timbal (Pb) dalam darah tukang becak mesin di
kota Pematang Siantar memiliki kaitan dengan
jarak tempat tinggalnya karena semakin
dekatnya jarak rumah dengan jalan protokol
berarti semakin dekat dengan sumber asap
kendaraan bermotor yang memungkinkan
semakin tingginya kadar timbal (Pb) di udara.
Menurut Atrisman (2002) udara ambien dengan
radius 0,5 km dari sumber emisi gas buang
merupakan lokasi yang paling besar resikonya,
0,5 1 km merupakan resiko sedang dan di atas
1 km merupakan resiko ringan.
8
Hal ini sejalan
dengan pendapat Sunu (2001) konsentrasi timbal
(Pb) di udara perkotaan yang padat lalu
lintasnya bisa mencapai 5 - 50 kali dibandingkan
dengan udara pegunungan yang masih lestari.
1,5

Selanjutnya dipertegas oleh Palar (1997) yang
menyatakan bahwa konsentrasi kadar timbal
(Pb) dalam darah penduduk yang tinggal jauh
dari jalan protokol sebesar 16 g/100 ml pada
laki-laki dan 9,4 g/100 ml pada wanita,
sedangkan penduduk yang tinggal dekat dengan
jalan protokol sebesar 22,7g/100 ml pada laki-
laki dan 16,7 g/100 ml pada wanita.
7
Tabel 1.
Distribusi kadar timbal (Pb) dalam spesimen darah tukang becak mesin berdasarkan kelompok umur di
Kota Pematang Siantar

Hubungan jarak rumah dengan jalan
protokol dengan kadar timbal (Pb) dalam
spesimen darah tukang becak mesin
Pada tabel 2 diketahui bahwa umumnya
responden 53 orang (55,2%) tinggal 0,5-1 km
dari jalan protokol. Kadar timbal (Pb) dalam
spesimen darah tukang becak mesin pada
kategori berlebih (80-120 g/dL) dan berbahaya
( >120 g/dL) banyak ditemukan pada tukang
becak mesin yang tinggal < 0,5 km dan 0,5 1
km dari jalan protokol. Hal ini berarti kadar
timbal (Pb) dalam darah tukang becak mesin di
kota Pematang Siantar memiliki kaitan dengan
jarak tempat tinggalnya karena semakin
dekatnya jarak rumah dengan jalan protokol
berarti semakin dekat dengan sumber asap
kendaraan bermotor yang memungkinkan
semakin tingginya kadar timbal (Pb) di udara.
Menurut Atrisman (2002) udara ambien dengan
radius 0,5 km dari sumber emisi gas buang
merupakan lokasi yang paling besar resikonya,
0,5 1 km merupakan resiko sedang dan di atas
1 km merupakan resiko ringan.
8
Hal ini sejalan
dengan pendapat Sunu (2001) konsentrasi timbal
(Pb) di udara perkotaan yang padat lalu
lintasnya bisa mencapai 5 - 50 kali dibandingkan
dengan udara pegunungan yang masih lestari.
1,5

Kadar timbal (Pb) dalam spesimen darah (g/dL)
Jumlah
Kelompok umur
(Tahun)
<40 40 - 80 80 - 120 >120
n % n % n % n % N %
< 15 0 0 1 25 3 75 0 0 4 4,2
15 25 3 12 10 40 10 40 2 8 25 26,0
26 50 5 7,9 19 30,2 27 42,9 12 19 63 65,6
> 50 0 0 4 100 0 0 0 0 4 4,2
8 34 40 14 96 100


Tabel 2.
Distribusi kadar timbal (Pb) dalam darah tukang becak mesin berdasarkan jarak rumah dengan jalan
protokol di Kota Pematang Siantar
Kadar timbal (Pb) dalam spesimen darah (g/dL)
Jumlah
Jarak rumah (Km) <40 40 - 80 80 - 120 >120
n % n % n % n % N %
< 0,5 4 14,8 2 7,4 13 48,1 8 29,6 27 28,1
0,5 1 4 7,5 24 45,3 20 37,7 5 9,4 53 55,2
> 1 0 0 8 50 7 43,8 1 6,3 16 16,7
8 34 40 14 96 100
226 Majalah Kedokteran Nusantara Volume 38 No. 3 September 2005
Indra Chahaya S, dkk Kadar Timbal (Pb) dalam Spesimen Darah
Selanjutnya dipertegas oleh Palar (1997) yang
menyatakan bahwa konsentrasi kadar timbal
(Pb) dalam darah penduduk yang tinggal jauh
dari jalan protokol sebesar 16 g/100 ml pada
laki-laki dan 9,4 g/100 ml pada wanita,
sedangkan penduduk yang tinggal dekat dengan
jalan protokol sebesar 22,7g/100 ml pada laki-
laki dan 16,7 g/100 ml pada wanita.
7

Hubungan lama bekerja dengan kadar
timbal (Pb) dalam spesimen darah tukang
becak mesin
Tukang becak mesin di kota Pematang
Siantar sebagian besar 66 orang (68,8%) telah
menekuni pekerjaannya sebagai tukang becak
mesin selama 1 5 tahun (Tabel 3). Kadar
timbal (Pb) dalam spesimen darah pada kategori
berlebih (80-120 g/dL) dan berbahaya (>120
g/dL) banyak ditemui pada tukang becak mesin
yang bekerja selama 1-5 tahun dan lebih dari 5
tahun. Hal ini berarti bahwa semakin lama
menjadi tukang becak maka semakin lama
terpapar dengan bahan pencemaran timbal (Pb)
di udara dan semakin tinggi akumulasi timbal
(Pb) dalam spesimen darah. Timbal (Pb) yang
diserap akan diendapkan dalam tulang
bergabung dengan matrik tulang yang mirip
dengan kalsium (Ca). Timbal (Pb) yang terdapat
di dalam tulang kompak hanya akan bergerak
lambat dan secara umum akan meningkat
jumlahnya bersamaan dengan waktu terpapar.
Penyimpanan timbal (Pb) dalam tulang
menyebabkan kenaikan katabolisme tulang yang
memungkinkan dapat meningkatkan konsentrasi
timbal (Pb) dalam sirkulasi darah. Berbagai
penyakit yang ditimbulkan oleh adanya proses
pergantian tulang berkaitan dengan tingginya
kadar timbal (Pb) dalam darah (seperti
hipertiroidisme, osteosporosis). Secara intra
seluler, timbal (Pb) terikat pada kelompok
sulfhidril dan ikut berperan dalam sejumlah
enzim seluler, seperti dalam sintetis heme.
Peningkatan seperti itu juga terdapat pada
keberadaan timbal (Pb) dalam rambut dan kuku.
Timbal (Pb) juga terikat pada membran
mitokondria dan bergantung dengan protein dan
berperan dalam sintetis asam nukleat.
4
Tabel 3.
Distribusi kadar timbal (Pb) dalam spesimen darah tukang becak mesin berdasarkan lama bekerja
sebagai tukang becak mesin di Kota Pematang Siantar
Kadar timbal (Pb) dalam spesimen darah (g/dL)
Jumlah
Lama bekerja
Majalah Kedokteran Nusantara Volume 38 No. 3 September 2005 227
Hubungan jumlah jam kerja dalam sehari
dengan kadar timbal (Pb) dalam spesimen
darah tukang becak mesin
Pada tabel 4 terlihat bahwa 50 orang
(52,1%) tukang becak mesin di kota Pematang
Siantar untuk setiap harinya bekerja
menjalankan pekerjaan sebagai tukang becak
mesin di bawah 8 jam per hari. Bila
dihubungkan dengan lama kerja seseorang yang
ideal 8 jam sehari, di kota Pematang Siantar
masih ada yang bekerja di atas waktu kerja yang
ideal bagi kesehatan. Berdasarkan hasil
penelitian ditemukan kadar timbal (Pb) dalam
darah pada kategori normal, ditoleransi, berlebih
dan berbahaya pada tukang becak mesin yang
bekerja < 8 jam dan > 8 jam. Keadaan ini
(Tahun)
<40 40 - 80 80 - 120 >120
n % n % n % n % N %
12,4 12 0 0 50 6 33,3 4 16,7 2 < 1
68,8 66 9,1 6 40,9 27 42,4 28 7,6 5 1 5
18,8 18 44,4 8 38,9 7 11,1 2 5,6 1 > 5
8 34 40 14 96 100
Tabel 4.
Distribusi kadar timbal (Pb) dalam spesimen darah tukang becak mesin berdasarkan jumlah jam kerja
dalam sehari di Kota Pematang Siantar
Kadar timbal (Pb) dalam spesmen darah (g/dL)
Jumlah
Jumlah jam kerja
dalam sehari (Jam)
<40 40 - 80 80 - 120 >120
n % n % n % n % n %
< 8 2 4 19 38 20 40 9 18 50 52,1
> 8 6 13 15 32,6 20 43,5 5 10,9 46 47,9
8 34 40 14 96 100

Karangan Asli
disebabkan jumlah jam kerja ternyata bukan
menjadi faktor penyebab adanya timbal (Pb)
dalam darah tetapi kemungkinan ada faktor lain
yang menyebabkan tingginya kadar timbal (Pb)
dalam darah yang akan berdampak pada
kesehatan seseorang yang pada giliannya akan
menurunkan daya tahan tubuhnya apalagi bila
tidak dibarengi dengan intake gizi yang
memadai.

Hubungan kebiasaan merokok dengan kadar
timbal (Pb) dalam spesimen darah tukang
becak mesin
Pada tabel 5 terlihat bahwa hanya 2 orang
(2,1%) responden tidak mempunyai kebiasaan
merokok, sedangkan selebihnya mempunyai
kebiasaan merokok dan kadang-kadang. Tetapi
dari 2 orang yang tidak merokok tersebut
ternyata kadar timbal (Pb) dalam darahnya
termasuk kategori berbahaya (>120 g/d).
Penyebab tingginya kadar timbal (Pb) dalam
darah orang yang tidak merokok dapat
disebabkan oleh paparan timbal (Pb) dari udara
yang berasal dari asap kendaraan bermotor. Pada
tukang becak yang sering merokok dan kadang-
kadang merokok di dalam darahnya
mengandung timbal (Pb) dalam kategori normal,
ditoleransi, berlebih dan berbahaya. Hasil
penelitian memberikan gambaran bahwa kadar
timbal (Pb) dalam darah berhubungan dengan
kebiasaan merokok, dimana responden yang
memiliki kebiasaan merokok kadar timbal (Pb)
dalam darahnya termasuk kategori di atas
normal dan bahkan semakin banyak jumlah
rokok yang diisap setiap harinya semakin tinggi
pula kadar timbal (Pb) dalam darahnya. Hal ini
mendukung hasil penelitian Depkes (2001)
bahwa ada perbedaan kadar timbal (Pb) dalam
darah penduduk pinggiran kota antara mereka
yang merokok dengan yang tidak merokok.
Penduduk pinggiran kota yang tidak merokok
kadar timbal (Pb) dalam darahnya sekitar 11
g/100 mL darah, sedangkan mereka yang
merokok sekitar 15 g/100 mL darah. Oleh
sebab itu, tukang becak mesin yang memiliki
kebiasaan merokok akan menambah resiko
untuk meningkatnya kadar timbal (Pb) dalam
darahnya. Selain itu menurut Hardiono dalam
Suci (2003), merokok yang bahan bakunya
diambil dari tembakau, dalam proses pena-
nganannya sering menggunakan pestisida yang
juga mengandung bahan dasar timbal (Pb).
9
Tabel 5. Distribusi kadar timbal (Pb) dalam spesimen darah tukang becak mesin berdasarkan
kebiasaan merokok di kota Pematang Siantar.
Hubungan kebiasaan memakai alat
pelindung diri dengan kadar timbal (Pb)
dalam spesimen darah tukang becak mesin
Pada tabel 6 terlihat bahwa hanya 11
responden (11,4%) yang memakai alat pelindung
diri dan 85 responden (88,6%) tidak memakai alat
pelindung diri. Namun responden yang memakai
alat pelindung diri juga ditemui kadar timbal (Pb)
dalam spesimen darahnya masuk kategori berlebih.
Selain itu kadar timbal (Pb) dalam kategori normal
ditemui pada responden yang tidak memakai alat
pelindung diri. Hal ini menunjukkan bahwa
pemakaian alat pelindung diri tidak menjamin
kadar timbal (Pb) dalam spesimen darah.
Berdasarkan hasil penelitian ini kadar timbal dalam
darah tidak hanya dipengaruhi oleh penggunaaan
APD namun juga dipengaruhi oleh faktor-faktor
lain seperti jarak rumah dengan jalan protokol,
Kadar timbal (Pb) dalam spesimen darah (g/dL)
Jumlah
Kebiasaan merokok <40 40 - 80 80 - 120 >120
n % n % n % n % n %
Ya 2 3,4 19 32,8 28 48,3 9 15,5 58 60,4
Kadang-kadang 6 16,7 15 41,7 12 33,3 3 8,3 36 37,5
Tidak 0 0 0 0 0 0 2 0 2 2,1
8 34 40 14 96 100

Tabel 6.
Distribusi kadar timbal (Pb) dalam spesimen darah tukang becak mesin berdasarkan kebiasaan memakai
alat pelindung diri di Kota Pematang Siantar
Kadar timbal (Pb) dalam spesimen darah (g/dL)
Jumlah
Alat pelindung diri <40 40 - 80 80 - 120 >120
n % n % n % n % n %
Ya 2 18 4 36 5 46 0 0 11 11,4
Tidak 6 7,0 30 35,3 35 41,2 14 16,5 85 88,6
8 34 40 14 96 100

228 Majalah Kedokteran Nusantara Volume 38 No. 3 September 2005
Indra Chahaya S, dkk Kadar Timbal (Pb) dalam Spesimen Darah
lamanya bekerja dan kebiasaan merokok. Yang
dimaksud sebagai alat pelindung diri dalam
penelitian ini adalah berupa masker untuk
mencegah masuknya bahan pencemar timbal (Pb)
melalui hidung. Keracunan yang ditimbulkan oleh
persenyawaan logam timbal (Pb) dapat terjadi
karena masuknya persenyawaan logam tersebut ke
dalam tubuh. Proses masuknya timbal (Pb) dalam
tubuh dapat melalui beberapa jalur, yaitu: melalui
makanan dan minuman, udara dan perembesan,
atau penetrasi pada selaput atau lapisan kulit.
7,10

KESIMPULAN DAN SARAN
Kadar timbal (Pb) dalam spesimen darah
tukang becak mesin, 8 orang (8,3%) kategori
normal, 34 orang (35,4%) kategori ditoleransi,
40 orang (41,7%) kategori berlebih dan 14 orang
(14,6%) kategori bahaya, Tingginya kadar
timbal (Pb) dalam spesimen darah tukang becak
mesin di kota Pematang Siantar berdasarkan
hasil penelitian ada hubungannya dengan jarak
rumah dengan jalan protokol, lamanya bekerja
sebagai tukang becak mesin dan kebiasaan
merokok. Sedangkan umur, jumlah jam kerja
dalam sehari dan kebiasaan memakai alat
pelindung diri berupa masker tidak berhubungan
dengan kadar timbal (Pb) dalam spesimen darah
tukang becak mesin.
Berdasarkan data yang diperoleh ternyata
80 orang responden (83,3%) menyatakan tidak
pernah memperoleh informasi tentang dampak
pencemaran udara terhadap kesehatan.
Rendahnya tukang becak mesin yang pernah
memperoleh penyuluhan mengharuskan instansi
kesehatan dan instansi terkait perlu
meningkatkan intensitas penyuluhan bagi para
tukang becak mesin sehingga diharapkan resiko
terkena dampak pencemaran timbal (Pb) dapat
diminimalisir. Selain itu juga perlu dilakukan
pemeriksaan kadar timbal (Pb) dalam darah
kelompok masyarakat resiko tinggi seperti
tukang becak mesin secara berkala.
DAFTAR PUSTAKA
1. Achmad, Rukaesih. Kimia Lingkungan.
Penerbit Andi. Yogyakarta. 2004, hal 156-
158
2. Hidayat, Haryadi. Bensin Tanpa Timbal
Memicu Kanker. www.otomotif. online.com.
13 Mei 2002
3. Nukman, A. Dampak Kesehatan
Lingkungan Akibat Pencemaran Timbal.
Subdit Pengendalian Dampak Pencemaran
Udara dan Kebisingan. Ditjen PPM-PL.
Depkes RI. Jakarta. 2000
4. Departemen Kesehatan RI. Kerangka Acuan
Uji Petik Kadar Timbal (Pb) Pada Spesimen
Darah Terhadap Kelompok Masyarakat
Beresiko Tinggi Pencemaran Timbal, Ditjen
PPM & PL Depkes RI, Jakarta.2001
5. Sunu, Pramudya. Melindungi Lingkungan
dengan Menerapkan ISO 14001, Gramedia
Widia Sarana Indonesia, Jakarta. 2001. Hal
180-183
6. Soemirat, Juli. Toksikologi Lingkungan
Gadjah mada University Press. 2003 hal
189-194
7. Palar, Heryando. Pencemaran dan
Toksikologi Logam Berat, Rineka Cipta,
Jakarta. 1997. hal 74-90
8. Atrisma.Pengukuran Dampak Pencemaran
Udara, Ditjen PPM & PL, Depkes RI,
Jakarta Balai Teknik Kesehatan Lingkungan
(BTKL) Laporan Hasil Pemeriksaan Kadar
Timbal (Pb) pada Spesimen Darah di kota
Tarutung dan Tebing Tinggi, BTKL,
Medan.2002
9. Suci E. Pemeriksaan Kadar Pb dalam
Spesimen Darah Polisi Lalu Lintas dalam
Rangka Pengusulan Kebijakan Kesehatan di
Poltabes Medan Tahun 2003, Tesis, IKM,
Program Pascasarjana, USU, Medan. 2003
10. Duffus, J H. Environmental Toxicology.
Edward Arnold Ltd. London. 1980: 236
Majalah Kedokteran Nusantara Volume 38 No. 3 September 2005 229