Anda di halaman 1dari 49

1

LAPORAN KASUS
VeR PADA PERKOSAAN


Disusun :
AKBAR FAUZI 08310017
DIKA ARDIANSYAH 08310076
FAISAL REZA 08310108
ILHAM KAUTSAR 08310153
MITRA SARI 07310158
REZI DESIANTI 08310253
TRIYANI RETNO P 08310311
YUDISTIRA IVAN C 08310337
Pembimbing :
dr. Surjit Sigh, MBBS, Sp.F, DFM
dr. Desi Harianja, Sp.F

COASISTEN ILMU KEDOKTERAN FORENSIK
FAKULTAS KEDOKTERAN MALAHAYATI
RSUD DJOELHAM BINJAI
TAHUN 2014







2








BAB I
PENDAHULUAN

I. LATAR BELAKANG
Dalam pelanggaran kesusilaan, ada dua kejahatan yang termasuk
kategorinya yaitu, perkosaan dan penyimpangan seksual. Perkosaan
termasuk pelanggaran kesusilaan (natural sexual offences) sebagai
manifestasi birahi yang tidak terkendalikan dan tertuju kepada obyek yang
wajar yaitu kelamin yang berlawanan jenis (heterosexual).
1
Tindak pidana seksual adalah suatu kejahatan seksual yang
ditandai dengan adanya persetubuhan dengan wanita yang bukan
merupakan istri dari si pelaku, atau dilakukan tanpa adanya ijin dari wanita
yang bersangkutan, atau persetubuhan dengan wanita di bawah usia
(dalam hal ini kurang dari limabelas tahun), atau wanita yang tidak
berdaya, atau menyetubuhi wanita dengan kekerasan maupun ancaman
kekerasan. Tindak pidana seksual dari segi hukum dibagi dalam Pasal 284
KUHP tentang berselingkuh dan berzina, Pasal 285 KUHP tentang
perkosaan, Pasal 286 KUHP tentang bersenggama dengan wanita tidak
berdaya, Pasal 287 KUHP tentang bersenggama dengan wanita di bawah
umur Sedangkan Pasal 289 tentang persetubuhan oral atau anal yang
dilakukan dengan kekerasan atau ancaman kekerasan, tidak dapat
diklasifikasikan sebagai perkosaan tapi dimasukkan sebagai perbuatan
yang menyerang kehormatan kesusilaan.
2



3

Perkosaan merupakan suatu tindakan yang melanggar undang
undang berupa penguasaan secara seksual dari bagian tubuh yang paling
pribadi dari wanita oleh seorang pria. Penguasaan seksual adalah jika
seorang pria melakukan penetrasi penis ke bagian tubuh yang paling
pribadi dari seorang wanita. Namun dari segi hukum, perkosaan bukan
berarti harus terjadi penetrasi alat kelamin pria ke dalam alat kelamin
wanita, tetapi usaha untuk melakukan itu saja yang disertai dengan
kekerasan atau ancaman kekerasan sudah dianggap sebagai perkosaan.
3

Saat ini ada kecenderungan kejadian perkosaan yang meningkat
yang dipicu oleh berbagai faktor. Perilaku dalam berpakaian wanita yang
mulai kurang menjaga aurat, pengaruh dari budaya luar negeri dalam
bentuk fashion, film maupun iklan. Oleh karena itu kita sebagai praktisi
kesehatan yang akan terjun ke masyarakat sangat mungkin sekali dimintai
tolong oleh aparat penegak hukum untuk melakukan pemeriksaan yang
berkaitan dengan perkosaan.
3

Visum et Repertum yang dihasilkan mungkin menjadi dasar untuk
membebaskan terdakwa dari penuntutan atau sebaliknya untuk
menjatuhkan hukuman. Di Indonesia pemeriksaan korban persetubuhan
yang diduga merupakan tindak kejahatan seksual umumnya dilakukan oleh
dokter Ahli Ilmu Kebidanan dan Penyakit Kandungan, kecuali di tempat
yang tak ada dokter ahli demikian, dokter umumlah yang harus melakukan
pemeriksaan itu.
3
Ada beberapa jenis visum yang diperlukan para penegak hukum
dari dokter, antara lain visum perlukaan, visum perkosaan, visum jenazah,
dan visum psikiatrik. Dalam pemeriksaan pada korban, setiap jenis visum
ini mempunyai ciri khas masing masing. Untuk visum perkosaan ciri
khasnya adalah pemeriksaan pada tubuh perempuan, terutama mengenai
alat kelaminnya.
1

Sebagai ahli klinis yang perhatian utamanya tertuju pada
kepentingan pengobatan penderita, memang agak sukar untuk melakukan
pemeriksaan yang berhubungan dengan kejahatan. Sebaiknya korban


4

kejahatan seksual dianggap sebagai orang yang telah mengalami cedera
fisik dan/ atau mental, sehingga sebaiknya pemeriksaan ditangani oleh
dokter. Penundaan pemeriksaan dapat memberikan hasil yang kurang
memuaskan.
3




BAB II
TINJAUAN PUSTAKA


I. DEFINISI PERKOSAAN

Defenisi yuridis dari tindak pidana perkosaan di tiap tiap negara
berbeda beda, baik dilihat dari aspek pelaku, korban maupun cara
melakukannnya. Oleh karena itu tidaklah relevan membandingkan
frekuensi perkosaan di suatu Negara dengan Negara lainnya. Meskipun
kasus perkosaan di sini terjadi setiap 5 jam (menurut catatan berbagai
sumber) dan di Amerika setiap 2 menit (catatan FBI tahun 1975), hal ini
belum dapat dijadikan alasan untuk menyatakan bahwa orang Indonesia
jauh lebih baik dari orang Amerika dalam masalah seks.
4

Sebagai mahluk hidup manusia memiliki berbagai macam
kebutuhan yang harus dipenuhi, kebutuhan seksual adalah salah satunya.
Kebutuhan seksual merupakan sesuatu yang sangat alamiah dan juga
berkaitan erat dengan fungsi manusia untuk bereproduksi atau
memperoleh keturunan. Kebutuhan seksual biasanya akan timbul ketika
seseorang mulai memasuki masa pubertas dimana tanda tanda seks
sekunder mulai tampak dan organ organ reproduksi sudah dapat
berfungsi. Pemenuhan kebutuhan seksual, pada orang yang normal,
biasanya dipenuhi dengan cara bersetubuh atau bersenggama atau koitus.


5

Koitus atau senggama dapat didefinisikan dalam berbagai sudut pandang
yang berbeda. Secara umum senggama dapat didefinisikan sebagai
hubungan intim antara pria dan wanita dengan cara memasukkan alat
kelamin pria ke dalam alat kelamin wanita. Dalam bidang kedokteran
senggama atau koitus dapat diartikan sebagai hubungan seksual
pervaginam antara pria dan wanita.
5

Sedangkan oleh kalangan hukum senggama dapat didefinisikan
sebagai perpaduan antara 2 alat kelamin yang berlainan jenis guna
memenuhi suatu kebutuhan seksual.
2
Menurut Nojon, penetrasi yang paling ringan, yaitu masuknya
ujung penis (glans penis) di antara ke dua bibir luar vagina (labium mayor)
sudah dapat dikategorikan sebagai senggama, baik diakhiri ataupun tidak
diakhiri dengan orgasme dan ejakulasi atau keluarnya sperma. Sedangkan
senggama yang lengkap memang diawali oleh penetrasi penis ke dalam
vagina, diikuti gesekan gesekan antara penis dan vagina yang akan
menimbulkan stimulus dan kemudian diakhiri dengan ejakulasi yang
ditandai dengan keluarnya cairan sperma dari penis pria.
2

Persetubuhan atau senggama dapat terjadi bila laki laki dalam
keadaan aktif, yaitu adanya respon seksual baik fase eksitasi ataupun fase
plato yang ditandai dengan penis yang berereksi. Sedangkan wanita dapat
disetubuhi dalam keadaan aktif maupun pasif (dalam keadaan tidak sadar
atau sudah meninggal). Aktif dalam arti adanya suatu respon seksual yang
ditandai dengan ereksi klitoris dan lubrikasi (keluarnya lendir pada vagina)
guna membasahi dinding vagina agar tidak mengalami iritasi.
2

Prinsip senggama atau persetubuhan yang legal atau tidak
melanggar hukum, meliputi syarat syarat sebagai berikut :
4

1. Ada izin (consent) dari wanita yang disetubuhi. Izin (consent) yang sah
menurut hukum adalah yang sadar (concious), wajar (naturally), tanpa
keragu raguan (unequivocal) dan atas kemauan sendiri (voluntary).
Izin yang tidak sah menurut hukum jika diperoleh dengan cara paksaan
(force), tipudaya (fraud) atau dengan menciptakan ketakutan (fear).
2



6

Bersenggama dengan wanita idiot atau embecil juga termasuk
perkosaan (statutory rape), tidak mempersoalkan apakah wanita
tersebut menyetujui atau menolak ajakan bersenggama sebab dengan
kondisi mental seperti itu tidak mungkin yang bersangkutan mampu
(berkompeten) memberikan konsen/ persetujuan yang dapat
dipertanggung jawabkan secara yuridis.
4

2. Wanita tersebut sudah cukup umur, sehat akalnya, tidak sedang terikat
dengan suatu perkawinan dan bukan anggota keluarga dekat. Batas
umur termuda bagi seorang wanita untuk melangsungkan perkawinan
adalah 15 tahun. Sehingga di bawah umur 15 tahun secara hukum
dianggap belum mampu memberikan izin (consent) untuk
bersenggama sebab dinilai belum mampu memahami segala risiko
yang timbul dari perbuatan tersebut.
2

Perkosaan adalah istilah hukum bukan istilah medis. Dokter tidak
dapat menggunakan istilah perkosaan dalam visum, karena ia tidak dapat
menentukan apakah persetubuhan dilakukan tanpa persetujuan wanita atau
dilakukan secara paksa. Ada tidaknya tanda tanda perlawanan atau
kekerasan tidak menentukan suatu perkosaan.
1

Di Negara bagian Florida (Amerika), pelaku perkosaan tidak hanya
dibatasi pada kaum laki laki saja. Hukum disana memungkinkan kaum
perempuan melakukan perkosaan. Terhadap laki laki, sebab prinsip yang
dianut disana adalah bahwa perkosaan sebagai male crime dan female
crime. Bahkan beberapa Negara bagian lainnya menetapkan perkosaan
sebagai tindak pidana yang tak hanya dapat dilakukan terhadap wanita
yang bukan istrinya (extra marital crime) saja, tetapi juga terhadap istrinya
sendiri (intra marital crime). Agaknya disana melihat bahwa ikatan
perkawinan tidak secara otomatis dianggap sebagai bentuk konsen bagi
suami untuk melakukan senggama dengan istrinya sendiri.
1

Di Indonesia perkosaan didefinisikan secara yuridis sebagai
melakukan persetubuhan atau senggama dengan wanita yang bukan
istrinya dengan disertai adanya kekerasan maupun ancaman kekerasan.


7

Hal ini sesuai dengan isi Pasal 285 KUHP yang berbunyi : Barang siapa
dengan kekerasan atau dengan ancaman kekerasan memaksa seorang
wanita yang bukan istrinya bersetubuh dengannya, dihukum karena
memperkosa, dengan pidana penjara selama lamanya 12 tahun.
2
Berdasarkan pasal diatas, perkosaan di Indonesia digolongkan
sebagai tindak pidana yang hanya dapat dilakukan oleh laki laki (male
crime) terhadap wanita yang bukan istrinya (extra marital crime) dengan
persetubuhan yang harus bersifat intravaginal coitus, dan disertai dengan
kekerasan atau ancaman kekerasan. Hubungan seksual yang dilkukan
secara oral maupun anal yang disertai dengan kekerasan maupun ancaman
kekerasan tidak dapat diklasifikasikan sebagai perkosaan melainkan
sebagai perbuatan menyerang kehormatan kesusilaan yang diatur dalam
Pasal 289 KUHP.
2


II. PERAN DOKTER DAN ASPEK MEDIKOLEGAL
Agar kesaksian seorang dokter dalam suatu perkara pidana
mencapai sasarannya yaitu membantu pengadilan dengan sebaik
baiknya, maka dokter harus mengenal Undang undang yang
bersangkutan dengan tindak pidana itu, dan seharusnya ia mengetahui
unsur unsur mana yang dibuktikan secara medik atau yang memerlukan
pendapat medik.
5

A. Beberapa Ketentuan Hukum Pidana:
4.6

Pasal 284 KUHP.
Diancam dengan pidana penjara paling lama sembilan bulan :
1. a. Seorang pria yang telah kawin yang melakukan mukah
(overspel),
padahal diketahuinya bahwa Pasal 27 KUHPerdata berlaku
baginya.
b. Seorang pria yang telah kawin yang melakukan mukah
(overspel),


8

padahal diketahuinya bahwa Pasal 27 KUHP berlaku baginya.
2. a. Seorang pria yang turut melakukan perbuatan itu, padahal
diketahuinya bahwa yang turut bersalah telah kawin.
b. Seorang wanit yang telah kawin yang turut serta melakukan
perbuatan itu, padahal diketahuinya bahwa yang turut bersalah
telah kawin dan Pasal 27 KUHPerdata berlaku padanya.
3. Terhadap pengaduan ini tidak berlaku Pasal 72, 73 dan 75.
4. Pengaduan dapat ditarik kembali selama pemeriksaan dalam sidang
pengadilan belum dimulai.
5. Jika bagi suami istri berlaku Pasal 27 KUHPerdata, pengaduan
tidak diindahkan selama perkawinan belum diputuskan karena
perceraian atau sebelum putusan yang menyatakan pisah meja dan
ranjang jadi tetap.

Pasal 285 KUHP.
Barang siapa dengan kekerasan atau ancaman kekerasan memaksa
seseorang perempuan bersetubuh dengan dia di luar perkawinan,
karena perkosaan dipidana dengan pidana penjara selama
lamanya dua belas tahun.
Yang perlu diperiksa oleh dokter terhadap si wanita adalah :
a. Adanya persetubuhan.
b. Adanya tanda tanda kekerasan.
c. Adanya tanda tanda ancaman kekerasan.

Pasal 286 KUHP.
Barang siapa bersetubuh dengan seorang wanita yang bukan
istrinya, padahal diketahuinya bahwa perempuan itu dalam keadaan
pingsan atau tidak berdaya, dipidana dengan pidana penjara paling
lama sembilan tahun.

Yang perlu diperiksa oleh dokter terhadap si wanita adalah :


9

a. Adanya persetubuhan.
b. Adanya tanda tanda bekas pingsan atau tidak berdaya.

Pasal 287.
1. Barangsiapa bersetubuh dengan seorang wanita yang bukan
istrinya, padahal diketahuinya atau sepatutnya harus diduga,
bahwa umur wanita itu belum lima belas tahun atau kalau
umurnya tidak jelas, bahwa belum waktunya untuk
dikawinkan, diancam pidana penjara paling lama 9 tahun".
2. Penuntutan dilakukan hanya atas pengaduan, kecuali jika umur
wanita belum sampai dua belas tahun atau bila ada salah satu
hal seperti tersebut dalam Pasal 291 dan Pasal 294.
Yang perlu diperiksa oleh dokter terhadap si wanita adalah :
a. Adanya persetubuhan.
b. Penilaian umur si wanita (15 tahun, 12 tahun).
c. Jika tidak jelas 15 tahun, apakah sudah pantas untuk dikawin.
d. Adanya luka (sehubungan dengan pasal 291).

Pasal 288 KUHP.
1. Barangsiapa dalam perkawinan bersetubuh dengan seorang
wanita yang diketahuinya atau sepatutnya harus diduganya,
bahwa yang bersangkutan belum waktunya untuk
dikawinkan, bila perbuatan ini mengakibatkan luka luka,
diancam pidana pidana penjara paling lama 4 tahun.
2. Jika perbuatan itu mengakibatkan luka berat, dijatuhkan
pidana penjara paling lama 8 tahun.
3. Jika perbuatan itu mengakibatkan mati, dijadikan pidana
penjara paling lama 12 tahun.
Yang perlu diperiksa dokter terhadap wanita adalah :
a. Adanya persetubuhan.
b. Adanya luka atau luka berat.


10

c. Apakah perempuan tersebut sudah pantas untuk dikawin.

Pasal 89 KUHP.
Disamakan dengan melakukan kekerasan ialah membuat
seseorang menjadi pingsan atau tidak berdaya.
Yang perlu diperiksa oleh dokter adalah :
Jadi bila laki laki terbukti memperkosa dan membuat seorang wanita
pingsan atau tidak berdaya sebagaimana dimaksud pasal 285 KUHP.

Pasal 291.
1. J ika salah satu kejahatan seperti tersebut dalam Pasal 286,
287, 289 dan 290 itu mengakibatkan luka luka berat, maka
dijatuhkan pidana penjara paling lama 12 tahun.
2. Jika salah satu kejahatan seperti tersebut Pasal 285, 286,
287, dan 290 ini mengakibatkan kematian, maka dijatuhkan
pidana penjara paling lama 15 tahun.
Yang perlu diperiksa dokter terhadap wanita adalah :
a. Adanya persetubuhan.
b. Adanya luka berat.
c. Apakah menimbulkan kematian.
Bila kita perhatikan, pada prinsipnya, secara umum bahwa
pemeriksan pemeriksan dokter terhadap si wanita menyangkut
hukum pidana :
6

1. Persetubuhan (Pasal 284, 285, 286, 287, 288, 293, 294 KUHP).
2. Luka/ kekerasan (Pasal 285, 288).
3. Luka berat (Pasal 90, 286, 287, 288).
4. Pingsan/ tidak berdaya (Pasal 285, 286).
5. Umur (Pasal 287, 293, 294).
6. Belum pantas untuk dikawin (Pasal 287, 288 KUHP)



11


B. Beberapa Penilaian Medikolegal :
1

1. Persetubuhan.

Persetubuhan secara biologis diartikan sebagai suatu
keadaan yang memungkinkan terjadinya kehamilan dimana
haruslah terjadi :
1. Erectio penis.
2. Penetratio penis ke dalam vagina.
3. Ejakulasi dalam vagina (Tetapi dengan kondom atau coitus
interuptus tentunya ejakulatio dalam vagina dapat mudah
ditiadakan).
a. Persetubuhan pada pemeriksaan memberi 2 kemungkinan.
1,


1. Tidak ditemukan spermatozoa, dimungkinkan karena :
Memang tidak ada persetubuhan.
Ada persetubuhan, tetapi :
Si lelaki mandul atau oligosperma atau azospermia.
Sengaja dicegah (kondom atau coitus interuptus).


12

2. Ditemukan spermatozoa.
a) Dalam keadaan hidup.
Spermatozoa dapat hidup dalam vagina dikatakan
dalam beberapa jam (2 3 jam) atau sampai dengan
lebih 100 jam.
Jadi bisa dikatakan kira kira 3 x 24 jam.

b) Dalam keadaan mati.
Spermatozoa dalam bentuk utuh dikatakan dapat
bertahan di vagina antara beberapa hari s/d 7 x 24
jam.
b. Persetubuhan pada pemeriksaan selaput dara (Hymen).
1,
1) Yang belum pernah bersetubuh (masih perawan).
1,

Tidak selamanya bahwa tiap persetubuhan terjadi,
selaput dara (Hymen) akan robek dan mengeluarkan darah.
Hymen akan robek tergantung dari :
1. Bentuk hymen.
2. Elastisitas hymen.
3. Diameter penis.
Bentuk bentuk hymen :
1,4

1. Hymen anular memiliki celah ovoid dan terletak di
dekat pusat membran/ bahara.
2. Hymen semilunar dimana celah terletak di anterior
sehingga membran berbentuk semilunar/ sabit (Hymen
semilularis).
HYMEN ANNULAR

Hymen Semilunar



13

3. Hymen fimbriae dimana terletak fimbria fimbria di
sekeliling tepi celah Hymen/ berumbai (Hymen
myrtiformis).
4. Hymen cribiformis memiliki beberapa celah/ saringan
(Hymen cribiformis).
Hymen Fimbriae

hymen cribiformis

5. Hymen septum/ katup memiliki dua celah lateral yang
saling berdampingan dipisahkan sebagian atau
seluruhnya oleh jaringan tipis (Hymen Septum).
6. Bentuk lain Hymen adalah Hymen yang tidak ada
lubang disebut dengan (Hymen imperforatus), Hymen
yang tertutup semua orifisium genitalianya.
Hymen Septum

Hymen Imperforata



14

HYMEN HYMEN ANULAR HYMEN
SEMILUNAR
HYMEN
CRIBIFORMIS
HYMEN FIMBRIE HYMEN
IMFERPORATA
HYMEN BISEPTUS
HYMEN
LABIRIFORMIS
HYMEN
COROLLIFORMIS
HYMEN SEPTUM

Berbagai variasi bentuk hymen.
7. Hymen lobatum yaitu celahnya berbentuk bintang
karena indentasi pada tepinya/ cincin (Hymen
corolliformis).
8. Hymen vertikal memiliki celah vertikal berbentuk
linear/ jembatan (Hymen Biseptus).
9. Hymen infantil memiliki celah kecil yang memanjang
di garis tengah/ bibir (Hymen labiriformis).

Sabit Cincin
(Hymen semilularis) (Hymen Corolliformis)


15


Bibir Katup
(Hymen Labiriformis) (Hymen septum)

Bahara Berumbai
(Hymen Anular) (Hymen Myrtiformis)

Berbaga Jembatan
(Hymen Fimbriformis) (Hymen Biseptus)

Saringan (Hymen Cribiformis).


16

2) Yang sudah pernah bersetubuh.
1,7

Bila sudah pernah bersetubuh (wanita bersuami)
maka perkosaan tidak lagi mempersoalkan robekan selaput
dara, tetapi bisa saja terjadi robekan baru bila wanita yang
diperkosa belum pernah melahirkan anak (oleh karena alat
kelamin si pemerkosa sangat besar). Pemeriksaan dokter
untuk menentukan ada tidaknya ejakulasi vagina dengan
mencari spermatozoa dalam sediaan hapus cairan dalam
vagina (vaginal swab).

Robekan hymen

Gambar:
8

Kemaluan kanak kanak yang normal. Selaput dara masih utuh. Tiada tanda
tanda kecederaan pada bahagian labia, klitoris atau vagina.





17

Gambar :
9

Kemaluan perempuan dewasa yang normal. Selaput daranya masih utuh.


Gambar:
9

Kemaluan perempuan dewasa muda menunjukkan selaput dara telah carik di
bahagian posterior kemaluan (di lokasi jam 6). Bukti kemasukan benda asing
kedalam vagina seperti penis lelaki, tampon atau benda benda keras yang lain.

Gambar :
9

Kemaluan perempuan dewasa muda menunjukkan selaput dara jenis jejambat.



Gambar :
9


18

Kemaluan perempuan dewasa muda. Selaput dara hampir hilang, bahagian tepinya
kelihatan bergulung menunjukkan persetubuhan atau kemasukan benda asing
yang kerap.
2. Luka/ kekerasan.
1,6
Pemeriksan tentang adanya tanda kekerasan dapat
dilakukan misalnya dengan memeriksa pakaian apakah dijumpai
robekan, kancing yang lepas atau adanya bercak darah maupun
mani. Lalu diperiksa muka, leher, dada, payudara, dan paha,
apakah ada tanda kekerasan. Daerah vagina dilihat apakah ada
laserasi (lecet). Bekas gigitan mungkin dijumpai pada bibir
maupun payudara, hal ini dapat diselidiki oleh ahli odontologi
forensic.
3. Luka berat.

Jika ditemukan maka perlu ditentukan dengan pemeriksaan
secara teliti dan merujuk pada KUHP Pasal 90.
4. Pingsan atau tidak berdaya.

Keadaan ini sering disebabkan oleh obat bius/ tidur/
penenang dan perlu diambilkan contoh darah dan urine pada
pemeriksaan toksikologi.
5. Umur.

Berkaitan dengan umur diberi patokan kedewasaan, belum
cukup umur dan belum mampu dikawini.
1. Dewasa menurut hukum adalah di atas 21 tahun atau belum
21 tahun tetapi sudah pernah kawin. Belum cukup umur bagi
perempuan adalah dibawah 15 tahun. Perempuan yang belum
mampu dikawini adalah perempuan yang tidak akan menjadi
hamil walaupun disetubuhi karena belum terjadi ovulasi pada
perempuan. Tetapi pedoman belum haid tidak selamanya
identik dengan belum ovulasi, karena pada infantile Uterus atau
Hymen tertutup (Aseptate Hymen) hal ini dapat terjadi.


19

2. Menurut UU perkawinan No. I/ 1974 atau PP NO. 9/ 1975
bahwa batas umur perempuan yang boleh menikah adalah 16
tahun. Penentuan umur yang tepat adalah dengan akte
kelahiran namun sayang bahwa sebagian besar masyarakat
Indonesia belum memiliki akte ini atau malah memiliki akte
tetapi datanya tidak valid.
6. Pantas untuk dikawin.

Bila umur perempuan tersebut tidak dapat ditentukan secara
pasti, maka menentukan pantas atau tidak pantas untuk dikawin
adalah mencari/ menanyakan haid pertama dan dipakai sebagai
patokan untuk menentukan sudah pantas untuk dikawini. Jadi di
Indonesia, tindak pidana perkosaan haruslah memenuhi unsur
unsur sebagai berikut :
4

1. Unsur pelaku yaitu :
Harus orang laki laki.
Mampu melakukan persetubuhan.
2. Unsur korban :
Harus seorang perempuan.
Bukan istri pelaku.
3. Unsur perbuatan, terdiri dari :
Pemaksaan tersebut harus dilakukan dengan menggunakan
kekerasaan fisik atau ancaman kekerasan.
Membuat korban tidak berdaya.

III. PENILAIAN FORENSIK.
Setiap pemeriksaan korban perkosaan untuk kepentingan pengadilan
harus berdasarkan permintaan tertulis dari penyidik yang berwenang. Korban
harus diantar oleh polisi karena tubuh korban merupakan benda bukti. Jika
korban datang sendiri dengan membawa surat permintaan dari polisi,
sebaiknya korban jangan diperiksa dan korban diminta untuk kembali kepada
polisi dan datang kembali bersama polisi.
3
Setiap Visum et Repertum harus


20

dibuat berdasarkan hanya pada keadaan yang didapatkan pada tubuh korban
pada waktu permintaan Visum et Repertum diterima oleh dokter. Bila dokter
telah memeriksa korban yang datang di rumah sakit, atau di tempat praktek
atas inisiatif korban sendiri tanpa permintaan polisi, dan beberapa waktu
kemudian polisi mengajukan permintaan untuk dibuatkan Visum et Repertum,
maka hasil pemeriksaan sebelumnya tidak boleh dicantumkan dalam Visum et
Repertum. Segala sesuatu yang diketahui dokter tentang diri korban sebelum
ada pemintaan untuk dibuatkan Visum et Repertum merupakan rahasia
kedokteran yang wajib disimpannya (KUHP pasal 322). Dalam hal demikian,
korban harus dibawa kembali untuk diperiksa dan Visum et Repertum dibuat
berdasarkan keadaan yang ditemukan pada waktu permintaan diajukan. Hasil
pemeriksaan yang lalu tidak dicantumkan dalam bentuk Visum et Repertum,
tetapi dalam bentuk surat keterangan.
3
Pada saat sebelum dilakukan pemeriksaan, maka dokter perlu
memperhatikan beberapa hal (terutama bila korban hidup) :
1,3
1) Prosedur awal.
1,3

a. Harus ada permintaan visum et repertum dari penyidik secara tertulis.
b. Korban sebaiknya diantar oleh petugas penyidik bersama dengan
permintaan visum (korban = corpus delicti).
c. Persetujuan Tindakan medik (informed consent) dari korban/
keluarganya (pada korban hidup).
d. Tidak mencuci pakaian atau kelamin korban.
e. Dokter didampingi perawat wanita pada saat pemeriksan.

2) Anamnesis.
1,3

Selain itu, yang tidak kalah penting adalah anamnese terhadap
korban, walaupun bersifat tidak objektif, namun bisa cukup berarti.
Anamnese dapat menanyakan data korban tentang umur, status
perkawinan, tempat, waktu kejadian, siklus haid, posisi pada waktu
diperkosa, sikap korban pada saat diperkosa, pingsan atau tidak, apakah
terjadi penetrasi dan ejakulasi, apakah ada melakukan hubungan sex


21

kembali setelah diperkosa, apakah ada mencuci kemaluan atau mengganti
pakaian setelah diperkosa. Bisa saja korban melaporkan kejadian korban
perkosaan beberapa hari, minggu, atau bulan kemudian oleh karena adanya
ancaman dari si pelaku. Tentunya dokter harus lebih hati hati dalam
menyimpulkan adanya suatu bentuk pemerkosaan atau memang tindak
hubungan kelamin memang dilakukan atas dasar suka sama suka, tetapi
setelah adanya hubungan tersebut si korban merasa dibohongi atau ditipu
si pelaku lalu menyatakan bahwa hubungan tersebut terjadi akibat paksaan
atau di bawah ancaman si pelaku. Sebagai catatan penting, oleh karena
anamnese adalah segala informasi yang dimiliki dari korban tetapi dokter
sendiri sebagai pemeriksa tidak mengalaminya, oleh sebab itu tidak
objektif, sehingga data yang didapat tidak dimasukkan ke dalam visum,
tetapi dibuat dalam bentuk yang terpisah dan dilampirkan pada visum et
repertum yang berjudul : Keterangan Yang Diperoleh dari korban.

3) Pemeriksaan Umum.
8

Pemeriksaan umum dapat dilakukan dengan melakukan
pemeriksan terhadap pakaian korban. Teliti pakaian secara seksama helai
demi helai, apakah dijumpai robekan (lama atau baru) pada sepanjang
jahitan atau melintang pakaian, kancing terputus atau tidak, ada bercak
darah, air mani, lumut dan sebagainya (yang membantu dalam penilaian
TKP).
Kemudian dapat dilanjutkan pemeriksaan umum pada tubuh
korban yang meliputi penampilan korban (rapi atau kusut), keadaan
emosional, tenang atau sedih/ gelisah dan sebagainya. Dicari pula apakah
dijumpai tanda tanda kekerasan seperti luka lecet, luka robek atau
memar di daerah lengan, pipi/ wajah, bibir, payudara, puting susu,
perhatian pula apakah dijumpai tanda tanda mabuk atau pengaruh obat
seperti adanya aroma alkohol, needle marks, dan bila ada indikasi jangan
lupa mengambil darah dan urine. Selain itu kuku korban jika perlu di
kerok untuk melihat jaringan cakaran tubuh pelaku.


22

Memeriksa korban mulai dari kepala khususnya daerah mata dan
mulut bagian dalam untuk melihat adanya perlukaan. Dilanjutkan sampai
ke ujung kaki untuk mencari perlukaan atau barang bukti lain yang
melekat di kaki (bercak sperma atau darah).
Mencari rambut kemaluan pelaku yang mungkin tertinggal di
rambut kemaluan korban, temukan dengan menyisir rambut kemaluan
korban dan ambil contoh rambut kelamin korban sebagai pembanding
untuk membedakan dengan rambut kemaluan pelaku.

4) Pemeriksaan Khusus :
1,3

Pemeriksaan pada korban hidup dengan korban meninggal
tentunya berbeda. Artinya bahwa pada korban hidup kadang kala masih
terjadi gangguan psikologis akibat trauma yang dideritanya. Korban hidup
diperiksa dalam posisi lithotomi/ mengangkang atau posisi knee chest
(menungging).


Posisi pemeriksaan pada korban hidup


23

Perhatikan apakah paha bagian dalam dijumpai memar, luka lecet
maupun luka robek (goresan kuku), vulva juga diperhatikan mencari
adanya kekerasan secara seksama. Rambut kemaluan diperiksa juga
apakah bergumpal, atau ada cairan sperma atau bercak darah. Rambut
kemaluan dicabut/ digunting untuk diperiksa, selain itu disisir bila
mungkin menemukan rambut kemaluan pelaku.


Memar di pangkal vagina.

Pemeriksaan selaput darah dilakukan dengan menggunakan
spekulum. Pada pemeriksaan hymen (selaput dara) akan mempunyai arti
yang sangat penting apabila didapati robek baru, bengkak, berdarah, nyeri
sentuh dan tanda inflamasi, arah jam robekan dan lainnya. Pemeriksaan
selaput dara korban dilakukan dengan melakukan traksi lebih pada arah
mendatar dengan jari jari.
Lubang Hymen pada anak anak di bawah 5 tahun 5 mm, dan
pada umur 9 tahun atau lebih 9 mm. Hati hati dalam penentuan
hymen, oleh karena memerlukan pengetahuan yang lebih baik. Bahwa
perlu diketahui, tidak semua wanita yang diperkosa sebelumnya memiliki
hymen yang utuh, oleh karena robeknya hymen (selaput dara) belum tentu
akibat perkosaan. Demikian pula sebaliknya bahwa tidak semua
persetubuhan mengakibatkan robeknya selaput dara, oleh karena robeknya
hymen itu tergantung dari bentuk hymen, elastisitas hymen dan diameter
penis. Pemeriksaan hymen dilakukan untuk menentukan jenis selaput dara,
adanya rupture atau tidak, rupture baru atau lama serta lokasi rupture dan
apakah sampai ke insertio atau tidak.


24

Dalam memeriksa hymen (selaput dara), perhatikan rupture selaput
dara dengan seksama. Bedakan celah bawaan dari rupture dengan
memperhatikan sampai di insertio (pangkal) selaput dara. Celah bawaan
tidak mencapai insertio sedangkan rupture dapat sampai ke dinding
vagina. Pada vagina akan ditemukan parut bila rupture sudah sembuh.
Sedangkan rupture yang tidak mencapai basis tidak akan menimbulkan
parut. Rupture akibat persetubuhan biasa ditemukan di bagian posterior
kanan atau kiri dengan asumsi bahwa persetubuhan dilakukan dengan
posisi saling berhadapan.

Robekan di vagina.
Selanjutnya diperhatikan apakah dijumpai adanya tanda tanda
penyakit kelamin yang diderita korban, yang didapat dari penyebaran oleh
kelamin si pelaku.

Kondiloma, Gonorhoe, Sfillis.
5) Pemeriksaan Dalam :
7

Pemeriksaan dalam dilakukan pada korban perkosaan yang
meninggal dan dilakukan berdasarkan pemeriksaan luka yang ditemukan
pada pemeriksaan luar. Bila korban mengalami cedera di daerah leher


25

atau kepala, maka dilakukan pemeriksaan secara teliti pada organ kepala
dan leher untuk menentukan penyebab kematiannya. Pemeriksaan organ
wanita bagian dalam yaitu organ organ pelvis dilakukan secara
sempurna. Kandung kemih dikosongkan terlebih dahulu (jangan lupa
memeriksa toksikologi), lalu organ organ pelvis dikeluarkan seperti
ovarium, uterus, vulva dan rektum, lalu masing masing organ diperiksa.
Pemeriksaan medik terhadap tersangka terutama diperlukan apabila
tersangka menyangkal dapat melakukan persetubuhan dikarenakan
impotensi. Ini berkenaan dengan salah satu syarat perkosaan yaitu adanya
senggama, seorang laki laki yang menderita impotensi tentunya tidak
mungkin dapat melakukan persetubuhan, sehingga tidak mungkin dituduh
melakukan perkosaan. Dalam kaitannya dengan impotensi tersebut, dokter
hanya dapat memastikannya jika ditemukan penyakit organik yang dapat
menyebabkan terjadinya impotensi seperti diabetes mellitus, hernia
skrotalis atau hidrokel. Impotensi juga dapat dialami laki laki yang
sangat tua. Impotensi yang bersifat psikis akan sulit dibuktikan.
2,3

Pemeriksaan terhadap tersangka dapat dilakukan terhadap pakaian
dimana terdapat bercak semen, darah, dan lain sebagainya. Darah
mempunyai nilai karena kemungkinan berasal dari darah deflorasi. Disini
penentuan golongan darah penting untuk dilakukan. Selain itu, dilihat pula
apakah terdapat tanda tanda perlawanan pada pakaian atau tubuh
tersangka. Benda asing yang melekat pada pakaian atau tubuh tersangka
(misalnya rumput, tanah, dan sebagainya) dapat menjadi petunjuk jika
dicocokkan dengan lokasi kejadian.
2,3

Untuk mengetahui apakah seorang pria baru saja melakukan
persetubuhan, dapat dilakukan pemeriksaan adanya sel epitel vagina pada
glans penis. Pemeriksaan terhadap sel epitel vagina pada glans penis dapat
dilakukan dengan menekankan kaca objek pada glans penis daerah korona
atau frenulum, kemudian diletakkan terbalik di atas cawan yang berisi
larutan lugol yang mengandung yodium. Uap yodium akan mewarnai
lapisan pada kaca objek tersebut. Sitoplasma sel epitel vagina akan


26

berwarna coklat tua karena mengandung glikogen. Warna coklat tadi cepat
hilang, dengan meletakkan kembali sediaan di atas cairan lugol maka
warna coklat akan kembali lagi.
6
Test epitel vagina di penis pelaku (suspek).


Pada sediaan ini dapat pula ditemukan adanya spermatozoa tetapi
tidak mempunyai arti apa apa. Perlu pula dilakukan pemeriksaan sekret
uretra untuk menentukan adanya penyakit kelamin. Sebelum dilakukan
pemeriksaan, terlebih dahulu harus memperoleh persetujuan dari sang
pelaku kejahatan seksual atau pemeriksa sudah memiliki perintah
pengadilan untuk melakukan pemeriksaan tersebut.
6


IV. HAL PENTING LAINNYA
Bila waktu antara kejadian dan pelaporan kepada yang berwajib
berselang beberapa hari atau minggu, dapat diperkirakan bahwa peristiwa
tersebut bukan peristiwa perkosaan, tetapi persetubuhan yang pada dasarnya
tidak disetujui oleh wanita yang bersangkutan. Tetapi bisa juga disebabkan
beberapa alasan misalnya perempuan itu merasa tertipu, cemas akan menjadi
hamil, atau selang beberapa hari baru diketahui oleh ayah atau ibu dan karena
ketakutan mengakui telah disetubuhi dengan paksa. Dapat juga disebabkan
oleh korban diancam untuk tidak melapor. Pemeriksaan Fisik yang dilakukan
pada korban antara lain :
1) Pemeriksaan pakaian.


27

Pada pemeriksaan pakaian ini perlu dicatat jika ada bercak darah,
semen dan sperma, terutama pada pakaian dalam. Tanda tanda robekan
pada pakaian harus diperhatikan karena hal ini menunjukkan adanya
perlawanan. Begitu juga adanya kotoran atau bekas tanah pada pakaian
penting diperhatikan dimana hal ini mungkin menunjukkan bahwa korban
dijatuhkan lalu diperkosa. Untuk itu perlu disiapkan alas kertas untuk
korban melepaskan pakaian agar mencegah hilangnya barang bukti yang
mungkin ada pada pakaian korban.
6
2) Pemeriksaan bagian tubuh yang pribadi.
Pemeriksaan tanda tanda persetubuhan.
a) Tanda Langsung.
6

1. Robeknya selaput dara akibat penentrasi penis. Biasanya lubang
selaput dara tidak sampai sebesar satu jari tangan. Penentrasi penis
ke dalam vagina wanita yang masih perawan akan dapat
mengakibatkan robeknya selaput dara dan bentuknya menjadi
berbeda dan mungkin disertai perdarahan.
Pada wanita yang dulunya pernah melakukan persetubuhan
masih ada kemungkinan terjadi robekan tambahan (robekan baru)
mengingat kasarnya senggama pada kasus kasus perkosaan.
Tidak tertutup kemungkinan juga selaput dara dari perawan yang
mengalami perkosaan masih utuh, yaitu pada penentrasi penis yang
paling ringan (antara kedua labia) atau kondisi selaput dara sangat
elastis disertai ukuran penis yang sangat kecil, dapat juga terjadi
pada pemerkosaan terhadap wanita yang sangat muda dimana
selaput daranya dapat bersifat lunak, liat, atau tebal sehingga tidak
akan robek walaupun melakukan hubungan seksual. Dilakukan
pemeriksaan selaput dara, adakah ruptur atau tidak. Bila ada
tentukan ruptur tersebut baru atau lama dan lokasi ruptur tersebut
dicatat, teliti apakah sampai insertio atau tidak. Pada ruptur lama,
robekan menjalar sampai insertio disertai adanya parut, ada
jaringan di bawahnya. Ruptur yang tidak sampai ke insertio, bila


28

sudah sembuh tidak dapat dikenal lagi. Ruptur baru biasanya
berwarna merah atau hiperemis, sangat mungkin disertai darah di
sekitarnya.
Besar orifisium ditentukan, apakah sebesar ujung jari
kelingking, jari telunjuk atau dua jari. Sebagai gantinya boleh juga
ditentukan ukuran orifisium, dengan cara ujung kelingking atau
telunjuk dimasukkan secara hati hati kedalam orifisium sampai
terasa tepi selaput dara menjepit ujung jari, beri tanda pada sarung
tangan dan lingkaran pada titik itu diukur. Ukuran pada seorang
perawan sekitar 2, 5 cm. Lingkaran yang memungkinkan
persetubuhan dapat terjadi Voight adalah minimal 9 cm. Harus
diingat bahwa persetubuhan tidak selalu disertai dengan deflorasi.
Ada beberapa kasus di mana jari dimasukkan ke dalam
vagina, jari dapat melewati selaput dara tetapi bentuk asli dari
selaput dara tidak berubah setelah jari ditarik keluar. Keadaan ini
merupakan kasus yang cukup menyulitkan, sedangkan keputusan
pengadilan harus diambil berdasarkan pendapat dokter pemeriksa.
2. Vagina kemasukan benda asing. Pemeriksaan medis yang
menggunakan alat. Penggunaan ganggang laminaria.
3. Infeksi, misalnya infeksi difteri. Gatal gatal akibat infeksi cacing
yang halus akan menyebabkan penderitanya terus menerus
menggaruk vagina.
4. Lecet atau memar akibat gesekan gesekan penis. Gesekan
gesekan penis terhadap vagina akan mengakibatkan lecet lecet
atau memar memar pada dinding vagina. Perlu diperhatikan juga
keadaan vulva adakah tanda tanda kelainan berupa hiperemi,
memar, oedem dan lecet. Kelainan tersebut terjadi karena pada
korban tidak terjadi lubrikasi sehingga vagina dalam keadaan
kering, disamping dilakukan dengan kasar. Perlu diketahui bahwa
lubrikasi merupakan respon seksual pada wanita yang akan


29

berfungsi sebagai pelicin. Dalam korban seksual diragukan korban
dapat mengalami respon seksual.
5. Adanya sperma akibat ejakulasi. Mengenai ejakulasi yang dialami
oleh pemerkosa, dapat dibuktikan secara medik dengan
ditemukannya sperma pada liang senggama, sekitar alat kelamin
atau pada pakaian korban. Pemeriksaan sperma tersebut sangat
penting karena bukan hanya mengungkapkan adanya persetubuhan
tetapi juga identitas pelakunya melalui pemeriksaan DNA. Dari
pemeriksaan sperma juga dapat diketahui golongan darah
pelakunya. Sampel dapat diambil dengan cara membuat swab
dengan cotton bud pada bagian luar liang vagina dan dipulaskan ke
object glass. Kemudian ambil swab pada bagian luar dalam liang
vagina terutama pada bagian bawah pada arah jam 5 7. Pulaskan
di object glass.
b) Tanda Tak Langsung.
6

1. Terjadinya kehamilan dan penularan penyakit kelamin. Adanya
kehamilan dan penyakit kelamin dapat dijadikan bukti tak langsung
tentang adanya persetubuhan. Oleh sebab itu pada setiap korban
perkosaan juga perlu diperiksa ada tidaknya kehamilan dan
penyakit kelamin. Hanya saja untuk menghubungkan apakah
kehamilan itu sebagai akibat dari perbuatan yang dilakukan
terdakwa, perlu dilakukan pemeriksaan DNA. Ada baiknya korban
pemerkosaan terus dimonitor jika pemerkosa mengalami ejakulasi.
Jika ternyata mengakibatkan kehamilan maka atas gugatan dari
yang bersangkutan, terhukum, dari kasus perkosaan tersebut dapat
ditetapkan sebagai ayahnya. Jika jumlah terhukum lebih dari satu
orang tentu pemeriksaan DNA sangat membantu.
2. Pemeriksaan tanda tanda kekerasan. Sebenarnya yang
dimaksudkan dengan kekerasan adalah tindakan pelaku yang
bersifat fisik yang dilakukan dalam rangka memaksa korban agar
dapat disetubuhi. Kekerasan tersebut dimaksudkan untuk


30

menimbulkan ketakutan atau untuk melemahkan daya lawan
korban. Maka yang perlu dicari adalah tanda tanda kekerasan
fisik atau cedera yang berada di luar alat kelamin. Cedera yang ada
pada tubuh korban antara lain: cakaran kuku, luka, luka laserasi,
luka gigitan.
Jika ditemukan kekerasan fisik maka ada baiknya
disimpulkan jenis luka, jenis benda penyebabnya serta derajat
lukanya sebab jika ternyata dakwaan tindak pidana perkosaan tidak
terbukti maka hal ini dapat membantu dakwaan lapis kedua yang
biasanya berupa dakwaan penganiayaan.
Jika pelaku tindak pidana seksual menderita sadisme maka
ada kemungkinan dapat ditemukan jejas gigit pada tubuh korban
dengan air liur disekitarnya. Luka luka yang sering ditemukan
adalah bekas gigitan baik pada pipi atau payudara korban. Pola
jejas gigit tersebut dapat dimanfaatkan untuk kepentingan
identifikasi dengan cara mencocokkan dengan pola jejas gigit dari
orang yang diduga sebagai pelakunya. Sedangkan air liur yang
ditemukan di sekitarnya dapat digunakan untuk mengetahui
golongan darah (bagi orang yang bertipe secretor) atau DNA
(sebab di dalam air liur terdapat sel sel buccal yang lepas).
3) Pemeriksaan Penunjang.
a) Menentukan Cairan Mani.
Untuk menentukan adanya cairan mani dalam sekret vagina
perlu dideteksi adanya zat zat yang banyak terdapat dalam cairan
mani, beberapa pemeriksaan yang dapat dilakukan untuk membuktikan
hal tersebut adalah:
1. Reaksi Fosfatase Asam.
1.3.6

Fosfatase asam adalah enzim yang dikeluarkan oleh
kelenjar prostat di dalam cairan semen/ mani dan didapatkan pada
konsentrasi tertinggi di atas 400 kali dalam mani dibandingkan
yang mengalir dibagian tubuh yang lain. Pada pria muda berumur


31

16 tahun mencapai 540 4.000 unit per ml. Jumlah fosfatase asam
yang tinggi dihasilkan dari kelenjar prostat yaitu 3.300 23.200
unit per ml. Begitu banyak bahan yang berasal dari tumbuhan yang
telah diuji dan tidak satupun yang memberikan hasil seperti
fosfatase asam yang dihasilkan kelenjar prostat. Adanya enzim
fosfatase asam dalam kadar tinggi yang dihasilkan oleh kelenjar
prostat dengan aktifitas enzim fosfatase asam rata rata adalah
sebesar 2.500 U.K.A (kaye). Dalam sekret vagina setelah 3 hari
abstinensi seksualitas ditemukan aktifitas 0 6 unit (Risfiel).
Dengan menentukan secara kuantitatif aktifitas fosfatase asam per
2 cm
2
bercak, dapat ditentukan apakah bercak tersebut adalah mani
atau bukan. Aktifitas 25 U.K.A per 1 cc ekstrak yang diperoleh
1 cm
2
bercak dianggap spesifik sebagai bercak mani.
Prinsip Pemeriksaan.
Reagen yang digunakan untuk pemeriksaan ini adalah :
Larutan A :
1. Brentamin Fast Blue B 1g (1)
2. Natrium acetat trihyrate 20 g (2)
3. Glacial acetat acid 10 ml (3)
4. Aquadest 100 ml (4)
Prosedur kerja:
(2) dan (3) dilarutkan dalam (4) untuk menghasilkan larutan
penyangga dengan pH 5, kemudian (1) dilarutkan dalam larutan
penyangga tersebut.
Larutan B :
1. Natrium alfa naphtyl phosphate 800 mg
2. Aquadest 10 ml
Prosedur kerja yaitu: 89 ml larutan A ditambah 1 ml larutan
B, lalu disaring cepat ke dalam botol yang berwarna gelap. Jika
disimpan di lemari es reagen ini dapat bertahan berminggu
minggu dan adanya endapan tidak akan mengganggu reaksi. Enzim


32

fosfatase asam menghidrolisis Na alfa naftil fosfat; alfa naftol
yang telah dibebaskan akan bereaksi dengan brentamine
menghasilkan zat warna azo yang berwarna biru ungu. Bahan yang
akan diperiksa di tempelkan pada kertas saring yang telah terlebih
dahulu dibasahi dengan aquades selama beberapa menit. Kemudian
kertas saring diangkat dan disemprot dengan reagen. Ditentukan
waktu reaksi dari saat penyemprotan sampai timbul warna ungu.

Interpretasi pemeriksaan.
Perlu diperhatikan bahwa intensitas warna maksimal
tercapai secara berangsur angsur dan tes ini tidak spesifik. Hasil
positif semu dapat terjadi dengan feces, air teh, kontrasepsi, sari
buah dan tumbuh tumbuhan. Bercak yang tidak mengandung
enzim fosfatase asam memberi warna serentak dengan
intensitasnya secara tetap, sedangkan bercak yang mengandung
enzim fosfatase, memberikan intensitas warna secara berangsur
angsur. Menurut penelitian, bila waktu reaksi 30 detik, merupakan
indikasi yang baik untuk adanya cairan mani. Bila 30 65 detik,
indikasi sedang, dan masih perlu dikuatkan dengan pemeriksaan
elektroforesis. Bila > 65 detik, belum dapat menyatakan
sepenuhnya tidak terdapatnya cairan mani, karena pernah
ditemukan waktu reaksi > 65 detik tetapi spermatozoa positif.
Enzim fosfatsae asam yang terdapat dalam vagina memberikan
waktu reaksi rata-rata 90 100 detik. Kehamilan, adanya bakteri
dan fungi dapat mempercepat waktu reaksi.
2. Reaksi Berberio.
3

Dasar reaksi adalah menentukan adanya spermin dalam
semen/ mani.
Prinsip Pemeriksaan
Reagens yang digunakan adalah larutan asam pikrat jenuh.
Bercak diekstraksi dengan sedikit aquades. Ekstrak diletakkan pada


33

kaca objek, biarkan mengering, tutup dengan kaca penutup. Reagen
diteteskan/ dialirkan dengan pipet di bawah kaca penutup.
Interpretasi pemeriksaan.
Hasil positif memperlihatkan adanya kristal spermin pikrat
yang kekuning kuningan atau coklat berbentuk jarum dengan
ujung tumpul, dan kadang kadang terdapat garis refraksi yang
terletak longitudinal. Kristal mungkin pula berbentuk ovoid.
Reaksi tersebut mempunyai arti bila mikroskopik tidak ditemukan
spermatozoa.
3. Reaksi Florence (Kristal Kholin).
3

Dasar reaksi adalah untuk menemukan adanya kholin.

Prinsip Pemeriksaan.
Bercak diekstraksi dengan sedikit aquades. Ekstrak diletakkan pada
kaca objek, biarkan mengering, tutup dengan kaca penutup. Reagen
dialirkan dengan pipet di bawah kaca penutup.
Reagen yang digunakan :
Larutan lugol yang dapat dibuat dari :
a. Kalium yodida 1,5 g.
b. Yodium 2,5 g.
c. Aquades 30 ml.
Interpretasi Pemeriksaan.
Bila terdapat bercak mani, tampak kristal kholin
peryodida berwarna coklat, berbentuk jarum dengan ujung sering
terbelah.
Tes ini tidak khas untuk cairan mani karena ekstrak
jaringan berbagai organ, putih telur dan ekstrak serangga akan
memberikan kristal serupa. Sekret vagina kadang kadang
memberikan hasil positif. Sebaliknya bila mani belum cukup
berdegradasi, maka hasilnya mungkin negatif. Reaksi ini dilakukan


34

bila terdapat azoospermi dan cara lain untuk menentukan tidak
dapat dilakukan.
Identifikasi Bercak Mani Pada Pakaian.
3.7

Bercak mani berbatas tegas dan lebih gelap dari sekitarnya.
Bercak yang sudah agak tua berwarna agak kekuning kuningan. Pada
bahan sutera atau nilon batasnya sering tidak jelas, tetapi selalu lebih
gelap dari sekitarnya. Pada tekstil yang tidak menyerap, bercak yang
segar akan menunjukkan permukaan kilat dan translusen, kemudian
akan mengering. Dalam waktu kira kira 1 bulan akan berwarna
kuning sampai coklat. Pada tekstil yang menyerap, bercak yang segar
tidak berwarna atau bertepi kelabu yang berangsur angsur akan
berwarna kuning sampai coklat dalam waktu 1 bulan.
a. Pewarnaan Baecchi.
Prinsip Pemeriksaan.
Bercak yang dicurigai digunting sebesar 5 mm x 5 mm,
pada bagian pusat bercak. Bahan dipulas (diwarnai) dengan reagen
Baecchi selam 2 5 menit, dicuci dalam HCl 1% dan dilakukan
dehidrasi berturut turut dalam alkohol 70%, 80% dan 95 100%
(alkohol absolut), lalu dijernihkan/ bersihkan dalam xylol (2 x).
kemudian dikeringkan diantara kertas saring. Dengan jarum
diambil 1 2 helai benang, letakkan pada gelas obyek dan
diuraikan sampai serabut serabut saling terpisah. Tutup dengan
gelas tutup dan balsam kanada, periksa dengan mikroskop
pembesaran 400 x.
Reagens Baecchi :
a. Asam fukhsin (Acid Fuchsin) 1% 1 ml
b. Biru metilena (Methylene blue) 1% 1 ml
c. Asam klorida (Hcl) 1% 40 ml
Interpretasi Pemeriksaan.


35

Serabut pakaian tidak mengambil warna, spermatozoa
dengan kepala berwarna merah dan ekor berwarna merah muda
terlihat banyak menempel pada sarabut benang.
b. Skrining Dengan Reagens Fosfaste Asam.
Prinsip Pemeriksaan.
Sehelai kertas saring yang telah dibasahi dengan aquades
ditempelkan pada bercak yang dicurigai selama 5 10 menit.
Keringkan lalu semprot dengan reagens.
Interpretasi Pemeriksaan.
Bila terlihat bercak berwarna ungu, kertas saring diletakkan
kembali pada pakaian sesuai dengan letaknya semula. Dengan
demikian letak bercak pada kain dapat diketahui. Reaksi ini hanya
dilakukan bila pada pemeriksaan tidak dapat ditemukan
spermatozoa.
b) Pemeriksaan Spermatozoa.
3

Spermatozoa mempunyai bentuk khas untuk spesies tertentu
dengan jumlah yang bervariasi, biasanya 60 sampai 120 juta per ml.
Beberapa pemeriksaan untuk menentukan adanya sperma dalam cairan
vagina adalah:
1. Tanpa Pewarnaan.
Pemeriksaan ini berguna untuk melihat apakah terdapat
spermatozoa yang bergerak. Pemeriksaan motilitas spermatozoa ini
paling bermakna untuk memperkirakan saat terjadinya
persetubuhan. Umumnya disepakati bahwa dalam 2 3 jam setelah
persetubuhan masih dapat ditemukan spermatozoa yang bergerak
dalam vagina. Haid akan memperpanjang waktu ini menjadi 3 4
jam. Setelah itu spermatozoa tidak bergerak lagi dan akhirnya
ekornya akan menghilang (lisis), sehingga dilakukan pemeriksaan
dengan pewarnaan.
Prinsip Pemeriksaan Tanpa Pewarnaan


36

Satu tetes lendir vagina diletakkan pada kaca obyek, dilihat
dengan pembesaran 500 x serta kondensor diturunkan. Perhatikan
gerakan sperma. Bila sperma tidak ditemukan lagi, belum tentu
dalam vagina tidak ada ejakulat mengingat kemungkinan
azoospermia atau pasca vasektomi sehingga perlu dilakukan
penentuan cairan mani dalam cairan vagina.
2. Dengan Pewarnaan.
Prinsip Pemeriksaan Dengan Pewarnaan.
3

Dibuat sediaan apus cairan vaginal pada gelas objek,
keringkan dan difiksasi dengan melewatkan gelas objek sediaan
apus tersebut pada nyala api. Pulas (warnai) dengan HE, methylene
blue atau malachite green. Cara pewarnaan yang mudah dan baik
untuk kepentingan forensik adalah dengan pulasan malachite green
1% dalam air, dengan prosedur warnai dengan larutan malachite
green 1% selama 10 15 menit, lalu cuci dengan air mengalir dan
setelah itu lakukan counter stain dengan larutan Eosin Yellowish
1% dalam air selama 1 menit, terakhir cuci lagi dengan air,
keringkan dan periksa dibawah mikroskop.
Interpretasi Pemeriksaan.
Pada pengamatan di bawah mikroskop akan terlihat
gambaran sperma dengan kepala sperma tampak berwarna ungu
menyala dan lehernya merah muda, sedangkan ekornya berwarna
hijau.
3

Hasil positif yang diperoleh membuktikan adanya cairan
mani ketika 1 sperma yang utuh ditemukan. Meskipun memberikan
cukup bukti, hasil positif sepatutnya ditemukan 2 atau lebih sperma
untuk mendukung pemeriksaan dan tidak cukup dengan hanya
menemukan sperma yang tidak utuh. Hasil negatif tidak
menyingkirkan cairan mani dari pewarnaan tersebut. Pewarna
buatan bisa dicuci atau sperma bisa disaring hanya dengan fraksi
cairan pada pewarna buatan atau laki laki tersebut aspermia.


37

Pencucian pewarna buatan tidak selalu menghalangi bukti
meskipun bahan bahan dalam cairan yang memberikan test kimia
positif dihancurkan dan dihilangkan, sperma tidak rusak dengan
sabun yang bersifat alkalis. Pewarnaan pewarnaan dahulu atau
beberapa tahun bisa memberikan hasil positif tetapi semakin lama
pewarnaan tersebut disimpan maka kemungkinan kecil untuk
menemukan sperma yang utuh.
3


Sel sperma.















38

BAB III
LAPORAN KASUS

Identitas Korban
Nama : Nn. Liliyanti
Tempat/tanggal lahir : Tegal, 16 Juni 1993
Jenis kelamin : Perempuan
Warganegara : Indonesia
Agama : Islam
Pekerjaan : Pembantu rumah tangga
Alamat : Monaco WS No. 30 Kota Wisata Cibubur, Bekasi

Anamnesis
Korban mengaku pada tanggal 19 September 2011 pada pukul 16.00 WIB (7 jam
sebelum pemeriksaan), korban dipaksa bersetubuh oleh 1 orang pelaku (tukang di
rumah majikan korban), ejakulasi di dada (karena merasa ada cairan lengket). Saat
kejadian korban sedang haid hari ke-4, nyeri (+), bercak darah (-), nyeri saat BAK
(+). Riwayat masturbasi tidak diakui. Riwayat seksual dengan orang lain : tanggal
3 atau 4 September 2011 dengan adik majikan korban sempat berusaha
menyetubuhinya tapi tidak sempat masuk karena korban menghindar, penggunaan
kondom (-), ejakulasi di luar. HPHT = 17/9/2011, saat pemeriksaan korban sedang
haid. Haid normal, 1 bulan 2x, lamanya 5-6 hari. Riwayat pekerjaan : korban
bekerja sebagai PRT selama 4 bulan.

Pemeriksaan Fisik
Korban datang dalam keadaan sadar.
Keadaan umum baik.
Pemeriksaan tanda-tanda vital.
GCS : 15
Tekanan darah : 120/80 mmHg
Frekuensi nadi : 80 x / menit.


39

Frekuensi nafas : 18 x / menit
Suhu : 37,3
o
C
Pemeriksaan fisik umum lainnya dalam batas normal.

Status Lokalis
1. Pada lengan kiri bawah sisi belakang, 4 cm dari pergelangan tangan terdapat
memar berwarna kemerahan seukuran 1 x 0,2 cm.
2. Pada lipat paha kanan, 9 cm dibawah TADTU terdapat 2 buah luka lecet
berbentuk garis, masing-masing berukuran 2 cm dan 1,5 cm.
3. Pada mons pubis daerah tulang kemaluan sisi kanan, 5 cm dari GPD, 5 cm
dibawah TADTU terdapat 2 buah luka lecet berbentuk garis, masing-masing
berukuran 5 mm dan 4 mm, dikelilingi memar kemerahan, masing-masing
berukuran 8 x 3 mm dan 5 x 3 mm.
4. Di status genitalia :
a. Bagian luar
1.) Bibir kemaluan dalam tampak kemerahan.
2.) Bibir kemaluan bagian dalam sesuai arah ham 6 terdapat luka lecet
berukuran 0,5 x 0,8 cm.
3.) Sesuai arah jam 4 terdapat luka lecet berukuran 0,5 x 0,5 cm.
b. Selaput dara : tampak robekan baru sesuai arah jarum jam 4 dan jam 9.
c. Bagian dalam : tidak diperiksa.
5. Gigi geligi : 7 7
7 7

Pemeriksaan Penunjang
Swab vagina

Tindakan/Pengobatan
Pro VER
Konsultasi Psikiatri
Korban Dipulangka


40


Jakarta, 19 September 2011
PRO JUSTITIA
VISUM ET REPERTUM
No : 234/VER/IX/2011/PMJ/ Dir. Reskrimum

Yang bertanda tangan di bawah ini, dr. Fitriyati Irviana, dokter pada Departemen
Ilmu Kedokteran Forensik dan Medikolegal Fakultas Kedokteran Universitas
Indonesia - Rumah Sakit Dr. Cipto Mangunkusumo di Jakarta, atas permintaan
tertulis dari Kepala Kepolisian Polda Metro Jaya dengan suratnya bernomor :
LP/3200/IX/2011/PMJ/Dit. Reskrimum, tertanggal 19 September 2011, dengan
ini menerangkan bahwa pada tanggal sembilan belas September tahun dua ribu
sebelas, pukul dua puluh tiga Waktu Indonesia Barat bertempat di Rumah Sakit
Dr. Cipto Mangunkusumo, telah melakukan pemeriksaan terhadap korban dengan
nomor registrasi 358-46-55, yang menurut surat tersebut adalah : ----------------------------------
Nama : Nn. Liliyanti ----------------------------------------------------------------
Tempat/tanggal lahir : Tegal, 16 Juni 1993 ------------------------------------------------------
Jenis kelamin : Perempuan ------------------------------------------------------------------
Warganegara : Indonesia -------------------------------------------------------------------
Agama : Islam ------------------------------------------------------------------------
Pekerjaan : Pembantu rumah tangga -------------------------------------------------
Alamat : Monaco WS No. 30 Kota Wisata Cibubur, Bekasi ------------------

HASIL PEMERIKSAAN --------------------------------------------------------------------------------
1. Korban datang dalam keadaan : kesadaran baik, dengan keadaan umum baik. ---------------
2. Penampilan umum / sikap : baik dan kooperatif, keadaan pakaian baik (sudah
ganti). -----------------------------------------------------------------------------------------------------
3. Korban mengaku sekitar tujuh jam sebelum pemeriksaan, dipaksa untuk
bersetubuh oleh satu orang pelaku (tukang di rumah majikan korban). Pada
saat kejadian korban sempat menangis dan berteriak meminta tolong kepada
pembantu lainnya, namun tidak dihiraukan karena dianggap bercanda, korban


41

mengatakan terjadi ejakulasi di dada (karena merasa ada cairan lengket). Saat
kejadian korban sedang haid hari keempat. Kemudian korban terus menangis
dan berusaha untuk melepaskan diri dari sekapan pelaku. Setelah kejadian
korban merasakan nyeri pada kemaluannya dan nyeri saat buang air kecil.


Lanjutan Visum et Repertum No : 234/VER/IX/2011/PMJ/ Dir. Reskrimum
Halaman 2 dari 3


Korban juga memiliki riwayat kekerasan seksual dengan orang lain
yaitu sekitar tanggal tiga atau empat September dua ribu sebelas, adik majikan
korban sempat berusaha menyetubuhinya tapi tidak sempat masuk karena
korban menghindar, adik majikan tidak penggunaan kondom dan ejakulasi di
luar. Hari pertama haid terakhir tanggal tujuh belas September dua ribu
sebelas. Saat pemeriksaan korban sedang haid.
4. Pemeriksaan fisik umum: ------------------------------------------------------------------------------
Tekanan darah seratus dua puluh per delapan puluh per milimeter Hg; nadi
depalan puluh kali per menit; frekuensi pernapasan delapan belas kali per
menit; suhu tiga puluh tujuh koma tiga derajat celsius. -------------------------------------------
5. Pada korban ditemukan luka-luka : ------------------------------------------------------------------
a. Pada lengan kiri bawah sisi belakang, empat sentimeter dari pergelangan
tangan terdapat memar berwarna kemerahan seukuran satu kali nol koma
dua sentimeter. ------------------------------------------------------------------------------------
b. Pada lipat paha kanan, sembilan sentimeter dibawah taju atas depan
tulang usus terdapat dua buah luka lecet berbentuk garis, masing-masing
berukuran dua sentimeter dan satu setengah sentimeter. -----------------------------------
c. Pada pubis daerah tulang kemaluan sisi kanan, lima sentimeter dari garis
pertengahan depan, lima sentimeter dibawah taju atas depan tulang usus
terdapat dua buah luka lecet berbentuk garis, masing-masing berukuran
lima millimeter dan empat milimeter, dikelilingi memar kemerahan,


42

masing-masing berukuran delapan kali tiga milimeter dan lima kali tiga
milimeter. ------------------------------------------------------------------------------------------
d. Di status genitalia : -------------------------------------------------------------------------------
a.) Bagian luar : ------------------------------------------------------------------------------------
(1.) Bibir kemaluan dalam tampak kemerahan. ---------------------------------------
(2.) Bibir kemaluan bagian dalam sesuai arah jam enam terdapat
luka lecet berukuran nol koma lima kali nol koma delapan
sentimeter. ------------------------------------------------------------------------------
(3.) Sesuai arah jam empat terdapat luka lecet berukuran setengah
kali setengah sentimeter. ------------------------------------------------------------
b.) Selaput dara : tampak robekan baru sesuai arah jarum jam empat dan
jam sembilan. ----------------------------------------------------------------------------------
c.) Bagian dalam : tidak diperiksa. --------------------------------------------------------------

Lanjutan Visum et Repertum No : 234/VER/IX/2011/PMJ/ Dir. Reskrimum
Halaman 3 dari 3


6. Terhadap korban dilakukan pemeriksaan penunjang apusan vagina dan
konsultasi pada psikiater. ------------------------------------------------------------------------------
7. Korban dipulangkan. -----------------------------------------------------------------------------------












43

KESIMPULAN ---------------------------------------------------------------------------------------------
Pada pemeriksaan korban perempuan berumur delapan belas tahun ini,
ditemukan luka memar dan lecet pada lengan kiri, lipat paha, dan
kemaluan akibat kekerasan tumpul. -------------------------------------------------------------
Luka-luka tersebut menimbulkan penyakit/halangan dalam menjalankan
pekerjaan jabatan atau pencaharian sementara waktu. ----------------------------------------
Demikianlah visum et repertum ini dibuat dengan sebenarnya dengan
menggunakan keilmuan yang sebaik-baiknya, mengingat sumpah sesuai
dengan Kitab Undang-undang Hukum Acara Pidana. ----------------------------------------

Dokter tersebut diatas,


Dr. Fitriyati Irviana, SpF
NIM:0920.221.118


















44



BAB IV
PEMBAHASAN

I. Prosedur Medikolegal
Pemeriksaan medik untuk tujuan membantu penegakkan hukum antara
lain adalah pembuatan Visum et Repertum (VeR) terhadap seseorang yang
dikirim oleh polisi (penyidik) karena diduga sebagai korban suatu tindak pidana
baik dalam peristiwa kecelakaan lalu lintas, kecelakaan kerja, penganiayaan,
pembunuhan, perkosaan, maupun korban meninggal yang pada pemeriksaan
pertama polisi terdapat kecurigaan akan kemungkinan adanya tindak pidana.
Visum et Repertum (VeR) adalah keterangan yang dibuat oleh dokter atas
permintaan penyidik yang berwenang mengenai hasil pemeriksaan medik
terhadap manusia, baik hidup atau mati, ataupun bagian atau diduga bagian tubuh
manusia, berdasarkan keilmuannya dan dibawah sumpah untuk kepentingan
peradilan. Pembuatan VeR pada manusia sebagai korban atau diduga korban
tindak pidana memiliki dasar hukum yaitu pasal 133 ayat (1) KUHAP, yaitu
Dalam hal penyidik untuk kepentingan peradilan menangani seorang korban
baik luka, keracunan, maupun mati yang diduga karena peristiwa yang
merupakan tindak pidana, ia berwenang mengajukan permintaan keterangan ahli
kepada ahli kedokteran kehakiman atau dokter dan atau ahli lainnya.. Pada
kasus ini korban mengalami luka yang diduga akibat kekerasan benda tajam yang
dilakukan oleh Ayah kandungnya sendiri (menurut pengakuan korban), sehingga
penyidik berwenang mengajukan permintaan keterangan ahli dalam hal ini ahli
kedokteran kehakiman di Departemen Ilmu Kedokteran Forensik dan Medikolegal
RSCM.
Permintaan keterangan ahli ini harus dilakukan secara tertulis, yaitu dalam
bentuk surat permintaan visum (SPV). SPV harus memuat keterangan mengenai
identitas korban dan jenis pemeriksaan yang diminta, seperti tertulis dalam pasal
133 ayat (2) KUHAP, yang berbunyi Permintaan keterangan ahli sebagaimana


45

dimaksud dalam ayat (1) dilakukan secara tertulis, yang dalam surat itu
disebutkan dengan tegas untuk pemeriksaan luka atau pemeriksaan mayat dan
atau pemeriksaan bedah mayat. Pada kasus ini permohonan visum secara tertulis
diberikan oleh penyidik kepada dokter.
Dokter sebagai pihak yang dimintai keterangan oleh penyidik terkena
kewajiban untuk memberikan bantuan sesuai dengan kemampuannya. Dokter
yang dimintai keterangan oleh penyidik wajib memeriksa korban dan membuat
VeR setelah sebelumnya didapatkan persetujuan pemeriksaan dari korban. Jika
dokter menolak, maka dokter dikenai sanksi sesuai pasal 216 ayat (1) KUHP,
Barang siapa dengan sengaja tidak menuruti perintah atau permintaan yang
dilakukan menurut undang-undang oleh pejabat yang tugasnya mengawasi
sesuatu, atau oleh pejabat berdasarkan tugasnya, demikian pula yang diberi
kuasa untuk mengusut atau memeriksa tindak pidana; demikian pula barang
siapa dengan sengaja mencegah, menghalang-halangi atau menggagalkan
tindakan guna menjalankan ketentuan, diancam dengan pidana penjara paling
lama empat bulan dua minggu atau denda paling banyak sembilan ribu rupiah.
Keterangan ahli dalam surat pada pasal 184 KUHAP ayat (1) tersebut sepadan
dengan yang dimaksud dengan visum et repertum dalam Statsblad 350 tahun
1937.

II. Pemeriksaan Terhadap Korban
Tujuan pemeriksaan kedokteran forensik pada korban hidup adalah untuk
mengetahui penyebab luka atau sakit dan derajat luka yang terjadi pada korban.
Hal ini dimaksudkan untuk memenuhi rumusan delik dalam KUHAP. Oleh karena
itu berbeda dengan ilmu kedokteran lain, kedokteran forensik tidak ditujukan
untuk mengobati melainkan mengetahui penyebab luka atau sakit dan derajat
keparahan luka.
Peran ilmu kedokteran forensik dalam membantu penyelesaian proses
penyidikan kasus-kasus diperlukan dituangkan dalam Visum et Repertum
perlukaan yang harus mencakup penetuan jenis luka, jenis kekerasan yang
menyebabkan luka, dan menentukan kualifikasi luka. Penentuan kualifikasi luka


46

pada dasarnya mengacu pada pasal 351 ayat (1) dan (2), pasal 352 ayat (1), pasal
353 ayat (2), pasal 354 ayat (1), dan pasal 360 ayat (1) dan (2) KUHP.
Penyidik mengenal 3 kualifikasi luka yaitu:
1) Luka yang tidak mengakibatkan penyakit atau halangan dalam melakukan
pekerjaan atau jabatan. (luka ringan, luka derajat 1)
2) Luka yang mengakibatkan penyakit atau halangan dalam melakukan pekerjaan
atau jabatan untuk sementara waktu. (luka sedang, luka derajat 2)
3) Luka yang tertulis dalam pasal 90 KUHP (luka berat, luka derajat 3), yaitu:
a) Jatuh sakit atau mendapat luka yang tidak memberi harapan akan sembuh
sama sekali, atau yang menimbulkan bahaya maut
b) Tidak mampu terus menerus untuk menjalankan tugas jabatan atau pekerjaan
pencarian;
c) Kehilangan salah satu panca indera;
d) Mendapat cacat berat
e) Menderita sakit lumpuh;
f) Terganggunya daya pikir selama empat minggu lebih
g) Gugur atau matinya kandungan seorang perempuan
Korban dalam kasus ini datang dalam keadaan sadar dengan keadaan
umum baik, pada pemeriksaan ditemukan luka lecet serta memar pada lengan,
paha, dan kemaluan. Luka-luka pada korban diakibatkan oleh kekerasan tumpul.
Berdasarkan hasil pemeriksaan, luka pada korban tersebut menimbulkan
penyakit dan halangan dalam melakukan pekerjaan atau pencaharian korban
sementara waktu dan dikategorikan sebagai luka sedang. Dasar kualifikasi luka
ringan atau luka derajat satu tercantum dalam pasal 352 ayat (1) KUHP yang
berbunyi kecuali yang tersebut dalam pasal 353 dan 356, maka luka yang tidak
menimbulkan penyakit atau halangan untuk menjalankan pekerjaan jabatan atau
pencarian, diancam, sebagai penganiayaan ringan, dengan pidana penjara
paling lama tiga bulan atau pidana denda paling banyak empat ribu lima ratus
rupiah. Pidana dapat ditambah sepertiga bagi orang yang melakukan kejahatan
itu terhadap orang yang bekerja padanya atau menjadi bawahannya


47

Delik kejahatan seksual yang terpenuhi dalam kasus ini diantaranya
adalah, menyetubuhi wanita diluar perkawinan, membuat seseorang tidak berdaya,
dan dilakukan tanpa seizing korban.






























48

BAB V
KESIMPULAN

Perkosaan adalah suatu kejahatan seksual yang ditandai dengan adanya
persetubuhan dengan wanita yang bukan merupakan istri dari pelaku
disertai dengan tanda tanda kekerasan atau ancaman akan kekerasan,
serta unsur pemaksaan.
Pemeriksaan medik untuk tujuan membantu penegakkan hukum antara
lain adalah pembuatan Visum et Repertum (VeR) terhadap seseorang yang
dikirim oleh polisi (penyidik) karena diduga sebagai korban suatu tindak
pidana baik dalam peristiwa kecelakaan lalu lintas, kecelakaan kerja,
penganiayaan, pembunuhan, perkosaan, maupun korban meninggal yang
pada pemeriksaan pertama polisi terdapat kecurigaan akan kemungkinan
adanya tindak pidana.
Tujuan pemeriksaan kedokteran forensik pada korban hidup adalah untuk
mengetahui penyebab luka atau sakit dan derajat luka yang terjadi pada
korban. Hal ini dimaksudkan untuk memenuhi rumusan delik dalam
KUHAP
Berdasarkan hasil pemeriksaan, luka pada korban tersebut menimbulkan
penyakit dan halangan dalam melakukan pekerjaan atau pencaharian
korban sementara waktu dan dikategorikan sebagai luka sedang. Dasar
kualifikasi luka ringan atau luka derajat satu tercantum dalam pasal 352
ayat (1) KUHAP










49

DAFTAR PUSTAKA

1) Amir A. Pelanggaran Kesusilaan dan Perkosaan. Dalam:
Rangkaian Ilmu Kedokteran Forensik. Edisi kedua. Bagian
Ilmu Kedokteran Forensik FK USU. Medan. 2005. h. 142-158.
2) Dahlan S. Ilmu kedokteran forensik. Badan Penerbit Universitas
Diponegoro. Semarang. 2004: 130-131.
3) Budiyanto A, et al. Ilmu kedokteran forensik, edisi I. Fakultas
Kedokteran UI. Jakarta. 1997: 147-58.
4) Dahlan S. Kejahatan Seksual. Dalam: Ilmu Kedokteran
Forensik. Pedoman Bagi Dokter dan Penegak Hukum. Badan
Penerbit UNDIP. Semarang. 2000. h. 125-133.
5) Kamus Kedokteran Dorland, Penerbit Buku Kedokteran Jakarta.
6) Murtika IK, Prakoso D. Dasar-dasar Materiil tentang
Kedokteran Forensik. Dalam: Dasar-Dasar Ilmu Kedokteran
Kehakiman. PT.Rineka Cipta. Jakarta. 1992. h. 138-153.
7) Chadha PV. Ilmu Forensik dan Toksikologi, edisi V. Widya Medika.
Semarang. 2004: 149-59.
8) Camps FE, Robinson AE, Lucas BGB. Sexual Offences,
Divorce and Nullity. In: Gradwhols Legal Medicine. Third
Edition. Year Book Medical Publications Inc. Chicago. 1976.
p. 395-408.
9) www.scribd.com/ visum et repertum kasus pemerkosaan.