Anda di halaman 1dari 23

1

I. STATUS PASIEN
I. IDENTITAS
Nama : Tn. E
Jenis kelamin : Laki-Laki
Umur : 73 tahun
Agama : Islam
Pekerjaan : Purnawirawan TNI AD
Alamat : Gg.Langgar, Kelurahan Cawang, Kecamatan Kramat Jati,
Jakarta Timur.
Tanggal pemeriksaan : 1 September 2014
II. ANAMNESA
Anamnesis : Autoanamnesis
Keluhan utama : Penglihatan mata kiri buram dan memburuk sejak 1 tahun
yang lalu
Keluhan tambahan : Silau ketika melihat cahaya/lampu
Riwayat perjalanan penyakit :
Pasien mengeluh penglihatan mata kiri buram sejak 1 tahun yang lalu. Pasien
mengaku penglihatannya menjadi sangat kabur dalam 1 bulan terakhir.Pasien
mendeskripsikan pandangan yang buram seperti berkabut. Pasien mengaku bahwa
mata kanan juga buram namun tidak seburam mata kiri.Tidak ada faktor yang
memperburuk atau memperingan gejala tersebut.Keluhan pasien tidak disertai dengan
mata merah ataupun nyeri pada matanya.
Pasien menjelaskan menggunakan kacamata untuk membaca.Pasien
menggunakan kacamata baca dengan ukuran S+2.75 pada kedua lensa kacamatanya.
Pasien mengaku tidak memiliki keluhan melihat seperti ada benda-benda
2
berterbangan yang mengikuti arah gerak mata.Pasien juga merasa lebih silau ketika
melihat cahaya/lampu dibanding beberapa tahun sebelumnya. Pasien menyangkal
mempunyai keluhan sering menabrak saat berjalan. Pasien juga menyangkal susah
melihat ketika dalam ruangan atau dalam keadaan gelap.Pasien menyangkal
mempunyai diabetes mellitus. Pasien memiliki kebiasaan merokok, menghabiskan
sekitar 1 sampai 2 bungkus per hari sejak berusia 25 tahun. Pasien berhenti merokok
pada usia 55 tahun Pasien menyangkal mempunyai riwayat pemakaian obat tetes mata
atau konsumsi obat dalam waktu lama.
Riwayat penyakit dahulu :
Riwayat diabetes melitus, penyakit jantung, dan trauma pada mata disangkal.
Pasien memiliki hipertensi sejak berusia 50 tahun dan rutin kontrol kedokter.Pasien
menyangkal mempunyai keluhan yang sama sebelumnya
Riwayat alergi : Disangkal.
Riwayat penyakit keluarga : Tidak ada anggota keluarga yang mengalami sakit
serupa dengan pasien
III. PEMERIKSAAN FISIK
a. Status generalis:
Keadaan umum : Baik
Kesadaran : compos mentis
Tanda-tanda vital
Tekanan darah : 140/80 mmHg
Nadi : 80x per menit
Suhu : Afebris
Laju pernafasan : 16x per menit
Kepala : Normocephal, tidak terdapat deformitas
Telinga : Discharge (-)
3
Hidung : Deviasi septum (-), discharge (-), epistaksis (-)
Mulut : Karies gigi (-)
Leher : Kelenjar getah bening tidak mengalami pembesaran
Thorax
Jantung : BJ I-II reguler, murmur (-), gallop (-)
Paru : Suara napas dasar vesikuler, rhonki (-), wheezing (-)
Abdomen : Cembung, supel, nyeri tekan (-), bising usus (+) N.
Ekstremitas : Hangat, udema -/-, deformitas (-)
b. Status oftalmologis
KETERANGAN OD OS
1. VISUS
Tajam penglihatan 0.3f PH (+) 1/60 PH(-)
Koreksi S + 1 0.5f Tidak dapat dikoreksi
Addisi S+2.75 S+2.75
Distansia Pupil 60/58 mm
Kaca mata lama S+2.00, Addisi S+2.75 Plano, Addisi S+2.75
2. KEDUDUKAN BOLA MATA
Eksoftalmus Tidak ada Tidak ada
Endoftalmus Tidak ada Tidak ada
Deviasi Tidak ada Tidak ada
Gerakan mata Baik ke segala arah Baik ke segala arah
3. SUPRA SILIA
Warna Hitam Hitam
Letak Simetris Simetris
4. PALPEBRA SUPERIOR DAN INFERIOR
Edema Tidak Ada Tidak Ada
Nyeri tekan Tidak Ada Tidak Ada
4
Ektropion Tidak Ada Tidak Ada
Entropion Tidak Ada Tidak Ada
Blefarospasme Tidak Ada Tidak Ada
Trikiasis Tidak Ada Tidak Ada
Sikatriks Tidak Ada Tidak Ada
Fisura palpebra 9 mm 9 mm
Hordeolum Tidak Ada Tidak Ada
Kalazion Tidak Ada Tidak Ada
Ptosis Tidak Ada Tidak Ada
5. KONJUNGTIVA TARSAL SUPERIOR DAN INFERIOR
Hiperemis Tidak Ada Tidak Ada
Folikel Tidak Ada Tidak Ada
Papil Tidak Ada Tidak Ada
Sikatriks Tidak Ada Tidak Ada
Anemia Tidak Ada Tidak Ada
Kemosis Tidak Ada Tidak Ada
6. KONJUNGTIVA BULBI
Injeksi konjungtiva Tidak Ada Tidak Ada
Injeksi siliar Tidak Ada Tidak Ada
Perdarahan subkonjungtiva Tidak Ada Tidak Ada
Pterigium Tidak Ada Tidak Ada
Pinguekula Tidak Ada Tidak Ada
Nervus pigmentosus Tidak Ada Tidak Ada
7. SISTEM LAKRIMALIS
Punctum lakrimal Terbuka Terbuka
Tes Anel + +
8. SKLERA
Warna Putih Putih
Ikterik Tidak Ada Tidak Ada
9. KORNEA
5
Kejernihan Jernih Jernih
Permukaan Licin Licin
Ukuran 12 mm 12 mm
Sensibilitas Baik Baik
Infiltrat Tidak ada Tidak ada
Ulkus Tidak ada Tidak ada
Perforasi Tidak ada Tidak ada
Arkus senilis Ada Ada
Edema Tidak ada Tidak ada
Tes Plasido Reguler Reguler
10. BILIK MATA DEPAN
Kedalaman Dalam Dalam
Kejernihan Jernih Jernih
Hifema Tidak ada Tidak ada
Hipopion Tidak ada Tidak ada
Efek Tyndall Tidak ada Tidak ada
11. IRIS
Warna Coklat Coklat
Kripte Jelas Jelas
Bentuk Bulat Bulat
Sinekia Tidak ada Tidak ada
Koloboma Tidak ada Tidak ada
12. PUPIL
Letak Sentral Sentral
Bentuk Bulat Bulat
Ukuran 5 mm 5 mm
Refleks cahaya langung + +
Refleks cahaya tidak langsung + +
13. LENSA
Kejernihan Keruh Keruh
6
Letak Menyeluruh Ditengah
Tes Shadow + +
14. BADAN KACA
Kejernihan Jernih Sulit dinilai
15. FUNDUS OKULI
a. Reflex fundus Positif suram Positif sangat suram
b. Papil
o Bentuk Bulat Sulit dinilai
o Warna Kuning kemerahan Sulit dinilai
o Batas Tegas Sulit dinilai
o Warna Kuning kemerahan Sulit dinilai
o C/D Ratio 0.3 Sulit dinilai
c. A/V Ratio 2/3 Sulit dinilai
d. Retina
o Edema Tidak ada Sulit dinilai
o Perdarahan Tidak ada Sulit dinilai
o Exudat Tidak ada Sulit dinilai
o Sikatriks Tidak ada Sulit dinilai
e. Makula lutea
o Refleks fovea Positif Positif suram
o Edema Tidak ada Sulit dinilai
o Pigmentosa Tidak ada Sulit dinilai
16. PALPASI
Nyeri tekan Tidak Ada Tidak Ada
Massa tumor Tidak Ada Tidak Ada
Tensi okuli (digital) N+0/P N+0/P
Tonometer Schiotz 14.3 mmHg 13.1 mmHg
17. KAMPUS VISI
Tes konfrontasi Sama dengan pemeriksa Sama dengan pemeriksa
7
Keadaan mata pasien saat diperiksa :











IV. PEMERIKSAAN PENUNJANG:
1. Biometri Oculi Sinistra
2. Pemeriksaan laboratorium darah :
a. Hb,Hct, Leukosit, Trombosit, PT dan aPTT
b. Pemeriksaan glukosa darah
3. Pemeriksaan EKG dan konsultasi ke departemen Jantung
V. RESUME:
Pasien laki-laki berumur 73 tahun datang ke RSPAD Gatot Soebroto dengan keluhan
pengelihatan mata kirinya buram sejak 1 tahun yang lalu, memburuk dalam satu bulan
terakhir. Pasien mengaku bahwa mata kananya juga buram namun tidak separah mata
kiri.Buram yang pasien rasakan adalah seperti berkabut.Pasien menyangkal adanya
keluhan mata merah dan nyeri pada matanya.Pasien memakai kacamata untuk
membaca dengan ukuran S+2.75 sebelumnya. Pasien merasa lebih silau ketika
Gambar Oculi Dextra Gambar Oculi Sinistra
8
melihat cahaya/lampu. Pasien menyangkal memiliki riwayat Diabetes Mellitus, pasien
memiliki hipertensi yang terkontrol sejak usia 50 tahun. Pada pemeriksaan fisik
didapati pada OD, visus 0.3 dan kekeruhan pada lensa yang menyeluruh dengan
shadow test positif. Pada OS, visus 1/60,dan kekeruhan pada lensa yang menyeluruh
dengan shadow test positif. Funduskopi dari mata kanan pasien didapatkan dalam
batas normal, hasil funduskopi mata kiri pasien sulit dinilai karena terhalang oleh
kekeruhan lensa.
VI. DIAGNOSIS KERJA:
OD: Katarak senilis stadium Imatur
Presbiopia
OS : Katarak senilis stadium Imatur
Presbiopia
VII. DIAGNOSIS BANDING:
Retinopati Hipertensi
VIII. PENATALAKSANAAN:
1. Non Medikamentosa:
- Edukasi penyakit katarak
- Modifikasi gaya hidup dengan mengurangi faktor risiko, diet dan olahraga teratur.
2. Tindakan operasi :
- OS: Operasi ECCE (Extracapsular Cataract Extraction), Fakoemulsifikasi + IOL.
3. Kacamata :
Sebelum operasi, dapat diberikan kacamata dengan ukuran koreksi sebagai berikut
untuk membantu penglihatan pasien.Namun pemberian kacamata disarankan diberikan
setelah satu bulan pasca operasi dan setelah visus pasien dievaluasi ulang.Alasan
pemberian kacamata sebulan paska operasi mengingat pertimbangan ekonomi dan
9
efisiensi dalam pemberian kacamatanya, karena visus pasien juga akan berubah dengan
operasi diakibatkan penanaman lensa intraokuler.
- OD : S+1 add S+ 2.75
- OS : Plano add S+2.75
PROGNOSIS
a. Ad vitam: ad bonam
b. Ad fungsionam: ad bonam
c. Ad sanationam: ad bonam
IX. ANALISA KASUS
Diagnosis pada pasien ini adalah:
OD: Katarak senilis stadium imatur
Presbiopia
OS: Katarak senilis stadium imatur
Presbiopia
Identifikasi masalah pasien :
A. Identitas
Umur pasien 73 tahun, pasien memiliki faktor predisposisi menderita katarak senilis
yaitu kekeruhan pada lensa pada usia diatas 50 tahun.
B. Anamnesis:
Keluhan utama pasien adalah penurunan fungsi penglihatan yang progresif,
sejak 1 tahun lalu dan mulai memburuk terutama pada 1 bulan terakhir. Penyakit ini
masuk dalam kelompok penyakit visus turun perlahan tanpa mata merah. Dari
kelompok ini kemungkinan penyakit lainnya adalah kelainan refraksi, katarak,
glaukoma kronis serta kelainan makula dan retina. Penglihatan buram pasien
10
dideskripsikan seperti berkabut, lebih berat di mata kiri daripada mata kanan, pasien
juga merasa cahaya/lampu menjadi lebih silau dari sebelum-sebelumnya. Ini
merupakan gejala penurunan visus dan glare yang terdapat pada katarak. Pasien
mengaku memakai kacamata untuk membaca dengan ukuran S +2.75 pada kedua
lensa, hal ini menunjukan terdapatnya kelainan refraksi pada pasien ini, ditinjau dari
segi usia, pasien menderita presbiopia. Pasien menyangkal mempunyai keluhan sering
menabrak saat berjalan yang menunjukan adanya gangguan dalam penyempitan
lapanagan pandang. Pasien juga menyangkal mempunyai gangguan beradaptasi dalam
melihat gelap.Pasien menyangkal mempunyai diabetes mellitus. Pasien memiliki
kebiasaan merokok, menghabiskan sekitar 1 sampai 2 bungkus per hari sejak berusia
25 tahun. pasien berhenti merokok pada usia 55 tahun Pasien menyangkal mempunyai
riwayat pemakaian obat tetes mata atau konsumsi obat dalam waktu lama.
C. Pemeriksaan fisik
Pada pemeriksaan oftalmologis didapatkan:
Pada OD: 1. Visus 0.3f, koreksi S+1 0.5
2. Lensa yang keruh shadow test (+).
3. Non contact tonometri: 14.9 mmHg
4. Tes konfrontasi normal
OD memiliki visus 0.3 menjadi 0.5 setelah dikoreksi dengan lensa S+1.Pada
mata kanan, terdapat kekeruhan pada lensa dengan shadow test (+) sugestif katarak
imatur. Tes konfrontasi normal dengan TIO normal menyingkirkan glaukoma kronik.
Pada OS: 1. Visus 1/60
2. Lensa yang keruh dengan shadow test (+).
3. Non contact tonometri: 13.5 mmHg
4. Tes konfrontasi normal
11
OS memiliki visus 1/60 yang menjadi 0.3 setelah dikoreksi dengan lensa keruh
dengan shadow test (+) sugestif katarak imatur. Tes konfrontasi normal dengan TIO
normal menyingkirkan glaukoma kronik.
Funduskopi pada mata kanan dalam batas normal, namun pada mata kiri sulit
dinilai karena lensa yang keruh akibat katarak. Pada pasien ini, diagnosis DM tipe 2
belum dapat disingkirkan karena belum dilakukan pemastian lewat kadar gula darah
pasien maka masih ada kemungkinan pasien menderita retinopati diabetes namun
retina belum dapat dinilai.
D. Pemeriksaan anjuran:
1. Biometri OD: untuk persiapan operasi, untuk pemilihan ukuran lensa
intraokuler.
2. Pemeriksaan Hb, Hct, Leukosit, Trombosit, PT dan aPTT: persiapan operasi
serta menilai fungsi hemostasis.
3. Pemeriksaan glukosa darah : untuk melihat apakah gula darah dalam kondisi
yang baik untuk operasi agar tidak terjadi komplikasi seperti ketoasidosis dan
untuk memastikan apakah pasien memiliki Diabetes Mellitus dalam pemberian
penatalaksanaan medikamentosa dan non-medikamentosa
4. Pemeriksaan EKG dan konsultasi ke jantung: untuk melihat apakah ada
kelainan dengan irama atau fungsi jantung untuk menilai kesiapan pasien
untuk operasi dan pemilihan jenis anestesi.
E. Penatalaksanaan
1. Non Medikamentosa:
- Edukasi tentang penyakit katarak
- Modifikasi gaya hidup dengan mengurangi faktor resiko, diet dan olahraga
teratur. Pasien juga dianjurkan untuk berhenti merokok, karena rokok
meningkatkan risiko kardiovaskular, yang mana pada pasien ini risiko tersebut
sudah tinggi akibat pasien menderita hipertensi, serta untuk memperlambat
perburukan katarak pada mata kiri.
12
2. Tindakan operasi:
OS: Operasi ECCE (Extracapsular Cataract Extraction), fakoemulsifikasi + IOL.
Dilakukan sebagai terapi definitif untuk katarak matur atas indikasi untuk
perbaikan visus. Dipilih ECCE dengan fakoemulsifikasi + IOL, karena insisi pada
kornea yang dibutuhkan lebih kecil dengan resiko astigmatisme post-operatif yang
lebih kecil daripada ICCE. Komplikasi yang lebih sedikit dan pemulihan visus yang
lebih cepat.
3. Kacamata:
Berdasarkan usia, pasien dapat diberikan koreksi lensa maksimal S+3 untuk
kacamata jarak dekat supaya dapat mengatasi gangguan refraksi presbiopia karena
usia, namun pemberian koreksi lensa tergantung dari kenyamanan pasien, pada pasien
ini lebih nyaman menggunakan lensa dengan ukuran S+2.75.
Sebelum operasi, pasien dapat diberikan kacamata, namun pemberian
kacamata disarankan diberikan setelah satu bulan pasca operasi dan setelah visus
pasien dievaluasi ulang.Alasan pemberian kacamata sebulan paska operasi mengingat
pertimbangan ekonomi dan efisiensi dalam pemberian kacamatanya, karena visus
pasien juga akan berubah dengan operasi diakibatkan penanaman lensa intraokuler.


13
II. TINJAUAN PUSTAKA

DEFINISI
Katarak adalah setiap keadaan kekeruhan pada lensa yang dapat terjadi akibat hidrasi
(penambahan cairan) lensa, denaturasi protein lensa atau terjadi akibat kedua-duanya.
Biasanya kekeruhan mengenai kedua mata dan berjalan progresif ataupun dapat tidak
mengalami perubahan dalam waktu yang lama.
KLASIFIKASI
A. Klasifikasi etiologi
I. Katarak kongenital
II. Katarak akuisita
1. Katarak senilis
2. Katarak traumatik
3. Katarak komplikata
4. Katarak metabolik
5. Katarak oleh karena cedera listrik
6. Katarak oleh karena radiasi
7. Katarak oleh karena logam berat
dan obat-obatan
8. Katarak yang berhubungan
dengan penyakit kulit
9. Katarak yang berhubungan dengan penyakit tulang
10. Katarak dengan sindroma lainnya seperti sindroma Down
B. Klasifikasi morfologis
1. Katarak kapsular: meliputi kapsul
i. Katarak kaspular anterior
ii. Katarak kapsular posterior
2. Katarak subkapsular: mengenai bagian superfisial dari korteks (dibawah kapsul)
i. Katarak subkapsular anterior
ii. Katarak subkapsular posterior
3. Katarak kortikal: meliputi sebagian besar dari korteks
14
4. Katarak supranuklear: meliputi bagian dalam korteks (diluar nukelus)
5. Katarak nuklear: meliputi nukelus dari lensa
6. Katarak polaris: meliputi kapsul dan bagian superfisial dari korteks pada daerah
polar
i. Katarak polaris anterior
ii. Katarak polaris posterior
KATARAK SENILIS
Katarak senilis (age-related cataract) merupakan jenis katarak didapat (akuisita)
yang paling sering ditemukan pada laki-laki maupun perempuan, biasanya berusia di atas 50
tahun. Pada usia sekitar 70 tahun, hampir 90% individu menderita katarak. Kondisi
kekeruhan biasanya bilateral akan tetapi hampir selalu kondisi salah satu mata lebih berat dari
mata lainnya. Secara morfologis katarak senilis dapat dibagi menjadi 2 jenis, yaitu katarak
kortikal dan katarak nuklear. Kedua jenis katarak ini sering terjadi secara bersamaan.
Faktor-faktor yang mempengaruhi tipe, maturasi dan usia munculnya katarak senilis:
- Keturunan : mempengaruhi peran genetik dalam mulainya awitan seorang individu
terkena katarak dan maturasi dari kataraknya tersebut,
- Radiasi Ultraviolet: paparan UV yang tinggi mempercepat maturasi dan usia
munculnya katarak.
- Faktor diet: Defisiensi dari beberapa jenis protein, asam amino dan vitamin C, E serta
riboflavin dihubungkan dengan kecepatan maturasi dan usia munculnya katarak
- Krisis dehidrasi: Riwayat dehidrasi berat seperti pada kolera meningkatkan resiko.
- Merokok: merokok mempercepat munculnya katarak. Merokok menyebabkan
penumpukan molekul berpigmen -3 hydroxykhynurine dan chromophores, yang
menyebabkan terjadinya penguningan warna lensa, yang menyebabkan kekuningan.
Sianat dalam rokok juga menyebabkan terjadinya karbamilasi dan denaturasi protein.



15
Stadium maturasi katarak senilis :
A. Maturasi dari katarak senilis tipe kortikal
I. Stadium katarak insipien
Merupakan stadium yang paling dini, yang belum menimbulkan gangguan
visus.Kekeruhan terutama terdapat pada bagian perifer berupa berca-bercak seperti jari-jari
roda, terutama mengenai korteks anterior, sedang aksis relatif masih jernih.Gambaran berupa
Spokes of a wheel.







Gambar : Katarak stadium insipien Spokes of a wheel
II. Katarak senilis imatur:
Lensa terlihat putih keabu-abuan, namun masih terdapat korteks yang jernih, maka
terdapat iris shadow.Kekeruhan terdapat dibagian posterior dan bagian belakang nukleus
lensa.Pada stadium ini mungkin terjadi hidrasi kroteks, yang mengakibatkan lensa menjadi
cembung, sehingga indeks refraksi berubah karena daya biasnya bertambah dan mata menjadi
miopia.
III. Katarak senilis matur:
Kekeruhan korteks secara total sehingga iris shadow tidak ada.Lensa telah menjadi
keruh seluruhnya.Pada pupil nampak lensa yang seperti mutiara.Pada stadium ni, lensa akan
berukuran normal kembali akibat terjadi pengeluaran air.

16
IV. Katarak senilis hipermatur
i. Katarak hipermatur tipe Morgagni: Pada kondisi ini, korteks mencair dan lensa
menjadi seperti susu. Nukleus yang berwarna coklat tenggelam ke dasar.Pada
stadium ini juga terjadi kerusakan kapsul lensa, sehingga isi korteks yang cair
dapat keluar dan lensa menjadi kempis, yang dibawahnya terdapat nukleus lensa.
ii. Katarak hipermatur tipe sklerotik: Pada kondisi ini, korteks terdisintegrasi dan
lensa menjadi berkerut yang menyebabkan COA menjadi dalam




Gambar : Katarak hipermatur tipe Morgagni
B. Maturasi dari katarak senilis tipe nuklear:
Pada keadaan ini, lensa menjadi keras dan tidak elastis, sehingga menurunkan
kemampuan akomodasi serta menghalangi cahaya. Perubahan dimulai dari tengah, lalu secara
perlahan menyebar ke perifer sampai hampir meliputi seluruh kapsul, namun masih terdapat
sedikit bagian dari korteks yang masih jernih. Warna yang dapat dilihat ialah coklat
(cataracta brunescens), hitam (cataracta nigra) dan merah (cataracta rubra)

Gambar : A.Cataracta brunescens, B.Cataracta nigra, C.Cataracta rubra

17






GEJALA KLINIS
Kekeruhan lensa dapat terjadi tanpa menimbulkan gejala, dan dijumpai pada pemeriksaan
mata rutin. Gejala katarak yang sering dikeluhkan adalah :
1. Silau
Pasien katarak sering mengeluh silau, yang bisa bervariasi keparahannya mulai dari
penurunan sensitivitas kontras dalam lingkungan yang terang hingga silau pada saat siang
hari atau sewaktu melihat lampu mobil atau kondisi serupa di malam hari. Keluhan silau
tergantung dengan lokasi dan besar kekeruhannya, biasanya dijumpai pada tipe katarak
posterior subkapsular.
2. Diplopia monokular atau polypia
Terkadang, perubahan nuklear terletak pada lapisan dalam nukleus lensa,
menyebabkan daerah pembiasan multipel di tengah lensa sehingga menyebabkan refraksi
yang ireguler karena indeks bias yang berbeda.
3. Halo
Hal ini bisa terjadi pada beberapa pasien oleh karena terpecahnya sinar putih menjadi
spektrum warna oleh karena meningkatnya kandungan air dalam lensa.
4. Distorsi
Katarak dapat menyebabkan garis lurus kelihatan bergelombang
5. Penurunan tajam penglihatan
Katarak menyebabkan penurunan penglihatan progresif tanpa rasa nyeri. Umumnya
pasien katarak menceritakan riwayat klinisnya langsung tepat sasaran. Dalam situasi lain,
pasien hanya menyadari adanya gangguan penglihatan setelah dilakukan pemeriksaan. Pada
18
katarak kupuliform (opasitas sentral) gejala lebih buruk ketika siang hari dan membaik ketika
malam hari. Pada katarak kuneiform (opasitas perifer) gejala lebih buruk ketika malam hari.
6. Myopic shift
Seiring dengan perkembangan katarak, dapat terjadi peningkatan dioptri kekuatan
lensa, yang pada umumnya menyebabkan miopia ringan atau sedang. Umumnya, pematangan
katarak nuklear ditandai dengan kembalinya penglihatan dekat oleh karena meningkatnya
miopia akibat kekuatan refraktif lensa nuklear sklerotik yang menguat, sehingga kacamata
baca atau bifokal tidak diperlukan lagi. Perubahan ini disebut second sight. Akan tetapi,
seiring dengan penurunan kualitas optikal lensa, kemampuan tersebut akhirnya hilang.
PENATALAKSANAAN
Tindakan non-bedah:
1. Pengobatan dari penyebab katarak: Penyebab katarak harus dicari, karena apabila
penyakit tersebut dapat ditemui dan diobati seringkali memberhentikan progresi dari
penyakit tersebut, contohnya adalah:
- Kontrol gula darah pada pasien DM
- Menghentikan penggunaan obat-obatan seperti kortikosteroid
- Pengobatan uveitis untuk mencegah komplikasi
2. Memperlambat progresi: penggunaan yodium, kalsium, kalium, vitamin E dan aspirin
dihubungkan dengan perlambatan dari kataraktogenesis.
3. Meningkatkan penglihatan pada katarak insipien dan imatur dengan:
- Refraksi
- Pencahayaan: Pada opasitas sentral menggunakan penerangan yang terang. Pada
opasitas perifer menggunakan penerangan yang sedikit redup.
4. Pengunaan kacamata hitam ketika beraktifitas diluar ruangan pada pasien dengan
opasitas sentral
5. Midriatikum pada pasien dengan katarak aksial yang kecil.

19
Indikasi operasi katarak ialah:
1. Fungsi penglihatan: Ini merupakan indikasi yang paling sering. Operasi katarak
dilakukan ketika cacat visus menjadi menyebabkan gangguan signifikan pada
kehidupan sehari-hari pasien.
2. Indikasi medis: meskipun pasien merasa nyaman dari aspek penglihatan, operasi
dapat dianjurkan apabila pasien menderita:
- Glaukoma lens-induced
- Endoftalmitis fakoanafilaktik
- Penyakit retina seperti retinopati diabetikum dan ablasio retina yang terapinya
terganggu karena adanya kekeruhan lensa.
3. Indikasi kosmetik: Terkadang pasien dengan katarak matur meminta ekstraksi katarak
agar pupil kembali menjadi hitam.
Evaluasi Preoperatif
1. Pemeriksaan umum: untuk melihat apakah pasien memiliki penyakit diabetes
mellitus, hipertensi dan masalah jantung, PPOK dan daerah potensi infeksi seperti
periodontitis dan infeksi saluran kemih. Gula darah harus terkontrol dan hipertensi
tidak boleh diatas 160/100 mmHg
2. Pemeriksaan fungsi retina:
a. Persepsi sinar: apakah operasi tersebut akan menguntungkan dengan melihat
apakah fungsi retina masih baik atau tidak.
b. RAPD: apabila positif maka kemungkinan ada lesi nervus optikus
c. Persepsi warna
d. Pemeriksaan diskriminasi dua sinar
e. Pemeriksaan objektif seperti elektroretinogram, EOG dan VOR.
3. Mencari sumber infeksi lokalis: infeksi konjungktiva, meibomitis,blefaritis dan
infeksi sakus lakrimalis harus disingkirkan. Dilakukan uji anel untuk melihat patensi
20
sakus lakrimalis apabila pasien memiliki riwayat mata berair. Apabila terdapat
penyakit dakriosistitis, maka harus dilakukan dakriosistektomi ato
dakriosistorinostomi.
4. Evaluasi segmen anterior: apakah ada tanda-tanda uveitis seperti keratic precipitate,
efek Tyndall dan harus diobati sebelum operasi katarak
5. Pengukuran TIO: tekanan intraokuler yang tinggi merupakan prioritas pengobatan
sebelum ekstraksi katarak
Penyulit yang mungkin timbul setelah operasi katarak :
1. Peradangan pada hari pertama post-operasi, dapat dicegah dengan pemberian
antibiotika lokal dan sistemik
2. Prolaps iris melewati lubang diantara sayatan atau tempat jahitan
3. Jika prolaps iris dibiarkan, maka sekitar hari ke 4-5 dapat menyebabkan coa dangkal,
kemudian dapat timbul ablasi retina, akibat badan siliar kedepan
PEMBEDAHAN KATARAK SENILIS
1. Ekstraksi katarak intrakapsular (ICCE)
Pada teknik ini, keseluruhan lensa katarak dan kapsulnya diangkat. Zonula yang
lemah dan terdegenerasi merupakan syarat dari operasi ini. Karena hal ini, teknik ini
tidak bisa dilakukan pada pasien yang muda karena zonula yang kuat. Pada usia 40-50
tahun, digunakan enzim alphachymotrypsin yang melemahkan zonula.
Indikasi: Subluksasi dan dislokasi lensa.
2. Ekstraksi katarak ekstrakapsular (ECCE)
Pada teknik ini, bagian besar dari kapsula anterior dan epitel, nukleus dan korteks
diangkat; kapsula posterior ditinggalkan sebagai penyangga lensa implant.
Indikasi: Operasi katarak pada anak-anak dan dewasa.
Kontraindikasi: Subluksasi dan dislokasi lensa.


21
3. Fakoemulsifikasi
Pembedahan menggunakan vibrator ultrasonik untuk menghancurkan nukleus yang
kemudian diaspirasi melalui insisi 2.5-3 mm, dan kemudian dimasukan lensa
intraokular yang dapat dilipat. Keuntungan yang didapat ialah pemulihan visus lebih
cepat, induksi astigmatis akibat operasi minimal, komplikasi dan inflamasi pasca
bedah minimal.










LENSA TANAM INTRAOKULER
Implantasi lensa intraokular merupakan metode pilihan untuk koreksi afakia. Biasanya bahan
lensa intraokuler terbuat dari polymethylmethacrylate (PMMA).
Pembagian besar dari lensa intraokular berdasarkan metodi fiksasi pada mata ialah:
1. IOL COA: Lensa di depan iris dan disangga oleh sudut dari COA.
2. Lensa yang disangga iris: lensa dijahit kepada iris, memiliki tingkat komplikasi yang
tinggi.
3. Lensa Bilik Mata Belakang: Lensa diletakan di belakang iris, disangga oleh sulkus
siliaris atau kapsula posterior lensa.
Gambar : Teknik Fakoemulsifikasi pada operasi katarak
22
DAFTAR PUSTAKA
1. Khurana AK. Comprehensive ophthalmology. 4th ed. Anshan publishers 2007.
2. Ilyas HS, Yulianti SR. Ilmu penyakit mata. 4th 3 rev. ed. Badan penerbit FKUI. 2013.
3. Riordan-eva P, Cunningham E. Vaughan & Asbury general ophthalmology. 18th ed.
McGraw-Hill Professional. 2011.
4. Kanski JJ, Bowling B. Clinical ophthalmology: systemic approach. 7th ed.
Saunders.2012
5. Nana Wijana. Ilmu Penyakit Mata.1993
23