Anda di halaman 1dari 29

Bab VIII : Konsep Surveilans Epidemiologi

Dasar Epidemiologi/FKM Unair/2009 1


BAB VIII
KONSEP SURVEILANS EPIDEMIOLOGI











A. Pengertian
Surveilans Epidemiologi berasal dari kata
SURVEILANS (SURVEILLANCE) dan
EPIDEMIOLOGI (EPIDEMIOLOGY)
Menurut CDC/ATSDR (Center for Disease Control/ Agency for
Toxic Substance and Disease Registry) yang dimaksud dengan
surveilans adalah




Sedangkan epidemiologi adalah ilmu yang mempelajari,
menganalisis, serta berusaha memecahkan berbagai masalah
kesehatan pada suatu kelompok populasi tertentu.

Dalam bab ini kita akan belajar pengertian surveilans epidemiologi, sejarah
singkat, sistem surveilans, ruang lingkup, tujuan dan manfaat serta
komponennya, konsep surveilans terpadu penyakit, surveilans sentinel dan
survei surveilans perilaku. Topik ini akan kita pelajari dalam waktu 2x2x50
menit.
Dengan mempelajari bab ini diharapkan Anda akan mampu untuk
1. menyebutkan definisi surveilans epidemiologi,
2. menggambarkan ruang lingkup,
3. menyebutkan tujuan dan manfaat,
4. menggambarkan sistem surveilans menurut komponennya,
5. menguraikan surveilans terpadu penyakit
6. menguraikan surveilans sentinel
7. menguraikan survei surveilans perilaku
Surveillance is the ongoing systematic collection,
analysis, and intepretation of outcome-specific data for
use in the planning, implementation, and evaluation of
public health practice.
Bab VIII : Konsep Surveilans Epidemiologi
Dasar Epidemiologi/FKM Unair/2009 2

Surveilans merupakan bagian yang paling penting dalam
mempelajari penerapan epidemiologi. Surveilans merupakan
muara dari semua bagian dalam epidemiologi, sehingga
merupakan bentuk epidemiologi terapan. Oleh karena itu
sebelum mempelajari surveilans perlu dipahami terlebih dahulu
konsep dasar dalam epidemiologi, misalnya ukuran dalam
epidemiologi. Ukuran epidemiologi yang banyak digunakan
dalam surveilans antara lain prevalence rate, incidence rate,
attack rate, case fatality rate dan proportional rate. Ada baiknya
Anda membuka kembali Buku Ajar Dasar Epidemiologi pada
bab VI: Ukuran Frekuensi Penyakit untuk mengingatkan Anda,
apa yang dimaksud dengan ukuran-ukuran di atas.

B. Sejarah Singkat
Surveilans epidemiologi dimulai ketika William Farr,
mengembangkan sistem pengumpulan data rutin tentang
Diskusi (5 menit):
Apa yang dimaksud dengan surveilans epidemiologi?
Tulis hasil diskusi pada kotak di bawah ini.
Surveilans Epidemiologi adalah
Bab VIII : Konsep Surveilans Epidemiologi
Dasar Epidemiologi/FKM Unair/2009 3
jumlah dan penyebab kematian. Ia membandingkan pola
kematian antara orang-orang yang menikah dan tidak, dan
antara pekerja yang berbeda jenis pekerjaannya. Upaya yang
telah dilakukan untuk mengembangkan sistem pengamatan
penyakit secara terus menerus dan menggunakan informasi itu
untuk perencanaan dan evaluasi program telah mengangkat
nama William Farr sebagai the founder of modern
epidemiology.

C. Surveilans Epidemiologi Sebagai Sistem
Yang dimaksud dengan Sistem Surveilans Epidemiologi adalah
tatanan prosedur penyelenggaraan surveilans epidemiologi
(SE) yang terintegrasi antara unit-unit penyelenggara
surveilans dengan:
1. Laboratorium
2. Sumber-sumber data
3. Pusat Penelitian
4. Penyelenggara Program Kesehatan
Di Indonesia Sistem Surveilans Epidemiologi merupakan sub
sistem dari SIKNA (Sistem Informasi Kesehatan Nasional) dan
mempunyai fungsi strategis dalam intelejen penyakit dan
masalah kesehatan untuk penyediaan data dan informasi
epidemiologi dalam rangka mewujudkan Indonesia Sehat.
Sebagai suatu sistem, surveilans epidemiologi mencakup dua
kegiatan manajemen:
1. Kegiatan inti:
a. Surveilans:
Mencakup deteksi, pencatatan, pelaporan,
analisis, konfirmasi, umpan balik
Bab VIII : Konsep Surveilans Epidemiologi
Dasar Epidemiologi/FKM Unair/2009 4
b. Tindakan:
Mencakup respon segera (Epidemic type
responses) dan respon terencana (management
type responses)
2. Kegiatan pendukung:
Meliputi pelatihan, supervisi, penyediaan dan
manajemen sumber daya.

D. Ruang Lingkup
Surveilans Epidemiologi telah berkembang dari pengamatan
sederhana terhadap individu dengan penyakit menular menjadi
pengumpulan data secara keseluruhan terhadap host, agent,
dan environment serta semua faktor yang berperan terhadap
masalah kesehatan oleh karena itu ruang lingkup surveilans
tidak hanya meliputi penyakit menular saja. Menurut Depkes
(2003) ruang lingkup surveilans epidemiologi di Indonesia
adalah:
1. Penyakit Menular
2. Penyakit Tidak Menular
3. Kesehatan Lingkungan dan Perilaku
4. Masalah Kesehatan
5. Kesehatan Matra
Surveilans epidemiologi penyakit menular memfokuskan
kegiatan pada beberapa penyakit yang penting di Indonesia,
yaitu:
Ingatlah!
Di Indonesia Sistem Surveilans Epidemiologi merupakan sub
sistem dari SIKNAS (Sistem Informasi Kesehatan Nasional) dan
mempunyai fungsi strategis dalam intelejen penyakit dan masalah
kesehatan untuk penyediaan data dan informasi epidemiologi
dalam rangka mewujudkan Indonesia Sehat.
Bab VIII : Konsep Surveilans Epidemiologi
Dasar Epidemiologi/FKM Unair/2009 5
1. PD3I (Penyakit yang Dapat Dicegah Dengan Imunisasi)
2. AFP (Acute Flaccid Paralysis)
3. Penyakit Potensial Wabah/ KLB Penyakit Menular dan
Keracunan
4. Demam Berdarah Dengue (DBD)/ Dengue Shock
Syndrom (DSS)
5. Malaria
6. Zoonosis (Antraks, Rabies, Lepstopirosis)
7. Filariasis
8. Tuberkolosis
9. Diare, Tifus perut, Kecacingan, Penyakit Perut Lain
10. Kusta
11. HIV/AIDS
12. PMS (Penyakit Menular Seksual)
13. Pneumonia (termasuk SARS- Severe Acute Respiratory
Syndrom)
Surveilans Epidemiologi penyakit tidak menular, ditujukan pada
penyakit tidak menular terpilih di Indonesia, yaitu:
1. Hipertensi, Stroke, dan Penyakit Jantung Koroner (PJK)
2. Diabetes Mellitus (DM)
3. Neoplasma
4. Penyakit Paru Obstruksi Kronis
5. Gangguan Mental
6. Masalah Kesehatan Akibat Kecelakaan
Surveilans Epidemiologi Kesehatan Lingkungan dan Perilaku
dilaksanakan untuk melakukan pengamatan yang terus-
menerus terhadap:
1. Sarana Air Bersih
2. Tempat Tempat Umum (TTU)
Bab VIII : Konsep Surveilans Epidemiologi
Dasar Epidemiologi/FKM Unair/2009 6
3. Pemukiman dan Lingkungan Perumahan
4. Limbah industri, Rumah Sakit (RS) dan kegiatan lain
5. Vektor penyakit
6. Kesehatan dan Keselamatan Kerja
7. RS dan sarana pelayanan kesehatan lain, termasuk
Infeksi Nosokomial
Surveilans Epidemiologi Masalah Kesehatan ditujukan untuk
melakukan surveilans terhadap:
1. SKPG (Sistem Kewaspadaan Pangan dan Gizi)
2. Gizi mikro (Kekurangan Yodium, Anemia Gizi Besi,
Kekurangan Vitamin A)
3. Gizi lebih
4. Kesehatan Ibu dan Anak (termasuk kesehatan
reproduksi)
5. Usia lanjut
6. Penyalahgunaan napza
7. Penggunaan sediaan farmasi, obat, obat tradisional,
bahan kosmetika dan alat kesehatan
8. Kualitas makanan dan bahan tambahan makanan
Surveilans Epidemiologi Kesehatan Matra meliputi pemantauan
terhadap masalah:
1. Kesehatan Haji
2. Kesehatan Pelabuhan dan Lintas Batas Perbatasan
3. Bencana dan Masalah Sosial
4. Kesehatan Matra Laut dan Udara
5. Kejadian Luar Biasa (KLB) penyakit dan keracunan



Bab VIII : Konsep Surveilans Epidemiologi
Dasar Epidemiologi/FKM Unair/2009 7

Tugas (10 menit):
Apakah surveilans epidemiologi hanya untuk penyakit saja? Mengapa?
Sebutkan ruang lingkup surveilans epidemiologi di Indonesia!

Jawab:
Bab VIII : Konsep Surveilans Epidemiologi
Dasar Epidemiologi/FKM Unair/2009 8
E. Tujuan dan Manfaat
Tujuan dilakukannya surveilans epidemiologi suatu masalah
kesehatan adalah untuk mendapatkan informasi epidemiologi
tentang masalah kesehatan tersebut. Informasi tersebut
meliputi gambaran masalah kesehatan menurut waktu, tempat
dan orang, diketahuinya determinan, faktor risiko dan
penyebab langsung terjadinya masalah kesehatan tersebut.
Apabila kegiatan surveilans epidemiologi dapat berjalan, maka
informasi epidemiologi yang diperoleh dapat digunakan secara
umum untuk perencanaan, implementasi, evaluasi kegiatan
kesehatan masyarakat.
Secara khusus manfaat yang bisa diperoleh adalah untuk:
1. Memperkirakan kuantitas masalah
2. Menggambarkan riwayat alamiah penyakit
3. Mendeteksi wabah/ KLB
4. Menggambarkan distribusi masalah kesehatan
5. Memfasilitasi penelitian epidemiologis dan laboratoris
6. Membuktikan hipotesis
7. Menilai kegiatan pencegahan dan penanggulangan
8. Memonitor perubahan agen infeksius
9. Memonitor upaya isolasi
10. Mendeteksi perubahan kegiatan
11. Merencanakan kegiatan






Latihan:
1. Apa tujuan dilakukan surveilans?
2. Apa manfaat surveilans?



Feedback:
Cocokkan jawaban Anda dengan rangkuman yang ada pada bagian
akhir sub modul ini.
Bab VIII : Konsep Surveilans Epidemiologi
Dasar Epidemiologi/FKM Unair/2009 9
F. Komponen Sistem Surveilans
Komponen surveilans Epidemiologi terdiri dari:
1. Pengumpulan data
2. Kompilasi, analisis dan intepretasi data
3. Diseminasi informasi (pelaporan, umpan balik, tindakan:
investigasi)
Perhatikan dengan baik gambar di bawah ini.
Langkah Kegiatan Surveilans

Gambar 1.1 Langkah Kegiatan Surveilans Berdasar
Komponen Surveilans

1. Pengumpulan Data
Pengumpulan data dapat dilakukan secara pasif
(menggunakan data sekunder) dan aktif (menggunakan data
primer). Pelaksanaan surveilans menurut cara pengumpulan
data tersebut di atas terdiri dari surveilans pasif dan aktif. Data
yang dikumpulkan sebaiknya menggunakan data rutin yang
telah dicatat atau dilaporkan dalam sistem pencatatan dan
pelaporan yang sedang berjalan. Data yang dikumpulkan
disesuaikan dengan tujuan dari sistem surveilans. Oleh karena
itu, penetapan tujuan surveilans menjadi langkah pertama yang
harus dikerjakan. Tanpa penentuan tujuan, maka data yang
Tindakan
Pencegahan &
Penanggulangan
Pengumpulan
Data
Pengolahan &
Penyajian Data

Analisis &
Intepretasi
Data

Pembuatan laporan,
rekomendasi tindak lanjut
& diseminasi informasi

Bab VIII : Konsep Surveilans Epidemiologi
Dasar Epidemiologi/FKM Unair/2009 10
dikumpulkan menjadi tidak terarah, bisa terlalu banyak atau
terlalu sedikit.
a. Tujuan Pengumpulan Data
1. Menentukan kelompok atau golongan populasi
berisiko (misalnya umur, jenis kelami, bangsa,
pekerjaan)
2. Menentukan jenis agen dan karakteristiknya
3. Menentukan reservoir infeksi
4. Memastikan penyebab transmisi
5. Mencatat kejadian penyakit
b. Sumber Data
Data yang dikumpulkan sebaiknya bersumber dari
sistem pencatatan dan pelaporan yang sudah berjalan
(surveilans pasif). Bila diperlukan data yang lebih
lengkap dan data tidak bisa diperoleh pada sistem
pencatatan dan pelaporan yang rutin, maka dapat
dilakukan survei, survei cepat atau investigasi
(surveilans aktif). Sumber data surveilans epidemiologi
adalah:
1. Laporan penyakit
2. Pencatatan kematian
3. Laporan wabah
4. Pemeriksaan laboratorium
5. Penyelidikan peristiwa penyakit
6. Penyelidikan wabah
7. Survei/Studi Epidemiologi
8. Penyelidikan distribusi vektor dan reservoir
9. Penggunaan obat, serum, vaksin
10. Laporan kependudukan dan lingkungan
Bab VIII : Konsep Surveilans Epidemiologi
Dasar Epidemiologi/FKM Unair/2009 11
11. Laporan status gizi dan kondisi pangan
c. Jenis Data
Jenis data yang dikumpulkan harus sesuai dengan
tujuan surveilans. Pada umumnya jenis data yang
dikumpulkan meliputi data:
1. Data kesakitan
2. Data kematian
3. Data demografi
4. Data geografi
5. Data laboratorium
6. Data kondisi lingkungan
7. Data status gizi
8. Data kondisi pangan
9. Data vektor dan reservoir
d. Frekuensi Pengumpulan Data
Pengumpulan data dari sumber data disesuaikan
dengan kebutuhan program suatu masalah kesehatan
yang diamati. Secara umum pengumpulan data
dilakukan secara mingguan atau bulanan.
Data rutin bulanan diperlukan untuk perencanaan dan
evaluasi, sedangkan data rutin mingguan untuk
kepentingan sistem kewaspadaan dini.
e. Cara Pengumpulan Data
Pengumpulan data dilakukan secara pasif dan aktif.
Kelemahan pengumpulan data secara pasif adalah
petugas surveilans sangat tergantung dari kecepatan,
ketepatan, kelengkapan dan kebenaran laporan yang
dikirimkan, sehingga kemungkinan terjadi keterlambatan
dan keterbatasan analisis. Kelemahan tersebut dapat
Bab VIII : Konsep Surveilans Epidemiologi
Dasar Epidemiologi/FKM Unair/2009 12
dikurangi dengan melakukan pembinaan untuk
meningkatkan kesadaran petugas yang mengumpulkan
data sekaligus sebagai sumber data, dengan
menjelaskan manfaat data yang dilaporkan bagi dirinya
sendiri dan institusinya. Kekuranglengkapan data dapat
pula diatasi dengan melakukan rapid survey atau
surveilans sentinel.
f. Petugas Pengumpul Data
Petugas pengumpul data perlu dipersiapkan dengan
baik, karena diharapkan mereka dapat melakukan
editing data yang dikumpulkan (kelengkapan dan
konsistesinya), bila memungkinkan dilakukan uji
validitas data yang dilaporkan. Data valid yang sudah
diedit siap untuk dilakukan proses selengkapnya.

2. Kompilasi Data
Data yang telah dikumpulkan kemudian
dikelompokkan.Pengelompokkan dapat dilakukan
secara manual (misalnya dengan membuat master
table, kartu pengolah data) atau dengan menggunakan
bantuan komputer (misalnya dengan menggunakan
program Epi-Info). Pada dasarnya pengelompokkan
data dilakukan sesuai dengan tujuan dari sistem
surveilans itu sendiri dan karakteristik (ciri khusus) dari
masalah kesehatan yang diamati. Pengelompokkan
dilakukan menurut variabel orang, tempat dan waktu.
a. Pengelompokkan menurut orang
Pengelompokkan menurut orang dapat dilakukan
misalnya menurut umur, jenis kelamin, pekerjaan,
Bab VIII : Konsep Surveilans Epidemiologi
Dasar Epidemiologi/FKM Unair/2009 13
status sosial, golongan etnik, besar keluarga, dan
paritas.
b. Pengelompokan menurut tempat
Masalah kesehatan pada umumnya tidak
mengenal batas wilayah administratif, tetapi akan
berkembang sesuai dengan karakteristik masalah
tersebut. Meskipun demikian, pengelompokan
menurut batas administratif masih diperlukan
dengan tidak lupa memperhatikan kemungkinan
penyebarannya di wilayah lain. Pengelompokan
menurut tempat dapat dilakukan menurut daerah
batas pemerintahan, perkotaan/pedesaan
maupun batas alam (misalnya pegunungan,
aliran sungai, pantai)
c. Pengelompokan menurut waktu
Pengelompokan menurut waktu dapat dilakukan
menurut interval pendek (jam, hari, minggu,
bulan), interval menengah (tribulan, semester,
tahun) atau interval panjang (> 5 tahun).
3. Analisis dan Interpelasi Data
Analisis dapat dilakukan dengan cara menganalisis
hanya satu variabel saja (univariat) atau
menghubungkan dua variabel (bivariat). Analisis
univariat dapat dilakukan dengan menghitung proporsi
atau menggunakan statistik deskriptif (misalnya mean,
modus, Standar Deviasi-SD). Untuk analisis dengan
statistik deskriptif harus disesuaikan dengan skala
pengukuran. Analisis bivariat yang sudah
menghubungkan dua variabel (misalnya jumlah
Bab VIII : Konsep Surveilans Epidemiologi
Dasar Epidemiologi/FKM Unair/2009 14
penderita menurut waktu) dapat dilakukan dengan
membuat tabel, kemudian menghitung proporsinya.
Dapat pula dilakukan dengan membuat grafik, sehingga
dapat dilihat kecenderungannya. Analisis dapat pula
dengan menggunakan peta untuk menggambarkan
suatu kejadian menurut tempat dan waktu. Analisis dan
intepretasi sebaiknya tidak dilakukan sendiri oleh
seorang petugas surveilans, tetapi secara tim. Tim dapat
saja dibentuk secara informal dan anggotanya terdiri
dari orang yang menguasai masalah yang sedang
dianalisis dan diintepretasikan.
4. Diseminasi Informasi
Dari hasil analisis dan intepretasi akan dihasilkan
informasi epidemiologi yang dapat dimanfaatkan baik
oleh institusi yang melaksanakan surveilans maupun
institusi lain di masyarakat. Diseminasi informasi dapat
disampaikan kepada:
a. Pengelola program penanggulangan untuk
menentukan tindakan yang harus dilakukan
b. Pemberi (sumber) data. Ini disebut umpan balik.
Dalam umpan balik ini informasi harus berisi
masalah yang ditemukan (dari hasil analisis dan
intepretasi) dan alternatif pemecahnya agar dapat
dilakukan tindakan. Bila tidak ditemukan masalah,
umpan balik harus berisi alternatif untuk
meningkatkan kinera sistem yang sudah ada atau
sedang berjalan. Informasi (dalam umpan balik) yang
dirasakan bermanfaat akan dapat digunakan oleh
sumber data akan meningkatkan kesinambungan
Bab VIII : Konsep Surveilans Epidemiologi
Dasar Epidemiologi/FKM Unair/2009 15
tersedianya data, baik secara kualitas maupun
kuantitas.
c. Bentuk umpan balik dapat melalui buletin, news
letter, kunjungan atau surat untuk correction action.
d. Atasan. Informasi ini disebut laporan dan dapat
dimanfaatkan untuk perencanaan, melakukan
tindakan dan evaluasi program penanggulangan.
e. Lintas program. Informasi ini dapat dimanfaatkan
oleh program lain agar dalam melakukan
perencanaan, tindakan dan evaluasi program yang
dilakukan selalu memperhatikan dan mengacu hasil
surveilans.
f. Lintas sektor. Informasi kepada lintas sektor terkait
dengan upaya peningkatan kesehatan masyarakat
akan meningkatkan wawasan sektor lain, sehingga
diharapkan adanya dukungan politis dan dana dari
institusi terkait.

Pelaksanaan surveilans melibatkan dua institusi kesehatan,
yaitu pelayanan kesehatan (Puskesmas, RS) dan otoritas
kesehatan (Dinas/Departemen Kesehatan), seperti
digambarkan berikut ini.



Latihan (10 menit):
Review kembali bagian F. Komponen sistem surveilans.
Perhatikan apa saja yang menjadi komponen sistem surveilans
itu. Demikian pula bagaimana komponen tersebut berjalan,
sehingga menjadi sistem.
Bab VIII : Konsep Surveilans Epidemiologi
Dasar Epidemiologi/FKM Unair/2009 16

Gambar 1.2 Siapa yang terlibat dalam kegiatan surveilans?


















Surveillance: General Principle
Data









Action
Information









Decision
Reporting
Feedback
Evaluation Analysis &
Inteptretation
Tugas (10 menit):
Perhatikan baik-baik gambar 1.2. Berdasarkan gambar
tersebut sebutkan peran masing-masing institusi dalam
pelaksanaan surveilans!
Tulis jawabannya dalam lembar di bawah ini.

Jawab:
Bab VIII : Konsep Surveilans Epidemiologi
Dasar Epidemiologi/FKM Unair/2009 17
G. Surveilans Terpadu Penyakit (STP)
Sistem Surveilans di Indonesia telah mengalami
perkembangan dari Sistem Surveilans Terpadu (SST) pada
tahun 1987 menjadi Surveilans Terpadu Penyakit (STP). SST
ditujukan untuk memberikan informasi yang dapat dipercaya
mengenai morbiditas dan mortalitas beberapa penyakit
menular terpilih di Indonesia. Tujuan khusus yang ingin dicapai
adalah
1. Mengumpulkan data semua kasus baru di RS (rawat inap,
rawat jalan) dan Puskesmas
2. Menggabungkan dalam laporan triwulan dan tahunan di
tingkat kabupaten, provinsi dan nasional
3. Menyiapkan data agar mudah diorganisir, dianalisis dan
dilakukan tindakan tepat untuk Sistem Kewaspadaan Dini
(SKD)
4. Menyiapkan informasi morbiditas dan mortalitas menurut
sumber laporan, waktu, golongan umur serta insiden per
wilayah
SST mengamati 29 penyakit menular terpilih, yaitu:
1. Kolera
2. Diare
3. Disentri
4. Tifoid
5. TB Paru BTA+
6. TB Paru Klinis
7. Kusta PB
8. Kusta MB
9. Difteri
10. Batuk Rejan
11. Tetanus
12. Poliomielitis
13. Campak
14. Hepatitis
15. Rabies
16. DBD
17. M. falciparum
18. M. vivax
19. M. mix
20. Malaria klinis
21. Sifilis
22. Infeksi GO
23. Framboesia
24. Filiariasis
25. Infeksi Saluran Nafas
lainnya
26. Bronkhitis
27. Pnemonia
28. Influenza
29. Tetanus Neonatorum

Bab VIII : Konsep Surveilans Epidemiologi
Dasar Epidemiologi/FKM Unair/2009 18
Pelaksanaan STP diatur dengan Keputusan Menteri Kesehatan
(Kepmen) No. 1479/2003. Berbeda dengan SST, sumber data
STP adalah Puskesmas, rumah sakit, laboratorium, laporan
KLB penyakit dan keracunan Dinkes kabupaten/kota,
Puskesmas sentinel, rumah sakit sentinel. STP dimaksudkan
untuk diperolehnya informasi epidemiologi penyakit tertentu
dan terdistrisibusinya informasi tersebut kepada program
terkait, pusat-pusat kajian dan pusat penelitian serta unit
surveilans lain.
Jenis penyakit yang diamati dengan STP, tergantung dari
sumber data tersebut. Untuk Puskesmas hanya mengamati
penyakit menular sebagai berikut:
1. Kolera
2. Diare
3. Diare berdarah
4. Tifus perut klinis
5. TB paru BTA+
6. TB paru klinis
7. Kusta PB
8. Kusta MB
9. Campak
10. Difteri
11. Batuk rejan
12. Tetanus
13. Hepititis klinis
14. Malaria klinis
15. Malaria vivax
16. Malaria falsifar
17. Malaria mix
18. DBD
19. Demam dengeu
20. Pneumonia
21. Sifilis
22. Gonnorhae
23. Frambusia
24. Filiariasis
25. Influensa

Untuk rumah sakit, selain mengamati 25 penyakit yang diamati
Puskesmas, juga mengamati penyakit:
26. Typus perut widal/kultur (+)
27. Hepatitis hbsag
28. Encefalitis
29. Meningitis

Bab VIII : Konsep Surveilans Epidemiologi
Dasar Epidemiologi/FKM Unair/2009 19
Sedangkan laboratorium, diwajibkan mengamati 9 penyakit
yang membutuhkan pemeriksaan laboratorium untuk
konfirmasi diagnosis. Penyakit tersebut adalah:
1. Kolera
2. Tifus perut widal/kultur (+)
3. Difteri
4. Hepatitis HbsAg (+)
5. Malaria vivax
6. Malaria falsiparum
7. Malaria mix
8. Enterovirus
9. Resistensi dan tes sensitivitas






Variabel yang dikumpulkan pada STP adalah kasus baru
penyakit, kematian dan total kunjungan kasus menurut
kelompok umur dan jenis kelamin.
Tugas:
Perhatikan jenis penyakit yang diamati dengan SST dan STP. Apakah ada
perbedaan? Jika ada tuliskan perbedaan tersebut!
Jawab:
Bab VIII : Konsep Surveilans Epidemiologi
Dasar Epidemiologi/FKM Unair/2009 20

Untuk Puskesmas dan rumah sakit yang ditunjuk sebagai
sentinel, selain mengamati penyakit menular juga penyakit
tidak menular.Penyakit tidak menular yang diamati di
Puskesmas Sentinel adalah Diabetes Mellitus dan hipertensi.
Sedangkan di rumah sakit sentinel mengamati penyakit:
1. Angina pektoris
2. Infraks Miokard Akut
3. Infark Miokard Subsekuen
4. Hipertensi esensial (primer)
5. Jantung hipertensi
6. Ginjal hipertensi
7. Jantung dan ginjal hipertensi
8. Hipertensi sekunder
9. DM bergantung insulin
10. DM tidak bergantung insulin
11. DM berhubungan malnutrisi
12. DM YTD lainnya
13. DM YTT
14. Neoplasma ganas serviks
uteri
15. Neoplasma ganas payudara
16. Neoplasma ganas hati dan
saluran empedu intrahepatik
17. Neoplasma ganas bronkhus
dan paru
18. Paru obstruksi menahun
19. Kecelakaan lalu lintas
20. Psikosis
Tugas:
Perhatikan dengan seksama penjelasan dosen. Tuliskan perbedaan
pembagian kelompok umur pada SST dan STP!

Jawab:
Kelompok umur SST Kelompok umur STP
Bab VIII : Konsep Surveilans Epidemiologi
Dasar Epidemiologi/FKM Unair/2009 21

Puskesmas sentinel memiliki kriteria mudah dijangkau dari
ibukota kab/kota, memiliki jumlah tenaga cukup serta
mempunyai manajemen pencatatan dan pelaporan baik
sehingga mempunyai akses pelaporan yang baik ke tingkat
kabupaten/kota, provinsi dan pusat. Sedangkan rumah sakit
yang menjadi sentinel adalah rumah sakit tipe A atau B atau
rumah sakit yang ditetapkan oleh Dinas Kesehatan
Kabupaten/Kota, dengan kriteria seperti tersebut di atas.
Untuk mengukur keberhasilan pelaksanaan STP ditetapkan
indikator kinerja sebagai berikut:
a. Kelengkapan laporan bulanan STP unit pelayanan ke
Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota sebesar 90%.
b. Ketepatan laporan bulanan STP Unit Pelayanan ke
Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota sebesar 80%.
c. Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota mencapai indikator
epidemiologi STP sebesar 80%.
d. Kelengkapan laporan bulanan STP Dinas Kesehatan
Kabupaten/Kota ke Dinas Kesehatan Provinsi sebesar
100%.
e. Ketepatan laporan bulanan STP Dinas Kesehatan
Kabupaten/Kota ke Dinas Kesehatan Provinsi sebesar
90%.
f. Kelengkapan laporan bulanan STP Dinas Kesehatan
Provinsi ke Ditjen PPM & PL Depkes sebesar 100%.
g. Ketepatan laporan bulanan STP Dinas Kesehatan
Provinsi ke Ditjen PPM & PL Depkes sebesar 90%.
h. Distrubusi data dan informasi bulanan Kabupaten/Kota,
Provinsi dan Nasional sebesar 100%.
Bab VIII : Konsep Surveilans Epidemiologi
Dasar Epidemiologi/FKM Unair/2009 22
i. Umpan balik laporan bulanan Kabupaten/Kota, Provinsi
dan Nasional sebesar 100%.
j. Penerbitan buletin epidemiologi di Kabupaten/Kota
adalah 4 kali setahun.
k. Penerbitan buletin epidemiologi di Provinsi dan Nasional
adalah sebesar 12 kali setahun.
l. Penerbitan profil tahunan atau buku data surveilans
epidemiologi Kabupaten/Kota, Provinsi dan Nasional
adalah satu tahun sekali.

Tugas:
Diskusikan dengan teman Saudara, apakah indikator tersebut di atas
sama untuk masing-masing tingkat pelaporan data?
Bab VIII : Konsep Surveilans Epidemiologi
Dasar Epidemiologi/FKM Unair/2009 23

Gambar 1.3 Alur Distribusi Data STP
Unit Surveilans
Ditjen PPM-PL
Depkes
Unit Surveilans
Dinas Kesehatan
Provinsi
Unit Surveilans
Dinas Kesehatan
Kab/Kota
Unit Surveilans
Puskesmas
Unit Surveilans
Rumah Sakit
Unit Surveilans
Laboratorium
Formulir STP Puskesmas
Formulir STP Rumah Sakit
Formulir STP Laboratorium
Formulir STP Puskesmas Kab.
Formulir STP Rumah Sakit Kab.
Formulir STP Laboratorium Kab.
Formulir STP Puskesmas Kab.
Formulir STP Rumah Sakit Kab.
Formulir STP Laboratorium Kab.
R
u
m
a
h

S
a
k
i
t

S
e
n
t
i
n
e
l

F
o
r
m
u
l
i
r

S
T
P

R
S

S
e
n
t
i
n
e
l

Distribusi data surveilans dari Unit Surveilans kepada Unit
Surveilans yang akan melakukan kompilasi data
Distribusi data surveilans dari Unit Surveilans yang
melakukan kompilasi data kepada semua Unit Surveilans
yang mengirimkan data
Distribusi data surveilans dari Puskesmas dan Rumah Sakit
Sentinel
P
u
s
k
e
s
m
a
s

S
e
n
t
i
n
e
l

F
o
r
m
u
l
i
r

S
T
P

P
u
s
k
e
s
m
a
s

S
e
n
t
i
n
e
l

Bab VIII : Konsep Surveilans Epidemiologi
Dasar Epidemiologi/FKM Unair/2009 24
H. Surveilans Sentinel
Kata sentinel berarti gardu jaga, dengan demikian surveilans
sentinel berarti menggunakan populasi sentinel untuk
memantau prevalensi penyakit tertentu. Suatu sistem surveilans
sentinel diharapkan dapat memperkirakan insiden penyakit
pada suatu Negara yang tidak memiliki sistem surveilans yang
baik berbasis populasi tanpa melakukan survei yang mahal.
Kita mengenal ada beberapa jenis sentinel, yaitu :
1. Health Event Sentinel (Sentinel kejadian kesehatan)
2. Site Sentinel (sentinel tempat, biasanya adalah klinik
atau pusat pelayanan lain yang memonitor kejadian-
kejadian kesehatan)
3. Provider Sentinel (sentinel kerjasama antar para
penyelanggara pelayanan kesehatan perorangan)
Sentinel kejadian kesehatan, misalnya memantau kejadian:
1. kanker paru dan COPD (Chronic Obstructive Pulmonary
Disease) untuk menilai dampak industrialisasi dan
penggunaan bahan mengandung asbes,
2. penyakit berbasis lingkungan untuk merencanakan dan
mengevaluasi intervensi lingkungan
3. kematian anak untuk menilai kualitas pelayanan
Tempat-tempat yang dapat dengan mudah diperoleh informasi
minimal yang digunakan untuk pengambilan keputusan
kesehatan masyarakat dan mendeteksi kecenderungan jangka
panjang, dapat dijadikan sentinel tempat. Misalnya di rumah
sakit, klinik atau kelompok pengamatan dilakukan pengamatan:
1. Hepatitis dan faktor risikonya di unit pelayanan untuk
mengetahui kecenderungan parenteral drug use
Bab VIII : Konsep Surveilans Epidemiologi
Dasar Epidemiologi/FKM Unair/2009 25
2. HIV pada kelompok khusus untuk monitor
perkembangan wabah HIV di populasi luas
Sentinel provider dilakukan jika beberapa provider sepakat
bekerja sama membentuk jaringan informasi surveilans.
Provider tersebut diperkirakan memberikan pelayanan pada
sejumlah masyarakat (misalnya 1 %), kualitas pemeriksaan
relatif lebih baik. Sentinel provider membutuhkan laporan
teratur (mingguan, bulanan), dan biasanya pada kasus-kasus
yang tidak dilaporkan dalam sistem pelaporan rutin.
Salah satu contoh surveilans sentinel di Indonesia adalah
surveilans sentinel HIV untuk menilai kecenderungan HIV pada
populasi. Surveilans sentinel HIV dibicarakan lebih lanjut pada
Bab 3.

I. Survei Surveilans Perilaku (SSP)
Perkembangan surveilans epidemiologi menjadi surveilans
kesehtatan, menjadikan faktor risiko yang mengarah pada
penyakit merupakan hal penting yang harus dipantau. Salah
satu faktor risiko untuk terjadinya penyakit adalah perilaku.
Sistem surveilans perilaku yang sudah berkembang di
Indonesia adalah Survei Surveilans Perilaku (SSP), yang
mementingkan pengguanaan data tentang perilaku untuk
mendapatkan informasi dan menjelaskan tren HIV pada
populasi. Data perilaku juga dibutuhkan untuk merencanakan
dan mengevaluasi dampak dari HIV.
Informasi penting yang dapat diperoleh dari SSP adalah:
- Perilaku sebagai sistem kewaspadaan dini
- Informasi perilaku sebagai masukan pembuatan program
- Pengamatan perilaku membantu evaluasi program
Bab VIII : Konsep Surveilans Epidemiologi
Dasar Epidemiologi/FKM Unair/2009 26
- Perubahan pada perilaku membantu menjelaskan
perubahan pada prevalensi HIV
Surveilans perilaku dapat ditempuh dengan beberapa langkah
yaitu membangun kerja sama, membuat persetujuan pada
proses surveilans, memilih sub-populasi untuk surveilans
perilaku, menentukan tujuan pengukuran, menentukan definisi
operasional dari populasi sasaran, pemilihan daerah membuat
kerangka sampel, dan pengembangan desain sampel. Langkah
selanjutnya dalam melakukan surveilans perilaku adalah
mengembangkan peraturan survei, uji coba instrumen survei,
pelatihan pewawancara, pengumpulan data dan supervisi,
manajamen data, analisis data dan pengguanaan data untuk
tindakan pencegahan HIV.
Pembahasan yang lebih mendalam tentang SSP akan dipelajari
pada Bab 3.
Penting untuk diingat:
1. Surveilans epidemiologi adalah kegiatan analisis secara sistematis dan
terus menerus terhadap penyakit dan masalah-masalah kesehatan
serta kondisi yang memperbesar risiko terjadinya peningkatan dan
penularan penyakit serta masalah-masalah kesehatan tersebut agar
dapat melakukan tindakan penanggulangan secara efektif dan efisien
melalui proses pengumpulan data, pengolahan dan penyebaran
informasi epidemiologi kepada penyelenggara program kesehatan.
2. Salah satu tokoh yang berperan penting dalam perkembangan
surveilans epidemiologi adalah William Farr.
3. Survei Surveilans Epidemiologi adalah tatanan prosedur
penyelanggaraan surveilans epidemiologi (SE) yang terintegrasi antara
unit-unit penyelanggara surveilans dengan Laboratorium, Sumber-
Bab VIII : Konsep Surveilans Epidemiologi
Dasar Epidemiologi/FKM Unair/2009 27
sumber data, Pusat Penelitian dan Penyelenggara program kesehatan.
4. Sebagai suatu sistem, surveilans epidemiologi mencakup dua kegiatan
manajemen yaitu kegiatan inti (surveilans dan tindakan) serta kegiatan
pendukung.
5. Rusng lingkup suveilans epidemiologi di Indonesia adalah Penyakit
Menular, Penyakit Tidak Menular, Kesehatan Lingkungan dan Perilaku,
Masalah Kesehatan, Kesehatan matra.
6. Tujuan dilakukan surveilans adalah untuk memperoleh informasi
epidemiologi suatu peristiwa kesehatan.
7. Informasi epidemiologi yang diperoleh dari kegiatan surveilans dapat
dimanfaatkna untuk perencanaan, implementasi dan evaluasi dari
suatu kegiatan yang ditujukan untuk suatu peristiwa kesehatan.
8. Komponen surveilans epidemiologi terdiri dari pengumpulan data;
kompilasi, analisis dan interpretasi data; serta diseminasi informasi
(pelaporan, umpan balik, tindakan: investigasi)
9. Pelaksanaan surveilans melibatkan dua institusi kesehatan, yaitu
pelayanan kesehatan (Puskesmas, RS) dan otoritas kesehatan
(Dinas/Departemen Kesehatan)
10. Institusi pelayanan kesehatan berperan dalam Penyediaan data
(pengumpulan dan pelaporan) serta melakukan tindakan yang
direkomendasikan.
11. Otoritas kesehatan berperan dalam kompilasi, analisis dan interpretasi
data serta feed back dan diseminasi informasi.
12. STP merupakan perkembangan dari SST. Pelaksanaan STP diatur
dengan Keputusan Menteri Kesehatan (Kepmen) No. 1479/2003, yang
dimaksudkan untuk diperolehnya informasi epidemiologi penyakit
tertentu dan terdistribusinya informasi tersebut kepada program terkait,
pusat-pusat kajian dan pusat penelitian serta unit surveilans lain.
Bab VIII : Konsep Surveilans Epidemiologi
Dasar Epidemiologi/FKM Unair/2009 28
13. Sumber data STP adalah Puskesmas, rumah sakit, laboratorium,
laporan KLB penyakit dan keracunan dinkes kabupaten / kota,
Puskesmas sentinel, rumah sakit sentinel.
14. Jenis penyakit yang diamati dengan SST, tergantung dari sumber data.
Untuk Puskesmas dan rumah sakit sentinel selain penyakit menular
juga mengamati penyakit tidak menular.
15. Variabel yang dikumpulkan pada STP adalah kasus baru penyakit,
kematian dan total kunjungan kasus menurut kelompok umur dan jenis
kelamin.
16. Indikator kinerja STP meliputi ketepatan dan kelengkapan laporan,
pemberian umpan balik, pendistribusian data dan inforasi, penerbitan
bulletin epidemiologi serta pembuatan profil tahunan atau buku data.
17. Sistem surveilans sentinel diharapkan dapat memperkirakan insiden
penyakit pada suatu negara yang tidak memiliki sistem surveilans yang
baik berbasis populasi tanpa melakukan survei yang mahal.
18. Jenis sentinel, yaitu health Event Sentinel (Sentinel kejadian
kesehatan), Site Sentinel (sentinel tempat, biasanya adalah klinik atau
pusat pelayanan lain yang memonitor kejadian-kejadian kesehatan),
Provider Sentinel (sentinel kerjasama antar para penyelenggara
pelayanan kesehatan perorangan).
19. Sistem surveilans perilaku yang sudah berkembang di Indonesia
adalah Survei Surveilans Perilaku (SSP), yang mementingkan
penggunaan data tentang perilaku untuk mendapatkan informasi dan
menjelaskan tren HIV pada populasi. Data perilaku juga dibutuhkan
untuk merencanakan dan mengevaluasi dampak dari HIV.




Bab VIII : Konsep Surveilans Epidemiologi
Dasar Epidemiologi/FKM Unair/2009 29
DAFTAR PUSTAKA

Depkes, 2003, Surveilans Epidemiologi Penyakit (PEP) Edisi I, Direktorat
Jenderal Pemberantasan Penyakit Menular dan Penyehatan Lingkungan
Depkes R.I., Jakarta

DFID (Departmen for International Development), 2000, Behavioral
Surveillance Surveys, Guidelines For Repeated Behavioral Surveys In
Populations At Risk Of HIV

Murti, B., 2003, Prinsip dan Metode Riset Epidemiologi (edisi Kedua) Jilid
Pertama, Gadjah Mada University Press, Yogyakarta

Murti, B., 1997, Prinsip dan Metode Riset Epidemiologi, Gadjah Mada
University Press, Yogyakarta

Thacker, S.B., 2000, History of Public Health surveillance, dalam: Teutch,
S.M., R.E., Churchil (eds): Principle and Practice of Public Health
Surveillance, Second Edition, Oxford University Press Inc, New York