Anda di halaman 1dari 13

PENGEMASAN LOGAM

MAKALAH








oleh :
Tri Hera Riska
KELAS : XII IPS 3


JURUSAN TEKNOLOGI HASIL PERTANIAN
SMA NEGERI 1 SELUPU REJANG
2014







BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang
Pengemasan yaitu suatu media yang berfungsi sebagai wadah atau tempat untuk
menyimpan suatu bahan pangan dengan tujuan untuk menjaga kualitas dan umur simpan
produk tersebut. Kemasan dibuat sedemikian rupa untuk mengatasi masalah yang dijumpai
dalam produksi dan distribusi pangan serta dapat memperpanjang masa simpan atau
meningkatkan keamanan pangan atau sifat organoleptik.
Ada berbagai macam jenis kemasan yang biasa digunakan dalam industri pangan
diantaranya adalah kertas, logam, kaca dan plastik. Penggunaan jenis kemasan ini disesuaikan
dengan sifat dan karakteristik bahan pangan yang akan dikemas. Salah satu contohnya yaitu
pengemasan logam yang digunakan oleh industri minuman kaleng atau untuk pengalengan
ikan.
Banyak industri yang menggunakan jenis pengemasan ini dikarenakan dapat
memperpanjang umur simpan produk, menjaga kualitas produk dan lebih tahan atau kuat
dalam proses penyimpanan nantinya. Oleh sebab itu dengan adanya makalah ini, akan
menjelaskan sebagian besar tentang pengemasan yang menggunakan logam, baik itu jenis,
kelebihan dan kekurangan, karakteristik, cara pembuatan hingga dampaknya terhadap
kerusakan makanan.

1.2 Tujuan
Tujuan penyusunan makalah ini adalah untuk mendapatkan pengetahuan tentang
metode pengemasan dengan menggunakan logam.










BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Pengemasan Logam
Pengemasan yaitu suatu media yang berfungsi sebagai wadah atau tempat untuk
menyimpan suatu bahan pangan dengan tujuan untuk menjaga kualitas dan umur simpan
produk tersebut, dalam industri besar terutama industri pengalengan ikan biasanya
menggunakan jenis kemasan logam, hal ini dikarenakan sifat dan kerakteristik dari bahan
pengemas logam yang lebih kuat dan tahan lama (Eastwood Et al, 2002).
Proses pembuatan kemasan logam ada 2 cara, yaitu Three piece can dan Two piece
can. Proses pembuatan kemasan logam ini berdasarkan karakteristik dari logam tersebut yaitu
Penghantar (konduktor) panas dan listrik yang baik, dapat ditempa atau dibengkokkan dalam
keadaan padat, mempunyai kilap logam, tidak tembus padang, densitas tinggi, berbentuk
padat (kecuali merkuri).




BAB III
PEMBAHASAN

3.1 Jenis Kemasan Logam
Terdapat 8 jenis kemasan logam yaitu tin plate, tin free plate, aluminium, aluminium
foil, retort pouch, aerosol logam, tube logam lunak dan drum baja. Dimana penjelasannya
sebagai berikut:
a. Tin Plate
Tin plate merupakan jenis kemasan logam yang terbuat dari Plat timah atau tin plate
yang berbentuk lembaran atau gulungan baja yang berkarbon rendah dengan ketebalan 0.15
0.5 mm, dilapisi dengan timah putih Sn, dengan kandungan timah putih pada kaleng
plat timah berkisar antara 1.0-1,25% dari berat kaleng.
b. Tin Free Steel
Tin free steel merupakan jenis kemasan logam yang berbentuk lembaran baja yang
tidak dilapisi timah putih, selain itu harganya yang Murah, akan tetapi memiliki daya adhesi
terhadap bahan organik yang baik, Jenis TFS yang paling banyak digunakan untuk
pengalengan makanan adalah jenis Tin Free Steel Chrome Type (TFS-CT). Ada 3 tipe
dari tin free steel yaitu : Tipe Tin Free Steel : Tipe MR (Medium Residual), Tipe MC
(Medium Metalloids Cold Reduce) dan Tipe L (Low Metalloids).

c. Aluminium
Merupakan jenis logam yang lebih ringan dari baja dan memiliki daya korosif rendah
serta mudah dibengkokkan. Jenis logam ini mampu menahan masuknya gas, bahannya tidak
berbau dan tidak berasa, akan tetapi sulit disolder sehingga sambungan tidak rapat.
d. Aluminium Foil
Merupakan bahan kemas dari lembaran alumunium yang padat dan tipis, aluminium
foil memiliki ketebalan <0.15 m dan mempunyai tingkat kekerasan yang berbeda. Kemasan
ini bersifat hermetis, tidak tembus cahaya, fleksibel, dan dapat dignakan sebagai bahan
pelapis atau penguat dilapisi dengan plastik atau kertas.
e. Retort Pouch
Jenis Kemasan ini tahan terhadap suhu sterilisasi dan mempunyai daya simpan yang
tinggi, sifatnya kuat, tidak mudah sobek/tertusuk, dan teknik penutupan mudah, Contoh: PP-
Alufo-PET. Penggunaan alumunium untuk kemasan pangan antara lain untuk produk buah-
buahan, produk sayuran, produk daging, produk ikan, kerang, produk susu dan minuman.
f. Aerosol logam
Bahan yang digunakan adalah alumunium, palt timah dan baja nirkarat. pipa dip
umumnya dari plastik, tahan tekanan tinggi (kemasan pecah pada tekanan >20 atm), kemasan
aerosol alumunium untuk produk farmasi dan parfum, kemasan aerosol plat timah beresiko
terjadi karat terutama untuk produk alkali asam kuat, kemasan aerosol baja nirkarat untuk
produk kecil (mahal), dilapisi enamel (vinil, epoksi).
g. Tube Logam Lunak (Collapsible Tube)
Pada Tahun 1841 dikenal tube logam timah putih (kemasan cat minyak) dan di tahun
1895 digunakan untuk kemasan pasta gigi (dominan). Biasanya digunakan untuk pangan
seperti saus tomat, mayonaise, mustar. Penggunaan jenis kemasan ini akan mempermudah
pengisisan produk, karena bersifat ringan, tidak mudah pecah, permukaan licin sehingga
dekorasi mudah, mudah ditutup rapat sehingga kontaminasi rendah, bahan bakun terdiri dari
logam yang dapat dilenturkan pada suhu kamar, umumnya timah, timbal dan alumunium.
h. Drum Baja
Drum baja /campuran logam biasanya digunakan untuk mengemas minyak goreng,
minyak tanah, bensin dan bahan kimia. Pada drum terdapat simpay (gelang gelinding) agar
mudah dipindahkan, bagian tertutup terdapat dua lubang yaitu lubang kecil untuk lubang
angin dan lubang besar untuk dapat dipasang kran.
3.2. Kelebihan dan Kekurangan
Kelebihan Kekurangan
Mempunyai kekuatan mekanik yang tinggi Tidak tembus pandang
Pelindung yang baik terhadap gas,uap
air,jasa renik,debu dan kotoran sehingga
cocok untuk kemasan hermentis
Kemasan harus sempurna tidak penyok
Toksisitasnya relatif rendah meskipun ada
kemungkinan migrasi unsur logam ke
bahan yang dikemas
Ada kemungkinan terjadi cemaran logam
Tahan terhadap perubahan-perubahan atau
keadaan suhu yg ekstrim

Mempunyai permukaan yang ideal yntuk
dekorasi dan pelabelan

3.3. Kerusakan Pada Bahan Pangan
Adapun beberapa kerusakan yang dapat terjadi akibat dari penggunaan pengemasan
logam yaitu:
a. Hydrogen swell
Terjadi karena adanya tekanan gas hidrogen yang dihasilkan dari reaksi antara asam pada
makanan dengan logam, hal ini dapat disebabkan oleh beberapa faktor seperti, meningkatnya
keasaman bahan pangan, meningkatnya suhu penyimpanan, ketidaksempurnaan pelapisan
bagian dalam, proses exhausting tidak sempurna, terdapat komponen terlarut dari sulfur dan
pospat.
b. Interaksi antara bahan dasar kaleng dengan makanan
Apabila terjadi kerusakan yang disebabkan oleh adanya interaksi antara bahan dasar
kaleng dengan makanan, maka akan muncul tanda-tanda seperti, perubahan warna dari
bagian dalam kaleng, perubahan warna pada makanan yang dikemas, off-flavor, kekeruhan
pada sirup, perkaratan atau terbentuknya lubang pada logam serta yang terjadinya kehilangan
gizi.




BAB IV
PENUTUP

4.1 Kesimpulan
a. Pengemasan logam merupakan teknik pengemasan yang biasa digunakan karena sifat dari
bahan yang kuat serta tahan terhadap berbagai kondisi.
b. Karakteristik bahan pangan menentukan jenis pengemasan yang akan digunakan.
c. Proses penyimpanan yang baik sesuai dengan sifat bahan dapat menentukan keamanan dan
umur simpan dari produk tersebut.

4.2 Saran
Perlu dilakukan pendekatan lebih lanjut kepada para konsumen agar lebih selektif lagi
dalam hal memilih bahan pangan yang baik agar tidak terjadi hal yang tidak di inginkan. Oleh
sebab itu pentingnya ilmu pengetahuan agar wawasan kita bisa bertambah.




DAFTAR PUSTAKA

Ares G, Parentelli C, Gmbaro A, Lareo C, Lema P (2006) Sensory shelf life of shiitake
mushrooms stored under passive modified atmosphere. Postharvest Biology and
Technology41 , 191-197

Boa E (2004) Wild edible fungi a global overview of their use and importanceto people ,
FAO, Rome, 148 pp

Chang ST (1999b) World production of cultivated edible and medicinal mushrooms in 1997
with emphasis on Lentinus edodes (Berk.) Sing. di Cina. International Journal of Medicinal
Mushrooms1 , 291-300

Cheung LM, Cheung PCK, Ooi VCE (2003) Antioxidant activity and total phenolics of
edible mushroom extracts. Food Chemistry81 , 249-255

Eastwood D, Burton K (2002) Mushrooms a matter of choice and spoiling oneself.
Microbiology Today29 , 18-19


Teknologi pengemasan makanan dan cara pengemasan

Macam-macam pengemasan:
Kemasan dapat digolongkan berdasarkan beberapa hal antara lain:
1. Frekuensi Pemakaian
Kemasan Sekali Pakai (Disposable), yaitu kemasan yang langsung dibuang setelah satu
kali pakai. Contohnya bungkus plastik es, bungkus permen, bungkus daun, karton dus,
makanan kaleng.
Kemasan yang Dapat Dipakai Berulang Kali (Multi Trip), seperti beberapa jenis botol
minuman (limun, bir) dan botol kecap. Wadah-wadah tersebut umumnya tidak
dibuang oleh konsumen, akan tetapi dikembalikan lagi pada agen penjual untuk
kemudian dimanfaatkan ulang oleh pabrik.
Kemasan yang Tidak Dibuang (Semi Disposable). Wadah-wadah ini biasanya
digunakan untuk kepentingan lain di rumah konsumen setelah dipakai, misalnya
kaleng biskuit, kaleng susu, dan berbagai jenis botol. Wadah-wadah tersebut
digunakan untuk penyimpanan bumbu, kopi, gula, dan sebagainya.

2. Struktur Sistem Kemas Berdasarkan letak atau kedudukan suatu bahan kemas di
dalam system kemasan keseluruhan dapat dibedakan atas :
Kemasan Primer, yaitu bahan kemas langsung mewadahi bahan pangan (kaleng susu,
botol minuman, bungkus tempe)
Kemasan Sekunder, yaitu kemasan yang fungsi utamanya melindungi kelompok
kemasan lainnya, seperti misalnya kotak karton untuk wadah kaleng susu, kotak kayu
untuk wadah buah-buahan yang dibungkus, keranjang tempe, dan sebagainya.
Kemasan Tersier dan Kuartener, yaitu apabila masih diperlukan lagi pengemasan
setelah kemasan primer, sekunder dan tersier. Umumnya digunakan sebagai
pelindung selama pengangkutan.

3. Sifat Kekakuan Bahan Kemas
Kemasan fleksibel, yaitu bila bahan kemas mudah dilenturkan, misalnya plastik,
kertas, foil.
Kemasan kaku, yaitu bila bahan kemas bersifat keras, kaku, tidak tahan lenturan, patah
bila dipaksa dibengkokkan. Misalnya kayu, gelas, dan logam.
Kemasan semi kaku/semi fleksibel, yaitu bahan kemas yang memiliki sifat-sifat antara
kemasan fleksibel dan kemasan kaku, seperti botol plastik (susu, kecap, saus) dan
wadah bahan yang berbentuk pasta.

4. Sifat Perlindungan Terhadap Lingkungan
Kemasan Hermetis, yaitu wadah yang secara sempurna tidak dapat dilalui oleh gas,
misalnya kaleng dan botol gelas.
Kemasan Tahan Cahaya, yaitu wadah yang tidak bersifat transparan, misalnya
kemasan logam, kertas dan foil. Kemasan ini cocok untuk bahan pangan yang
mengandung lemak dan vitamin yang tinggi, serta makanan yang difermentasi.
Kemasan Tahan Suhu Tinggi, jenis ini digunakan untuk bahan pangan yang
memerlukan proses pemanasan, sterilisasi, atau pasteurisasi.

5. Tingkat Kesiapan pakai
Wadah Siap Pakai, yaitu bahan kemas yang siap untuk diisi dengan bentuk yang telah
sempurna sejak keluar dari pabrik. Contohnya adalah wadah botol, wadah kaleng, dan
sebagainya.
Wadah Siap Dirakit atau disebut juga wadah lipatan, yaitu kemasan yang masih
memerlukan tahap perakitan sebelum pengisian, misalnya kaleng dalam bentuk
lempengan dan silinder fleksibel, wadah yang terbuat dari kertas, foil atau plastik.

Macam-macam Bahan kemasan:
a. Kain Blacu
Digunakan untuk mengemas bahan pangan tepung, seperti tepung terigu atau tepung
tapioka. Dibuat dalam bentuk kantung-kantung yang berkapasitas 10 50 kg.
Kelebihannya adalah tidak mudah sobek/ kuat kainnya, flesibel, mudah dicetak dan
murah harganya.
Kelemahannya : memiliki permiabilitas udara yang jelek dan tidak kedap air.
b. Kertas
Kertas greaseproof : dapat digunakan sebagai pengemas utama mentega, margarin,
daging, kopi, dan gula-gula. Mirip kertas karton namun memiliki kekedapan terhadap
perembesan lemak.
Kertas glassine : dibuat 80% dari kertas greaseproof namun memiliki ketahanan
terhadap udara dan lemak yang kuat, permukaanya halus, serta mengkilat. Sering
digunakan untuk mengemas roti yang berkadar lemak tinggi.
Kertas kraft : kertas yang dibuat dari bubur sulfat dan kayu kraft (yang berasal dari
Swedia dan Jerman). Memiliki sifat yang lebih kuat dari kertas Glassine, sehingga
bahan pangan yang dibungkus dengan kertas ini akan tetap kering lebih-lebih bila
permukaannya dilem dengan resin. Kertas ini biasanya digunakan untuk mengemas
keju di Negara-negara eropa.
c. Gelas
Terbuat dari campuran pasir C2O, soda abu, dan alumina.
Bersifat inert (tidak bereaksi dengan bahan pangan)
Kuat (tahan terhadap kerusakan akibat pengaruh waktu)
Transparan (bentuk dan warna bahan pangan dapat dilihat).
Kelemahannya adalah mudah pecah, tidak dapat digunakan untuk bahan pangan yang
peka terhadap sinar.
Agar tidak mudah pecah sebaiknya bagian permukaan gelas dilapisi dengan lilin
(wax) dan silika yang halus.
d. Metal / Logam
Bahan yang sering dipakai : Kaleng (tin plate) dan almunium.
Tin plate adalah wadah yang terbuat dari baja yang dilapisi timah putih yang tipis,
bagian dalamnya juga dilapisi dengan lapisan email.
Lapisan email tersusun atas senyawa oleoresin, fenolik, vinil, dan lilin. Fungsi email
adalah untuk mencegah korosi dan mencegah kontak antara metal dengan bahan
pangan. Misal email fenolik digunakan untuk melapisi kaleng pengemas bahan ikan
dan daging.
e. Aluminium
Aluminium memiliki keuntungan sebagai bahan pengemas, yaitu memiliki berat yang
lebih ringan dibanding baja.
Aluminium juga mudah dibentuk sesuai keinginan.
Aluminium lebih tahan korosi karena bisa membentuk aluminium oksida.
Kelemahan aluminium adalah mudah berlubang dibanding baja dan lebih sukar
disolder sehingga sambungan kemasan tidak benar-benar rapat.
f. Plastik
Penggunaan plastik dalam pengemasan sebenarnya sangat terbatas tergantung dari
jenis makanannya. elemahan plastik adalah tidak tahan panas, tidak hermetis (plastik
masih bisa ditembus udara melalui pori-pori plastik), dan mudah terjadi pengembunan
uap air didalam kemasan ketika suhu turun.
Jenis plastik yang digunakan dalam pengemasan antara lain : polietilen,
cellophan, polivinilklorida (PVC), polivinil dienaklorida (PVDC), polipropilen,
poliester, poliamida, dan polietilentereptalat (PET).
Polietilen : adalah jenis plastik yang harganya paling murah dan memiliki beberapa
varian antara lain : Low Density Polyetilene (LDPE), High Density Polyetilene
(HDPE), dan Polietelentereptalat (PET). Polietilen memiliki sifat kuat bergantung
variannya, transparan, dan dapat direkatkan dengan panas sehingga mudah dibuat
kantong plastik.
Cellophan : sebenarnya terbuat dari serat selulosa yang disulfatasi. Cellophan dapat
dipergunakan untuk membungkus sayuran, daging, dan beberapa jenis roti. Cellophan
yang dilapisi nitroselulosa mempunyai sifat yang tahan terhadap uap air, fleksibel,
dan mudah direkatkan dengan pemanasan. Cellophan yang dilapisi PVDC tahan
terhadap uap air dan kedap oksigen sehingga baik untuk mengemas makanan yang
mengandung minyak atau lemak.
Polivinilklorida (PVC) : jenis plastik yang kuat, namun memiliki kelemahan yaitu
dapat berkerut (Shrinkable) dan sering digunakan untuk mengemas daging atau keju.
Polivinildienaklorida (PVDC) : jenis plastik yang kuat, tahan terhadap uap air dan
transmisi udara. Sering dugunakan dalam pengemasan keju dan buah-buahan yang
dikeringkan.
g. Edible film
Edible film adalah bahan pengemas organik yang dapat dimakan sekaligus
dengan bahan pangan yang dikemasnya, biasa terbuat dari senyawa polisakarida dan
turunan lemak. ahan yang digunakan antara lain polisakarida yang berasal dari rumput
laut (agarose, karaginan, dan alginat), polisakarida pati, amilosa film, gelatin, gum
arabik, dan turunan monogliserida. Contoh pengemasan edible film adalah pada sosis,
permen, kapsul minyak ikan, sari buah dan lain-lain.

h. Karton
Karton sebenarnya merupakan bagian dari kertas namun lebih sering berfungsi
sebagai wadah luar atau sebagai penyokong wadah utama dalam pengemasan bahan
pangan agar lebih kuat, dan rigid. arton memiliki kelebihan antara lain elastisitas lebih
baik dibanding kayu, dapat dicetak pada permukaannya, dapat dikerjakan secara
masinal, pemakaiannya mudah, dan dapat dilipat sehingga tidak memerlukan ruang
luas.
Bahan Pengemas Tradisional:

a. Daun
Digunakan secara luas, bersifat aman dan bio-degradable, yang biasanya
berupa daun pisang, daun jati, daun bambu, daun jagung dan daun palem. Lebih aman
digunakan dalam proses pemanasan dibanding plastik.
b. Gerabah
Digunakan sejak zaman dahulu, aman bagi bahan pangan asal tidak mengandung
timbal. Gerabah yang diglasir bersifat kedap air, kedap udara, mampu menghambat mikrobia,
dan bersifat dingin sehingga cocok untuk mengemas bahan pangan seperti saus, madu,
anggur, minyak, curd/dadih dll.
Cara Pengemasan :
Secara manual, dengan menggunakan tangan tanpa bantuan alat/mesin.
Contohnya : membungkus tempe dengan daun atau plastik, kembang gula,
membungkus teh dalam kemasan kertas, dan sebagainya.
Semi mekanik, menggunakan tangan dengan dibantu peralatan tertentu,
misalnya menutup botol kecap/minuman, penggunaan heat sealer untuk
merekatkan plastik.
Mekanis, dengan mesin kemas yang digerakkan oleh tenaga listrik/motor
berkecepatan tinggi. Umumnya proses pengemasan bersamaan dengan proses
pengisian bahan dalam satu unit mesin seperti pengisian botol minuman
ringan, obat-obatan, dan sebagainya.
Sumber:
http://id.wikipedia.org/wiki/Pengemasan
http://www.smallcrab.com/kesehatan/503-pengemasan-bahan-pangan