Anda di halaman 1dari 9

MENEJEMEN MUTU

Qori Bahtiar
131710101064
SEBUTKAN 3 DEFINISI TENTANG MUTU DARI SUMBER-SUMBER YANG TELAH
ANDA KETAHUI (AMBIL DARI TUGAS YANG PERNAH ANDA KERJAKAN),
KEMUDIAN BANGUNLAH (KONSTRUKSIKAN) SEBUAH PENGERTIAN MUTU
DENGAN BAHASA ANDA DENGAN MENGACU KEPADA KETIGA SUMBER
TERSEBUT !
a. Secara umum mutu dapat didefinisikan sebagai karakteristik produk atau jasa yang
ditentukan oleh customer dan diperoleh melalui pengukuran proses serta perbaikan yang
berkelanjutan (Soewarso, 1996: 7).
b. Mutu adalah keseluruhan karakteristik produk dan jasa dari pemasaran rekayasa,
pembuatan dan pemeliharaan yang membuat produk dan jasa yang digunakan memenuhi
harapan-harapan pelanggan. (Feigenbaum, 1996).
c. Goetsch D.L dan Davis D.L (1997:3) mendefinisikan mutu sebagai keadaan dinamik yang
diasosiasikan dengan produk, jasa, orang, proses, dan lingkungan yang mencapai atau
melebihi harapan. Istilah keadaan dinamik di sini mengacu pada kenyataan bahwa apa
yang dianggap bermutu dapat dan sering berubah sejalan dengan berlakunya waktu dan
pergantian keadaan lingkungan. Unsur produk, jasa, orang, proses, dan lingkungan
menunjukkan bahwa mutu tidak hanya berlaku untuk produk dan jasa yang disediakan,
melainkan juga orang dan proses yang menyediakan produk dan jasa itu serta lingkungan
di mana produk dan jasa tersebut disediakan.
Dari ketiga pengertian diatas dapat disimpulkan mutu adalah karakteristik produk atau
jasa,orang, proses, dan lingkungan yang ditentukan oleh customer yang digunakan untuk
memenuhi harapan harapan
APA YANG DIKMAKSUD DENGAN MUTU
OBYEKTIF DAN MUTU SUBYEKTIF!
JELASKAN DAN BERILAH CONTOHNYA
a. Mutu Objektif
Mutu objektif adalah karakteristik fisik
yang terdapat dalam produk pangan. Mutu
objektif bersifat teknis, sehingga proses
dan kontrol mutu dapat diukur dan
diverifikasi (Espejel et al. 2007). Beberapa
contoh uji pada mutu objektif adalah Uji
fisik, Uji kimia, Uji Fisika-Kimia, Uji
Mikrobiologis, Uji Mikroanalitik &
Histologist dan Kalibrasi Alat
b. Mutu Subjektif
Mutu Subjektif adalah mutu yang dipersepsikan oleh konsumen,
berupa reaksi atau kesan yang ditimbulkan karena adanya
rangsangan dapat berupa sikap untuk mendekati atau menjauhi,
menyukai atau tidak menyukai akan benda penyebab rangsangan.
Kesadaran, kesan dan sikap terhadap rangsangan adalah reaksi
psikologis atau reaksi subyektif. Pengukuran terhadap nilai / tingkat
kesan, kesadaran dan sikap disebut pengukuran subyektif atau
penilaian subyektif. Disebut penilaian subyektif karena hasil
penilaian atau pengukuran sangat ditentukan oleh pelaku atau yang
melakukan pengukuran. Contohnya pada produk kripik yang
menggunakan beberapa macam panelis untuk menentukan rasa,
kenampakan, aroma yang tepat pada kopi menurut konsumen.
(Espejel, joel., et.al. 2007. The role of intristic and extrinsic qualty
attributes on consumer behaviour for traditional food products.
Managing service quality.)
JELASKAN TAHAPAN PERKEMBANGAN MUTU HINGGA
MUNCULNYA PENDEKATAN TQM (TOTAL QUALITY
MANAGEMENT)! SEBUTKAN CIRI-CIRI AKTIVITAS MANAJEMEN
MUTU PADA SETIAP TAHAPAN TERSEBUT!

Ada 5 tahap perkembangan mutu yaitu sebagai
berikut:
1. Tahap pertama dikenal sebagai era tanpa mutu.
Masa ini dimulai sebelum abad ke-18 dimana produk
yang dibuat tidak diperhatikan mutunya. Hal seperti
ini mungkin terjadi karena pada saat itu belum ada
persaingan (monopoli). Dalam era modern saat ini,
praktik seperti ini masih bisa dijumpai. Pengadaan
listrik misalnya, hingga saat ini masih dikuasai oleh
PLN sehingga masyarakat tidak bisa pindah
meskipun pelayanan listriknya sering mati. Dahulu
Telkom menjadi satu-satunya operator telepon
sehingga masyarakat tidak bisa berpaling meskipun
harganya mahal dan sulit untuk mendapatkan
sambungan telepon ke rumah.

2. Tahap kedua, era Inspeksi. Era ini mulai
berlangsung sekitar tahun 1800-an, dimana
pemilahan produk akhir dilakukan dengan
cara melakukan inspeksi sebelum dilepas ke
konsumen. Tanggungjawab mutu produk
diserahkan sepenuhnya ke departemen
inspeksi (QC). Departemen QC akhirnya
selalu jadi sasaran bila ada produk cacat
yang lolos ke konsumen. Di sisi lain, biaya
mutu menjadi membengkak karena produk
seharusnya sudah bisa dicegah masuk ke
proses berikutnya pada saat departemen
terkait menemukan adanya cacat di
bagiannya masing-masing sebelum diperiksa
oleh petugas inspeksi.
3. Tahap ketiga, dikenal sebagai Statistical
Quality Control Era (Pengendalian Mutu
secara Statistik). Era ini dimulai tahun 1930
oleh Walter Shewart dari Bell Telephone
Laboratories. Departemen Inspeksi
dilengkapi dengan alat dan metode statistik
untuk mendeteksi penyimpangan yang terjadi
pada produk yang dihasilkan departemen
produksi. Departemen Produksi
menggunakan data tersebut untuk
melakukan perbaikan terhadap sistem dan
proses.
4. Tahap keempat, Quality Assurance Era. Era ini
mulai berkembang tahun 1950-an. Konsep mutu
meluas dari sebatas tahap produksi (hilir) ke tahap
desain (hulu) dan berkoordinasi dengan
departemen jasa (Maintenance,PPIC,Gudang,dll).
Manajemen mulai terlibat dalam penentuan
pemasok (supplier). Konsep biaya mutu mulai
dikenal, bahwa aktivitas pencegahan akan
mengurangi pengeluaran daripada upaya
perbaikan cacat yang sudah terjadi. Desain yang
salah misalnya akan mengakibatkan kesalahan
produksi atau instalasi. Oleh sebab itu sangat
ketelitian desain untuk mengurangi biaya. Contoh
dari era ini adalah penggunaan ISO 9000 versi
1994.
5. Tahap kelima, dikenal sebagai Strategic Quality
Management /Total Quality Management. Dalam
era ini keterlibatan manajemen puncak sangat
besar dalam menjadikan kualitas sebagai modal
untuk menempatkan perusahaan siap bersaing
dengan kompetitor. Sistem ini didefenisikan
sebagai sistem manajemen strategis dan integratif
yang melibatkan semua manajer dan karyawan
serta menggunakan metode-metode kualitatif dan
kuantitatif untuk memperbaiki proses-proses
organisasi secara berkesinambungan agar dapat
memenuhi dan melampaui harapan pelanggan.
Contoh era ini adalah penggunaan Sistem
manajemen Mutu ISO 9000 versi 2000 dan 2008.