Anda di halaman 1dari 28

Laporan Kasus

Tatalaksana Demam Berdarah Dengue Disertai Kejang Demam



DOKTER PEMBIMBING
dr. Indra yanti Jorianto, Sp.A, MARS




DISUSUN OLEH
Febrian Tan Jaya
030.09.084


RUMAH SAKIT OTORITA BP BATAM
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS TRISAKTI
KEPANITERAAN KLINIK ILMU KESEHATAN ANAK
PERIODE 18 AGUSTUS 2014 26 OKTOBER 2014



LEMBAR PENGESAHAN

Laporan kasus yang berjudul
Tatalaksana Demam Berdarah Dengue Disertai Kejang Demam
telah diterima dan disetujui pada September 2014
sebagai salah satu syarat menyelesaikan Kepaniteraan Klinik Ilmu Kesehatan Anak
periode 18 Agustus 2014 26 Oktober 2014 di Rumah Sakit Badan Pengusahaan Batam





Batam, September 2014




dr. Indra yanti Jorianto, Sp.A, MARS










KATA PENGANTAR
Puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena telah
melimpahkan rahmat-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan penyusunan Laporan Kasus
yang berjudul Tatalaksana Demam Berdarah Dengue Disertai Kejang Demam. Laporan
kasus ini diajukan dalam rangka melaksanakan tugas Kepaniteraan Klinik Ilmu Kesehatan
Anak Rumah Sakit Badan Pengusahaan Batam periode 18 Agustus 2014 26 Oktober 2014
dan juga bertujuan untuk menambah wawasan bagi penulis serta pembaca mengenai
masalah masalah klinis yang ditemukan dalam kasus guna mencapai diagnosis dan
penatalaksanaan yang tepat dan sesuai keilmuan yang ada. Dalam kesempatan ini penulis
ingin menyampaikan ucapan terima kasih atas bantuan dan kerja sama yang telah diberikan
selama penyusunan case report ini, kepada dr. Indra yanti Jorianto, Sp.A, MARS, selaku
pembimbing Kepaniteraan Klinik Ilmu Kesehatan Anak Rumah Sakit Badan Pengusahaan
Batam, serta kepada semua orang yang turut membantu penyelesaian laporan kasus ini yang
dengan penuh rasa hormat dan maaf dari penulis, tidak dapat disebutkan satu per satu.
Penulis menyadari bahwa laporan kasus ini masih jauh dari kata sempurna, sehingga penulis
mengharapkan saran dan kritik yang bersifat membangun dari semua pihak, agar kedepannya
laporan kasus ini dapat menjadi lebih baik. Penulis memohon maaf sebesar-besarnya apabila
masih terdapat kesalahan maupun kekurangan dalam case report ini. Akhir kata, selamat
membaca dan semoga bermanfaat.

Batam, September 2014

Penulis





BAB I
PENDAHULUAN
Demam berdarah Dengue merupakan suatu penyakit demam berat yang sering
mematikan, disebabkan oleh virus, ditandai oleh peningkatan permeabilitas kapiler, kelainan
hemostasis dan pada kasus berat, sindrom syok kehilangan protein. Terdapat sekurang-
kurangnya empat tipe virus dengue yang berbeda (tipe 1-4) yang telah diisolasi dari penderita
demam berdarah. Di Indonesia, keempat serotipe yang diamati sejak tahun 1975 di beberapa
rumah sakit menunjukkan bahwa keempat serotipe virus ditemukan dan bersirkulasi
sepanjang tahun. Serotipe Den 3 adalah yang dominan.
Demam berdarah Dengue terjadi di mana banyak virus Dengue secara simultan atau
berurutan ditularkan. Virus ini bersifat endemik di Asia tropik, dimana suhu panas dan
praktek penyimpanan air di rumah menyebabkan populasi Aedes aegypti besar dan permanen.
Di Indonesia, kelembapan dan suhu udara tidak sama di setiap tempat. Di Jawa pada
umumnya infeksi virus Dengue terjadi, meningkat terus sehingga kasus terbanyak terdapat
pada sekitar bulan April-Mei setiap tahun.
Diagnosis demam berdarah Dengue secara klinis menggunakan kriteria WHO masih
menjadi acuan sampai saat ini, sehingga terjadi persamaan persepsi dalam menegakkan
diagnosis demam berdarah Dengue. Begitu diagnosis demam berdarah Dengue ditegakkan,
maka pasien harus dirawat karena demam berdarah Dengue berpotensi menyebabkan syok
yang dapat meningkatkan angka morbiditas dan mortalitas.







BAB II
LAPORAN KASUS
IDENTITAS
A. Identitas Pasien
Nama : An. KWL
Tempat/Tgl. Lahir : Batam / 23-04-2012
Umur : 2 tahun 4 bulan
Jenis Kelamin : Laki - laki
Alamat : Kavling Seroja RT/01 RW/79
Agama : Kristen
Masuk Tanggal : 22 Agustus 2014
No. Medical Record : 35-42-95
B. Identitas Orang Tua
Ayah Ibu
Nama Tn. S Ny. R
Umur 28 tahun 26 tahun
Alamat Kavling Seroja RT/01
RW/79
Kavling Seroja RT/01
RW/79
Agama Kristen Kristen
Pendidikan SMP SMA
Pekerjaan Wiraswasta Ibu Rumah Tangga

Hubungan Pasien dengan orang tua : Pasien anak kandung (anak ke-2 dari 2
bersaudara)


ANAMNESIS
Dilakukan secara alloanamnesis kepada Ibu dan Ayah kandung OS, Tn. S dan Ny. R pada
tanggal 23 Agustus 2014 pada pukul 13.00 WIB di bangsal Bougenville RS Otorita BP
Batam.
Keluhan Utama : Demam naik turun sejak 5 hari sebelum masuk rumah sakit.
Keluhan Tambahan : kejang, lemas, rewel, napsu makan menurun
Riwayat Penyakit Sekarang
OS seorang anak laki laki berusia 2 tahun 4 bulan datang ke RSOB-BP Batam dengan
keluhan demam naik turun sejak 5 hari sebelum masuk rumah sakit. Demam timbul
mendadak pagi hari. Saat itu kedua orang tua OS tidak mengukur suhu tubuh OS dengan
thermometer. 10 menit setelah OS demam, OS tiba tiba mengalami kejang. Kejang yang
dialami merupakan kejang pertama kali timbul. Kejang berlangsung 10 menit. Saat kejang,
mata OS mendelik ke atas, kedua telapak tangan OS dalam keadaan menggenggam, kedua
kaki kaku, tidak kelojotan, tidak keluar busa pada bibir, tidak terdapat kebiruan pada daerah
sekitar bibir.
Sebelum kejang, OS tidak mengalami benturan di kepala. Setelah kejang, OS langsung
membuka mata, namun dalam keadaan membisu. OS langsung dilarikan ke bidan 5 menit
setelah kejang. Di bidan, OS sadar dan menangis. OS diberikan obat anti kejang melalui
anus di bidan dan obat demam. Malam harinya, OS demam lagi, namun tidak kejang.
Keesokan harinya, suhu tubuh OS meningkat terutama sore menjelang malam hari dan turun
saat pagi hari sampai normal.
Pada hari keempat demam, OS sudah tidak demam lagi, namun OS tetap lemas dan hanya
sedikit makan dan minum. Hari kelima OS sudah tidak demam, namun lemas dan makan-
minum sedikit, sehingga kedua orang tua OS membawa OS ke klinik. Di klinik, OS
dilakukan pemeriksaan darah, dinyatakan mengalami penurunan trombosit yang dicurigai
mengalami demam berdarah dan kesulitan makan-minum, sehingga OS dirujuk oleh dokter
klinik ke IGD RSBP-OB.
OS tiba di IGD RSBP-OB diantar kedua orang tuanya pk. 11.00WIB dan disarankan untuk
dirawat. Saat demam hari kedua, Ibu OS mengatakan bahwa BAB OS mencret dua kali,
konsistensi cair ampas, berwarna coklat, berbau busuk, namun tidak terdapat lendir, darah,
dan kemerahan di sekitar anus. Selama demam sampai dirawat, OS BAB satu sampai dua
kali sehari, konsistensi lembek, namun tidak terdapat darah, lendir,dan nyeri perut. OS BAK
normal, banyak, berwarna kuning, tidak pekat. OS tidak makan makanan baru yang belum
pernah dimakan OS sebelumnya, tidak jajan sembarangan di luar, dan kedua orang tua OS
selalu mencuci tangan sebelum menyuapi makan OS. Saat menangis masih keluar air mata.
Kedua orang tua OS mengatakan kedua telapak tangan dan telapak kaki OS tidak dingin saat
diraba. OS tidak mengalami muntah, batuk, pilek, sesak napas, dan penurunan berat badan.
Selama dirawat OS tidak pernah kejang.

Riwayat Penyakit Dahulu
Menurut Ibu pasien, pasien pernah mengalami demam saat usia 1 tahun, demam berlangsung
kurang lebih dua hari, dan ibu pasien hanya memberikan parasetamol sirup dan demam
hilang. Pasien tidak pernah batuk dan pilek sebelumnya, pasien juga tidak memiliki riwayat
sesak, asma, alergi makanan, alergi obat, ruam di kulit, kejang sebelumnya pada saat berumur
di bawah 9 bulan. OS juga baru pertama kali dirawat di rumah sakit.
Demam Tifoid (-) Epilepsi (-)
Kejang demam (-) Hepatitis (-)
Demam berdarah (-) Diare (-)
Varicella (-) Infeksi Saluran napas (-)
TBC (-) Difteri (-)
Penyakit Jantung Bawaan (-) Penyakit Jantung Rematik (-)

Riwayat Kelahiran
Tanggal lahir : 23 April 2012
Cara Lahir : pervaginam dengan vakum ekstraksi
Ditolong oleh : Dokter di RS Harapan Bunda
Berat Lahir : 4.3 kg
Panjang Badan lahir : 50 cm
Keadaan saat lahir : langsung menangis kuat, lahir cukup bulan, gerak aktif.

Riwayat Pemberian Makanan
Sejak lahir, pasien sudah mendapatkan ASI sampai usia 12 bulan. ASI eksklusif sudah
terpenuhi (6 bulan). Susu formula mulai diberikan pada usia 6 bulan. Nasi tim pada usia 8
bulan.

Riwayat Pemberian Imunisasi
IMUNISASI
UMUR PEMBERIAN IMUNISASI
BULAN
(dasar)
Tahun
(ulangan)
Lhr 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12
BCG
HEP B
POLIO
DTP
CAMPAK
Hib
PCV
ROTAVIRUS
INFLUENZA
VARICELLA
MMR
TIFOID
HEP A
HPV

Kesan : Imunisasi dasar lengkap

Riwayat Perkembangan Motorik Psikososial
Pertama kali membalik : 4 bulan
Pertama kali tengkurap : 4 bulan
Pertama kali duduk : 6 bulan
Pertama kali merangkak : 7 bulan
Pertama kali berdiri : 9 bulan
Pertama kali berjalan : 12 bulan
Pertama kali tertawa : lupa
Pertama kali berceloteh : lupa
Pertama kali memanggil mama : 9 bulan
Pertama kali memanggil papa : 9 bulan

Riwayat Penyakit Keluarga
OS merupakan anak kedua dari dua bersaudara. Saat ini tidak ada keluarga yang sedang
mengalami sakit seperti OS. Keluarga kandung OS tidak memiliki riwayat kejang, asma,
batuk lama yang tidak sembuh, epilepsi, batuk darah, dan alergi.
Riwayat Lingkungan dan Perumahan
Pasien tinggal di lingkungan tidak padat penduduk. Di lingkungan tempat tinggal pasien, ada
anak tetangga dekat rumah yang mengalami demam berdarah. Tiga minggu yang lalu
dilakukan fogging di lingkungan rumah OS hanya sebatas area luar rumah. Lingkungan,
sanitasi dan sirkulasi rumah baik. Teradapat bak penampungan air yang tidak ditutup di
kamar mandi rumah.
PEMERIKSAAN FISIK
Pemeriksaan fisik dilakukan secara langsung kepada OS di ruang bangsal Bougenville RSBP-
OB pada tanggal 23 Agustus 2014, pk. 13.30.
I. Keadaan Umum
a. Kesan Sakit : Tampak Sakit Ringan
b. Kesadaran : Compos Mentis

II. Tanda VitaldanAntropometri
TANDA VITAL HASIL PASIEN
Suhu 36.6
o
C
Nadi 112x/mnt, reguler, isi cukup, ekwalitas pada keempat
ekstremitas sama
Nafas 32x/mnt, teratur, tidak terdapat pola napas abnormal

ANTROPOMETRI HASIL PASIEN
Berat Badan 10 kg
Panjang Badan 77 cm
BB/U >-2 SD gizi baik
PB/U < -2 SD pendek
BB/TB Antara 0 SD sampai dengan 1 SD gizi normal






III. PemeriksaanKepala dan Leher
Kepala Ukuran normosefali, bentuk oval, tidak tampak deformitas, pada perabaan
tidak ada nyeri, rambut berwarna hitam tidak beruban, lebat, tidak kering, dan
tidak mudah dicabut.
Wajah Tidak tampak sesak, tidak pucat, tidak sianosis, ekspresi wajah simetris, dan
tidak tampak facies yang menandai suatu penyakit seperti facies hipocrates,
tidak tampak moon face.
Mata Alis tebal, hitam, tersebar rata; bulu mata hitam, tersebar rata, tidak mudah
rontok; kelopak mata tidak ada edema dan tidak ptosis, pada palpasi tekanan
kedua bola mata normal; konjungtiva warna pink, tidak anemis, sklera tidak
ikterik, iris warna hitam, pupil bulat isokor, lensa jernih, refleks cahaya
langsung dan tidak langsung +/+, gerak bola mata sulit dinilai karena OS
tidak kooperatif, lapang pandang baik, tidak cekung.
Telinga Telinga sepasang, sama tinggi, normotia, tidak ada benjolan atau nyeri tekan
di sekitar telinga, CAE lapang, tidak tampak serumen, darah, maupun sekret,
tidak tampak hiperemis, dan membrana timpani sulit dinilai.
Hidung Napas cuping hidung(-), bentuk hidung normal, deviasi septum (-), cavum
nasi lapang dan sama besar, tidak hiperemis, tidak ada sekret dan darah,
konka eutrofi, tidak hiperemis, mukosa licin tidak hiperemis, tidak pucat,
tidak livid.
Bibir Bentuk normal, warna merah muda, tidak pucat, tidak sianosis, tidak tampak
kering, kulit disekitar bibir normal, trismus (-).
Lidah Ukuran dan bentuk lidah normal (normoglosia), papil atrofi (-), lidah kotor (-
), tremor (-)
Mukosa
mulut dan
palatum
Mukosa mulut warna merah muda, tidak kering, palatum utuh, tanpa bercak,
stomatitis apthae (-)
Uvula,
faring, tonsil
Uvula di tengah, berwarna merah muda, tidak hiperemis, T1-T1tenang,
detritus (-), kripta tidak melebar, dinding mukosa faring tidak hiperemis,PND
(-)
Bau napas Tidak tercium bau napas yang khas
Leher Bentuk dan ukuran normal, gerakan normal, kaku kuduk (-)
KGB Tidak ada pembesaran KGB, JVP 5-2 cmH
2
O
Arteri carotis Arteri carotis tidak tampak berdenyut, pada perabaan denyutnya teraba
reguler, sama kuat,simetris kiri-kanan, bruit (-)
Trakea Trakea di tengah, deviasi(-), tidak teraba massa, tracheal tug (-)

IV. Pemeriksaan Thorax
Inspeksi dada Dari depan: bentuk thoraks normal, simetris mengembang saat inspirasi
dan mengempis saat ekspirasi, tidak ada yang tertinggal.
Warna kulit sawo matang, tidak ikterik, tidak pucat, tidak sianosis,roseoles
spot (-), tidak tampak adanya efloresensi yang bermakna, tidak ada dilatasi
vena, spider nervi (-).
Tulang dada normal, mendatar, tidak cekung dan tidak menonjol
Tulang iga normal, tidak terlalu vertikal dan tidak terlalu horizontal
Sela iga tidak melebar dan menyempit, tidak tampak adanya retraksi dan
tidak tampak gerakan otot-otot bantu pernapasan.
Tidak tampak pulsasi abnormal, tidak tampak pulsasi ictus cordis.
Inspeksi dada
saat napas
Gerakan dada pasien simetris kiri-kanan saat bernapas, tidak ada
hemithorax yang tertinggal, mengembang saat inspirasi dan mengempir
saat ekspirasi
Inspeksi buah
dada
Buah dada simetris sama besar kiri dan kanan, tidak tampak massa /
benjolan, areola mamae sepasang, simetris, warna coklat muda, papila
mamae sepasang, simetris, tidak ada retraksi, tidak tampak mengeluarkan
sekret, tidak tampak efloresensi bermakna
Jantung Irama teratur, SI dan SII pada keempat katup jantung reguler, murmur (-),
gallop (-), suara jantung tambahan (-), tidak terdapat ejection sound, split
(-).
Paru Suara napas paru kiri-kanan didapatkan suara napas vesikuler. Ronki -/-.
Wheezing -/-, slam -/-

V. Pemeriksaan Abdomen
Inspeksi
abdomen
Bentuk abdomen datar, Warna kulit sawo matang, tidak pucat, tidak
ikterik, tidak sianosis, spider nervi(-), roseola spot (-), tidak tampak
adanya efloresensi yang bermakna, kulit perut tidak keriput, tidak ada
dilatasi vena, Shagging of the Flank (-), massa (-).
Auskultasi
abdomen
Bising usus pasien dalam batas normal, dalam perhitungan 1 menit
terdengar adanya bising usus 6x
Tidak terdengar arterial bruit maupun venous hum.
Perkusi abdomen Pada keempat kuadran abdomen didapatkan suara timpani, shifting
dullness (-)
Palpasi abdomen Dinding abdomen supel, tidak teraba massa, defense muscular (-), turgor
kulit langsung kembali dengan cepat.
Nyeri tekan kesan (-), nyeri lepas kesan (-)
Hepar teraba lobus kanan 2 jari di bawah arcus costae, lobus kiri 1 jari
bawah processus xyphoideus konsistensi kenyal, tepi tajam, permukaan
rata, tidak berbenjol benjol, nyeri tekan (+), Lien tidak teraba,
Ballotement ginjal bilateral (-), Murphys sign (-)
Tidak terasa adanya getaran cairan / undulasi
Hepatojugular refleks (-).

VI. PemeriksaanEkstremitas
Inspeksi
ekstremitas atas
Bentuk normal, simetris, tidak ada deformitas, proporsional terhadap
bentuk tubuh pasien.
Kulit sawo matang, tidak pucat, tidak ikterik, tidak sianosis, tidak tampak
efloresensi.
Jari-jari: jumlah lengkap, tidak ada deformitas, clubbing finger (-).
Kuku: warna merah muda, tidak pucat, tidak ikterik, tidak sianosis,
splinter hemoragik (-), CRT < 3 detik.
Telapak tangan warna pink, tidak pucat, tidak ikterik, tidak sianosis,
tidak tampak palmar eritema.
Tidak tampak oedem pada keempat ekstremitas dan tidak ada
pembengkakan sendi, tidak ada atrofi otot, tidak ada gerakan involunter,
kordinasi gerak baik, kaku sendi (-).
Rumple Leed (+)
Palpasi kulit dan Akral hangat pada keempat ekstremitas, kelembaban baik dan tidak nyeri
otot ekstremitas
atas
tekan, pitting oedema (-), tidak ada atrofi otot, tonus otot statis dan
dinamis baik, kekuatan otot baik bernilai 5, tidak ada rigiditas dan
spastisitas, flapping tremor (-), intentional tremor (-)
Refleks fisiologis Refleks biseps ++/++, refleks triceps ++/++
Inspeksi
ekstremitas
bawah
Bentuk normal, simetris, tidak ada deformitas, proporsional terhadap
tubuh.
Kulit sawo matang, tidak pucat, tidak ikterik, tidak sianosis, tidak tampak
efloresensi yang bermakna.
Jari-jari jumlah lengkap, tidak ada deformitas.
Kuku warna merah muda, tidak pucat, tidak ikterik, tidak sianosis.
Telapak kaki warna pink, tidak pucat, tidak ikterik, tidak sianosis, tidak
ada eritem, tidak ada ulkus, tidak ada kalus, tidak ada clavus.
Tidak tampak oedema pada kedua tungkai bawah, tidak ada gerak
involunter, tidak ada pembengkakan sendi maupun atrofi.
Kekuatan otot baik, koordinasi gerak baik.
Palpasi kulit dan
otot ekstremitas
bawah
Suhu teraba hangat, kelembaban baik dan tidak nyeri, pitting oedem(-),
tidak ada atrofi otot, tonus stasis dan dinamis baik, tidak ada rigiditas dan
spastisitas.

PEMERIKSAAN PENUNJANG
Laboratorium (22 Agustus 2014)
Pemeriksaan Hasil Nilai Normal Satuan
Darah Lengkap
Hemoglobin 11,4 11,0 16,5 g/dl
Eritosit 4,28 3,8 5,8 10
6
/l
Hematokrit 31,2 35,0 50,0 %
MCV 72,9 80,0 97,0 fL
MCH 26,6 26,5 33,5 Pg
MCHC 36,5 31,5 35,0 g/dl
RDW-CV 14,0 10,0 15,0 %
Leukosit 7.57 4 11 10
3
/l
Eusinofil 1.2 0 5 %
Basofil 0,5 0 1 %
Neutrofil 10.0 46 75 %
Lymph 75.6 17 48 %
Monosit 12.7 4 10 %
Platelet 77 150 450 10
3
/l
PDW 13.2 10,0 18,0 fL
MPV 10,6 6,5 11,0 fL

25 Agustus 2014
Pemeriksaan Dengue Blood didapatkan hasil IgM Dengue (-), IgG Dengue (+).
RESUME
Pasien seorang anak laki laki berusia 2 tahun 4 bulan datang ke RSOB-BP dengan keluhan
demam naik turun sejak 5 hari sebelum masuk rumah sakit. Demam timbul mendadak pagi
hari. Demam naik terutama saat sore hari dan turun sampai dengan normal saat pagi hari.
Pada hari keempat sejak demam pertama, OS sudah tidak demam lagi. Kejang pertama kali
dialami OS saat demam hari pertama. Kejang timbul 10 menit setelah OS demam. Kejang
berlangsung 10 menit. Kejang terjadi pada seluruh badan.
Saat kejang, mata OS mendelik ke atas, kedua telapak tangan OS dalam keadaan
menggenggam, kedua kaki kaku, tidak kelojotan, tidak keluar busa, tidak tampak kebiruan
pada bibir, dan setelah kejang OS langsung membuka mata. OS baru sadar penuh setelah
dibawa ke bidan. Kejang tidak berulang pada hari berikutnya. Pada demam hari kelima, OS
sudah tidak demam, namun lemas dan sulit makan minum. OS dibawa ke klinik dan
dinyatakan demam berdarah setelah dilakukan pemeriksaan darah sehingga OS dirujuk ke
RSBP-OB untuk dirawat.
Pada pemeriksaan fisik didapatkan, kesadaran kompos mentis, tampak sakit ringan. Tanda
vital yaitu nadi 112 x / menit, suhu 36,6C, dan pernapasan 32 x / menit, berat badan 10 kg.
Pada pemeriksaan laboratorium darah didapatkan neutrofil 10.0%, limfosit 75.6%, monosit
12,7%, Trombositopenia 77.000/uL, IgG Dengue (+).

DIAGNOSIS KERJA
DBD derajat 1
Kejang Demam Sederhana

PENATALAKSANAAN
Tirah Baring
Banyak minum dan diet lunak tanpa sayur 1200 kalori
IVFD KaEN 4B 40 tpm (mikro)
Paracetamol pulv. 100mg (k/p)
Diazepam supp. 10mg (k/p bila kejang)
PROGNOSIS
Ad Vitam : ad bonam
Ad Fungtionam : ad bonam
Ad Sanationam : dubia ad malam

FOLLOW UP
23 Agustus 2014
(perawatan hari kedua)
25 Agustus 2014
(perawatan hari ketiga)
S




O





Demam hari ke-6 (-), makan (+),
minum (+), rasa haus berlebih (-),
kembung (-), BAK (+) banyak tidak
pekat, BAB 1x dengan konsistensi
padat, nyeri perut (-), kejang (-)
CM, TSR, kooperatif
Nadi : 114 x / menit
Suhu : 36,7 c
RR : 38 x / menit
Kepala : normosefali
Mata : CP -/-, SI -/-, cekung (-)
Demam hari ke-8 (-), muntah (-),
makan (+), minum (+), kembung(-),
BAK(+) , BAB(+) konsistensi
padat, nyeri perut (-), kejang (-),
lemas (-)
CM, TSR, kooperatif
Nadi : 112 x / menit
Suhu : 37 c
RR : 32 x / menit
Kepala : normosefali
Mata : CP -/-, SI -/-, cekung (-)










A

P
Cor : S1, SII reguler, murmur (-),
gallop (-)
Pulmo : SN Verkuler +/+, ronkhi -/-
, wheezing -/-, slam -/-
Abdomen : tampak buncit, mass (-),
supel, turgor baik, BU (+) 6x/menit.
Ekstremitas : akral hangat (+),
oedem (-) pada keempat extremitas,
CRT<2 detik

DHF grade 1 (H+7)
Kejang demam sederhana
Mobilisasi gerak bebas
Banyak minum dan diet
lunak tanpa sayur 1200
kalori
IVFD KaEN 4B 40 tpm
(mikro)
Paracetamol pulv. 100mg
(k/p)
Diazepam supp. 10mg (k/p
bila kejang)

Cor : S1, SII reguler, murmur (-),
gallop (-)
Pulmo : SN Verkuler +/+, ronkhi -/-,
wheezing -/-, slam -/-
Abdomen : tampak buncit, mass (-),
supel, turgor baik, supel, BU (+)
5x/menit
Ekstremitas : akral hangat (+),
oedem (-), CRT <2 detik
IgM Dengue (-), IgG Dengue (+)
DHF grade 1 (H+9)
Kejang demam sederhana
Mobilisasi gerak bebas
Banyak minum dan diet
lunak tanpa sayur 1200 kalori
IVFD KaEN 4B 40 tpm
(mikro)
Paracetamol pulv. 100mg
(k/p)
Diazepam supp. 10mg (k/p
bila kejang)







BAB III
ANALISA KASUS
1. DBD Derajat 1
Dasar Diagnosis
Kriteria diagnosis demam berdarah Dengue (DBD) menurut WHO adalah
berdasarkan klinis dan hasil pemeriksaan laboratorium. Penegakkan diagnosis
berdasarkan dua gejala klinis ditambah pemenuhan satu kriteria hasil laboratorium.
1
Gejala klinis yang harus ada pada demam berdarah Dengue, yaitu:
1

Demam tinggi mendadak tanpa sebab yang jelas, berlangsung terus menerus
2-7 hari.
Terdapat manifestasi perdarahan ditandai dengan:
o Uji bending positif
o Petekie, ekimosis, purpura
o Perdarahan mukosa, epistaksis, perdarahan gusi
o Hematemesis dan atau melena
Pembesaran hati
Syok, ditandai nadi cepat dan lemah sampai tidak teraba, penyempitan tekanan
nadi (20 mmHg), hipotensi sampai tidak terukur, kaki dan tangan dingin,
kulit lembab, capillary refill time memanjang (>2detik) dan pasien tampak
gelisah.
Laboratorium:
1

Trombositopenia (100.000/uL)
Adanya kebocoran plasma karena peningkatan permeabilitas kapiler,
dengan manifestasi, sbb:
o Peningkatan hematokrit 20% dari nilai standar
o Penurunan hematokrit 20%, setelah mendapat terapi cairan
o Efusi pleura/pericardial, asites, hipoproteinemia

DBD merupakan penyakit demam berat akibat infeksi virus Dengue yang
termasuk kelompok B Anthropod Borne Virus (Arbovirus), ditandai oleh
permeabilitas kapiler, kelainan homeostasis dan pada kasus berat, sindrom syok
kehilangan protein.
2
Virus Dengue merupakan virus RNA, family Flaviridae yang
terdiri atas serotype DEN1- DEN4.
3
Demam berdarah banyak ditemukan di Negara tropis dan subtropics di seluruh
Dunia.
4
DBD yang diobati dengan benar menurunkan angka mortalitas menjadi 2-
5%, sedangkan DBD yang tidak diobati dengan benar akan menaikkan angka
mortalitas menjadi 50%.
DBD terjadi akibat infeksi virus Dengue. Patofisiologi DBD masih belum
diketahui secara pasti. Salah satu hipotesis yang dipakai adalah infeksi heterolog
sekunder, atau dapat dikatakan sebagai gigitan nyamuk Aedes yang kedua kali
dengan serotype yang berbeda dapat menyebabkan infeksi yang berat.
2
Berikut
merupakan skema patofisiologi DBD:





















Gejala klinis yang ditemukan pada pasien yang sesuai dengan Kriteria
diagnosis WHO adalah demam mendadak tanpa sebab yang jelas selama 3 hari, uji
bendung (+), dan hepatomegali 2 jari di bawah arcus costae untuk lobus kanan dan 1
jari di bawah processus xyphoideus untuk lobus kiri, konsitensi kenyal, permukaan
rata, tidak berbenjol-benjol, tepi tajam. Demam pada pasien turun pada hari keempat
merupakan karakteristik yang sesuai dengan demam pada DBD yaitu demam bifasik.
Pada DBD dan demam Dengue (DD) sering ditemukan hepatomegali
2,3
,
bahkan hepatomegali yang terjadi dapat mencapai 4-6 cm di bawah tepi costa,
konsistensi keras, dan agak nyeri ketika ditekan.
2
Hepatomegali Pada DBD dan
Dengue syock syndrome(DSS) dapat disertai peningkatan enzim hati, yang akan
kembali normal 14-21 hari setelah infeksi.
3
Virus Dengue yang difagositosis di
perifer saat terjadi viraemia oleh sel sel (antigen presenting cell) APC mencapai
hepatosit dan bereplikasi di dalam sel hepatosit dan sel Kupffer.
3
Proses ini
menyebabkan terjadinya hepatomegali dan peningkatan enzim liver akibat destruksi
hepatosit yang terjadi.
Pemeriksaan laboratorium yang sesuai dengan criteria diagnosis DBD menurut
WHO adalah trombositopenia dengan jumlah trombosit 77.000/uL pada tanggal 22
Agustus 2014. Trombositopenia terjadi akibat agregasi trombosit yang disebabkan
oleh aktivasi adenosine diphospat (ADP) akibat melekatnya antigen-antibodi
kompleks pada membran trombosit.
4
Trombosit yang saling melekat mengakibatkan
destruksi trombosit oleh retikuloendotelial system (RES) meningkat.
2

Pemeriksaan lain yang mendukung diagnosis DBD adalah pemeriksaan
Dengue blood tanggal 25 Agustus 2014 dengan hasil IgG Dengue (+). Pemeriksaan
serologis pada DBD dibagi menjadi dua, yaitu: NS-1 yang diperiksa pada demam
hari pertama sampai demam hari kelima dan Dengue blood (IgM dan IgG Dengue)
yang diperiksa mulai hari kelima demam.
5
IgM menandakan adanya infeksi akut.
IgM tetap bernilai positif sampai demam hari kedelapan atau kesepuluh, setelahnya
IgM akan dikonversi menjadi IgG.
5


.







Gambar 3. Waktu Ideal Pemeriksaan Serologis Pada DBD
5

Berdasarkan criteria WHO mengenai DBD, maka pasien termasuk DBD
derajat 1, karena pasien tidak didapatkan tanda tanda perdarahan dan syok. Berikut
merupakan derajat DBD menurut WHO:
1
Derajat I : Demam disertai gejala tidak khas dan satu-satunya manifestasi
perdarahan ialah uji bendung.
Derajat II : Seperti derajat I, disertai perdarahan spontan di kulit dan
peradarahan lain.
Derajat III : Didapatkan kegagalan sirkulasi, yaitu nadi cepat dan lambat,
tekanan nadi menurun (20 mmHg) atau hipotensi, sianosis di sekitar mulut, kulit
dingin dan lembap dan anak tampak gelisah.
Derajat IV : syok berat (profound syock), nadi tidak dapat diraba dan tekanan
darah tidak terukur.

Penatalaksanan
Penatalaksanaan DBD menurut WHO dibedakan menjadi dua, yaitu
tatalaksana DBD dengan tanpa syok dan DBD syok.
1
Semua pasien DBD dirawat di
rumah sakit karena potensi syok yang dapat berakibat fatal. Berikut merupakan
tatalaksana DBD tanpa syok:
1. Minum banyak larutan oralit atau jus buah, air tajin, sirup, susu, untuk
mengganti cairan yang hilang akibat kebocoran plasma, demam, muntah/diare.
2. Berikan parasetamol bila demam. Jangan berikan asetosal atau ibuprofen
karena obat obatan ini dapat merangsang terjadinya perdarahan.
3. Berikan infuse sesuai dengan dehidrasi sedang:
a. Berikan hanya larutan isotonik seperti Ringer laktat/asetat
b. Kebutuhan cairan parenteral
i. Berat badan <15kg :7ml/kgBB/jam
ii. Berat badan 15-40kg : 5ml/kgBB/jam
iii. Berat badan >40kg : 3ml/kgBB/jam
c. Pantau tanda vital dan diuresis setiap jam, serta periksa laboratorium
(hematokrit, trombosit, leukosit, dan hemoglobin) tiap 6 jam.
d. Apabila terjadi penurunan hematokrit dan klinis membaik, turunkan
jumlah cairan secara bertahap sampai keadaan stabil. Cairan intravena
biasanya hanya memerlukan waktu 24-48 jam sejak kebocoran plasma
pembuluh kapiler spontan setelah pemberian cairan.
4. Apabila terjadi perburukan klinis berikan tatalaksana sesuai dengan
tatalaksana syok terkompensasi.
Berikut merupakan tatalaksana DBD dengan syok:
1

1. Perlakukan hal ini sebagai gawat darurat. Berikan oksigen 2-4 L/menit secara
nasal.
2. Berikan 20 ml/kg larutan kristaloid seperti Ringer laktat/ asetat secepatnya.
3. Jika tidak menunjukkan perbaikan klinis, ulangi pemberian kristaloid
20ml/kgbb secepatnya (maksimal 30 menit) atau pertimbangkan pemberian
koloid 10-20 ml/kgBB/jam maksimal 30 ml/kgBB/24 jam.
4. Jika tidak ada perbaikan klinis tetapi hematokrit dan hemoglobin menurun
pertimbangkan terjadinya perdarahan tersembunyi; berikan transfusi
darah/komponen.
5. Jika terdapat perbaikan klinis (pengisian kapiler dan perfusi perifer mulai
membaik, tekanan nadi melebar), jumlah cairan dikurangi hingga
10ml/kgBB/jam dalam 2-4 jam dan secara bertahap diturunkan tiap 4-6 jam
sesuai kondisi klinis dan laboratorium.
6. Dalam banyak kasus, cairan intravena dapat dihentikan setelah 36-48 jam.
Ingatlah banyak kematian terjadi karena pemberian cairan yang terlalu banyak
daripada pemberian yang terlalu sedikit.
Pemantauan anak dengan DBD adalah minimal empat kali sehari dalam
penilaian tanda vital dan minimal sekali sehari dalam penilaian hematokrit untuk
DBD tanpa syok. Apabila DBD disertai syok, maka pemeriksaan tanda vital
dilakukan setiap jam sampai pasien stabil dan pemeriksaan hematokrit dilakukan
setiap 6 jam.
1

Prognosis
Prognosis ad vitam pada pasien ini bonam karena pasien telah melewati masa krisis
pada DBD, yaitu pada perawatan demam hari ketujuh pasien tidak mengalami DSS
yang dapat berakibat fatal. Prognosis ad functionam pasien ini adalah ad bonam
karena DBD pada pasien merupakan DBD tanpa komplikasi, sehingga setelah
sembuh nantinya, organ-organ akan berfungsi optimal seperti sebelum sakit.
Prognosis ad sanationam pasien ini dubia ad malam karena pasien tinggal di daerah
endemis demam berdarah dan ditemukannya kasus demam berdarah di lingkungan
tempat tinggal pasien.

2. Kejang Demam Sederhana
Dasar Diagnosis
Kejang demam merupakan bangkitan kejang yang disebabkan peningkatan
suhu (suhu rektal > 38C) yang terjadi akibat proses ekstrakranium.
6
Kejang pada bayi
kurang dari 1 bulan tidak termasuk dalam kejang demam.
7
Kejang demam sederhana
adalah kejang yang berlangsung kurang dari 15 menit, bersifat umum serta tidak
berulang dalam 24 jam. Kejang demam sederhana merupakan 80% diantara seluruh
kejang demam.
Kejang demam kompleks jika kejang berlangsung lebih dari 15 menit, bersifat
fokal atau parsial 1 sisi kejang umum didahului kejang fokal dan berulang atau lebih
dari 1 kali dalam 24 jam.
7
Diagnosis kejang demam sederhana berdasarkan Kriteria Livingstone,
meliputi:
1. Umur anak ketika kejang antara 6 bulan-6 tahun
2. Kejang berlangsung hanya sebentar saja, tidak lebih dari 15 menit
3. Kejang bersifat umum
4. Kejang timbul 16 jam pertama setelah timbulnya demam
5. Pemeriksaan saraf sebelum dan sesudah kejang normal
6. Pemeriksaan EEG yang dibuat setidaknya 1 minggu sesudah suhu normal tidak
menunjukkan kelainan
7. Frekuensi bangkitan kejang dalam satu tahun tidak melebihi 4 kali
Kejang pada pasien merupakan kejang pertama didahului oleh demam. Kejang
berlangsung 10 menit. Kejang generalis tonik-klonik, namun tidak terdapat riwayat
kejang dalam keluarga pasien. Tidak ditemukan defisit neurologis atau neurologis
yang abnormal pada pasien.

Penatalaksanan
Fokus penatalaksanaan pasien yang datang dengan kejang demam adalah
memastikan kejang pada pasien merupakan kejang demam, jenis kejang demam pada
pasien, menelusuri penyebab demam sebagai pencetus kejang pada pasien, dan
menyingkirkan kemungkinan meningitis sebagai penyebab kejang.
6
Meningitis dapat
dieliminasi melalui pemeriksaan rangsang meningeal (kaku kuduk, Laseque, Kerniq,
Brudzinki I dan II). Pada bayi suit untuk menilai meningitis sehingga diperlukan
pemeriksaan lumbal pungsi.
7
Pungsi lumbal dianjurkan pada:
Bayi kurang dari 12 bulan : sangat dianjurkan
Bayi 12 18 bulan : dianjurkan
Bayi >18 bulan : tidak dianjurkan
Pemeriksaan EEG hanya bila kejang demam pada pasien merupakan kejang
demam atipik (kejang pada usia kurang dari 9 bulan atau lebih dari 5 tahun, kejang
demam berulang dalam beberapa menit sampai jam, kejang berlangsung selama 15
menit, kejang fokal).
6
Pemeriksaa Ct-scan atau MRI cranial hanya bila ada indikasi
kelainan intrakaranial sebagai penyebab kejang, yaitu: kelainan neurologi fokal
menetap (hemiparesis) atau kemungkinan adanya lesi struktural di otak (mikrosefali,
spastisitas), terdapat tanda peningkatan intrakranial (kesadaran menurun, muntah
berulang, UUB menonjol, paresis nervus VI, edema papil).
7

Pemberian paracetamol sebagai antipiretik dengan dosis 10-15mg/kgBB/kali
setiap 4 kali sehari atau ibuprofen 5-10mg/kgBB/kali, 3-4 kali sehari.
7
Anti kejang
dapat diberikan sebagai profilaksi selama 2-3 hari.
6
Diazepam dengan dosis
0.3mg/kgBB setiap 8 jam atau diazepam rectal 0.5mg/kgBB setiap 8 jam pada saat
suhu tubuh >38.5C.
Pengobatan anti kejang jangka panjang hanya diberikan bila pasien kejang
>15menit, kelainan neurologi yang nyata sebelum/sesudah kejang: hemiparesis,
paresis Todd, palsi cerebral, retardasi mental, hidrosefalus, dan kejang fokal. Apabila
kejang 2 kali dalam 24 jam, kejang demam pada bayi kurang dari 12 bulan, dan
kejang demam 4 kali per tahun.
8
Pengobatan jangka panjang yang dapat digunakan
adalah fenobarbital (3-4mg/kgBB/hari dibagi 1-2 dosis) atau asam valproat (15-
40mg/kgBB dibagi 2-3 dosis). Pengobatan diberikan selama 1 tahun bebas kejang,
kemudian dihentikan secara bertahap selama 1-2 bulan.
Kejang demam dirawat apabila kejang demam kompleks, terjadi pada usia < 6 bulan,
hiperpireksia, kejang demam pertama kali, terdapat kelainan neurologis.
Pada pasien diberikan terapi paracetamol sebagai antipiretik untuk mencegah
bangkitan kejang akibat peningkatan suhu tubuh. Tidak diberikan terapi anti kejang
karena suhu pasien setelah dirawat tidak melebihi 38.5C, kejang tidak berulang,
kejang berlangsung < 15 menit, dan tidak

terdapat kelainan neurologis sesudah kejang.
Prognosis
Berulangnya kejang demam dipengaruhi oleh faktor - faktor diantaranya:
riwayat kejang demam dalam keluarga, kejang demam yang terjadi pada usia kurang
dari 12 bulan, temperatur yang rendah saat kejang, cepatnya terjadi kejang setelah
demam.
7
Jika semua faktor ada, maka angka kekambuhan sebesar 80%, sedangkan
apabila tidak terdapat faktor-faktor tersebut, maka angka kekambuhan sebesar 10-
15%.
7
Kejang demam dengan faktor resiko, seperti: riwayat epilepsi pada keluarga,
kejang demam fokal, kejang demam sebelum usia 9 bulan, kejang demam atipik,
pemeriksaan neurologis abnormal meningkatkan insidensi epilepsi 9%. Bila tanpa
faktor resiko, maka insidensi sebesar 1%.
6













DAFTAR PUSTAKA
1. World Health Organization. Pocket Book of Hospital Care for Children. Jakarta:
WHO Indonesia, 2008.p.162-7.
2. Behrman RE, Kliegman, Arvin. Demam Berdarah Dengue. Nelson Ilmu Kesehatan
Anak. 19
th
editions. Philadelphia: W.B. Saunders Company, 2011.p. 1147-50.
3. Seneviratne SL, Malavige GN, Silva HJ. Pathogenesis of Liver Involvement During
Dengue Viral Infection. Srilangka: Elsevier. 2006.p. 608-14.
4. Shepherd SM. Dengue. Available at: http://emedicine.medscape.com/article/215840-
overview#aw2aab6b2b6. Accessed on August, 29
th
2014.
5. Laboratory Guidance and Diagnostic Testing. Available:
http://www.cdc.gov/dengue/clinicallab/laboratory.html. accessed on August, 29
th

2014.
6. Behrman RE, Kliegman, Arvin. Kejang Demam. Nelson Ilmu Kesehatan Anak. 19
h

editions. Philadelphia: W.B. Saunders Company, 2011.p. 2017-18.
7. Pudjiadi AH, Hegar B, Handryastuti S, Idris NS, et al. Pedoman Pelayanan Medis
Ikatan Dokter Anak Indonesia. IDAI. 2009. P. 150-57.
8. Sondheimer JM. Current Essentials Pediatri Diagnosis dan Terapi. Jakarta: Karisma
Publishing Group; 2013. p. 136.