Anda di halaman 1dari 17

1

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Bakteri merupakan makhluk hidup yang terdapat dimana-mana ( udara, di
tanah, dalam tubuh, dan lain-lain ). Salah satu bakteri yang ada dalam tubuh
adalah Escherichia coli. Echerichia coli merupakan flora normal yang menjadi
penghuni utama usus besar manusia yang hidupnya komensal dalam kolon
manusia. Escherichia coli adalah salah satu jenis spesies utama bakteri gram
negatif yang bergerak dengan menggunakan flagella. E. coli ditemukan oleh
Theodor Escherich pada tahun 1885.
E. coli memiliki peranan yang baik dan berguna bagi kelangsungan hidup
manusia. E.coli berperan dalam pembusukan makanan dan pembentukan vitamin
K yang penting untuk pembekuan darah. Bakteri ini juga banyak digunakan
dalam teknologi rekayasa genetika sebagai vektor untuk menyisipkan gen-gen
tertentu yang diinginkan untuk dikembangkan. Hal ini disebabkan karena
pertumbuhannya sangat cepat dan mudah dalam penanganannya.
Namun, E. coli dapat menimbulkan penyakit bila masuk ke dalam organ
atau jaringan lain. Salah satu penyakit yang ditimbulkan oleh E. coli adalah
infeksi saluran kemih. Berdasarkan pemikiran tersebut, makalah ini diberi judul
Infeksi Saluran Kemih oleh Escherichia coli

1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas, muncul rumusan masalah sebagai
berikut.
1.2.1 Bagaimana patogenisitas Escherichia coli?
1.2.2 Bagaimana cara Escherichia coli menginvansi saluran kemih?
1.2.3 Bagaimana epidemiologi infeksi saluran kemih oleh Escherichia coli?
1.2.4 Bagaimana pencegahan dan pengobatan infeksi saluran kemih akibat
bakteri Escherichia coli?


2

1.3 Tujuan Pembahasan
Berdasarkan rumusan masalah diatas, tujuan pembahasan makalah ini
adalah sebagai berikut :
1.3.1 Mengetahui patogenisitas Escherichia coli.
1.3.2 Mengetahui cara Escherichia coli menginvansi saluran kemih.
1.3.3 Mengetahui epidemiologi infeksi saluran kemih oleh Escherichia coli.
1.3.4 Mengetahui pencegahan dan pengobatan penyakit saluran kemih akibat
bakteri Escherichia coli.























3

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Sejarah Escherichia coli
Escherichia coli pertama kali ditemukan di kolon manusia oleh Theodor
Escherich, seorang ahli bakteriologi Jerman pada tahun 1885. Pada 1885, beliau
menggambarkan organisme ini sebagai komunitas bakteri coli, dengan
membangun segala perlengkapan patogenitasnya di infeksi saluran pencernaan.
Nama Bacterium Coli sering digunakan sampai pada tahun 1991. Penggunaan
sebutan Escherichia coli muncul ketika Castellani dan Chalames menemukan
genus Escherichia dan menyusun tipe spesies E. coli.
Klasifikasi Escherichia coli menurut Songer dan Post ( 2005 ) adalah
sebagai berikut:
Domain : Bacteria
Kingdom : Bacteria
Phylum : Proteobacteria
Class : Gamma Proteobacteria
Order : Enterobacteriales
Family : Enterobacteriaceae
Genus : Escherichia
Species : Escherichia coli (E. Coli)

2.2 Morfologi Escherichia coli







Gambar 2.1 Escherichia coli
4

E. coli dari anggota famili Enterobacteriaceae. Bakteri ini berbentuk batang,
berukuran 0,4-0,7 x 1,0-3,0 m, termasuk gram negatif, dapat hidup soliter
maupun berkelompok, umumnya motil, tidak membentuk spora, serta fakultatif
anaerob (Carter & Wise 2004). E. coli merupakan penghuni normal usus,
seringkali menyebabkan infeksi.
Struktur sel Escherichia coli dikelilingi oleh membran sel, terdiri dari
sitoplasma yang mengandung nukleoprotein. Membran sel Escherichia coli
ditutupi oleh dinding sel berlapis kapsul. Dinding sel Escherichia coli berupa
lipopolisakarida yang bersifat pirogen dan menghasilkan endotoksin serta
diklasifikasikan sebagai antigen O.
Kapsula atau mikrokapsula terbuat dari asam - asam polisakaridayang dapat
melindungi membran luar dari fagositik dan sistem komplemen, diklasifikasikan
sebagai antigen K. Mukoid kadang kadang memproduksi pembuangan
ekstraselular yang tidak lain adalah sebuah polisakarida dari speksitifitas antigen
K tententu atau terdapat pada asam polisakarida yang dibentuk oleh
banyak E. coli seperti pada Enterobacteriaceae. Selanjutnya digambarkan
sebagai antigen M dan dikomposisikan oleh asam kolanik.
Biasanya sel ini bergerak dengan flagella petrichous. Flagela dan pili
Escherichia coli menjulur dari permukaan sel. Flagela Escherichia coli terdiri dari
protein yang bersifat antigenik dan dikenal sebagai antigen H. E. coli
memproduksi macam - macam fimbria atau pili yang berbeda, banyak macamnya
pada struktur dan speksitifitas antigen, antara lain filamentus, proteinaceus,
seperti rambut appendages di sekeliling sel dalam variasi jumlah.
Fimbria merupakan rangkaian hidrofobik dan mempunyai pengaruh panas
atau organ spesifik yang bersifat adhesi. Hal itu merupakan faktor
virulensi yang penting. Tiga struktur antigen utama permukaan yang digunakan
untuk membedakan serotipe golongan Escherichia coli adalah dinding sel, kapsul
dan flagela.
E. coli merupakan bakteri fakultatif anaerob, kemoorganotropik,
mempunyai tipe metabolisme fermentasi dan respirasi tetapi pertumbuhannya
paling sedikit banyak di bawah keadaan anaerob. pertumbuhan yang baik
5

pada suhu optimal 37C pada media yang mengandung 1% pepton sebagai
sumber karbon dan nitrogen. E. coli memfermentasikan laktosa dan memproduksi
indol yang digunakan untuk mengidentifikasikan bakteri pada makanan dan air.
E. coli berbentuk besar (2-3 m), sirkular, konveks dan koloni tidak
berpigmen pada nutrien dan media darah. E. coli dapat bertahan hingga suhu
60C selama 15 menit atau pada 55C selama 60 menit.

2.3 Fisiologi Escherichia coli
E. coli tumbuh baik pada hampir semua media yang biasa dipakai di
laboratorium mikrobiologi, pada media yang dipergunakan untuk isolasi kuman
enterik, sebagian besar strain E.coli tumbuh sebagai koloni yang meragi laktosa.
E. coli bersifat mikroaerofilik. Beberapa strain bila ditanam pada agar darah
menunjukkan hemolisis tip beta.
Tabel 2.1 Tes biokimia yang dipakai untuk diagnostik kuman E. coli
Tes Reaksi
Indol +
Lisin dekarboksilase
Asetat +
Paragian Laktosa +
Gas dari glukosa +
Motilitas
Pigmen kuning -
( Sumber : Zinsser Microbiology, edisi 18, th. 1984, hal. 604 )

2.4 Habitat Escherichia coli
Escherichia coli merupakan penghuni umum dari usus kecil dan usus
besar mamalia. Mereka adalah bakteri anaerob fakultatif dengan jumlah yang
melimpah dalam lingkungan ini. Kehadiran E. coli di lingkungan biasanya
dianggap mencerminkan kontaminasi tinja dan bukan kemampuan untuk
mereplikasi secara bebas di luar usus. E. coli dapat merespon sinyal lingkungan
seperti bahan kimia, pH, suhu, osmolaritas, dan stimulan lainnya, dengan cara
6

sangat yang luar biasa mengingat ini adalah sebuah organisme ber sel satu.
Karena habitat alaminya dan kemampuannya dalam menghindari pertahanan
kekebalan, bakteri ini dapat bertahan di alam. Bakteri ini termasuk umumnya
hidup pada rentang 20-40C, optimum pada 37C. Total bakteri ini sekitar 0,1%
dari total bakteri dalam saluran usus dewasa.

2.5 Anatomi dan Fisiologi Sistem Urinarius
Sistem urinarius terdiri dari 2 ginjal ( ren ), 2 ureter, vesika urinaria
dan uretra. Sistem urinarius berfungsi sebagai sistem ekskresi dari cairan tubuh.
Ginjal berfungsi untuk membentuk atau menghasilkan urin dan
saluran kemih lainnya berfungsi untuk mengekskresikan atau mengeliminasi urin.
Sel-sel tubuh memproduksi zat-zat sisa seperti urea, kreatinin dan ammonia yang
harus diekskresikan dari tubuh sebelum terakumulasi dan menyebabkan toksik
bagi tubuh.
Saluran kemih bagian atas adalah ginjal, sedangkan ureter, kandung kemih
( vesika urinaria ) dan uretra merupakan saluran kemih bagian bawah.

Gambar 2.2 struktur saluran kemih manusia

Uretra pada laki - laki merupakan 4 tuba dengan panjang kira-kira 17 - 20
cm dan memanjang dari kandung kemih ke ujung penis. Uretra pada laki - laki
mempunyai tiga bagian yaitu : uretra prostatika, uretra membranosa dan uretra
spongiosa. Uretra wanita jauh lebih pendek daripada pria, yakni 2,5 - 4 cm
7

panjangnya dan memanjang dari kandung kemih ke arah ostium diantara labia
minor kira-kira 2,5 cm di sebelah belakang klitoris.

Gambar 2.3 vesika urinaria dan uretra pada perempuan dan laki-laki
Sumber: Essential of Anatomy and Physiology 5
th
ed, 2007, Hal. 432

















8

BAB III
PEMBAHASAN
3.1 Patogenisitas Escherichia coli
Tidak semua bakteri dapat menginfeksi dan melekat pada jaringan saluran
kemih. Bakteri yang sering menginfeksi saluran kemih adalah E. coli yang
bersifat uropathogen. Beberapa strain bakteri E. coli dapat berkoloni di daerah
periuretra dan masuk ke vesikaurinaria. Strain E. coli yang masuk ke saluran
kemih dan tidak memberikan gejala klinis memiliki strain yang sama dengan
strain E. coli pada usus ( fecal E.coli ), sedangkan strain E. coli yang masuk ke
saluran kemih manusia dan mengakibatkan timbulnya manifestasi klinis adalah
beberapa strain bakteri E. Coli yang bersifat uropatogenik dan berbeda dari
sebagian besar E.coli di usus manusia ( fecal E.coli ). Strain bakteri E.coli ini
merupakan uropatogenik E.coli (UPEC) yang memiliki faktor virulensi. Faktor
virulensi E.coli dikenal sebagai virulence determinalis.
Tabel 3.1 Faktor virulensi E. coli


Fimbriae (proteinaceous hair-like projection from bacterial surface)
merupakan salah satu pelengkap patogenesitas yang mempunyai kemampuan
9

untuk melekat pada permukaan mukosa saluran kemih. Fimbriae atau pili
memiliki ligand di permukaannya yang berfungsi untuk berikatan dengan
reseptor glikoprotein dan glikolipid pada permukaan membran seluroepithelial.
Fimbriae atau pili dibagi berdasarkan kemampuan hemaaglutinasi dan tipe sugar
yang berada pada permukaan sel. Pada umumnya P fimbriae yang dapat
menaglutinasi darah , berikatan dengan reseptor glikolipid antigen pada sel
uroepithelial, eritrosit (antigen terhadap P blood group) dan sel-sel tubulus
renalis. Sedangkan fimbriae tipe 1 berikatan dengan sisa mannoside pada sel
uroepithelial 3.
P fimbriae terdapat pada 90% bakteri E. coli yang menyebabkan
pyelonefritis dan hanya < 20% strain E. coli yang menyebabkan ISK bawah.
Sedangkan fimbriae tipe 1 lebih berperan dalam membantu bakteri untuk
melekat pada mukosa vesika urinaria. Setelah fimbrae atau pili berhasil melekat
pada sel uroepithelial (sel epitel saluran kemih), maka proses selanjutnya
dilakukan oleh faktor virulensi lainnya. Sebagian besar uropatogenik E. coli
(UPEC) menghasilkan hemolysin yang befungsi untuk menginisiasi invasi UPEC
pada jaringan dan mengaktivasi ion besi bagi kuman patogen (sekuestrasi besi).
Keberadaan kaspsul K antigen dan O antigen pada bakteri yang
menginvasi jaringan saluran kemih melindungi bakteri dari proses fagositosis oleh
neutrofil. Keadaan ini mengakibatkan UPEC dapat lolos dari berbagai mekanisme
pertahanan tubuh host. Sifat patogenitas lain dari strain E. coli yaitu toksin.
Beberapa toksin seperti -haemolysin, cytotoxic necrotizing factor-1 (CNF-1),
enterotoksin LT dan ST, dan verotoksin-shige like toksin.

3.2 Cara Escherichia coli Mengivansi Saluran Kemih
UPEC (uropathogenic E. coli) merupakan salah satu penyebab utama
infeksi saluran kemih. Ini adalah bagian dari flora normal di usus dan dapat
diperkenalkan dengan berbagai cara. Khususnya untuk perempuan, arah menyeka
setelah buang air besar (menyeka belakang ke depan) dapat menyebabkan
kontaminasi kotoran dari lubang urogenital (limfogen). Penyebaran endogen yaitu
kontak langsung dari tempat infeksi terdekat seperti seks anal juga dapat
10

memperkenalkan bakteri ini ke dalam uretra laki-laki, dan beralih dari anal ke
vaginal intercourse laki-laki juga dapat memperkenalkan UPEC ke sistem
urogenital perempuan. Selain itu, invasi langsung bakteri dari organ yang
berdekatan ke dalam saluran kemih seperti pada abses intraperitoneal, atau fistula
vesicointestinal atau vesikovaginal dapat menyebabkan infeksi saluran kemih.
Pada umumnya, bakteri di area periuretra naik atau secara
ascending masuk ke saluran genitourinaria dan menyebabkan infeksi saluran
kemih. Sebagian besar kasus pielonefritis disebabkan oleh naiknya bakteri dari
kandung kemih, melalui ureter dan masuk ke parenkim ginjal. Pendeknya uretra
wanita dikombinasikan dengan kedekatannya dengan ruang depan vagina dan
rektum merupakan predisposisi yang menyebabkan perempuan lebih sering
terkena infeksi saluran kemih dibandingkan laki-laki.
Dua jalur utama masuknya bakteri ke saluran kemih adalah jalur hematogen
dan asending, tetapi asending lebih sering terjadi.
a. Infeksi hematogen (desending)
Infeksi hematogen kebanyakan terjadi pada pasien dengan daya
tahan tubuh rendah, karena menderita suatu penyakit kronik, atau pada
pasien yang sementara mendapat pengobatan imunosupresif. Penyebaran
hematogen dapat juga terjadi akibat adanya fokus infeksi di salah satu
tempat. Akan tetapi, ginjal yang normal biasanya mempunyai daya tahan
terhadap infeksi E. coli karena itu jarang terjadi infeksi hematogen E. coli.
b. Infeksi asending
Kolonisasi uretra dan daerah introitus vagina
Saluran kemih yang normal umumnya tidak mengandung
mikroorganisme kecuali pada bagian distal uretra yang biasanya juga
dihuni oleh bakteri normal kulit seperti basil difteroid, streptokokus. Di
samping bakteri normal flora kulit, pada wanita, daerah 1/3 bagian distal
uretra ini disertai jaringan periuretral dan vestibula vaginalis yang juga
banyak dihuni oleh bakteri yang berasal dari usus karena letak usus tidak
jauh dari tempat tersebut. Pada wanita, kuman penghuni terbanyak pada
11

daerah tersebut adalah E. coli di samping Enterobacter dan S. fecalis.
Kolonisasi E. coli pada wanita didaerah tersebut diduga karena :
1) adanya perubahan flora normal di daerah perineum
2) Berkurangnya antibodi lokal
3) Bertambahnya daya lekat organisme pada sel epitel wanita
Infeksi saluran kemih biasanya menjangkit pasien dari rumah sakit.
Infeksi eksogen ini disebabkan karena penggunaan kateter (pipa untuk
memasukkan atau mengeluarkan cairan). Selain itu, infeksi saluran lemih
ini juga bisa disebabkan karena kelainan pada saluran kemih dan
inkontinensia tinja. Infeksi yang menyerang pasien di rumah sakit ataupun
penghuni panti jompo ini cukup berbahaya karena infeksi ini baru bisa
terdeteksi ketika bakteri telah menginfeksi ginjal atau memasuki aliran
darah. Infeksi ini bisa berujung menjadi meningitis dan membahayakan
sistem imun.

3.3 Epidemiologi
Ada sekitar 7 juta infeksi saluran kemih di Amerika Serikat setiap
tahun. E. coli menyebabkan lebih dari 85 % kasus-kasus yang terjadi di
luar rumah sakit ( komunitas diakuisisi ). Infeksi saluran kemih yang
paling sering disebabkan oleh strain uropathogenic E. coli ( UPEC strain ).
Kebanyakan infeksi yang alami masyarakat terjadi pada wanita di bawah
usia 10 atau antara usia 20 dan 40 tahun. Meskipun laki-laki dapat
terjangkit infeksi saluran kemih, kejadian infeksi laki-laki jauh lebih
rendah. Pengecualian untuk ini adalah pria yang lebih tua dengan
pembesaran prostat.
Strain uropathogenic biasanya memendam dalam usus besar dan
harus perjalanan dari usus besar untuk pembukaan uretra untuk
mendapatkan masuk ke uretra dan kandung kemih. Pada pria, jarak dari
usus besar untuk pembukaan uretra lebih besar dari pada wanita, dan
uretra pria lebih panjang daripada perempuan, memaksa bakteri untuk
bergerak lebih jauh untuk mencapai kandung kemih. Selain itu,
12

pembukaan uretra perempuan dekat dengan saluran vagina, daerah lebih
mudah dijajah oleh bakteri dari kulit relatif kering dari ujung penis. Jadi
pada wanita, UPEC strain dapat menggelar dua langkah manuver, pertama
menjajah usus besar dan kemudian saluran vagina, di mana mereka
memiliki akses yang konstan ke uretra. Pada anak-anak, infeksi yang
paling mungkin untuk dilihat ketika ada kelainan pada saluran kemih yang
menyebabkan obstruksi parsial yang memungkinkan genangan urine untuk
membentuk.
Seorang wanita yang mengalami infeksi saluran kemih cenderung
memiliki infeksi serupa di masa mendatang. Hal ini terjadi akibat
kolonisasi usus besar oleh strain UPEC mampu menyebabkan infeksi
saluran kemih menyediakan reservoir. Jika pengobatan infeksi awal tidak
juga menghilangkan bakteri dari usus besar, ada kesempatan untuk
reinfeksi di lain waktu. Selama infeksi kandung kemih, beberapa sel
UPEC menyerang sel-sel yang melapisi Uroepithelial dalam kandung
kemih. Bakteri ini, bersembunyi di dalam sel-sel epitel, dapat menghindari
tindakan antibiotik dan bertahan di lokasi ini dalam semacam negara
donhart, hanya untuk diaktifkan kembali kemudian untuk menyebabkan
infeksi berulang. Hal ini penting untuk memahami penyebab infeksi
berulang sehingga rejimen pengobatan dapat dirancang tidak hanya untuk
membersihkan infeksi primer, tetapi untuk mencegah kekambuhan.
Infeksi saluran kemih masyarakat yang diakuisisi hampir selalu
naik infeksi. Artinya, bakteri pertama menginfeksi uretra dan kemudian
pindah ke kandung kemih. Kondisi yang dihasilkan disebut uretritis
(radang uretra) dan sistitis (radang kandung kemih). Kedua kondisi yang
berhubungan dengan sensasi terbakar saat buang air kecil. Jika konsentrasi
bakteri cukup tinggi, urin akan menjadi keruh. Dalam beberapa kasus,
infeksi terus ascena dan ginjal terinfeksi (pielonefritis). Gejala infeksi
ginjal termasuk nyeri punggung dan demam. Pielonefritis adalah penyakit
yang lebih serius daripada sistitis atau uretritis karena invasi jaringan lebih
terjadi dan dengan demikian lebih inflamasi. Juga, karena ginjal
13

merupakan organ yang sangat vascularized, ada potensi yang lebih besar
untuk bakteri bocor ke dalam aliran darah, menyebabkan infeksi aliran
darah.








Gambar 3.1 epidemiologi ISK berdasarkan umur dan jenis kelamin

3.4 Pencegahan dan Pengobatan Penyakit Saluran Kemih Akibat Bakteri
Escherichia coli
Berikut ini adalah cara mencegah infeksi saluran kemih :
Jangan menunda buang air kecil ketika diperlukan.
Membersihkan pula meatus ( pembukaan uretra ) dengan antiseptik atau
salep plasebo
Mengkonsumsi jus cranberry yang dapat mengurangi terjangkitnya ISK.
Karena tannin jenis tertentu seperti Proanthocyanidin, hanya ditemukan
dalam cranberry dan blueberry yang dapat mencegah patogen tertentu
(misalnya. E. coli) untuk sel epitel dari kandung kemih.
Akupunktur menunjukkan bahwa efektif dalam mencegah infeksi baru
dalam kasus berulang.
Penelitian telah menunjukkan bahwa menyusui dapat mengurangi risiko
UTIs dalam bayi.
Hindari pemakaian celana dalam kotor dan dapat membuat keadaan
lembab dan berpotensi berkembang biaknya bakteri.
14

Pada saat menyeka setelah buang air besar, arahnya dari depan ke
belakang untuk menghindari masuknya kontaminasi tinja yang
mengandung E. coli.
Dibanding pria, wanita lebih berisiko terkena infeksi saluran kemih,
terutama infeksi saluran kemih bagian bawah. Jagalah kelembapan dan
kebersihan bagian intim.
Diagnosis ISK ditegakkan berdasarkan gejala atau manifestasi
klinis ( dari anamnesis dan pemeriksaan fisik ) dan berdasarkan hasil
pemeriksaan laboratorium. Setelah seorang dokter menentukan diagnosis
infeksi pada pasien berdasarkan gejala klinis, dokter dapat memulai terapi
antibiotik sementara sebelum diperoleh hasil pemeriksaan laboratorium
mikrobiologik yang dilakukan untuk mengetahui bakteri penyebab infeksi
pada pasien tersebut serta kepekaan bakteri tersebut terhadap antibiotik.
Terapi ini disebut dengan terapi empirik atau terapi dugaan berdasar
dugaan terbaik ( best guess atau educated guess ).
Terapi empirik yaitu terapi yang dimulai pada anggapan infeksi yang
berdasarkan pengalaman luas dengan situasi klinik yang sama
dibandingkan informasi spesifik tentang penyakit pasien. Prinsip dasar
terapi empirik adalah bahwa pengobatan infeksi sebaiknya dilakukan
sedini mungkin. Penundaan pemberian antibiotik sampai mendapatkan
hasil kultur bakteri dan tes kepekaan bakteri terhadap antibiotik (biasanya
1-3 hari) dapat menyebabkan pasien mengalami penyakit yang serius atau
kematian, terutama pada infeksi berat seringkali harus segera diberikan
terapi antibiotik sementara sebelum diperoleh hasil pemeriksaan
mikrobiologik. Pemilihan ini didasarkan pada pengalaman empiris yang
rasional berdasarkan perkiraan etiologi yang paling mungkin serta
antibiotik terbaik untuk infeksi tersebut (educated guess). Selain itu
pemilihan antibiotik berdasarkan educated guess dapat dilakukan bila
pemeriksaan mikrobiologik tidak dapat dikerjakan dengan alasan tertentu.


15

Berikut beberapa antibiotik dalam pengobatan Infeksi Saluran Kemih :
Kotrimoksazol (trimetoprim-sulfametoksazol) merupakan obat pilihan
untuk ISK dengan komplikasi, dan juga untuk prostatitis. Dosis yang
digunakan untuk dewasa yaitu 2 tablet biasa (trimetoprim 80 mg +
sulfametoksazol 400 mg) tiap 12 jam atau 1 tablet forte (trimetoprim
160 mg + sulfametoksazol 800 mg) tiap 12 jam dapat efektif pada
infeksi berulang pada saluran kemih bagian atas atau bawah serta
efektif untuk prostatitis. Dua tablet per hari mungkin cukup untuk
menekan dalam waktu lama ISK yang kronik, dan separuh tablet biasa
3 kali seminggu untuk berbulan-bulan dapat berlaku sebagai
pencegahan ISK yang berulang-ulang pada beberapa wanita. Untuk
pemberian intravena tersedia sediaan infus yang mengandung 80 mg
trimetoprim dan 400 mg sulfametoksazol per 5 ml, dilarutkan dalam
125 ml dekstrosa 5% dalam air, dapat diberikan dalam infus selama
60-90 menit. Hal ini diindikasikan untuk ISK bila pasien tidak dapat
menerima obat melalui mulut. Orang dewasa dapat diberikan 6-12
ampul 5 ml dalam 3 atau 4 dosis terbagi per hari. Pada pasien dengan
gagal ginjal, diberikan dosis biasa bila klirens kreatinin > 30 ml/menit,
bila klirens kreatinin 15-30 ml/menit dosis 2 tablet diberikan setiap 24
jam, dan bila klirens kreatinin < 15 ml/menit obat ini tidak boleh
diberikan.
Amoksisilin-kalium klavulanat diindikasikan untuk infeksi saluran
kemih berulang pada anak dan dewasa oleh E. coli dan kuman
pathogen lain yang memproduksi betalaktamase, yang tidak dapat
diatasi oleh kotrimoksazol, kuinolon atau sefalosporin oral. Dosis
amoksisilinklavulanat per oral untuk dewasa dan anak berat > 40 kg
ialah 250 mg-125 mg tiap 8 jam. Untuk penyakit berat dosis 500 mg-
125 mg tiap 8 jam. Untuk anak berat < 40 kg dosis amoksisilin 20
mg/kg/hari, dosis klavulanat disesuaikan dengan dosis amoksisilin.
Fluorokuinolon (siprofloksasin, ofloksasin, norfloksasin, dll) efektif
untuk ISK dengan atau tanpa penyulit, termasuk yang disebabkan oleh
16

kuman-kuman yang multiresisten dan P. aeruginosa. Siprofloksasin,
norfloksasin, dan ofloksasin dapat mencapai kadar yang cukup tinggi
di jaringan prostat dan dapat digunakan untuk terapi prostatitis
bakterial akut maupun kronis. Fluorokuinolon diserap dengan baik
pada pemberian per oral. Siprofloksasin tablet 500 mg atau
norfloksasin tablet 400 mg diberikan per oral 2 kali sehari efektif
untuk infeksi saluran kemih. Selain itu, beberapa fluorokuinolon
seperti siprofloksasin, ofloksasin dapat diberikan secara parenteral /
intravena sehingga dapat digunakan untuk penanggulangan infeksi
berat khususnya yang disebabkan oleh kuman Gram negatif. Dosis
siprofloksasin parenteral yaitu 2 kali 200-400 mg intravena. Absorpsi
siprofloksasin dan mungkin fluorokuinolon lainnya
terhambat/berkurang hingga 50% atau lebih bila diberikan bersama
antasida dan preparat besi (Fe), oleh karena itu pemberian antasida dan
preparat besi harus diberikan dengan selang waktu 3 jam. Penggunaan
bersama-sama fluorokuinolon dan teofilin dapat menyebabkan
peningkatan kadar teofilin dalam darah, dengan risiko terjadinya efek
toksik, terutama kejang-kejang. Hal ini karena fluorokuinolon
menghambat metabolisme teofilin. Oleh karena itu pemberian
kombinasi kedua obat tersebut perlu dihindarkan. Fluorokuinolon
dapat merusak kartilago yang sedang tumbuh sehingga sebaiknya tidak
diberikan pada pasien di bawah umur 18 tahun.









17

BAB IV
PENUTUP

4.1 Kesimpulan
E. coli merupakan flora normal dalam usus besar manusia yang dapat
menimbulkan penyakit bila jumlahnya banyak maupun jika berada pada
organ/jaringan lain. E. coli yang berada di saluran kemih dapat menyebabkan
infeksi saluran kemih. E. coli menginvasi saluran kemih dengan cara invansi
ascending, dan jarang menginvansi secara descending. Pengobatan infeksi
saluran kencing akibat E. coli menggunakan antibiotik kotrimoksazol
(trimetoprim-sulfametoksazol), amoksisilin-kalium klavulanat, dan
fluorokuinolon (siprofloksasin, ofloksasin, norfloksasin, dll).
4.2 Saran
Pemberian antibiotik untuk mengobati infeksi saluran kemih sebaiknya
diberikan sedini mungkin guna menghindari adanya resistensi serta hal lain
yang tidak di inginkan. Penundaan pemberian antibiotik sampai mendapatkan
hasil kultur bakteri dan tes kepekaan bakteri terhadap antibiotik dapat
menyebabkan pasien mengalami penyakit yang serius atau kematian,
terutama pada infeksi berat seringkali harus segera diberikan terapi antibiotik
sementara sebelum diperoleh hasil pemeriksaan mikrobiologik.