Anda di halaman 1dari 36

Media and HIV/AIDS Apa itu HIV/AIDS?

Page 1
Apa itu HIV/AIDS?
HIV berarti virus yang dapat merusak sistem kekebalan tubuh manusia. Ini adalah
retrovirus, yang
berarti virus yang mengunakan sel tubuhnya sendiri untuk memproduksi kembali dirinya.
Asal dari HIV tidak jelas, penemuan kasus awal adalah dari sampel darah yang
dikumpulkan tahun
1959 dari seorang lakilaki dari Kinshasa di Republik Demokrat Congo. Tidak diketahui
bagaimana ia
terinfeksi.
Saat ini terdapat dua jenis HIV: HIV1 dan HIV2.
HIV1 mendominasi seluruh dunia dan bermutasi dengan sangat mudah. Keturunan yang
berbedabeda
dari HIV1 juga ada, mereka dapat dikategorikan dalam kelompok dan subjenis (clades).
Terdapat dua kelompok, yaitu kelompok M dan O. Dalam kelompok M terdapat sekurang
kurangnya
10 subjenis yang dibedakan secara turun temurun. Ini adalah subjenis AJ. Subjenis B
kebanyakan
ditemukan di America, Japan, Australia, Karibia dan Eropa. Subjenis C ditemukan di Afrika
Selatan
dan India.
HIV2 teridentifikasi pada tahun 1986 dan semula merata di Afrika Barat. Terdapat banyak
kemiripan
diantara HIV1 dan HIV2, contohnya adalah bahwa keduanya menular dengan cara yang sama,
keduanya
dihubungkan dengan infeksiinfeksi oportunistik dan AIDS yang serupa. Pada orang yang
terinfeksi
dengan HIV2, ketidakmampuan menghasilkan kekebalan tubuh terlihat berkembang lebih
lambat
dan lebih halus. Dibandingkan dengan orang yang terinfeksi dengan HIV1, maka mereka yang
terinfeksi
dengan HIV2 ditulari lebih awal dalam proses penularannya.
Apa itu HIV dan jenisjenis apa saja yang
Bagaimana HIV menular?
HIV menular melalui cairan tubuh seperti darah, semen atau air mani, cairan vagina, air susu ibu
dan
cairan lainnya yang mengandung darah.
Virus tersebut menular melalui:
Melakukan penetrasi seks yang tidak aman dengan seseorang yang telah terinfeksi. Kondom
adalah
satusatunya cara dimana penularan HIV dapat dicegah.
Melalui darah yang terinfeksi yang diterima selama transfusi darah dimana darah tersebut
belum dideteksi
virusnya atau pengunaan jarum suntik yang tidak steril.
Dengan mengunakan bersama jarum untuk menyuntik obat bius dengan seseorang yang
telah terinfeksi.
Wanita hamil dapat juga menularkan virus ke bayi mereka selama masa kehamilan atau
persalinan dan
juga melalui menyusui.
Page 2 Media and HIV/AIDS Apa itu HIV/AIDS?
FHI Family Health International
Infeksi HIV dapat diketahui melalui sebuah pengujian antibodi mengenai HIV. Ketika
seseorang terinfeksi
dengan HIV, antibodinya dihasilkan dalam jangka waktu 38 minggu. Tahap berikutnya sebelum
antibodi tersebut dapat dideteksi dikenal sebagai "tahap jendela". (window period)
Pengujian dapat dilakukan dengan mengunakan sampel darah, air liur atau air kencing.
Pengujian yang cepat ada dan menyediakan suatu hasil diantara 1020 menit. Suatu hasil
positif
biasanya menuntut suatu test konfirmatori lebih lanjut.
Pengujian HIV harus dilakukan sejalan dengan bimbingan sebelumselamadan
sesudahnya.
Pengujian HIV
Untuk mengerti bagaimana virus tersebut bekerja, seseorang perlu mengerti bagaimana
sistem kekebalan
tubuh bekerja. Sistem kekebalan mempertahankan tubuh terhadap infeksi. Sistem ini terdiri dari
banyak jenis sel. Dari selsel tersebut sel Thelper sangat krusial karena ia mengkoordinasi
semua sistem
kekebalan sel lainnya. Sel Thelper memiliki protein pada permukaannya yang disebut CD4.
HIV masuk kedalam darah dan mendekati sel Thelper dengan melekatkan dirinya pada
protein CD4.
Sekali ia berada di dalam, materi viral (jumlah virus dalam tubuh penderita) turunan yang
disebut RNA
(ribonucleic acid) berubah menjadi viral DNA (deoxyribonucleic acid) dengan suatu enzim yang
disebut
reverse transcriptase. Viral DNA tersebut menjadi bagian dari DNA manusia, yang mana,
daripada
menghasilkan lebih banyak sel jenisnya, benda tersebut mulai menghasilkan virusvirus HI.
Enzim lainnya, protease, mengatur viral kimia untuk membentuk virusvirus yang baru.
Virusvirus
baru tersebut keluar dari sel tubuh dan bergerak bebas dalam aliran darah, dan berhasil menulari
lebih
banyak sel. Ini adalah sebuah proses yang sedikit demi sedikit dimana akhirnya merusak sistem
kekebalan
tubuh dan meninggalkan tubuh menjadi mudah diserang oleh infeksi dan penyakitpenyakit yang
lain. Dibutuhkan waktu untuk menularkan virus tersebut dari orang ke orang.
Respons tubuh secara alamiah terhadap suatu infeksi adalah untuk melawan selsel yang
terinfeksi dan
mengantikan selsel yang telah hilang. Respons tersebut mendorong virus untuk menghasilkan
kembali
dirinya.
Jumlah normal dari selsel CD4+T pada seseorang yang sehat adalah 8001200 sel/ml
kubik darah.
Ketika seorang pengidap HIV yang selsel CD4+ Tnya terhitung dibawah 200, dia menjadi
semakin
mudah diserang oleh infeksiinfeksi oportunistik.
Infeksiinfeksi oportunistik adalah infeksiinfeksi yang timbul ketika sistem kekebalan
tertekan. Pada
seseorang dengan sistem kekebalan yang sehat infeksiinfeksi tersebut tidak biasanya
mengancam
hidup mereka tetapi bagi seorang pengidap HIV hal tersebut dapat menjadi fatal.
Tanpa perawatan, viral load, yang menunjuk pada jumlah relatif dari virus bebas bergerak
didalam plasma
darah, akan meningkat mencapai titik dimana tubuh tidak akan mampu melawannya.
Bagaimana HIV bekerja?
Media and HIV/AIDS Apa itu HIV/AIDS? Page 3
FHI Family Health International
Apa itu AIDS?
Perkembangan dari HIV dapat dibagi dalam 4 fase:
1. Infeksi utama (Seroconversion), ketika kebanyakan pengidap HIV tidak menyadari dengan
segera
bahwa mereka telah terinfeksi.
2. Fase asymptomatic, dimana tidak ada gejala yang nampak, tetapi virus tersebut tetap aktif.
3. Fase symptomatic, dimana seseorang mulai merasa kurang sehat dan mengalami infeksi
infeksi
oportunistik yang bukan HIV tertentu melainkan disebabkan oleh bakteri dan virusvirus yang
berada
di sekitar kita dalam segala keseharian kita.
4. AIDS, yang berarti kumpulan penyakit yang disebabkan oleh virus HIV, adalah fase akhir dan
biasanya bercirikan suatu jumlah CD4 kurang dari 200.
AIDS (Acquired Immune Deficiency Syndrome) adalah fase terakhir dari infeksi HIV dan
biasanya
dicirikan oleh jumlah CD4 kurang dari 200.
AIDS bukanlah penyakit yang khusus melainkan kumpulan dari sejumlah penyakit yang
mempengaruhi
tubuh dimana sistem kekebalan yang melemah tidak dapat merespons.
Monitoring Perkembangan dari HIV ke AIDS
Terdapat dua cara pengujian yang tersedia dalam memonitor perkembangan HIV/AIDS:
Pengujian CD4 adalah mengukur jumlah dari CD4 atau sel Thelper didalam darah.
Kekuatan dari sistem
kekebalan anda adalah merupakan suatu prediksi yang baik tentang bagaimana anda akan
memerangi infeksi.
Pengujian viral load adalah mengukur jumlah dari HIV didalam darah dalam setiap ml
darah. Semakin
tinggi viral load maka semakin cepat pula perkembangannya ke AIDS.
Tidak ada pengobatan untuk HIV atau AIDS akan tetapi hidup berdampingan dengan kedua
penyakit
tersebut menjadi semakin dapat diatur.
Sangatlah mungkin bagi pengidap HIV/AIDS dalam menjalani suatu hidup yang produktif
dengan
mengikuti suatu diet tinggi akan protein dan kilojoule yang sehat, mengatur tingkattingkat
stress,
mempraktekan seks yang aman dengan mengunakan kondom, tidak minum air yang belum
dimasak,
moderasi dalam mengkonsumsi alkohol dan merokok, mencuci tangan, memastikan
kesejahteraan spiritual
dan emosional serta memperhatikan infeksi oportunistik sedini mungkin. Orang yang memiliki
hewan piaraan harus mengikuti tindakan pencegahan yang normal dengan menjamin bahwa
makanan,
kotoran dan tempat tidur mereka selalu segar dan memenuhi norma kesehatan sepanjang waktu.
Perawatan harus dilakukan untuk menghindari pukulan, goresan dan gigitan serta binatang
tersebut
harus dimandikan dan divaksinasi secara teratur.
Gaya Hidup Positif
Page 4 Media and HIV/AIDS Apa itu HIV/AIDS?
FHI Family Health International
Obatobatan Antiretroviral (ARV) bukanlah suatu pengobatan untuk HIV/AIDS tetapi
cukup memperpanjang
hidup dari mereka yang mengidap HIV. Pada tempat yang kurang baik pengaturannya permulaan
dari pengobatan ARV biasanya secara medis direkomendasikan ketika jumlah sel CD4 dari
orang
yang mengidap HIV/AIDS adalah 200 atau lebih rendah. Untuk lebih efektif, maka suatu
kombinasi
dari tiga atau lebih ARV dikonsumsi, secara umum ini adalah mengenai terapi Antiretroviral
yang sangat
aktif (HAART). Kombinasi dari ARV berikut ini dapat mengunakan:
1. Nucleoside Analogue Reverse Transcriptase Inhibitors (NRTI'), mentargetkan pencegahan
protein
reverse transcriptase HIV dalam mencegah perpindahan dari viral RNA menjadi viral DNA
(contohnya
AZT, ddl, ddC & 3TC).
2. Nonnucleoside Reverse Transcriptase Inhibitors (NNRTI's) memperlambat reproduksi dari
HIV
dengan bercampur dengan reverse transcriptase, suatu enzim viral yang penting. Enzim tersebut
sangat
esensial untuk HIV dalam memasukan materi turunan kedalam selsel. Obatobatan NNRTI
termasuk:
Nevirapine, delavirdine (Rescripta), efavirenza (Sustiva).
3. Protease Inhibitors (PI) mengtargetkan protein protease HIV dan menahannya sehingga suatu
virus
baru tidak dapat berkumpul pada sel tuan rumah dan dilepaskan.
Pencegahan perpindahan dari ibu ke anak (PMTCT): seorang wanita yang mengidap HIV(+)
dapat
menularkan HIV kepada bayinya selama masa kehamilan, persalinan dan masa menyusui. Dalam
ketidakhadiran
dari intervensi pencegahan, kemungkinan bahwa bayi dari seorang wanita yang mengidap
HIV(+) akan terinfeksi kirakira 25%35%. Dua pilihan pengobatan tersedia untuk mengurangi
penularan
HIV/AIDS dari ibu ke anak. Obatobatan tersebut adalah:
1. Ziduvidine (AZT) dapat diberikan sebagai suatu rangkaian panjang dari 1428 minggu selama
masa
kehamilan. Studi menunjukkan bahwa hal ini menurunkan angka penularan mendekati 67%.
Suatu
rangkaian pendek dimulai pada kehamilan terlambat sekitar 36 minggu menjadi 50% penurunan.
Suatu rangkaian pendek dimulai pada masa persalinan sekitas 38%. Beberapa studi telah
menyelidiki
pengunaan dari Ziduvidine (AZT) dalam kombinasi dengan Lamivudine (3TC)
2. Nevirapine: diberikan dalam dosis tunggal kepada ibu dalam masa persalinan dan satu dosis
tunggal
kepada bayi pada sekitar 23 hari. Diperkirakan bahwa dosis tersebut dapat menurunkan
penularan
HIV sekitar 47%. Nevirapine hanya digunakan pada ibu dengan membawa satu tablet kerumah
ketika
masa persalinan tiba, sementara bayi tersebut harus diberikan satu dosis dalam 3 hari.
Postexposure prophylaxis (PEP) adalah sebuah program dari beberapa obat antiviral, yang
dikonsumsi
beberapa kali setiap harinya, paling kurang 30 hari, untuk mencegah seseorang menjadi
terinfeksi dengan
HIV sesudah terinfeksi, baik melalui serangan seksual maupun terinfeksi occupational.
Dihubungankan dengan permulaan pengunaan dari PEP, maka suatu pengujian HIV harus
dijalani
untuk menetapkan status orang yang bersangkutan. Informasi dan bimbingan perlu diberikan
untuk
memungkinkan orang tersebut mengerti obatobatan, keperluan untuk mentaati, kebutuhan untuk
mempraktekan
hubungan seks yang aman dan memperbaharui pengujian HIV. Antiretrovirals direkomendasikan
untuk PEP termasuk AZT dan 3TC yang digunakan dalam kombinasi. CDC telah
memperingatkan
mengenai pengunaan dari Nevirapine sebagai bagian dari PEP yang berhutang pada bahaya
akan kerusakan pada hati. Sesudah terkena infeksi yang potensial ke HIV, pengobatan PEP perlu
dimulai
sekurangnya selama 72 jam, sekalipun terdapat bukti untuk mengusulkan bahwa lebih awal
seseorang
memulai pengobatan, maka keuntungannya pun akan menjadi lebih besar. PEP tidak
merekomen-
Pengobatan
Media and HIV/AIDS Apa itu HIV/AIDS? Page 5
FHI Family Health International
dasikan proses terinfeksi secara biasa ke HIV/AIDS sebagaimana hal ini tidak efektif 100%; hal
tersebut
dapat memberikan efek samping yang hebat dan mendorong perilaku seksual yang tidak aman.





Pekara yang anda perlu tahu mengenai ubat antiretroviral

HARRT - adalah singkatan untuk "Highly Actice Antiretroviral Therapy" atau pun dikenali
sebagai "Cocktail regime". Hanya kombinasi 3 jenis ubat antiretroviral (daripada >2 jenis ubat).
Kombinasi 3 jenis ubat antiretroviral di perlukan untuk keberkesanan yang optimal.


Kelas ubat antiretroviral


A) Nucleoside reverse Transcriptase Inhibitors (NRTI) / Nucleotide Reverse Transcriptase
Inhibitors (ntRTI) - NUKES

B) Non - Nucleoside Reverse Transcriptase Inhibitors (NNRTI) - NON - NUKES

C) Protease Inhibitors (PI)

D) Lain-lain, cth: Integrase Inhibitors



Ubat antiretroviral yan terdapat di Malaysia

A) NRTI : Didanosine , Lamivudine, Zodovudine, Stavudine, Emtricitabine
B) ntRTI : Tenofovir
C) NNRTI : Efavirenz, Nevirapine
D) PI : Indivadir, Ritonavir, Lopinavir, Saquinavir, Atazanavir
E) Integrase Inhibitor : Rategravir


Ubat kombinasi yang terdapat di Malaysia
1. SLN - Stavudine + Lamivudine + Nevirapine
2. Combivir - Zidovudine+Lamivudine
3. Kaletra - Lopinavir+ Ritonavir
4. Tenvir EM - Tenofovir + Emtricitabine


HAART akan dimulakan apabila
Pesakit telah bersedia untuk memulakan HAART (HAART perlu di ambil sepanjang
hayat- Berkahwin dengan ubat)
Bila CD4 kurang daripada 350sel
pesakit mempunyai genjala penyakit AIDS walaupun bilangan CD4 tinggi.
Semasa mengandung.

Apakah CD4?
CD4 atau sel darah putih merupakan askar di dalam badan yang bertindak melawan jangkitan
yang memasuki tubuh seseorang. Dalam pesakit HIV, Virus menyerang sel CD4 dan
memusnahkanya. Dengan ketiadaan jumlah askar yang mencukupi badan terdedah kepada
jangkitan lain.

Bagaimana HAART bertindak

Setiap kelas ubat antiretroviral bertindak untuk menghalang pembiakan atau pembentukkan virus
baru. Apabila ini berlaku, bilangan virus HIV dalam darah akan berkurangan dan penyakit dapat
dikawal.


kebaikan memulakan HAART
Akan meningkatkan sistem daya pertahanan badan dengan meningkatkan bilangan CD4.
Memastikan bilangan virus HIV dalam darah dalam paras paling rendah.
Mengurangkan risiko jangkitan opportunistik.
Meningkatkan kualiti hidup.
Memanjangkan jangka hidup.


Kesan sampingan yang mungkin berlaku
NRTI - muntah , loya, rasa kebas di jari tanga dan kaki.
ntRTI - cirit-berit, kegagalan buah pinggang.
NNRTI - ruam, pening, masalah hati.
PI - muntah, loya, masalah hati, kekuningan kulit, menyebabkan tau menerukkan
penyakit kencing manis atau paras kolesterol.

HAART akan GAGAL bila

Ubat tidak dimakan dengan betul (lupa atau lewat makan ubat).
Menganbil ubat HAART bersama ubat tradisional / herba.
Mengambil ubat HAART bersama dengan arak atau ubat hipnotik(ubat tidur).
Virus HIV akan menjadi kebal kepada ubat antiretroviral berikutan cara pengambilan ubat yang
salah.

Tips pengambilan ubat- ubatan...

Makanlah HAART tepat pada masa yang ditetapkan bagi menjamin keberkesanan yang
optimal.
Gunakan 'alarm' telefon atau jam loceng sebagai peringatan untuk mengambil ubat.
Bawalah ubat-ubatan bersama sekiranya pergi melancong atau ke tempat kerja.
Selalu pastikan bekalan ubat adalah mencukupi sekurang-kurangnya untuk 1 minggu
sebelum bekalan seterusnya.sekiranya stok ubat tidak mencukupi, hubungilah klinik
dengan segera.
Jangan ambil ubat tradisional atau herba dengan HAART kerana ia boleh mengurangkan
keberkesanan HAART.
Bertanyalah denga doktor/ pegawai farmasi sebelum mengambil sebarang vitamin atau
ubat -ubatan lain.
Sekiranya demam atau mengalami kesan sampingan ubat segeralah berjumpa doktor.
Jangan berhenti makan ubat HAART sekiranya anda berasa tidak sihat meskipun setelah
kembali sihat.
Hanya makan makanan dan air yang masak sepenuhnya.jangan makan makanan separuh
masak (cth:telur separuh masak,kerang) dan ais batu.
Patuhi rutin ujian darah serta temujanji berjumpa denga doktor/pegawai farmasi
sebagaimana yan telah ditetapkan.

Fakta penting mengenai HAART

Ubat HAART mesti diambil sepanjang hayat dan tidak boleh diberhentikan.
Rejim pertama HAART adalah yang terbaik untuk mengurangkan bilangan virus HIV
dalam darah.
Pengambilan ubat HAART amat penting pada masa yang tepat untuk keberkesanan
HAART.
Bilangna sel CD4 hanya boleh diperiksa peningkatanya 3-4 bulan selepas memulakan
HAART.
Sekiranya HAART dimulakna untuk pesakit dengan CD4<200sel, sesetengah sesakit
akan bertambah teruk sebelum bertambah baik.Tetapi ini tidak bermakna HAART tidak
berkesan.ini berlaku kerana sistem daya pertahanan pesakit sedang bertambah baik.
Semasa bulan ramadhan pesakit beragama islam tidak dibenarkan berpuasa dan perlu
membayar fidyah.












pengertian dan fungsi CD4
Pengertian CD4

CD 4 adalah sebuah marker atau penanda yang berada di permukaan sel-sel darah putih manusia,
terutama sel-sel limfosit. CD 4 pada orang dengan sistem kekebalan yang menurun menjadi
sangat penting, karena berkurangnya nilai CD4 dalam tubuh manusia menunjukkan
berkurangnya sel-sel darah putih atau limfosit yang seharusnya berperan dalam memerangi
infeksi yang masuk ke tubuh manusia. Pada orang dengan sistem kekebalan yang baik, nilai CD4
berkisar antara 1400-1500. Sedangkan pada orang dengan sistem kekebalan yang terganggu
(misal pada orang yang terinfeksi HIV) nilai CD 4 semakin lama akan semakin menurun (bahkan
pada beberapa kasus bisa sampai nol)

Fungsi Sel CD4
Sel yang mempunyai marker CD4 di permukaannya berfungsi untuk melawan berbagai macam
infeksi. Di sekitar kita banyak sekali infeksi yang beredar, entah itu berada dalam udara,
makanan ataupun minuman. Namun kita tidak setiap saat menjadi sakit, karena CD4 masih bisa
berfungsi dengan baik untuk melawan infeksi ini. Jika CD4 berkurang, mikroorganisme yang
patogen di sekitar kita tadi akan dengan mudah masuk ke tubuh kita dan menimbulkan penyakit
pada tubuh manusia

















Infeksi HIV


DEFINISI
Infeksi HIV (Human Immunodeficiency Virus) adalah suatu infeksi oleh salah satu dari 2 jenis
virus yang secara progresif merusak sel-sel darah putih yang disebut limfosit, menyebabkan
AIDS (Acquired Immunodeficiency Syndrome) dan penyakit lainnya sebagai akibat dari
gangguan kekebalan tubuh.
Pada awal tahun 1980, para peneliti menemukan peningkatan mendadak dari 2 jenis penyakit di
kalangan kaum homoseksual di Amerika.
Kedua penyakit itu adalah sarkoma Kaposi (sejenis kanker yang jarang terjadi) dan pneumonia
pneumokista (sejenis pneumonia yang hanya terjadi pada penderita gangguan sistem kekebalan).
Kegagalan sistem kekebalan tubuh yang mengakibatkan timbulnya 2 jenis penyakit yang jarang
ditemui ini sekarang dikenal dengan AIDS.
Kegagalan sistem kekebalan juga ditemukan pada para pengguna obat-obatan terlarang yang
disuntikkan, penderita hemofilia, penerima transfusi darah dan pria biseksual.
Beberapa waktu kemudian sindroma ini juga mulai terjadi pada heteroseksual yang bukan
pengguna obat-obatan, bukan penderita hemofilia dan tidak menerima transfusi darah.
AIDS sudah menjadi epidemi di Amerika Serikat dengan lebih dari 500.000 orang terjangkit dan
300.000 meninggal sampai bulan Oktober 1995.
WHO memperkirakan 30-40 juta penduduk dunia akan terinfeksi HIV pada tahun 2000.
PENYEBAB
Terdapat 2 jenis virus penyebab AIDS, yaitu HIV-1 dan HIV-2.
HIV-1 paling banyak ditemukan di daerah barat, Eropa, Asia dan Afrika Tengah, Selatan dan
Timur. HIV-2 terutama ditemukan di Afrika Barat.
PERJALANAN PENYAKIT
Supaya terjadi infeksi, virus harus masuk ke dalam sel, dalam hal ini sel darah putih yang disebut
limfosit.
Materi genetik virus dimasukkan ke dalam DNA sel yang terinfeksi.
Di dalam sel, virus berkembangbiak dan pada akhirnya menghancurkan sel serta melepaskan
partikel virus yang baru.
Partikel virus yang baru kemudian menginfeksi limfosit lainnya dan menghancurkannya.
Virus menempel pada limfosit yang memiliki suatu reseptor protein yang disebut CD4, yang
terdapat di selaput bagian luar.
Sel-sel yang memiliki reseptor CD4 biasanya disebut sel CD4+ atau limfosit T penolong.
Limfosit T penolong berfungsi mengaktifkan dan mengatur sel-sel lainnya pada sistem
kekebalan (misalnya limfosit B, makrofag dan limfosit T sitotoksik), yang kesemuanya membantu
menghancurkan sel-sel ganas dan organisme asing.
Infeksi HIV menyebabkan hancurnya limfosit T penolong, sehingga terjadi kelemahan sistem
tubuh dalam melindungi dirinya terhadap infeksi dan kanker.
Seseorang yang terinfeksi oleh HIV akan kehilangan limfosit T penolong melalui 3 tahap selama
beberapa bulan atau tahun:
1. Seseorang yang sehat memiliki limfosit CD4 sebanyak 800-1300 sel/mL darah. Pada
beberapa bulan pertama setelah terinfeksi HIV, jumlahnya menurun sebanyak 40-50%.
Selama bulan-bulan ini penderita bisa menularkan HIV kepada orang lain karena banyak
partikel virus yang terdapat di dalam darah. Meskipun tubuh berusaha melawan virus,
tetapi tubuh tidak mampu meredakan infeksi.
2. Setelah sekitar 6 bulan, jumlah partikel virus di dalam darah mencapai kadar yang stabil,
yang berlainan pada setiap penderita. Perusakan sel CD4+ dan penularan penyakit kepada
orang lain terus berlanjut.
Kadar partikel virus yang tinggi dan kadar limfosit CD4+ yang rendah membantu dokter
dalam menentukan orang-orang yang beresiko tinggi menderita AIDS.
3. 1-2 tahun sebelum terjadinya AIDS, jumlah limfosit CD4+ biasanya menurun drastis.
Jika kadarnya mencapai 200 sel/mL darah, maka penderita menjadi rentan terhadap
infeksi.
Infeksi HIV juga menyebabkan gangguan pada fungsi limfosit B (limfosit yang menghasilkan
antibodi) dan seringkali menyebabkan produksi antibodi yang berlebihan.
Antibodi ini terutama ditujukan untuk melawan HIV dan infeksi yang dialami penderita, tetapi
antibodi ini tidak banyak membantu dalam melawan berbagai infeksi oportunistik pada AIDS.
Pada saat yang bersamaan, penghancuran limfosit CD4+ oleh virus menyebabkan berkurangnya
kemampuan sistem kekebalan tubuh dalam mengenali organisme dan sasaran baru yang harus
diserang.
PENULARAN
Penularan HIV terjadi melalui kontak dengan cairan tubuh yang mengandung sel terinfeksi atau
partikel virus.
Yang dimaksud dengan cairan tubuh disini adalah darah, semen, cairan vagina, cairan
serebrospinal dan air susu ibu. Dalam konsentrasi yang lebih kecil, virus juga terdapat di dalam
air mata, air kemihi dan air ludah.
HIV ditularkan melalui cara-cara berikut:
Hubungan seksual dengan penderita, dimana selaput lendir mulut, vagina atau rektum
berhubungan langsung dengan cairan tubuh yang terkontaminasi
Suntikan atau infus darah yang terkontaminasi, seperti yang terjadi pada transfusi darah,
pemakaian jarum bersama-sama atau tidak sengaja tergores oleh jarum yang terkontaminasi virus
HIV
Pemindahan virus dari ibu yang terinfeksi kepada anaknya sebelum atau selama proses
kelahiran atau melalui ASI.Kemungkinan terinfeksi oleh HIV meningkat jika kulit atau selaput
lendir robek atau rusak, seperti yang bisa terjadi pada hubungan seksual yang kasar, baik melalui
vagina maupun melalui anus.
Penelitian menunjukkan kemungkinan penularan HIV sangat tinggi pada pasangan seksual yang
menderita herpes, sifilis atau penyakit menular seksual lainnya, yang mengakibatkan kerusakan
pada permukaan kulit.
Penularan juga bisa terjadi pada oral seks (hubungan seksual melalui mulut), walaupun lebih
jarang.
Virus pada penderita wanita yang sedang hamil bisa ditularkan kepada janinnya pada awal
kehamilan (melalui plasenta) atau pada saat persalinan (melalui jalan lahir).
Anak-anak yang sedang disusui oleh ibu yang terinfeksi HIV bisa tertular melalui ASI.
Beberapa anak tertular oleh virus ini melalui penganiayaan seksual.
HIV tidak ditularkan melalui kontak biasa atau kontak dekat yang tidak bersifat seksual di
tempat bekerja, sekolah ataupun di rumah.
Belum pernah dilaporkan kasus penularan HIV melalui batuk atau bersin penderita maupun
melalui gigitan nyamuk.
Penularan dari seorang dokter atau dokter gigi yang terinfeksi terhadap pasennya juga sangat
jarang terjadi.

GEJALA
Beberapa penderita menampakkan gejala yang menyerupai mononukleosis infeksiosa dalam
waktu beberapa minggu setelah terinfeksi.
Gejalanya berupa demam, ruam-ruam, pembengkakan kelenjar getah bening dan rasa tidak enak
badan yang berlangsung selama 3-14 hari. Sebagian besar gejala akan menghilang, meskipun
kelenjar getah bening tetap membesar.
Selama beberapa tahun, gejala lainnya tidak muncul. Tetapi sejumlah besar virus segera akan
ditemukan di dalam darah dan cairan tubuh lainnya, sehingga penderita bisa menularkan
penyakitnya.
Dalam waktu beberapa bulan setelah terinfeksi, penderita bisa mengalami gejala-gejala yang
ringn secara berulang yang belum benar-benar menunjukkan suatu AIDS.
Penderita bisa menunjukkan gejala-gejala infeksi HIV dalam waktu beberapa tahun sebelum
terjadinya infeksi atau tumor yang khas untuk AIDS.
Gejalanya berupa:
- pembengkakan kelenjar getah bening
- penurunan berat badan
- demam yang hilang-timbul
- perasaan tidak enak badan
- lelah
- diare berulang
- anemia
- thrush (infeksi jamur di mulut).
Secara definisi, AIDS dimulai dengan rendahnya jumlah limfosit CD4+ (kurang dari 200 sel/mL
darah) atau terjadinya infeksi oportunistik (infeksi oleh organisme yang pada orang dengan
sistem kekebalan yang baik tidak menimbulkan penyakit).
Juga bisa terjadi kanker, seperti sarkoma Kaposi dan limfoma non-Hodgkin.
Gejala-gejala dari AIDS berasal dari infeksi HIVnya sendiri serta infeksi oportunistik dan
kanker.
Tetapi hanya sedikit penderita AIDS yang meninggal karena efek langsung dari infeksi HIV.
Biasanya kematian terjadi karena efek kumulatif dari berbagai infeksi oportunistik atau tumor.
Organisme dan penyakit yang dalam keadaan normal hanya menimbulkan pengaruh yang kecil
terhadap orang yang sehat, pada penderita AIDS bisa dengan segera menyebabkan kematian,
terutama jika jumlah limfosit CD4+ mencapai 50 sel/mL darah.
Beberapa infeksi oportunistik dan kanker merupakan ciri khas dari munculnya AIDS:
1. Thrush.
Pertumbuhan berlebihan jamur Candida di dalam mulut, vagina atau kerongkongan,
biasanya merupakan infeksi yang pertama muncul.
Infeksi jamur vagina berulang yang sulit diobati seringkali merupakan gejala dini HIV
pada wanita. Tapi infeksi seperti ini juga bisa terjadi pada wanita sehat akibat berbagai
faktor seperti pil KB, antibiotik dan perubahan hormonal.
2. Pneumonia pneumokistik.
Pneumonia karena jamur Pneumocystis carinii merupakan infeksi oportunistik yang
sering berulang pada penderita AIDS.
Infeksi ini seringkali merupakan infeksi oportunistik serius yang pertama kali muncul dan
sebelum ditemukan cara pengobatan dan pencegahannya, merupakan penyebab tersering
dari kematian pada penderita infeksi HIV
3. Toksoplasmosis.
Infeksi kronis oleh Toxoplasma sering terjadi sejak masa kanak-kanak, tapi gejala hanya
timbul pada sekelompok kecil penderita AIDS.
Jika terjadi pengaktivan kembali, maka Toxoplasma bisa menyebabkan infeksi hebat,
terutama di otak.
4. Tuberkulosis.
Tuberkulosis pada penderita infeksi HIV, lebih sering terjadi dan bersifat lebih
mematikan.
Mikobakterium jenis lain yaitu Mycobacterium avium, merupakan penyebab dari
timbulnya demam, penurunan berat badan dan diare pada penderita tuberkulosa stadium
lanjut.
Tuberkulosis bisa diobati dan dicegah dengan obat-obat anti tuberkulosa yang biasa
digunakan.
5. Infeksi saluran pencernaan.
Infeksi saluran pencernaan oleh parasit Cryptosporidium sering ditemukan pada penderita
AIDS. Parasit ini mungkin didapat dari makanan atau air yang tercemar.
Gejalanya berupa diare hebat, nyeri perut dan penurunan berat badan.
6. Leukoensefalopati multifokal progresif.
Leukoensefalopati multifokal progresif merupakan suatu infeksi virus di otak yang bisa
mempengaruhi fungsi neurologis penderita.
Gejala awal biasanya berupa hilangnya kekuatan lengan atau tungkai dan hilangnya
koordinasi atau keseimbangan.
Dalam beberapa hari atau minggu, penderita tidak mampu berjalan dan berdiri dan
biasanya beberapa bulan kemudian penderita akan meninggal.
7. Infeksi oleh sitomegalovirus.
Infeksi ulangan cenderung terjadi pada stadium lanjut dan seringkali menyerang retina
mata, menyebabkan kebutaan.
Pengobatan dengan obat anti-virus bisa mengendalikan sitomegalovirus.
8. Sarkoma Kaposi.
Sarkoma Kaposi adalah suatu tumor yang tidak nyeri, berwarna merah sampai ungu,
berupa bercak-bercak yang menonjol di kulit.
Tumor ini terutama sering ditemukan pada pria homoseksual.
9. Kanker.
Bisa juga terjadi kanker kelenjar getah bening (limfoma) yang mula-mula muncul di otak
atau organ-organ dalam.
Wanita penderita AIDS cenderung terkena kanker serviks.
Pria homoseksual juga mudah terkena kanker rektum.


DIAGNOSA
Pemeriksaan yang relatif sederhana dan akurat adalah pemeriksaan darah yang disebut tes
ELISA.
Dengan pemeriksaan ini dapat dideteksi adanya antibodi terhadap HIV, hasil tes secara rutin
diperkuat dengan tes yang lebih akurat.
Ada suatu periode (beberapa minggu atau lebih setelah terinfeksi HI) dimana antibodi belum
positif. Pada periode ini dilakukan pemeriksaan yang sangat sensitif untuk mendeteksi virus,
yaitu antigen P24 .
Antigen P24 belakangan ini digunakan untuk menyaringan darah yang disumbangkan untuk
keperluan transfusi.
Jika hasil tes ELISA menunjukkan adanya infeksi HIV, maka pada contoh darah yang sama
dilakukan tes ELISA ulangan untuk memastikannya.
Jika hasil tes ELISA yang kedua juga positif, maka langkah berikutnya adalah memperkuat
diagnosis dengan tes darah yang lebih akurat dan lebih mahal, yaitu tes apusan Western. Tes ini
juga bisam enentukan adanya antibodi terhadap HIV, tetapi lebih spesifik daripada ELISA. Jika
hasil tes Western juga positif, maka dapat dipastikan orang tersebut terinfeksi HIV.
PENGOBATAN
Pada saat ini sudah banyak obat yang bisa digunakan untuk menangani infeksi HIV:
1. Nucleoside reverse transcriptase inhibitor
- AZT (zidovudin)
- ddI (didanosin)
- ddC (zalsitabin)
- d4T (stavudin)
- 3TC (lamivudin)
- Abakavir
2. Non-nucleoside reverse transcriptase inhibitor
- Nevirapin
- Delavirdin
- Efavirenz
3. Protease inhibitor
- Saquinavir
- Ritonavir
- Indinavir
- Nelfinavir.
Semua obat-obatan tersebut ditujukan untuk mencegah reproduksi virus sehingga memperlambat
progresivitas penyakit.
HIV akan segera membentuk resistensi terhadap obat-obatan tersebut bila digunakan secara
tunggal. Pengobatan paling efektif adalah kombinasi antara 2 obat atau lebih, Kombinasi obat
bisa memperlambat timbulnya AIDS pada penderita HIV positif dan memperpanjang harapan
hidup.
Dokter kadang sulit menentukan kapan dimulainya pemberian obat-obatan ini. Tapi penderita
dengan kadar virus yang tinggi dalam darah harus segera diobati walaupun kadar CD4+nya
masih tinggi dan penderita tidak menunjukkan gejala apapun.
AZT, ddI, d4T dan ddC menyebabkan efek samping seperti nyeri abdomen, mual dan sakit
kepala (terutama AZT).
Penggunaan AZT terus menerus bisa merusak sumsum tulang dan menyebabkan anemia.
ddI, ddC dan d4T bisa merusak saraf-saraf perifer. ddI bisa merusak pankreas.
Dalam kelompok nucleoside, 3TC tampaknya mempunyai efek samping yang paling ringan.
Ketiga protease inhibitor menyebabkan efek samping mual dan muntah, diare dan gangguan
perut.
Indinavir menyebabkan kenaikan ringan kadar enzim hati, bersifat reversibel dan tidak
menimbulkan gejala, juga menyebabkan nyeri punggung hebat (kolik renalis) yang serupa
dengan nyeri yang ditimbulkan batu ginjal.
Ritonavir dengan pengaruhnya pada hati menyebabkan naik atau turunnya kadar obat lain dalam
darah.
Kelompok protease inhibitor banyak menyebabkan perubahan metabolisme tubuh seperti
peningkatan kadar gula darah dan kadar lemak, serta perubahan distribusi lemak tubuh (protease
paunch).
Penderita AIDS diberi obat-obatan untuk mencegah infeksi ooportunistik.
Penderita dengan kadar limfosit CD4+ kurang dari 200 sel/mL darah mendapatkan kombinasi
trimetoprim dan sulfametoksazol untuk mencegah pneumonia pneumokistik dan infeksi
toksoplasma ke otak.
Penderita dengan limfosit CD4+ kurang dari 100 sel/mL darah mendapatkan azitromisin
seminggu sekali atau klaritromisin atau rifabutin setiap hari untuk mencegah infeksi
Mycobacterium avium.
Penderita yang bisa sembuh dari meningitis kriptokokal atau terinfeksi candida mendapatkan
flukonazol jangka panjang.
Penderita dengan infeksi herpes simpleks berulang mungkin memerlukan pengobatan asiklovir
jangka panjang.
PROGNOSIS
Pemaparan terhadap HIV tidak selalu mengakibatkan penularan, beberapa orang yang terpapar
HIV selama bertahun-tahun bisa tidak terinfeksi. Di sisi lain seseorang yang terinfeksi bisa tidak
menampakkan gejala selama lebih dari 10 tahun.
Tanpa pengobatan, infeksi HIV mempunyai resiko 1-2 % untuk menjdi AIDS pada beberapa
tahun pertama. Resiko ini meningkat 5% pada setiap tahun berikutnya.
Resiko terkena AIDS dalam 10-11 tahun setelah terinfeksi HIV mencapai 50%.
Sebelum diketemukan obat-obat terbaru, pada akhirnya semua kasus akan menjadi AIDS.
Pengobatan AIDS telah berhasil menurunkan angka infeksi oportunistik dan meningkatkan
angka harapan hidup penderita.
Kombinasi beberapa jenis obat berhasil menurunkan jumlah virus dalam darah sampai tidak
dapat terdeteksi. Tapi belum ada penderita yang terbukti sembuh.
Teknik penghitungan jumlah virus HIV (plasma RNA) dalam darah seperti polymerase chain
reaction (PCR) dan branched deoxyribonucleid acid (bDNA) test membantu dokter untuk
memonitor efek pengobatan dan membantu penilaian prognosis penderita.
Kadar virus ini akan bervariasi mulai kurang dari beberapa ratus sampai lebih dari sejuta virus
RNA/mL plasma.
Pada awal penemuan virus HIV, penderita segera mengalami penurunan kualitas hidupnya
setelah dirawat di rumah sakit. Hampir semua penderita akan meninggal dalam 2 tahun setelah
terjangkit AIDS.
Dengan perkembangan obat-obat anti virus terbaru dan metode-metode pengobatan dan
pencegahan infeksi oportunistik yang terus diperbarui, penderita bisa mempertahankan
kemampuan fisik dan mentalnya sampai bertahun-tahun setelah terkena AIDS. Sehingga pada
saat ini bisa dikatakan bahwa AIDS sudah bisa ditangani walaupun belum bisa disembuhkan.
PENCEGAHAN
Program pencegahan penyebaran HIV dipusatkan terutama pada pendidikan masyarakat
mengenai cara penularan HIV, dengan tujuan merubah kebiasaan orang-orang yang beresiko
tinggi untuk tertular.
Cara-cara pencegahan ini adalah:
1. Untuk orang sehat
- Abstinens (tidak melakukan hubungan seksual)
- Seks aman (terlindung)
2. Untuk penderita HIV positif
- Abstinens
- Seks aman
- Tidak mendonorkan darah atau organ
- Mencegah kehamilan
- Memberitahu mitra seksualnya sebelum dan sesudah diketahui terinfeksi
3. Untuk penyalahguna obat-obatan
- Menghentikan penggunaan suntikan bekas atau bersama-sama
- Mengikuti program rehabilitasi
4. Untuk profesional kesehatan
- Menggunakan sarung tangan lateks pada setiap kontak dengan cairan tubuh
- Menggunakan jarum sekali pakai
Bermacam-macam vaksin sudah dicoba untuk mencegah dan memperlambat progresivitas
penyakit, tapi sejauh ini belum ada yang berhasil.
Rumah sakit biasanya tidak mengisolasi penderita HIV kecuali penderita mengidap penyakit
menular seperti tuberkulosa.
Permukaan-permukaan yang terkontaminasi HIV dengan mudah bisa dibersihkan dan
disucihamakan karena virus ini rusak oleh panas dan cairan desinfektan yang biasa digunakan
seperti hidrogen peroksida dan alkohol.





















Jenis-jenis Pemeriksaan HIV/AIDS
Catatan Kesehatan
HIV/AIDS termasuk jajaran penyakit yang mempunyai tingkat penularan yang sangat tinggi. Hal
ini terjadi karena seringkali seseorang tidak menyadari bahwa dirinya telah terinfeksi HIV,
sehingga menjadi sumber penularan bagi orang lain.
Seseorang terkena HIV biasanya diketahui jika telah terjadi Sindrom Defisiensi Imun Dapatan
(AIDS) yang ditandai antara lain penurunan berat badan, diare berkepanjangan, Sarkoma Kaposi,
dan beberapa gejala lainnya.
Berkembangnya teknologi pemeriksaan saat ini mengijinkan kita untuk mendeteksi HIV lebih
dini. Beberapa pemeriksaan tersebut antara lain adalah :
ELISA
ELISA (Enzym-Linked Immunosorbent Assay), tes ini mendeteksi antibodi yang dibuat tubuh
terhadap virus HIV. Antibodi tersebut biasanya diproduksi mulai minggu ke 2, atau bahkan
setelah minggu ke 12 setelah terpapar virus HIV. Kerena alasan inilah maka para ahli
menganjurkan pemeriksaan ELISA dilakukan setelah minggu ke 12 sesudah melakukan aktivitas
seksual berisiko tinggi atau tertusuk jarum suntik yang terkontaminasi.
Tes ELISA dapat dilakukan dengan sampel darah vena, air liur, atau air kencing.
Saat ini telah tersedia Tes HIV Cepat (Rapid HIV Test). Pemeriksaan ini sangat mirip dengan
ELISA. Ada dua macam cara yaitu menggunakan sampel darah jari dan air liur.
Hasil positif pada ELISA belum memastikan bahwa orang yang diperiksa telah terinfeksi HIV.
Masih diperlukan pemeriksaan lain, yaitu Western Blot atau IFA, untuk mengkonfirmasi hasil
pemeriksaan ELISA ini. Jadi walaupun ELISA menunjukkan hasil positif, masih ada dua
kemungkinan, orang tersebut sebenarnya tidak terinfeksi HIV atau betul-betul telah terinfeksi
HIV.
Western Blot
Sama halnya dengan ELISA, Western Blot juga mendeteksi antibodi terhadap HIV. Western blot
menjadi tes konfirmasi bagi ELISA karena pemeriksaan ini lebih sensitif dan lebih spesifik,
sehingga kasus 'yang tidak dapat disimpulkan' sangat kecil. Walaupun demikian, pemeriksaan ini
lebih sulit dan butuh keahlian lebih dalam melakukannya.
IFA
IFA atau indirect fluorescent antibody juga meurupakan pemeriksaan konfirmasi ELISA positif.
Seperti halnya dua pemeriksaan diatas, IFA juga mendeteksi antibodi terhadap HIV. Salah satu
kekurangan dari pemeriksaan ini adalah biayanya sangat mahal.
PCR Test
PCR atau polymerase chain reaction adalah uji yang memeriksa langsung keberadaan virus HIV
di dalam darah. Tes ini dapat dilakukan lebih cepat yaitu sekitar seminggu setelah terpapar virus
HIV. Tes ini sangat mahal dan memerlukan alat yang canggih. Oleh karena itu, biasanya hanya
dilakukan jika uji antibodi diatas tidak memberikan hasil yang pasti. Selain itu, PCR test juga
dilakukan secara rutin untuk uji penapisan (screening test) darah atau organ yang akan
didonorkan.




Teknologi uji virologi masih dianggap mahal dan kompleks untuk negara berkembang. Real time
PCR(RT-PCR) mampu mendeteksi RNA dan DNA HIV, dan saat ini sudah dipasarkan dengan
harga yang jauh lebih murah dari sebelumnya. Assay ICD p24 yang sudah dikembangkan hingga
generasi keempat masih dapat dipergunakan secara terbatas. Evaluasi dan pemantauan kualitas
uji laboratorium harus terus dilakukan untuk kepastian program. Selain sampel darah lengkap
(whole blood) yang sulit diambil pada bayi kecil, saat ini juga telah dikembangkan di negara
tertentu penggunaan dried blood spots (DBS) pada kertas saring tertentu untuk uji DNA maupun
RNA HIV. Tetapi uji ini belum dipergunakan secara luas, masih terbatas pada penelitian.
Meskipun uji deteksi antibodi tidak dapat digunakan untuk menegakkan diagnosis definitif HIV
pada anak yang berumur kurang dari 18 bulan, antibodi HIV dapat digunakan untuk
mengeksklusi infeksi HIV, paling dini pada usia 9 sampai 12 bulan pada bayi yang tidak
mendapat ASI atau yang sudah dihentikan pemberian ASI sekurang-kurangnya 6 minggu
sebelum dilakukannya uji antibodi. Dasarnya adalah antibodi maternal akan sudah menghilang
dari tubuh anak pada usia 12 bulan.
Pada anak yang berumur lebih dari 18 bulan uji antibodi termasuk uji cepat (rapid test) dapat
digunakan untuk mendiagnosis infeksi HIV sama seperti orang dewasa.
Pemeriksaan laboratorium lain bersifat melengkapi informasi dan membantu dalam penentuan
stadium serta pemilihan obat ARV. Pada pemeriksaan darah tepi dapat dijumpai anemia,
leukositopenia, limfopenia, dan trombositopenia. Hal ini dapat disebabkan oleh efek langsung
HIV pada sel asal, adanya pembentukan autoantibodi terhadap sel asal, atau akibat infeksi
oportunistik.
Jumlah limfosit CD4 menurun dan CD8 meningkat sehingga rasio CD4/CD8 menurun. Fungsi
sel T menurun, dapat dilihat dari menurunnya respons proliferatif sel T terhadap antigen atau
mitogen. Secara in vivo, menurunnya fungsi sel T ini dapat pula dilihat dari adanya anergi kulit
terhadap antigen yang menimbulkan hipersensitivitas tipe lambat. Kadar imunoglobulin
meningkat secara poliklonal. Tetapi meskipun terdapat hipergamaglobulinemia, respons antibodi
spesifik terhadap antigen baru, seperti respons terhadap vaksinasi difteri, tetanus, atau hepatitis B
menurun.
Pemeriksaan Lab Virus HIV AIDS
Tujuan :
Untuk mengetahui cara pemeriksaan immunologi pada infeksi virus HIV AIDS

Dasar :
AIDS adalah kumpulan gejala atau penyakit yang disebakan oleh menurunnya kekebalan
tubuh akibat infeksi oleh virus HIV yang termasuk family retroviridae. AIDS merupakan tahap
akhir dari infeksi HIV.

Etiologi
1. Virus HIV yang termasuk golongan Retro Virus.
2. Mula-mula dikenal sebagai LAV (Lymhadenopaty Associated Virus), kemudian dikenal sebagai
HTLH-III (Human T Cell Lymphotropic Virus Tipe III) dan akhirnya disebut sebagai Human
Immunodeficiency Virus (HIV) dan mempunyai dua tipe yaitu : HIV tipe 1 dan tipe2.

Patogenesis
- Limfosit CD4 + merupakan target utama infeksi virus HIV
- Limfosit CD4+ ini berfungsi mengkoordinasi sejumlah fungsi imunologis yg penting
- Hilangnya fungsi ini menyebabkan gangguan respons imun yg progresif

Manifestasi klinis menurut WHO
Stadium I
- Asimptomatik
- Persistent generalized lymphadenopathy
- Skala aktivitas I: asimtomatik, kegiatan normal
Stadium II
- Berat badan <10 %
- Manifestasi mukokutan ringan (dermatis seboroik, infeksi jamur pada kuku, sariawan berulang,
kelitis angularis)
- Herpes zoster dalam 5 tahun terakhir
- ISPA berulang
- Skala aktivitas 2 : simptomatik, kegiatan normal
Stadium III
- Berat badan >10 %
- Diare >1 bulan
- Demam >1 bulan
- Kandidiasi oral
- Tuberculosis paru dalam 1 tahun terakhir
- Infeksi bakterialis yang berat (pneumonia,piomiositis)
- Skala aktivitas 3 : baring di tempat tidur <50% selama bulan lalu

Tes HIV
Tes serologik untuk mendeteksi anti-HIV dapat dikelompokkan menjadi tes saring dan tes
konfirmasi. Yang termasuk tes saring yaitu; tes EIA/Elisa, dan tes rapid/sederhana , tes
konfirmasi yaitu; western blot, IFA. Setelah tes saring dapat diidentifikasi spesimen yang
kemungkinan mengandung anti-HIV, sedangkan setelah tes konfirmasi dapat diketahui bahwa
spesimen yang reaktif pada tes penyaring mengandung antibodi spesifk terhadap HIV.
Prinsip pada pemeriksaan ini, yang diperiksa adalah antibodi HIV. Alasannya karena ada bakteri/
virus tertentu yang masa pembentukan antigennya sangat cepat. Saat antigen tiba, penderita
belum merasa sakit/ asimptomatik. Dengan adanya antibodi maka menunjukkan seseorang
terserang sakit. Warna garis terbentuk karena adanya ikatan antara antigen-antibodi.


Hasil tes:

- Jika pada garis control terbentuk garis kontrol (C) dan terbentuk di garis HIV 1 atau HIV 2
Hasil positif.

- Jika pada garis control terbentuk garis kontrol (C) dan tidak terbentuk di garis HIV 1 atau HIV 2
Hasil negatif.

- Jika tidak terbentuk garis pada garis kontrol (C) tetapi terbentuk di garis HIV 1 atau HIV 2
Hasil Invalid















Pengobatan AIDS



inShare

Oleh Dr Ananya Mandal, MD
Menyebabkan infeksi dengan Human Immunodeficiency virus atau HIV AIDS (Acquired
immunodeficiency syndrome) yang kebanyakan fatal dan tidak dapat disembuhkan. AIDS terjadi
pada tahap berikutnya dalam penyakit.
Saat ini, pasien positif HIV dikelola dengan obat antiretroviral yang mencegah replikasi virus
dalam tubuh dan menunda onset AIDS. Selain itu, infeksi oportunistik di AIDS dapat dicegah
dengan menggunakan obat-obatan yang ditargetkan terhadap organisme dan kanker.
Sejarah pengobatan HIV
Pada awalnya di akhir 1980-an, monotherapy dengan AZT adalah terapi hanya anti retroviral
(ARV). Pada tahun 1996, obat-obatan lebih muncul melawan HIV dan kombinasi terapi menjadi
lebih banyak digunakan. Terapi sangat aktif kombinasi ini sekarang dikenal sebagai sangat aktif
terapi anti retroviral (HAART).
Obat kelas
ARV terutama bertindak atas enzim yang disebut reverse transcriptase. Enzim ini membantu
dalam perkalian partikel virus. Obat menghambat enzim ini dan mencegah replikasi virus. Ada
empat utama kelas obat yang digunakan sebagai agen anti retroviral:
1. Nukleosida reverse transcriptase inhibitor (NRTI)
2. Bebas-nucleoside reverse transcriptase inhibitor (NNRTIs)
3. Protease inhibitor
4. Ribonucleotide reduktase inhibitor
Obat-obatan, bersama dengan mereka kemungkinan efek samping, ditunjukkan dalam tabel di
bawah ini:
Obat Kategori Obat Hame Toksisitas
Nukleosida reverse
transcriptase inhibitor
(NRTI)
AZT (AZT)
Hepatic steatosis, asidosis, miopati,
cardiomyopathy, dyshaemopoiesis (anemia,
macrocytosis, neutropaenia)
Didanosien (ddI),
Stavudine (d4T)
Hepatic steatosis, laktat acidosi, pankreatitis,
miopati, neuropati perifer, dyshaemopoiesis,
gynaecomastia
Lamivudine (3TC) Dyshaemopoiesis
Bebas-Nucleoside reverse
transcriptase inhibitor
(NNRTI)
Nevaripine, Efavirenz
Kulit ruam, Stevens - Johnson sindrom,
hepatitis
Protease inhibitor (PI)
Saquinavir,
Ritonavir, Indinavir,
Nefinavir
Lipodistrofi, hyperglycaemia,
hyperlipidaemia, hepatitis
Ribonucleotide reduktase
inhibitor (RNR)
Hydroxyurea
Penindasan sumsum tulang, bisul mulut,
hepatitis
Manajemen pasien positif HIV
Manajemen pasien positif HIV sesuai dengan pedoman Asosiasi HIV Inggris (BHIVA):
Semua pasien dengan infeksi HIV membutuhkan terapi antiretrovirus jika mereka memiliki
jumlah sel CD4 dari di bawah 350 sel/mm3 atau tanda-tanda keterlibatan sistem saraf. Jika AIDS
yang mendefinisikan kondisi hadir terapi mungkin menunjukkan meskipun tingkat CD4 normal.
Jika sel CD4 penting adalah 351-500 sel mm3 pasien memerlukan perawatan jika mereka
memiliki infeksi Hepatitis B atau C, rendah persentase sel CD4 (kurang dari 14%) dan memiliki
tinggi risiko penyakit jantung.
Orang-orang dengan HIV tahap akhir perlu ARV kecuali dalam kehadiran tuberkulosis ketika
jumlah sel CD4 sel/mm3 lebih dari 350
Bagaimana terapi dimulai dan dipelihara?
Terapi awal adalah dengan tiga obat: efavirenz plus tenofovir atau abacavir, ditambah
lamivudine atau emtricitabine
Pasien membutuhkan vaksinasi terhadap hepatitis B, pneumokokus penyakit dan Haemophilus
influenzae tipe b (dan mungkin influenza dan hepatitis A). Hidup virus atau vaksin organisme
seperti BCG, demam kuning, tipus lisan atau live oral polio imunisasi tidak boleh diberikan
untuk pasien ini.
Orang-orang dengan risiko infeksi oportunistik perlu pencegahan antibiotik antijamur atau agen.
Bagaimana mengelola eksposur kebetulan terhadap infeksi HIV?
Skenario ini umum di antara pekerja kesehatan dan orang-orang yang merawat pasien positif
HIV. Mungkin ada cedera tongkat kebetulan jarum atau paparan HIV terkontaminasi darah atau
cairan tubuh pasien.
Orang-orang yang telah terkena virus dalam 72 jam terakhir (tiga hari) perlu mengambil obat
anti-HIV mungkin mencegah infeksi.
Ini disebut post-exposure prophylaxis atau PEP. PEP harus dimulai dalam waktu 72 jam
kedatangan dengan virus. PEP cepat mulai semakin baik - ideal dalam jam kedatangan dengan
HIV.
PEP adalah pengobatan sebulan dengan kombinasi obat antiretrovirus, yang memiliki efek
samping yang serius dan tidak menjamin perlindungan mutlak.
Infeksi HIV di kehamilan
Anti retroviral obat-obatan yang diberikan untuk hamil dengan HIV membantu mencegah infeksi
menyampaikan kepada anak. Tanpa perawatan, ada satu dari empat kesempatan bahwa bayi akan
mengembangkan infeksi. Dengan pengobatan, risiko adalah kurang dari dalam seratus.
Menyusui tidak dianjurkan pada wanita dengan HIV karena virus dapat menginfeksi bayi melalui
ASI.
Pasien yang ingin hamil melalui buatan teknik kebutuhan langkah-langkah khusus seperti sperma
cuci dll untuk mencegah infeksi di dalam Bapa dari lewat pada ibu dan bayi.
Vaksin HIV
Upaya berada di tempat untuk mengembangkan vaksin terhadap infeksi ini. Namun, sampai saat
ini ada adalah tidak disetujui vaksin melawan infeksi karena virus HIV 1 membentuk merupakan
target yang sulit yang mungkin mengembangkan vaksin.
Ditinjau oleh April Cashin-Garbutt, BA Hons (Cantab)





erdapat 2 jenis virus penyebab AIDS,V yaitu HIV-1, HIV-2, HIV yang banyak ditemukan di
daerah Barat, Eropa, Afriaka Tengah, Selatan, dan Timur. Sedangkan HIV-2 banyak di temukan
di Afrika Barat.



AIDS merupakan bentuk terparah atas akibat infeksi HIV. HIV adalah retrovirus yang biasanya
menyerang organ-organ vital sistem kekebalan manusia, seperti sel T CD4+ (sejenis sel T),
makrofaga, dan sel dendritik. HIV merusak sel T CD4+ secara langsung dan tidak langsung,
padahal sel T CD4+ dibutuhkan agar sistem kekebalan tubuh dapat berfungsi baik. Bila HIV
telah membunuh sel T CD4+ hingga jumlahnya menyusut hingga kurang dari 200 per mikroliter
darah, maka kekebalan di tingkat sel akan hilang, dan akibatnya ialah kondisi yang disebut
AIDS. Infeksi akut HIV akan berlanjut menjadi infeksi laten klinis, kemudian timbul gejala
infeksi HIV awal, dan akhirnya AIDS; yang diidentifikasi dengan memeriksa jumlah sel T CD4+
di dalam darah serta adanya infeksi tertentu.

Tanpa terapi antiretrovirus, rata-rata lamanya perkembangan infeksi HIV menjadi AIDS ialah
sembilan sampai sepuluh tahun, dan rata-rata waktu hidup setelah mengalami AIDS hanya
sekitar 9,2 bulan.

Namun demikian, laju perkembangan penyakit ini pada setiap orang sangat bervariasi, yaitu dari
dua minggu sampai 20 tahun. Banyak faktor yang mempengaruhinya, diantaranya ialah kekuatan
tubuh untuk bertahan melawan HIV (seperti fungsi kekebalan tubuh) dari orang yang
terinfeksi.Orang tua umumnya memiliki kekebalan yang lebih lemah daripada orang yang lebih
muda, sehingga lebih berisiko mengalami perkembangan penyakit yang pesat. Akses yang
kurang terhadap perawatan kesehatan dan adanya infeksi lainnya seperti tuberkulosis, juga dapat
mempercepat perkembangan penyakit ini. Warisan genetik orang yang terinfeksi juga
memainkan peran penting. Sejumlah orang kebal secara alami terhadap beberapa varian HIV.

HIV memiliki beberapa variasi genetik dan berbagai bentuk yang berbeda, yang akan
menyebabkan laju perkembangan penyakit klinis yang berbeda-beda pula. Terapi antiretrovirus
yang sangat aktif akan dapat memperpanjang rata-rata waktu berkembangannya AIDS, serta rata-
rata waktu kemampuan penderita bertahan hidup.

enis HIV virus
Virus perubahan sangat cepat dan dengan mudah dapat menghindari banyak tubuh ' s sistem
pertahanan.
Ada dua jenis HIV; mereka HIV-1 dan HIV-2 dan mereka mempunyai banyak subtipe.
HIV-1 adalah penyebab pandemi di seluruh dunia saat ini sementara HIV-2 ditemukan di Afrika
Barat tetapi jarang di tempat lain.
HIV-2, yang ditransmisikan dalam cara yang sama sebagai HIV-1, menyebabkan AIDS jauh
lebih lambat dari HIV-1. HIV-1 dihasilkan dari infeksi manusia oleh SIVcpz yang menginfeksi
simpanse dan HIV-2 menghasilkan dari infeksi oleh SIVsmm memendam oleh mangabeys kotor.
HIV-2 berkaitan erat SIV ditemukan di Afrika Barat.
Strain HIV-1 dapat diklasifikasikan menjadi empat kelompok: "utama" kelompok M, grup
"outlier" O dan dua kelompok-kelompok baru, N dan P. Kelompok-kelompok empat ini mungkin
mewakili empat terpisah perkenalan simian immunodeficiency virus ke manusia.
Ini, kelompok O tampaknya terbatas Afrika Tengah-Barat dan grup N jarang.
Lebih dari 90 persen dari infeksi HIV-1 milik kelompok HIV-1 M. Dalam kelompok M ada
diketahui setidaknya sembilan berbeda secara genetik subtipe (atau clades) dari HIV-1. Ini
adalah subtipe A, B, C, D, F, G, H, J, dan K.
Kadang-kadang, dua virus subtipe yang berbeda dapat bertemu di dalam sel orang yang
terinfeksi dan aduk materi genetik mereka untuk menciptakan virus baru hibrida. Banyak dari
galur baru ini tidak bertahan lama. Ini adalah disebut "beredar rekombinan bentuk" atau CRFs.
Sebagai contoh, CRF A / B adalah campuran subtipe A dan B.









PENDAHULUAN
Imunitas atau kekebalan adalah sistem mekanisme pada organisme yang melindungi tubuh
terhadap pengaruh biologis luar dengan mengindentifikasi dan membunuh patogen serta sel
tumor. Sistem ini mendeteksi berbagai macam pengaruh biologis luar yang luas, organisme akan
melindungi tubuh dari infeksi, bakteri, virus sampai cacing parasit. Serta menghancurkan zat-zat
asing lain dan memusnahkan mereka dari sel organisme yang sehat dari jaringan agar tetap dapat
berfungsi seperti biasa.
Sistem Imun adalah struktur epektif yang menggabungkan spesifisitas dan adaptasi.
Kegagalan pertahanan dapat muncul, dan jatuh pada 3 kategori yaitu: Defisiensi Imun,
autoimunitas dan Hipersensitivitas.

II. PERMASALAHAN
A. Apa Pengertian Penyakit Defisiensi Imun?
B. Apa saja Macam-macam Penyakit Defisiensi Imun?

III. PEMBAHASAN
A. Pengertian Penyakit Defisiensi Imun
Defisiensi imun ialah fungsi system imun yang meurun atau tidak berfungsi dengan baik.
Secara garis besar defisiensi imun dibagi menjadi dua golongan, yaitu defisiensi kongenital dan
defisiensi imun dapatan. 1[1]
Difesiensi imun congenital atau defisiensi imun primer disebabkan oleh kelainan respon
imun bawaan yang dapat berupa kelainan dari system fagosit dan komplemen atau kelainan
dalam deferensiasi fungsi limfosit. Sedangkan Defisiensi imun dapatan disebabkan oleh berbagai
faktor antara lain infeksi virus yang dapat merusak sel limfosit, malnutrisi, penggunaan obat-obat



sitotoksik dan kortikosteroid, serta akibat penyakit kanker seperti pengakit Hodgkin, leukemia,
myeloma, limfositik kronik dal lain-lain.2[2]
Penyakit defisiensi imun adalah sekumpulan aneka penyakit yang karena memiliki satu atau
lebih ketidaknormalan sistem imun, dimana kerentanan terhadap infeksi meningkat. Defisiensi
imun primer tidak berhubungan dengan penyakit lain yang mengganggu sistem imun, dan
banyak yang merupakan akibat kelainan genetik dengan pola bawaan khusus. Defisiensi imun
sekunder terjadi sebagai akibat dari penyakit lain, umur, trauma, atau pengobatan.3[3]
B. Macam-macam Penyakit Defisiensi Imun
Secara garis besar ada dua macam penyakit defisiensi imun yaitu:
1. Penyakit defisiensi imun kongenital atau primer
Penyakit defisiensi imun Kongenital dibagi menjadi lima yaitu:
a. Penyakit dimana terdapat kadar antibodi yang rendah
Ada empat macam penyakit defisiensi imun karena kadar antibody yang rendah yaitu:
1) Common Variable Immunodefisiensi
Merupakan Immunodefisiensi yang berubah-ubah terjadi pada pria dan wanita pada usia
berapapun, tetapi biasanya baru muncul pada usia 10-20 tahun. Penyakit ini terjadi akibat sangat
rendahnya kadar antibodi meskipun jumlah limfosit Bnya normal. Pada beberapa penderita
limfosit T berfungsi secara normal, sedangkan pada penderita lainnya tidak.
Sering terjadi penyakit autoimun, seperti penyakit Addison, tiroiditis dan artritis rematoid.
Biasanya terjadi diare dan makanan pada saluran pencernaan tidak diserap dengan baik. Suntikan
atau infus immunoglobulin diberikan selama hidup penderita. Jika terjadi infeksi diberikan
antibiotik.

2) Kekurangan antibody selektif





Pada penyakit ini, kadar antibodi total adalah normal, tetapi terdapat kekurangan antibodi
jenis tertentu. Yang paling sering terjadi adalah kekurangan IgA. Kadang kekurangan IgA
sifatnya diturunkan, tetapi penyakit ini lebih sering terjadi tanpa penyebab yang jelas. Penyakit
ini juga bisa timbul akibat pemakaian fenitoin (obat anti kejang).
Sebagian besar penderita kekurangan IgA tidak mengalami gangguan atau hanya mengalami
gangguan ringan, tetapi penderita lainnya bisa mengalami infeksi pernafasan menahun dan
alergi. Jika diberikan transfusi darah, plasma atau immunoglobulin yang mengandung IgA,
beberapa penderita menghasilkan antibodi anti-IgA, yang bisa menyebabkan reaksi alergi yang
hebat ketika mereka menerima plasma atau immunoglobulin berikutnya. Biasanya tidak ada
pengobatan untuk kekurangan IgA. Antibiotik diberikan pada mereka yang mengalami infeksi
berulang. .4[4]
3) Hippogammaglobulin sementara pada bayi
Pada penyakit ini, bayi memiliki kadar antibodi yang rendah, yang mulai terjadi pada usia 3-6
bulan. Keadaan ini lebih sering ditemukan pada bayi-bayi yang lahir prematur karena selama
dalam kandungan, mereka menerima antibodi ibunya dalam jumlah yang lebih sedikit. Beberapa
bayi (terutama bayi prematur) sering mengalami infeksi. Penyakit ini tidak diturunkan, dan
menyerang anak laki-laki dan anak perempuan. Sebagian bayi mampu membuat antibodi dan
tidak memiliki masalah dengan infeksi, sehingga tidak diperlukan pengobatan. Pemberian
immunoglobulin sangat efektif untuk mencegah dan membantu mengobati infeksi. Biasanya
diberikan selama 3-6 bulan jika perlu, bisa diberikan antibiotik
4) Agammaglobulinemia X-linked
Agammaglobulinemia X-linked (agammaglobulinemia Bruton) hanya menyerang anak laki-
laki dan merupakan akibat dari penurunan jumlah atau tidak adanya limfosit B serta sangat
rendahnya kadar antibodi karena terdapat kelainan pada kromosom X.
Bayi akan menderita infeksi paru-paru, sinus dan tulang, biasanya karena bakteri (misalnya
Hemophilus dan Streptococcus) dan bisa terjadi infeksi virus yang tidak biasa di otak.
Tetapi infeksi biasanya baru terjadi setelah usia 6 bulan karena sebelumnya bayi memiliki
antibodi perlindungan di dalam darahnya yang berasal dari ibunya.Jika tidak mendapatkan



vaksinasi polio, anak-anak bisa menderita polio. Mereka juga bisa menderita artritis. Anak laki-
laki penderita agammaglobulinemia X-linked banyak yang menderita infeksi sinus dan paru-paru
menahun dan cenderung menderita kanker.
Suntikan atau infus immunoglobulin diberikan selama hidup penderita agar penderita
memiliki antibodi sehingga bisa membantu mencegah infeksi. Jika terjadi infeksi bakteri
diberikan antibiotik.5[5]
b. Penyakit dimana terjadi gangguan fungsi sel darah putih
Dibagi menjadi dua yaitu karena kelainan limfosit T dan kelainan limfosit T dan B.
1) Kelainan limfosit T
(a) Kandidiasis mukokotaneus kronis
Kandidiasi mukokutaneus kronis terjadi akibat buruknya fungsi sel darah putih, yang
menyebabkan terjadinya infeksi jamur Candida yang menetap pada bayi atau dewasa muda.
Jamur bisa menyebabkan infeksi mulut (thrush), infeksi pada kulit kepala, kulit dan kuku.
Penyakit ini agak lebih sering ditemukan pada anak perempuan dan beratnya bervariasi.
Beberapa penderita mengalami hepatitis dan penyakit paru-paru menahun. Penderita lainnya
memiliki kelainan endokrin (seperti hipoparatiroidisme). Infeksi internal oleh Candida jarang
terjadi.
Biasanya infeksi bisa diobati dengan obat anti-jamur nistatin atau klotrimazol. Infeksi yang
lebih berat memerlukan obat anti-jamur yang lebih kuat (misalnya ketokonazol per-oral atau
amfoterisin B intravena). Kadang dilakukan pencangkokan sumsum tulang.6[6]
(b) Anomali DiGeorge
Anomali DiGeorge terjadi akibat adanya kelainan pada perkembangan janin. Keadaan ini
tidak diturunkan dan bisa menyerang anak laki-laki maupun anak perempuan. Anak-anak tidak
memiliki kelenjar thymus, yang merupakan kelenjar yang penting untuk perkembangan limfosit
T yang normal.





Kadang kelainannya bersifat parsial dan fungsi limfosit T akan membaik dengan sendirinya.
Anak-anak memiliki kelainan jantung dan gambaran wajah yang tidak biasa (telinganya lebih
renadh, tulang rahangnya kecil dan menonjol serta jarak antara kedua matanya lebih lebar).
Penderita juga tidak memiliki kelenjar paratiroid, sehingga kadar kalium darahnya rendah dan
segera setelah lahir seringkali mengalami kejang.
Jika keadaannya sangat berat, dilakukan pencangkokan sumsum tulang. Bisa juga dilakukan
pencangkokan kelenjar thymus dari janin atau bayi baru lahir (janin yang mengalami
keguguran). Kadang kelainan jantungnya lebih berat daripada kelainan kekebalan sehingga perlu
dilakukan pembedahan jantung untuk mencegah gagal jantung yang berat dan kematian. Juga
dilakukan tindakan untuk mengatasi rendahnya kadar kalsium dalam darah.7[7]
2) Kelainan limfosit T dan B
(a) Ataksia-telangiektasia
Ataksia-telangiektasia adalah suatu penyakit keturunan yang menyerang sistem kekebalan
dan sistem saraf. Kelainan pada serebelum (bagian otak yang mengendalikan koordinasi)
menyebabkan pergerakan yang tidak terkoordinasi (ataksia). Kelainan pergerakan biasanya
timbul ketika anak sudah mulai berjalan, tetapi bisa juga baru muncul pada usia 4 tahun. Anak
tidak dapat berbicara dengan jelas, otot-ototnya lemah dan kadang terjadi keterbelakangan
mental. Telangiektasi adalah suatu keadaan dimana terjadi pelebaran kapiler (pembuluh darah
yang sangat kecil) di kulit dan mata.Kelainan pada sistem endokrin bisa menyebabkan ukuran
buah zakar yang kecil, kemandulan dan diabetes.
Antibiotik dan suntikan atau infus immunoglobulin bisa membantu mencegah infeksi tetapi
tidak dapat mengatasi kelaianan saraf. Ataksia-telangiektasia biasanya berkembang menjadi
kelemahan otot yang semakin memburuk, kelumpuhan, demensia dan kematian.
(b) Penyakit immunodefisiensi gabungan yang berat
Penyakit immunodefisiensi gabungan yang berat merupakan penyakit immunodefisiensi
yang paling serius. Terjadi kekurangan limfosit B dan antibodi, disertai kekurangan atau tidak
berfungsinya limfosit T, sehingga penderita tidak mampu melawan infeksi secara
adekuat.Sebagian besar bayi akan mengalami pneumonia dan thrush (infeksi jamur di mulut);



diare biasanya baru muncul pada usia 3 bulan. Bisa juga terjadi infeksi yang lebih serius, seperti
pneumonia pneumokistik.
Jika tidak diobati, biasanya anak akan meninggal pada usia 2 tahun. Antibiotik dan
immunoglobulin bisa membantu, tetapi tidak menyembuhkan. Pengobatan terbaik adalah
pencangkokan sumsum tulang atau darah dari tali pusar.
(c) Sindroma Wiskott-Aldrich
Kelainan pada proses ekspresi antigen oleh makrofag . Ditandai dengan trombositopeniadan
eksim serta kadar IgM yang sangat rendah.
Antibiotik dan infus immunoglobulin bisa membantu penderita, tetapi pengobatan terbaik
adalah dengan pencangkokan sumsum tulang
c. Penyakit dimana terjadi kelainan pada fungsi pembunuh dari sel darah putih.
Ada empat macam penyakit dimana terjadi kelainan pada fungsi pembunuh dari sel darah
putih salah satunya yaitu enyakit granulomatosa kronis. Penyakit ini kebanyakan menyerang
anak laki-laki dan terjadi akibat kelainan pada sel-sel darah putih yang menyebabkan
terganggunya kemampuan mereka untuk membunuh bakteri dan jamur tertentu.
Antibiotik bisa membantu mencegah terjadinya infeksi. Suntikan gamma interferon setiap
minggu bisa menurunkan kejadian infeksi. Pada beberapa kasus, pencangkokan sumsum tulang
berhasi menyembuhkan penyakit ini.8[8]
d. Penyakit dimana terdapat kelainan pergerakan sel darah putih
Ada dua macam penyakit dimana terdapat kelainan pergerakan sel darah putih salah
satunya yaitu Sindroma hiper-IgE (sindroma Job-Buckley). Sindroma hiper-IgE (sindroma Job-
Buckley) adalah suatu penyakit immunodefisiensi yang ditandai dengan sangat tingginya kadar
antibodi IgE dan infeksi bakteri stafilokokus berulang. Infeksi bisa menyerang kulit, paru-paru,
sendi atau organ lainnya. Beberapa penderita menunjukkan gejala-gejala alergi, seperti eksim,
hidung tersumbat dan asma.
Antibiotik diberikan secara terus menerus atau ketika terjadi infeksi stafilokokus. Sebagai
tindakan pencegahan diberikan antibiotik trimetoprim-sulfametoksazol.
e. Penyakit dimana terdapat kelainan pada sistem komplemen



Defisiensi masing- masing komponen komplemen menyebabkan penderita tidak mampu
mengeliminasi kompleks antigen antibody yang terdapat dalam tubuh secara efektif. Defisiensi
komplemen C3 atau C5 dapat menyebabkan gangguan opsosinasi mikroorganisme, disamping
itu terjadi gangguan pelepasan factor kemataksis sehinggs proses fagositosis juga terganggu.
2. Penyakit Defisiensi Imun Dapatan
Defisiensi imun sekunder terjadi sebagai akibat dari penyakit lain, umur, trauma, atau
pengobatan. 9[9]
Beberapa jenis penyakit yang dapat menyebabkan defisiensi imun
Jenis penyakit Sel target
Acquired immine deficiencies syndrome
(AIDS)
Sel T (sel merusak sel Th )
Immunodeficiencies sIgA Sel B dan sel t (rentan terhadap infeksi
pada mukosa)
Reticular disgenesis Sel B, sel T, dan sel induk (defisiensi
sel induk, sel B dan sel T tidak
berkembang)
Severe Combined immunodeficiency Sel B, sel t, dan sel induk (defisiensi
pada sel B dan selT)
Di Geeorge Syndrome Sel T (kelainan pada timus
menyebabkan difesiensi sel T)
Sindroma Wiskott-Aldrich

Sel B dan sel T(ksedikit platelet dalam
darah dan sel T abnormal)
X-Linked agammaglobulinemia Sel B (penurunan produksi
immunoglobulin)

IV. KESIMPULAN
Dari pembahasan dapat disimpulkan:



Penyakit defisiensi imun adalah sekumpulan aneka penyakit yang karena memiliki satu
atau lebih ketidaknormalan sistem imun, dimana kerentanan terhadap infeksi meningkat. Ada
dua macam penyakit defisiensi imun yaitu: penyakit defisiensi imun congenital atau primer dan
penyakit defisiensi imun dapatan atau sekunder
V. PENUTUP
Demikian makalh ini kami buat, dalam pembuatan makalh ini tentunya masih jauh dari
kesempurnaan, karena itu kritik dan saran sangatlah kami harapkan untuk makalah kami
selanjutnya agar dalam pembuatan tugas-tugas yang akan dating kami akan menjadi lebih baik.