Anda di halaman 1dari 8

PROCEEDING SIMPOSIUM NASIONAL IATMI 2001

Yogyakarta, 3-5 Oktober 2001


IATMI 2001-51
STUDI PENDESAKAN UAP UNTUK MINYAK BERAT
DENGAN PROSES STEAM ASSISTED GRAVITY DRAINAGE
Suranto
1
, Doddy Abdassah
2
, Sudjati Rachmat
2
1
UPN Veteran Yogyakarta,
2
Institut Teknologi Bandung
Kata kunci : pendesakan uap, minyak berat, faktor perolehan, sensitivitas
ABSTRAK
Injeksi uap adalah metoda EOR dengan menginjeksikan uap bertekanan ke dalam reservoir yang dimaksudkan untuk
memanaskan reservoir . Efek dari panas ini akan menurunkan viskositas minyak sehingga diharapkan minyak mudah mengalir ke
lubang sumur.
Proses steam assisted gravity drainage (SAGD) adalah suatu proses pendesakan uap dengan memanfaatkan gaya gravitasi.
Dengan adanya perbedaan densitas antara uap dan minyak menyebabkan uap akan cenderung naik ke atas, sedangkan minyak
cenderung untuk berada di bawah. Untuk proses ini diperlukan satu sumur horizontal bagian atas sebagai sumur injeksi dan satu
sumur horizontal di bagian bawah sebagai sumur produksi dalam satu lapisan.
Dalam studi ini, untuk mensimulasikan reservoir digunakan simulator TETRAD Versi 9. Langkah pertama adalah membuat
model dasar (base case), yang kemudian dijalankan pada kondisi tersebut. Langkah kedua adalah membuat model yang disensitivitas
terhadap laju injeksi, densitas minyak, perbandingan permeabilitas vertikal dengan permeabilitas horizontal dan panjang sumur injeksi.
Dari hasil simulasi tadi, kemudian dibuat dua korelasi untuk meramalkan perolehan minyak, yaitu minyak dengan 10 dan 20
0
API. Masing-masing korelasi memuat empat variabel sensitivitas yang berbeda.
1. PENDAHULUAN
Minyak yang berdensitas tinggi (minyak berat), umumnya
mempunyai viskositas tinggi. Yang bisa digolongkan dengan
minyak berat adalah minyak dengan
0
API lebih kecil dari 20.
Sebagai contoh adalah reservoir Ugnu Tar Sand di Alaska
dengan
0
API antara 7,1 sampai 11,5 dan viscositas antara
60.000 sampai 10.000.000 cp pada suhu kamar
1)
. Untuk
memproduksikan minyak jenis ini, sulit dilakukan, sehingga
faktor perolehan minyak sangat kecil. Oleh sebab itu banyak
upaya yang dilakukan untuk memproduksikan minyak sisa
dari proses perolehan tahap primer, yang salah satunya
adalah dengan injeksi uap.
Tujuan dari pendesakan uap adalah menginjeksikan uap
bertekanan ke dalam reservoir yang dimaksudkan untuk
memanaskan reservoir. Efek dari panas ini akan menurunkan
viskositas minyak sehingga diharapkan minyak mudah
mengalir ke lubang sumur. Ada dua tipe pendesakan yang
terjadi yang disebabkan oleh uap ini , yaitu pendesakan
horizontal karena viscous diplacement dan pendesakan
vertikal karena gravity drainage
2)
.
Proses steam assisted gravity drainage (SAGD) adalah suatu
proses pendesakan minyak oleh uap dengan memanfaatkan
gaya gravitasi. Dengan adanya perbedaan densitas antara uap
dan minyak menyebabkan uap akan cenderung naik ke atas,
sedangkan minyak cenderung untuk berada di bawah.
2. TINJAUAN PUSTAKA
2.1. Konsep Pendesakan Uap kontinu
Pada proses injeksi uap secara kontinu, proses injeksi dan
produksi dilakukan pada sumur yang berbeda. Dengan
demikian maka uap akan bergerak dari sumur injeksi menuju
sumur produksi. Perjalanan uap ini mengalami beberapa
perubahan, sejalan dengan perubahan temperatur. Gambar-1
merupakan kenampakan profil temperatur dan saturasi
minyak pada zona yang dilalui uap.
Daerah (A) adalah zona uap, daerah (B,C) adalah zona
kondensat panas, daerah (D) adalah zona kondensat dingin,
dan (E) adalah zona fluida reservoir. Zona kondensat panas
dapat dibagi lagi menjadi solvent bank (B) dan hot water bank
(C). walaupun pembagian zona tersebut tidak secara jelas,
namum merupakan peristiwa penting yang perlu diperhatikan
dalam suatu kegiatan pendesakan uap.
Kenampakan profil temperatur (dapat dilihat pada Gambar-
1a) terlihat bahwa terjadi transisi yang menyolok pada
temperatur uap dari sumur injeksi dengan temperatur reservoir
pada sumur produksi. Uap masuk ke reservoir dan menyebar
menjauhi sumur injeksi dan membentuk zona saturasi uap.
Zona ini mempunyai temperatur mendekati temperatur uap
yang diinjeksikan, dan mempunyai pergerakan yang
menyebar.
Karena ada perbedaan mekanisme pendesakan minyak dalam
zona yang aktif (zona A,B,C dan D), maka saturasi minyak
bervariasi sepanjang sumur injeksi dan produksi (Gambar-
1b). Pada zona uap (A), saturasi minyak terlihat lebih sedikit
bila dibandingkan dengan saturasi minyak depannya. Hal
tersebut dikarenakan adanya desakan uap dan tingginya
temperatur pada zona itu. Saturasi residual dipengaruhi oleh
saturasi minyak mula-mula, temperatur dan komposisi
minyak. Minyak digerakkan dari zona uap ke zona kondensat
panas (B,C) oleh distilasi uap.
2.2 Pengaruh Temperatur Terhadap Sifat Fisik Fluida
Viskositas Minyak
Menurunnya viskositas minyak (
o
) dengan naiknya
temperatur merupakan mekanisme yang sangat penting dalam
Studi Pendesakan Uap untuk Minyak Berat dengan Proses Steam Assisted Gravity Drainage Suranto, Doddy Abdassah, Sudjati Rachmat
IATMI 2001-51
perolehan minyak berat. Temperatur reservoir meningkat
dengan adanya injeksi uap, sehingga mengakibatkan
viskositas minyak pun akan turun. Viskositas air pun akan
ikut turun tetapi tidak setajam penurunan viskositas minyak.
Meningkatnya temperatur akan meningkatkan mobilitas ratio
minyak, dan diformulasikan:
.(1)
dimana K
w
, k
o
adalah permeabilitas efektif air, minyak dan
a
,
o
adalah viskositas air, minyak. Dengan menurunnya
viskositas, efisiensi pendesakan dan area penyapuan akan
meningkat, sebab untuk minyak berat, pada temperatur tinggi
akan menyerupai minyak ringan. Pembahasan pengenai
viskositas minyak oleh temperatur biasanya mempunyai sifat
yang reversibel.
Distilasi uap
Distilasi uap terutama pada mekanisme perolehan, terbentuk
pada zona dibelakang front uap. Hal tersebut terjadi karena
daerah tersebut mempunyai titik didih yang lebih rendah dari
titik didih fluida reservoir yang mengikutinya.
Oil-phase Miscible Drive
Sebagian fraksi minyak ringan yang terdistilasi oleh uap
dibawa menembus uap dan zona air panas ke daerah dingin.
Didaerah dingin fraksi minyak ringan menjadi kondensat.
Kondensat ini merupakan mekanisme penting dalam
memperoleh minyak pada daerah air panas didepan front uap.
Solution Gas drive
Solution gas drive terbentuk di daerah pertemuan antara air
panas dan dingin daerah pendesakan air. Peristiwa ini
merupakan sebuah proses pemindahan dari energi mekanik ke
pendesakan minyak. Ketika temperatur di depan front naik,
campuran gas menjadi sulit larut dan keluar dari minyak.
Dengan adanya gas terbebaskan, maka ada gaya dorong untuk
mendesak minyak, sehingga proses ini meningkatkan
perolehan minyak.
Emulsion Drive
Ketika uap mendesak minyak berat, di laboratorium atau di
lapangan, emulsi terbentuk bersamaan dengan fluida
produksi. Beberapa peneliti beranggapan bahwa emulsi
terbentuk hanya di bagian akhir sandpack atau sumur. Dilain
pihak dipercayai pula bahwa emulsi terbentuk didalam pori-
pori (di dalam sandpack). Fraksi distilasi uap mengkondensat
dan campur dengan minyak sehingga terjadi emulsi (minyak
masuk ke air atau sebaliknya).
2.3. Timbulnya Efek SAGD
Jika didalam suatu sistem terdapat dua macam fluida yang
mempunyai perbedaan densitas, maka akan ada
kecenderungan yang mempunyai densitas lebih ringan akan
ke atas sedangkan yang lebih berat akan ke bawah.
Dengan asumsi gaya kapiler diabaikan dan gradien tekanan
yang berada di fasa uap sama dengan yang berada di fasa
minyak, maka perbandingan antara kecepatan penembusan
(velocity) minyak secara horizontal dan vertikal didefiniskan
sebagai berikut :
.(2)
dimana U adalah kecepatan, K = permeabilitas, p =
perbedaan densitas. Sedangkan subkripnya adalah h =
horizontal, v = vertikal, o = minyak dan s = uap.
2.4. Pengaruh Proses SAGD Dalam Pendesakan Vertikal
Konsep steam assisted gravity drainage, dimunculkan oleh
Butler
3)
. Dengan adanya konsep ini maka memunculkan
kepercayaan untuk mengeksploitasi semua tipe minyak
mentah. Proses ini menginjeksikan uap ke sumur horizontal
dan membentuk zona akumulasi uap di reservoir. Kondensat
uap akan menyentuh permukaan bitumen dan memanasi
minyak. Minyak yang panas , mengalami penurunan
viskositas, dan karena efek dari gravitasi, minyak menuju
sumur produksi. Konsep dari Butler et al. ini diperlihatkan
dalam Gambar-2.
Untuk aplikasi dilapangan, proses ini di bentuk dengan dua
sumur horizontal, dimana sumur produksi diletakkan di
bagian bawah formasi, dan sumur injeksi terletak di atas
sumur produksi sebagai pemasok uap.
3. STUDI KASUS
Model reservoir dibentuk dengan satu sumur produksi
horizontal di bagian bawah dan satu sumur injeksi horizontal
di bagain atasnya. Model diidealisasikan berbentuk balok
dengan ukuran kearah sumbu x = 1000 ft , sumbu y = 200 ft
dan sumbu z = 90 ft. Reservoir dianggap tertutup, sehingga
tidak ada tudung gas dan air yang mendesak. Reservoir di
bentuk dengan 7 lapisan dan bersifat homogen. Sumur
produksi terletak pada lapisan ke 7 dan sumur injeksi terletak
di lapisan ke 5 dan keduanya terletak di tengah-tengah arah
sumbu x.
Grid yang akan dibuat berdasarkan pertimbangan kemampuan
softwere. Grid yang dibuat mempunyai konfigurasi 8 x 5 x 7,
sehingga pada sumbu x,y dan z masing-masing berukuran
125, 40 dan 12,86 ft. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat
Gambar-3.
Sebagai data masukan diambil dari makalah SPE
1)
, yang
terdiri dari model utama dan model yang di sensitivitas. Tabel
-4.1 merupakan data masukan model.
4. DISKUSI
4.1. Sensitivitas Terhadap Laju Injeksi
Pada model ini dibandingkan antara model dasar dengan
model yang disensitivitas terhadap laju injeksi. Hasil dari
simulator disajikan dalam Gambar-4, yaitu merupakan
hubungan antara faktor perolehan terhadap waktu dengan
berbagai laju injeksi.

=
sh
s sh
ov
oh
ov
oh
K
U
K
K
U
U
o w
w o
k
k
M

=
Studi Pendesakan Uap untuk Minyak Berat dengan Proses Steam Assisted Gravity Drainage Suranto, Doddy Abdassah, Sudjati Rachmat
IATMI 2001-51
Untuk waktu selama 5000 hari, terlihat bahwa pada laju
injeksi sebesar 500 bbl /hari mempunyai faktor perolehan
yang paling kecil yaitu sebesar 56%. Tetapi ketika diinjeksi
dengan laju 1000 bbl/hari sebesar 52%, 2000 bbl/hari
sebesar 68% dan 3000 bbl/hari sebesar 71%. Sedangkan
untuk laju injeksi agar mendapatkan faktor perolehan sebesar
60% , adalah injeksi 1000 bbl/hari selama 4800 hari, injeksi
2000 bbl/hari selama 4000 hari, dan injeksi 3000 bbl/hari
selama 3400 hari. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa
semakin besar laju injeksi akan semakin pendek waktu yang
diperlukan untuk menguras minyak. Bila hal tersebut
dihubungkan dengan laju produksi yang diperoleh dari
masing-masing laju injeksi (Gambar-5), maka pada laju
injeksi yang besar akan memberikan laju produksi yang besar
pula, tetapi mempunyai waktu breakthrough yang lebih cepat.
Indikasi adanya breakthrough ini dapat dilihat dari kurva
hubungan antara water cut terhadap waktu (Gambar-6).
Setelah terjadi breakthrough, kenampakan dari laju produksi
untuk masing-masing laju injeksi mempunyai kecenderungan
harga yang tetap. Sedangkan untuk water cut, laju injeksi
yang tinggi kecenderungan water cut lebih tinggi bila
dibandingkan dengan laju injeksi yang rendah. Yang menjadi
penyebabnya adalah bahwa setelah terjadi breakthrough
sebagian uap akan langsung menuju ke sumur produksi dan
sebagian lagi menuju ke atas membentuk zona akumulasi uap.
Volume uap yang menuju zona akumulasi uap akan
meningkatkan laju produksi, karena akan memanasi minyak
dan menuju sumur produksi karena adanya efek gravitasi.
Sedangkan volume uap yang langsung menuju sumur
produksi akan berpengaruh terhadap meningkatkan water cut.
4.1. Sensitivitas Terhadap
0
API Minyak
Model ini membandingkan mekanisme porolehan minyak
dengan berbagai harga
0
API. Dari Gambar-7 terlihat bahwa
untuk waktu injeksi yang sama, semakin besar harga
0
API
semakin tinggi nilai faktor perolehannya. Kecenderungan ini
bisa terjadi karena adanya perbedaan harga viskositas dari
masing-masing nilai
0
API. Pada kondisi yang sama semakin
tinggi nilai
0
API minyak , maka akan semakin rendah harga
viskositasnya.
Bila hal tersebut dihubungkan dengan persamaan Darcy,
maka semakin tinggi nilai viskositas, laju produksi minyak
akan semakin kecil. Hal ini didukung juga dari kenampakan
Gambar-8, terlihat bahwa pada awal produksi, laju produksi
tinggi pada
0
API minyak tinggi. Pada awal produksi (hari ke
1) ini pengaruh dari injeksi uap belum dominan. Demikian
juga terhadap water cut (Gambar-9), dimana pada awal
produksi untuk masing-masing API gravity mempunyai harga
water cut yang berbeda. Semakin tinggi harga
0
API semakin
rendah water cut-nya pada awal produksi. Yang menyebabkan
water cut tinggi untuk minyak dengan
0
API rendah
dikarenakan adanya faktor viskositas. Untuk minyak berat
akan mempunyai viskositas tinggi sehingga sulit untuk
mengalir. Hal tersebutlah sehingga air lebih mudah untuk
mengalir daripada minyak.
4.3 Sensitivitas Terhadap k
v
/k
h
Perbandingan antara permeabilitas horizontal dengan
permeabilitas vertikal menunjukkan kemampatan suatu
batuan. Jadi semakin rendah perbandingan tersebut, maka
batuan akan semakin mampat. Dari model yang dibuat,
ternyata tidak memberikan pengaruh besar terhadap faktor
perolehan (Gambar-10) pada perbandingan k
v
/k
h
antara 1 dan
0,5. Tetapi setelah perbandingan k
v
/k
h
sama dengan 0,1 dan
0,05 memberikan penyimpangan yang berarti. Pada k
v
/k
h
sama dengan 0,05 memberikan kenaikan produksi setelah
terjadi breakthrough, karena uap berjalan menyamping dari
sumur injeksi dan kemudian turun, sehingga penyebaran uap
lebih ke arah horizontal. Pengurasan yang terjadi hanya
disekitar sumur injeksi dan produksi, sehingga kenaikan
terjadi tidak berlangsung lama dan pada hari ke 1500 , relatif
menurun bila dibandingkan dengan k
v
/k
h
sama dengan 1. Hal
tersebutlah yang menyebabkan faktor perolehan hanya
mencapai 55 % setelah diinjeksi selama 5000 hari.
Kemudian jika dilihat dari laju produksi, ternyata dengan
harga k
v
/k
h
sama dengan satu mempunyai nilai yang paling
besar, yaitu dari hari ke 1 sampai hari ke 30. Setelah hari ke
30 sampai 100 dari perbandingan k
v
/k
h
antara 1 sampai 0,01
memberikan respon yang sama yaitu laju produksi turun
secara drastis (Gambar-11). Demikian juga terhadap water
cut, dimana pada waktu tersebut diikuti pula dengan naiknya
water cut (Gambar-12). Kenaikan water cut ini mengartikan
bahwa waktu breakthrough telah mulai. Dari harga k
v
/k
h
dari
1 sampai 0,05 yang ada dalam model, ternyata memberikan
waktu breakthrough yang berbeda-beda, yaitu untuk harga
k
v
/k
h
yang semakin kecil berdampak pada waktu breakthrough
yang semakin lama.
4.4. Sensitivitas Terhadap Panjang Sumur Injeksi
Dari kenampakan hubungan antara faktor perolehan terhadap
waktu dengan berbagai panjang sumur injeksi (Gambar-13)
ternyata selama waktu 5000 hari perolehan yang paling tinggi
pada panjang sumur 1000 ft. Faktor perolehan menurun
dengan semakin pendeknya panjang perforasi. Penyebabnya
adalah bahwa semakin pendek sumur injeksi, jangkauan
penyebaran uap semakin pendek pula. Hal ini dapat dilihat
pada Gambar-13. Semakin pendek penyebaran uap akan
semakin kecil volume reservoir yang terpanasi, sehingga
minyak yang mengalir ke sumur produksi semakin kecil pula.
Pada panjang sumur injeksi 250 ft terdapat ketidak
konsistenan dalam faktor perolehan, yaitu dari lama produksi
500 hari hingga 1200 hari. Hal tersebut dikarenakan adanya
laju uap yang kuat dan tidak sebanding dengan daya tampung
reservoir, sehingga menyebabkan kesalahan dalam numerik.
Sedangkan jika dilihat dari kenampakan laju produksi
(Gambar-14) semakin pendek sumur injeksi, pada awal
produksi semakin cepat mengalami kenaikan dan penurunan
bila dibandingkan dengan panjang sumur injeksi yang lebih
besar. Penurunan ini disebabkan oleh breakthough yang
cepat, karena uap yang berasal dari sumur injeksi tidak bisa
menyebar ke reservoir secara luas, sehingga akan menuju
sumur produksi. Bersamaan dengan turunnya laju produksi,
maka water cut naik. Pada Gambar-15 terlihat bahwa
Studi Pendesakan Uap untuk Minyak Berat dengan Proses Steam Assisted Gravity Drainage Suranto, Doddy Abdassah, Sudjati Rachmat
IATMI 2001-51
semakin panjang sumur injeksi, naiknya water cut semakin
lama.
Jika diperhatikan Gambar-16, yang merupakan menampakan
distribusi saturasi minyak setelah 5000 hari pada lapisan 5,
terlihat bahwa setelah 5000 hari saturasi minyak yang terkuras
hanya dekat-dekat sumur injeksi. Bagian yang tidak dilalui
sumur injeksi ternyata masih mempunyai saturasi minyak
yang cukup tinggi.
5. KORELASI HASIL STUDI PENDESAKAN UAP
SECARA VERTIKAL DENGAN PROSESSAGD
Dari analisa pendesakan uap secara vertikal, maka dilakukan
run simulasi lagi yang bertujuan untuk mendapatkan
karakteristik dari pendesakan uap secara vertikal dengan
proses steam assisted gravity drainage, dengan cara
mengkombinasikan keempat sensitivitas yang telah dilakukan.
Ada dua karakteristik yang bisa dijadikan sebagai gambaran,
yaitu pada densitas minyak 10 dan 20
0
API.
5.1. Densitas Minyak 10
0
API
Dari Gambar-6.1. terlihat bahwa pada laju injeksi yang sama
semakin panjang sumur injeksi, semakin besar perolehan
minyak yang bisa di dapat. Untuk laju injeksi yang tinggi
(misalnya 3000 bbl/hari) prosentasi perolehan minyak relatif
konstan pada panjang sumur injeksi antara 750 ft sampai
1000 ft. Hal tersebut disebabkan oleh tingkat penyebaran uap
yang relatif sama pada kisaran panjang sumur injeksi tersebut.
Perbedaan perbandingan permeabilitas vertikal dan horizontal
ternyata memberikan perbedaan pada faktor perolehan. Pada
k
v
/k
h
sebesar 0.5 dengan panjang sumur injeksi yang pendek
ternyata memberikan faktor perolehan yang rendah pada laju
injeksi 1000, 2000, dan 3000 bbl/hari. Tetapi pada laju injeksi
500 bbl/ hari memberikan respon yang sama dengan k
v
/k
h
sama dengan 0.1.
5.2. Densitas Minyak 20
0
API
Dari kenampakan Gambar-6.2 terlihat bahwa semakin besar
laju injeksi semakin kecil perbedaan faktor perolehan yang
diperoleh terhadap perbedaan panjang sumur injeksi. Adanya
perbedaan k
v
/k
h
, ternyata memberikan respon bahwa pada laju
injeksi sebesar 500 dan 1000 bbl/hari, dengan k
v
/k
h
sama
dengan 0,5 ternyata selalu memberikan faktor perolehan yang
tinggi bila dibandingkan dengan k
v
/k
h
sama dengan 0,1 pada
berbagai panjang sumur injeksi.
Tetapi mempunyai kenampakan yang berbeda pada laju
injeksi 2000 dan 3000 bbl/hari. Untuk sumur injeksi yang
pendek faktor perolehan akan lebih rendah pada k
v
/k
h
sama
dengan 0,5 bila dibandingkan dengan k
v
/k
h
sama dengan 0,1.
Tetapi dengan bertambahnya panjang sumur injeksi faktor
perolehan lebih cepat bertambah pada k
v
/k
h
sama dengan 0,5
bila dibandingkan dengan k
v
/k
h
sama dengan 0,1. Yang
menjadi penyebab dalam kasus ini adalah bahwa pada k
v
/k
h
yang lebih rendah penyebaran uap secara horizontal akan
lebih cepat bila dibandingan dengan k
v
/k
h
yang lebih tinggi.
6. KESIMPULAN
Dari hasil pemodelan, berdasarkan data yang digunakan
maka dapat disimpulkan sebagai berikut :
1. Besarnya laju injeksi uap berpengaruh terhadap kecepatan
pengurasan minyak
2. Dari sifat fisik fluida, semakin tinggi
0
API minyak , maka
semakin cepat laju pengurasan minyak.
3. Semakin kecil perbandingan permeabilitas vertikal dan
horizontal, untuk waktu yang pendek akan memberikan
faktor perolehan yang tinggi, tetapi untuk jangka waktu
yang panjang memberikan faktor perolehan yang rendah.
4. Semakin pendek sumur injeksi, semakin kecil minyak
yang dapat diperoleh. Hal tersebut disebabkan oleh
penyebaran uap yang tidak merata sehingga waktu
breakthrough yang cepat dan hanya memanasi sedikit
volume reservoir.
5. Korelasi hasil simulasi secara keseluruhan, untuk minyak
dengan densitas 10 dan 20
0
API menunjukkan bahwa
semakin panjang sumur injeksi semakin besar faktor
perolehan.
DAFTAR PUSTAKA
1. Kamath V.A. et al., Simulation Study of Steam-Assisted
Gravity grainage Proses in Ugnu Tar Sand Reservoir,
SPE No. 26075, 1993.
2. Hong, K.C, Steamflod : Reservoir Management :
Thermal Enhanced Oil Recovery, Penn Well Publishing
Copany, Tulsa, Oklahoma, 1994.
3. Butler, R.M., McNab, G.S., and Lo, H.Y., Theoretical
Studies on the Gravity Drainage of Heavy Oil During
Steam Heating, Can, J, Chem. Eng., 59, 455-460,
Agustus 1981.
4. Nasr. T.N.,Analysis of the Steam Assisted Gravity
Grainage (SAGD) Proses Using Experimental/Numerical
Tools, SPE No. 37116, 1996.
5. Singhal A. K., Screning of Reservoir For Exploitasi by
Aplication of Steam Assisted Gravity drainage/Vapex
Proses, SPE , Petroleum Recovery Institute, 1996.
6. Dyad 88 Sofware Inc., TETRAD User Manual Version 9,
Calgary Alberta, Canada.
7. Peake, W.T, Reservoir Simuation of Injection in The
Cold Lake Tar Sand, SPE No. 13038, 1984.
8. Prats Michael, Thermal Recovery, SPE, Dallas, New
york, 1986
Studi Pendesakan Uap untuk Minyak Berat dengan Proses Steam Assisted Gravity Drainage Suranto, Doddy Abdassah, Sudjati Rachmat
IATMI 2001-51
Tabel-4.1
Parameter Batuan dan Fluida
Parameter Model
utama
Sensitivitas
Porositas (fraksi) 0,37 -
Permeabilitas (md) 680 -
Saturasi air (fraksi) 0,28 -
Ketebalan Reservoir (ft) 90 -
Temperatur reservoir (
o
F) 100 -
Tekanan reservoir (psi) 1330 -
Gravity minyak (
o
API) 10 7,5, 20, 30
Spasi lateral sumur (ft) 200 -
Panjang horizontal (ft) 1000 -
Diameter sumur (in) 4 -
Konduktivitas Thermal
Overburdent (BTU/ft/hari/
o
F)
34,6 -
Diffusivitas Thermal (ft
2
/hari) 0.6566 -
Laju injeksi uap (bbl/hari) 2000 500, 1000, 3000
Temperatur uap (
o
F) 590 -
K
v
/k
h
(fraksi) 1 0,5 , 0,1 , 0,05
Lapisan produksi 7 -
Lapisan injeksi 5 -
Panjang sumur produksi (ft) 1000 -
Panjang sumur injeksi (ft) 1000 250, 500, 750
Gambar-1
Profil Saturasi Terhadap Temperatur
2)
Gambar-2
Konsep Proses Steam Assisted gravity drainage
3)
Gambar -3
Pembagian Sistem Grid
Gambar-4
Kurva Hubungan Antara Faktor Perolehan Terhadap Waktu
Dengan Berbagai laju Injeksi
Gambar -5
Kurva Hubungan Antara Laju Produksi Terhadap Waktu
Dengan Berbagai Laju Injeksi
0
0.1
0.2
0.3
0.4
0.5
0.6
0.7
0.8
0 1000 2000 3000 4000 5000
Waktu, hari
F
a
k
t
o
r

P
e
r
o
l
e
h
a
n
,

f
r
a
k
s
i
inj = 500 bbl/hari
inj = 1000 bbl/hari
inj = 2000 bbl/hari
inj = 3000 bbl/hari
0
500
1000
1500
2000
2500
1 10 100 1000 10000
Waktu, hari
L
a
j
u

P
r
o
d
u
k
s
i
,

S
T
B
/
h
a
r
i
inj = 500 bbl/hari
inj = 1000 bbl/hari
inj = 2000 bbl/hari
inj = 3000 bbl/hari
Studi Pendesakan Uap untuk Minyak Berat dengan Proses Steam Assisted Gravity Drainage Suranto, Doddy Abdassah, Sudjati Rachmat
IATMI 2001-51
Gambar -6
Kurva hubungan Antara Water Cut dengan Waktu dengan
Berbagai laju Injeksi
Gambar-7
Kurva Hubungan Antara Faktor Perolehan Terhadap Waktu
Dengan Berbagai Harga
0
API
Gambar-8
Kurva Hubungan Antara Laju Produksi Terhadap Waktu
Dengan Berbagai Harga
0
API
Gambar-9
Kurva Hubungan Antara Water Cut Terhadap Waktu Dengan
Berbagai Harga
0
API
Gambar-10
Kurva Hubungan Antara Faktor Perolehan Terhadap Waktu
Dengan Berbagai Harga kv/kh
Gambar-11
Kurva Hubungan Antara Laju Produksi Terhadap Waktu
Dengan Berbagai Harga k
v
/k
h
0
0.1
0.2
0.3
0.4
0.5
0.6
0.7
0.8
0.9
1
1 10 100 1000 10000
Waktu, hari
W
a
t
e
r

C
u
t
,

f
r
a
k
s
i
inj = 500 bbl/hari
inj = 1000 bbl/hari
inj = 2000 bbl/hari
inj = 3000bbl/hari
0
0.1
0.2
0.3
0.4
0.5
0.6
0.7
0.8
0 1000 2000 3000 4000 5000
Waktu, hari
F
a
k
t
o
r

P
e
r
o
l
e
h
a
n
,

f
r
a
k
s
i
API = 7. 5
API = 10
API = 20
API = 30
0
500
1000
1500
2000
2500
3000
3500
1 10 100 1000 10000
Waktu, hari
L
a
j
u

P
r
o
d
u
k
s
i
,

S
T
B
/
h
a
r
i
API = 7,5
API = 10
API = 20
API = 30
0
0.1
0.2
0.3
0.4
0.5
0.6
0.7
0.8
0.9
1
1 10 100 1000 10000
Waktu, hari
W
a
t
e
r

C
u
t
,

f
r
a
k
s
i
API = 7, 5
API = 1 0
API = 2 0
API = 3 0
0
0.1
0.2
0.3
0.4
0.5
0.6
0.7
0.8
0 1000 2000 3000 4000 5000
Waktu, hari
F
a
k
t
o
r

P
e
r
o
l
e
h
a
n
,

f
r
a
k
s
i
kv/kh = 1
kv/kh = 0.5
kv/kh = 0.1
kv/kh = 0.05
0
200
400
600
800
1000
1200
1400
1600
1800
1 10 100 1000 10000
Waktu, hari
L
a
j
u

P
r
o
d
u
k
s
i
,

S
T
B
/
h
a
r
i
kv/kh = 1
kv/kh = 0.5
kv/kh = 0.1
kv/kh = 0.05
Studi Pendesakan Uap untuk Minyak Berat dengan Proses Steam Assisted Gravity Drainage Suranto, Doddy Abdassah, Sudjati Rachmat
IATMI 2001-51
Gambar-12
Kurva Hubungan Antara Water Cut Terhadap Waktu Dengan
Berbagai Harga k
v
/k
h
Gambar-13
Kurva Hubungan Antara Faktor Perolehan Terhadap Waktu
Dengan Berbagai Panjang Sumur Injeksi
Gambar-14
Kurva Hubungan Antara Laju Produksi Terhadap Waktu
Dengan Berbagai Panjang Sumur Injeksi
Gambar-15
Kurva Hubungan Antara Water Cut Terhadap Waktu Dengan
Berbagai Panjang Sumur Injeksi
Gambar-16
Distribusi Temperatur pada injeksi uap 2000 bbl/hari setelah
5000 Hari Pada Lapisan 5 Dengan Panjang Sumur Injeksi
Gambar-17
Korelasi Kombinasi dari Laju injeksi, Panjang sumur Injeksi
dan kv/kh Terhadap Faktor Perolehan Setelah Berproduksi
5000 hari dengan Densitas Minyak 10
0
API
0
0.1
0.2
0.3
0.4
0.5
0.6
0.7
0.8
0.9
1
1 10 100 1000 10000
Waktu, hari
W
a
t
e
r

C
u
t
,

f
r
a
k
s
i
kv/kh = 1
kv/kh = 0.5
kv/kh = 0.1
kv/kh = 0.05
0
0.1
0.2
0.3
0.4
0.5
0.6
0.7
0.8
0 1000 2000 3000 4000 5000
Waktu, hari
F
a
k
t
o
r

P
e
r
o
l
e
h
a
n
,

f
r
a
k
s
i
panjang = 250 ft
panjang = 500 ft
panjang = 750 ft
panjang = 1000 ft
0
0.1
0.2
0.3
0.4
0.5
0.6
0.7
0.8
0.9
1
1 10 100 1000 10000
Waktu, hari
W
a
t
e
r

C
u
t
,

f
r
a
k
s
i
panjang = 250 ft
panjang = 500 ft
panjang = 750 ft
panjang = 1000 ft
0
200
400
600
800
1000
1200
1400
1600
1800
1 10 100 1000 10000
Waktu, hari
L
a
j
u

p
r
o
d
u
k
s
i
,

S
T
B
/
h
a
r
i
panjang = 250 ft
panjang = 500 ft
panjang = 750 ft
panjang = 1000 ft


5

4

3

Y 2

1

1 2 3 4 5 6 7 8
X

0
0.1
0.2
0.3
0.4
0.5
0.6
0.7
0.8
0 100 200 300 400 500 600 700 800 900 1000
Panjang Sumur Injeksi, ft
F
a
k
t
o
r

P
e
r
o
l
e
h
a
n
,

f
r
a
k
s
i
Rate = 500 bbl/hari
Rate = 1000 bbl/hari
Rate = 2000 bbl/hari
Rate = 3000 bbl/hari
Studi Pendesakan Uap untuk Minyak Berat dengan Proses Steam Assisted Gravity Drainage Suranto, Doddy Abdassah, Sudjati Rachmat
IATMI 2001-51
Gambar-18
Korelasi Kombinasi dari Laju injeksi, Panjang sumur Injeksi
dan kv/kh terhadap Faktor Perolehan Setelah Berproduksi
5000 hari dengan Densitas Minyak 20
0
API
0
0.1
0.2
0.3
0.4
0.5
0.6
0.7
0.8
0 100 200 300 400 500 600 700 800 900 1000
Panjang Sumur Injeksi, ft
F
a
k
t
o
r

P
e
r
o
l
e
h
a
n
,

f
r
a
k
s
i
Rate = 500 bbl/hari
Rate = 1000 bbl/hari
Rate = 2000 bbl/hari
Rate = 3000 bbl/hari
kv/kh = 0,5
kv/kh = 0,1