Anda di halaman 1dari 19

Tanda-tanda perubahan mutu obat adalah sebagai berikut:

1. Tablet
a. Terjadinya perubahan warna, bau ataupun rasa.
b. Kerusakan berupa noda, berbintik-bintik, lubang, sumbing, pecah, retak dan atau terdapat
benda asing, jadi bubuk dan lembab.
c. Kaleng atau botol rusak sehingga dapat mengurangi mutu obat.
2. Kapsul
a. Perubahan warna isi kapsul.
b. Kapsul terbuka, kosong, rusak atau melekat satu dengan yang lainnya.
3. Tablet salut
a. Pecah-pecah, terjadi perubahan warna.
b. Basah dan lengket satu dengan lainnya.
c. Kaleng atau botol rusak sehingga menimbulkan kelainan fisik.
4. Cairan
a. Menjadi keruh atau timbul endapan.
b. Konsistensi berubah.
c. Warna atau rasa berubah.
d. Botol plastik rusak atau bocor.
5. Salep
a. Warna berubah.
b. Pot atau tube rusak atau bocor.
c. Bau berubah.
6. Injeksi
a. Kebocoran wadah (vial, ampul).
b. Terdapat partikel asing pada serbuk injeksi.
c. Larutan yang seharusnya kering tampak keruh atau ada endapan.
d. Warna dan larutan berubah.
http://sebuahsejuk.wordpress.com/2011/09/09/obat-adalah/
Obat Kadaluarsa dan Tugas Farmasi
Obat kadaluarsa (obat expire date) merupakan polemik tersendiri bagi Asisten Apoteker (Tenaga
Teknis Kefarmasian) dalam melaksanakan pekerjaan kefarmasian, baik itu di puskesmas; rumah
sakit; apotek; atau tempat pelayanan kesehatan lainya. Permasalahannya ialah ketika AA ataupun
TTK yang ada disalah satu tempat pelayanan kesahatan tersebut diminta untuk ikut bertanggung
jawab atas semua obat yang kadaluarsa. Hal ini bisa menimbulkan dampak moril dan materil yang
luarbiasa bagi kita untuk dapat menjalankan pekerjaan kefarmasian dengan baik. Karena itu perlulah
kita mengetahui bagaimana sebenarnya permasalahan obat kadaluarsa ini, sehingga kita bisa
mencari solusi yang terbaik untuk menanganinya.
Ciri dan Efek Obat Kadaluarsa
Obat kadaluarsa telah expire date mengalami suatu proses yang menyebabkan kadar atau potensi
dari obat tersebut menurun, yaitu tidak lagi dalam rentang sebagaimana yang dipersyaratkan agar
dapat digunakan. Obat kadaluarsa ini tidak dapat bekerja secara maksimal, bahkan dapat menjadi
toksik dan juga dapat memberikan akibat yang lebih luas dengan menyebabkan peningkatan kasus
resistensi pada antibiotika, menjadikan diagnosa yang salah pada suatu penyakit, menambah biaya
obat, serta keselamatan jiwapun akan terancam.
Obat yang belum kadaluarsa pun sebenarnya dapat menimbulkan efek negatif yang sama.
Penyebabnya tidak lain karena penyimpanan obat yang salah. Obat yang salah penyimpanan akan
meyebabkan zat didalam obat tersebut rusak. Tanda-tanda kerusakan zat tersebut biasanya disertai
dengan perubahan bentuk, warna, ataupun bau. Karenanya sangat penting untuk memperhatikan
syarat-syarat penyimpanan obat.
Ciri obat kadaluarsa ataupun obat rusak karena penyimpanan berdasarkan bentuk sediaan farmasi:

obat kadaluarsa - obat expire date
Pada Tablet, terjadi perubahan rasa, warna atau bau; kerusakan yang berupa pecah, retak,
lubang, sumbing, noda, berbintik-bintik dan atau terdapat benda asing, jadi bubuk dan
lembab; botol atau kaleng tempat tablet rusak; pada jenis tablet tertentu ada yang menjadi
basah dan lengket satu dengan teblet yang lainnya
Pada Kapsul, terjadi perubahan pada warna isi kapsul tersebut; kapsul akan menjadi
terbuka, tidak berisi, rusak atau lengket satu sama lainnya.
Pada Cairan, terjadi pengeruhan atau timbulnya endapan; kekentalan carian berubah; pada
rasa ataupun warna terjadi perubahan; wadah botol plastik menjadi rusak maupun bocor
Pada Salep,terjadi perubahan Warna; wadah pot atau tube menjadi rusak ataupun bocor;
dan bau juga berubah
Obat Kadaluarsa Sebagai Tugas Farmasi
Sesuai dengan pengantar tulisan ini telah diketahui bahwa pada sarana-sarana kefarmasian yang
terjadi obat kadaluarsa, maka tenaga kefarmasiannya terutama Asisten Apoteker ataupun Tenga
Teknis Kefarmasian diberikan kewajiban untuk menggantinya. Pertanyaannya tentu apakah hal itu
dibenarkan? Jawabannya tergantung dengan perjanjian.
Perjanjian ataupun yang lebih dikenal disebut dengan kontrak kerja, memberikan pekerja dan
pemberi kerja, hak dan kewajiban masing masing. Apabila didalam kontrak kerja tersebut seorang
AA / TTK diperjanjikan mengurus bagian tertentu dalam pekerjaan kefarmasian di suatu sarana
kefarmaian, maka tentu ia berkewajiban agar segala hal yang mencakup bagian tersebut dapat
berjalan dengan baik. Dalam hal ini yaitu obat kadaluarsa, apabila seorang AA/ TTK ditugaskan di
bagian kontrol penyimpanan obat (atau kasarnya bagian gudang), maka ia berkewajiban atas semua
obat yang rusak atau daluarsa di gudang tersebut.
Tentu seharusnya seorang AA/ TTK harus jeli untuk menentukan obat jenis apa yang harus disimpan
dalam penyimpanan tertentu. Tentu seorang AA/ TTK juga harus mengerti bagaimana tindakan yang
harus diambil apabila menemukan obat yang mendekati tanggal kadaluarsanya atau expire date.
Banyak kan Pedagang Besar Farmasi (PBF) yang memberikan kesempatan pada sarana kefarmasian
untuk menukar obat yang mendekati tanggal kadaluarsa dengan syarat tidak melebihi tempo waktu
tertentu. Jadi apabila ada obat rusak ataupun daluarsa karena dibawah kontrol seorang AA/ TTK
,yang telah diberikan ilmu mengenai penyimpanan obat selama mengenyam pendidikan, dan juga
telah diberikan kesempatan penggantian obat oleh PBF apabila mendekati masa daluarsa, memang
sudah seharusnya menjadi kewajibannya untuk mengganti.
Lalu bagaimana dengan AA/ TTK yang bekerja tanpa adanya perjanjian tertulis atau kontrak kerja
tertulis. Saya sebut pejanjian tertulis dan kontrak kerja tertulis, karena ada perjanjian tidak tertulis.
Seseorang yang bekerja pada sarana kefarmasian, walau tidak memiliki perjanjian kerja tertulis, tetu
telah menyepakati hal-hal yang menjadi hak dan kewajiban masing-masing pihak. Kesepakatan inilah
yang menjadikan salah satu syarat syah sehingga walaupun tidak tertulis, menyebabkan perjanjian
tersebut mendapat perlindungan hukum. Jadi apabila seorang AA/ TTK pada saat diperkerjakan telah
menyepakati pekerjaan kefarmasian tertentu, sebagaimana halnya saya contohkan ditugaskan pada
bagian gudang, maka sudah kewajibannya untuk mengganti. Tetapi apabila tidak ada perjanjian
ataupun kesepatan mengenai penyerahan tugas tersebut, maka AA/ TTK tersebut mempunyai hak
untuk menolah mengganti kerusakan/ daluarsa obat tersebut.
http://pafi-blog.info/obat-kadaluarsa-tugas-farmasi
Faktor yang Mempengaruhi Kadaluarsa Obat
Posted on November 8, 2010. Filed under: Uncategorized |
Menurut pengertian umum, obat dapat didefinisikan sebagai bahan yang menyebabkan
perubahan dalam fungsi biologis melalui proses kimia. Sedangkan definisi yang lengkap,
obat adalah bahan atau campuran bahan yang digunakan dalam pengobatan, peredaan,
pencegahan atau dignosa suatu penyakit serta dalam pemulihan, perbaikan atau pengubahan
fungsi organik pada manusia atau hewan. Obat dapat merupakan bahan yang disintesis dalam
tubuh (hormon, vitamin D) atau merupakan bahan-bahan kimia yang tidak disintesis di dalam
tubuh.
Terapi pengobatan bertujuan untuk tercapainya therapeutic outcome yaitu peningkatan
kualitas hidup pasien dengan risiko seminimal mungkin. Namun,terdapat risiko yang
berkaitan dengan penggunaan obat baik yang diketahui ataupun tidak. Kejadian atau bahaya
yang dihasilkan dari risiko tersebut didefinisikan sebagai drug misadventure, dalam hal ini
termasuk medication error. Menurut National Coordinating Council for Medication
Error Reporting and Preventing (NCCMERP), medication error adalah pemakaian obat
yang tidak tepat dan menimbulkan kerugian pada pasien, walaupun pengobatan tersebut
berada dalam pengawasan profesional kesehatan, pasien dan konsumen. Hal ini menjadi
masalah di seluruh dunia yang terjadi sebagi akibat dari kesalahan manusia atau lemahnya
sistem yang ada.
Terkait dengan permasalahan ini, pemakaian obat kadaluarsa merupakan salah satu bentuk
dari medication error. Kadaluarsa obat didefinisikan sebagai berakhirnya batas aktif dari
obat yang memungkinkan obat menjadi kurang aktif atau menjadi toksik (beracun).
Penggunaan obat kadaluarsa (deteriorated drug error) dapat mengancam keselamatan jiwa,
mengacaukan diagnosa penyakit, menimbulkan/meningkatkan kasus resistensi (untuk
antibiotik) dan meningkatkan biaya pengobatan. Hal ini sebenarnya merupakan hal yang
tidak perlu terjadi, bila setiap petugas medis menjalankan tugas dan kewajibannya dengan
baik. Oleh karena itu, dibutuhkan pemahaman akan pentingnya pengetahuan perihal
kadaluarsa obat, baik oleh dokter, perawat, maupun pasien.
Definisi Kadaluarsa Obat
Kadaluarsa obat adalah berakhirnya batas aktif dari obat yang memungkinkan obat menjadi
kurang aktif atau menjadi toksik (beracun). Kadaluarsa obat juga diartikan sebagai batas
waktu dimana produsen obat menyatakan bahwa suatu produk dijamin stabil dan
mengandung kadar zat sesuai dengan yang tercantum dalam kemasannya pada penyimpanan
sesuai dengan anjuran. Dalam penggunaan obat dikenal istilah medication error, yaitu
pemakaian obat yang tidak tepat dan menimbulkan kerugian pada pasien, walaupun
pengobatan tersebut berada dalam pengawasan profesional kesehatan, pasien dan konsumen.
Salah satu komponen penting dalam medication error adalah deteriorated drug error, yaitu
penggunaan obat yang telah kadaluarsa atau integritas secara fisik dan kimia telah menurun.
Tanda-tanda Kadaluarsa Obat
Dalam praktik sehari-hari, tentu saja tidak mungkin dilakukan uji identifikasi dan kadar untuk
menentukan apakah suatu obat sudah mengalami kadaluarsa atau belum. Namun, dapat
dilakukan pemeriksaan secara organoleptis meliputi :
1. adanya perubahan warna (lihat tabel 1) atau ada noda/bintik,
2. adanya perubahan fisika yang meliputi perubahan bentuk (obat pecah/retak, tumbuh kristal
atau lembab/basah dan terlihat lunak), bila berupa sirup/suspensi bila obat dikocok tidak
tercampur (memadat), menjadi keruh, terbentuk endapan atau munculnya gas, terjadi
pemecahan emulsi ataupun caking suspensi.
Tabel 1 Contoh obat/golongan obat dan warna yang dihasilkan
Obat/Golongan Obat Warna yang dihasilkan
Antasida, golongan Al(OH)
3
Keputih-putihan/bercak putih
Antraquinon Kecoklatan
Antibiotik oral Abu-abu kehijauan
Antikoagulan Pink sampai merah atau hitam
Garam bismuth Hitam kehijauan
Charcoal Hitam
Garam ferro Hitam
Indometacin Hijau
NSAID Pink sampai merah atau hitam
Rifampin Merah-oranye
Asam salisilat Pink sampai merah atau hitam
Mekanisme Terjadinya Kadaluarsa Obat
a. Peruraian secara kimia
1. solvolisis
Dekomposisi molekul obat secara solvolisis melibatkan gugusan fungsional yang dimiliki
obat dan pelarut yang ada. Secara umum, reaksi solvolisis yang dialami obat adalah adanya
gugus karbonil seperti ester, lakton dan laktam. Contohnya : peruraian aspirin dalam air
menjadi asam salisilat dan asam asetat atau peruraian procaine dalam air menjadi paraamino
benzoic acid dan dietiletanol amine. Obat-obat lain yang juga cenderung mengalami
hidrolisis adalah cocain, atropin, meclafenoxate, barbiturate, sulfacetamide dan
roritetracycline.
2. oksidasi-reduksi
Obat yang mengalami dekomposisi secara oksidasi adalah steroid, vitamin, antibiotik dan
epinefrin.
3. fotolisis
Sinar matahari dapat mengakibatkan degradasi molekul obat. Contoh molekul oabt yang
mengalami fotolisis adalah Na-Nitroprussid. Umumnya, fotolisis melalui proses oksidasi
yang diawali oleh cahaya, tetapi tidak selamanya berlangsung melalui proses oksidasi, tetapi
dapat juga melalui iradiasi atau penambahan molekul pelarut.
4. dehidrasi
Peristiwa dehidrasi diawali dengan pembentukan ikatan rangkap.Contoh molekul obat yang
mengalami dehidrasi adalah tetracyclin. Pada dehidrasi secara fisika, seperti pada
theophylline dan ampicillin trihydrate, pelepasan molekul air tidak menghasilkan ikatan yang
baru tapi mengubah bentuk kristal molekul obat dan kecapatan disolusinya.
5. Rasemisasi
Perubahan aktivitas optik obat menurunkan aktifitas biologisnya. Reaksi rasemisasi
melibatkan pembentukan ion karbonium atau carbaniom yang kemudian distabilkan oleh
substituen yang ada. Contoh obat yang mengalami rasemisasi adalah epinefrin, pilocarpine,
dan tetracycline.
b. Peruraian fisis
1. polimorfis
Polimorfis adalah terjadinya bentuk kristal yang berbeda-beda dari suatu senyawa yang sama.
2. penguapan
Beberapa senyawa obat dan zat tambahan mempunyai tekanan uap tinggi pada temperatur
kamar. Flavouring agent seperti keton, aldehid, ester serta cosolvent seperti alkohol dapat
menguap dari sediaan.
3. adsorpsi
Senyawa obat yang memiliki afinitas yang lebih besar terhadap wadah daripada dengan
larutan cenderung diadsopsi oleh permukaan wadah.
4. sedimentasi partikel
Contohnya adalah sedimentasi pada sediaan suspensi.
Faktor-faktor yang Mempengaruhi Kadaluarsa Obat
Kondisi obat dipengaruhi oleh bahan aktif yang terkandung di dalam obat, tempat
penyimpanan, cara pemeliharaan dan jenis wadah penyimpanan obat. Secara umum, faktor-
faktor yang mempengaruhi kadaluarsa obat terbagi dua, yaitu faktor yang memperlambat dan
mempercepat kadaluarsa.
Faktor-faktor yang Mempercepat Kadaluarsa Obat
Faktor-faktor yang mempercepat kadaluarsa obat meliputi faktor internal yaitu proses
peruraian obat itu sendiri dan karena faktor eksternal yaitu oksigen, temperatur, cahaya dan
kelembapan.
1. oksigen
Contoh obat yang mengalami oksidasi adalah adrenalin, obat-obat steroid, beberapa vitamin
dan antibiotik. Selain itu, ada beberapa obat yang mengalami autooksidasi seperti steroid,
dimercaprol, chlorpromazine, amphotericin B, asam askorbat, cyanokobalamin, canamycin,
morfin, neomycin, penicillin, hydrocortison, procaine, sulfasdiasin, tetracyclin, vitamin A,
vitamin D dan isoproterenol
2. temperatur
Suhu penyimpanan obat pada umumnya adalah suhu kamar. Penyimpanan obat di dalam
pendingin (kulkas) tidak dianjurkan jika tidak terdapat petunjuk. Hal ini dapat dicontohkan
pada penyimapanan vaksin. Vaksin yang sensistif terhadap panas (heat sensitive) adalah
virus polio, campak dan BCG. Vaksin polio lebih baik disimpan pada suhu dibawah 0
o
C,
sedangkan vaksin campak lebih baik disimpan di refrigerator pada suhu 2-8
o
C. Vaksin yang
sensitive terhadap pembekuan (freeze sensitive) adalah vaksin hepatitis B, DPT, TT dan
DT. Vaksin yang heat sensitiveakan rusak bila terpapar pada suhu panas. Sebaliknya,
vaksin yang freeze sensitive akan rusak bila terpapar suhu beku. Selain itu, obat-obat yang
larut dalam minyak seperti minyak ikan, sebaiknya jangan disimpan di tempat yang terlalu
dingin. Insulin adalah contoh obat yang akan rusak bila ditempatkan pada ruangan dengan
suhu yang panas.
3. cahaya
Obat sebaiknya tidak diletakkan pada tempat yang terkena paparan sinar matahari ataupun
lampu secara langsung. Setiap obat yang berasal dari bahan biologis harus terlindung dari
sinar matahari. Vaksin yang berasal dari kuman yang hidup misalnya vaksin BCG dan
campak, bila terkena sinar matahari langsung maka dalam beberapa detik, vaksin akan
menjadi rusak. Untuk melindunginya dari cahaya maka digunakan kemasan berwarna,
misalnya ampul yang berwarna coklat disamping menggunakan kemasan luar (box). Contoh
lainnya adalah Na-nitroprussid yang bila terkena cahaya maka masa kadaluarsanya hanya
empat jam.
4. kelembapan
Hindari menyimpan obat di tempat yang lembab dan basah seperti kamar mandi, contohnya
adalah nitrogliserin. Obat ini bekerja bila diletakkan di bawah lidah karena adanya
kelembapan sehingga bila obat itu disimpan di tempat dengan kelembapan tinggi maka
nitrogliserin akan cepat bereaksi dan saat hendak digunakan, dosisnya sudah tidak utuh.
Faktor-faktor yang Memperlambat Kadaluarsa Obat
1. dengan cara menghambat oksidasi
Pada sediaan parenteral, O2 disubstitusi dengan CO2 atau N2 misalnya chlorpromazin HCl
dan Chlorpheniramine maleat, sedangkan pada sediaan oral, obat dikemas dalam bentuk strip
(hernetic strip).
2. menambahkan antioksidan yaitu :
chelating agent, misalnya EDTA, asam sitrat dan asam amino
reduktor, misalnya asam askorbat dan sodium thiosulfat
Hal-hal yang Harus Disampaikan Kepada Dokter, Perawat dan Pasien
Hal-hal yang Disampaikan Kepada Dokter dan Perawat
1. Dokter dan perawat harus mengetahui cara penyimpanan obat yang benar serta mengerti
hal-hal yang harus dilakukan bila obat tidak layak pakai.
2. Sebelum obat diberikan kepada pasien, obat harus diperiksa terlebih dahulu agar
menghindari pemberian obat yang telah kadaluarsa.
3. Dokter dan perawat harus mengetahui tanda-tanda obat yang mengalami kadaluarsa dan
bahaya yang dapat ditimbulkan bila obat tetap digunakan.
4. Dokter dan perawat harus memberikan edukasi kepada pasien mengenai kadaluarsa obat
(tanda-tanda dan faktor-faktor yang mempengaruhi kadaluarsa obat) agar pasien mengerti
dampak yang dapat ditimbulkan bila mengkonsumsi obat yang kadaluarsa.
5. Dokter dan perawat harus tetap mengontrol obat yang diberikan kepada pasien (obat yang
diresepkan kepada pasien dan dibeli di apotik).
Hal-hal yang Disampaikan Kepada Pasien
1. Sebelum mengkonsumsi obat, pasien diharapkan memperhatikan tanggal kadaluarsa obat.
2. Obat sebaiknya disimpan dalam kemasan yang tertutup rapat dan pada kondisi yang
dianjurkan agar mutu obat tetap terjaga dan tidak mempercepat masa kadaluarsa sebab
jangka waktu kadaluarsa obat akan lebih pendek apabila segel (tutup atau bungkusnya)
sudah dibuka. Biasanya aturan kadaluarsa ini akan terlampir pada brosur atau leaflet di
dalam kemasan obat. Ada yang 30 hari, 31 hari, satu minggu, dan satu hari terhitung sejak
segel obat tersebut dibuka.
3. Bila aturan tersebut tidak tercantum, gunakan patokan umum. Untuk obat sirup sebaiknya
tidak digunakan lagi jika sudah lebih dari 30-31 hari terhitung sejak segelnya dibuka.
Sedangkan untuk kaplet, kapsul, atau puyer satu hari sampai satu minggu. Dianjurkan obat-
obatan disimpan di kotak/lemari obat dengan tanda khusus, misalnya palang merah agar
mudah ditemukan. Lokasinya harus cukup tinggi agar tidak mudah dijangkau oleh anak-anak
tapi tetap mudah dijangkau orang dewasa.
4. Hindari kotak obat dari paparan sinar matahari ataupun tempat yang terlalu lembab. Obat
dalam bentuk cair sebaiknya jangan disimpan didalam kulkas agar tidak menjadi beku
kecuali bila disebutkan pada kemasan obatnya boleh disimpan dalam tempat pendingin.
Jangan menyimpan obat di dalam mobil dan di saku terutama dalam jangka waktu yang
lama karena perubahan suhu dapat merusak obat.
5. Tulislah tanggal pembelian atau pertebal tanggal kadaluarsa untuk mengetahui batas aman
penggunaan obat.
6. Periksalah kotak obat itu dalam batas waktu tertentu untuk membuang obat yang
kedaluarsa.
http://somelus.wordpress.com/2010/11/08/faktor-yang-mempengaruhi-kadaluarsa-obat/
Apakah expired date yang tercantum pada obat merupakan tanggal obat tidak boleh dipakai
lagi ? Apakah setelah tanggal itu obat benar-benar rusak sehingga tak dapat dipakai lagi ?
Kadang sayang membuang obat yang mahal harganya ?
Hal diatas ditanyakan dalam sebuah rubrik kesehatan dan inilah jawaban dari pakarnya :

Tanggal kadaluwarsa obat adalah tanggal pada saat obat dinyatakan sudah kadaluwarsa
atau lewat waktu. Tanggal ini ditetapkan oleh produsen berdasarkan uji stabilitas obat. Dalam
uji ini ditentukan sampai berapa lama obat masih memenuhi syarat kualitasnya, yaitu syarat
khasiat dan keamanannya. Jadi obat yang sudah lewat tanggal kedaluwarsanya tidak dijamin
lagi khasiat dan keamanannya oleh produsen sehingga tentu saja tidak layak untuk
dikonsumsi.

Apakah telah melewati tanggal itu obat pasti sudah rusak ? Belum tentu ! Ada saja
kemungkinan bahwa obat itu jika diteliti di laboratorium masih layak pakai. Namun siapa
yang dapat menjamin hal itu ?
Oleh sebab itu para ahli menganjurkan untuk tidak mengonsumsi obat yang sudah
kedaluwarsa sebab resikonya
cukup besar. Memang kadang sayang membuang obat yang mahal. namun tentu menghindari
bahaya jauh lebih penting daripada sekedar menghemat uang bukan. Sebab gangguan
kesehatan yang mungkin timbul karena minum obat kedaluwarsa justru dapat menghabiskan
uang lebih banyak lagi di samping mengancam jiwa.

Mengapa obat kadaluarsa sudah tak layak konsumsi ?
Setiap obat mengandung satu atau lebih bahan berkhasiat. Setelah tanggal kadaluarsa dapat
saja zat berkhasiat
itu terurai (karena sudah lewat masa stabilnya), sehingga berkurang kadarnya dalam obat.
Dengan begitu efek
menyembuhkan seperti yang diinginkan tidak tercapai. Jika obat ini merupakan obat yang
sangat diperlukan
untuk mengendalikan kecenderungan gangguan kesehatan tertentu, mis, obat darah tinggi,
jantung, epilepsi,
diabetes dan sebagainya, maka dapat berakibat fatal. Ada juga zat berkhasiat yang ketika
terurai dapat membentuk zat beracun atau berbahaya bagi kesehatan. Disamping itu zat-zat
yang terdapat dalam obat (pada umumnya obat mengandung lebih dari satu macam zat )
apakah zat itu aktif atau tambahan, dapat bereaksi satu sama lain membentuk zat beracun atau
berbahaya bagi kesehatan.
Jadi biasakanlah memeriksa tanggal kadaluwarsa obat. Jika tidak tercantum pada kemasan
atau label ,catatlah nomor batch atau kode produksinya yang selalu harus ada dalam kemasan.
Tanyakan pada produsen obat apakah obat tersebut sudah kedaluwarsa atau belum. Di negara
maju hal ini sudah lumrah dilakukan.

Tanggal kedaluarsa hanya merupakan patokan umum. Artinya tidak berarti sebelum tanggal
itu obat pasti masih baik dan layak pakai. Periksa apa obat masih baik dan tidak rusak.
Perubahan warna, rasa dan bau harus selalu
dicurigai, karena hal ini menjadi indikasi apakah obat sudah rusak.

Untuk sediaan bentuk tablet : Perhatikan apa ada perubahan warna, bercak, atau warna tak
merata. Beberapa zat akan berubah warna jika rusak karena teroksidasi oleh udara. Lihat apa
ada perubahan bentuk tablet. Untuk tablet salut gula, bila sebagian lapis gulanya sudah
meleleh berarti obat sudah rusak, walaupun tanggal kedaluwarsanya masih belum tercapai.
Untuk sediaan bentuk sirup : Perhatikan warnanya. Berubah atau menjadi keruh.
Kekentalannya apakah juga berubah. Jika berubah berarti sudah rusak.
Pada sediaan krim : Selain perubahan warna dan bau, rusaknya ditandai dengan pemisahan
antara frasa minyak dan air.
Sirup dan krim umumnya lebih cepat rusak daripada tablet atau pil karena kandungan airnya.
Satu hal lagi, tanggal obat kedaluarsa hanya berlaku bagi obat yang masih belum dibuka atau
dikeluarkan dari kemasan aslinya. JIka obat sudah dibuka, biasanya akan lebih cepat rusak
apalagi jiga penyimpanannyatidak baik. Oksigen menyebabkan reaksi oksidasi yang
menyebabkan zat dalam obat mudah rusak. Begitujuga bakteri dan mikroba lain di udara
yang sangat aktif merusak obat.
http://id.shvoong.com/how-to/health/2259842-tanggal-kadaluarsa-obat/
Tanda Obat kadaluarsa
Label: Kesehatan

Cara mudah dan praktis bagi siapa pun untuk mengenal obat kadaluarsa, salah satu permasalahan
yang sering kita temui di masyarakat adalah masih ada beredarnya obat kadaluarsa. Obat kadaluarsa
dapat menimbulkan berbagai efek selain efek yang tidak dikehendaki. Efek utama obat kadaluarsa
menjadi berkurang atau bahkan tidak ada lagi, sehingga tidak sesuai lagi dengan pengertian obat itu
sendiri. Oleh karena itu kita perlu mengenali bagaimana tanda-tanda obat kadaluarsa.
Sebenarnya apa yang dimaksud tanggal kadaluarsa obat? Tanggal kadaluarsa obat merupakan
tanggal yang menunjukkan bahwa sampai dengan tanggal yang dimaksud, mutu dan kemurnian obat
dijamin masih tetap memenuhi syarat, yang biasanya dinyatakan dalam bulan dan tahun. Nah apotik
mania, beberapa cara mudah untuk mengenali obat yang sudah kadaluarsa :

1. Tablet
Terjadinya perubahan warna, bau atau rasa
Kerusakan berupa noda, berbintik-bintik, lubang, sumbing, pecah, retak dan atau terdapat benda
asing, jadi bubuk dan lembab
Kaleng atau botol wadah tablet rusak
Beberapa jenis tablet ada yang basah atau lengket satu dengan yang lainnya
2. Kapsul
Perubahan warna isi kapsul
Kapsul terbuka, kosong, rusak atau melekat satu sama lain
3. Cairan
Menjadi keruh atau timbul endapan
Kekentalannya berubah
Warna atau rasa berubah
Botol plastik rusak atau bocor
4. Salep
Warna berubah
Pot atau tube rusak atau bocor
Bau berubah
Praktis dan mudah bukan, cukup kita luangkan waktu sebentar untuk melihat obat tersebut secara
fisik atau dengan penciuman atau rasa kita. Jika anda menemukan yang demikian segera kembalikan
obatnya, komplainlah ketempat anda beli atau laporkan ke fasilitas kesehatan terdekat untuk
dilakukan tindak lanjut. Demikian apotik mania, semoga bermanfaat. Salam sehat !
http://hanyauntukanda123.blogspot.com/2011/01/tanda-obat-kadaluarsa.html
Uji Stabilitas Obat
UJI STABILITAS OBAT

I. Tujuan
Memperkirakan waktu simpan suatu obat pada suhu kamar

II. Prinsip
Berdasarkan peruraian sediaan farmasi yang disebabkan oleh kenaikan suhu.
Berdasarkan reaksi penetralan pada titrasi asam basa

III. Reaksi
H2C2O4 + 2NaOH Na2C2O4 + 2H2O
IV. Pendahuluan
Stabilitas didefinisikan sebagai kemampuan zat obat atau produk obat untuk tetap di dalam
spesifikasi yang dibentuk untuk menjaga identitas, kekuatan, kualitas dan kemurnian melalui luar tes
ulang atau berakhirnya masa dating.
Tujuan penelitian stabilitas adalah untuk menentukan umur simpan, yaitu jangka waktu
penyimpanan pada kondisi tertentu di mana produk obat masih memenuhi spesifikasi yang
ditetapkan perusahaan.
Stabilitas merupakan faktor penting dari kualitas, keamanan dan kemanjuran dari produk obat.
Sebuah produk obat, yang tidak kestabilan yang cukup, dapat mengakibatkan perubahan fisik
(seperti kekerasan, laju disolusi, dll fasa pemisahan) serta karakteristik kimia (pembentukan zat
dekomposisi risiko tinggi)
Stabilitas kimia obat sangat penting karena menjadi kurang efektif mengalami
degradasi.. Dekomposisi juga dapat menghasilkan obat beracun oleh produk yang berbahaya bagi
pasien. Mikrobiologi ketidakstabilan suatu produk obat steril juga bisa berbahaya.
Penentuan kadaluarsa obat dilakukan melalui serangkaian pengujian yang disebut uji stabilitas obat.
Selama penyimpanan ataupun transportasi, obat bisa mengalami perubahan secara fisik maupun
kimia, sehingga diperlukan suatu uji stabilitas terhadap produk yang akan dipasarkan.
Stabilitas adalah kemampuan suatu produk untuk bertahan dalam batas yang ditetapkan sepanjang
periode penyimpanan dan penggunaan. Dari hasil uji stabilitas, maka kita dapat mengetahu masa
edar dari suatu obat. Masa edar didefinisikan sebagai periode waktu yang ditetapkan pada tingkat
konfidensi 95% bahwa dalam periode waktu tersebut produk tetap mengandung zat aktif tidak
kurang dari batas bawah spesifikasi dari jumlah yang tertera pada label. ji stabilitas ini bertujuan
untuk membuktikan bagaimana mutu zat aktif atau produk obat berubah seiring waktu, dibawah
pengaruh faktor lingkungan seperti temperatur, kelembaban, dan cahaya.
Uji stabilitas sendiri ada 2 jenis, yaitu uji stabilitas dipercepat dan uji stabilitas jangka panjang. Pada
uji stabilitas dipercepat, obat disimpan pada kondisi ekstrim di suatu lemari uji yang disebut climatic
chamber, obat dalam kemasan aslinya dipaparkan pada suhu 40 2oC dan kelembanban 75 5%
Pada masa lalu banyak perusahaan farmasi mengadakan evaluasi mengenai kestabilan sediaan
farmasi dengan pengamatan selama 1 tahun atau lebih, sesuai dengan waktu normal yang
diperlukan dalam penyimpanan dan dalam penggunaan. Metode seperti ini memakan waktu dan
tidak ekonomis. Penelitian yang dipercepat pada temperature tinggi juga banyak dilakukan oleh
banyak perusahaan, tetapi kriterianya sering merupakan criteria buatan yang tidak didasrkan pada
prinsip-prinsip dasar kinetik. Contohnya, cairan pada suhu 37oC mempercepat penguraian 2 kali
lajunya pada temperature normal, sementara persahaan lain mengandaikan bahwa kondisi tersebut
mempercepat penguraian dengan 20 kali laju normal. Levy telah membuktikan bahwa koefisisen
temperature buatan dan kestabilan tidak dapat diterapkan pada sediaan-sediaan cair dan sediaan
farmasi yang lain. Perkiraan waktu penyimpanan harus diiikuti dengan analisis yang dirancang secara
hati-hati untuk bermacam-macam bahan dalam produk jika hasilnya ingin cukup berarti.
Metode ini dipercepat untuk produk-produk farmasi yang didasarkan pada prinsip-prinsip kinetika
kimia ditunjukkan oleh Garret dan Carper. Menurut teknik ini, nilai k untuk penguraian obat dalam
larutan pada berbagai temperatur yang dinaikkan diperoleh dengan memplot beberapa fungsi
konsentrasi terhadap waktu. Logaritma laju spesifik kemudian diplot terhadap kebalikan dari
temperatur mutlak dan hasil berupa garis lurus diekstrapolasi sampai temperature ruang digunakan
untuk memperoleh pengukuran kestabilan obat pada kondisi penyimpanan biasa.
Pendekatan yang lebih maju untuk evaluasi kestabilan adalah kinetika nonisotermal, yang
diperkenalkan oleh Rogers pada tahun 1963. Energy aktivasi, laju reaksi dan kestabilan yang
diperkirakan diperoleh dalam satu percobaan dengan mengatur temperature untuk berubah pada
laju yang telah ditentukan sebelumnya. Temperatur dan waktu dihubungkan melalui fungsi yang
sesuai, seperti :
1/T = 1/T0 + at

Dimana To adalah temperatur awal dan a adalah kebalikan dari konstanta laju pemanasan. Pada
setiap waktu, dalam proses, persamaan Arrhenius untuk waktu nol dan t dapat ditulis:
ln k1= ln ko - Ea/R (( 1)/(T1 ) - 1/T0 )
karena temperatur merupakan fungsi dari waktu t, suatu pengukuran kestabilan k secara langsung
diperoleh pada kisar temperatur tersebut. Sejumlah variasi telah dibuat pada metode dan sekarang
memungkinkan untuk mengubah laju pemanasan selam proses atau menggabungkan laju
pemanasan terprogram dengan penelitian isothermal dan menerima print out energy aktivasi, dan
kestabilan memperkirakan waktu yang direncanakan dan pada berbagai temperatur.
Peneliti harus menyadari bahwa orde reaksi dapat berubah selama penelitian. Maka, penguraian
orde-nol dapat kadang-kadang menjadi orde-pertama, orde-kedua atau orde dalam pecahan dan
energy aktivasi juga dapat berubah jika penguraian terjadi dengan beberapa mekanisme. Pada
temperatur tertentu, otokatalis yaitu percepatan penguraian oleh produk yang terbentuk dala reaksi
dapat terjadi sehingga menyebabkan perkiraan kestabilan pada temperatur ruang dengan kenaikan
temperatur menjadi tidak mungkin.
sedangkan uji stabilitas jangka panjang, obat dipaparkan pada suhu 2520C dan kelembaban 605%.
Pada bulan-bulan tertentu, obat yang disimpan dalam lemari climatic chamber (pada uji stabilitas
dipercepat) maupun pada uji stabilitas jangka panjang, akan diuji kualitas fisika, kimia maupun
mikrobiologinya. Data hasil pengujian tersebut akan diolah secara statistika, sampai akhirnya kita
menemukan tanggal kadaluarsa (masa edar) secara kuantitatif, dan tanggal tersebutlah yang akan
dijadikan patokan kadaluarsa obat yang nantinya harus dicantumkan dalam kemasan obat.
V. Percobaan
V.1. Alat dan Bahan
Alat :
Erlenmeyer
Buret
Statif
Corong
Beaker glass
Thermometer
Penangas air
Volum pipet
Bahan :
Larutan NaOH 0,096 N
Larutan asam oksalat 0,1 N
Phenolptalein
Larutan asetosal 4% + Na sitrat 10% (1000 ml)


V.2. Prosedur
Ukur serapan maksimum dari asetosal dalam larutan HCL 0,1 N
1. Buat kurva baku asetosal dengan mengukur serapan pada panjang gelombang maksimumnya
(rentang serapan (A) = 0,2-0,8
2. Larutkan asetosal sebanyak 2 g dalam 30 ml etanol 95 , lalu tambahkan HCL 0,1 N hingga 600
ml, lalu bagi larutan asetosal tersebut menjadi 4 bagian masing-masing sebanyak 150 ml
3. Simpan 3 bagian larutan asetosal tersebut pada variasi suhu yang telah direncanakan ( T = 30,
40, 60 C ). Catat waktu penyimpanan.
4. 1 bagian larutan asetosal, ditentukan kadarnya dengan mengukur serapan (A) pada panjang
gelombang yang telah ditentukan. Kadar awal asetosal diperoleh dengan memplotkan serapan (A)
pada kurva baku asetosal.
5. Setelah 30 menit penyimpanan, ambil 5 ml dari masing-masing larutan uji lalu ukur serapannya
(A).
6. Lakukan penentuan kadar berikutnya dengan rentang waktu, sebagai berikut : t = 30, 60, 90,
120, 180, 240, 300 menit.
VI. DATA PENGAMATAN
Pembuatan kurva baku
Kadar Uji Serapan ( A )
2 ppm 0,279 Abs
4 ppm 0,399 Abs
8 ppm 0,458 Abs
10 ppm 0,629 Abs
12 ppm 0,843 Abs

Sehingga dengan melakukan penarikan pada garis linear, diperoleh persamaan baku :
y : m x + c
c : h x Abs + B
Pengamatan kadar sampel uji
Suhu 30
Waktu
( menit )
Pengukuran
I
Pengukuran
II
Kadar asetol
(c) g/100 ml
C/Co Ln C/Co
0 2,425 2,420 2,4225 8,6827 2,1613
120 2,417 2,416 2,4165 2,8665 1,0530


Suhu 40
Waktu
( menit )
Pengukuran
I
Pengukuran
II
Kadar asetol
(c ) g/100 ml
C/Co Ln C/Co
0 2,419 2,416 2,4175 8,664 2,1592
120 2,417 2,417 2,417 2,867 1,053

Suhu 60
Waktu
(menit)
Pengukuran
I
Pengukuran
II
Kadar asetol
(c) g/100 ml
C/Co C/Co
0 2,420 2,417 2,4185 8,667 2,159
120 2,415 2,140 2,2275 2,642 0,971

VII. Pembahasan
Asetosal yang berupa serbuk hablur putih dilarutkan dalam alkohol bukan dalam aquadest karena
asetosal sukar larut dalam aquadest tetapi mudah larut dalam etanol. Sedangkan Natrium sitrat
berupa hablur tidak berwarna atau serbuk halus putih dilarutkan dengan pembawa aquadest bukan
dengan etanol karena Natrium sitrat dalam etanol praktis tidak larut tetapi mudah larut dalam air.
Pada percobaan ini larutan titran dibuat dengan mencampurkan asetosal 4% dan Asam sitrat 10%
dalam 100ml. Larutan dibuat sebanyak 1000 ml tanpa mengurangi kadar tersebut yang telah
ditentukan. Larutan dibuat dengan melarutkan asetosal dengan etanol secukupnya kemudian
dicampurkan dengan larutan natrium sitrat (natrium sitrat dilarutkan dengan aquadest) dan
ditambahkan dengan aquadest sampai 1000ml.
Larutan dibuat dalam labu ukur 1000 ml agar volumenya lebih tepat dan lebih akurat karena labu
ukur merupakan alat kimia yang mempunyai nilai akurasi tinggi dibandingkan dengan gelas beaker.
Penentuan stabilitas obat dilakukan dengan melakukan titrasi zat uji dengan larutan baku NaOH.
Sebelum dititrasi larutan titer (sampel) dipanaskan terlebih dahulu dalam penangas air sampai suhu
30oC. Pemanasan dilakukan bukan dengan api langsung melainkan dengan penangas air karena jika
dilakukan dengan api langsung akan menyebabkan kenaikan suhu yang sangat cepat, sementara
dalam praktikum ini dibutuhkan suhu yang konstan.
Indikator yang digunakan adalah indikator fenolftalein yang memiliki rentang pH 8,0-10,0.
Titrasi dihentikan apabila telah mencapai titik akhir titrasi yang ditandai dengan berubahnya warna
larutan dari tidak berwarna menjadi warna merah muda atau pink-rose yang konstan. Perubahan
warna ini merupakan tanda bahwa larutan baku primer telah bereaksi sempurna dengan larutan
baku sekunder. Titrasi dilakukan duplo untuk memperoleh data yang lebih akurat. Berdasarkan teori
volume titrasi pertama dengan volume titrasi kedua tidak boleh mempunyai rentang atau selisih
diatas 0,5ml. Oleh karena itu titrasi harus dilakukan dengan benar-benar teliti sehingga hasil yang
diperoleh semaksimal atau seakurat mungkin. Sebelum digunakan NaOH terlebih dahulu dibakukan
dengan asam oksalat 0,1N dan indikator fenolftalein, hal ini bertujuan untuk mengetahui kadar
sebenarnya dari NaOH yang digunakan, yang nantinya digunakan dalam perhitungan.
Titrasi larutan zat uji dilakukan dengan suhu yang tetap (30oC) tetapi dengan waktu pemanasan yang
berbeda (0menit, 30menit, 60menit,90menit dan 120 menit).
Suhu 30 derajat

2.1613 0

1.053 120




















Suhu 40 derajat

2.159 0
1.053 120



















Suhu 60 derajat
2.159 0

0.971 120



















Tujuan dari perbedaan waktu pemanasan ini adalah untuk mengetahui seberapa besar energi
aktivasi yang diperlukan untuk masing-masing zat uji. Energi aktivasi dapat digunakan untuk
memperkirakan kestabilan dari komponen titer atau sampel (Aspirin). Dari data pengamatan yang
diperoleh, volume titran yang dibutuhkan untuk menitrasi masing-masing larutan zat uji tidak jauh
berbeda satu sama lain atau hanya mempunyai selisih antara 0-0,5 ml hal ini dikarenakan zat uji
yang digunakan/dititrasi adalah sama baik dalam volume maupun suhu hanya yang membedakan
adalah lama pemanasan.
Metode pengujian stabilitas obat dengan kenaikan temperatur tidak dapat diterapkan untuk semua
jenis sediaan terutama untuk produk yang mengandung bahan pensuspensi seperti metilselulosa
yang menggumpal pada pemanasan, protein yang mungkin didenaturasi, salep dan suppositoria
yang yang meleleh pada kondisi temperatur yang sedikit dinaikkan. Oleh karena itu, praktikan harus
teliti dalam memilih metode pengujian stabilitas suatu obat atau suatu sediaan obat.

Selain temperatur, stabilitas obat dapat dipengaruhi juga oleh efek pengemasan dan penyimpanan.
Sediaan berupa larutan masa simpannya relatif lebih singkat dibandingkan dengan bentuk sediaan
padat, karena sediaan larutan mudah terurai dan bereaksi dengan keadaan sekitarnya atau
lingkungannya (suhu dan cahaya).
Misalnya, Jika suatu larutan obat disimpan dalam kondisi terlalu panas, ada kemungkinan botol
(yang merupakan wadah umum untuk larutan) berinteraksi atau bereaksi dengan obat-obat yang
terdapat di dalam botol tersebut. Selain itu perlu diperhatikan juga, bahwa jika suatu sediaan obat
berupa larutan telah dibuka dari kemasannya atau wadahnya, stabilitas obat tersebut tidak sama lagi
seperti stabilitas obat semula yang masih tersegel(masih dalam kemasan) sehingga waktu
kadaluarsanya pun tidak akan sama persis seperti yang tertera pada kemasan obat tersebut karena
obat yang telah dibuka segelnya (wadahnya/botolnya) akan berinteraksi langsung dengan udara luar
dan keadaan sekitarnya yang akan menurunkan kestabilan obat tersebut.

VIII. Kesimpulan
Dari Hasil pengamatan yang telah diperoleh, maka dapat disimpulkan:
Stabilitas obat sangat di pengaruhi oleh perubahan suhu, semakin tinggi suhu maka stabilitas suatu
obat menurun. Semakin lama pemanasan maka semakin turun stabilitas obat Expired date cairan
asetosal berkurang dengan bertambahnya suhu.
Dari hasil uji stabilitas, maka kita dapat mengetahu masa edar dari suatu obat. Masa edar
didefinisikan sebagai periode waktu yang ditetapkan pada tingkat konfidensi 95% bahwa dalam
periode waktu tersebut produk tetap mengandung zat aktif tidak kurang dari batas bawah spesifikasi
dari jumlah yang tertera pada label.
IX. Daftar Pustaka
Alfred Martin, James Swarbrick, dan Arthur Cammarata. 2008.Farmasi Fisik: Dasar-Dasar Farmasi
Fisik Dalam Ilmu Farmasetika Edisi Ketiga, Jilid 2. Jakarta: UI-Press.
DEPKES RI. 1979. Farmakope Indonesia Edisi Ketiga. Jakarta: Departemen Kesehatan Indonesia.
Lachman Leon. 1994. Teori dan Praktek Farmasi Industri. Jilid III. Edisi III. Jakarta : Penerbit
Universitas Indonesia.

Prof. Dr. Sukardjo. 1997. Kimia Fisika. Jakarta : Rineka Cipta.
http://lifechemicals.blogspot.com/2010/12/uji-stabilitas-obat_02.html