Anda di halaman 1dari 34

LAPORAN PRAKTIKUM FITOFARMASI

FORMULASI KRIM KENCUR


(Kaempferia galanga Linn)


NAMA KELOMPOK C- 2 :

NIKMATUR ROHMAH 112210101044
RATNANING S. 112210101048
PUTRI EKA M. 112210101050
IMELDA ROSA I. 112210101056
NURUL FARIDAH 112210101064
BINAR INDAH M. 112210101068
KRISTINE DWI P. 112210101070
PUTRI AYU A. 112210101072
NIDYA ANGGARSASI 112210101074
YORA UTAMI 112210101076




BAGIAN BIOLOGI FARMASI
FAKULTAS FARMASI UNIVERSITAS JEMBER
2014



BAB I. PENDAHULUAN

Indonesia memiliki ribuan tumbuhan yang tersebar di berbagai daerah, dimana
keanekaragaman hayati yang ada tersebut dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku obat-
obat baru yang tradisional dan efektif. Masyarakat Indonesia telah mengenal dan memakai
obat tradisional sejak dahulu kala untuk mengobati berbagai macam penyakit. Sekarang ini
dengan semakin meningkatnya angka resistensi terhadap berbagai jenis obat maka bisa
dijadikan sebagai salah satu landasan untuk menggali kembali penggunaan obat tadisional.
Minyak atsiri dari beberapa tumbuhan memiliki sifat aktif biologis sebagai antibakteri dan
antijamur. Sehingga dapat dimanfaatkan sebagai antibiotik alami dan bahan pengawet pada
makanan. Oleh karena itu tidak heran bila minyak atsiri mampu menarik perhatian dunia.
Salah satu tanaman yang memiliki kandungan minyak atsiri, mudah tumbuh dan banyak
ditanam di Indonesia adalah kencur. Selain itu rimpang kencur juga memiliki bahan aktif
lain yang diduga mampu memiliki ativitas sebagai antimikroba (Miranti, L. 2009.)
Kencur (Kaempferia galanga L.) merupakan salah satu dari lima jenis tumbuhan
yang dikembangkan sebagai tanaman obat asli Indonesia. Kencur merupakan tanaman obat
yang bernilai ekonomis cukup tinggi sehingga banyak dibudidayakan. Bagian rimpangnya
digunakan sebagai bahan baku industri obat tradisional, bumbu dapur, bahan makanan,
maupun minuman penyegar lainnya (Rostiana dkk., 2003).
Kencur bersama dengan temulawak, kunyit dan jahe termasuk dalam kelompok
rimpang-rimpangan (Zingiberaceae) sudah sejak lama digunakan sebagai obat tradisional
dan diklaim bisa menyembuhkan berbagai macam jenis penyakit. Berdasarkan pada
penelitian yang telah dilakukan sebelumnya, semua tanaman tersebut di atas memiliki efek
sebagai antibakteri (Winarti, C. 2005)
Kencur (Kaempferia galanga Linn) telah di kenal masyarakat Indonesia baik
sebagai tanaman obat maupun sebagai bumbu masakan. Sebagai obat kencur yang dipakai
untuk mengobati penyakit diantaranya batuk, radang lambung dan bengkak dan penyakit
tersebut dikaitkan dengan sistem imun (Astuti, Y. 1994)
Berbagai penelitian efek biologi kencur dengan pelarut air telah dilakukan yaitu
sebagai anti bakteri dan efek imuno-modulasi ekstrak air dan metanol terhadap
kemampuan fagositosis secara in vitro. Penelitian efek imunomodulasi tanaman kencur
dilanjutkan dengan melihat efek senyawa aktif kencur yaitu senyawa p-metoksi sinamat
etil ester dan flavanoid terhadap kemampuan fagositosis secara in vitro dan in vivo. Hasil
penelitian diketahui bahwa senyawa p-metoksi sinamat dan flavanoid dapat menurunkan
kemampuan fagositosis khususnya proses penelanan baik secara in vitro maupun secara in
vivo jika dibandingkan dengan kelompok kontrol. Penurunan kemampuan fagositosis dari
kedua senyawa tersebut mungkin dapat dikaitkan dengan peng-gunaan obat imnosupresi
diantaranya kortikosteroid, diketahui bahwa kortikos-teroid dapat mengurangi kemampuan
fagositosis pada tahap penelanan, migrasi dan mikrobisidal. Untuk itu dilanjutkan
penelitian efek senyawa-senyawa flava-noid terhadap kemampuan mikrobi-sidal atau intra
seluler killing sel netrofil secara in vitro (Sugondo, U. dkk. 1986 )
Rimpang kencur (Kaempferia galanga L.) sudah dikenal luas di masyarakat baik
sebagai bumbu makanan atau untuk pengobatan, diantaranya adalah batuk, mual, bengkak,
bisul dan anti toksin seperti keracunan tempe bongkrek dan jamur. Selain itu minuman
beras kencur berkhasiat untuk menambah daya tahan tubuh, menghilangkan masuk angin,
dan kelelahan, dengan dicampur minyak kelapa atau alkohol digunakan untuk mengurut
kaki keseleo atau mengencangkan urat kaki. Komponen yang terkandung di dalamnya
antara lain saponin, flavonoid, polifenol dan minyak atsiri. Tanaman ini termasuk kelas
monocotyledonae, bangsa Zingiberales, suku Zingiberaceae dan, marga Kaempferia
(Winarto, 2007).
Selain itu kencur (Kaempferia galanga L) sebagai salah satu tanaman obat
memiliki prospek yang baik untuk dikembangkan. Salah satu alasan pengembangannya
adalah kandungan bahan aktifnya yang beragam dan cukup tinggi sehingga mampu
mencegah dan mengobati berbagai penyakit. Berdasarkan penelitian Inayatullah (1997)
tanaman kencur mempunyai kandungan kimia minyak atsiri 2,4-3,9% yang terdiri atas etil-
p-metoksisinamat 30% (EPMS). EPMS merupakan turunan sinamat yang dapat berfungsi
sebagai tabir surya.









BAB II. TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Krim
Krim adalah sediaan setengah padat berupa emulsi kental mengandung tidak kurang
dari 60% air, dimaksudkan untuk pemakaian luar. Tipe krim ada dua yaitu krim tipe air
minyak (A/M) dan krim minyak air (M/A). untuk membuat krim digunakan zat
pengemulsi. Umumnya berupa surfaktan-surfaktan anionik, kationik, dan nonionik (Anief,
2000).
Menurut (Ditjen POM,1995) krim adalah bentuk sediaan setengah padat
mengandung satu atau lebih bahan obat terlarut atau terdispersi dalam bahan dasar yang
sesuai. Istilah ini secara tradisional telah digunakan untuk sediaan setengah padat yang
mempunyai konsistensi relatif cair diformulasi sebagai emulsi air dalam minyak atau
minyak dalam air. Sekarang ini batasan tersebut lebih diarahkan untuk produk yang terdiri
dari emulsi minyak dalam air atau disperse mikrokristal asam-asam lemak atau alkohol
berantai panjang dalam air, yang dapat dicuci dengan air dan lebih ditujukan untuk
penggunaan kosmetika dan estetika. Krim dapat digunakan untuk pemberian obat melalui
vaginal.
Krim disebut juga salep yang banyak mengandung air, sehingga memberikan
perasaan sejuk bila dioleskan pada kulit. Sebagai vehikulum dapat dipakai emulsi kental
berupa emulsi M/A atau emulsi A/M. Krim lebih mudah dibersihkan dari kulit dari pada
salep yang menggunakan vaseline sebagai vehikulum (Joenoes, 1990).

2.1.1 Kelebihan dan kekurangan sediaan krim
Kelebihan sediaan krim, yaitu:
1. Mudah menyebar rata
2. Praktis
3. Mudah dibersihkan atau dicuci
4. Cara kerja berlangsung pada jaringan setempat
5. Tidak lengket terutama tipe m/a
6. Memberikan rasa dingin (cold cream) berupa tipe a/m
7. Digunakan sebagai kosmetik
8. Bahan untuk pemakaian topikal jumlah yang diabsorpsi tidak cukup beracun.

Kekurangan sediaan krim, yaitu:
1. Susah dalam pembuatannya karena pembuatan krim harus dalam keadaan panas.
2. Gampang pecah disebabkan dalam pembuatan formula tidak pas.
3. Mudah kering dan mudah rusak khususnya tipe a/m karena terganggu sistem
campuran terutama disebabkan oleh perubahan suhu dan perubahan komposisi
disebabkan penambahan salah satu fase secara berlebihan.

2.1.2 Vanishing Krim
Vanishing cream adalah sediaan kosmetika yang digunakan untuk maksud
membersihkan, melembabkan dan sebagai alas bedak. Vanishing cream sebagai pelembab
(moisturizing) meninggalkan lapisan berminyak/film pada kulit.

2.2 Kencur
Kencur (Kaempferia galanga L) merupakan tanaman tropis yang banyak tumbuh
diberbagai daerah di Indonesia sebagai tanaman yang dipelihara. Tanaman ini banyak
digunakan sebagai ramuan obat tradisional dan sebagai bumbu dalam masakan sehingga
para petani banyak yang membudidayakan tanaman kencur sebagai hasil pertanian yang
diperdagangkan dalam jumlah yang besar. Bagian dari tanaman kencur yang
diperdagangkan adalah buah akar yang tinggal didalam tanah yang disebut dengan rimpang
kencur atau rizoma (Soeprapto,1986).
Daun kencur berbentuk bulat lebar, tumbuh mendatar diatas permukaan tanah
dengan jumlah daun tiga sampai empat helai. Permukaan daun sebelah atas berwarna hijau
sedangkan sebelah bawah berwarna hijau pucat. Panjang daun berukuran 10 12 cm
dengan lebar 8 10 cm mempunyai sirip daun yang tipis dari pangkal daun tanpa tulang
tulang induk daun yang nyata (Backer,1986).
Rimpang kencur terdapat didalam tanah bergerombol dan bercabang cabang dengan
induk rimpang ditengah. Kulit ari berwarna coklat dan bagian dalam putih berair dengan
aroma yang tajam. Rimpang yang masih muda berwarna putih kekuningan dengan
kandungan air yang lebih banyak dan rimpang yang lebih tua ditumbuhi akar pada ruas
ruas rimpang berwarna putih kekuningan.
Bunga kencur berwarna putih berbau harum terdiri dari empat helai daun mahkota.
Tangkai bunga berdaun kecil sepanjang 2 3 cm, tidak bercabang, dapat tumbuh lebih dari
satiu tangkai, panjang tangkai 5 7 cm berbentuk bulat dan beruas ruas. Putik menonjol
keatas berukuran 1 1,5 cm, tangkai sari berbentk corong pendek.
Berdasarkan ilmu taksonomi, klasifikasi tanaman kencur adalah sebagai berikut :
Kerajaan : Plantae
Devisi : Spermaiophyta
Sub divisi : Angiospermae
Kelas : Monocotyledonae
Ordo : Zingiberales
Famili : Zingiberaceae
Sub famili : Zingiberoideae
Genus : Kaempferia
Spesies : Kaempferia .galanga

Ekstraksi
Ekstrak adalah sediaan kental yang diperoleh dengan mengekstraksi senyawa aktif
dari simplisia nabati atau simplisia hewani menggunakan pelarut yang sesuai, kemudian
semua atau hampir semua pelarut diuapkan dan masa atau serbuk yang tersisa diperlakukan
sedemikian rupa hingga memenuhi standar baku yang telah ditetapkan (Anonim, 1995).
Ekstraksi merupakan proses melarutkan komponen komponen kimia yang
terdapat dalam suatu bahan alam dengan menggunakan pelarut yang sesuai dengan
komponen yang diinginkan. Pemilihan pelarut harus memenuhi kriteria : murah, dan
mudah diperoleh, stabil secara fisika dan kimia, bereaksi netral, tidak mudah menguap dan
tidak mudah terbakar, selektif, tidak mempengaruhi zat berkhasiat, diperbolehkan oleh
peraturan (Harbone, 1996).
Tujuan ekstraksi adalah untuk menarik komponen komponen kimia yang terdapat
dalam bahan alam baik dari tumbuhan, hewan dengan pelarut organik tertentu. Proses
ekstraksi ini berdasarkan pada kemampuan pelarut organik untuk menembus dinding sel
dan masuk dalam rongga sel yang mengandung zat aktif. Zat aktif akan larut dalam pelarut
organik dan karena adanya perbedaan konsentrasi di dalam dan konsentrasi di luar sel,
mengakibatkan terjadinya difusi pelarut oragnik yang mengandung zat aktif ke luar sel.
Proses ini berlangsung terus menerus sampai terjadi keseimbangan konsentrasi zat aktif
di dalam dan di luar sel (Anonim, 1996).

Maserasi
Maserasi adalah salah satu metode ekstraksi atau penyarian zat aktif bahan alam
yang dilakukan dengan cara merendam serbuksimplisia dalam cairan penyari yang sesuai
selama 3 hari pada temperatur kamar dan terlindung dari cahaya. Cairan penyari akan
masuk ke dalam sel melewati dinding sel. Isi sel akan larut karena adanya perbedaan
konsentrasi antara larutan di dalam sel dengan di luar sel. Larutan yang konsentrasinya
tinggi akan terdesak keluar dan diganti oleh cairan penyari dengan konsentrasi rendah
(proses difusi). Peristiwa tersebut berulang sampai terjadi keseimbangan konsentrasi antara
larutan di luar sel dan di dalam sel.
Maserasi dilakukan dengan cara, bahan simplisia yang dihasilkan sesuai dengan
syarat farmakope disatukan dengan bahan pengekstrak, kemudian rendaman tersebut
disimpan terlindung dari cahaya langsung (mencegah terjadi reaksi yang dikatalis cahaya
atau perubahan warna) dan dikocok berulang. Waktu lamanya maserasi berbeda-beda
untuk masingmasing bahan. Farmakope mencantumkan 4-10 hari telah memadai untuk
memungkinkan berlangsungnya proses yang menjadi dasar dari cara ini. Setelah maserasi,
rendaman diperas dengan kain pemeras (Voigt, 1995).
Pada penyarian dengan maserasi, perlu dilakukan pengadukan untuk meratakan
konsentrasi larutan di luar butir serbuk simplisia, sehingga dengan pengadukan tersebut
tetap terjaga perbedaan konsentrasi yang sekecil-kecilnya antara larutan di dalam sel
dengan larutan di luar sel (Anonim, 1986).
Hasil penyaringan dengan cara maserasi perlu dibiarkan selama waktu tertentu.
Waktu tersebut diperlukan untuk mengendapkan zat-zat yang tidak diperlukan tetapi ikut
terlarut dalam cairan penyari seperti malam dan lain-lain (Anonim, 1986).
Keuntungan cara penyarian dengan maserasi adalah cara pengerjaan dan peralatan
yang digunakan sederhana dan mudah diusahakan. Kerugian cara maserasi adalah
pengerjaannya lama dan penyariannya kurang sempurna (Anonim, 1986).

Kromatografi Lapis Tipis (KLT)
Kromatografi lapis tipis (KLT) dikembangkan oleh Izmialoff dan Schraiber
pada tahun 1983. KLT merupakan bentuk kromatografi planar, selain kromatografi kertas
dan elektroforesis. Berbeda dengan kromatografi kolom yang mana fase diamnya diisikan
atau dikemas di dalamnya, pada KLT, fase diamnya berupa lapisan yang seragam
(uniform) pada permukaan bidang datar yang didukung oleh lempengkaca, pelat
aluminium,atau pelat plastik. Meskipun demikian, kromatografi planar ini dapat dikatakan
sebagai bentuk terbuka dari kromatografi kolom. Fase gerak yang dikenal sebagai pelarut
pengembang akan bergerak
sepanjang fase diam karena pengaru kapiler pada pengembangan secara menaik
(ascending),atau karena pengaruhgravitasi pada pengambangan secara menurun
(descending ) (Gandjar dan Rohman, 2007).
Pada dasarnya prinsip pada KLT sama dengan kromatografi kertas hanya KLT
mempunyai kelebihan yang khas dibandingkan dengan kromatografi kertas yaitu
keserbagunaan, kecepatan, dan kepekaannya (Harborne, 1996).
Kromatografi Lapis Tipis (KLT) merupakan metoode kromatografi cair yang paling
sederhana, penggunaannya telah meluas dan diakui merupakan cara pemisahan yang baik.
KLT dapat dipakai dengan dua tujuan. Pertama, dipakai sebagai metode untuk mencapai
hasil kualitatif, kuantitatif, ataupun preparatif. Maksudnya, KLT dapat digunakan untuk
memisahkan berbagai senyawa seperti ion anorganik, kompleks senyawa organik dan
anorganik, dan senyawa organik baik yang terdapat di alam dan senyawa organik sintetik.
Kedua, dipakai untuk menjajaki sistem pelarut dan sistem penyangga yang akan dipakai
pada kromatografi kolom atau kromatografi cair kinerja tinggi/KCKT (Gritter, 1991).
Kromatografi lapis tipis memiliki beberapa keuntungan : (1) kromatografi lapis
tipis banyak digunakan untuk tujuan analisis, (2) identifikasi pemisahan komponen dapat
dilakukan dengan pereaksi warana, fluoresensi, atau dengan radiasi menggunakan sinar
ultra violet, (3) dapat dilakukan elusi secara menaik (ascending), atau dengan cara elusi 2
dimensi, dan (4) ketetapan penentuan kadar akan lebih baik karena komponen yang akan
ditentukan merupakan bercak yang tidak bergerak (Gandjar dan Rohman, 2007).
Selain itu, kelebihan penggunaan kromatografi lapis tipis ialah karena dapat
dihasilkannya pemisahan yang lebih sempurna, kepekaan yang lebih tinggi, cepat dan
mudah dengan menggunakan peralatan yang sederhana dan dapat dilaksanakan lebih cepat.
Kromatografi ini menggunakan lempeng kaca atau plastic yang dilapisi dengan adsoben
berupa serbuk halus dengan ketebalan 0,1 0,25 mm (Sudjadi, 1998).
Perpindahan komponen atau senyawa pada kromatografi ini tergantung pada jenis
pelarut, zat pelarut, zat penyerap dan sifat daya serapnya terhadap masing masing
komponen. Komponen yang larut terbawa oleh fase gerak (cairan pengelusi) melalui
adsorben (fase diam) dengan kecepatan perpindahan yang berbeda. Perbedaan kecepatan
ini dinyatakan dengan Rf (faktor retensi), yaitu perbandingan jarak yang ditempuh oleh
senyawa terlarut dan jarak yang ditempuh pelarut (Adnan, 1997)

Harga Rf berkisar antara 0,1 0,99 dan dipengaruhi oleh beberapa factor antara
lain : pelarut, suhu, struktur kimia dari senyawa yang sedang dipisahkan, sifat dari
penyerap dan derajat aktifitasnya, tebal dan kerataan dari lapisan penyerap, jumlah
cuplikan yang digunakan serta teknik percobaan (Sastrohamidjojo, 2002). Identifikasi
senyawa tak berwarna pada lempeng, biasanya digunakan sinar UV (254 atau 366 nm) dan
reagen semprot (Hostetman dan Marston, 1995).
Akar rimpang kencur adalah bagian yang digunakan sebagai obat. Rimpang kencur
mengandung beberapa senyawa aromatik dan alifatik yang mempunyai potensi cukup besar
untuk dikembangkan menjadi bahan dasar industri kimia dan farmasi, terutama dua
komponen utamanya, yaitu trans-p-metoksi sinamat etil ester dan borneol. Dari isolasi dan
pemurnian ekstrak kasar secara kromatografi diperoleh 6 komponen, dua di antaranya
merupakan komponen utama dan salah satu adalah borneol.
Rimpang kencur mengandung minyak atsiri; dari destilasi uap bahan kering
diperoleh minyak atsiri sebanyak 2.4% - 3.8%. Dari akar ditemukan p-metoksi sinamat
dalam bentuk bebas, terikat sebagai metil dan etil ester, dan sebagai garam kalium. Dari
penelitian dengan AAFS (Atomic Absorption Flame, ometer) diketahui bahwa kencur
mengandung berbagai mineral, seperti: Mg. Fe, Cu, Ca, Na, K, Ag, Pb, Zu, Co. AI, Cd dan
Li.
Etil-p-metoksi sinamat mudah diisolasi dan dimurnikan. Ekstraksi dengan etanol
teknis panas menghasilkan etil-p-metoksi sinamat. Adisi brom pada etil p-metoksi sinamat
dalam pelarut karbon tetraklorida pada suhu 0
o
C, menghasilkan 8-dibromo etil p-metoksi
sinamat sebanyak 80.50%. Reduksi etil p-metoksi sinamat dengan logam natrium dan
etanol kering pada suhu 60
o
C, menghasilkan p-metoksi sinamaldehida sebanyak 2.43%
Telah dilakukan kromatografi lapis tipis dan kromatografi gas-spektrometer massa
pada minyak atsiri berasal dari destilasi uap air, ekstraksi dengan metanol dan
mikrodestilasi tanur tas. Diperoleh beberapa bercak dengan harga Rf dan wama yang
berbeda, sedangkan dengan kromatogram ion total dan spektra massa didapat 9 puncak
utama dengan kemungkinan kandungan kimia tersebut adalah pentadekana dan borneol.
Kencur yang mempunyai kandungan etil p-metoksi trans sinamat yang diduga
sebagai pengeblok kimia anti UV B yang berguna sebagai tabir matahari. Perhitungan
persentase transmisi eritema dan persentase transmisi pigmentasi etil p-metoksi trans
sinamat dikategorikan sebagai "suntan" pada konsentrasi 8 dan 10 mcg/mL. Sedangkan
pada penentuan nilai sun protection factor, etil p-metoksi trans sinamat dapat
dikategorikan: proteksi minimal (2 dan 3 mcg/mL); proteksi sedang (4 mcg/ml); proteksi
ekstra (5 mcg/ml); proteksi maksimum (6 mcg/mL); proteksi ultra (8, 10 dan 12 mcg/mL).
Dengan bertambahnya umur panen kencur, kandungan p-metoksi sinamat etil ester
juga makin meningkat, pada umur panen 5 bulan dihasilkan 0.33%; 7 bulan 0.50% dan 9
bulan 1,00% (Astuti, Yun, dkk.1996)





















BAB III FORMULASI KRIM

JENIS DAN CONTOH BAHAN TAMBAHAN
1. Cethyl Alkohol (Hand Book Of Excipient, Hal 155)
Pemerian: lilin, serpihan putih, butiran, kubus, atau cairan
Kelarutan: mudah larut dalam etanol 95% dan eter, kelarutan meningkat dengan
meningkatnya suhu, praktis tidak larut dalam air, larut bila dilelehkan dalam
lemak parafin cair dan padat
Titik didih: 316-344
0
C
Titik leleh : 45-52
0
C
Konsentrasi penggunaan : 2 5 %
Fungsi : sebagai emulsifying agent/ stiffening agent
2. Metil Paraben/ Nipagin (Hand Book Of Excipient, Hal 441)
Pemerian : serbuk, hablur halus, putih, hampir tidak berbau, tidak berasa
Kelarutan : larut dalam 500 bagian air, dalam 20 bagian air mendidih, dala 3,5
bagian etanol pekat 955 dalam aseton P, mudah larut dalam eter P, dan dalam
alkali hidroksida, larut dalam 60 bagian gliserol P panas dan dalam 40 bagian
minyak lemak nabai panas jika didinginkan larutan tetap jernih.
Titik lebur: 125-128
0
C
BM :152,15
BJ:1,352 g/cm
3

Konsentrasi penggunaan : 0.02 0.3 %
Fungsi : sebagai pengawet
3. Paraffin Liquid
Pemerian : tidak berwarna, hamper tidak berbau, tidak berasa, cairan kebtal,
tidak berflouresense
Kelarutan : larut dalam kloroform. Eter. Volatile oil. Sukar larut dalam etanol.
Praktis tidak larit dalam aseton
BJ : 0.84 0.89 g/cm
3

Titik lebur : 96 105
0
C
Konsentrasi penggunaan : 1 20 %
Fungsi : sebagai emollient

4. Aquadestilata (Farmakope Indonesia)
Pemerian : cairan jernih, tidak berwarna, tidak berbau, dan tidak berasa
5. Span 80 (4:567)
Nama resmi : Sorbitan monooleat
Nama lain : Sorbitan atau span 80
RM : C
3
O
6
H
27
Cl
17

Pemerian : Larutan berminyak, tidak berwarna, bau karakteristik dari
asam lemak.
Kelarutan : Praktis tidak larut tetapi terdispersi dalam air dan dapat
bercampur dengan alkohol sedikit larut dalam minyak biji
kapas.
Kegunaan : Sebagai emulgator dalam fase minyak
Penyimpanan : Dalam wadah tertutup rapat
HLB Butuh : 4,3
6. Tween 80 (4: 509)
Nama resmi : Polysorbatum 80
Nama lain : Polisorbat 80, tween
Pemerian : Cairan kental, transparan, tidak berwarna, hampir tidak
mempunyai rasa.
Kelarutan : Mudah larut dalam air, dalam etanol (95%)P dalam etil
asetat P dan dalam methanol P, sukar larut dalam parafin
cair P dan dalam biji kapas P
Kegunaan : Sebagai emulgator fase air
Penyimpanan : Dalam wadah tertutup rapat
HLB Butuh : 15

Formula
R/ EPMS (dari ekstrak kencur) 1 %
Parafin cair 20 %
Setil alcohol 5 %
Tween 80 3,25 %
Span 80 1,75 %
Metil paraben 0,1 %
Aquades ad 50
METODE
a. Alat dan Bahan yang digunakan
Alat
1. Timbangan analitik
2. Water Bath
3. Mortir dan stamper
4. Cawan Porselen
5. Sendok Porselen
6. Sendok Tanduk
7. Beaker Glass
8. Kaca arloji
9. Gelas Ukur
10. Viskometer
11. pH Meter / indikator pH
12. Ekstensiometer
13. Mikroskop
14. Batang pengaduk
Bahan
1. Kencur
2. Paraffin cair
3. Span 80
4. Tween 80
5. Cetil alkohol
6. Metil paraben
7. Aqua destilata







b. Prosedur Pembuatan Formula
1. Pembuatan dan Pengeringan Ekstrak































Simplisia
Filtrat
Maserat
Ekstrak
kental
Masukkan dalam maserator, basahi dengan 5 bagian pelarut (etanol
96%) sampai terbasahi semua.
Tuangkan sisa pelarut, tutup rapat maserator.
Rendam selama 6 jam pertama sambil sekali-kali diaduk, diamkan
selama 18 jam.
Saring dengan menggunakan corong Buchner
Dipekatkan dengan menggunakan rotavapor
Hitung rendemen yang diperoleh = prosentase bobot (b/b) ekstrak
kental dengan bobot serbuk simplisia yang digunakan
Aduk rata menggunakan batang pengaduk selama 3-5 menit
Timbang ekstrak kental ( 75% dari rendemen)
Tambahkan pengering (sorban) Aerosil sebanyak 1-2% dari bobot
ekstrak kental sedikit-sedkir sambil digerus dalam mortir hingga rata
& kering
Serbuk
kering
2. Penetapan Kadar Senyawa Aktif
































Pembuatan larutan
pembanding berberin
Timbang 25mg berberin, larutkan dalam 15ml etanol di tabung
reaksi
Saring dalam labu tentukur 25ml, bilas kertas saring dengan etanol
secukupnya hingga tanda
Larutan induk ini diencerkan dan dibuat larutan pembanding dengan
kadar 100, 200, 400, dan 800 ppm
Pembuatan larutan uji
Timbang 250mg ekstrak, aduk rata dalam 15ml etanol ditabung
reaksi dengan vortex mixer
Saring dalam labu tentukur 25ml, bilas kertas saring dengan etanol
secukupnya hingga tanda
Penetapan kadar epms
menggunakan metode KLT
Densitometri
Penotolan: totolkan 2l pembanding dan 10 l larutan uji dengan
posisi larutan uji semua kelompok di tepi lempeng dan semua
larutan pembanding di tengah
Fase gerak: toluena : etil asetat (95 : 5)
Fase diam: Silika gel 60 F254
Deteksi: amati pada UV 254 nm
Warna noda: gelap (meredam sinar UV). Rf epms 0,30
Perhitungan: kadar epms dalam ekstrak kering dihitung dari kurva
baku larutan pembanding dan dinyatakan dalam mg epms/g ekstrak
Replikasi: ulangi proses penetapan kadar sebanyak tiga kali.
Tentukan nilai koefisien variasi (KV) kadar epms dari tiga replikasi.
3. Formulasi Krim
Fase Minyak








Fase Air








Pencampuran













Cetil alkohol

Paraffin cair 1% epms
Leburan fase minyak ...(1)
Aquades secukupnya Tween 80
Hasil leburan (1) untuk fase minyak
- dimasukkan dalam mortir panas
- dicampur dengan fase air
- aduk ad homogen.

Sediaan krim kencur dalam tube, diberi etiket, dimasukkan dlm
kemasan
Campuran Fase air

Dilebur diatas water bath
ad lebur pada suhu 75
Campur ad homogen
Span 80
Formula Krim Setelah Revisi

Nama bahan Jumlah bahan Kegunaan
EPMS 1 % Tabir surya
Sorbitol 3 % Humectant
Asam stearat 12.5 % Emulsifying agent
Setil alkohol 4 % Stiffening agent
Tween 80 6 % Emulsifying agent
TEA 4 % Emulsifying agent
nipagin 0.1 % Pengawet
Aquadest Ad 25 Pelarut

Cara Kerja
1.















4. Prosedur Evaluasi Sediaan Krim
Agar sistem pengawasan mutu dapat berfungsi secar efektif, harus dibuat
kebijaksanaan dan peraturan yang mendasar dan ini harus selalu diataati. Pertama
tujuan pemeriksaan semata- mata adalah demi mutu obat yang baik. Kedua, setiap
EPMS + sorbitol + tween 80 +
TEA + nipagin + aquadest
(FASE AIR)

Asam stearat + setil alcohol
(FASE MINYAK)
Masukkan mortar, aduk ad
homogen dan menjadi masa
krim yang baik
Dilebur di atas water bath
70
O
C hingga leleh
pelaksanaan harus berpegang teguh pada standart atau spesifikasi dan harus
berupaya meningkatkan standart atau spesifikasi yang telah ada. ( Lachman, 1994)
1. Uji Organoleptis
Untuk mengetahui apakah suatu sediaan sudah sesuai dengan spesifikasi yang
telah ditentukan dan merupakan tes awal sediaan yang telah dibuat, uji ini
meliputi bentuk, warna dan bau.
2. Uji pH (FI IV : 1071)
Digunakan untuk mengetahui pH krim apakah sesuai dengan pH kulit.
Alat : pH meter
Prosedur :
pH meter terlebih dahulu dicuci dengan aquadest, sekaligus untuk kalibrasi
1 mg sampel dilarutkan dalam aquadest ad 100 ml dalam beaker glass
Tes pH dengan pH meter
Jika pH terlalu asam maka ditambah basa pada pH yang diinginkan
Jika pH terlalu basa maka ditambah asam pada pH yang diinginkan
Dapat juga digunakan dengan indikator pH
Mencelupkan kertas indikator pada sediaan krim yang telah dibuat
Tunggu beberapa menit untuk melihat perubahan warna pada kertas
indikator
Membandingkan warna pada kertas indikator yg nampak dengan warna
indikator pada pH yang telah diketahui.
3. Daya Sebar
Dilakukan untuk mengetahui kecepatan penyebaran krim pada kulit yang
sedang diobati dan untuk mengetahui kelunakan dari sediaan tersebut untuk
dioleskan ada kulit.
Alat : Ekstensiometer
Prosedur :
0,5 mg sampel atau sediaan diletakkan tepat dipusat lingkaran dengan hati-
hati pada kertas grafik yang dilapisi dengan plastik transparan dibagian
lempeng bawah
Tutup dengan lempeng atas sehingga terbentuk lempeng setangkup
Biarkan sesaat 15 detik, amati luas daerah yang diberikan oleh sediaan
Tambahkan beban seberat 5 g, biarkan selama 2 menit, amati luas daerah
yang diberikan oleh sediaan
Ulangi langkah diatas sampai luas daerah yang diberikan oleh sediaan tidak
mengalami perubahan atau konstan
Luas daerah yang konstan tersebut menggambarkan karakteristik daya sebar
dari sediaan
4. Uji viskositas
Pengujian viskositas dilakukan untuk mengetahui besarnya tahanan suatu
cairan untuk mengalir. Makin tinggi viskositas, maka makin besar tahanannya.
Alat : Viskotester VT 04
Prosedur :
Tempatkan sejumlah sampel atau sediaan dalam cup atau wadah tertentu
Rangkai alat dengan menggunakan rotor nomor tertentu
Celupkan rotor pada sampel
Nyalakan alat dan biarkan rotor berputar
Amati angka yang tertera pada jarum penunjuk alat, dan angka tersebut
menunjukkan nilai viskositas sediaan
5. Penentuan Tipe Emulsi
Pada uji ini menggunakan cara dengan tes kelarutan. Dimana untuk
Emulsi o/w larut dalam air, sedangkan
Emulsi w/o larut dalam minyak
Prosedur :
Ambil sejumlah tertentu sediaan
Masukkan dalam tabung reaksi
Tambahkan air
Apabila krim terlarut dalam air maka krim tersebut termasuk emulsi tipe
o/w
Apabila krim tidak terlarut dalam air maka krim tersebut termasuk emulsi
tipe w/o
6. Uji Stabilitas
Pengujian stabilitas dilakukan untuk mengetahui stabilitas dari krim setelah
penyimpanan selama satu minggu.

BAB IV HASIL PENGAMATAN DAN PERHITUNGAN
Hasil Pengamatan
Uji Viskositas : 125 dPas
Uji pH : 4
Uji Daya Sebar : Tanpa beban : 3,6 cm
Beban 5 gram : 4 cm
Beban 10 gram : 4,2 gram
Beban 2o gram : 4,4 gram

Perhitungan kadar ekstrak
Sampel : <1440
1488
Sampel 2
Kadar =



= 7200 mg dalam 10 ml
Dalam 0,5 ml
Kadar =



= 360 mg
Kadar =


= 144%
Sampel 3


= 7440 dalam 10ml 0,5 ml
Kadar =


Kadar =


= 148,8 %
Rata-rata =



Perhitungan Penetapan Kadar Krim Kencur
1. Sampel 1 :


x 5000 = 13809.4


x 10000 = 27618.8 = 27.62 mg
Kadar =


x 100% = 11.048%
2. Sampel 2 :


x 5000 = 15656.6


x 10000 = 31313.2 = 31.31 mg
Kadar =


x 100% = 12.525%
Rata-rata kadar =

= 11.787%
























BAB V. PEMBAHASAN
Kencur (Kaempferia galanga L) sebagai salah satu tanaman obat memiliki prospek
yang baik untuk dikembangkan. Salah satu alasan pengembangannya adalah kandungan
bahan aktifnya yang beragam dan cukup tinggi sehingga mampu mencegah dan mengobati
berbagai penyakit. Berdasarkan penelitian Inayatullah (1997) tanaman kencur mempunyai
kandungan kimia minyak atsiri 2,4-3,9% yang terdiri atas etil-p-metoksisinamat 30%
(EPMS). EPMS merupakan turunan sinamat yang dapat berfungsi sebagai tabir surya.
Langkah pertama dalam pembuatan krim kencur adalah ekstraksi dari rimpang
kencur yang sudah dikeringkan dan diserbuk halus. Ekstraksi merupakan proses
melarutkan komponen komponen kimia yang terdapat dalam suatu bahan alam dengan
menggunakan pelarut yang sesuai dengan komponen yang diinginkan. Pemilihan pelarut
harus memenuhi kriteria : murah, dan mudah diperoleh, stabil secara fisika dan kimia,
bereaksi netral, tidak mudah menguap dan tidak mudah terbakar, selektif, tidak
mempengaruhi zat berkhasiat, diperbolehkan oleh peraturan (Harbone, 1996).
Pada kelompok kami, digunakan metode ekstraksi maserasi sonikasi. Dengan
menggunakan alat sonikasi, kerja lebih cepat dan tidak membutuhkan waktu lama. Kurang
lebih 1 jam sonikasi, dihasilkan ekstrak rimpang kencur yang kemudian dipekatkan dengan
rotavapour agar menjadi ekstrak kental.
Ekstraksi sonikasi (ultrasonik) dapat dijadikan metode alternatif. Pada reaktor
ultrasonik/sonicator, gelombang ultrasonik digunakan untuk membuat gelembung kavitasi
(cavitation bubbles) pada material larutan. Ketika gelembung pecah dekat dengan dinding
sel maka akan terbentuk gelombang kejut dan pancaran cairan (liquid jets) yang akan
membuat dinding sel pecah. Pecahnya dinding sel akan membuat komponen di dalam sel
keluar bercampur dengan larutan. Cara ekstraksi ini biasanya lebih cepat dan lebih efisien
dibandingkan cara-cara ekstraksi yang terdahulu (Cintas dan Cravotto, 2005).
KLT Densitometri adalah salah satu metode yang banyak digunakan untuk
penetapan kadar bahan aktif. Sampel dan larutan standar piperin ditotolkan pada lempeng
silica gel 60 F254 sebanyak 2l untuk larutan standar pembanding dan 10l untuk larutan
sampel. Chamber dijenuhkan dahulu dengan fase gerak toluena : etil asetat dengan
perbandingan 95:5. Lempeng tersebut kemudian dieluasi dalam chamber yang sudah jenuh
dengan fase gerak. Setelah dieluasi dan mencapai garis batas eluasi lempeng dikeringkan
lalu diamati spektrumnya dengan menggunakan densitometer pada panjang gelombang
254. Sehingga diperoleh spectrum yang berasal dari serapan standar pembanding dan
sampel.
Selanjutnya dengan menggunakan densitometer, dari spectrum tersebut dapat
dilihat juga nilai r dan persamaan regresinya. Dalam penetapan kadar ini tidak didapatkan
nilai r dan persamaan regresinya.
Ada beberapa hal yang dapat memungkinkan terjadinya kesalahan yang
mempengaruhi nilai regresi dari percobaan ini yaitu :
Penotolan noda yang kurang tepat sehingga posisinya tidak tepat.
Proses eluasi yang kurang sempurna atau kurang teliti.
Adanya komponen lain yang bercampur dengan epms sehingga
mempengaruhi proses eluasi.
Nilai Rf yang diperoleh dari hasil percobaan jika dibandingkan antara sampel dan
standart dapat dilihat sampel track 2 Rfnya sama dengan standart yaitu 0,34. Sedangkan
sampel track 3 terjadi penyimpangan (Rfnya 0,31), karena nilai Rfnya berbeda maka dapat
dikatakan bahwa terdapat senyawa lain yang bercampur dalam sampel yang ditotolkan.
Dari hasil yang diperoleh dengan perhitungan dan dibandingkan dengan hasil yang
diperoleh dari KLT densitometer dapat dilihat bahwa kadar piperin berturut-turut 144%
dan 148,8%. Kadar yang dihasilkan dalam dua sampel ini lebih dari 100%. Terjadi
penyimpangan yang cukup besar sehingga kadar yang dihasilkan sangat besar. Hal ini bisa
disebabkan oleh kesalahan pada saat ekstraksi dan saat pengenceran ekstrak juga penotolan
saat KLT. Adanya pengaruh pengotor dalam sampel (kandungan zat lain selain epms) yang
menyebabkan pengaruh dalam kadar yang tidak murni, yaitu lebih dari 100%. Adanya
puncak dalam densitometer yang tidak teridentifikasi sebagai epms namun mirip dengan
puncak epms.
Untuk pembuatan krim dilakukan dengan metode peleburan dengan menggunakan
hot plate. Fase minyak terdiri dari asam stearat, setil alcohol dilebur pada suhu 70oC yakni
suhu titik lebur asam stearat hingga meleleh sempurna. Fase air terdiri dari tween 80,
sorbitol, trietanolamin, EPMS, nipagin dan air dipanaskan di atas hot plate pada suhu 70oC
hingga larut sempurna. Fase minyak dan fase air dicampurkan pada mortir
panas.Penggunaan mortir panas bertujuan untuk menjaga suhu kedua fase agar tetap sama
sehingga tidak mempercepat pengerasan pada fase minyak. Penambahan fase air pada fase
minyak lebih disukai untuk berbagai sistem emulsi karena emulsi mengalami inversi tipe
emulsi selama penambahan fase air sehingga tetesan fase terdispersi lebih halus (Lachman,
1994).
Pada saat pencampuran krim, saat fase air ditambahkan pada fase minyak sedikit
demi sedikit sehingga terbentuk krim dengan tipe w/o namun saat fase air lebih banyak dari
fase minyak serta dilakukan pengadukan maka terjadi pembalikan fase emulsi w/o menjadi
emulsi o/w dan pada sediaan krim kami terbentuk masa krim o/w.
Setelah pembuatan sediaan krim kencur berhasil dibuat, selanjutnya dilakukan
beberapa uji untuk mengetahui apakah sediaan krim kencur yang dibuat telah memenuhi
syarat yang ditentukan. Uji yang dilakukan diantaranya adalah uji pH, uji viskositas dan uji
daya sebar.
Uji pertama yang dilakukan adalah uji pH. Pemeriksaan pH sediaan krim disini
bertujuan untuk memastikan bahwa pH krim sesuai dengan pH kulit sehingga tidak
menimbulkan iritasi pada saat digunakan. Pengukuran pH dilakukan dengan menggunakan
alat pH indikator. pH indikator dicelupkan ke dalam sediaan krim. Dimana pencelupan
kertas indikator pH tersebut dilakukan dengan cara menimbang 1gram krim kencur
kemudian dilarutkan pada 25ml aquadest. Setelah pencelupan dilakukan selanjutnya
didiamkam sesaat dan dilihat warna yang terjadi yang menunjukkan nilai pH. Dilihat dari
perubahan warna pada kertas indikator didapatkan bahwa sediaan krim yang dibuat
memiliki nilai pH sebesar 4. Dari hasil pengujian tersebut dapat dikatakan bahwa krim
kencur yang dibuat belum memenuhi syarat yang ditentukan. Dimana nilai pH yang aman
untuk kulit atau sediaan topikal sekitar 4,5-6,5.
Selanjutnya pengujian kedua yang dilakukan adalah uji viskositas. Pemeriksaan
viskositas dilakukan untuk memastikan tingkat kekentalan sediaan krim yang sesuai untuk
penggunaan topikal. Secara fisik krim yang dihasilkan mempunyai kekentalan yang cukup
untuk pemakaian topikal sehingga memudahkan penyebaran di permukaan kulit. Pengujian
viskositas sediaan krim diukur menggunakan viskotester. Sediaan sebanyak 25 gram
dimasukkan kedalam cup, kemudian dipasang spindel ukuran 2 dan rotor dijalankan. Hasil
viskositas dicatat setelah viskotester menunjukan angka yang stabil. Dimana hasil
pengujian viskositas tersebut didapatkan bahwa sediaan krim kencur memiliki viskositas
sebesar 125 dPas. Dari hasil pengujian tersebut dapat dikatakan bahwa krim kencur yang
dibuat telah memenuhi persyaratan yang sesuai untuk viskositas. Atau dapat dikatakan
bahwa krim kencur yang dibuat memiliki nilai viskositas yang baik karena dalam literatur
menyebutkan bahwa sediaan krim yang baik adalah apabila memiliki viskositas antara 50-
150 dPas.
Uji ketiga yang dilakukan adalah uji daya sebar. Uji daya sebar dilakukan untuk
mengetahui apakah sediaan krim yang dibuat sudah memenuhi kriteria atau memiliki daya
penyebaran yang baik. Uji daya sebar dilakukan dengan meletakkan sediaan krim tepat di
tengah dua buah lempeng kaca yang telah ditimbang sebanyak 1 gram. Dimana setelah
lempeng kaca tersebut menutup krim yang telah diletakkan pada titik tengah lempeng
dilakukan pengukuran diameter tanpa menggunakan beban. Setelah 1 menit, ditambahkan
beban 5 gram dan didiamkan selama 1 menit. Selanjutnya ditambhankan beban 10 gram
dan juga 20 gram setelah didiamkan 1 menit. Selama proses penambahan beban tersebut
dilakukan pengukuran diameter. Diameter sediaan yang diukur tersebut dilakukan sesuai
dengan prosedur dan diulang sampai didapatkan diameter sebar yang konstan. Dari
pengujian tersebut didapatkan daya sebar sediaan krim kencur yang kami buat tanpa beban
adalah 3,6 cm, dengan beban 5 gram adalah 4 cm, dengan beban 10 gram adalah 4,2 cm
dan dengan beban 20 gram adalah 4,2 cm. Dari hasil tersebut dapat dikatakan bahwa dari
uji daya sebar memiliki nilai yang konstan untuk diameter penyebarannya pada beban 20
gram, sehingga dapat dikatakan bahwa daya sebar dari sediaan krim yang dibuat bagus atau
sudah sesuai.
Hal selanjutnya yang harus dilakukan adalah penetapan kadar sediaan krim
kencur untuk memastikan apakah sediaan yang telah dibuat telah mengandung kadar epms
sebanyak 1%. Metode yang digunakan yakni penetapan kadar menggunakan KLT-
Densitometri. KLT-Densitometri adalah salah satu metode yang banyak digunakan untuk
penetapan kadar bahan aktif. Sampel dan larutan standar epms ditotolkan pada lempeng
silica gel 60 F254 sebanyak 3 kali penotolan (6 l) untuk larutan sampel dan 2 kali
penotolan (4l) untuk larutan standar pembanding. Chamber dijenuhkan dahulu dengan
fase gerak toluena : etil asetat dengan perbandingan 95:5. Lempeng tersebut kemudian
dieluasi dalam chamber yang sudah jenuh dengan fase gerak. Setelah dieluasi dan
mencapai garis batas eluasi lempeng dikeringkan lalu diamati spektrumnya dengan
menggunakan densitometer pada panjang gelombang 254. Sehingga diperoleh spectrum
yang berasal dari serapan standar pembanding dan sampel.
Selanjutnya dengan menggunakan densitometer, dari spectrum tersebut dapat
dilihat juga nilai r dan persamaan regresinya. Persamaan regresi yang diperoleh ialah y=
330.3 + 1.139X dan nilai r=0.98684. Dari persamaan regresi ini dan nilai r yang diperoleh
dapat disimpulkan bahwa nilai regresinya cukup baik karena nilainya mendekati 1.
Nilai Rf yang diperoleh dari hasil percobaan yakni sebesar 0.60 untuk sampel 1 dan
0.62 untuk sampel 2 dimana jika dibandingkan dengan standart yang memiliki nilai 0.57
untuk standar 1; 0.55 untuk standar 2; 0.56 untuk standar 3;0.57 untuk standar 4, dapat
dilihat adanya penyimpangan karena nilai Rfnya berbeda sehingga dapat dikatakan bahwa
terdapat senyawa lain yang bercampur dalam sampel yang ditotolkan dimana kemungkinan
dapat berasal dari bahan-bahan tambahan yang digunakan dalam formulasi pembuatan
sediaan krim kencur..
Dari hasil penetapan kadar menggunakan KLT-Densitometri, kemudian dapat
dihitung kadar epms dari sediaan krim yang telah dibuat. Dari hasil perhitungan didapatkan
kadar rata-rata epms dari sediaan krim adalah sebesar 11.787% dimana kadar epms
tersebut melebihi kadar epms yang ditetapkan untuk sediaan krim kencur yakni sebesar
1%.

Track 1





Track 2




Track 3



Track 4



Track 5



Track 6



Track 7


Track 8



EPMS















BAB VI KESIMPULAN

1. Dari hasil yang diperoleh dengan perhitungan dan dibandingkan dengan hasil yang
diperoleh dari KLT densitometer dapat dilihat bahwa kadar piperin berturut-turut
144% dan 148,8%. Kadar yang dihasilkan dalam dua sampel ini lebih dari 100%.
Terjadi penyimpangan yang cukup besar sehingga kadar yang dihasilkan sangat
besar.
2. Dari hasil pengujian ph didapatkan hasil 4 maka dapat dikatakan bahwa krim
kencur yang dibuat belum memenuhi syarat yang ditentukan. Dimana nilai pH yang
aman untuk kulit atau sediaan topikal sekitar 4,5-6,5.
3. Pengujian viskositas tersebut didapatkan bahwa sediaan krim kencur memiliki
viskositas sebesar 125 dPas. Dapat dikatakan bahwa krim kencur yang dibuat
memiliki nilai viskositas yang baik karena dalam literatur menyebutkan bahwa
sediaan krim yang baik adalah apabila memiliki viskositas antara 50-150 dPas.
4. Pada uji daya sebar berturut-turut dari tanpa beban, beban 5 gram, beban 10 gram,
dan beban 20 gram didapatkan hasil 3,6 cm, 4 cm, 4,2 cm dan 4,2 cm.Sehingga
dapat dikatakan bahwa krim kencur memiliki daya sebar yang baik.
5. Dari hasil penetapan kadar menggunakan KLT-Densitometri, kemudian dapat
dihitung kadar epms dari sediaan krim yang telah dibuat. Dari hasil perhitungan
didapatkan kadar rata-rata epms dari sediaan krim adalah sebesar 11.787% dimana
kadar epms tersebut melebihi kadar epms yang ditetapkan untuk sediaan krim
kencur yakni sebesar 1%.











DAFTAR PUSTAKA

Agus Siswanto, dkk. Formulasi Krim Tabir Surya Ekstrak Etanol Rimpang Kencur
(Kaempferia galangal L. Purwokerto: Fakultas Farmasi Universitas
Muhammadiyah Purwokerto
Anief, M. ( 2000). Ilmu Meracik Obat Teori Dan Praktek. Cetakan ke- 9. Yogyakarta:
Gajah Mada University Press.
Astuti, Y., Sundari, D., Winamo, MW. Tanaman Kencur, Efek Farmakologi, Fitokimia.
Seminar tanaman obat Indonesia. Bandung 1994.
Backer, C. A. dan R. C. B.Van Den Brink.1986. Flora of Java Vol III. Walters- Woordhoff
N.V.- Groningen- The Netherloods. Leyden. Halaman 201-206.
Dirjen POM Departemen Kesehatan Republik Indonesia. (1995). Farmakope Indonesia.
Edisi IV. Jakarta: Departemen Kesehatan Republik Indonesia. Hal. 1083, 1084.
Joenoes, N., Z. 1990. Ars Prescribendi Resep Yang Rasional. Airlangga University.
Surabaya.
Miranti, L. 2009. Pengaruh Konsentrasi Minyak Atsiri Kencur (Kaempferia galanga L.)
dengan Basis Salep Larut Air Terhadap Sifat Fisik Salep dan Daya Hambat Bakteri
Staphylococcus aureus Secara In Vitro. Skripsi. Diterbitkan oleh Fakultas Farmasi
Univertis Muhammadiyah, Surakarta.
Rostiana, O., S. M. Rosita, H. Wawan, Supriadi, dan A. Siti, 2003. Status Pemuliaan
Tanaman Kencur. Perkembangan Teknologi.
Siswanto, Agus, dkk. Formulasi Krim Tabir Surya Ekstrak Etanol Rimpang Kencur
(Kaempferia galangal L). Purwokerto: Fakultas Farmasi Universitas
Muhammadiyah.
Soeprapto.1986. Jamu Jawa Asli. Jakarta: Pustaka Sinar Harapan.
Sugondo, U. dkk. 1986. Efek anti mikroba dari infusa kaempferia galanga. Manado.
Winarti, C. dan Nurdjanah, N. Peluang Tanaman Rempah dan Obat Sebagai Sumber
Pangan Fungsional. Jurnal Litbang Pertanian, 2005, 24 (2): 47-55.
Winarto, W.P. 2007. Tanaman Obat Indonesia Untuk Pengobatan Herbal. Karyasari
Herba Media.