Anda di halaman 1dari 5

Penyusutan, Penurunan, dan Deplesi

(Bab 11)
1. Penyusutan
Penyusutan adalah mengalokasikan biaya aktiva berwujud ke beban dengan cara yang
sistematis dan rasional selama periode yang diharapkan mendapat manfaat dari penggunaan
aktiva tersebut.
1.1. Faktor-faktor yang terlibat dalam proses penyusutan
a. Dasar Penyusutan Aktiva
Dasar yang ditetapkan untuk penyusutan merupakan fungsi dari dua factor: biaya
awal dan nilai sisa atau pelepasan.
b. EstimasiUmur Pelayanan atau Jasa
Aktiva ditarik dari penggunaan karena dua alasan: factor-faktor fisik(seperti
kerusakan atau habisnya umur fisik), dan factor-faktor ekonomi (keusangan).

1.2. Metode Penyusutan
a. Metode aktivitas
Disebut juga pendekatan beban variabel atau pendekatan unit produksi, yang
mengasumsikan bahwa penyusutan adalah fungsi dari penggunaan atau produktivitas
dan bukan dari berlalunya waktu.
b. Metode garis lurus
Mempertimbangkan penyusutan sebagai fungsi dari waktu, bukan fungsi dari
penggunaan.
c. Metode beban menurun
Metode beban menurun menyediakan biaya penyusutan yang lebih tinggi pada
tahun-tahun awal dan beban yang lebih rendah pada periode mendatang. Metode
beban menurun dibedakan menjadi dua jenis, yaitu:
Metode jumlah angka tahun, menghasilkan beban penyusutan yang menurun
berdasarkan pecahan yang menurun dari biaya yang dapat disusutkan.
Metode saldo menurun, menggunakan tariff penyusutan berupa beberapa kelipatan
dari metode garis lurus.
d. Metode penyusutan khusus, terdiri dari:
Metode kelompok, sering digunakan apabila aktiva bersangkutan cukup homogen
serta memiliki masa manfaat yang hampir sama, sedangkan pendekatan gabungan,
dimana digunakan apabila aktiva bersangkutan bersifat heterogen dan memiliki
umur manfaat yang berbeda.
Metode campuran atau kombinasi, merupakan pengkombinasian dan pengembangan
metode penyusutan yang dibuat khusus oleh suatu perusahaan.


1.3. Masalah Penyusutan Khusus
a. Penyusutan dan Metode Parsial atau Sebagian
Dalam menghitung beban penyusutan periode parsial, perusahaan menentukan beban
penyusutan untuk setahun penuh dan kemudian merata-ratakan beban penyusutan ini
pada dua periode yang terlibat.
b. Penyusutan dan Penggantian Aktiva Tetap
Suatu konsepsi yang salah tentang penyusutan adalah bahwa penyusutan
menyediakan dana bagi penggantian aktiva tetap. Penyusutan sama dengan beban
lain yang mengurangi laba bersih.
c. Revisi Tarif Penyusutan
Ketika aktiva dibeli, tariff penyusutan ditentukan dengan hati-hati berdasarkan
pengalaman masa lalu dengan aktiva sejenis dan informasi lainnya yang berkaitan.
Namun, provisi untuk penyusutan hanya merupakan estimasi dan mungkin untuk
merevisinya selama umur aktiva.

2. Penurunan Nilai
Standar akuntansi umum mengenai nilai terendah antara biaya atau harga pasar untuk
persediaan tidak dapat diaplikasikan pada property, pabrik, dan peralatan.

2.1. Pengakuan Penurunan Nilai
Dalam standar ini, penurunan nilai terjadi apabila jumlah tercatat aktiva tidak dapat
dipulihkan dan oleh karena itu perlu dihapuskan. Berbagai kejadian dan perubahan
situasi mungkin akan mengarah pada suatu penurunan nilai.
2.2. Pengukuran Penurunan Nilai
Jika pengujian tentang kemampuan pemulihan menunjukkan bahwa penurunan nilai
terjadi, maka suatu kerugian dihitung. Kerugian penurunan nilai akan terjadi dimana
jumlah tercatat aktiva melebihi nilai wajarnya. Nilai wajar aktiva diukur menurut nilai
pasarnya jika ada pasar aktif untuk aktiva tersebut. Jika tidak ada pasar aktif, maka nilai
sekarang dari arus kas bersih masa depan harus digunakan.
2.3. Restorasi Kerugian Penurunan Nilai
Setelah kerugian penurunan nilai dicatat, maka penurunan nilai tercatat aktiva yang
ditahan untuk digunakan menjadi dasar biaya yang baru. Akibatnya dasar biaya baru ini
tidak berubah kecuali untuk penyusutan di periode masa depan atau penurunan nilai
tambahan. Kerugian penurunan nilai tidak dapat direstorasi atas aktiva yang ditahan
untuk digunakan.
2.4. Aktiva yang Akan Dilepaskan
Aktiva yang ditahan untuk dilepaskan tidak akan disusutkan selama periode aktiva itu
dimiliki. Suatu aktiva yang ditahan untuk dilepaskan dapat dicatat pada periode
mendatang, selama pecatatan itu pernah lebh besar dari nilai tercatat akiva sebelum
penurunan nilai.

3. Deplesi
Sumber daya alam yang seringkali disebut aktiva yang dapat habis mencakup minyak,
mineral, dan kayu. Aktiva ini dikarakteristikkan dengan dua fitur utama : (1) pengambilan
sepenuhnya aktiva itu dan (2) penggantian aktiva ini hanya dapat dilakukan oleh tindakan
alam.

3.1. Penetapan dasar deplesi
Perhitungan dasar deplesi melibatkan empat faktor :
a. Biaya akuisisi adalah harga yang dibayarkan guna memperoleh hak properti untuk
mencari dan menemukan sumber daya alam yang belum ditemukan atau harga yang
harus dibayar untuk sumber daya yang telah ditemukan.
b. Biaya eksplorasi, segera setalah perusahaan memiliki hak untuk menggunakan
propeti itu, biaya aksplorasi seringkali diperlukan untuk menemukan sumber daya
alam.
c. Biaya pengembangan, dibagi menjadi 1). peralatan berwujud dan 2). Biaya
pengembangan tidak berwujud. Biaya peralatan berwujud biasanya tidak
diperhitungkan sebagai dasar deplesi sedangkan biaya pengembangan tidak
berwujud disisi lain dapat dianggap sebagai bagian dari dasar deplesi.
d. Biaya Restorasi, perusahaan kadang-kadang mengeluarkan biaya yang substansial
untuk merestorasi properti kembali seperti kondisi semula setelah dilakukan
penambangan. Biaya restorasi ini harus ditambahkan ke dasar deplesi untuk tujuan
perhitungan biaya per unit. Kemudian setiap niali sisa yang diterima atas properti itu
dikurangi dari dasar deplesi.
3.2. Penghapusan biaya sumber daya
Menentukan bagaimana biaya sumber daya alam harus dialokasikan ke periode
akuntansi. Biasanya deplesi dihitung dengan metode unit produksi (pendekatan
aktivitas), yang berarti bahwa deplesi merupakan fungsi dari jumlah unit yang ditarik
selama periode berjalan. Dalam menerapkan pendekatan ini, total biaya sumber daya
alam dikurangi nilai sisa dibagi dengan estimasi jumlah unit yang berada dalam deposit
sumber daya alam, untuk memperoleh biaya per unit produk.
3.3. Kontroversi yang berkelanjutan
a. 1977-FASB mengluarkan statement no.19, yang mengharuskan perusahaan minyak
dan gas untuk mengikuti akuntansi upaya yang berhasil.
b. 1978-Dalam menanggapi kritik terhadap tindakan FASB, SEC memeriksa kembali
masalah itu dan menemukan bahwa baik akuntansi upaya yang berhasil maupun
biaya penuh tidak memadai karena tidak satupun yang merefleksikan substansi
ekonomi dari ekplorasi minyak dan gas.
c. 1979-1091, sebagai akibat dari tindakan SEC, FASB tidak mempunyai pilihan selain
menerbitkan standar lain yang menunda persyaratan bahwa perusahaan harus
mengikuti akuntansi upaya yang berhasil.
d. 1981-SEC mengumumkan bahwa ia membatalkan RRA sebagai metode pengakuan
akuntansi potensial dalam laporan keuangan utama produsen minyak dan gas.

3.4. Masalah khusus dalam akuntansi deplesi
a. Mengestimasi cadangan yang dapat dipulihkan
Seringkali estimasi cadangan yang dapat dipulihkan harus diubah baik karena
informasi baru telah tersedia maupun karena proses produksi telah menjadi lebih
canggih. Masalah ini sama dengan akuntansi untuk perubahan estimasi umur
manfaat pabrik dan peralatan.
b. Nilai penemuan.
Nilai penemuan merupakan istilah lebih luas yang berkaitan dengan keseluruhan
daerah sumber daya alam. Seperti ditunjukkan sebelumnya akuntan tidak mengakui
nilai penemuan. Akan tetapi, jika nilai penemuan akan dicatat maka suatu akun
aktiva akan didebet dan akun apresiasi yang belum direalisasi akan di kredit.
c. Aspek pajak dari sumber daya alam.
Peraturan pajak telah lama menetapkan pengurangan yang lebih besar dari biaya atau
persentase pajak deplesi terhadap pendapatan minyak, gas, dan kebanyakan mineral.
Persentase deplesi atau statuter memungkinkan pengahapusan sekitar 5% hingga
22% (tergantung pada sumber daya alam) dari pendapatan kotor yang diterima.
d. Dividen likuidasi
Masalah akuntansi yang utama adalah membedakan antara dividen yang merupakan
pengembalian modal dan yang bukan. Perusahaan yang menerbitkan dividen
likuidasi harus mendebet agio saham untuk bagian yang berhubungan dengan
investasi awal dan bukan ke laba ditahan, karena dividen tersebut merupakan
pengembalian sebagian dari kontribusi awal investor.

4. Penyajian dan Analisis
4.1. Penyajian Properti, Pabrik, peralatan, dan Sumber Daya Alam
Dasar penilaian biasanya biaya historis, untuk properti, pabrik, peralatan, dan sumber
daya alam harus diungkapkan bersama dengan penyajian, hak gadai, dan komitmen
lainnya yang berhubungan dengan aktiva ini. Karena dampak yang signifikan dari
metode penyusutan yang digunakan terhadap laporan keuangan, maka pengungkapan
berikut harus dibuat:
a. Beban penyusutan untuk periode berjalan
b. Saldo kelas utama dari aktiva yang dapat disuutkan, menurut sifat dan fungsi
c. Akumulasi penyusutan, baik menurut kelas utama aktiva yang dapat disusutkan
maupun dalam jumlah total
d. Suatu uraian umum tentang metode yang digunakan dalam menghitung penyusutan
berkaitan dengan kelas utama aktiva yang dapat disusutkan.

4.2. Analisis Properti, Pabrik, Peralatan dan Sumber Daya Alam
Aktiva dapat dianalisis secara relatif dengan aktivitas (perputaran) dan profitabilitas.
Seberapa efisisen perusahaan menggunakan aktiva untuk menghasilkan penjualan diukur
dengan rasio perputaran aktiva (asset turnoffer ratio). Rasio ini ditentukan dengan
membagi penjualan bersih dengan rata-rata total aktiva selama periode berjalan.
Pengukuran lainnya untuk menganalisis penggunaan properti, pabrik, dan peralatan
adalah rasio marjin laba terhadap penjualan, dimana dihitung dengan cara laba bersih
dibagi dengan penjualan bersih, serta tingkat pengembalian atas aktiva (rate of
return on asset = ROA) yang dapat secara langsung dihitung dengan membagi laba
bersih dengan rata-rata total aktiva.

Anda mungkin juga menyukai