Anda di halaman 1dari 9

LILIANA COMERIORENSI

03111003061
SENIN JAM 8
KELOMPOK 3
SURFAKTAN LAS DAN ABS SERTA PENGARUH SUHU
TERHADAP PEMBUATAN SABUN

Campuran aktif dalam sebagian bahan pembersih disebut bahan aktif permukaan
atau Surfaktan. Zat yang dapat mengaktifkan permukaan, karenacenderung untuk
terkonsentrasi pada permukaan atau antar muka. Molekul surfaktanmempunyai dua
ujung yang terpisah, yaitu ujung polar (hidrofilik) dan ujung non polar(hidrofobik).
Surfaktan menurunkan tegangan permukaan air dengan mematahkan ikatan-
ikatan hidrogen pada permukaan. Hal ini dilakukan dengan menaruh kepala-
kepalahidrofiliknya pada permukaan air dengan ekor-ekor hidrofobiknya terentang
menjauhipermukaan air.Sumber bahan mentah surfaktan dapat berasal dari surfaktan
oleokimia maupunsurfaktan petrokimia. Secara umum, kebanyakan rantai hidrokarbon
dalam sebagian besarsurfaktan dan lain-lain surfaktan istimewa dihasilkan dari bahan
mentah berikut: Lemak dan minyak biasa Petroleum Etilena Propilena.
Surfaktan dapat digolongkan menjadi duagolongan besar berdasarkan
kelarutannya, yaitu surfaktan yang larut dalam minyak dansurfaktan yang larut dalam
air. Surfaktan juga diklasifikasikan lagi dalam beberapa bagian, yaitu: surfaktan
anionik, surfaktan kationik, surfaktan non-ionik, dan surfaktan amfoterik.
Pada tugas khusus ini akan dijabarkan mengenai Surfaktan Anionik yaitu
Surfaktan LAS, Surfaktan ABS, Perbandingan dari penggunaan Surfaktan LAS dan
ABS serta Pengaruh Suhu terhadap pembuatan Sabun.

1. Surfaktan LAS (Linear Alkyl Benzene Sulfonate)
Alkylbenzene merupakan bahan baku dasar untuk membuat Linear Alkylbenzene
sulfonate. Linear alkylbenzene sulfonate disebut juga dengan nama acid slurry. Acid
slurry merupakan bahan baku kunci dalam pembuatan serbuk deterjen sintetik dan
deterjen cair. LAS adalah garam sulfanik acid yang memiliki banyak isomer (sekitar 26)
dengan struktur C
6
H
4
SO
3
-
Na
+
dan merupakan surfaktan anionik. Alkylbenzene yang
merupakan bahan baku dasar pembuatan LAS disulponasi menggunakan asam sulfat,
oleum atau SO
3
(g). Linear alkylbenzene sulfonate diperoleh dengan variasi proses yang
berbeda pada bahan yang aktif, bebas asam, warna maupun viskositas. Bahan baku
utama untuk membuat acid slurry adalah dodecyl benzene, linear alkyl benzene. Nama
Kimia Acid Slurry ada dua yaitu D.D.B.S.- Dodecyl Benzene Sulphonate dan L.A.B.S -
LILIANA COMERIORENSI
03111003061
SENIN JAM 8
KELOMPOK 3
Linear Alkyl Benzene Sulphonate. Di bawah ini adalah sifat-sifat dari LAS dan sifat
kimia dari LAS. Dimana dari sifat-sifat di bawah ini dapat dijadikan suatu referensi
dalam proses pembuatan sabun, sehingga sabun yang dihasilkan dapat sesuai dengan
yang diinginkan.

Gambar 1.1 Struktur Molekul LAS
(Sumber: Rosen, 1978)
Berikut adalah Sifat atau karekteristik dari senyawa LAS (Rosen, 1978) antara lain:
1) Letak cincin benzennya acak sepanjang rantai karbon
2) Biasanya berbentuk garam Na atau Ca
3) Panjang rantai alkilnya 12
4) Murah dan banyak digunakan
5) Terionisasi sempurna sehingga larut dalam air, kehadiran sulfonik acid
6) Resisten terhadap pengolahan anaerob
7) Dapat terbiodegradasi pada kondisi aerob
LAS merupakan salah satu jenis surfaktan anionik, dan seperti sabun, berfungsi
untuk menghilangkan kotoran berminyak dan berlemak yang terdapat pada pakaian,
piring, dan material lain. Surfaktan memiliki sifat menurunkan tegangan permukaan air
sehingga pakaian menjadi basah. Selain itu juga untuk menjaga kotoran yang telah
terangkat teteap berada dalam keadaan suspensi selama proses pencucuian sehingga
terbaung bersama busa. LAS merupakan surfaktan yang paling banyak digunakan saat
ini karena lebih efisien (rasio biaya-daya-guna) dan serbaguna, serta merupakan jenis
yang paling aman dibandingkan jenis surfakatan lain karena laju biodegradabilitasnya
tinggi.
LAS merupakan surfaktan suatu bahan deterjen yang paling banyak dikonsumsi,
mencapai 2,8x 10
6
ton/thn pada tahun 1995. Pada LAS biasanya terdapat senyawa
sulfonat aromatik yang produksinya mencapai 1,8 x 106 ton/thn pada tahun 1987. LAS
adalah senyawa biodegradble yang biasanya terkandung pada air buangan sekitar 1 20
LILIANA COMERIORENSI
03111003061
SENIN JAM 8
KELOMPOK 3
mg/l. Senyawa LAS yang umum digunakan dalam deterjen yaitu Natrium cilbenzene
Sulfonate (C
18
H
29
O
5
S
-
Na
+
) dengan spesifikasi sebagai berikut: Penampakan berupa
cairan kental berwarna coklat tua, Warna (20 % gardner aktif) max`1 %, Warna (10 %
kleff aktif) max 60 %, Kelembaban maksimum 1 %, H
2
SO
4
bebas max 2,0 %, Umur
aktif min 96 %, dan Nilai keasaman (mg KOH/gr) dengan nilai 178 sampai 188.
LAS dengan konsentrasi kurang lebih 0,02-1,0 mg/L pada lingkungan akuatik
dilaporkan dapat merusak insang ikan, menyebabkan seksresi lendir yang berlebihan
serta mengganggu pola renang pada larva kepah biru dan pada konsentrasi 40-60 mg/kg
berat kering pada lumpur dapat mengganggu reproduksi dan pertumbuhan dari
invertebrata tanah dan cacing tanah. Berbagai penelitian dalam ekotoksikologi juga
membuktikan bahwa LAS dapat memberikan efek akut maupun kronis pada organisme
akuatik. Sedangkan efek LAS terhadap kesehatan antara lain adalah LAS dapat
memebrikan efek iritasi ringan apabila terpapar LAS selama 24 jam dengan konsentrasi
sebesar 1%. Iritasi ringan yang dimaksud adalah delipidasi (penghilangan lemak) pada
permukaan kulit, denaturasi protein pada lapisan epidermis luar, dan peningkatan
lapisan luar kulit. Dilaporkan tidak ada luka atau kematian yang terjadi setelah
penelanan surfaktan secara tidak sengaja oleh manusia.
1.1 Sifat sifat Linear Alkylbenzene Sulfonate
Tabel 1.1 Sifat-sifat LAS
Rumus Molekul C
12
H
25
C
6
H
4
SO
3
Na

Berat Molekul

348 gr/mol
Titik Didih

637
O
C
Titik Leleh

277
O
C
Densitas

1198,4 kg/m3
Wujud

Cair
Kapasitas Panas 0,6 Kcal/kg.K
LILIANA COMERIORENSI
03111003061
SENIN JAM 8
KELOMPOK 3

Warna

Bening
Viskositas

23,87 Cp

1.2 Sifat Kimia Linear AlkylBenzene Sulfonate yaitu sangat larut dalam air dan
bersifat sebagai surfaktan, berbusa.
2. Surfaktan ABS (Alkylbenzene Sulfonat)
Alkylbenzene Sulfonat merupakan surfaktan yang banyak digunakan dalam
industri. Surfaktan ini berupa cairan kental berwarna coklat dan mudah larut dalam
air. ABS ini digunakan untuk memproduksi deterjen rumah tangga termasuk bubuk
cuci, cairan laundry, cairan cuci piring dan pembersih rumah tangga lainnya serta
dalam berbagai aplikasi industri.
3. Perbandingan surfaktan LAS dan BAS
Detergen pertama yang dihasilkan yaitu natrium lauril sulfat (NSL) yang berasal
dari lemak trilausil yang kemudian direduksi dengan hidrogen dibantu dengan katalis.
Setelah itu, direaksikan dengan asam sulfat lalu dinetralisasi. Karena proses
produksinya yang mahal, maka penggunaan NSL ini tidak dilanjutkan. Industri deterjen
selanjutnya dikembangkan dengan menggunakan alkil benzena sulfonat (ABS).
Akan tetapi, ABS ini memiliki dampak negatif terhadap lingkungan karena
molekul ABS ini tidak dapat dipecahkan oleh mikroorganisme sehingga berbahaya bagi
persediaan suplai air tanah. Selain itu, busa dari ABS ini menutupi permukaan air
sungai sehingga sinar matahari tidak bisa masuk pada dasar sungai yang dapat
menyebabkan biota sungai menjadi mati dan sungai menjadi tercemar serta secara alami
surfaktan ABS ini lebih sukar terurai oleh bakteri pengurai disebabkan adanya rantai
bercabang pada strukturnya oleh karena itu di beberapa negara penggunaan ABS
dilarang dan digantikan oleh surfaktan yang dapat dibiodegradasi. Namun terdapat
beberapa alasan masih digunakannya surfaktan ABS, diantaranya: harganya yang
murah, kestabilannya dalam bentuk krim atau pasta dan menghasilkan busa yang
melimpah.
Perkembangan selanjutnya ABS diganti dengan linear alkil sulfonat (LAS).
Detergen ini memiliki rantai karbon yang panjang dan dapat dipecahkan oleh
LILIANA COMERIORENSI
03111003061
SENIN JAM 8
KELOMPOK 3
mikroorganisme sehingga tidak menimbulkan busa pada air sungai. Akan tetapi,
menurut Iqbalali (2009) dalam Wibawa (2009) menyatakan senyawa LAS menimbulkan
kerugian yang tidak sedikit terhadap lingkungan dan lingkungan membutuhkan waktu
selama 90 hari untuk mengurai LAS dan hanya 50% dari keseluruhan yang dapat diurai.
Heath (2000) dalam Zahri (2005) menemukan bahwa tingkat toksisitas LAS lebih tinggi
empat kali lipat lebih besar daripada ABS. Namun LAS dapat terdegradasi oleh
mikroorganisme sedangkan ABS sangat sulit untuk diuraikan oleh mikroorganisme
(Larson dan Woltering, 1995, dalam Zahri, 2005). LAS juga memiliki kekurangan yaitu
dapat membentuk fenol, suatu bahan kimia beracun. Deterjen yang beredar di pasaran
atau yang dikonsumsi sebagian masyarakat Indonesia merupakan hasil produksi dalam
negeri, tetapi dengan lisensi dari perusahaan luar negeri. Sebagai contoh detergen dari
produk PT Unilever yang berpusat di Perancis, dan detergen produk Kao.

4. Pengaruh Suhu pada Pembuatan Sabun
Sebelum dijelaskan alasan bagaimanakah pengaruh suhu pada pmbuatan sabun
terlebih dahulu harus diketahui tentang saponifikasi dan tahapan pembuatan sabun itu
sendiri.
Saponifikasi pada dasarnya adalah proses pembuatan sabun yang berlangsung
dengan mereaksikan asam lemak khususnya trigliserida dengan alkali yang
menghasilkan gliserol dan garam karboksilat (sejenis sabun). Sabun merupakan garam
(natrium) yang mempunyai rangkaian karbon yang panjang. Reaksi dibawah ini
merupakan reaksi saponifikasi tripalmitin atau trigliserida.
CH2OC[CH2]14CH3
O
CH2OC[CH2]14CH3
O
CH2OC[CH2]14CH3
O
+ 3 NaOH
CH2OH
CHOH
CH2OH
+ 3CH3[CH2]14CO2Na
Tripalmitin
(minyak dari sawit)
Larutan Basa
(alkali)
Gliserol
Natrium Palmitat
(Sabun)

Gambar 4.1 Reaksi Saponifikasi tripalmitin
(Sumber: Andri, 2010)
LILIANA COMERIORENSI
03111003061
SENIN JAM 8
KELOMPOK 3
Selain dari reaksi diatas sabun juga bisa dihasilkan dari reaksi netralisasi Fatty
Acid (FA), namun disini hanya didapat sabun tanpa adanya Gliserin (Glycerol), karena
saat proses pembuatan Fatty Acid, glycerol sudah dipisahkan tersendiri




Gambar 4.2 Reaksi saponifikasi Asam lemak
(Sumber: Andri, 2010)
Selain dari minyak atau lemak dan NaOH pada pembuatan sabun dipergunakan
bahan-bahan tambahan sebagai berikut:
1) Cairan pengisi seperti tepung tapioka, gapleh dan lain-lain.
2) Zat pewarna
3) Parfum, agar baunya wangi. Zat pemutih, misal natrium sulfat
. Pembuatan Sabun dalam Industri terdiri dari beberapa tahap, yaitu saponifikasi
lemak netral, pengeringan sabun, netralisasi asam lemak dan penyempurnaan sabun.
Keempat tahapan itu akan dijabaran sebagai berikut:
a. Saponifikasi Lemak Netral
Pada proses saponifikasi trigliserida dengan suatu alkali, kedua reaktan tidak
mudah bercampur. Reaksi saponifikasi dapat mengkatalis dengan sendirinya pada
kondisi tertentu dimana pembentukan produk sabun mempengaruhi proses emulsi
kedua reaktan tadi, menyebabkan suatu percepatan pada kecepatan reaksi.
Komponen penting pada sistem ini mencakup pompa berpotongan untuk
memasukkan kuantitas komponen reaksi yang benar ke dalam reaktor autoclave,
yang beroperasi pada temperatur dan tekanan yang sesuai dengan kondisi reaksi.
Campuran saponifikasi disirkulasi kembali dengan autoclave .Temperatur campuran
tersebut diturunkan pada mixer pendingin, kemudian dipompakan ke separator statis
untuk memisahkan sabun yang tidak tercuci dengan larutan alkali yang
digunakan.Sabun tersebut kemudian dicuci dengan larutan alkali pencuci di kolam
pencuci untuk memisahkan gliserin (sebagai larutan alkali yang digunakan) dari
sabun. Separator sentrifusi berfungsi untuk memisahkan sisa sisa larutan

LILIANA COMERIORENSI
03111003061
SENIN JAM 8
KELOMPOK 3
alkali dari sabun. Sabun murni (60 63 % TFM) dinetralisasi dan dialirkan ke
vakum spray dryer untuk menghasilkan sabun dalam bentuk butiran (78 82 %
TFM) yang siap untuk diproses menjadi produk akhir.
b. Pengeringan Sabun
Sabun banyak diperoleh setelah penyelesaian saponifikasi (sabun murni)
yang umumnya dikeringkan dengan vakum spray dryer. Kandungan air pada sabun
dikurangi dari 30 35% pada sabun murni menjadi 8 18% pada sabun butiran atau
lempengan. Jenis jenis vakum spray dryer, dari sistem tunggal hingga multi
sistem, semuanya dapat digunakan pada berbagai proses pembuatan sabun. Operasi
vakum spray dryer sistem tunggal meliputi pemompaan sabun murni melalui pipa
heat exchanger dimana sabun dipanaskan dengan uap yang mengalir pada bagian
luar pipa. Sabun yang sudah dipanaskan terlebih dahulu disemprotkan di atas
dinding ruang vakum melalui mulut pipa yang berputar.Lapisan tipis sabun yang
sudah dikeringkan dan didinginkan tersimpan pada dinding ruang vakum dan
dipindahkan dengan alat pengerik sehingga jatuh di plodder, yang mengubah sabun
ke bentuk lonjong panjang atau butiran. Dryer dengan multi sistem, yang merupakan
versi pengembangan dari dryer sistem tunggal, memperkenalkan proses pengeringan
sabun yang lebih luas dan lebih efisien daripada dryer sistem tunggal.
c. Netralisasi Asam Lemak
Reaksi asam basa antara asam-asam lemak dengan alkali untuk
menghasilkan sabun berlangsung lebih cepat daripada reaksi trigliserida dengan
alkali. Reaksinya adalah sebagai berikut :
RCOOH + NaOH RCOONa + H2O
Operasi sistem ini meliputi pemompaan reaktan melalui pemanasan terlebih
dahulu menuju turbodisperser dimana interaksi reaktan reaktan tersebut
mengawali pembentukan sabun murni. Sabun tersebut, yang direaksikan sebagian
pada tahap ini, kemudian dialirkan ke mixer dimana sabun tersebut disirkulasi
kembali hingga netralisasi selesai. Penyelesaian proses netralisasi ditentukan oleh
suatu pengukuran potensial elektrik (mV) alkalinitas. Sabun murni kemudian
dikeringkan dengan vacum spray dryer untuk menghasilkan sabun butiran yang siap
LILIANA COMERIORENSI
03111003061
SENIN JAM 8
KELOMPOK 3
untuk diolah menjadi sabun batangan.
d. Penyempurnaan Sabun
Dalam pembuatan produk sabun batangan, sabun butiran dicampurkan
dengan zat pewarna, parfum, dan zat aditif lainnya ke dalam mixer (amalgamator).
Campuran sabun ini kemudian diteruskan untuk digiling untuk mengolah campuran
tersebut menjadi suatu produk yang homogen. Produk tersebut kemudian
dilanjutkan ke tahap pemotongan. Sebuah alat pemotong dengan mata pisau
memotong sabun tersebut menjadi potongan-potongan terpisah yang dicetak melalui
proses penekanan menjadi sabun batangan sesuai dengan ukuran dan bentuk yang
diinginkan.Proses pembungkusan, pengemasan, dan penyusunan sabun batangan
tersebut merupakan tahap akhir penyelesaian pembuatan sabun.
Sehingga berdasarkan penjabaran keempat tahapan dalam pembuatan sabun,
diketahui pengaruh suhu pada pembuatan sabun itu terjadi pada tahapan
Saponifikasi Lemak Netral, dimana untuk temperatur pemanasan trigliseridan dan
alkali dengan rentang temperatur 80-100
o
C. Jika temperatur terlalu tinggi maka akan
memutuskan ikatan-ikatan trigliserida sehingga sabun yang dihasilkan terlalu encer
yaitu tidak padat, sedangkan jika temperatur terlalu rendah maka campuran antara
trigliserida dan alkil menjadi keras dan tidak menghasilkan garam (sabun) dan
gliserol.













LILIANA COMERIORENSI
03111003061
SENIN JAM 8
KELOMPOK 3
DAFTAR PUSTAKA


Anonim. 2011. Polutan Detergen. [Online]. (Tersedia: http://green.kompasiana. Com
/polusi/2011/09/16/polutan-detergen-393973.html) diakses 9 September 2014

Anonim. 2013. Surfaktan. [Online]. (Tersedia: http://www.scribd.com /doc /152379300
/Surfaktan#download) diakses 9 September 2014

Anonim. 2014. Industri Deterjen. [Online]. (Tersedia: http://file.upi.edu /Direktori
/FPMIPA /JUR._PEND._KIMIA/196802161994022-SOJA_SITI_FATIMAH
/Kimia_ industri/INDUSTRI_DETERJEN.pdf) diakses 9 September 2014

Romadona, Dony. 2011. Surfaktan dan Produk. [Online]. (Tersedia:http://dony-
romadona .blogspot.com/2012/09/surfaktan-dan-produk.html) diakses 9
September 2014

Yunita, Rasti. 2012. Studi Biodegradasi Surfaktan Linear AlkylBenzenes Menggunakan
Isolat Bakteri dari Situ Universitas Indonesia. [Online]. (Tersedia: http://lib.uik
.ac.id/file?file=digital/20310926-S43234-Studi%20biodegradasi.pdf) diakses 10
September 2014