Anda di halaman 1dari 9

Antropologi Dasar

Kosmopolitanisme : Selamat datang di Dunia Baru


Lecturer: Suzie Handadjani, M.A., Ph.D.



Created by:
Arief Gunawan
Aswanudin Hamid
Habby Maulana Effendy
Ian Aditya Warsita
Ramadityo Nugrahanto
Satriyo Sriwibowo Mukti

Faculty of Economic and Business
Universitas Gadjah Mada
Kosmopolitanisme menurut Kamus Besar Bahsa Indonesia merupakan
paham (gerakan) yg berpandangan bahwa seseorang tidak perlu mempunyai
kewarganegaraan, tetapi menjadi warga dunia atau dalam kata lain merupakan
manusia Internasioonal. Jika disimpulkan dari definisi ini maka kita akan mulai
mengetahui bahwa kosmopolitanisme adalah gerakan atau paham yang menolak
nasionalisme. Penulis melakukan hipotesis terhadap paham ini yaitu sebagai
paham yang akan merusak sikap nasionalisme dengan menjauhkan pada sentimen-
sentimen patriotik dan kebudayan serta karakter budaya nasional demi mencapai
suatu posisi masyarakat dunia yang berkehidupan tanpa sekat karakter. Ketika
setiap warga masyarakat telah kehilangan sentimen-sentimen patriotik maka
ketika itu mereka merasa tidak perlu menjaga suatu kehidupan antar
masyarakatnya karena itu memang tidak ada sedangkan satu hal yang ada yaitu
suatu kebebasan individu. Ketika setiap manusia sudah terekat dalam hidupnya
suatu liberalisme maka mereka akan acuh juga terhadap manusia lainnya sehingga
hal ini diprediksikan oleh penulis sebagai suatu pemicu kesempatan terhadap
perilaku kriminal tanpa batas karena kita tahu bahwa cara penghindaran tindakan
kriminal yang pertama adalah saling responnya antar manusia.
Masalah kedua yang muncul adalah ketika sekat karakter kebudayaan
antar masyarakat yang berbeda menjadi dihilangkan padahal karakter masing-
masing budaya itu berbeda dan bahkan sangat kontradiktif. Dari sini kita tahu
bahwa perbedaan karakter akan diacuhkan sehingga memicu suatu konflik yang
berawal dari tersinggungnya perasaan salah satu manusia yang bukan hanya
terjadi pada salah satu masyarakat tertentu saja.
Oposan dari argumen penulis ada tiga tulisan :
1. Kosmopolitanisme: semua manusia diciptakan sama
Artikel ini ditulis oleh Jufri Kano pada 3 Oktober 2013 pada salah satu
laman di www.kerabatmedia.com

Beberapa waktu lalu, seorang guru besar dari Universitas Deakin,
Australia, Stan van Hooft, menulis sebuah buku yang berjudul
Cosmopolitanism. A Philosophy for Global Ethics. Dalam buku tersebut,
van Hooft menjelaskan bahwa setiap individu pada dasarnya memiliki
posisi dan nilai yang sama sebagai manusia serta memiliki keinginan yang
sama untuk memperoleh kehidupan yang damai. Jika kesadaran ini
terbentuk, maka akan tercipta harmoni karena tidak akan ada lagi individu
yang merasa dirinya lebih baik atau lebih unggul dibandingkan dengan
orang lain. Setiap individu itu penting, tidak peduli apakah ia Nasrani
atau Islam. Jika kosmopolitanisme ini disadari benar nilai-nilainya, tidak
akan pernah ada satu pun orang yang menganggap orang lain lebih
rendah atau lebih buruk, ujarnya di Sekolah Tinggi Filsafat (STF)
Driyarkara, Jakarta [Kompas Rabu, 7 Oktober 2009].
Van Hooft mendefinisikan istilah kosmopolitanisme sebagai
suatu pandangan yang mengatakan bahwa kedudukan moral dari semua
orang dan setiap individu di seluruh dunia adalah sama. Di sini ia
mengutip suatu ungkapan yang terkenal dari Deklarasi Kemerdekaan
Amerika yakni "semua manusia diciptakan sama". Dengan demikian,
kosmopolitanisme memiliki relevansi terhadap keadilan distributif
internasional, perdamaian, hak asasi manusia, kelestarian lingkungan,
perlindungan untuk kaum minoritas, pengungsi dan kelompok tertindas
lainnya, dan toleransi antarbudaya.
Sebelum saya lupa, apa yang dikemukakan oleh van Hooft dalam
buku ini adalah kosmopolitanisme etis. Kita tahu bersama bahwa
kosmopolitanisme memiliki beberapa cabang, antara lain life style, budaya,
politis, dan sebagainya. Kalau teman-teman pergi ke terminal Kampung
Melayu [Jakarta] dan mampir di penjual majalah yang berada di
bawah Flyover [dekat halte Trans-Jakarta], hampir pasti teman-teman
melihat Majalah Kosmopolitan [sebab majalah jenis ini banyak dijual di
sana]. Sampul majalah ini seringkali menampilkan sang model dengan
tubuh yang indah dan berpakaian secukupnya. Boleh jadi, teman-teman
bertanya di dalam hati Apakah ini yang diuraikan oleh van Hooft?
Jawabannya tidak. Apa yang teman-teman lihat di sana adalah
kosmopolitan life style dan tidak masuk di dalam penjelasan ini.
Melalui buku ini van Hooft ingin menyoroti isu-isu yang berkaitan
dengan etika dalam mengidentifikasi masalah-masalah global serta
kewajiban moral individu, perusahaan multinasional, dan pemerintah
dalam kaitannya dengan masalah-masalah tersebut. Sasaran
kosmopolitanisme adalah bentuk-bentuk diskriminasi yang timbul dari
sebuah perbedaan kebangsaan, etnisitas, agama, bahasa, ras, atau berbagai
bentuk identitas lain yang biasanya digunakan untuk menggolongkan
orang-orang ke dalam kelompok yang terpisah.

2. Kosmopolitanisme, globalisasi, keadilan sosial dan kesejahteraan
bersama
Artikel ini ditulis oleh Hafiz Abdillah pada 9 Juli 2013 pada laman
blognya di http://hafizkapitaliskiri.blogspot.com

Globalization can usefully be conceived as a process (or set of
processes) which embodies a transformation in the spatial organization of
social relations and transactions, generating transcontinental or
interregional flows and networks of activity, interaction and
power (http://www.polity.co.uk). Seiring berkembangnya kehidupan
berkembang pula pola-polanya. Berbagai perdeabatan muncul dengan
topik globalisasi yang saat ini berjalan. Menyusutnya batas itulah yang
dapat menggambarkan akan proses globalisasi saat ini. Dengan semakin
kencangnya arus globalisasi yaitu seperti transportasi dan teknologi yang
perkembangannya begitu pesat. Pesawat, televisi dan internet adalah
produk yang mendukung arus globalisasi tersebut.
Pesawat yang dapat menaklukan jarak ribuan kilometer dalam
hitungan jam mempermudah mobilisasi logistik dan manusia sehingga
dapat semakin mengintensifkan hubungan langsung antar manusia.
Televisi dengan teknologi satelit yang dapat menampilkan satu peristiwa
di satu tempat ke berbagai tempat lain yang ada di bumi mempercepat arus
informasi. Dan produk paling mutakhir dalam era ini iala internet sebagai
penghubung dunia tanpa mengenal batas dapat menghubungkan dari
selatan sampai utara dari timur sampai barat semua dapat terkoneksi
dengan internet yang dapat mereduksi waktu dengan sistem world wide
web atau lebih akrab dengan www melancarkan segala aktivitas
komunikasi manusia.
Dengan arus globalisasi yang seperti itu tentunya aktivitas sosial
manusia semakin santer tanpa mengenal waktu yang tereduksi. Dengan
berbagai latar belakang manusia tanpa mengenal budaya, agama,
kewarganegaraan dan ras semua dapat menjadi berinteraksi satu sama lain
dengan mudah sehingga kosmopolitanisme juga berkembang bersama
globalisasi. Kosmopolitanisme adalah gagasan barat yang melambangkan
kebutuhan akan agen sosial untuk memahami kesatuan politik dan budaya
yang lebih besar dari tanah air mereka sendiri yang akan mencakup semua
manusia pada skala global (Ribeiro, 2006: 19).
Peter Trawny dalam Globalization and
Cosmopolitanism menyatakan globalisasi ialah wujud nyata fenomena
yang konkrit sedangkan kosmopolitanisme ialah konsep atau gagasan.
Trawny mengatakan bahwa ada dependensi antara globalisasi dan dan
kosmopolitanisme. Dengan paparan yang dijelaskan penulis akan
globalisasi pada paragraf pertama bahwa adanya interaksi yang semakin
intensif secara global membawa kosmopolitanisme ke dalam globalisasi
dengan mobilisasi manusia yang ada sehingga budaya satu sama lain dapat
berdampingan dan melebur sehingga memunculkan fakta kosmopolitan
yang semakin menjamur dengan adanya globalisasi. Dalam globalisasi
ketika para teoretikus berbincang mengenai kosmopolitanisme, mereka
berpikir bahwa kosmopolitanisme ialah satu dimensi subjektif dari
globalisasi namun definisi mereka akan kosmopolitanisme ialah kesadaran
akan eksistensi manusia akan penduduk dunia yang berinteraksi secara
global (Guilln 2001; Robertson 1992).
Politics of recogniton mulai gencar dibicarakan dengan adanya isu
keadilan sosial atau social justice mulai dipertanyakan. Politics of
recognition merupakan bahasan mengenai isu-isu sosial seperti ras,
etnis, despised sexuality dan gender diversity. Isu-isu tersebut semakin
merebah dengan semakin gencarnya dunia mengumandangkan Hak Asasi
Manusia di berbagai belahan bumi. Hal itu diawalai dengan adanya
keadilan sosial atau social justice yang dibicarakan dengan fokus pada
adanya maldistribusi sumber daya antara si kaya dan si miskin dan
kemudian dikenal sebagai politics of redistribution. Namun politics of
redistributionberbeda dengan politics of recognition yang melihat adanya
ketidak adilan sosial dalam hal pengakuan yang berbau kultural seperti
yang dikatakan Fraser (1996) dalam Social Justice in the Age of Identity
Politics:Redistribution, Recognition,and Participation bahwa politic of
recognition ialah dimana parameter keadilan diukur dengan adanya
pengakuan kulturalyang merata tanpa adanya diskriminasi (Fraser 1996).
Konsep yang ada pada kedua perspektif itu juga berbeda dalam
memandang sebab, fokus, korban, dan tujuan. Politics of
redistribution menempatkan hakikat dari ketidakadilan bermulah dari
struktur ekonomi masyarakat, berbeda dengan politics of recognition yang
memandang sumber ketidakadilan ada pada pola sosial dari representasi,
interpretasi dan komunikasi yang berada di masyarakat (Fraser
1996). Politics of redistribution fokus pada restrukturasi ekonomi untuk
memperbaiki atau menjalankan sistem redistribusi yang baik
sedangkan politics of recognition beranggapan untuk menghapuskan
ketidakadilan ialah dengan adanya perubahan simbolik dan kultural dalam
masyarakat untuk mengeliminasimalrecognition. Politics of redistribution
menganggap korban dari ketidakadilan tersebut ialah yang dirugikan akan
adanya diskriminasi kelas ekonomi seperti buruh misalnya yang
tereksploitasi kelas borjuis. Disisi lain politics of recognition beranggapan
bahwa korban dari ketidak adilan yaitu low status ethnic group yang
statusnya terletak dibawah kultur dominan. Redistribusi memandang
perbedaan ialah hal yang harus dihilangkan, sedangkan politics
ofrecognition berpandangan bahwa perbedaan ialah hal yang harus
dihargai dam juga berusaha untuk mendekonstruksi uraian mengenai
perbedaan itu sendiri (Freaser, 1996). Fraser (1996) mengungkapkan
bahwa kedua pendekatan tersebut dibutuhkan dalam menelaah suatu isu
misalnya dalam permasalahan dikriminasi gender. Keduanya diperlukan
dalam meninjau ketidakadilan dari sisi ekonomi dan kulural.
Jika dikaitkan dengan paham kosmopolitanisme yang memandang
bahwa tolok ukur dari global justice ialah adanya kesamarataan
kesempatan untuk mendapatkan kesejahteraan, terlepas dari latar belakang
nasionalitas, seksual preferensi, gender dan ras (Holtug 2011). Dapat
dikatakan bahwa kosmopolitanisme juga turut berperan dalam
menciptakan kebaikan bersama, kesejahteraan dan keadilan sosial melalui
cara pandangnya dan juga memberikan sumbangan untuk ketiga hal
tersebut melalui ideologi kosmopolitanisme yang ada. Secara empiris
dapat terlihat nilai kosmopolitanisme yang tertuang dalam Universal
Declaration of Human Rights.
3. Kosmopolitanisme, nasionalisme, dan fundamentalisme hubungannya
dengan globalisasi
Artikel ini ditulis oleh akun atas nama Ri2nae Lah (Ririn) pada 1 oktober
2010 di laman blog miliknya http://ri2naelah.blogspot.com/

Gerakan fundamentalisme tumbuh subur di segenap penjuru dunia
terutama paska pengeboman WTC. Gerakan ini sangat beragam dan terus
membuat chaos dunia. Sedangkan Kosmopolitanisme adalah kesadaran
etika yang bisa mengurangi gerakan-gerakan
ini (http://www.brainyquote.com). Bagaimana dan mengapa gerakan
fundamentalisme justru semakin menjamur? Lantas bagaimana dengan
Kosmopolitanisme, Nasionalisme, dan Fundamentalisme di era globalisasi
ini?
Gerakan fundamentalisme adalah pergerakan individu yang
menggerakkan kelompok atau pergerakan kelompok dengan
memperjuangkan apa yang telah diyakininya sebagai dasar atau pijakan
satu-satunya hidup mereka. Pergerakan ini tampil melalui praktek-praktek
diskursif yang dari proses sejarah dan budayanya terus dikonstruksi
melalui ruang sejarah dunia (secara kontekstual) dan terus mengendap
dalam keyakinan penganutnya. Di luar kelompok adalah sesat sehingga
harus disadarkan, tindakan para fundamentalis biasanya cenderung radikal
untuk memperoleh hasil yang lebih maksimal, namun tidak selalu. Contoh
gerakan fundamentalisme dapat dilihat pada fundamentalisme kristen pada
tragedi "Perang 30 tahun" di Eropa, gerakan Front Pembela Islam (FPI) di
Jakarta, fundamentalisme kapitalisme sebagai sistem ekonomi-
Fundamentalisme pasar ini menambah ramainya gerakan fundamentalisme
lainnya dengan munculnya fundamentalisme antikapitalisme (globalisasi)
(http://www.brainyquote.com). Bahkan menurut Thomas L. Friedman
(2006) globalisasi informasi membuat dunia menjadi datar. Namun, dunia
yang datar ini menciptakan chaos dengan adanya kemiskinan,
ketimpangan, dan konflik sosial di beberapa wilayah.
Seperti yang telah diutarakan sebelumnya, gerakan
fundamentalisme terjadi karena tidak adanya etika kosmopolitanisme. Itu
sebabnya, kosmopolitanisme merupakan kesadaran praktis yang semua
manusia di dunia ini secara embedded memilikinya. Konsep ini yang
mengubah chaos menjadi harmoni, yang menurut Max Weber, membuat
keterpukauan dunia dari yang serba materialistis, kering, dan tanpa makna
(Verges, 2002). Kosmopolitanisme adalah ekspresi warga kosmos dan
menolak komunitas tertentu yang bersifat parokial atau primordial. Kaum
ini melihat bahwa semua orang di dunia berbeda, sehingga banyak hal
yang menarik untuk dipelajari, bahkan dari mereka yang tidak sepakat
dengan kita. Kosmopolitanisme ini bukan solusi, tapi tantangan bagi kita
semua sebagai warga semesta. Tidak seperti konsep kosmopolitanisme
pada umumnya, para intelektual Creole berpendapat bahwa
kosmopolitanisme-aspirasi partikular kepada yang universal- bisa berjalan
searah dengan nasionalisme, selama nasionalisme ditujukan untuk
memerangi semua bentuk kolonialisme. Gerakan tersebut didorong oleh
kesadaran kosmopolitanisme dan penghormatan terhadap kemanusiaan
universal. Nasionalisme di sini berperan sebagai konsepsi kolektif yang
diperlukan bagi kebutuhan perjumpaan dan kesinambungan dalam lingkup
kosmos agar tidak mengarah pada fundamentalisme perorangan atau
kelompok, yang sedikit berbeda dengan versi orthodoknya, dimana
nasionalisme biasanya mengambil pola kejayaan romantisme masa lampau
semata dan rekonstruksi situasi. Modernisasi dan globalisasi adalah situasi
yang tak terhindarkan, bahkan menurut Giddens (2002) tradisi tidak
sepenuhnya runtuh. Sebaliknya justru bertransformasi dalam aneka
persenyawaan baru yang mengadopsi pola kekerabatan atau komunitas
sebagai model. Meski tidak disebutkan secara eksplisit, nasionalisme yang
mengadopsi kosmopolitanisme terbatas di satu sisi namun masih
mempertahankan model kekerabatan komunitas di sisi lain merupakan
contoh nyata kesinambungan berbagai paham ini.
Secara umum, dalam globalisasi, dunia tengah bergerak ke arah
apa yang disebut Giddens (2002) sebagai kemunculan impresif
masyarakat kosmopolitanisme global. Satu-satunya ketundukan
kosmopolitanisme adalah pada komunitas umat manusia yang mendunia.
Selebihnya kosmopolitanisme membebaskan individu-individu untuk
menikmati otonomi aksi dan kebebasan berekspresi terlepas dari
keterkungkungan patriotisme ataupun tradisi. Oleh karena globalisasi hadir
bersama supremasi kosmopolitanisme ekonomi, maka seluruh tatanan
peradaban terdesak dalam keniscayaan yang sama. Meskipun
kosmopolitanisme sebenarnya lebih dulu ada sebelum globalisasi itu
sendiri hadir, namun penyebaran kosmopilitanisme ini boomingsetelah
nilai-nilainya disebarkan melalui globalisasi baik dari segi teknologi
informasi maupun ekonomi.

Nah dari sini kita bisa mengambil kesimpulan bahwa kosmopolitan pada
awalnya akan sangat terlihat menarik dengan segala tawaran memikatnya yang
seperti memberikan kita kemudahan untuk berbagai hal tetapi efek samping dari
hal ini akan sangat fatal dan apalagi jika kita belum siap dalam menghadapainya.
Bisa saja adanya kosmopolitan ini akan menghilangkan negara dan malah
memunculkan kembali suku karena pada dasarnya manusia punya kesadaran semu
untuk berkehidupan secara kelompok.