Anda di halaman 1dari 5

Konsep Diri

A. Pengertian Konsep diri


William D. Brooks mendefinisikan konsep diri sebagai those physical, social, and
psychological perception of ourselves that we have derived from experiences and our interaction with
others. Jadi, konsep diri adalah pandangan perasaan seseorang tentang dirinya baik yang sifatnya
psikologis, sosial, maupun fisik.
Menurut Stuart dan Sundeen (dalam Keliat, 1992), konsep diri merupakan semua ide, pikiran,
kepercayaan dan pendirian yang diketahui individu tentang dirinya dan mempengaruhi individu dalam
berhubungan dengan orang lain. Definisi konsep diri juga dikemukakan oleh Calhoun & Acocella
(1990), yaitu bahwa konsep diri adalah pandangan pribadi yang dimiliki seseorang tentang dirinya
sendiri. Jadi, konsep diri dapat didefinisikan secara umum sebagai keyakinan, pandangan atau
penilaian seseorang terhadap dirinya.

B. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Konsep Diri
William D. Brooks menyebutkan empat faktor yang mempengaruhi perkembangan konsep diri,
yaitu:
1. Self appraisal viewing self as an object
Istilah ini berkaitan dengan pandangan seseorang terhadap dirinya sendiri mencakup kesan-
kesan yang diberikan kepada dirinya. Ia menjadikan dirinya sebagai objek dalam komunikasi
dan sekaligus memberikan penilaian terhadap dirinya.
2. Reaction and respos of others
Seseorang dalam memandang dirinya juga tidak hanya dipengaruhi oleh pandagan dirinya
terhadap diri sendiri, namun juga dipengaruhi oleh reaksi dan respon dari orang lain melalui
interaksi yang berkesinambungan. Penilaian dilakukan seseorang berdasarkan pandangan
orang lain terhadap dirinya.
3. Roles you play role taking
Seseorang memandang dirinya berdasarkan suatu keharusan dalam memainkan peran tertentu
yang harus dilakukan. Peran ini berkaitan dengan sistem nilai yang diakui dan dilaksanakan
oleh kelompok dimana individu berada, sehingga dia harus ikut memainkan peran tersebut.
4. Reference groups
Kelomok rujukan merupakan kelompok dimana individu menjadi anggota di dalamnya. Jika
kelompok ini dianggap penting, dalam arti mereka dapat menilai dan bereaksi pada individu,
hal ini akan menjadi kekuatan untuk menentukan konsep diri seseorang.

C. Jenis-Jenis Konsep Diri
Menurut Calhoun dan Acocella (1990), dalam perkembangannya konsep diri terbagi dua, yaitu
konsep diri positif dan konsep diri negatif.

1. Konsep Diri Positif
Konsep diri positif menunjukkan adanya penerimaan diri dimana individu dengan konsep diri
positif mengenal dirinya dengan baik sekali. Konsep diri yang positif bersifat stabil dan bervariasi.
Individu yang memiliki konsep diri positif dapat memahami dan menerima sejumlah fakta yang
sangat bermacam-macam tentang dirinya sendiri sehingga evaluasi terhadap dirinya sendiri
menjadi positif dan dapat menerima dirinya apa adanya. Individu yang memiliki konsep diri positif
akan merancang tujuan-tujuan yang sesuai dengan realitas, yaitu tujuan yang memiliki
kemungkinan besar untuk dapat dicapai, mampu menghadapi kehidupan di depannya serta
menganggap bahwa hidup adalah suatu proses penemuan.
Menurut Brooks dan Emmert dalam Rakhmat, orang yang memiliki konsep diri positif,
ditandai dengan lima hal, yaitu:
a. Ia yakin akan kemampuan mengatasi masalah
b. Ia merasa setara dengan orang lain
c. Ia menerima pujian tanpa rasa malu
d. Ia menyadari bahwa setiap orang mempunyai perasaan, keinginan dan perilaku yang tidak
seluruhnya disetujui masyarakat.
e. Ia mampu memperbaiki dirinya karena ia sanggup mengungkapkan aspek-aspek kepribadian
yang tidak disenanginya dan berusaha mengubahnya.

2. Konsep diri negatif
Calhoun dan Acocella (1990) membagi konsep diri negatif menjadi dua tipe, yaitu:
a. Pandangan individu tentang dirinya sendiri benar-benar tidak teratur, tidak memiliki
perasaan, kestabilan dan keutuhan diri. Individu tersebut benar-benar tidak tahu siapa
dirinya, kekuatan dan kelemahannya atau yang dihargai dalam kehidupannya.
b. Pandangan tentang dirinya sendiri terlalu stabil dan teratur.
Hal ini bisa terjadi karena individu dididik dengan cara yang sangat keras, sehingga
menciptakan citra diri yang tidak mengizinkan adanya penyimpangan dari seperangkat
hukum yang dalam pikirannya merupakan cara hidup yang tepat.
Orang yang memiliki konsep diri yang negatif menunjukkan karakteristik sebagai berikut:
a. Peka pada kritik
Individu ini sangat tidak tahan terhadap kritikan yang diterimanya dan mudah marah atau
naik pitam. Hal ini disebabkan kurangnya kemampuan untuk menerima kritik dari orang
lain sebagai proses refleksi diri.
b. Responsif terhadap pujian
Pada individu ini, segala atribut yang menunjang harga dirinya menjadi pusat
perhatiannya. Bersama dengan kesenangan terhadap pujian, mereka pun bersikap
hiperkritik terhadap orang lain. Ia selalu mengeluh, mencela atau meremehkan apapun dan
siapapun.
c. Cenderung merasa tidak disukai orang lain.
Individu ini merasa tidak diperhatikan. Oleh karena itu, ia bereaksi pada orang lain sebagai
musuh, sehingga tidak dapat meahirkan kehangatan dan keakraban dalam persahabatan. Ia
tidak pernah mempermasalahkan dirinya tetapi akan menganggap dirinya sebagai korban
dari sosial yang tidak beres. Ia tidak mempermasalahkan dirinya tetapi akan menganggap
dirinya sebagai korban dari sosial yang tidak beres.
d. Pesimis terhadap kompetisi
Individu ini enggan untuk bersaing dengan orang lain dalam membuat prestasi. Ia
menganggap dirinya tidak akan berdaya melawan persaingan yang akan merugikan
dirinya.

D. Merubah Konsep Diri
Seringkali diri kita sendirilah yang menyebabkan persoalan bertambah rumit dengan berpikir yang
tidak-tidak terhadap suatu keadaan atau terhadap diri kita sendiri. Namun, dengan sifatnya yang
dinamis, konsep diri dapat mengalami perubahan ke arah yang lebih positif. Langkah-langkah yang
perlu diambil untuk memiliki konsep diri yang positif:

1. Bersikap obyektif dalam mengenali diri sendiri
Jangan abaikan pengalaman positif atau pun keberhasilan sekecil apapun yang pernah dicapai.
Lihatlah talenta, bakat dan potensi diri dan carilah cara dan kesempatan untuk mengembangkannya.
Janganlah terlalu berharap bahwa Anda dapat membahagiakan semua orang atau melakukan segala
sesuatu sekaligus. You can't be all things to all people, you can't do all things at once, you just do the
best you could in every way

2. Hargailah diri sendiri
Tidak ada orang lain yang lebih menghargai diri kita selain diri sendiri. Jikalau kita tidak bisa
menghargai diri sendiri, tidak dapat melihat kebaikan yang ada pada diri sendiri, tidak mampu
memandang hal-hal baik dan positif terhadap diri, bagaimana kita bisa menghargai orang lain dan
melihat hal-hal baik yang ada dalam diri orang lain secara positif? Jika kita tidak bisa menghargai
orang lain, bagaimana orang lain bisa menghargai diri kita ?

3. Jangan memusuhi diri sendiri
Peperangan terbesar dan paling melelahkan adalah peperangan yang terjadi dalam diri sendiri.
Sikap menyalahkan diri sendiri secara berlebihan merupakan pertanda bahwa ada permusuhan dan
peperangan antara harapan ideal dengan kenyataan diri sejati (real self). Akibatnya, akan timbul
kelelahan mental dan rasa frustrasi yang dalam serta makin lemah dan negatif konsep dirinya.

4. Berpikir positif dan rasional
We are what we think. All that we are arises with our thoughts. With our thoughts, we make the world
(The Buddha). Jadi, semua itu banyak tergantung pada cara kita memandang segala sesuatu, baik itu
persoalan maupun terhadap seseorang. Jadi, kendalikan pikiran kita jika pikiran itu mulai
menyesatkan jiwa dan raga.

5. 3P
a. Menambah Pengetahuan (P1).
Bertambahnya jenis dan bobot ilmu pengetahuan, bukan saja akan membuat kita
memiliki pengetahuan itu, tetapi juga akan membuat kita memiliki opini-diri yang lebih baru
dan lebih bagus. Soal caranya dan tehniknya bagaimana, itu urusan kita masing-masing. Kita
bisa menambah pengetahuan dengan berbagai cara: melanjutkan sekolah, melakukan self-
learning, self-education, dan lain-lain.
Satu cara yang pasti dapat dilakukan oleh semua orang, terlepas apapun status ekonomi
dan sosialnya, adalah membaca. Entah itu membaca buku baru atau buku bekas, entah itu
membaca majalah baru atau majalah bekas, entah itu dalam bentuk artikel pendek atau hasil
kajian yang panjang. Tapi membaca di sini bukan sekedar membaca. Semua kegiatan
membaca itu bagus, namun yang paling bagus adalah memilih materi yang tepat untuk dibaca.
Membaca riwayat hidup atau pemikiran tokoh bisa memperbaiki konsep-diri.

b. Menambah Pengalaman (P2).
Menambah pengalaman akan membuat kita tahu apa yang bisa kita lakukan sekarang dan
apa yang belum bisa kita lakukan. Cara yang bisa kita tempuh antara lain:
1. Mempraktekkan ide-ide perbaikan sampai berhasil
2. Mengatasi masalah dengan cara yang positif
3. Meraih target positif,
4. Mewujudkan standar prestasi yang kita buat
Pengalaman akan memperbaiki konsep-diri. Semakin banyak kemampuan yang kita
ketahui, semakin bagus kita punya penilaian terhadap diri sendiri. Terkadang kita baru
mengetahui kemampuan kita setelah mempraktekkan banyak hal. Praktek akan menunjukkan
dua hal: a) ternyata saya mampu melakukan hal-hal yang dulunya saya anggap tidak
mungkin, dan b) ternyata saya belum mampu melakukan hal-hal yang sebelumnya saya
anggap mudah.

c. Menambah Pergaulan (P3).
Pergaulan, dalam arti yang luas, akan memperbaiki konsep-diri. Tapi ini dengan syarat:
kita membuka diri untuk mengambil pelajaran dari orang yang kita kenal. Orang lain memang
tidak bisa menyulap kita menjadi siapapun dan apapun. Namun jangan lupa, orang lain
mengilhami kita, orang lain meng-inspirasi kita, orang lain adalah contoh bagi kita, orang lain
adalah pembimbing kita, orang lain adalah pelajaran buat kita.
Intinya, perbanyaklah mengenal orang (langsung atau tidak langsung) dan perbanyaklah
mengambil pelajaran. Biasanya, kita akan tahu kejelekan / kebaikan diri sendiri setelah
melihat jeleknya orang lain atau kebaikannya. Biasanya, kita akan segera sadar konsep-diri
yang kita pilih setelah berinteraksi dengan orang lain. Karena itu, ada ungkapan pendek yang
mungkin pas untuk diingat. "Cara yang paling bagus untuk menjadi bintang olahraga adalah
belajar dari bintang olahraga."





































Daftar Pustaka

http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/25285/4/Chapter%20II.pdf
http://lib.uin-malang.ac.id/thesis/chapter_ii/06410129-dahlia.ps
http://www.e-psikologi.com/epsi/artikel_detail.asp?id=398
http://www.e-psikologi.com/epsi/artikel_detail.asp?id=407

Anda mungkin juga menyukai