Anda di halaman 1dari 18

LAPORAN AKHIR PRAKTIKUM

BIOFARMASETIKA DAN FARMAKOKINETIKA


MODELING DAN ANALISIS DATA BIOFARMASETIKA DENGAN
PROGRAM WINSAAM


Nama :
NPM :
Hari/Jam : Rabu/10.00-13.00





LABORATORIUM BIOFARMASETIKA DAN
FARMAKOKINETIKA
FAKULTAS FARMASI
UNIVERSITAS PADJADJARAN
2013




MODELING DAN ANALISIS DATA BIOFARMASETIKA
DENGAN PROGRAM WINSAAM


I. Tujuan
Mempelajari modeling dan analisis data penelitian biofarmasetika dengan
pengkhususan data in vivo menggunakan software WinSAAM

II. Prinsip
a. Komputasi
Komputasi adalah cabang ilmu komputer dan matematika yang
membahas apakah dan bagaimanakah suatu masalah dapat dipecahkan
pada model komputasi, menggunakan algoritma.
b. WinSAAM
WinSAAM merupakan suatu program yang berfungsi sebagai modeling
dan menganalisis data yang terdiri dari kompartemen satu dengan lainnya
yang bertujuan untuk mengetahui bagaimana proses pemindahan materi
berdasarkan angka serta notasi yang digunakan. Keungulan program ini
adalah tidak diperlukan penulisan persamaan diferensial secara utuh
karena software akan mengenali model yang ditulis berdasarkan konvensi
tersebut.

III. Teori Dasar
Farmakokinetik adalah evaluasi kuantitatif setiap komponen kecenderungan
senyawa (absorbsi, distribusi, metabolisme, ekskresi). Kemampuan mengestimasi
parameter farmakokinetik seuatu obat tergantung pada kemampuan untuk secara
akurat dan reprodusibel menentukan kadar obat tersebut dalam cairan tubuh
tertentu (darah, cairan serebrospinal, urin, cairan sendi) (Behrman et. al,.).
Penelitian farmakokinetik suatu zat aktif merupakan penelitian identifikasi dan
penetapan konsentrasi obat dalam tubuh sebagai fungsi waktu sehingga dapat
menggambarkan model parametrik yang khas. (Habib, 2009). Model
kompartemen mempunyai sejarah yang panjang sebagai aplikasi studi
metabolisme dan farmakokinetik pada manusia. Komputasi farmakokinetik yang
efektif dan efisien diaplikasikan ke dalam model komputer untuk pengetahuan,
desain dosis optimum dan identifikasi sistem farmakokinetik (Linares, 2010).
Modeling merupakan sistem simultan yang tersusun atas persamaan
differensial dan atau persamaan aljabar yang mendefinisikan peranan variabel-
variabel serta koefisien transport pada suatu sistem fisika, kimia, dan biologis.
Modeling yang didesign dengan baik dan benar akan menjadi suatu perangkat
metode yang handal dan dapat dipercaya dalam analisis data dan mendukung
pengambilan kesimpulan. Metode ini sangat membantu dalam melakukan
summary data, mengeksplorasi mekanisme proses, serta memprediksikan suatu
parameter variabel tertentu berdasarkan suatu model (Stefanovski et al., 2003).
Profil dan model farmakokinetik yang didapat dari penelitian umumnya
dilakukan dengan pemberian obat secara intravena. Tubuh manusia dapat diwakili
sebagai suatu jaringan yang tersusun secara system seri dari kompartemen-
kompartemen yang berhubungan secara reversible antar organ yang satu dengan
yang lainnya (Habib, 2009). WinSAAM adalah software turunan dari SAAM
(Simulation, Analysis and Modelling) dengan peningkatan kapasitas kinerja.
WinSAAM adalah model software untuk model kompartemen sebagai aplikasi
dalam farmakokinetik. WinSAAM memiliki unit operassional yang
memungkinkan pengguna untuk membuat sketsa model kompartemen
farmakokinetik secara langsung ke dalam software (Linares, 2010).
Permodelan farmakokinetik berguna untuk :
1. Memprediksikan konsentrasi obat di dalam plasma, jaringan, dan urin;
2. Mengkalkulasikan dosis optimum obat bagi setiap pasien;
3. Mengestimasikan kemungkinan terakumulasinya obat dan atau produk-
produk metabolismenya;
4. Mengkorelasikan konsentrasi obat dengan efek toksisitas dan efek
farmakologinya;
5. Mengevaluasi perbedaan konsentrasi yang terkandung dalam plasma
antara formula yang satu dengan yang lainnya;
6. Menjelaskan bagaimana pengaruh perubahan fisiologi dan efek dari
penyakit terhadap absorpsi, distribus, dan eliminasi dari statu obat;
7. Menjelaskan interaksi obat yang mungkin terjadi
(Habib, 2009).
Model kompartemen didasarkan atas anggapan linear, yang menggunakan
persamaan diferensial linear. Kompartemen model merupakan gambaran
kinetik yang mengkarakterisasi laju absorpsi, disposisi dan eliminasi dari
suatu obat di dalam tubuh. Sebagai bapak kompartemen adalah Teorell.
Model kompartemen terbagi atas :
a. Model Mammillary
Model terdiri atas satu atau lebih kompartemen perifer yang
dihubungkan ke suatu kompartemen sentral. Kompartemen sentral
mewakili plasma dan jaringan-jaringan yang perfusinya tinggi dan secara
cepat berkesetimbangan dengan obat. Model mamillary dapat dianggap
sebagai suatu sistem yang berhubungan secara erat, karena jumlah obat
dalam setiap kompartemen dalam setiap sistem tersebut dapat diperkirakan
setelah obat dimasukkan ke dalam suatu kompartemen tertentu. Menurut
Mammillary model kompartemen dibagi menjadi :
1. Kompartemen satu terbuka iv
Perfusi terjadi sangat cepat seperti tanpa proses distribusi sebab
distribusi tidak diamati karena terlalu cepatnya. (Hanya ada satu fase
yaitu eliminasi).
2. Kompartemen satu terbuka ev
Sebelum memasuki kompartemen sentral, obat harus mengalami
absorbsi. (Terdiri dari 2 fase yaitu absorbsi dan eliminasi).
3. Kompartemen 2 terbuka intravaskuler
Kompartemen dianggap hanya satu dan ada proses distribusi dari
sentral ke perifer atau sebaliknya. Tidak ada proses absorbsi tetapi ada
proses eliminasi.
4. Kompartemen 2 terbuka ekstravaskuler
Obat mengalami proses absorpsi, distribusi dan eliminasi.
b. Model Caternary
Dalam farmakokinetika model mammilary harus dibedakan dengan
macam model kompartemen yang lain yang disebut model caternary.
Model caternary terdiri atas kompartemen-kompartemen yang bergabung
satu dengan yang lain menjadi satu deretan kompartemen. Sebaliknya,
model mammilary terdiri atas satu atau lebih kompartemen yang
mengelilingi suatu kompartemen sentral.
c. Model Fisiologik (Model Aliran)
Model fisiologik juga dikenal sebagai model aliran darah atau model
perfusi, merupakan model farmakokinetik yang didasarkan atas data
anatomik dan fisiologik yang diketahui. Makna yang nyata dari model
fisiologik adalah dapat digunakannya model ini dalam memprakirakan
farmakokinetika pada manusia dari data hewan. Jadi, parameter-parameter
fisiologik dan anatomik dapat digunakan untuk memprakirakan efek obat
pada manusia berdasar efek obat pada hewan. Perbedaan utama model ini
dan model kompartemen lainnya yaitu :
1. Tidak dibutuhkan data yang tepat dalam model perfusi.
2. Aliran darah, ukuran jaringan dan perbandingan obat dalam jaringan
darah dapat berbeda sehubungan dengan kondisi patofisiologi tertentu.
3. Model farmakokinetika dengan dasar fisiologik dapat diterapkan pada
beberapa spesies dan dengan beberapa data obat pada manusia dapat
diekstrapolasikan (Shargel, 2005).
Adapun parameter-parameter farmakokinetika :
a. T maksimum (tmaks) yaitu waktu konsentrasi plasma mencapai puncak
dapat disamakan dengan waktu yang diperlukan untuk mencapai
konsentrasi obat maksimum setelah pemberian obat. Pada tmaks absorpsi
obat adalah terbesar, dan laju absorpsi obat sama dengan laju eliminasi
obat. Absorpsi masih berjalan setelah tmaks tercapai, tetapi pada laju yang
lebih lambat. Harga tmaks menjadi lebih kecil (berarti sedikit waktu yang
diperlukan untuk mencapai konsentrasi plasma puncak) bila laju absorpsi
obat menjadi lebih cepat (Shargel, 2005).
b. Konsentrasi plasma puncak (Cmaks) menunjukkan konsentrasi obat
maksimum dalam plasma setelah pemberian secara oral. Untuk beberapa
obat diperoleh suatu hubungan antara efek farmakologi suatu obat dan
konsentrasi obat dalam plasma (Shargel, 2005).
c. Volume Distribusi (Vd) adalah volume yang didapatkan pada saat obat
didistribusikan. Menghubungkan jumlah obat dalam tubuh dengan
konsentrasi obat ( C ) dalam darah atau plasma.
d. AUC (Area Under Curve) adalah permukaan di bawah kurva (grafik) yang
menggambarkan naik turunnya kadar plasma sebagai fungsi dari waktu.
AUC dapat dihitung secara matematis dan merupakan ukuran untuk
bioavailabilitas suatu obat. AUC dapat digunakan untuk membandingkan
kadar masing-masing plasma obat bila penentuan kecepatan eliminasinya
tidak mengalami perubahan. Selain itu antara kadar plasma puncak dan
bioavailabilitas terdapat hubungan langsung
e. Tetapan Laju Eliminasi dan Waktu Paruh dalam Plasma
Waktu paruh dalam plasma adalah waktu dimana konsentrasi obat dalam
darah (plasma) menurun hingga separuh dari nilai seharusnya.
f. Klirens obat adalah suatu ukuran eliminasi obat dari tubuh tanpa
mempermasalahkan mekanisme prosesnya. Umumnya, jaringan tubuh atau
organ dianggap sebagai suatu kompartemen cairan dengan volume terbatas
(volume distribusi) dimana obat terlarut didalamnya (Shargel, 2005).
IV. Alat dan Bahan
a. Komputer (sistem operasi windows)
b. CD instalasi software WinSAAM atau koneksi internet untuk dapat
mendownload secara langsung WinSAAM dari situs
http://www.winsaam.com
V. Prosedur
A. Instalasi Software
File installer WinSAAM (format.exe) dibuka. Proses instalasi dimulai
dengan di klik dua kali pada nama file, lalu petunjuk yang ada diikuti sampai
keluar pesan bahwa instalasi berhasil.
B. Pengoperasian program WinSAAM
1. Penerjemahan blok model kompartemen menjadi blok WinSAAM
WinSAAM mengenali kompartemen satu dengan lainnya serta
bagaimana proses pemindahan materi berdasarkan angka serta notasi
yang digunakan.
2. Pembuatan listing program
a. Kode pengenal bahwa listing menggunakan program WinSAAM.
Setelah program WinSAAM dibuka, buka WinSAAM working file.
b. Parameter-parameter model yang disusun secara sistematis sesuai
dengan konvensi yang ada. Parameter-parameter farmakokinetik
dimasukkan (perhatikan penggunaan titik dan koma).
c. Data yang dianalisis dimasukkan secara berpasangan antara waktu
dengan Cp dengan pemisah satu TAB. WinSAAM working file
disimpan kemudian ditutup.
C. Analisis Data dengan Eksperimental yang Diberikan
1. Terjemahkan listing dalam bahasa binary (decking) dengan
mengetikkan deck pada jendela utama.
2. Pemecahan program (solving) dengan mengetikkan solve pada jendela
utama.
3. Iterasi untuk mendapatkan parameter model fitting yang paling baik
merefleksikan data observasi dengan mengetikkan iter pada jendela
utama.
4. Selanjutkan mengetikkan plot q(1), enter. Dilihat bentuk kurva jika
belum saling berhimpitan itu berarti data kita belum sesuai dengan
prediksi winsaam. Jika kurva sudah berhimpitan, gambar kurva
disimpan, klik file, safe plot as, simpan dalam JPG. Untuk melihat
grafik tidak dalam bentuk grafik semi log dapat dilakukan dengan cara
klik kanan di gambar grafik kemudian pilih tab axe dan klik axis Y
kemudian uncheck pilihan is logaritmic. Setelah selesai data disimpan
pada halaman utama klik file, save, beri nama.

VI. Data Pengamatan dan Perhitungan
a. Data Pengamatan
Obat C dosis 200 mg (peroral)

Time (hr) Cp (mg/L)
0 0.0
0.25 11.858
0.5 17.63
0.75 20.814
1 21.298
1.5 21.071
3 14.872
6 6.88
12 1.501
18 0.321
24 0.068

b. Kurva Plot Q


Keterangan : bentuk kurva adalah prediksi WinSAAM, sedangkan yang
berupa garis adalah data yang dimasukkan.

c. Kurva WinSAAM (non logaritmik)
Kurva farmakologi obat T dosis 100 mg (per oral)

Keterangan : bentuk kurva adalah prediksi WinSAAM, sedangkan yang
berupa garis adalah data yang dimasukkan.

d. WinSAAM Commands Output









Konstanta Eliminasi (Kel) = 2.565305E-01 = 2.5653/Jam
Konstanta Absorpsi (Ka) = 2.230174E+00 = 2.230174/Jam
Volume Distribusi (Vd) = 6.995482 L

e. Grafik QO


VII. Pembahasan
Praktikum kali ini mempelajari modeling dan analisis data biofarmasetika.
Modeling yang digunakan ialah berbasis kompartemen dengan pengkhususan data
in vivo menggunakan software WinSAAM. WinSAAM memiliki unit operasional
yang memungkinkan pengguna untuk membuat sketsa model kompartemen
farmakokinetik secara langsung ke dalam software. Prinsip dari percobaan kali ini
0.00E+00
5.00E+05
1.00E+06
1.50E+06
2.00E+06
2.50E+06
0.00E+00 5.00E+04 1.00E+05 1.50E+05 2.00E+05 2.50E+05 3.00E+05
QO
Prediksi
Eliminasi
adalah komputasi dan WinSAAM. Penggunaan software WinSAAM adalah
sebagai pendekatan modelling berbasis kompartemen untuk analisis
biofarmasetika dan farmakokinetika sehingga proses yang dialami obat di dalam
tubuh dapat dijelaskan berikut dengan mekanismenya. Dalam hal ini percobaan
dilakukan dengan pemberian obat secara per oral yang akan mengalami rangkaian
proses transport yang dapat digambarkan dengan model skema proses antar
kompartemen.
Tubuh manusia dapat diwakili sebagai suatu jaringan yang tersusun secara
sistem seri dari kompartemen-kompartemen yang berhubungan secara reversible
antara organ yang satu dengan yang lainnya. Kompartemen untuk obat per oral
yang diujikan dalam percobaan ini adalah model dua kompartemen yang terdiri
dari kompartemen sentral dan kompartemen perifer. Kompartemen disini
merupakan suatu materi biologis yang memiliki ruangan atau volume tertentu
yaitu saluran gastrointestinal dan plasma.
Parameter-parameter farmakokinetik dalam model kompartemen ini adalah Ka,
menunjukkan kecepatan transfer massa dari kompartemen gastrointestinal menuju
plasma. Kel menunjukkan kecepatan transfer massa dalam proses eliminasi dari
kompartemen plasma menuju urine. Dalam metode konvensional terdapat
persamaan yang terkait dengan model kompartemen obat per oral, tetapi
perhitungan-perhitungan tersebut masih banyak dilakukan secara manual sehingga
memungkinkan terjadinya human error. Oleh karena itu, penggunaan program
ini lebih menguntungkan karena tidak diperlukan penulisan persamaan diferensial
secara utuh karena software akan mengenali model yang ditulis berdasarkan
konvensi tersebut.
Langkah pertama yang dilakukan adalah instalasi software kemudian buka
program WinSAAM, klik edit dan masuk ke dalam WinSAAM working file. Pada
WinSAAM working file, perlu diisikan beberapa data dan angka yang kemudian
akan diolah ke dalam grafik/plot. Pada WinSAAM working file ini dimasukkan
beberapa data parameter seperti ditunjukkan dalam gambar berikut ini :

Gambar 1. WinSAAM Working File

Parameter farmakokinetik IC (Initial Condition) adalah kondisi awal.
Parameter ini mengacu pada initial condition untuk kompartemen 1. Parameter IC
mengacu pada jumlah obat yang tersedia di awal proses transport akan terjadi.
Pada pemberian obat C dengan dosis 200 mg secara per oral maka IC(1)
diasumsikan sebagai dosis obat yang diberikan yaitu 200. Parameter berikutnya
adalah L(2,1). Parameter ini menggambarkan perpindahan obat dari kompartemen
1 menuju kompartemen 2. Cara penulisan notasinya adalah L (diisi nomer
kompartemen yang dituju, kemudian ordinat beasal darimana). Angka yang
dimasukkan ditulis 1, dengan 0 sebagai angka terkecil dan 10 adalah angka
terbesar.
Parameter ketiga adalah L(0,2), menggambarkan perpindahan obat dari
kompartemen 2 ke 0. Parameter ini menunjukkan kecepatan eliminasi obat.
Parameter lain yang perlu dicantumkan adalah parameter P(2) yang menunjukkan
volume distribusi. Dalam setiap parameter tersebut dituliskan dengan 3 angka
yang dipisahkan dengan TAB, angka pertama adalah prediksi awal, angka kedua
adalah nilai minimal dan angka terakhir adalah batasan nilai maksimal.
XG(2) diartikan sebagai fungsi data yang akan dianalisis yaitu data konsentrasi
pada kompartemen dua, karena data konsentrasi pada kompartemen dua dikenali
sebagai bobot bukan konsentrasi. Oleh karena itu, ditambahkan dengan F(2)
dibagi dengan volume distribusi yaitu P(2). F ini merupakan bobot di
kompartemen dua.
Kemudian data waktu dan Cp (konsentrasi plasma) dari obat T dosis 200 mg
per oral dimasukkan ke dalam Ms. Excell yang dicopy dan paste special dalam
WinSAAM working file yang kemudian disimpan dan ditutup. Selajutnya ketik
deck. Deck berfungsi untuk menerjemahkan listing data yang ditulis dalam
bahasa binary decking. Kemudian enter dan ketik solve. Solve adalah proses
untuk menerjemahkan persamaan termasuk persamaan yang dianalisis dimana
persamaan diferensial menjadi persamaan planar termasuk profil kurva prediksi
sesuai dengan angka yang kita masukkan. Kemudian ketik iter lalu enter. Proses
iterasi adalah perhitungan berulang untuk mendapatkan parameter yang paling
baik untuk merefleksikan data.
Selanjutnya ketik plot q(1) dan enter. Plot q(1) berfungsi untuk menampilkan
kurva/grafik perbandingan antara data yang kita masukkan dengan prediksi
WinSAAM. Jika data di dalam grafik belum berhimpit maka kembali ke
WinSAAM working file untuk merubah angka parameter sehingga menghasilkan
kurva yang berhimpit antara prediksi WinSAAM (segitiga) dan data yang
dimasukkan (garis) seperti berikut :

Gambar 2. Kurva WinSAAM
Dari kurva tersebut, bentuk segitiga menunjukkan prediksi WinSAAM dan
garis menujukkan data yang dimasukkan. Berdasarkan kurva yang terbentuk, data
yang dimasukkan dan prediksi WinSAAM membentuk kurva yang saling
berhimpitan antara data dengan prediksi sehingga dapat disimpulkan bahwa
model farmakokinetika yang digunakan telah sesuai.
Setelah didapatkan kurva yang seperti gambar, klik kanan dan pilih tab axe
dan klik axis Y kemudian uncheck pilihan is logaritmic sehingga didapatkan
kurva antara waktu terhadap Cp (konsentrasi plasma seperti gambar di bawah ini :








Gambar 3. Kurva WinSAAM (Non Logaritmik)
Dari kurva tersebut dibuat kembali kurva hubungan waktu dengan QO seperti
gambar di bawah ini :

Gambar 4. Kurva Waktu Terhadap QO

QO merupakan jumlah konsentrasi obat sebenarnya yang ditransport. Dari
kurva waktu terhadap QO tersebut terlihat bahwa data prediksi dengan QO
menunjukkan hasil data yang berhimpitan sehingga artinya kesesuaian pemodelan
farmakokinetik dengan menggunakan software WinSAAM baik dan sesuai
dengan nilai yang sebenarnya. Pada waktu 0 hingga waktu saat QO (konsentrasi
obat yang ditransport) maksimum, terjadi proses absorpsi dimana kecepatannya
0.00E+00
5.00E+05
1.00E+06
1.50E+06
2.00E+06
2.50E+06
0.00E+00 5.00E+04 1.00E+05 1.50E+05 2.00E+05 2.50E+05 3.00E+05
QO
Prediksi
Eliminasi
dinyatakan sebagai Ka. Pada rentang waktu tersebut QO menunjukkan nilai yang
meningkat dan setelah tercapai QO maksimum, nilai QO semakin menurun dan
fase inilah yang menunjukkan fase eliminasi dimana kecepatan eliminasi
dinyatakan dalam Ke/Kel.
Nilai konstanta absorpsi (Ka) yang didapatkan adalah 2.519577E+00 ;
2,5196/Jam. Nilai kecepatan eliminasi (Kel) yaitu laju obat dalam sistem
peredaran darah dieliminasi per satuan waktu adalah 2.978273E-01 ; 2,978/jam.
Volume distribusi, volume yang didapatkan pada saat obat didistribusikan yaitu
4,923 L.

VIII. Kesimpulan
Modeling dan analisis data penelitian biofarmasetika dengan pengkhususan
data in vivo dapat dilakukan dengan menggunakan software WinSAAM.
Berdasarkan modeling dan analisis data dengan software WinSAAM ini diketahui
bahwa obat tersebut termasuk pada model 2 kompartemen dengan Kab, Kel, dan
Vd yang sesuai secara berurutan, yaitu 2.519577E+00 ; 2,5196/Jam, 2.978273E-
01 ; 2,978/jam, 4,923 L.





DAFTAR PUSTAKA
Behrman, et.al,. 2000 . Ilmu kesehatan Anak Nelson. EGC. Jakarta
Habib. 2009. Pengembangan Aplikasi Komputer Dalam Studi Pemodelan
Parameter Farmakokinetik. Available online at
http://habib.ugm.ac.id/files/2009/03/pengembangan-aplikasi-komputer-
dalam-studi-pemodelan-parameter-farmakokinetik.pdf [diakses pada 6
Oktober 2013]
Linares, O. A. 2010. WinSAAM: Software for Pharmacokinetic Modelling.
Electronic Pain Journal, (2010) Vol. 1, No. 1 pp. 112 Simulation, Analysis,
And Modeling For Quantitative Pain Management Url:
Http://Www.Electronicpainjournal.Com Issn: 1072-6691
Shargel, L dkk. 2005. Biofarmasetika Dan Farmakokinetika Terapan. Airlangga
University Press. Surabaya
Stefanovski D, PJ Moate and RC Boston. 2003. WinSAAM: a windows-based
compartmental modeling system. School of Veterinary Medicine, University
of Pennsylvania, PA 19348. USA. 52(9):1153-66.


LAMPIRAN

TUGAS

1. Bandingkan parameter yang diperoleh dengan menggunakan metode
konvensional yang sudah sering digunakan!
2. Jelaskan keuntungan dan kerugian penggunaan WinSAAM dan metode
konvensional tersebut!
3. Jelaskan mengapa terdapat perbedaan estimasi parameter yang diperoleh
dengan metode WinSAAM dan metode konvensional dengan regresi
linear. Metode kalkulasi manakah yang menurut Anda lebih dapat
diandalkan? Jelaskan!

Jawaban
1. Parameter yang diperoleh dengan menggunakan metode WinSAAM
adalah parameter farmakokinetik seperti tetapan kecepatan absorpsi (Kab),
tetapan kecepatan eliminasi (Kel), dan volume distribusi (Vd). Sedangkan
parameter yang dihasilkan dari metode konvensional, yaitu parameter
regresi seperti gradient kemiringan garis, faktor korelasi, dan persamaan
regresi, dan juga parameter farmakokinetik (Kab, Kel, Vd)

2. Keuntungan dan kerugian
Keuntungan WinSAAM, yaitu:
Memprediksikan konsentrasi obat di dalam plasma, jaringan, dan urin;
Mengkalkulasikan dosis optimum obat bagi setiap pasien;
Dukungan yang lebih baik dan fleksibel pada sistem, grafik plotting
serta sistem export ke format file gambar atau langsung ke Word
prosesor
Export data hasil analisis (fitting) ke sistem spreadsheet semacam
Excel sehingga memungkinkan eksplorasi lanjut dengan software
statistic atau software untuk data prossesing
Data hasilnya lebih akurat
Kerugian WinSAAM, yaitu:
Prosedur atau tahapan yang dilakukan harus sesuai dengan petunjuk
WinSAAM, jika input tidak sesuai maka program tidak akan bekerja
Kerugian metode konvensional, yaitu:
Analisis data kurang cepat dan akurat sehingga metode regresi linear
(konvensional) kurang praktis diterapkan
Pada saat mentransformasikan data juga dimungkinkan dapat
mendistorsi error setiap data sehingga secara teoritis tidak dianjurkan

3. Terdapat perbedaan estimasi parameter yang diperoleh dengan metode
WinSAAM dan metode konvensional dengan regresi linear dikarenakan pada
WinSAAM, prinsipnya tidak menggunakan persamaan diferensial, tetapi
WinSAAM mengenal suatu proses perpindahan masa yang mengasumsikan
perpindahan dari satu ke tempat lain yang logis berdasarkan nomer. Jika
dilihat dari cara mengkalkulasikan data, yang lebih akurat dan dapat
diandalkan adalah metode WinSAAM karena jika metode konvensional itu
tingkat kesalahan (human error) lebih tinggi dan kurang efisien.