Anda di halaman 1dari 29

LAPORAN KASUS

GENERAL ANESTESI PADA PASIEN PRE OP KOLESISTEKTOMI ATAS


INDIKASI KOLELITHIASIS
Pembimbing:
dr. Bambang S, Sp.An
dr. Ricka Lesmana, Sp.An
Disusun Oleh :
Rahmat Nauval !"" "#" "$$
%ahmi A&i& Alb'neh !"" "#" "((
)ani Arindra )ima*ati !"" "#" "+$
KEPANITERAAN KLINIK ANESTESIOLOGI RSU PKU MUHAMMADIYAH
SURAKARTA
FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SURAKARTA
2014
A. STATUS PASIEN
I. ANAMNESIS
a. Identita Paien
Anamnesis dilakukan secara aut'anamnesis pada tanggal # uni ,"+$
Nama : N-. .
/mur : !, tahun
enis 0elamin : laki1laki
Agama : 2slam
Alamat : Surakarta
3anggal .asuk : 4 uni ,"+$
3anggal Periksa : # uni ,"+$
N'. 5atatan .edik : ,+!466
Bangsal : 11
!. Ke"#$an Uta%a
Pasien mengeluh n-eri perut kanan atas
&. Ri'a(at Pen(a)it Se)a*an+
Pasien datang ke RS/ P0/ .uhammadi-ah Surakarta pada tanggal 4 uni
,"+$ dengan keluhan mengeluh n-eri perut kanan atas. N-eri perut dirasakan
seperti ditusuk1tusuk 7ta8am9 dan men8alar sampai ke punggung belakang. N-eri
dirasakan sudah kurang lebih + bulang -ang lalu. Pada ( minggu a*al n-eri
dirasakan terus1menerus. Pasien kemudian ber'bat ke mantri dan sempat
sembuh selama kurang lebih + minggu. 0emudian pasien merasakan kambuh
lagi setelah + minggu di'bati. Begitu seterusn-a. Pasien mengaku kurang lebih +
tahun -ang sudah pernah merasakan rasa n-eri -ang sama selama ( hari dan
kemudian tidak kambuh lagi, sampai sekarang ini baru kambuh. Pasien 8uga
mengaku aktivitas sehari1hari selalu men8aga p'la makan dan 8uga tidak pernah
minum1minuman bers'da atau minuman -ang berlabel menguatkan dan
men-egarkan tubuh. Pasien lebih suka minum air putih -ang direbus sendiri dan
makanan rumah. .ual 719, muntah 719, pusing 719, sesak 719, pegel1pegel 719, BAB
7:9, BA0 7:9.

d. Ri'a(at Pen(a)it Da$#"#
Ri*a-at hipertensi : disangkal
Ri*a-at sakit 8antung : disangkal
Ri*a-at sakit gula : disangkal
Ri*a-at asma : disangkal
Ri*a-at batuk lama : disangkal
Ri*a-at alergi 'bat : disangkal
e. Ri'a(at Ke"#a*+a
Ri*a-at Pen-akit serupa : Disangkal
Ri*a-at sakit 8antung : disangkal
Ri*a-at sakit gula : disangkal
Ri*a-at asma :disangkal
Ri*a-at hipertensi : disangkal
,. Ri'a(at S-ia" E)-n-%i
Pasien adalah se'rang buruh bangunan dengan k'ndisi ek'n'mi
menengah ke ba*ah.
II. PEMERIKSAAN FISIK
a. 0eadaan /mum : 0eadaan umum baik
Dera8at 0esadaran: ;5S <$ =! .> 75'mp's .entis9
3inggi Badan : +>! cm
Berat Badan : !" kg
Status ;i?i : gi?i kesan baik
b. Status ;eneralis
=ital Sign
3ekanan Darah : +$"@#" mm)g
Suhu 7 per A6illar9 : (>,!
A
5
Nadi : >B 6@menit
Respirasi : +46@menit
c. 0ulit : dbn
d. 0epala : n'rm'cephal, 8e8as 7:9
e. .ata : dbn
&. 3elinga : dbn
g. )idung : dbn
h. .ulut : dbn
i. Leher : P0;B 71@19, =P 71@19, tir'id dbn
8. 3h'raks :
.ant#n+/
2nspeksi : ictus c'rdis tidak tampak
Palpasi : ictus c'rdis tidak kuat angkat
Perkusi : batas 8antung kesan tidak melebar
Auskultasi : bun-i 8antung 2122 intensitas n'rmal, regular,
bising 8antung 719
Pa*# :
2nspeksi : Pengembangan dada kanan C kiri
Palpasi : %remitus raba kanan C kiri
Perkusi : S'n'r@s'n'r
Auskultasi : suara dasar vesicular 7:@:9, suara tambahan
71@19
k. Punggung : n-eri ket'k vertebrae 71@19
l. Abd'men : inspeksi : sikatrik 719, stria719, darm c'unt'ur719, vulnus 719
Aukultasi : peristaltik 7:9 n'rmal, metalik s'und 719
Palpasi : distensi 719, n-eri tekan 719 regi' hi'c'ndriaca de6tra.
Perkusi : t-mpani 7:9 n'rmal.
m. <6tremitas : superi'r akral hangat 71@19, in&eri'r akral hangat 71@19
n. Status Psikiatri
<m'si : Stabil
A&eksi : dbn
Pr'ses ber&ikir : k'heren
0ecerdasan : dbn
'. Status Neur'l'gis
0esadaran : ;5S <$=!.>
%ungsi luhur : dbn
%ungsi vegetati& : dbn
%ungsi sens'rik : <kstremitas 7N9
%ungsi .'t'rik dan re&lek :
i. 0ekuatan : 7N9
ii. 3'nus : 7N9
iii. Re&lek &isi'l'gis : 7:,9
Re&lek pat'l'gis : 719
Nervi craniales : 21D22 dbn
<kstremitas:
Superi'r de6tra : tidak ada kelainan
Superi'r sinistra : tidak ada kelainan
2n&eri'r de6tra : tidak ada kelainan
2n&eri'r sinistra : tidak ada kelainan
III. DIAGNOSIS KER.A
S#0t K-"e"it$iai
IV. PEMERIKSAAN PENUN.ANG
3anggal ,+ .ei ,"+$
a. )emat'l'gi
)b : +(,! gr@dl
)ct : (#,> E
<ritr'sit : $,B!
AL : +".B""@FL
A3 : (BB."""@mm(
.asa Perdarahan : , menit
.asa Pembekuan : $menit
;'l'ngan darah : B, Rh p'siti&
b. 0imia darah
S;O3 :,$
S;P3 : +!
/reum :,!,,
0reatinin : ",4
;ula darah se*aktu :+"",#
V.DIAGNOSIS
0'lelithiasis
VI. PLANNING OPERASI
0OL<S2S3<03O.2
VII. TINDAKAN ANESTESI
a. 0eadaan pra anestesi : 5'mp's mentis
b. enis 'perasi : terencana
c. Berat badan : !" kg
d. <0; : Sinus
e. AL : +".B""
&. )t : $"
g. ;'l'ngan darah : B, rhesus p'siti&
h. ASA : 22
i. NPO : G > 8am
8. Premedikasi : 'ndancentr'n $ mg : ket'r'lac ( mg i.v
k. Diagn'sis pre 'perati& : 0'lelithiasis
l. Diagn'sis p'st 'perati& : k'lesistekt'mi@ k'lelithiasis
m. .acam Operasi : 0'lesistekt'mi
n. 3anggal 'perasi : # uni ,"+$
'. P'sisi : supine
p. enis anestesi : general anastesi
H. 3eknik anestesi : induksi anastesi 7melalui intravena9
r. 2nduksi : %entan-l:r'cule6:pr'p'&'l
s. .aintenance : O,
t. Alur anestesi
1. Pe*ia0an anetei
,. Ana%nei : nama, umur, keluhan, ri*a-at pen-akit, Ri*a-at
tentang apakah pasien pernah mendapat anestesi sebelumn-a
sangatlah penting untuk mengetahui apakah ada hal1hal -ang perlu
mendapat perhatian khusus misaln-a alergi, mual1muntah, n-eri
't't, gatal1gatal, atau sesak napas pasca bedah sehingga dapat
dirancang anestesi berikutn-a dengan baik.
(. Pe*ia0an 0aien / pemasangan m'nit'r vital sign dan saturasi
P5O, dan gantungkan in&use RL.
$. Pe*ia0an a"at / mesin anestesi, pipa end'trakeal, sistem magiil,
sungkup.
!. Pe*ia0an -!at 0*a anatei / 'ndancentr'n $ mg, ket'r'la6 ("
mg 7premedikasi9, r'cula6 7+" ml9, &entan-l +"" ml, pr'p'&'l
7induksi9. .elalui intravena.
>. Pe*ia0an -!at anetei aat -0e*ai / tambahan r'cula6 7! ml9,
persiapan &entan-l !"" unit drip NS.
B. Pada aat anetei / pasang sungkup dan salurkan sungkup ke
mesin anestesi. Sebelumn-a di induksi melalui intravena r'cula6,
&entan-l, pr'p'&'l. Saat pasien sudah mulai tertidur pasang pipa
end'trakeal dan sambungkan dengan mesin anestesi. 0emudian
pasien diberikan 'ndancentr'n dan ket'r'lak sebagai anti mual dan
analgetik. 0emudian selang +! menit pasien tambahkan r'cula6
dan &entan-l 7secara drip !"" u NS9. Pantau selalu tanda vital dan
saturasi 'ksigen sampai 'perasi selesei dan pasien mengalami
reaminasi.
1. Ta!e" Pe%!e*ian O!at Se"a%a O0e*ai
.enit ke Obat 5ara pemberian D'sis
" Ondansentr'n i.v $ mg
" ket'r'lac i.v ( mg
2. Ta!e" Pe%!e*ian 1ai*an Se"a%a O0e*ai
.enit ke enis cairan
" RL
$! RL
2. Ta!e" Teni dan Nadi
.enit ke 3ensi Nadi
+" +$"@#" #4
+! +$"@#" +""
," +$"@B#" +""
,! +,!@4" #,
(" +(>@4" #"
(! +($@4" #!
$" +,!@B# +",
$! +,B@4" #"
!" +"!@>" 4#
VIII. PAS1A ANESTESI
Pasien dira*at di RR p'sisi supine. Oksigen ,L@menit.
respirasi@nadi@tensi dia*asi tiap +" menit
Bila muntah diberikan Ondancentr'n 4mg. Bila kesakitan diberikan
ket'r'lac i.v
5airan untuk ,$ 8am pertama :
+. RL
,. RL
(. RD
$. RL
3etesan ,4 tetes@ menit
Sesudah sadar pasien dira*at di bangsal
.'nit'ring pasca anestesi
.enit ke 3ensi Nadi
" +$"@4" #!
+" +$"@4" #!
," +$"@4" #!
(" +$"@4" #!
$" +$"@4" #!
!" +$"@4" #!
>" +$"@4" #!
B" +$"@4" #!
PEM3AHASAN
1$-"e"it$iai
a. De,inii
Batu empedu merupakan gabungan dari beberapa unsur -ang membentuk suatu
material mirip batu -ang dapat ditemukan dalam kandung empedu 7k'lesist'litiasis9
atau di dalam saluran empedu 7k'led'k'litiasis9 atau pada kedua1duan-a
+"
;ambar #. ;ambaran batu dalam kandung empedu 7<medicine, ,""B9
!.E0ide%i-"-+i
2nsiden k'lelitiasis di negara barat adalah ,"E sedangka angka ke8adian di
2nd'nesia tidak berbeda 8auh dengan negara lain di Asia 3enggara 7s-amsuhida-at9.
Peningkatan insiden batu empedu dapat dilihat dalam kel'mp'k resik' tinggi -ang
disebut I! %sI : &emale 7*anita9, &ertile 7subur91khususn-a selama kehamilan, &at
7gemuk9, &air, dan &'rt- 7empat puluh tahun9
B
.
0'lelitiasis dapat ter8adi dengan atau tanpa &akt'r resik'. Namun, semakin
ban-ak &akt'r resik', semakin besar pula kemungkinan untuk ter8adin-a k'lelitiasis
++,+,
%akt'r resik' tersebut antara lain:
+. Geneti)
Batu empedu memperlihatkan variasi genetik. 0ecenderungan membentuk batu
empedu bisa ber8alan dalam keluarga
+"
. Di negara Barat pen-akit ini sering di8umpai, di
/SA +"1," E laki1laki de*asa menderita batu kandung empedu. Batu empedu lebih
sering ditemukaan pada 'rang kulit putih dibandingkan kulit hitam. Batu empedu 8uga
sering ditemukan di negara lain selain /SA, 5hili dan S*edia.
2. U%#*
/sia rata1rata tersering ter8adin-a batu empedu adalah $"1!" tahun. Sangat sedikit
penderita batu empedu -ang di8umpai pada usia rema8a, setelah itu dengan semakin
bertambahn-a usia semakin besar kemungkinan untuk mendapatkan batu empedu,
sehingga pada usia #" tahun kemungkinann-a adalah satu dari tiga 'rang
+"
.
2. .eni Ke"a%in
Batu empedu lebih sering ter8adi pada *anita dari pada laki1laki dengan
perbandingan $ : +. Di /SA +"1 ," E laki1laki de*asa menderita batu kandung empedu,
sementara di 2talia ," E *anita dan +$ E laki1laki. Sementara di 2nd'nesia 8umlah
penderita *anita lebih ban-ak dari pada laki1laki
+(
4. 3e!e*a0a ,a)t-* "ain
%akt'r lain -ang meningkatkan resik' ter8adin-a batu empedu antara lain:
'besitas, makanan, ri*a-at keluarga, akti&itas &isik, dan nutrisi 8angka vena -ang lama.
&. Pat-+enei
Batu empedu hampir selalu dibentuk dalam kandung empedu dan 8arang pada
saluran empedu lainn-a dan diklasi&ikasikan berdasarkan bahan pembentukn-a. <ti'l'gi
batu empedu masih belum diketahui dengan sempurna, akan tetapi, &akt'r predisp'sisi
-ang paling penting tampakn-a adalah gangguan metab'lisme -ang disebabkan 'leh
perubahan susunan empedu, stasis empedu dan in&eksi kandung empedu. Perubahan
susunan empedu mungkin merupakan -ang paling penting pada pembentukan batu
empedu, karena ter8adi pengendapan k'lester'l dalam kandung empedu. Stasis empedu
dalam kandung empedu dapat meningkatkan supersaturasi pr'gesi&, perubahan susunan
kimia, dan pengendapan unsur tersebut. 2n&eksi bakteri dalam saluran empedu dapat
berperan sebagian dalam pembentukan batu, melalui peningkatan dan deskuamasi sel
dan pembentukan mukus
+$
.
Sekresi k'lester'l berhubungan dengan pembentukan batu empedu. Pada k'ndisi
-ang abn'rmal, k'lester'l dapat mengendap, men-ebabkan pembentukan batu empedu.
Berbagai k'ndisi -ang dapat men-ebabkan pengendapan k'lester'l adalah : terlalu
ban-ak abs'rbsi air dari empedu, terlalu ban-ak abs'rbsi garam1garam empedu dan lesitin
dari empedu, terlalu ban-ak sekresi k'lester'l dalam empedu, umlah k'lester'l dalam
empedu sebagian ditentukan 'leh 8umlah lemak -ang dimakan karena sel1sel hepatik
mensintesis k'lester'l sebagai salah satu pr'duk metab'lisme lemak dalam tubuh. /ntuk
alasan inilah, 'rang -ang mendapat diet tinggi lemak dalam *aktu beberapa tahun, akan
mudah mengalami perkembangan batu empedu
+!
.
Batu kandung empedu dapat berpindah kedalam duktus k'led'kus melalui
duktus sistikus. Didalam per8alanann-a melalui duktus sistikus, batu tersebut dapat
menimbulkan sumbatan aliran empedu secara parsial atau k'mplet sehingga
menimbulkan ge8alah k'lik empedu. 0alau batu terhenti di dalam duktus sistikus karena
diametern-a terlalu besar atau tertahan 'leh striktur, batu akan tetap berada disana
sebagai batu duktus sistikus.
d. Penata"a)anaan
K-ne*4ati,
a9. Lisis batu dengan 'bat1'batan
Sebagian besar pasien dengan batu empedu asimt'matik tidak akan mengalami
keluhan dan 8umlah, besar, dan k'mp'sisi batu tidak berhubungan dengan timbuln-a
keluhan selama pemantauan. 0alaupun nanti timbul keluhan umumn-a ringan sehingga
penanganan dapat elekti&. 3erapi dis'lusi dengan asam urs'de'ksilat untuk melarutkan
batu empedu k'lester'l dibutuhkan *aktu pemberian 'bat >1+, bulan dan diperlukan
m'nit'ring hingga dicapai dis'lusi. 3erapi e&ekti& pada ukuran batu kecil dari + cm
dengan angka kekambuhan !" E dalam ! tahun
+4
.
b9. Dis'lusi k'ntak
.et'de ini didasarkan pada prinsip P35 dan instilasi langsung pelarut k'lester'l
ke kandung empedu. Pr'sedur ini invasi& dan kerugian utaman-a adalah angka
kekambuhan -ang tinggi.
c9. Lit'tripsi 7<6tarc'rv'ral Sh'ck Jave Lith'trips- C<SJL9
Lit'tripsi gel'mbang elektr's-'k meskipun sangat p'puler beberapa tahun -ang
lalu, analisis bia-a1man&aat pada saat ini han-a terbatas untuk pasien -ang benar1benar
telah dipertimbangkan untuk men8alani terapi ini. <&ekti&itas <SJL memerlukan terapi
ad8uvant asam urs'de'ksilat.
e. Penan+anan -0e*ati,
0e*ia0an 0*a-0e*ati, /
Pe*ia0an Anetei
1. Peni"aian dan 0e*ia0an 0*a5anetei
Persiapan pra1bedah -ang kurang memadai merupakan &akt'r ter8adin-a
kecelakaan dalam anestesi. Sebelum pasien dibedah sebaikn-a dilakukan
kun8ungan pasien terlebih dahulu sehingga pada *aktu pasien dibedah pasien
dalam keadaan bugar. 3u8uan dari kun8ungan tersebut adalah untuk mengurangi
angka kesakitan 'perasi, mengurangi bia-a 'perasi, dan meningkatkan kualitas
pela-anan kesehatan.
a. Peni"aian 0*a5!eda$
+9 Anamnesis
Ri*a-at tentang apakah pasien pernah mendapat anestesi
sebelumn-a sangatlah penting untuk mengetahui apakah ada hal1hal -ang
perlu mendapat perhatian khusus misaln-a alergi, mual1muntah, n-eri
't't, gatal1gatal, atau sesak napas pasca bedah sehingga dapat dirancang
anestesi berikutn-a dengan baik. Beberapa peneliti mengan8urkan 'bat
-ang dapat menimbulkan masalah di masa lalu sebaikn-a 8angan
digunakan ulang misaln-a hal'tan 8angan digunakan ulang dalam *aktu
( bulan atau suksinilk'lin -ang menimbulkan apnea berkepan8angan 8uga
8angan diulang. 0ebiasaan mer'k'k sebaikn-a dihentikan +1, hari
sebelumn-a.
,9 Pemeriksaan &isik
Pemeriksaan gigi1geligi, tindakan buka mulut, atau lidah relati&
besar sangat penting untuk diketahui apakah akan men-ulitkan tindakan
laring'sk'pi intubasi. Leher pendek dan kaku 8uga akan men-ulitkan
laring'sk'pi intubasi.
Pemeriksaan rutin secara sistemik tentang keadaan umum tentu
tidak b'leh dile*atkan seperti inspeksi, palpasi, perkusi, dan auskultasi
semua sistem 'rgan tubuh pasien.
(9 Pemeriksaan lab'rat'rium
/8i lab'rat'rium dilakukan atas indikasi -ang tepat sesuai dengan
dugaan pen-akit. Pemeriksaan -ang dilakukan meliputi pemeriksaan
darah 7)b, leuk'sit, masa perdarahan, dan masa pembekuan9 dan
urinalisis. Pada usia pasien di atas !" tahun ada an8uran pemeriksaan
<0; dan &'t' th'raks.
$9 0ebugaran untuk anestesi
Pembedahan elekti& b'leh ditunda tanpa batas *aktu untuk
men-iapkan agar pasien dalam keadaan bugar. Sebalikn-a pada 'perasi
sit', penundaan -ang tidak perlu harus dihindari.
0lasi&ikasi -ang la?im digunakan untuk menilai kebugaran &isik
sese'rang adalah -ang berasal dari The American Society of
Anesthesiologists (ASA). 0lasi&ikasi &isik ini bukan alat perkiraan risik'
anestesi karena e&ek samping anestesi tidak dapat dipisahkan dari e&ek
samping pembedahan.
0elas 2 : Pasien sehat 'rganik, &isi'l'gik, psikiatrik, bi'kimia.
0elas 22 : Pasien dengan pen-akit sistemik ringan atau sedang.
0elas 222 : Pasien dengan pen-akit sistemik berat sehingga aktivitas
rutin terbatas.
0elas 2= : Pasien dengan pen-akit sistemik berat tidak dapat
melakukan aktivitas rutin dan pen-akitn-a merupakan ancaman
kehidupann-a setiap saat.
0elas = : Pasien sekarat -ang diperkirakan dengan atau tanpa
pembedahan hidupn-a tidak akan lebih dari ,$ 8am.
!9 .asukan 'ral
Re&leks laring mengalami penurunan selama anestesi. Regurgitasi
isi lambung dan k't'ran -ang terdapat dalam 8alan napas merupakan
risik' utama pada pasien -ang men8alani anestesi. /ntuk meminimalkan
risik' tersebut, semua pasien -ang di8ad*alkan untuk 'perasi elekti&
dengan anestesi harus dipantangkan dari masukan 'ral 7puasa9 selama
peri'de tertentu sebelum induksi anestesi.
Pada pasien de*asa umumn-a puasa >14 8am, anak kecil $1> 8am,
dan pada ba-i (1$ 8am. .akanan tidak berlemak diperb'lehkan ! 8am
sebelum induksi anestesi. .inuman air putih, teh manis sampai ( 8am,
dan untuk keperluan minum 'bat air putih dalam 8umlah terbatas b'leh +
8am sebelum induksi anestesi.
!. P*e%edi)ai
Sebelum pasien diberi 'bat anestesi, langkah selan8utn-a adalah
dilakukan 0*e%edi)ai -aitu pemberian 'bat sebelum induksi anestesi diberi
dengan tu8uan untuk melancarkan induksi, rumatan, dan bangun dari anestesi
di antaran-a:
+9 .enimbulkan rasa n-aman bagi pasien
a9 .enghilangkan rasa kha*atir melalui:
0un8ungan pre1anestesi.
Pengertian masalah -ang dihadapi.
0e-akinan akan keberhasilan 'perasi.
b9 .emberikan ketenangan 7sedati&9.
c9 .embuat amnesia.
d9 .engurangi rasa sakit 7analgesik n'n1nark'tik atau nark'tik9.
e9 .encegah mual dan muntah.
,9 .emudahkan atau memperlancar induksi
Pemberian hipn'tik sedati& atau nark'tik.
(9 .engurangi 8umlah 'bat1'bat anestesi
Pemberian hipn'tik sedati& atau nark'tik.
$9 .enekan re&leks1re&leks -ang tidak diinginkan 7muntah atau liur9
!9 .engurangi sekresi kelen8ar saliva dan lambung
Pemberian antik'linergik atr'pin, primperan, rantin, atau ), antag'nis.
Pemberian 'bat secara subkutan tidak akan e&ekti& dalam + 8am,
secara intramuskuler minimum harus ditunggu $" menit. Pada kasus -ang
sangat darurat dengan *aktu tindakan pembedahan -ang tidak pasti 'bat1
'bat dapat diberikan secara intravena. Obat akan sangat e&ekti& sebelum
induksi. ika pembedahan belum dimulai dalam *aktu + 8am dian8urkan
pemberian premedikasi intramuskuler, subkutan tidak dian8urkan. Semua
'bat premedikasi 8ika diberikan secara intravena dapat men-ebabkan sedikit
hip'tensi kecuali atr'pin dan hi'sin. )al ini dapat dikurangi dengan
pemberian secara perlahan1lahan dan diencerkan.
Obat1'bat -ang sering digunakan:
16 Ana"+ei) na*)-ti)
a9 Petidin 7amp ,cc C +"" mg9, d'sis +1, mg@kgBB
b9 .'r&in 7amp ,cc C +" mg9, d'sis ",+ mg@kgBB
c9 %entan-l 7&l +"cc C !"" mg9, d'sis +1(Kgr@kgBB
26 Ana"+ei) n-n na*)-ti)
a9 P'nstan
b9 3ram'l
c9 3'rad'n
26 Hi0n-ti)
a9 0etamin 7&l +"cc C +"" mg9, d'sis +1, mg@kgBB
b9 Pent'tal 7amp +cc C +""" mg9, d'sis $1> mg@kgBB
46 Sedati,
a9 Dia?epam@valium@stes'lid 7amp ,cc C +"mg9, d'sis ",+ mg@kgBB
b9 .ida?'lam@d'rmicum 7amp !cc@(cc C +! mg9, d'sis ",+mg@kgBB
c9 Pr'p'&'l@rec'&'l@diprivan 7amp ,"cc C ,"" mg9, d'sis ,,! mg@kgBB
d9 Deh-dr'ben?perid'n@DBP 7amp ,cc C ! mg9, d'sis ",+ mg@kgBB
76 Anti5e%eti)
a9 Sul&as atr'pin 7antik'linergik9 7amp +cc C ",,! mg9, d'sis ",""+
mg@kgBB
b9 DBP
c9 Nar&'?, rantin, primperan
2. Ind#)i anetei
.erupakan tindakan untuk membuat pasien dari sadar men8adi tidak
sadar sehingga memungkinkan dimulain-a anestesi dan pembedahan. 2nduksi
dapat diker8akan secara intravena, inhalasi, intramuskuler, atau rektal. Setelah
pasien tidur akibat induksi anestesi langsung dilan8utkan dengan pemeliharaan
anestesi sampai tindakan pembedahan selesai.
/ntuk persiapan induksi anestesi diperlukan STATICS:
S: Scope Stet'sk'p untuk mendengarkan suara paru dan 8antung.
Laring'sk'p pilih bilah atau daun 7blade9 -ang sesuai dengan
usia pasien. Lampu harus cukup terang.
T: Tube Pipa trakea pilih sesuai usia. /sia L ! tahun tanpa bal'n
7cuffed9 dan G ! tahun dengan bal'n 7cuffed9.
A: Airway Pipa mulut &aring 7guedel, oro-tracheal airway9 atau pipa
hidung1&aring 7naso-tracheal airway9. Pipa ini untuk menahan
lidah saat pasien tidak sadar untuk men8aga supa-a lidah tidak
men-umbat 8alan napas.
T: Tape Plester untuk &iksasi pipa supa-a tidak terd'r'ng atau tercabut.
I: Introducer .andrin atau stilet dari ka*at dibungkus plastik 7kabel9
-ang mudah dibengk'kan untuk pemandu supa-a pipa
trakea mudah dimasukkan.
1 : Connector Pen-ambung antara pipa dan peralatan anestesi.
S : Suction pen-ed't lendir, ludah, dan lain1lainn-a.
Ma&a%5%a&a% ind#)i 0ada anetei #%#% (ait#/
a. 2nduksi intravena
o Paling ban-ak diker8akan. 2ndikasi intravena diker8akan dengan hati1hati,
perlahan1lahan, lembut, dan terkendali. Obat induksi b'lus disuntikan
dalam kecepatan antara ("1>" detik. Selama induksi anestesi, pernapasan
pasien, nadi, dan tekanan darah harus dia*asi dan selalu diberikan
'ksigen. Diker8akan pada pasien -ang k''perati&.
o Obat1'bat induksi intravena:
Ti-0enta" 80ent-ta"9 ti-0ent-n9 amp !"" mg atau +""" mg
Sebelum digunakan dilarutkan dalam akuades steril sampai
kepekatan ,,!E 7+ ml C ,! mg9. )an-a digunakan untuk intravena
dengan d'sis (1B mg@kg disuntikan perlahan1lahan dihabiskan dalam
("1>" detik. Bergantung d'sis dan kecepatan suntikan ti'pental akan
men-ebabkan pasien berada dalam keadaan sedasi, hipn'sis, anestesi,
atau depresi napas. 3i'pental menurunkan aliran darah 'tak, tekanan
liku'r, tekanan intrakranial, dan diduga dapat melindungi 'tak akibat
kekurangan O
,
. D'sis rendah bersi&at anti1analgesik.
P*-0-,-" 8di0*i4an9 *e&-,-"6
Dikemas dalam cairan emulsi lemak ber*arna putih susu bersi&at
is't'nik dengan kepekatan +E 7+ ml C +" mg9. Suntikan intravena
sering men-ebabkan n-eri sehingga beberapa detik sebelumn-a dapat
diberikan lid'kain +1, mg@kg intravena. D'sis b'lus untuk induksi ,1
,,! mg@kg, d'sis rumatan untuk anestesi intravena t'tal $1+,
mg@kg@8am, dan d'sis sedasi untuk pera*atan intensi& "., mg@kg.
Pengenceran han-a b'leh dengan dekstr'sa !E. 3idak dian8urkan
untuk anak L ( tahun dan pada *anita hamil.
Keta%in 8)eta"a*6
0urang digemari karena sering menimbulkan takikardi, hipertensi,
hipersalivasi, n-eri kepala, serta pasca anestesi dapat timbul mual1
muntah, pandangan kabur, dan mimpi buruk. Sebelum pemberian
sebaikn-a diberikan sedasi mida?'lam 7d'rmikum9 atau dia?epam
7valium9 dengan d'sis ",+ mg@kg intravena dan untuk mengurangi
salivasi diberikan sul&as atr'pin ","+ mg@kg. D'sis b'lus +1, mg@kg
dan untuk intramuskuler (1+" mg. 0etamin dikemas dalam cairan
bening kepekatan +E 7+ ml C +" mg9, !E 7+ ml C !" mg9, +"E 7+ ml
C +"" mg9.
O0i-id 8%-*,in9 0etidin9 ,entan("9 #,entan("6
Diberikan d'sis tinggi. 3idak menggaggu kardi'vaskuler sehingga
ban-ak digunakan untuk induksi pasien dengan kelainan 8antung.
/ntuk anestesi 'pi'id digunakan &entan-l d'sis ,"1!" mg@kg
dilan8utkan d'sis rumatan ",(1+ mg@kg@menit.
b. 2nduksi intramuskuler
Sampai sekarang han-a ketamin 7ketalar9 -ang dapat diberikan secara
intramuskuler dengan d'sis !1B mg@kgBB dan setelah (1! menit pasien tidur.
c. 2nduksi inhalasi
o N
2
O 7gas gelak, laughing gas, nitr'us '6ide, dinitr'gen m'n'ksida9
Berbentuk gas, tidak ber*arna, bau manis, tidak iritasi, tidak terbakar,
dan beratn-a +,! kali berat udara. Pemberian harus disertai O
,
minimal
,!E. Bersi&at anastetik lemah dan analgesi kuat sehingga sering
digunakan untuk mengurangi n-eri men8elang persalinan. Pada anestesi
inhalasi 8arang digunakan tunggal, sering dik'mbinasi dengan salah satu
cairan anastetik lain seperti hal'tan.
o Ha"-tan 8,"#-tan6
Sebagai induksi 8uga untuk laring'sk'p intubasi, asalkan anestesin-a
cukup dalam, stabil, dan sebelum tindakan diberikan analgesik sempr't
lid'kain $E atau +"E sekitar &aring1laring. 0elebihan d'sis dapat
men-ebabkan depresi napas, menurunn-a t'nus simpatis, ter8adi
hip'tensi, bradikardi, vas'dilatasi peri&er, depresi vas'm't'r, depresi
mi'kard, dan inhibisi re&leks bar'resept'r. .erupakan analgesik lemah
tetapi anestesi kuat. )al'tan menghambat pelepasan insulin sehingga
mininggikan kadar gula darah.
o En,"#*an 8et*an9 a"i*an6
<&ek depresi napas lebih kuat dibanding hal'tan dan en&luran lebih
iritati& disbanding hal'tan. Depresi sirkulasi lebih kuat dibanding hal'tan
tetapi lebih 8arang menimbulkan aritmia. <&ek relaksasi terhadap 't't
lurik lebih baik dibanding hal'tan.
o I-,"#*an 8,-*an9 ae*an6
.eninggikan aliran darah 'tak dan tekanan intrakranial. Peninggian
aliran darah 'tak dan tekanan intrakranial dapat dikurangi dengan teknik
anestesi hiperventilasi sehingga is'&luran ban-ak digunakan untuk bedah
'tak. <&ek terhadap depresi 8antung dan curah 8antung minimal sehingga
digemari untuk anestesi teknik hip'tensi dan ban-ak digunakan pada
pasien dengan gangguan k'r'ner.
o De,"#*an 8#0*ane6
Sangat mudah menguap. P'tensin-a rendah 7.A5 >."E9 bersi&at
simpat'mimetik men-ebabkan takikardi dan hipertensi. <&ek depresi
napas seperti is'&luran dan etran. .erangsang 8alan napas atas sehingga
tidak digunakan untuk induksi anestesi.
o Se4-,"#*an 8#"tane6
2nduksi dan pulih dari anestesi lebih cepat dibandingkan is'&luran.
Baun-a tidak men-engat dan tidak merangsang 8alan napas sehingga
digemari untuk induksi anestesi inhalasi di samping hal'tan.
d. 2nduksi per rektal
5ara ini han-a untuk anak atau ba-i menggunakan ti'pental atau mida?'lam.
e. 2nduksi mencuri
Dilakukan pada anak atau ba-i -ang sedang tidur. 2nduksi inhalasi biasa
han-a sungkup muka tidak kita tempelkan pada muka pasien tetapi kita
berikan 8arak beberapa sentimeter sampai pasien tertidur baru sungkup muka
kita tempelkan.
&. Pelumpuh 't't n'n1dep'larisasi 3racurium ," mg 7Atracurium9
o Berikatan dengan resept'r nik'tinik1k'linergik tetapi tidak men-ebabkan
dep'larisasi han-a menghalangi asetilk'lin menempatin-a sehingga
asetilk'lin tidak dapat beker8a.
o D'sis a*al ",!1",> mg@kgBB, d'sis rumatan ",+ mg@kgBB, durasi selama
,"1$! menit, kecepatan e&ek ker8an-a , menit.
o 3anda1tanda kekurangan pelumpuh 't't:
5egukan 7hiccup9
Dinding perut kaku
Ada tahanan pada in&lasi paru
2. R#%atan anetei 8maintenance6
Dapat diker8akan secara intravena 7anestesi intravena t'tal9, dengan
inhalasi, atau dengan campuran intravena inhalasi. Rumatan anestesi mengacu
pada trias anestesi -aitu tidur ringan 7hipn'sis9 sekedar tidak sadar, analgesik
cukup, diusahakan agar pasien selama dibedah tidak menimbulkan n-eri, dan
relaksasi 't't lurik -ang cukup.
Rumatan intravena biasan-a menggunakan 'pi'id d'sis tinggi, &entan-l
+"1!" Kg@kgBB. D'sis tinggi 'pi'id men-ebabkan pasien tidur dengan analgesik
cukup sehingga tinggal memberikan relaksasi pelumpuh 't't. Rumatan intravena
dapat 8uga menggunakan 'pi'id d'sis biasa tetapi pasien ditidurkan dengan
in&us pr'p'&'l $1+, mg@kgBB@8am. Bedah lama dengan anestesi t'tal intravena,
pelumpuh 't't, dan ventilat'r. /ntuk mengembangkan paru digunakan inhalasi
dengan udara : O
,
atau N
,
O : O
,.
Rumatan inhalasi biasan-a menggunakan campuran N
,
O dan O
,
dengan
perbandingan (:+ ditambah hal'tan ",!1, v'lE atau en&luran ,1$E atau
is'&luran ,1$ v'lE atau sev'&luran ,1$E bergantung apakah pasien bernapas
sp'ntan, dibantu, atau dikendalikan.
4. Tata"a)ana :a"an na0a
)ubungan 8alan napas dan dunia luar melalui , 8alan:
o )idung menu8u nas'&aring
o .ulut menu8u 'r'&aring
)idung dan mulut dibagian depan dipisahkan 'leh palatum durum dan
palatum m'lle dan dibagian belakang bersatu di hip'&aring. )ip'&aring
menu8u es'&agus dan laring dipisahkan 'leh epigl'tis menu8u ke trakea.
Laring terdiri dari tulang ra*an tir'id, krik'id, epigl'ttis, dan sepasang
ariten'id, k'rnikulata, dan kunei&'rm.
a. .anuver tripel 8alan napas
3erdiri dari:
+9 0epala ekstensi pada sendi atlant'1'ksipital
,9 .andibula did'r'ng ke depan pada kedua angulus mandibula
(9 .ulut dibuka
Dengan maneuver ini diharapkan lidah terangkat dan 8alan napas bebas
sehingga gas atau udara lancer masuk ke trakea le*at hidung atau mulut.
b. alan napas &aring
ika maneuver tripel kurang berhasil maka dapat dipasang 8alan napas mulut1
&aring le*at mulut 7oro-pharyngeal airway9 atau 8alan napas le*at hidung
7naso-pharyngeal airway9.
c. Sungkup muka
.engantar udara atau gas anestesi dari alat resusitasi atau sistem anestesi ke
8alan napas pasien. Bentukn-a dibuat sedemikian rupa sehingga ketika
digunakan untuk bernapas sp'ntan atau dengan tekanan p'siti& tidak b'c'r
dan gas masuk semua ke trakea le*at mulut atau hidung.
d. Sungkup laring 7laryngeal mask9
.erupakan alat 8alan napas berbentuk send'k terdiri dari pipa besar
berlubang dengan u8ung men-erupai send'k -ang pinggirn-a dapat
dikembang1kempiskan seperti bal'n pada pipa trakea. 3angkain-a dapat
berupa pipa kerasdari p'livinil atau lembek dengan spiral untuk men8aga
supa-a tetap paten.
Dikenal , macam sungkup laring:
+9 Sungkup laring standar dengan + pipa napas.
,9 Sungkup laring dengan, pipa -aitu + pipa napas standar dan lainn-a pipa
tambahan -ang u8ung distaln-a berhubungan dengan es'&agus.
e. Pipa trakea 7endotracheal tube9
.engantar gas anestesi langsung ke dalam trakea dan biasan-a dibuat dari
bahan standar p'livinil1kl'rida. Pipa trakea dapat dimasukan melalui mulut
7orotracheal tube9 atau melalui hidung 7nasotracheal tube9.
&. Laring'sk'pi
%ungsi laring ialah mencegah benda asing masuk paru. Laring'sk'p
merupakan alat -ang digunakan untuk melihat laring secara langsung supa-a
kita dapat memasukkan pipa trakea dengan baik dan benar. Secara garis
besar dikenal , macam laring'sk'p:
+. Bilah, daun 7blade9 lurus 7Macintosh9 untuk ba-i1anak1de*asa.
,. Bilah lengkung 7Miller, Magill9 untuk anak besar1de*asa.
0lasi&ikasi tampakan &aring pada saat membuka mulut terbuka maksimal
dan lidah di8ulurkan maksimal menurut .allapati dibagi men8adi $
gradasi.
G*adai Pi"a* ,a*in+ U4#"a Pa"at#% M-""e
1 : : :
2 1 : :
2 1 1 :
4 1 1 1
g. 2ntubasi
2ntubasi trakea ialah tindakan memasukkan pipa trakea ke dalam trakea
melalui rima gl'tis sehingga u8ung distaln-a berada kira1kira
dipertengahan trakea antara pita suara dan bi&urkasi' trakea. 2ndikasi
sangat bervariasi dan umumn-a dig'l'ngkan sebagai berikut:
+9 .en8aga patensi 8alan napas 'leh sebab apapun
0elainan anat'mi, bedah kasus, bedah p'sisi khusus, pembersihan
sekret 8alan napas, dan lain1lainn-a.
,9 .empermudah ventilasi p'siti& dan 'ksigenasi
.isaln-a saat resusitasi memungkinkan penggunaan relaksan dengan
e&isien, dan ventilasi 8angka pan8ang.
(9 Pencegahan terhadap aspirasi dan regurgitasi
Adapun pr'sedur dalam pelaksanaan intubasi meliputi:
Persiapan
+9 Persiapan alat -ang dibutuhkan seperti: laring'sk'p, <3, stilet,
dan lain1lain.
,9 .asih siap pakai atau alat bantu napas.
(9 Obat induksi seperti: pent'tal, ketalar, diprivan, dan lain1lain.
$9 Obat pelumpuh 't't seperti: suksinil k'lin, atrakurium, pavul'n,
dan lain1lain.
!9 Obat darurat seperti: adrenalin 7e&ine&rin9, SA, miel'n, dan lain1
lain.
3indakan
+9 Pastikan semua persiapan dan alat sudah lengkap.
,9 2nduksi sampai tidur, berikan suksinil k'lin M &asikulasi 7:9.
(9 ika &asikulasi 719 M ventilasi dengan O
,
+""E selama kira1kira +
menit.
$9 Batang laring'sk'p dipegang dengan tangan kiri, tangan kanan
mend'r'ng kepala sedikit ekstensi M mulut membuka.
!9 .asukan laring'sk'p 7bilah9 mulai dari mulut sebelah kanan,
sedikit demi sedikit, men-elusuri kanan lidah, dan menggeser
lidah ke kiri.
>9 5ari epigl'tis M tempatkan bilah di depan epigl'tis 7pada bilah
bengk'k9 atau angkat epigl'tis 7pada bilah lurus9.
B9 5ari rima gl'tis 7dapat dengan bantuan asisten dengan menekan
trakea dar luar9.
49 3emukan pita suara M *arnan-a putih dan sekitarn-a merah.
#9 .asukan <3 melalui rima gl'tis.
+"9 )ubungkan pangkal <3 dengan mesin anestesi dan atau alat
bantu napas 7alat resusitasi9
Adapun kesulitan dalam intubasi -aitu:
Leher pendek ber't't
.andibula men'n8'l
.aksila atau gigi depan men'n8'l
/vula tidak terlihat
;erak sendi temp'r'1mandibular terbatas
;erak vertebra servikal terbatas
Adapun k'mplikasi pada intubasi -aitu:
+9 Selama intubasi
3rauma gigi geligi
Laserasi bibir, gusi,
laring
.erangsang sara&
simpatis
2ntubasi br'nkus
2ntubasi es'&agus
Aspirasi
Spasme br'nkus
,9 Setelah ekstubasi
Spasme laring
Aspirasi
;angguan &'nasi
<dema gl'tis1
subgl'tis
2n&eksi laring, &aring,
trakea
Sedangkan untuk pelaksanaan ekstubasi harus memperhatikan hal1hal
berikut ini:
+9 <kstubasi ditunda sampai pasien benar1benar sadar 8ika:
2ntubasi kembali akan menimbulkan kesulitan
Pasca ekstubasi ada risik' aspirasi
,9 <kstubasi diker8akan pada umumn-a pada anestesi sudah ringan
dengan catatan tidak akan ter8adi spasme laring.
(9 Sebelum ekstubasi bersihkan r'ngga mulut laring &aring dari sekret
dan cairan lainn-a.
7. Pa&a anetei
Sebelum pasien dipindahkan ke ruangan setelah dilakukan 'perasi
terutama -ang menggunakan anestesi umum maka perlu melakukan penilaian
terlebih dahulu untuk menentukan apakah pasien sudah dapat dipindahkan ke
ruangan atau masih perlu di'bservasi di ruang recovery room !!"#
a. Aldrete score
Ni"ai 'a*na
.erah muda ,
Pucat +
Sian'sis "
Pe*na0aan
Dapat bernapas dalam dan batuk ,
Dangkal tetapi pertukaran udara adekuat +
Apnea atau 'bstruksi "
Si*)#"ai
3ekanan darah men-impang L ,"E dari n'rmal ,
3ekanan darah men-impang ,"1!"E dari n'rmal +
3ekanan darah men-impang G !"E dari n'rmal "
Keada*an
Sadar, siaga, dan 'rientasi ,
Bangun tetapi cepat kembali tertidur +
3idak beresp'ns "
A)ti4ita
Seluruh ekstremitas dapat digerakkan ,
Dua ekstremitas dapat digerakkan +
3idak bergerak "
ika 8umlahn-a G 4, penderita dapat dipindahkan ke ruangan.
!. Steward score 8ana)5ana)6
Pe*+e*a)an
;erak bertu8uan ,
;erak tak bertu8uan +
3idak bergerak "
Pe*na0aan
Batuk, menangis ,
Pertahankan 8alan napas +
Perlu bantuan "
Keada*an
.enangis ,
Bereaksi terhadap rangsangan +
3idak bereaksi "
ika 8umlah G !, penderita dapat dipindahkan ke ruangan.
A. K-nt*aindi)ai Anetei U%#%
Adapun k'ntraindikasi dalam anestesi umum meliputi:
+. .utlak: dek'mpensasi' k'rdis dera8at 22212= dan A= bl'k dera8at 22 t'tal
7tidak ada gel'mbang P9.
,. Relati&: hipertensi berat atau tidak terk'ntr'l 7diast'lik G++" mm)g9, diabetes
melitus tidak terk'ntr'l, in&eksi akut, sepsis, dan gl'merul'ne&ritis akut.
0'ntraindikasi mutlak ialah pasien sama sekali tidak b'leh diberikan
anestesi umum sebab akan men-ebabkan kematian, apakah kematian DO3 7death
on the table9 meninggal di me8a 'perasi atau selain itu. 0emudian k'ntraindikasi
relati& ialah pada saat itu tidak bisa dilakukan anestesi umum tetapi melihat
perbaikan k'ndisi pasien hingga stabil mungkin baru bisa diberikan anestesi
umum.
26
DAFTAR PUSTAKA
American )eart Ass'ciati'n. ,""#. Cardiopulmonary !esuscitaion. Diakses dari
http:@@***.americanheart.'rg@presenter.8htmlNidenti&ierC$$B#.
American )eart Ass'ciati'n. ,"+". $ighlights of the %&'& American $eart
Association (uidelines for C)! and *CC.
Dachlan, R., dkk. ,"",. )etun+uk )raktis Anestesiologi. akarta: Bagian Anestesi'l'gi
dan 3erapi %akultas 0ed'kteran /niversitas 2nd'nesia.
27
Dar, A.B. ,""4. Cardiopulmonary !esuscitation. 2ndia: Ass'ciate Pr'& '& .edicine.
Latie&, S.A. O Sur-adi. ,""#. )etun+uk )raktis Anestesiologi. akarta: %akultas
0ed'kteran /niversitas 2nd'nesia.
Omuigui. +##!. The Anaesthesia ,rugs $andbook %
nd
*d. .'sb- -ear B''k 2nc
28