Anda di halaman 1dari 23

Page 1 of 23

BAB I
PENDHAULUAN
A. Latar belakang
Rongga hidung dilapisi oleh mukosa yang secara histologik dan fungsional
dibagi atas mukosa pernapasan (mukosa respiratori) dan mukosa hidung
(mukosa olfaktori). Mukosa pernapasan terdapat pada sebagian besar pada
rongga hidung dan permukaannya dilapisi oleh epitel torak berlapis semu
(pseudo stratified columnar ephitelium) yang mempunyai silia dan diantaranya
terdapat sel-sel goblet.
Rhinitis Alergik merupakan bentuk alergi respiratorius yang paling sering
ditemukan dan diperkirakan diperantarai oleh reaksi imunologi cepat
(hipersensitivitas tipe I). Penyakit ini mengenai sekitar 8% hingga 10% dari
populasi penduduk Amerika Serikat (20% hingg 30% penduduk remaja).
Rinitis didefinisikan sebagai peradangan dari membran hidung yang
ditandai dengan gejala kompleks yang terdiri dari kombinasi beberapa gejala
berikut : bersin, hidung tersumbat, hidung gatal dan rinore. Mata, telinga, sinus
dan tenggorokan juga dapat terlibat. Rinitis alergi merupakan penyebab
tersering dari rinitis.
Rinitis alergi adalah peradangan pada membran mukosa hidung, reaksi
peradangan yang diperantarai IgE, ditandai dengan obstruksi hidung, sekret
hidung cair, bersin-bersin, dan gatal pada hidung dan mata. Rinitis alergi
mewakili permasalahan kesehatan dunia mengenai sekitar 10 25% populasi
dunia, dengan peningkatan prevalensi selama dekade terakhir.
Rinitis alergi merupakan kondisi kronik tersering pada anak dan
diperkirakan mempengaruhi 40% anak-anak. Sebagai konsekuensinya, rinitis
alergi berpengaruh pada kualitas hidup, bersama-sama dengan komorbiditas
beragam dan pertimbangan beban sosial-ekonomi, rinitis alergi dianggap
sebagai gangguan pernafasan utama.
Tingkat keparahan rinitis alergi diklasifikasikan berdasarkan pengaruh
penyakit terhadap kualitas hidup seseorang. Diagnosis rinitis alergi melibatkan
anamnesa dan pemeriksaan klinis yang cermat, lokal dan sistemik khususnya
saluran nafas bawah.

Page 2 of 23

B. Rumusan masalah
1. Apa definisi Rhinitis Alergik?
2. Apa saja klasifikasi rhinitis alergik?
3. Apa etiologi rhinitis alergik?
4. Bagaimana patofisiologi rhinitis alergik?
5. Apa saja manifestasi klinis yang mungkin muncul pada rhinitis alergik?
6. Apa saja pemeriksaan penunjang yang dilakukan pada rhinitis alergik?
7. Bagaimana penatalaksanaan medis pada rhinitis alergik?
8. Apa sajakah komplikasi yang mungkin muncul pada rhinitis alergik?
9. Bagaimana proses keperawatan pada rhinitis alergik?

C. Tujuan
1. Tujuan umum
Mengetahui kosep penyakit dan asuhan keperawatan pada pasien
dengan diagnosa medis Rhinitis Alergik, dan memenuhi tugas yang
diberikan oleh dosen pembimbing mengenai Asuhan Keperawatan pada
Pasien Rhinitis Alergik
2. Tujuan khusus
a. Mengetahui definisi rhinitis alergik
b. Mengidentifikasi klasifikasi rhinitis alergik
c. Mengetahui etiologi rhinitis alergik
d. Mengidentifikasi patofisiologi rhinitis alergik
e. Mengetahui manifestasi klinis yang mungkin muncul pada rhinitis
alergik
f. Mengetahui pemeriksaan penunjang pada rhinitis alergik
g. Mengetahui penatalaksanaan rhinitis alergik
h. Mengetahui komplikasi rhinitis alergik
i. Mengidentifikasi asuhan keperawatan pada pasien dengan rhinitis
alergik

D. Sistematika penyusunan
Makalah yang berjudul ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN
DENGAN RHINITIS ALERGIK ini tersusun atas tiga bab, yaitu :
Page 3 of 23

BAB I PENDAHULUAN : yang berisi Latar belakang, Rumusan Masalah,
Tujuan, Sistematika Penyusunan, dan Ruang Lingkup Penyusunan.
BAB II PEMBAHASAN : yang berisi Pengertian/Definisi, Etiologi,
Patofisiologi, Manifestasi Klinis, Komplikasi, Pemeriksaan Diagnostik,
Penatalaksanaan Medis/Farmakologis, dan Asuhan Keperawatan pasien
dengan Rhinitis Alergik
BAB III PENUTUP : yang berisi Kesimpulan dan Saran

A. Ruang lingkup penyusunan
Makalah yang berjudul ASUHAN KEPERAWATAN PASIEN
DENGAN RHINITIS ALERGIK ini berisikan Konsep Dasar penyakit serta
Asuhan Keperawatan, yang mana isi dari makalah ini diambil dari beberapa
Literatur berupa Buku, Jurnal, dari media Internet, dan sebagaian diantaranya
merupakan hasil diskusi kelompok yang dilakukan untuk memperoleh intisari
dari literatur yang digunakan.

Page 4 of 23

BAB II
PEMBAHASAN
A. Definisi rhinitis alergik
Rhinitis alergik merupakan bentuk alergi respiratorius yang paling sering
ditemukan dan diperkirakan diantarai oleh reaksi imunologi cepat
(hipersensitive I). Rhinitis adalah suatu inflamasi ( peradangan ) pada
membran mukosa di hidung. (Dipiro, 2005 ).
Rhinitis adalah peradangan selaput lendir hidung. ( Dorland, 2002 )
Sedangkan menurut WHO ARIA 2001 adalah kelainan pada hidung
dengan gejala bersin-bersin, rhinore, rasa gatal, dan tersumbat setelah mukosa
hidung terpapar alergen yang diperantari oleh IgE.
Rhinitis alergi adalah penyakit peradangan yang disebabkan oleh reaksi
alergi pada pasien-pasien yang memiliki atopi, yang sebelumnya sudah
tersensitisasi atau terpapar dengan allergen (zat/materi yang menyebabkan
timbulnya alergi) yang sama serta meliputi mekanisme pelepasan mediator
kimia ketika terjadi paparan ulangan dengan allergen yang serupa (Von
Pirquet, 1986).
Rinitis alergi adalah penyakit umum yang paling banyak di derita oleh
perempuan dan laki-laki yang berusia 30 tahunan. Merupakan inflamasi
mukosa saluran hidung yang disebabkan oleh alergi terhadap partikel, seperti:
debu, asap, serbuk/tepung sari yang ada di udara

B. Klasifikasi rhinitis alergik
1. Menurut sifatnya dapat dibedakan menjadi dua:
a. Rhinitis akut (coryza, commond cold) merupakan peradangan
membran mukosa hidung dan sinus-sinus aksesoris yang disebabkan
oleh suatu virus dan bakteri. Penyakit ini dapat mengenai hampir setiap
orang pada suatu waktu dan sering kali terjadi pada musim dingin
dengan insidensi tertinggi pada awal musim hujan dan musim semi.
b. Rhinitis kronis adalah suatu peradangan kronis pada membran mukosa
yang disebabkan oleh infeksi yang berulang, karena alergi, atau karena
rinitis vasomotor.

2. Rhinitis berdasarkan penyebabnya dibedakan menjadi :
a. Rhinitis alergi
Page 5 of 23

Rinitis alergi adalah penyakit umum yang paling banyak di derita
oleh perempuan dan laki-laki yang berusia 30 tahunan. Merupakan
inflamasi mukosa saluran hidung yang disebabkan oleh alergi terhadap
partikel, seperti: debu, asap, serbuk/tepung sari yang ada di udara.
Meskipun bukan penyakit berbahaya yang mematikan, rinitis alergi
harus dianggap penyakit yang serius karena karena dapat mempengaruhi
kualitas hidup penderitanya. Tak hanya aktivitas sehari-hari yang
menjadi terganggu, biaya yang akan dikeluarkan untuk mengobatinya
pun akan semakin mahal apabila penyakit ini tidak segera diatasi karena
telah menjadi kronis. Rhinitis alergi Adalah istilah umum yang
digunakan untuk menunjukkan setiap reaksi alergi mukosa hidung, dapat
terjadi bertahun-tahun atau musiman.
b. Rhinitis Non Alergi
Rhinitis non allergi disebabkan oleh infeksi saluran napas (rhinitis
viral dan rhinitis bakterial, masuknya benda asing kedalam hidung,
deformitas struktural, neoplasma, dan massa, penggunaan kronik
dekongestan nasal, penggunaan kontrasepsi oral, kokain dan anti
hipertensif.
Berdasarkan penyebabnya, rhinitis non alergi di golongkan sebagai
berikut:
Tipe-tipe rinitis non alergi adalah:
1) Rinitis Infeksiosa
Rinitis infeksiosa biasanya disebabkan oleh infeksi pada
saluran pernafasan Bagian atas, baik oleh bakteri maupun virus. Ciri
khas dari rinitis infeksiosa adalah lendir hidung yang bernanah, yang
disertai dengan nyeri dan tekanan pada wajah, penurunan fungsi
indera penciuman serta batuk.
2) Rinitis Non-Alergika Dengan Sindroma Eosinofilia
Penyakit ini diduga berhubungan dengan kelainan
metabolisme prostaglandin. Pada hasil pemeriksaan apus hidung
penderitanya, ditemukan eosinofil sebanyak 10-20%. Gejalanya
berupa hidung tersumbat, bersin, hidung meler, hidung terasa
gatal dan penurunan fungsi indera penciuman (hiposmia).
3) Rinitis Okupasional
Page 6 of 23

Gejala-gejala rinitis hanya timbul di tempat penderita
bekerja. Gejala-gejala rinitis biasanya terjadi akibat menghirup
bahan-bahan iritan (misalnya debu kayu, bahan kimia). Penderita
juga sering mengalami asma karena pekerjaan.
4) Rinitis Hormonal
Beberapa penderita mengalami gejala rinitis pada saat terjadi
gangguan keseimbangan hormon (misalnya selama kehamilan,
hipotiroid, pubertas, pemakaian pil KB). Estrogen diduga
menyebabkan peningkatan kadar asam hialuronat di selaput hidung.
Gejala rinitis pada kehamilan biasanya mulai timbul pada bulan
kedua, terus berlangsung selama kehamilan dan akan menghilang
pada saat persalinan tiba. Gejala utamanya adalah hidung tersumbat
dan hidung berair.
5) Rinitis Karena Obat-obatan (rinitis medikamentosa)
Obat-obatan yang berhubungan dengan terjadinya rinitis
adalah dekongestan topikal, ACE inhibitor, reserpin, guanetidin,
fentolamin, metildopa, beta-bloker, klorpromazin,gabapentin,
penisilamin, aspirin, NSAID, kokain, estrogen eksogen, pil KB.
6) Rinitis Gustatorius
Rinitis gustatorius terjadi setelah mengkonsumsi makanan
tertentu, terutama makanan yang panas dan pedas.
7) Rinitis Vasomotor
Rinitis vasomotor diyakini merupakan akibat dari
terganggunya keseimbangan sistem parasimpatis dan simpatis.
Parasimpatis menjadi lebih dominan sehingga terjadi pelebaran
dan pembengkakan pembuluh darah di hidung. Gejala yang
timbul berupa hidung tersumbat, bersin-bersin dan hidung berair.
Gangguan vasomotor hidung adalah terdapatnya gangguan
fisiologik lapisan mukosa hidung yang disebabkan oleh
bertambahnya aktivitas parasimpatis. Rinitis vasomotor adalah
gangguan pada mukosa hidung yang ditandai dengan adanya
edema yang persisten dan hipersekresi kelenjar pada mukosa
hidung apabila terpapar oleh iritan spesifik. Etiologi yang pasti
belum diketahui, tetapi diduga sebagai akibat gangguan
Page 7 of 23

keseimbangan fungsi vasomotor dimana sistem saraf parasimpatis
relatif lebih dominan. Keseimbangan vasomotor ini dipengaruhi
oleh berbagai faktor yang berlangsung temporer, seperti emosi,
posisi tubuh, kelembaban udara, perubahan suhu luar, latihan jasmani
dan sebagainya, yang pada keadaan normal faktor-faktor tadi tidak
dirasakan sebagai gangguan oleh individu tersebut. Merupakan
respon non spesifik terhadap perubahan perubahan lingkungannya,
berbeda dengan rinitis alergi yang mana merupakan respon
terhadap protein spesifik pada zat allergennya. Faktor pemicunya
antara lain alkohol, perubahan temperatur / kelembapan, makanan
yang panas dan pedas, bau bauan yang menyengat ( strong odor ),
asap rokok atau polusi udara lainnya, faktor faktor psikis seperti :
stress, ansietas, penyakit penyakit endokrin, obat-obatan seperti
anti hipertensi, kontrasepsi oral.

3. Berdasarkan waktunya, Rhinitis Alergi dapat di golongkan menjadi:
a. Rinitis alergi musiman (Hay Fever)
Biasanya terjadi pada musim semi. Umumnya disebabkan kontak
dengan allergen dari luar rumah, seperti benang sari dari tumbuhan
yang menggunakan angin untuk penyerbukannya, debu dan polusi
udara atau asap.
b. Rinitis alergi yang terjadi terus menerus (perennial)
Disebabkan bukan karena musim tertentu ( serangan yang terjadi
sepanjang masa (tahunan)) diakibatkan karena kontak dengan allergen
yang sering berada di rumah misalnya kutu debu rumah, bulu
binatang peliharaan serta bau-bauan yang menyengat

C. Etiologi Rhinitis Alergik
Rinitis alergi dan atopi secara umum disebabkan oleh interaksi dari pasien
yang secara genetik memiliki potensi alergi dengan lingkungan. Genetik
secara jelas memiliki peran penting. Pada 20 30 % semua populasi dan pada
10 15 % anak semuanya atopi. Apabila kedua orang tua atopi, maka risiko
atopi menjadi 4 kali lebih besar atau mencapai 50 %. Peran lingkungan dalam
Page 8 of 23

dalam rinitis alergi yaitu alergen, yang terdapat di seluruh lingkungan, terpapar
dan merangsang respon imun yang secara genetik telah memiliki
kecenderungan alergi.
Adapun alergen yang biasa dijumpai berupa alergen inhalan yang masuk
bersama udara pernapasan yaitu debu rumah, tungau, kotoran serangga, kutu
binatang, jamur, serbuk sari, dan lain-lain.
Rhinitis alergi adalah penyakit peradangan yang diawali oleh dua tahap
sensitisasi yang diikuti oleh reaksi alergi. Reaksi alergi terdiri dari dua fase
yaitu :
I mmediate Phase Allergic Reaction, Berlangsung sejak kontak dengan
allergen hingga 1 jam setelahnya Late Phase Allergic Reaction, Reaksi yang
berlangsung pada dua hingga empat jam dengan puncak 6-8 jam setelah
pemaparan dan dapat berlangsung hingga 24 jam.

1. Berdasarkan cara masuknya allergen dibagi atas :
a. Alergen Inhalan, yang masuk bersama dengan udara pernafasan,
misalnya debu rumah, tungau, serpihan epitel dari bulu binatang serta
jamur
b. Alergen Ingestan, yang masuk ke saluran cerna, berupa makanan,
misalnya susu, telur, coklat, ikan dan udang
c. Alergen Injektan, yang masuk melalui suntikan atau tusukan, misalnya
penisilin atau sengatan lebah
d. Alergen Kontaktan, yang masuk melalui kontak dengan kulit atau
jaringan mukosa, misalnya bahan kosmetik atau perhiasan

D. Patofisiologi
Sensitisasi dimulai dengan konsumsi atau inhalasi antigen. Pada
pemajanan ulang, mukosa nasal bereaksi dengan perlambatan kerja silia,
pembentukan edema dan infiltrasi leukosit terutama eosinofil. Histamin
merupakan mediator utama reaksi alergi pada mukosa nasal. Edema jaringan
terjadi akibat vasodilatasi dan peningkatan permeabilitas kapiler.
Tepung sari yang dihirup, spora jamur, dan antigen hewan di endapkan
pada mukosa hidung. Alergen yang larut dalam air berdifusi ke dalam epitel,
dan pada individu individu yang kecenderungan atopik secara genetik,
Page 9 of 23

memulai produksi imunoglobulin lokal (Ig ) E. Pelepasan mediator sel mast
yang baru, dan selanjutnya, penarikan neutrofil, eosinofil, basofil, serta
limfosit bertanggung jawab atas terjadinya reaksi awal dan reaksi fase lambat
terhadap alergen hirupan. Reaksi ini menghasilkan mukus, edema, radang,
gatal, dan vasodilatasi. Peradangan yang lambat dapat turut serta
menyebabkan hiperresponsivitas hidung terhadap rangsangan nonspesifik
suatu pengaruh persiapan. (Behrman, 2000).
Histamin merupakan mediator penting pada gejala alergi di hidung.
Histamine bekerja langsung pada reseptor histamine selular, dan secara tidak
langsung melalui refleks yang berperan pada bersin dan hipersekresi. Melalui
saraf otonom, histamin menimbulkan gejala bersin dan gatal, serta vasodilatasi
dan peningkatan permeabilitas kapiler yang menimbulkan gejala beringus
encer dan edema local reaksi ini timbul segera setelah beberapa menit pasca
pajanan allergen.
Kurang lebih 50% Rhinitis alergik merupakan manifestasi reaksi
hipersensitifitas tipe I fase lambat, gejala Gejala rhinitis alergik fase lambat
seperti hidung tersumbat, kurangnya penciuman, dan hiperreaktivitas lebih
diperankan ooleh eosinofil.

NURSI NG PATHWAY
Alergen (tepung sari, spora, jamur) Antigen Hewan

Masuk ke hidung Menempel di mukosa hidung

Alergen berdifusi

Masuk ke epitel

Mulai memproduksi IgE lokal

Pelepasan mediator sel mast
Page 10 of 23

Histamin
Penarikan eosinofil, neutrofil, basofil dan limfosit

Reseptor histamin seluler Reaksi awal dan lambat thd alergen inhalan

vasodilatasi

Hipersekresi
mukus edema lokal bersin2 & gatal2 inflamasi

suhu tubuh





kelemahan



E. Manifestasi Klinis
Gambaran klinis rhinitis alergik yang khas mencakup kongesti nasal,
sekret hidung yang jernih serta encer, bersin-bersin, dan rasa gatal pada
hidung. Seringg terdapat rasa gatal pada tenggorokan dan palatum mole.
Drainase mukus ke dalam faring akan merangsang upaya yang berkali-kali
untuk membersihkan tenggorok dna menimbulkan batuk atau suara yang
parau. Sakit kepala, nyeri didaerah sinus paranasal dan epistaksis dapat
menyertai rhinitis alergik. Keadaan ini merupakan rhinitis kronik dan
gejalanya bergantung pada pajanan lingkungan serta daya responsif intrinsik
hospes. Gejala lainnya berupa:
Ggn
bersihan
jlan napas
Ggn
pertukaran
gas
Pola napas
tdk efektif
Ggn pola
istirahat
Intoleransi
aktivitas
Nyeri
Hipertermi
Cemas
Page 11 of 23

1. Bersin berulang-ulang, terutama setelah bangun tidur pada pagi hari
(umumnya bersin lebih dari 6 kali).
2. Hidung tersumbat.
3. Hidung meler. Cairan yang keluar dari hidung meler yang disebabkan
alergi biasanya bening dan encer, tetapi dapat menjadi kental dan
putih keruh atau kekuning-kuningan jika berkembang menjadi infeksi
hidung atau infeksi sinus.
4. Hidung gatal dan juga sering disertai gatal pada mata, telinga dan
tenggorok.
5. Badan menjadi lemah dan tak bersemangat.

F. Pemeriksaan Penunjang
Pada banyak kasus rhinitis alergi musiman diperlukan diagnosis dini yang
dibuat berdasarkan riwayat penyakit dan hasil pemeriksaan jasmani.
Pemeriksaan diagnostik yang dapat dilakukan mencakup :
1. Sediaan apus nasal
2. Hitung darah perifer
3. Total serung IgE
4. Tes Epikutan
5. Tes Intradermal
6. RAST
7. Pemerikaan eliminasi s
8. Tes provokasi makanan
9. Tes provokasi nasal

G. Penatalaksaan Medis / Farmakologi
Tujuan terapi adalah untuk meringankan gejala. Terapi dapat dilakukan
dengan dua cara yaitu terapi penghindaran dan terapi farmakologi.
1. Terapi Penghindaran
Dalam terapi penghindaran, setiap upaya harus dilakukan untuk
menghilangkan alergen yang bekerja sebagai faktor pemicu. Tindakan
sederhana dan kontrol lingkungan sering efektif untuk mengurangi
gejala. Contoh-contoh tindakan ini adalah penggunaan alat pengendali
Page 12 of 23

suhu ruangan atau Air Conditioner (AC), pembersih udara,
pelembab/penghilang kelembaban dan lingkungan yang bebas asap.
2. Terapi farmakologi
a. Antihistamin
Antihistamin kini diklasifikasikan sebagai antagonis resptor-H
1

atau bloker-H
1
yang digunakan dalam penanganan gangguan alergik
yang ringan. Preparat bloker-H
1
secara selektif mengikat reseptor H
1

sehingga mencegah kerja histamin pada tempat-tempat ini. Preparat ini
tidak mencegah pelepasan histamin dari sel mast atau basofil.
Antihistamin merupakan kelompok utama obat yang diprogramkan
untuk mengatasi gejala rhinitis alergik. Efek samping yang utama dari
kelompok obat ini adalah sedasi. Efek samping tambahan mencakup
keadaan gelisah, tremor, vertigo, mulut kering, palpitasi, anoreksia,
mual dan vomitus.
Preparat AntiHistamin yang lebih baru dinamakan Antagonis
reseptor-H
1
yang nonsedatif atau generasi kedua. Berbeda dengan
antagonis reseptor-H
1
generasi pertama, preparat generasi kedua ini
tidak melewati sawar darah-otak dan tidak berikatan dengan reseptor
kolinergik, serotonin atau alfa-adrenergik. Preparat generasi kedua
lebih terikat dengan reseptor-H
1
peripfer daripada reseptor-H
1
sistem
saraf pusat sehingga tidak begitu menimbulkan rasa mengantuk.
b. Preparat Adrenergik
Preparat adrenergik merupakan vasokonstriktor pembuluh darah
mukosa dan dapat diberikan secara topikal disamping pemberian oral.
Pemberian topikal menyebapkan efek samping yang lebid sedikit
dibandingkan pemberian peroral. Meskipun demikian, penggunaan
secara topikal dibatasi selama beberapa hari saja untuk mencegah
rebound congestion. Preparat dekongestan nasal adrenegik digunakan
untuk meringankan kongesti nasal jika diberikan secara topikal pada
mukosa hidung. Preparat ini mengaktifkan tempat-tempat reseptor alfa-
adrenergik pada otot polos pembuluh darah mukosa hidung, sehingga
mengurangi aliran darah setempat, eksudasi cairan dan edema mukosa.
c. Kortikosteroid
Page 13 of 23

Preparat kortikosteroid nasal merupakan indikasi bagi kasus-kasus
alergi yang lebih berat dari kasus-kasus rhinitis persisten yang tidak
dapat dikendalikan dengan obat-obatan konvensioanal seperti
dekongestan, antihistamin dan kromolin intranasal. Saat ini telah
tersedia 4 macam preparat diantaranya : Beklometason,
Deksametason, Flunisolid, Triamsinolon. Karena kerja anti-
inflamasinya, keempat preparat tersebut sama efektifnya dalam
mencegah atau mensupresi seluruh gejala utama rhinitis alergik.
Biasanya preparat diberikan lewat alat penyemprot berukuran. Jika
saluran hidung tersumbat, preparat dekongestan topikal dapat
diteteskan terlebih dahulu untuk melapangkan jalan napas sebelum
pemberian kortikosteroid. Efek merugikan penggunaan kortikosteroid
intranasal adalah ringan dan mencakup pengeringan mukosa nasal serta
perasaan terbakar dan gatal.
3. Imunoterapi
Imuniterapi merupakan indikasi hanya jika hipersensitivitas IgE
(hipersensitivitas tipe I) terlihat pada alergen inhalan yang spesifik
yang tidak dapat dihindari oleh pasien. Tujuan imunoterapi mencakup
penurunan kadar IgE dalam darah, peningkatan tingkat penghambatan
IgG dan pengurangan sensitivitas sel mediator.

H. Komplikasi
Komplikasi yang sering terjadi pada pasien rhinitis alergik yaitu Anafilaksis
dan kesulitan bernapas. Fungsi resporatorius dan kardiovaskuler dapat mengalami
gangguan yang serius saat terjadi reaksi alergik, gangguan dapat disebapkan oleh
reaksi itu sendiri atau oleh obat-obatan yang digunakan untuk mengatasinya.
Selain itu komplikasi juga dapat terjadi akibat reaksi merugikan dari
penggunaan obat-obatan rhinitis alergik, seperti penggunaan astemizol dan
terfenadin yang berlebihan dapat menyebapkan kematian karena aritmia atau henti
jantung.




Page 14 of 23

I. KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN RHINITIS ALEGRIK
1. Pengkajian
Pemeriksaan dan anamnesa riwayat pasien mengungkapkan gejala bersin-
bersin yang kerap kali bersifat serangan mendadak dengan ingus yang encer
serta berair, mata dan hidung yang terasa gatal, lakrimasi, dan kadang-kadang
sakit kepala. Riwayat keperawatan mencakup riwayat alergik pada diri pasien
atau anggota keluarganya. Pemeriksaan alergi akan menemukan sifat antigen,
perubahan gejala menurut musim dan penggunaan obat. Perawat juga harus
mengumpulkan data subjektif mengenai apa yang dirasakan pasien sesaat
sebelum gejalanya muncul dengan jelas, seperti peristiwa pruritus, masalah
pernapasan serta rasa kesemutan. Disamping semua gejala tersebut, keluhan
suara parau, mengi, biduran, ruam, eritema, atau edema harus diperhatikan.
Setiap hubungan antara masalah emosional atau stress dan terpicunya gejala
alergik juga harus dikaji.
Adapun pengkajiannya seperti dibawah ini :
1. Data demografi seperti identitas pasien, usia, jenis kelamin, agama,
pekerjaan, alamat, dll.
2. Riwayat kesehatan
a. Riwayat keluhan utama
b. Riwayat penyakit dahulu : apakah pernah terkena penyakit THT
ataupun alergi yang lain
c. Riwayat penyakit keluarga : adakah anggota keluarga yang lain
yang pernah mengalami penyakit yang sama
3. Pemeriksaan fisik : keadaan umum pasien, Tanda-tanda Vital,
berat badan, tinggi badan.
4. Pemeriksaan persistem
a. Breathing
Terjadi penumpukan sekret, bersin-bersin, ingus yang encer dan
berair, hidung gatal, kesulitan bernapas, nyeri pada sinus nasalis,
napas dangkal, suara parau, mengi.
b. Blood
Sakit kepala, kesemutan, edema, ruam, Hipertermi
c. Brain
Page 15 of 23

Kesadaran dapat berupa composmentis ataupun somnolens, mata
gatal, lakrimasi, penurunan fungsi penciuman, nyeri kepala
d. Bladder
Biasanya BAK ataaun BAB normal
e. Bowel
Bibir kering, tidak nafsu makan, penurunan berat badan.
f. Bone, otot dan Integumen
Terjadi kelemahan, kulit disekitar hidung kemerahan, akral panas
akibat peningkatkan suhu tubuh
5. Pola istirahat : makan, minum, kebersihan diri, istirahat dan aktivitas
6. Pola psikososial : rasa percaya diri menurun, cemas terhadap
penyakitnya

2. Diagnosa keperawatan yang mungkin muncul
a. Gangguan bersihan jalan napas berhubungan dengan hipersekresi mukus
b. Gangguan pertukaran gas berhubungan dengan obstruski jalan napas oleh
sekret
c. Pola napas tidak efektif berhubungan dengan ketidakefektifan pertukaran
gas, kurangnya suplai oksigen
d. Gangguan pola istirahat/tidur berhubungan dengan penyumbatan pada
hidung
e. Intoleransi aktivitas berhubungan dengan kelemahan fisik
f. Nyeri berhubungan dengan edema, berkurangnya suplai oksigen, dan
reaksi inflamasi
g. Hipertermi berhubungan dengan peningkatan suhu tubuh oleh radang.
h. Cemas berhubungan dengan kelemahan fisik, dan ketidaktahuan terhadap
penyakitnya.

3. Rencana Asuhan Keperawatan
Rencana asuhan keperawatan dibuat berdasarkan diagnosa yang mucul dari
nursing pathway. Selain itu tindakan perawatan yang diberikan disesuaikan
dengan kondisi pasien saat sakit.

Page 16 of 23

1. Gangguan bersihan jalan napas berhubungan dengan hipersekresi mukus
Tujuan : setelah dilakukan tindakan selama ...x24 jam diharapkan saluran pernapasan
pasien kebali bersih, pasien dapat mengelurakan sekret, suara napas dan keadaan kulit
menjadi normal.
Kriteria hasil :
1) Bunyi napas normal
2) RR normal (20-24 kali/menit
No Rencana tindakan Rasional
1
Monitor jumlah, bunyi napas,
AGD
Indikasi dasar kepatenan/gangguan saluran
pernapasan
2 Sediakan alat suction bila perlu Membantu mengeluarkan sekret
3 Observasi tanda-tanda vital Mengetahui tingkat keparahan penyakit
4
Kaji penumpukan sekret yang ada,
dan ajarkan nasal hygine
Mngetahui tingkat penumpukan untuk
menentukan tidakan selanjutnya
5 Kaji posisi pasien yang nyaman Mempermudah fungsi pernapasan
6
Pertahankan polusi lingkungan
minimum
Mengurangi alergen yang dapat
memperparah penyakit

2. Kerusakan pertukaran gas berhubungan dengan obstruksi jalan napas
oleh sekret
Tujuan : dalam waktu 2 x 24 jam setelah diberikan gangguan pertukaran gas tidak
terjadi
Kriteria evaluasi :
- Melaporkan tak adanya atau penurunan dispnue
- Klien menunjukan tidak ada gejala distress pernafasan
- Menunjukan perbaikan ventilasi dan oksigen jarimgan adekuat dengan gas
darah arteri dalam rentang normal.
Rencana intervensi Rasional
Mandiri
Kaji dispnue,takipnue, bunyi
nafas ,peningkatan upaya
pernfasan ,ekspansi torak dan kelemahan
Penumpukan sekret mengakibatkan
berkurangnya oksigen yang dapat
diinspirasi paru-paru
Page 17 of 23

Evaluasi perubahan tingkat kesadaran catat
sianosis dan perubahan warna kulit termasuk
membran mukosa dan kuku
Mengetahui keadaan awal untuk
dilakukan intervensi selanjutnya
Ajarkan dana dukung pernafasan bibir
selama ekspirasi khususnya untuk klien
dengan fibrosis dan kerusakan parenkim
paru.
Membuat tahanan melawan udara luar
untuk mencegah kolap atau
penyempiatan jalan nafas sehingga
membantu menyebarkan udara melalui
paru da mengurangi nafas pendek
Tingkatkan tirah baring batasi aktivitas dan
bantu kebutuhan perawatan diri sehari- hari
sesuai keadaan klien
Menurunkan konsumsi okseigen
selama periode penurunan pernafasan
dan dapat menurunkan beratnya gejala.
Kolaborasi pemeriksaan AGD Penurunan kadar oksigen (pO
2
) dan
atau saturasi peningkatan pCO
2
menunjukan kebutuhan untuk
intervensi atau perubahan program
terapi
Pemberian oksigen sesuai kebutuhan
tambahan
Terapi oksigen dapat mengoreksi
hipoksemia yang terjadi akibat
penurunan ventilasi atau menurunnya
permukaan alveolar paru

3. Gangguan pola napas berhubungan dengan ketidakefektifan pertukaran
gas, kurangnya suplai oksigen
Tujuan : setelah dilakukan tindakan perawatan selama ...x24 jam diharapkan pola
napas pasien kembali normal
Kriteria hasil :
1) Pasien merasa lebih nyaman dalam bernapas
2) Data objektif menunjukkan pola pernapasan yang efektif
3) Pasien dapat mendemonstrasikan pola napas yang efektif
No Rencana tindakan Rasional
1
Monitor jumlah pernapasan,
penggunaan otot bantu
pernapasan, batuk, bunyi paru,
tanda vital, warna kulit dan AGD
Mengetahui status pernapasan untuk
tidakan perawatan selanjutnya
2 Berikan oksigen sesuai program Mempertahankan oksigen arteri
3 Laksanakan program pengobatan Meningkatkan pernapasan
4 Atur posisi pasien senyaman Meningkatkan ekspansi paru
Page 18 of 23

mungkin
5
Bantu dalam terapi inhalasi dan
penyediaan alat-alat emergensi
Membantu mengeluarkan sekret dan
mengantisipasi kejadian akut
6
Berikan pendidikan kesehata
seperti : perubahan gaya hidup,
menghindari alergen, teknik
bernapas, dan teknik relaksasi.
Meningkatkan pengetahuan pasien

4. Gangguan pola tidur berhubungan dengan ketidaknormalan status
fisiologis (penyumbatan hidung oleh sekret, nyeri)
Tujuan : setelah dilakukan tindakan keperawatan selama ...x24 jam diharapkan pola
tidur pasien kembali normal
Kriteria hasil :
1. Pasien dapat tidur selama 6-8 jam per hari
2. Secara verbal mengatakan lebih rileks dan lebih segar
NO RENCANA TINDAKAN RASIONAL
1
Kaji masalah gangguan tidur
pasien, karakteristik dan
penyebap kurang tidur
Memberikan informasi dasar dalam
menentukan rencana perawatan
2
Lakukan persiapan untuk tidur
malam sesuai denan pola tidur
pasien
Membantu mengatur pola tidur
3
Atur keadaan tempat tidur yang
nyaman , bersih dan bantal yang
nyaman
Meningkatkan kenyamanan tidur
4
Bunyi telepon dan alarm
dikecilkan
Mengurangi gangguan tidur
5
Lakukan masase pada daerah
belakang, tutup jendela/pintu jika
perlu
Mengurangi gangguan tidur
6
Ajarkan pendidikan kesehatan
mengenai : jadwal tidur,
mengurangi cemas, stress dan
latihan relaksasi
Meningkatkan pola tidur
7
Atasi penyebap gangguan tidur
pasien
Meningkatkan pola tidur

5. Intoleransi aktivitas berhubungan dengan kelemahan fisik, kurang tidur,
kesulitan bernafas
Tujuan : setelah dilakukan tindakan keperawatan selama ...x24 jam, diharapkan
pasien dapat melakukan aktivitas sesuai kemampuannya.
Kriteria hasil :
1. Kelemahan pasien tampak berkurang
2. Pasien dapat berpartisipasi dalam perawatan diri
3. Pasien tampak mampu mempertahankan aktivitas seoptimal mungkin
No Rencana tindakan Rasional
1
Monitor keterbatasan aktivitas
dan kelemahan saat beraktivitas
Data awal dan merencanakan intervensi
selanjutnya
Page 19 of 23

2
Bantu pasien dalam melakukan
aktivitas sendiri
Pasien dapat memilih aktivitas dan
melakukannya sendiri
3
Catat tanda-tanda vital sebelum
dan setelah aktivitas
Mengkaji sejauh mana perbedaan
peningkatan selama aktivitas
4
Lakukan istirahat yang adekuat
setelah aktivitas dan latihan
Membantu mengembalikan energi
5
Kolaborasi dengan ahli
fisioterapi dan dokter dalam
latihan aktivitas
Meningkatkan kerja sama tim dan
perawatan holistik
6
Berikan pendidikan kesehatan
mengenai : perubahan gaya
hidup untuk menyimpan energi,
penggunaan alat bantu
pergerakan
Meningkatkan pengetahuan dalam
perawatan diri

6. Nyeri berhubungan dengan edema, penurunan suplai okesigen dan reaksi
inflamasi
Tujuan : setelah dilakukan tindakan perawatan selama ...x24 jam diharapka nyeri
pasien berkurang sampai hilang
Kiteria hasil :
1. Klien mengungkapakan nyeri yang dirasakan berkurang atau hilang
2. Klien tidak menyeringai kesakitan
No Rencana tindakan Rasional
1
Kaji tingkat nyeri klien Mengetahui tingkat nyeri klien dalam
menentukan tindakan selanjutnya
2
Jelaskan sebab dan akibat nyeri
pada klien serta keluarganya
Dengan sebab dan akibat nyeri diharapkan
klien berpartisipasi dalam perawatan
untuk mengurangi nyeri
3
Ajarkan tehnik relaksasi dan
distraksi
Klien mengetahui tehnik distraksi dn
relaksasi sehinggga dapat
mempraktekkannya bila mengalami nyeri
4
Observasi tanda tanda vital dan
keluhan klien
Mengetahui keadaan umum dan
perkembangan kondisi klien.
5
Kolaborasi dngan tim medis
1) Terapi konservatif :
Menghilangkan /mengurangi keluhan
nyeri klien
Page 20 of 23

- obat
Acetaminopen;
Aspirin,
dekongestan
hidung
- Drainase sinus

7. Hipertermi berhubungan dengan peningkatan suhu tubuh oleh radang
Tujuan : setelah dilakukan tindakan selama ...x24 jam diharapkan suhu tubuh pasien
kembali normal
Kriteria hasil :
1. Suhu tubuh pasien 36-37
o
C
2. Pasien tampak relaks
No Rencana tindakan Rasional
1
Kaji penyebap hipertermi, dan
kondisi tanda-tanda vital
Data awal dalam menentukan tindakan
yang tepat
2
Observasi suhu tiap 4 jam Mengetahui perkembangan status
kesehatan pasien
3
Jelaskan pada pasien dan
keluarga mengenai pentingnya
mempertahankan masukan
cairan yang adekuat untuk
mencegah dehidrasi
Meningkatkan kerja sama perawata
dengan keluarga dan pasien
4
Ajarkan dan lakukan upaya
mengatasi hipertemi, seperti :
1. Mempertahankan asupan
cairan 2-3 liter/hari
2. Kompres (hangat)
3. Sirkulasi yang cukup
4. Pakaian yang longgar
dan kering
5. Pembatasan aktivitas
yang berlebihan
Meningkatkan pengetahuan pasien dan
keluarga
5
Kolaborasi dengan dokter untuk
pemberian antipiretik dan
pemeriksaan
Meningkatkan kerja sama tim dan
perawatan holistik

8. Cemas berhubungan dengan ketidaktahuan terhadao penyakitnya
Tujuan : setelah dilakukan perawatan selama ...x24 jam, diharapkan pasien dapat
menjadi lebih relaks
Kriteria hasil :
1) Pasien secara subjektif menyatakan merasa lebih tenang
Page 21 of 23

2) Pasien tampak relaks dan dapat berkomunikasi secara kooperatif
3) Pasien menampakkan pola koping yang efektif
No Rencana tindakan Rasional
1
Kaji tingkat dan penyebap kecemasan Mengetahui kondisi awal
pasien
2
Beri fasilitas informasi yang cukup mengenai
perawatan dan pengobatan yang dilakukan
Memfasilitasi pasien dan
keluarga dalam mencari
tahu mengenai
penyakitnya
3
Beri dorongan untuk mengekspresikan
perasaannya
Meningkatkan perasaan
nyaman pasien
4
Ajarkan teknik relaksasi : menghentikan pikiran
sejenak, melakukan kegiatan positif
Meningkatkan
kenyamanan dan pikiran
positif pasien
5
Perlihatkan rasa empati : bicara pelan, tenang,
menyentuh, dll
Meningkatkan hubungan
saling percaya
6
Singkirkan stimulasi yang berlebihan seperti
menjaga ketenangan lingkungan, batasi kontak
dengan orang/keluarga lain yang juga cemas
Mencegah terjadinya
cemas yang
berlebihan/kronik



Page 22 of 23

BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Rhinitis Alergik merupakan bentuk alergi respiratorius yang paling sering
ditemukan dan diperkirakan diperantarai oleh reaksi imunologi cepat
(hipersensitivitas tipe I).
Rinitis alergi adalah peradangan pada membran mukosa hidung, reaksi
peradangan yang diperantarai IgE, ditandai dengan obstruksi hidung, sekret
hidung cair, bersin-bersin, dan gatal pada hidung dan mata. Rinitis alergi
mewakili permasalahan kesehatan dunia mengenai sekitar 10 25% populasi
dunia, dengan peningkatan prevalensi selama dekade terakhir.
Rinitis alergi merupakan kondisi kronik tersering pada anak dan
diperkirakan mempengaruhi 40% anak-anak. Sebagai konsekuensinya, rinitis
alergi berpengaruh pada kualitas hidup, bersama-sama dengan komorbiditas
beragam dan pertimbangan beban sosial-ekonomi, rinitis alergi dianggap
sebagai gangguan pernafasan utama.
Tingkat keparahan rinitis alergi diklasifikasikan berdasarkan pengaruh
penyakit terhadap kualitas hidup seseorang. Diagnosis rinitis alergi melibatkan
anamnesa dan pemeriksaan klinis yang cermat, lokal dan sistemik khususnya
saluran nafas bawah.
B. Saran
Mengatasi masalah keperawatan yang dihadapi pasien harus sesuai dengan
diagnosa dan kondisi yang dilalami pasien. Sikap perawat yang sopan santun
dan penuh rasa empati akan membantu pasien merasa nyaman sehingga
meningkatkan perasaan dan pikiran positif yang membantu pasien lebih cepat
sembuh.

Page 23 of 23

DAFTAR PUSTAKA

Smeltzer. C Suzanne & Brenda G. Bare. 2001. Buku Ajar Keperawatan Medikal
Bedah Brunner & Suddart Volume 2. Jakarta : EGC
Tarwanto & Wartonah. 2011. Kebutuhan Dasar Manusia dan Proses Keperawatan
Edisi 4. Jakarta : Salemba Medika
dr. Nugroho, Taufan. 2011. Asuhan Keperawatan Maternitas, Anak, Bedah dan
Penyakit Dalam. Yogyakarta : Nuha Medika
Nanda Internasional. 2012. Diagnosis Keperawatan Definisi dan Klasifikasi 2012
2014. Jakarta : EGC