Anda di halaman 1dari 19

2.

Ketergantungan Laju Reaksi


Pada Temperatur

 Umumnya laju reaksi meningkat dengan


bertambahnya temperatur, Biasanya, laju reaksi
meningkat secara eksponensial sebanding
dengan kenaikkan temperatur. Kenaikan laju
reaksi ini dapat dijelaskan dengan gerak
molekulnya.
 Dengan kenaikan temperatur gerakan molekul

semakin meningkat, sehingga kemungkinan


terjadinya tabrakan antar molekul juga
meningkat.
 Kenaikan temperatur sebasar 10OC
menyebabkan kenaikan laju reaksi sebesar 2
sampai 3 kali.
 Energi kinetik molekul-molekul tidak sama. Ada yang
besar dan ada yang kecil. Karena itu pada temperatur
tertentu ada molekul-molekul yang bertabrakan secara
efektif dan ada yang bertabrakan secara tidak efektif.
→ ada tabrakan yang menghasilkan reaksi dan ada
tabrakan yang tidak menghasilkan reaksi.
• Menaikkan temperatur berarti menambah energi.
Energi yang diserap oleh molekul-molekul
sehingga energi kinetik molekul menjadi lebih
besar, akibatnya molekul-molekul bergerak lebih
cepat dan tabrakan dengan benturan yang lebih
besar makin sering terjadi. Dengan demikian,
tabrakan antar molekul yang mempunyai energi
kinetik yang cukup tinggi itu menyebabkan reaksi
kimia juga makin banyak terjadi. Ini berati bahwa
laju reaksi kimia semakin tinggi.
2.1 Parameter Arrhenius
Bahwa konstanta laju reaksi, k adalah tetapan
perbandingan antara laju reaksi dan hasil kali
konsentrasi spesi yang mempengaruhi laju reaksi.
• Untuk suatu reaksi, harga konstanta laju adalah tetap
jika temperatur konstan.
• Harga konstanta laju bertambah dan laju reaksi
bertambah jika temperatur dinaikkan.
EA
k = A.e E A / RT ata ln k = ln A −
u RT
dimana:
A disebut faktor praeksponensial
EA adalah energi aktivasi
Dari persamaan disamping terlihat, bahwa untuk banyak
reaksi jika kita memplotkan antara ln k terhadap 1/T akan
menghasilkan garis lurus, dengan perpotongan ln A dan
kemiringan EA.

Gam bar 2.3 Grafik Arrhenius antara ln k terhadap 1/T


ln k

1/T
• Jika peramaan tersebut diatas digunakan untuk
temperatur T1 dan T2 yang berbeda, maka dapat
dituliskan k1 pada T1 dan k2 pada T2, dengan
persamaan sebagai berikut:

EA EA
ln k1 = ln A − dan ln k 2 = ln A −
RT1 RT2
• jika ln k2 dikurang dengan ln k1, maka
diperoleh:

k2 EA  1 1 
ln =  − 
k1 R  T1 T2 
Energi Aktivasi
• EA adalah energi minimum yang harus dimiliki oleh
molekul-molekul pereaksi (reaktan) agar menghasilkan
terjadinya reaksi jika saling bertabrakan.
Ada beberapa hal penting mengenai EA, yaitu:
1.Energi aktivasi yang ditentukan secara
eksperimen adalah jumlah energi aktivasi untuk
reaksi keseluruhan bukan masing-masing tahap
reaksi (reaksi-reaksi dasar). EA adalah selisih
antara energi reaktan dan energi tertinggi dari
keadaan teraktifkan dalam proses tersebut.
2.Energi aktivasi untuk setiap tahap selalu positip.
3.Sesuai dengan distribusi Maxwell-Boltzmann dari
energi molekular, jika temperatur dinaikkan,
laju reaksi bertambah sebab makin banyak
tabrakan yang mempunyai energi lebih besar dari
Pada Pers. Arrhenius:

− E A / RT
k = A.e
Dari persamaan Arrhenius terlihat bahwa:
− E A / RT
•e adalah fraksi molekul yang mempunyai
energi sebesar EA atau lebih besar.
− E A / RT
• EA bertambah, e berkurang, berarti makin
banyak energi yang diperlukan, lebih sukar bagi molekul-
molekul untuk mencapai energi ini.
− E A / RT
• Temperatur bertambah, ebertambah (k bertambah
besar).
2.2 Termodinamika
k1

Suatu A↔R
k2
reaksi:
d (ln k ) ∆H r
= 2
dt RT
[ R ] k1
Karen K = Kc = = ,maka:
[ A] k 2
a
d (ln k1 ) d (ln k 2 ) ∆H r
− =
dt dt RT 2
Dimana ∆Hr = E1 – E2,
maka:
d (ln k1 ) E1 dan d (ln k 2 ) E2
= =
dt RT 2 dt RT 2
secara umum dapat ditulis:
d (ln k ) E E
= ln k = − 2
dt RT 2 RT

Bandingkan dengan persamaan Arhenius:


k0
E − E A / RT
∫ d (ln k ) = ∫ 2
.dt k = k 0 .e
ln k RT

Bentuk persamaan van’t Hoff hampir sama dengan persamaan Arrhenius.


2.3.Teori Tumbukan

Menurut teori tumbukan sederhana, laju reaksi


didasarkan pada:
• Jumlah tumbukan per satuan volume per satuan waktu.
• Molekul-molekul yang bertumbukan harus mempunyai
energi yang cukup (Energi Aktivasinya) sebelum
molekul-molekul tersebut dapat diubah menjadi produk.

Untuk tumbukan dari molekul yang serupa misalnya A, maka:

4π .k .T N 2
4π .k .T
Z AA = σ A .n A
2 2 2
=σA . [ A] 2
MA 106 MA
Dimana:
ZAA = jumlah tumbukan A dengan A per detik per cm3.
σ = diameter sebuah molekul, cm
MA = berat molekul
N = bilangan Avogadro : 6,023.1023 molekul/mol
[A] = konsentrasi A, mol/L
N .[ A]
nA = jumlah mol3 A/cm =
3
10
k = konstanta R
= 1,3.10 −16 erg / K
Bolzmann = N
Untuk tumbukan bimolekular dari molekul-molekul yang
tidak serupa, misalnya: A dan B; maka:
2
 σA + σB   1 1 
Z AB =  .n A .n B . 8π .k .T  + 
 2  MA MB 
2
 σA + σB  N
2
 1 1 
Z AB =  . 6 . 8π .k .T  +  .[ A].[ B ]
 2  10  MA MB 
Dari teori distribusi Maxwell pada energi molekul-molekul
fraksi dari tumbukan bimolekular yang melibatkan energi
minimum, diberikan dengan rumus: e − E A / RT
sehingga laju reaksinya: − r = k .[ A].[ B ]
A

103 − EA / RT
− rA = Z AB . .e
N
  k 
2
 σA + σB  N  1 1  − E A / RT
ZA =   . 3 . 8π .k .T  +  .e .[ A].[ B ]
 2  10  MA MB 
  
A
Jadi, dari persamaan ini ternyata ketergantungan
konstanta laju reaksi pada temperatur dapat dinyatakan
1 / 2 − E A / RT
dengan: k ≈ T .e

2.4. Teori Keadaan-Transisi


(Kompleks Teraktivasi)
Laju atau konstanta laju yang dihitung dengan
bantuan teori kompleks teraktivasi didasarkan pada:
1. Reaktan diubah menjadi suatu kompleks
teraktivasi sebelum diubah menjadi produk.
2. Ada suatu kesetimbangan antara konsentrasi
reaktan dengan kompleks teraktivasi pada setiap
saat.
Hubungan Energi terhadap waktu mengenai
perubahan reaktan menjadi hasil reaksi, terlihat
pada gambar dibawah ini:
keadaan transisi kompleks teraktivasi

E2 (≈∆H2*)
(selalu positif)
Energi

E1 (≈∆H1*)
(selalu positif)

∆Hr (pos itif)

Re ak tan k om ple k s hasil


Wak tu

Endotermik
keadaan trans is i kompleks teraktiv as i

E2 (≈∆H2*)
(s elalu pos itif )
E1 (≈∆H1*)
Energi

(s elalu pos itif )

∆Hr (negatif )

Ek s o te r m ik

Re ak tan k om ple k s has il


Wak tu
Reaksinya dapat dituliskan:

A + B ↔ AB → Pr oduk
Reaksi diatas mempunyai reaksi elementer sebagai berikut:

A + B → AB ∗k1

AB ∗ →
k2
A+ B
AB ∗ →
k3
Pr oduk
Mak ∗
a; ∗ k [ AB ]
Kc = 1
=
k 2 [ A].[ B ]
[A].[B] = K*c[AB*]
[AB*] = K*c. [A].[B] =
k.T
k3 =
h
 Laju Peruraian 
rAB ( kedepan) =  .( Konsentrasi Kompleks Teraktivasi )
 Kompleks teraktivasi 

k .T
rAB = [ AB*]
h
k .T ∗
rAB = .K c .[ A].[ B]
h
Dengan menyatakan konstanta kesetimbangan
dari kompleks teraktivasi dalam bentuk Energi
bebas standar:
 K∗ 
∆G* = ∆H * −T .∆S * = − R.T ln Co 
 K∗ 
dimana:
 C 
∗0
K C = rasio konsentrasi pada keadaan standar
K C∗ = e − ∆G*/ RT = e − ∆H */ RT .e − ∆S */ R
Sehingga laju reaksi menjadi:

k.T ∆S / R − ∆H */ RT ∗ 0
rAB (kedepan) = .e .e .K C .[ A].[ B ]
h
Secara teoritis ∆S* dan ∆H*, berubah secara perlahan terhadap
temperatur.
∆S */ R
Dari bentuk diatas e
adalah sangat tidak sensitif terhadap temperatur daripada dua bentuk
yang lain, sehingga bentuk tersebut menjadi konstan

Untuk reaksi ke depan (→) dan reaksi ke belakang (←) dari


persamaan mula-mula didapat:

− ∆H1 */ RT
k1 ≈ T .e
− ∆H 2 */ RT
k 2 ≈ T .e
Selanjutnya kita lihat hubungan antara ∆H*
Dimana: ∗ ∗
∆H − ∆H = ∆H r
1 2
dab Energi aktivasi Arrhenius, yang secara
umum kita menggunakan analogi dari
termodinamika. Untuk cairan dan padatan:
E = ∆H ∗ − RT