Anda di halaman 1dari 11

Makanan yang dapat difortifikasi

|
Artikel Sebelumnya Perkembangan Fortikasi di Indonesia
Terdapat dua macam fortifikasi, pertama fortifikasi sukarela oleh industri pangan kemasaan
untuk meningkatkan nilai tambah. Tidak selalu untuk tuuan perbaikan gi!i bahkan kadang"
kadang bertentangan dengan kebiakan perbaikan gi!i masyarakat. #edua fortifikasi $aib
yang bertuuan untuk mengatasi masalah kekurangan gi!i masayarakat, khususnya
masyarakat miskin. Syarat untuk fortifikasi $aib, pertama,makanan yang umumnya selalu
ada disetiap rumah tangga dan dimakan secara teratur dan terus"menerus oleh masyarakat
termasuk masyarakat miskin. Kedua, makanan itu diproduksi dan diolah oleh produsen yang
terbatas umlahnya, agar mudah dia$asiproses fortifikasinya. Ketiga, tersedianya teknologi
fortifikasi untuk makanan yang dipilih. Keempat, makanan tidak berubah rasa, $arna dan
konsistensi setelah difortifikasi. Kelima, tetap aman dalam arti tidak membahayakan
kesehatan. %leh karena itu program fortifikasi harus diatur oleh undang"undang atau
peraturan pemerintah, dia$asi dan dimonitor, serta die&aluasi secara teratur dan terus
menerus. 'an keenam, harga makanan setelah difortifikasi tetap terangkau daya beli
konsumen yang menadi sasaran.
Atas dasar persyaratan tersebut, makanan yang umumnya difortifikasi ($aib) terbatas pada
enis makanan pokok (terigu, agung, beras), makanan penyedap atau bumbu seperti garam,
minyak goreng, gula, kecap kedele, kecap ikan, dan Mono Sodium *lutamat (MS*).
Pilihan !at gi!i yang ditambahkan kedalam makanan untuk difortifikasi (fortifikan)
ditentukan oleh masalah kekurangan gi!i yang ada dengan pertimbangan teknis kimia$i,
daya serap dalam sistem pencernaan, manfaat biologis (+bioa&ailability,), dan pengaruhnya
terhadap rasa, penampilan, dan keamanan makanan, dan harga.
Setiap negara menentukan enis makanan yang akan difortifikasi, yang selanutnya disebut
sebagai makanan +pemba$a, (vehicles), sesuai dengan pola makan setempat serta
memenuhi syarat untuk fortifikasi $aib. Sedang penentuan enis dan dosis fortifikan yang
dipakai disesuaikan dengan makanan pemba$a, peraturan pemerintah dan internasional
(-.%/FA%), kebutuhan tubuh, serta masalah kekurangan gi!i setempat.
Misalnya di RRC : kecap kedele dan kecap ikan difortifikasi dengan !at besi 0 tepung terigu
dengan !at besi, asam folat, dan &itamin A 0 beras dengan !at besi dan direncanakan uga
dengan &itamin A. India : tepung terigu dengan !at besi, asam folat, dan &itamin 1 0 gula
dengan &itamin A 0 minyak dan lemak, teh, dan susu dengan &itamin A. Philipina :
fortifikasi tepung terigu dengan !at besi, asam folat dan &itamin A. Thailand : mie dengan
!at besi, yodium dan &itamin A 0 beras dengan !at besi, &itamin 12, 13, 14, dan niacin.
Vietnam : kecap ikan dengan !at besi 0 gula dengan &itamin A. merika !atin : 35 negara
di Amerika 6atin semua tepung terigu dan tepung agung difortifikasi dengan !at besi 0 gula
dengan &itamin A. Indonesia 7 *aram dengan 8odium, tepung terigu dengan !at besi, seng,
asam folat, &itamin 12 dan 13, dan minyak goreng dengan &itamin A.
Tingkatan program fortifikasi di beberapa negara beragam dari tingkat studi kelayakan,
percobaan, diiinkan (permitted) untuk diproduksi dan dipasarkan, sampai pada tingkat $aib
(mandatory).
Fortifikasi Pangan di Indonesia Fortifikasi pangan merupakan penambahan !at gi!i mikro (&itamin
dan/atau mineral) pada bahan makanan dalam proses pengolahan, untuk meningkatkan nilai gi!i
pangan yang bersangkutan. Fortifikasi pangan ini merupakan bagian dari perbaikan gi!i.
Perbaikan gi!i ditempuh dengan mengkonsumsi makanan keluarga sehari"hari berdasarkan gi!i
seimbang. 9amun, sayangnya tidak semua keluarga dapat memenuhi gi!i seimbang karena masalah
ekonomi ataupun kurangnya pengetahuan. +%leh sebab itu, fortifikasi merupakan salah satu upaya
untuk memenuhinya,, ungkap Prof. Soekirman *uru 1esar Ilmu *i!i sekaligus ketua 8ayasan
#egi!ian Pengembangan Fortifikasi Pangan Indonesia (#FI) dalam seminar gi!i nasional di
:ni&ersitas Indonesia beberapa $aktu lalu.
#FI didirikan dengan misi menyebarluaskan pengetahuan tentang fortifikasi pangan, mengad&okasi
pentingnya fortifikasi pangan sebagai bagian dari berbagai upaya untuk memperbaiki keadaan pangan
dan gi!i, kesehatan, kecerdasan serta produkti&itas, menadi mitra pemerintah dalam formulasi
kebiakan, peraturan dan hukum serta implementasinya dalam fortifikasi pangan dan menyediakan
data dan informasi ilmiah tentang fortifikasi pangan. 'i Indonesia fortifikasi pertama kali dilakukan
pada garam yang bertuuan untuk mengatasi masalah kurang yodium.
Pada tahun 2;;; dilanutkan dengan fortifikasi tepung terigu yang ditambahkan !at besi, lalu dua
tahun kemudian Standar 9asional Indonesia(S9I) me$aibkan tepung terigu difortifikasi dengan !at
besi, seng, &itamin 12 dan 13. +Pada a$alnya program fortifikasi ini dianggap tidak berguna oleh
pemerintah, namun setelah kami menunukkan beberapa penelitian mengenai ini akhirnya pemerintah
menerima dan mendukung fortifikasi pangan,, tutur Prof. Soekirman. Pada dasarnya fortifikasi terdiri
dari tiga enis, yaitu fortifikasi sukarela, fortifikasi $aib dan fortifikasi khusus.
Fortifikasi sukarela merupakan inisiatif produksi oleh produsen, bukan pemerintah. #omoditi pangan
dan fortifikan yang dipakai ditentukan oleh produsen, sasarannya adalah semua orang yang sanggup
membeli. Fortifikasi $aib adalah bagian dari upaya pemerintah untuk menanggulangi masalah gi!i
mikro yang banyak terdapat pada kelompok masyarakat tertentu (misalnya masyarakat miskin).
Sedangkan fortifikasi khusus sama dengan fortifikasi $aib, hanya sasarannya kelompok masyarakat
tertentu, seperti anak"anak, balita atau anak sekolah. +Pemerintah Indonesia mencanangkan fortifikasi
$aib pada beberapa produk, yakni terigu dan minyak goreng, pada minyak goreng misalnya harus
mengandung &itamin A sebanyak <= I:., Tambah Prof. Soekirman. Ada beberapa syarat yang harus
dipenuhi untuk fortifikasi $aib, yaitu ada masalah gi!i mikro mendesak, bahan pangan yang akan
difortifikasi dikonsumsi sebagian besar masyarakat, diproduksi oleh pabrik atau produsen yang
umlahnya terbatas, dan ada teknologi fortifikasi sesuai pedoman -.%. Selain itu, fortifikasi uga
tidak boleh merubah rasa, $arna, konsistensi, dan tidak menambah harga secara signifikan serta
secara ilmiah dibuktikan fortifikasi efektif mengatasi masalah gi!i mikro. "#$%
Vitamin
Ada 3 macam bentuk &itamin A. 9amun, hanya satu enis yang perlu Anda $aspadai.
Pro&itamin A carotenoids sangat baik bagi tubuh. #andungan ini terdapat pada labu kuning,
$ortel, bayam dan enis makanan lain. 1agi kebanyakan $anita, arang sekali yang
mengasupnya dengan umlah banyak. #arena, tubuh umumnya hanya menggunakan sesuai
kebutuhan. >etinol, adalah enis &itamin A lainnya. Secara alami, bisa ditemui dalam daging
dan produk susu, dan secara industri di tambahkan pada $affle, snack bar, yoghurt rendah
lemak, dan produk lainnya. #ita membutuhkan retinol untuk mencegah infeksi dan menaga
kesehatan kulit dan mata. Tapi, ika Anda mengonsumsinya terlalu banyak, ustru bisa
membuat tulang menadi rapuh dan meningkatkan risiko kelahiran bayi cacat, ika Anda
dalam kondisi hamil.
Intinya, tetap perhatikan label fakta nutrisi pada kemasan. Sehingga, Anda tak mengonsumsi
&itamin A lebih dari 255 persen kebutuhan harian tubuh. Terutama, ika mengasup
multi&itamin. .anya dengan 3 potong $affle gandum yang diolesi margarin, satu batang
snack bar dan sekotak yoghurt rendah lemak, Anda sudah mencukupi lebih dari ?= persen
dari 3@25 I:, saran umlah &itamin A yang diasup per hari.
Vitamin &
Aika Anda menaga makanan yang Anda santap, mestinya Anda perlu cemas kekurangan
&itamin. #arena, banyak sekali sumber alami &itamin B, mulai dari kacang"kacangan, bii"
biian dan minyak"minyakan. #etiga bahan tersebut ditakuti oleh banyak sekali pelaku diet.
9amun, &itamin B adalah antioksidan yang membantu mengoptimalkan kera antung dan
sistem imun. 'osis harian yang direkomendasikan pada label makanan kemasan adalah @5
I:. 1anyak sekali makanan yang diperkaya &itamin B seperti, sereal, energy bar, dan snack
bar dengan umlah 35 hingga 255 persen kebutuhan tubuh.
Intinya, tetaplah asup &itamin B. +.ampir tak ada seorang pun yang 255 persen memenuhi
kebutuhan harian &itamin B dari pola makannya sehari"hari,, uar 1lumberg. Makanan
sebaiknya diperkuat nutrisi tambahan yang memberi porsi penting asupan harian tanpa risiko
kelebihan asupan. Porsi yang disarankan adalah 2=55 I:.
'erat
Akui saa, kebanyakan kita hanya mengonsumsi serat paling banyak setengah kebutuhan
harian tubuh yang direkomendasikan. Padahal, serat membuat Anda tetap merasa kenyang,
membantu pencernaan, dan membantu menurunkan kolesterol. Cat ini secara alami
terkandung dalam beberapa enis makanan seperti gandum utuh, kacang"kacangan, buah"
buahan, sayur"sayuran. 'an, pabrik"pabrik makanan telah menambahkan enis serat, seperti
inulin, polydeDtrose dan maltodeDtrin ke dalam berbagai produk makanan seperti es krim dan
yoghurt.
Intinya, ika Anda banyak makan enis makanan seperti gandum utuh, namun masih belum
memenuhi kebutuhan serat 3= gram per hari, maka Anda bisa menyantap makanan yang
difortifikasi serat. 9amun, angan pernah menambahnya secara berlebihan dengan sekeap
dalam pola makan sehari"hari. Menambah asupan serat secara mendadak membuat perut
kembung. Tambahkan secara bertahap dan beri $aktu pencernaan menyesuaikan. Eek selalu
kandungan serat di semua kemasan makanan, bahkan termasuk pada makanan yang tak la!im
memiliki serat seperti es krim.
Vitamin C
Fitamin E membantu menaga tubuh dari infeksi, menaga kulit tetap lembut dan kencang,
bahkan membantu tubuh Anda adi langsing. Penelitian terakhir menyebutkan, le&el &itamin
E yang rendah diteremahkan adi massa tubuh lebih tinggi. #arena, tubuh membutuhkan
&itamin ini untuk membentuk carnitine, !at yang membantu mengolah lemak menadi sumber
energi. #abar baiknya, &itamin E bisa mudah ditemui pada makanan sehari"hari seperti eruk,
stroberi, dan paprika. Sayang, banyak di antara kita menghemat membeli bahan"bahan
tersebut. Sekitar 2= persen orang de$asa di Amerika mengalami kekurangan &itamin E.
Bntah berapa persen, di Indonesia. Pastikan Anda mencukupi rekomendasi kebutuhan &itamin
E, yaitu ?= miligram per hari.
Intinya, sumber &itamin E terbaik berasal dari buah dan sayur . .ati"hati terhadap produk
makanan yang diberikan tambahan &itamin E, termasuk minuman dengan rasa buah, yang
kebanyakan berkalori kosong. (Fitness/$s$)
'o(rce: Fitness Maga!ine, Bdisi Auli 3522, .alaman ;;
Eopyright G 355H foodre&ie$.bi! All rights reser&ed. 355H
)emilih *ent(k "alsi(m +nt(k ,ortifikasi

%leh 'eddy Muchtadi
Sebagian besar (;;I) kalsium di dalam tubuh terdapat pada aringan keras seperti tulang dan
gigi, dan sisanya tersebar dalam berbagai macam aringan tubuh. Fungsi kalsium bagi tubuh
selain untuk pembentukan tulang dan gigi, uga penting untuk pertumbuhan, pembekuan
darah dan sebagai katalis reaksi biologis. Matriks tulang terbentuk dari kolagen dan
karbohidrat, yang merupakan sepertiga bagian tulang. #epada matriks tersebut ditempelkan
kalsium (prosesnya disebut kalsifikasi atau osifikasi) dalam bentuk kristal Ea"fosfat dan Ea"
hidroksida (hidroksipatit). Selain kalsium"fosfat bagian tulang yang keras (bone shaft) uga
mengandung Mg, Cn, 9a, karbonat dan fluorida.
Selama hidup orang de$asa, tulang mengalami pembaharuan dan pembentukan kembali,
disesuaikan untuk menahan berat badan. :ntuk itu dilakukan ,deposisi, dan ,resopsi, tulang,
yang dilaksanakan oleh sel"sel +osteoblasts, (pembentuk tulang) dan +osteoclasts,
(penghancur tulang). Sel"sel tersebut bekera terhadap matriks tulang dan Ea"fosfat. Pada
orang de$asa sekitar 35 I tulangnya diganti setiap tahun, dan sekitar 455 J ?55 mg Ea
disimpan dalam tulang yang baru dibentuk. Setelah umur <5 tahun, pada $anita umlahnya
berkurang sekitar ; I (mulai dari menopause sampai berumur ?= tahun).
+%steoporosis, adalah kondisi yang menunukkan teradinya reduksi kalsium dari tulang. .al
ini dapat teradi pada orang de$asa (terutama $anita) bila konsumsi kalsiumnya rendah dan
fisiknya kurang aktif. 1ila kadar kalsium dalam darah berkurang, maka kalsium dari tulang
akan diambil untuk meningkatkan kadar kalsium dalam darah. #alsium dari makanan
(minuman) yang dikonsumsi akan ditranspor ke tulang untuk menggantikannya. Apabila
seseorang kurang mengonsumsi makanan (minuman) kaya akan kalsium, maka tidak terdapat
cukup kalsium dalam darah untuk mensuplai tulang. Akibatnya tulang akan kekurangan
kalsium dan kondisi ini dikenal dengan sebutan +osteoporosis,.
#ecukupan konsumsi kalsium dipengaruhi oleh umur dan enis kelamin. :ntuk Indonesia,
angka kecukupan gi!i (A#*) kalsium adalah7 untuk laki"laki dan $anita de$asa sekitar H55
mg per hari. %toritas nasional di berbagai negara mempertimbangkan kembali rekomendasi
angka kecukupan konsumsi kalsium dalam rangka mengatasi defisiensi kalsium. Sebagai
contoh, :S 9ational Institute of .ealth (9I.) meningkatkan umlah optimal konsumsi harian
kalsium untuk berbagai golongan masyarakat7 untuk orang de$asa (3= " 4= tahun) kecukupan
konsumsi kalsiumnya ditetapkan sebesar 2555 mg per hari, sedangkan untuk orang lanut usia
(K 4= tahun) dan ibu"ibu menyusui, kecukupan konsumsinya ditetapkan sebesar 2=55 mg per
hari.
#onsumsi kalsium untuk pencegahan osteoporosis
Penyerapan kalsium dari makanan (minuman) yang dikonsumsi pada orang de$asa tidak
efisien0 pada kondisi terbaik adalah sekitar @5 J =5 I dari umlah yang dikonsumsi,
sedangkan pada kondisi lain hanya sekitar 25 " @5I.
Penyerapan kalsium merupakan proses yang kompleks, dipengaruhi oleh banyak faktor,
antara lain7 umlah kalsium dalam makanan, ketersediaannya (kalsium dapat terikat oleh fitat,
oksalat, dan lain"lain), umur, enis kelamin, obat"obatan yang dikonsumsi dan !at gi!i lain.
:mumnya $anita menyerap kalsium lebih sedikit dibandingkan dengan pria.
'i seluruh dunia, ,osteoporosis, (kerapuhan tulang) merupakan penyakit yang kurang
mendapat perhatian, padahal penyakit ini telah menimpa utaan orang dan mengakibatkan
penderitaan berkepanangan. 1ahkan secara ekonomi hal ini merugikan, karena menurunnya
produktifitas kera. Telah diperhitungkan bah$a sekitar satu dari tiga $anita dan satu dari
delapan laki"laki yang berumur lebih dari =5 tahun, menderita osteoporosis. :saha yang telah
dilakukan untuk mencegah dan mengobati osteoporosis adalah meningkatkan konsumsi
kalsium, baik dengan cara meningkatkan konsumsi bahan pangan sumber kalsium (misalnya,
susu dan produk olahan susu, brokoli, kubis, kacang"kacangan), maupun melalui fortifikasi
(penambahan) kalsium pada bahan pangan, atau dengan cara mengonsumsi suplemen
kalsium.
Fortifikasi kalsium dan
berbagai pertimbangannya
#alsium yang telah digunakan untuk fortifikasi sangat banyak ragamnya yang terdiri dari
garam kalsium organik maupun anorganik. Eontoh penggunaan berbagai enis kalsium dalam
berbagai minuman (be&erages) disaikan pada Tabel 2.
Pemilihan enis garam kalsium yang digunakan tergantung pada beberapa macam faktor,
seperti kelarutan dalam air, kadar kalsium, rasa dan bioa&ailabilitas (seberapa banyak Ea
dapat diserap oleh usus). .arga (ekonomi) uga merupakan faktor penting yang harus
dipertimbangkan.
1ila produk yang akan difortifikasi dengan kalsium berupa cairan (minuman) atau nantinya
pada saat dikonsumsi berupa cairan (minuman), maka sifat kelarutan dalam air dan
kestabilannya dalam larutan, merupakan faktor utama yang harus diperhatikan. Terdapat
beberapa macam garam kalsium yang mempunyai sifat kelarutan yang baik, misalnya Ea"
glukonat, Ea"laktat dan Ea"laktat"glukonat0 akan tetapi garam"garam tersebut mempunyai
kadar kalsium yang rendah (Tabel 3). Sebaliknya, garam kalsium yang mempunyai kadar
kalsium yang tinggi, seperti Ea"karbonat dan Ea"fosfat, kelarutannya dalam air sangat
rendah, sehingga arang digunakan untuk fortifikasi minuman.
Trikalsium"sitrat memberikan kombinasi yang baik7 bentuk yang paling banyak digunakan
adalah bentuk tetrahidrat (<.3%), dengan kadar kalsium yang cukup tinggi (32 I) dan
kelarutan yang moderat (5,; g/l). Sifat kelarutan garam kalsium dalam air sangat dipengaruhi
oleh p. (keasaman) larutan, di mana kelarutan garam kalsium akan meningkat dengan
meningkatnya keasaman (menurunnya p.). Trikalsium"sitrat menunukkan kelarutan yang
lebih baik pada p. lebih rendah dari <,=0 1erbeda dengan garam kalsium lain, trikalsium"
sitrat lebih mudah larut pada suhu rendah.
#alsium"laktat yang tersedia dalam bentuk pentahidrat (=.3%), mengandung 2@ I kalsium.
*aram kalsium ini mempunyai sifat kelarutan dalam air yang tinggi (;,@ g/l), sehingga paling
banyak digunakan dalam industri minuman. 1erhubung kadar kalsium"nya yang relatif
rendah, banyak industri pangan yang menambahkan kalsium"laktat dalam umlah tinggi ke
dalam produknya, dengan tuuan untuk mencapai konsentrasi yang diperlukan agar dapat
menampilkan klaim gi!i untuk kalsium.
Penambahan kalsium laktat dalam umlah tinggi dapat menyebabkan makin banyaknya ion"
ion kalsium bebas yang terdapat dalam larutan. Ion kalsium bebas tersebut mudah bereaksi
dengan senya$a"senya$a lain, misalnya protein bebas, tartrat atau fosfat, membentuk
senya$a yang tidak larut.
-alaupun kalsium"glukonat dapat stabil dalam larutan, namun karena kadar kalsiumnya
rendah, tidak banyak industri pangan yang menggunakannya sebagai fortifikan kalsium.
Tetapi karena sifatnya yang memberikan rasa netral dan mudah larut dalam air serta kadar
airnya rendah, kalsium glukonat kadang"kadang digunakan untuk fortifikasi serbuk minuman,
karena dengan cara ini dapat mensuplai kalsium dalam umlah cukup tinggi per saian.
#alsium"laktat"glukonat merupakan garam kalsium yang sangat mudah larut dalam air.
9ampaknya teradi sinergi antara laktat dan glukonat yang menyebabkan kelarutannya sangat
tinggi (<= " =5 g/l)0 bandingkan dengan kalsium"laktat dengan kelarutan hanya sebesar ;,@ g/l
dan kalsium"glukonat dengan kelarutan hanya sebesar @,= g/l. #arena kestabilannya dalam
larutan, kalsium"laktat"glukonat banyak digunakan untuk fortifikasi minuman yang ernih
tanpa harus menambahkan bahan pengkelat (chelating agent).
FruitEalTM merupakan campuran asam sitrat, asam malat dan kalsium"hidroksida yang
dipatenkan oleh Procter L *amble. Eampuran tersebut yang kadang"kadang disebut sebagai
,kalsium"sitrat"malat,, bersifat sangat mudah larut dalam air. Pada $aktu ini garam kalsium
tersebut digunakan untuk fortifikasi kalsium dalam saribuah.
Pada umumnya, dengan meningkatnya umlah kalsium, terutama yang tidak larut air seperti
kalsium"karbonat dan kalsium"fosfat, cenderung untuk memberikan rasa berkapur (chalky
mouthfeel) di mulut dan menyebabkan timbulnya rasa pahit pada produk yang difortifikasi.
Pada konsentrasi tinggi, kalsium"laktat dapat memberikan sedikit rasa pahit atau rasa susu.
#alsium"karbonat dapat memberikan rasa sabun atau rasa lemon. #alsium"fosfat tidak
memberikan fla&or (bland fla&our), namun dapat memberikan rasa berpasir di mulut.
Pengaruh negatif garam kalsium terhadap rasa dapat ditutupi dengan menambahkan bahan
pengkelat (misalnya tri"kalium"sitrat) atau dengan menambahkan bahan penstabil (misalnya
karagenan), atau uga dengan menambahkan fla&oring. Seauh ini, tri"kalsium"sitrat, kalsium"
laktat"glukonat dan kalsium"glukonat dianggap yang paling netral atau tidak memberikan
rasa, sehingga tidak diperlukan penambahan bahan lain untuk menutupi rasa.

#eefektifan kalsium sebagai fortifikan tergantung pada bioa&ailabilitasnya, yang berarti
seberapa banyak kalsium yang dapat diserap oleh usus dan digunakan oleh tubuh. Seperti
telah diutarakan sebelumnya, secara rata"rata hanya sekitar 25 " @5 I kalsium yang dapat
diserap oleh usus orang de$asa sehat. 1eberapa macam faktor dapat mempengaruhi
bioa&ailabilitas kalsium, diantaranya enis garam kalsium yang digunakan untuk fortifikasi.
'emikian pula hasil"hasil penelitian menunukkan bah$a bioa&ailablitas garam kalsium
organik lebih tinggi dibandingkan dengan garam kalsium anorganik. Flyn dan Eashman
(2;;;) yang bekera dengan garam"garam kalsium organik (tri"Ea"sitrat, Ea"laktat, Ea"laktat"
glukonat dan Ea"glukonat), menyimpulkan bah$a bioa&ailabilitas kalsium"nya tidak berbeda,
$alaupun kelarutannya dalam air tidak sama (lihat Tabel 3).
Pertimbangan ekonomi dalam pemilihan enis garam kalsium yang akan digunakan untuk
fortifikasi, seyogyanya tidak hanya berpatokan pada harganya, tetapi faktor"faktor lain harus
diperhitungkan. Faktor"faktor lain tersebut antara lain7 kadar kalsium, bioa&ailabilitas,
kestabilan dalam larutan dan pengaruh terhadap rasa.
Prof. 'eddy Muchtadi
'epartemen Ilmu L Teknologi Pangan
FATBTA"Institut Pertanian 1ogor
Referensi
Aungbun!lauer 6adenburg *mb., *ermany, 3553. The challenge of calcium
fortification in be&erages. Inno&ations in Food Technology. Issue 2<, February 3553.
Flynn A dan # Eashman, 2;;;. Ealcium. 'i dalam > .urrel (ed). The Mineral
Fortification of Foods. 6eatherhead International 6td, Surrey, Bngland.
9ational Institutes of .ealth, 2;;<. %ptimal Ealcium Intake, 9I. Eonsensus
Statement %nline 2;;< Aune 4"H, 23 (<), 2"@2, 1ethesda, M'.
9ational >esearch Eouncil, 2;H;. Ealcium. 'i dalam >ecommended 'ietary
Allo$ances7 25th edition. >eport of the Subcommittee on the Tenth Bdition of the
>'A. Food and 9utrition 1oard and the Eommission of 6ife Sciences. 9ational
Academy Press, -ashington '.E. 2?<"2H<.