Anda di halaman 1dari 7

EPIDEMIOLOGI MULTI DRUG RESI STANT PADA TUBERCOLOSIS

Kemenkes (2011) melaporkan bahwa saat ini Indonesia sebagai negara


kelima dengan kasus TB tertinggi di dunia. Kondisi tersebut membuat Indonesia
termasuk dalam 22 negara yang dikategorikan sebagai high burden countries.
Jumlah kasus TB pada 22 negara yang terkategori high burden countries
menyumbang sekitar 82% kasus TB di seluruh dunia tahun 2011. Estimasi
prevalensi TB semua kasus adalah sebesar 680.000 (World Health Organization,
2011). Walaupun strategi DOTS telah terbukti sangat efektif untuk pengendalian
TB, tetapi beban penyakit TB di masyarakat masih sangat tinggi (Kemenkes RI,
2011). Pengendalian TB juga mendapat tantangan baru seperti ko-infeksi
TB/HIV, TB yang resisten obat dan tantangan lainnya dengan tingkat
kompleksitas yang makin tinggi.
Multidrug-resistant Tuberculosis (MDR-TB) disebabkan karena bakteri
M. tubercolosis yang resisten terhadap isoniazid dan rifampicin baik disertai
maupun tidak disertai resistensi terhadap obat lainnya. Secara global, sekitar 3%
dari seluruh pasien baru Tubercolosis terdiagnosis MDR TB (Sharma & Mohan,
2004). Angka MDR-TB di Indonesia diperkirakan sebesar 2% dari seluruh kasus
TB baru. Angka ini masih lebih rendah dari estimasi di tingkat regional sebesar
4%. Sedangkan MDR-TB pada pasien TB yang sudah pernah dirawat muncul
pada sekitar 20% kasus TB dengan pengobatan ulang. Diperkirakan terdapat
sekitar 6.300 kasus MDR TB setiap tahunnya (Kemenkes RI, 2011).

Multidrug-resistant TB
MDR-TB adalah resistensi terhadap obat anti tuberkolosis isoniazid dan
rifampicin. Isoniazid adalah obat mikrobakteri yang membantu mengurangi
penularan TB. Sedangkan rifampicin berperan penting dalam mencegah
kekambuhan. Oleh karena itu, kedua obat tersebut merupakan obat yang berperan
penting dalam pengobatan TB. Resistensi terhadap dua obat ini secara bersamaan
disebut sebagai MDR-TB dan membutuhkan pengobatan dengan second-line
drug. Resistensi hanya terhadap salah satu isoniazid atau rifampicin saja tidak
termasuk MDR-TB dan dapat diobati dengan obat first-line lainnya. MDR lebih
sulit untuk ditangani, umumnya membutuhkan perawatan yang lebih lama (sekitar
20 hingga 24 bulan), lebih intensif dan lebih mahal. Pasien dengan MDR-TB
dapat menularkan ke orang lain sama seperti pasien TB yang normal.
Selain MDR-TB, juga berkembang XDR-TB. Extensively drug resistant
(XDR) TB adalah kasus MDR-TB yang juga resisten terhadap dua atau lebihobat
second-line agent yang digunakan untuk pengobatan MDR-TB. Tingkat resisten
XDR-TB lebih tinggi daripada MDR-TB sehingga pengobatan yang dibutuhkan
akan lebih lama dan mahal.

Epidemiologi MDR-TB
Pertumbuhan penyakit TB yang cepat membuat dunia memberikan
perhatian serius pada perkembangan penyakit ini. Berdasarkan berbagai publikasi
ilmiah menunjukkan bahwa resistensi terhadap obat anti TB berpotensi menjadi
masalah besar dalam upaya pemberantasan TB. WHO telah menggariskan bahwa
surveilans MDR-TB menjadi salah satu upaya yang harus dilakukan oleh setiap
negara di dunia untuk mencegah perkembangan penyakit TB (World Health
Organization, 2012). Surveilans ini berguna untuk memantau terus-menerus
kejadian dan kecenderungan kejadian MDR-TB. Hasil surveilans diharapkan
dapat menunjukkan faktor risiko MDR-TB.
Studi terdahulu telah menunjukkan ada berbagai faktor yang berhubungan
dengan kejadian MDR-TB. Faktor status perawatan TB yang dilakukan menjadi
salah satu faktor munculnya MDR-TB. Pasien yang sudah pernah melakukan
perawatan TB cenderung lebih rentan mengalami MDR-TB. Selain riwayat
pernah melakukan perawatan TB atau belum, sebuah studi di Arab Saudi juga
menunjukkan bahwa usia muda merupakan faktor risiko dalam kejadian MDR-
TB. Ketidakpatuhan pasien dalam melakukan perawatan TB serta rendahnya
status sosial ekonomi dan body mass index (BMI) pasien juga dilaporkan menjadi
faktor risiko dalam kejadian MDR-TB.
Tabel 1 merupakan hasil meta analysis terhadap publikasi ilmiah terkait
epidemiologi MDR-TB. Keempat publikasi tersebut merupakan publikasi ilmiah
dengan kata kunci epidemiology of multidrug treatment in TB.
Tabel 1 Publikasi Penelitian Selama Tahun 2010-2013 Terkait
Epidemiologi MDR-TB
N
o.
Pustaka Tujuan Metode Hasil Kesimpula
n
1 Millet, J.-
P. et al.,
2011.
Predictors
of Death
among
Patients
Who
Completed
Tuberculo
sis
Treatment:
A
Population
-Based
Cohort
Study.
PLoS
ONE, 6(9).


Mengidentifi
kasi
kemungkinan
kematian dan
faktor
prediktifnya
pada
kelompok
penderita TB
yang telah
berhasil
menjalani
perawatan TB
populatio
n-based
retrospec
tive
longitudi
nal study

Faktor
risiko
dihitung
dengan
menggun
akan
ukuran
hazard
ratio(HR
) dengan
95%
confidenc
e
intervals
(CI)

Karakteristik
responden
1. Median usia 36
tahun
2. Jenis kelamin
mayoritas laki-
laki (68,2%)
3. 178 (27,3%)
terinfeksi HIV
4. 208 pecandu
minuman
beralkohol
5. 134 menggunakan
narkoba suntik
dan 91,8%
terinfeksi HIV
6. 30 (3,9%)
mengalami
kekambuhan
7. 173 (22,7%)
meninggal
8. mortality rate:
3.4/100 orang
setiap tahun

Prediktor
1. Berusia antara 41
60 tahun (HR: 3.5;
CI:2.15.7)
2. Berusia lebih dari
60 tahun (HR:
14.6; CI:8.924)
3. Pecandu alkohol
4. (HR: 1.7; CI:1.2
2.4)
5. Pengguna narkoba
suntik yang
terinfeksi HIV
(HR: 7.9; CI:4.7
13.3).
Mortality
Rate pada
pasien TB
yang telah
mendapat
perawatan
TB secara
lengkap
berhubunga
n dengan
kerentanan
yang
dimiliki
kelompok
pasien
dengan
karakteristi
k tertentu.
Karakteristi
k spesifik
ini antara
lain usia
tua,
pecandu
alkohol,
dan
pengguna
narkoba
suntik yang
menderita
HIV

2 Chung-
Delgado,
K. et al.,
Mengidentifi
kasi faktor
determinan
A case-
control
study
Faktor yang secara
independen
berhubungan dengan
Efek
samping
obat anti
N
o.
Pustaka Tujuan Metode Hasil Kesimpula
n
2011.
Factors
Associated
with Anti-
Tuberculo
sis
Medicatio
n Adverse
Effects: A
Case-
Control
Study in
Lima,
Peru.
PLoS
ONE,
6(11).
yang
berhubungan
dengan efek
samping obat
anti TB di
Lima, Peru,
dengan
mempertimba
ngkan
kejadian
MDR-TB,
infeksi HIV,
diabetes, usia
dan perokok

Multivari
able
model
dibuat
untuk
melihat
faktor
independ
en yang
berhubun
gan
dengan
efek
samping
obat TB.
Model
secara
umum
serta
terkait
umur dan
terkait
jenis
kelamin
dihitung
dengan
menggun
akan
Odds
Ratio
(OR) dan
95%
efek samping obat
TB, antara lain:
1. Usia lebih
dari 40 tahun
(OR = 3.93;
95%CI: 1.65
9.35)
2. overweight/o
besity (OR =
2.13; 95%CI:
1.173.89)
3. anemia (OR
= 2.10;
IC95%:1.13
3.92),
4. MDR-TB
(OR = 11.1;
95%CI: 6.29
19.6),
5. Kebiasaan
merokok (OR
= 2.00;
95%CI: 1.03
3.87)

TB
berhubunga
n dengan
usia tua,
anemia,
kelebihan
berat
badan/
obesitas,
dan riwayat
merokok.
Pasien
dengan
karakteristi
k tersebut
perlu
mendapat
perhatian
lebih
selama
perawatan
TB
3 Alfaresi,
M.S. &
Hag-Ali,
M., 2010.
Susceptibil
ity Pattern
and
Epidemiol
ogy of
Mycobacte
rium
tuberculosi
s in United
Mengidentifi
kasi pola
MDR-TB di
rumah sakit
di Arab
Deskripti
f, total
populasi
penderita
TB
selama
Januari
2001
hingga
Desembe
r 2008
1. Resistance to
Single
Antituberculsis
Medication
a. isoniazid,
34.5%
b. pyrazinamide
, 34.8%
c. rifampin,
32.5%
d. streptomycin,
25.6%
e. ethambutol,
Studi ini
merupakan
studi
pertama di
UAE yang
menunjukk
an
tingginya
angka
resistensi
pasien TB
terhadap
obat anti
N
o.
Pustaka Tujuan Metode Hasil Kesimpula
n
Emirati
Hospital.
The Open
Microbiol
ogy
Journal, 4,
pp.1-4.
20.9%

2. MDR-TB
a. isoniazid,
rifampin dan
pyrazinamide
7%
b. isoniazid,
rifampin dan
streptomycin
2.3%
c. isoniazid,
rifampin,
streptomycin
dan
pyrazinamide
2.3%
d. resistance
rate terhadap
kelima jenis
obat 4.6%
TB seperti
isoniazid
dan
pyrazinami
de

4 Ogaro et
al., 2012.
Anti-
tuberculosi
s drug
resistance
in Nairobi,
Kenya.
African
Journal of
Health
Science,
20(1),
pp.21-27.
Mengidentifi
kasi tingginya
MDR-TB di
Nairobi,
Kenya
cross
sectional
study
yang
dilakukan
pada
pasien
TB
berusia di
atas 14
tahun
pada 16
fasilitas
kesehatan
di Kenya
antara
Februari-
Agustus
2010
Dari 595 pasien yang
dites MTB, 568
(95.4%) pasien
positif MTB.
a. 369 pasien
adalah pasien
baru
Komposisi obat
resisten pada pasien
lama
a. Isoniazid
(18,1%)
b. Streptomycin
(10,5%)
c. ethambutol
(7,03%)
d. rifampicin
(9,04%)
Prevalensi MDR-TB
8,54%

b. 199 pasien
adalah yang
sudah pernah
mendapatkan
Penelitian
ini
membandin
gkan
kondisi di
Nairobi
dengan
daerah lain
yang
menunjukk
an
tingginya
angka
resistensi
obat TB.
MDR-TB
di Nairobi
juga
menunjukk
an angka
tertinggi
dibanding
dengan
kota
kosmopolit
N
o.
Pustaka Tujuan Metode Hasil Kesimpula
n
perawatan
Komposisi obat yang
resisten pada pasien
baru
a. Isoniazid
(10,3%)
b. Streptomycin
(4,3%)
c. ethambutol
(5,1%)
d. rifampicin
(0,81%)
Prevalensi MDR-TB
0,54%
an yang
ada di
Kenya

Tabel 1 menunjukkan kejadian MDR-TB berhubungan dengan beberapa
karakteristik spesifik. Karakteristik ini akan berbeda pada setiap negara.
Prevalensi resisteni obat anti TB bervariasi pada setiap negara (Alfaresi & Hag-
Ali, 2010). Di Uni Emirat Arab dan Kenya, prevalensi MDR-TB terhadap
isoniazid merupakan yang paling tinggi daripada negara lainnya. Sedangkan di
negara lain seperti New Caledonia (0%) dan in New Caledonia, Mozambique
(7.9%), dan India (10%), MDR-TB terhadap isoniazid bukanlah yang tertinggi.
Jenis obat yang menyebabkan MDR-TB merupakan salah satu faktor
penting dalam munculnya efek samping yang ditunjukkan pasien dalam konsumsi
obat second-line yang digunakan saat pengobatan MDR-TB. Penelitian yang
dilakukan oleh Chung-Delgado et al. (2011) menunjukkan bahwa kemungkinan
efek samping obat anti TB muncul dalam pengobatan lanjutan adalah 11 kali lebih
mungkin daripada saat pengobatan dengan first-line drug. Studi di Peru
menunjukkan bahwa 95% pasien mengalami efek samping obat second-line dalam
pengobatan TB. Lebih dari 50%nya terjadi pada pasien dengan MDR-TB. Hal ini
karena obat dalam perawatan MDR-TB memiliki efek toksisitas yang lebih tinggi
dan digunakan dalam jangka waktu yang lebih lama. Selain jenis obat yang
digunakan, studi case-control yang dilakukan oleh Chung-Delgado et al. (2011),
usia, anemia, , kelebihan berat badan atau obesitas, dan perilaku merokok secara
independen berhubungan dengan munculnya efek samping pada pasien perawatan
MDR-TB. Riwayat konsumsi alkohol dan HIV akan semakin memperparah
munculnya efek samping perawatan MDR-TB.

DAFTAR PUSTAKA
Alfaresi, M.S. & Hag-Ali, M., 2010. Susceptibility Pattern and Epidemiology of
Mycobacterium tuberculosis in United Emirati Hospital. The Open
Microbiology Journal, 4, pp.1-4.
Chung-Delgado, K. et al., 2011. Factors Associated with Anti-Tuberculosis
Medication Adverse Effects: A Case-Control Study in Lima, Peru. PLoS
ONE, 6(11).
Kemenkes RI, 2011. Strategi Nasional Pengendalian TB di Indonesia 2010-2014.
Jakarta: Kemenkes RI.
Millet, J.-P. et al., 2011. Predictors of Death among Patients Who Completed
Tuberculosis Treatment: A Population-Based Cohort Study. PLoS ONE,
6(9).
Ogaro et al., 2012. Anti-tuberculosis drug resistance in Nairobi, Kenya. African
Journal of Health Science, 20(1), pp.21-27.
Sharma, S.K. & Mohan, A., 2004. Multidrug-resistant tuberculosis. Indian J Med
Res, pp.354-76.
World Health Organization, 2011. Tuberculosis profile. Geneva: World Health
Organization.
World Health Organization, 2012. Global Tuberculosis Report 2012. Geneva:
World Health Organization.