Anda di halaman 1dari 19

PERATURAN BADAN PEMELIHARA KEAMANAN

KEPOLISIAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA


NOMOR 1 TAHUN 2012
TENTANG
PELETON PENGURAI MASSA
BAB I
KETENTUAN UMUM
PASAL 1
Dalam Peraturan ini yang dimaksud dengan:

1. Kepolisian Negara Republik Indonesia yang selanjutnya disingkat Polri adalah alat Negara
yang berperan dalam memelihara keamanan dan ketertiban amsyarakat, menegakkan
hukum, serta memberikan perlindungan pengayoman, dan pelayanan kepada masyarakat
dalam rangka terpeliharanya keamanan dalam negeri.
2. Sabhara adalah salah satu fungsi yang merupakan bagian dari fungsi-fungsi yang ada di
Polri.
3. Kepala Kesatuan Kewilayahan yang selanjutnya disingkat Kasatwil adalah pelaksana tugas
dan wewenang Polri di wilayah Kecamatan, Kabupaten / Kota, dan Provinsi.
4. Tindakan Kepolisian adalah upaya paksa dan / atau tindakan lain yang dilakukan secara
bertanggung jawab menurut hukum yang berlaku untuk mencegah, menghambat, atau
menghentikan anarki atau pelaku kejahatan lainnya yang mengancam keselamatan, atau
membahayakan jiwa raga, harta benda atau kehormatan kesusilaan, guna mewujudkan
tertib dan tegaknya hukum serta terbinanya ketenteraman masyarakat.
5. Keamanan dan ketertiban masyarakat yang selanjutnya disingkat Kamtibmas adalah suatu
kondisi dinamis masyarakat sebagai salah satu prasyarat terselenggaranya proses
pembangunan nasional dalam rangka tercapainya tujuan nasional yang ditandai oleh
terjaminnya keamanan, ketertiban, dan tegaknya hukum serta terbinanya ketenteraman yang
mengandung kemampuan membina serta mengembangkan potensi dan kekuatan
masyarakat dalam menangkal, mencegah, dan menanggulangi segala bentuk pelanggaran
hukum dan bentuk-bentuk gangguan lainnya yang dapat meresahkan masyarakat.

6. Peleton Pengurai Massa yang selanjutnya disingkat Tonraimas adalah Peleton Sabhara yang
bertugas mengurai / membubarkan / menceraiberaikan dan melokalisir massa yang
melakukan tidakan anarki sehingga mengganggu Kamtibmas berfungsi sebagai kekuatan
penindak tahap awal dan berperan sebagai stabilisator anarki.

7. Anarki adalah tindakan yang dilakukan dengan sengaja atau terang-terangnan oleh seseorang
atau sekelompok orang yang bertentangan dengan norma hukum yang mengakibatkan
kekacauan, membahayakan kemanan umum, mengancam keselamatan jiwa dan / barang,
kerusakan fasilitas umum atau hak milik orang lain.

8. Kendaraan Pengurai Massa yang selanjutnya disingkat Ranraimas adalahkendaraan roda dua
(sepeda motor) yang digunakan sebagai sarana pendukung operasional untuk melaksanakan
tugas mengurai / membubarkan / menceraiberaikan dan melokalisir kekuatan massa yang
mengganggu Kamtibmas.
9. Mengurai massa adalah tindakan kepolisian untuk memecah dan melemahkan konsentrasi
serta kekuatan massa menjadi kelompok-kelompok yang lebih kecil.
10. Kewajiban umum adalah kewajiban yang diberikan kepada anggota Polri
sesuai kewenangannya untuk bertindak atau tidak bertindak menurut
penilaian sendiri untuk menjaga, memelihara ketertiban dan menjamin
keselamatan umum.

11. Diskresi kepolisian adalah tindakan anggota kepolisian berwenang
mengambil keputusan dalam situasi tertentu yang membutuhkan
pertimbangan sendiri demi kepentingan umum.
12. Kendali taktis adalah pengendalian oleh Kepala Kesatuan Kewilayahan
yang berwenang mengatur segala tindakan Tonraimas di lokasi.

13. Kendali teknis adalah pengendalian oleh pejabat pembina fungsi atau
pimpinan Tonraimas yang bertanggung jawab atas teknis pelaksanaan
tugas di lokasi.

14. Acara Arahan Pimpinan yang selanjutnya disingkat AAP adalah kegiatan
yang dilakukan oleh kendali taktis dan teknis berupa pemberian arahan
kepada seluruh anggota Polri sebelum diterjunkan ke lapangan untuk
melaksanakan tugas.
Peraturan ini bertujuan untuk memberikan pedoman kepada personel Polri
dalam melaksanakan tugas penanganan kerusuhan massa dan / atau anarki
guna mengantisipasi dan mengurangi dan / atau menghilangkan dampak
yang dapat mengganggu stabilitas Kamtibmas
Prinsip-prinsip peraturan ini meliputi :
a. Legalitas, semua tindakan Kepolisian harus sesuai dengan perundang-
undangan yang berlaku;
b. Nessesitas, penggunaan kekuatan dapat dilakukan bila memang
diperlukan dan tidak dapat dihindarkan berdasarkan situasi yang
dihadapi;
c. Proporsionalitas, penggunaan kekuatan harus dilaksanakan secara
seimbang antara ancaman yang dihadapi dan tingkat kekuatan atau
respon anggota Polri, sehingga tidak menimbulkan kerugian / korban /
penderitaan yang berlebihan;
d. Preventif, tindakan kepolisian mengutamakan pencegahan;
e. Reasonable, tindakan kepolisian diambil dengan mempertimbangkan
secara logis situasi dan kondisi dari ancaman atau perlawanan pelaku
kejahatan terhadap petugas atau bahayanya terhadap masyarakat
PASAL 3
PASAL 2
BAB III
PELAKSANAAN
(1) Bentuk Ancaman Gangguan (AG) yang dapat menjadi
perbuatan anarki berupa :
a. membawa senjata (api, tajam);
b. membawa bahan berbahaya (padat, cair, dan gas);
c. membawa senjata / bahan berbahaya lainnya (ketapel,
kejut), dan / atau
d. melakukan tindakan provokatif (menghasut).
Bagian Pertama
Bentuk, Sifat, Pelaku, dan Akibat Anarki
Pasal 4
(2) Bentuk Gangguan Nyata (GN) :
a. perkelahian massal;
b. pembakaran;
c. perusakan;
d. pengancaman;
e. penganiayaan;
f. pemerkosaan;
g. penghilangan nyawa orang;
h. penyanderaan;
i. penculikan;
j. pengeroyokan;
k. sabotase;
l. penjarahan;
m. sabotase;
n. penjarahan;
o. perampasan;
p. pencurian; dan / atau
q. melawan / menghina petugas dengan menggunakan
atau tanpa menggunakan alat dan / atau senjata.
Sifat anarki antara lain :
a. agresif;
b. spontan;
c. sporadis;
d. sadirs;
e. menimbulkan ketakutan
f. brutal;
g. berdampak luas; dan
h. pada umumnya dilakukan secara massal.
Pasal 5
Pasal 6
Pelaku anarki berupa:
a. perorangan, dengan mengabaikan peraturan yang ada, dan berdampak luas terhadap stabilias
Kamtibmas; dan / atau
b. kelompok atau kolektif, baik yang dikendalikan / digerakkan oleh seseorang maupun tidak
dikendalikan oleh seseorang namun dilakukan secara bersama-sama, dan berdampak luas
terhadap stabilitas Kamtibmas.
Akibat dari anarki dapat menyebabkan terjadinya :
a. kerugian jiwa dan harta benda yang berpengaruh terhadap stabilitas Kamtibmas atau
meresahkan masyarakat luas atau keselamatan masyarakat;
b. gangguan terhadap stabilitas Kamtibmas yang menyebabkan fungsi pemerintahan maupun
aktivitas keseharian masyarakat tidak dapat berlangsung dengan lancar; dan
c. ganggunguan terhadap operasionalisasi dan fungsi suatu institusi tertentu, baik swasta maupun
pemerintah.
Pasal 7
(1) Pelaksana kegiatan Tonraimas beserta konfigurasinya adalah personel
Sabhara yang ada di satuan Dalmas Polda dan Polres.
(2) Tonraimas merupakan peleton khusus yang dapa bertugas secara
mandiri dengan atas perintah atau menjadi bagian dari satuan Dalmas.
Bagian Kedua
Pelaksana, Konfigurasi, Persyaratan Tonraimas, dan
Bentuk-bentuk Sasaran
Pasal 8
(1) Konfigurasi Tonraimas sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 meliputi :
a. Konfigurasi Personel; dan
b. Konfigurasi peralatan.
(2) Konfigurasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) tercantum dalam
Lampiran yang tidak terpidahkan dari peraturan ini.
Pasal 9
Persyaratan Tonraimas meliputi :
a. memiliki kualifikasi kemampuan sesuai persyaratan personel dalmas;
b. mahir mengemudikan kendaraan bermotor roda dua;
c. memiliki Surat Izin Mengemudi Golongan C;
d. mampu menggunakan peralatan perorangan;
e. mampu mengoperasionalkan peralatan Flash Ball; dan
f. mampu menembak dengan sasaran statis maupun sasaran berjalan.
Pasal 10
Bentuk-bentuk sasaran yang menjadi objek penugasan Tonraimas meliputi :
a. kelompok massa yang melakukan tindakan mengarah anarki dan dapat
mengganggu keamanan dan ketertiban masyarakat;
b. benda dan / atau peralatan yang digunakan oleh massa untuk melakukan
anarki; dan
c. lokasi dan / atau tempat terjadinya anarki.
Pasal 11
Tindakan yang dilakukan oleh Tonraimas berdasarkan :
a. per t i mbangkan manf aat dan r es i ko dar i
tindakannya;
b. kepentingan organisasi Polri;
c. kepentingan umum.
Bagian Ketiga
Cara Bertindak

Paragraf Satu
Pasal 12
(1) Setelah menerima pemberitahuan adanya rusuh massa, maka kendali taktis
maupun teknis segera melakukan kegiatan persiapan dan memberikan AAP.

(2) Kegiatan persiapan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) berupa :
a. menyiapkan surat perintah;
b. menyiapkan kekuatan personel yang mengawaki Ranraimas;
c. melakukan pengecekan jumlah personel, kendaraan, perlengkapan, dan
peralatan perorangan;
d. menyiapkan / menentukan rute menuju objek / TKP;
e. menentukan sistem komunikasi Tonraimas secara berjenjang; dan
f. menentukan formasi peleton pada saat akan berangkat menuju ke sasaran
yaitu membentuk formasi berbanjar dua atau membentuk formasi situasional
dengan satu unit menjadi ujung tombak (cucuk).
(3) AAP sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi :
a. memberikan gambaran situasi tentang kondisi akhir yang terjadi di objek /
TKP kerusuhan;
b. menentukan pola tindak / urutan tindakan yang akan dilakukan dalam
mengurai massa;
c. menentukan formasi yang akan dilakukan dalam menghadapi dan
melakukan tindakan mengurai / memecah belah konsentrasi massa;
d. mematuhi larangan dan kewajiban yang dilakukan oleh anggota Raimas;
dan
e. setelah AAP Tonraimas menuju sasaran.
Pasal 13
Larangan sebagaimana dimaksud dalam pasal 10 ayat (3) huruf d adalah :
a. bersikap arogan dan mudah terpancing emosi oleh perilaku massa;
b. melakukan tindakan kekerasan;
c. membawa peralatan selain peralatan dan kelengkapan Raimas;
d. melakukan pengejaran secara perorarangan tanpa ada perintah dari pimpinannya;
e. mengeluarkan kata-kata kotor, pelecahan seksual / perbuatan asusila dan mencaci maki
massa;
f. malakukan perbuatan lainnya yang melanggar peraturan perundang-undangan; dan
g. menggunakan Ranraimas untuk kepentingan pribadi dan tidak sesuai dengan tugas pokok
dan fungsinya
Pasal 14
Kewajiban sebagaimana dimaksud dalam Pasal 10 ayat (3) huruf d adalah :
a. senantiasa menggunakan perlengkapan perorangan yang ditentukan;
b. bergerak dalam ikatan peleton;
c. melakukan pemeliharaan dan perawatan kendaraan Raimas yang digunakan;
d. menjunjung tinggi Hak Asasi Manusia;
e. melaksanakan penguraian / pencerai beraian massa sesuai dengan ketentuan;
f. setiap pergerakan dan tindakan Tonraimas harus atas dasar perintah pimpinan lapangan
(Dantonraimas);
g. melindungi jiwa raga dan harta benda;
h. tetap menjaga dan mengembalikan situasi menjadi kondusif;
i. patuh dan taat kepada perintah pimpinan lapangan yang bertanggung jawab sesuai
tingkatannya; dan
j. menaati peraturan lalu lintas dan perundang-undangan lainnya.
Pasal 15
Tindakan yang dilakukan Tonraimas di lokasi / sasaran adalah sebagai berikut :
a. memakai masker gas sebelum masuk ke dalam lokasi anarki;
b. membentuk formasi bersaf menghadap ke arah massa yang sedang melakukan aksi anarki;
c. membagi Tonraimas menjadi dua kelompok dan masing-masing membentuk formasi bersaf
menghadap ke arah massa;
d. memberikan himbauan kepada massa untuk menghentikan tindakannya dan membubarkan diri,
sebagaimana tercantum dalam lampiran yang tidak terpisahkan dari peraturan ini;
e. melakukan tembakan gas air mata, apabila massa tidak mengindahkan himbauan;
f. mendorong massa ke arah yang menurut penilaian petugas merupakan daerah aman sambil
menunggu datangnya pasukan bantuan;
g. melakukan penangkapan terhadap pelaku apabila memungkinkan;
h. meninggalkan sasaran untuk melakukan konsolidasi apabila situasi telah terkendali; dan
i. melaporkan semua rangkaian kegiatan kepada Kasatwil.
Paragraf Ketiga
Tahap Pelaksanaan
Pasal 16
Tindakan yang dilakukan Tonraimas di lokasi / sasaran adalah sebagai berikut :
a. kendali taktis dan teknis melakukan konsolidasi dengan kegiatan pengecekan terhadap kekuatan
personel dan kondisi akhir peralatan yang digunakan;
b. setelah selesai melaksanakan tugas maka Tonraimas segera kembali ke induk satuan dengan
tertib.
Paragraf Keempat
Tahap Pelaksanaan
Pasal 17
(1) Dalam pelaksanaan kegiatan penguraian massa, Dantonraimas dapat melakukan koordinasi
dengan Satuan Fungsi Kepolisian lainnya guna mendukung pelaksanaan tugasnya; dan
(2) Kasatwil dapat melakukan koordiansi dengan Satuan kewilyahan terdekat dan instansi terkait
lainnya untuk mencapai hasil yang maksimal.
Bagian Kelima
Koordinasi dan Pengendalian
Pasal 18
(1) Pejabat yang berwenang dalam pengendalian adalah :
a. Tingkat Provinsi berada pada Kapolda;
b. Tingkat kabupaten / Kota berada pada Kapolres; dan
c. Tingkat Kecamatan berada pada Kapolsek.
(2) Dirsabhara Polda / Kasatsabhara Polres bertanggung jawab secara teknis penggunaan Tonraimas
yang berada di wilayahnya; dan
(3) Dantonraimas bertanggung jawab secara teknis pada saat dan setelah kekuatan digunakan.
Pasal 19
(1) Susunan kekuatan personel yang mengawaki kendaraan pengurai massa terdiri dari tingkat
peleton;
(2) Susunan kekuatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) tercantum dalam Lampiran yang tak
terpisahkan dari Peraturan ini.
Bagian Kelima
Ketentuan Lain
Pasal 20

BAB III
KETENTUAN PENUTUP

Pasal 21

.
Ditetapkan di Jakarta
pada tanggal 12 Januari 2012
Peraturan Kepala Badan Pemelihara Keamanan Polri ini mulai
berlaku pada tanggal ditetapkan
LAMPIRAN

PERATURAN BADAN PEMELIHARA KEAMANAN
KEPOLISIAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA
NOMOR 1 TAHUN 2012
TENTANG
PELETON PENGURAI MASSA
1. konfigurasi personel Tonraimas berjumlah tiga puluh orang teridiri dari :
a. Danton berpangkat Inspektur;
b. pengemudi kendaraan Raimas: lima belas orang
c. operator / penembak: empat belas orang

2. konfigurasi peralatan Tonraimas terdiri dari :
a. peralatan satuan :
1. ramor roda dua lima belas unit;
2. helm tiga puluh buah;
3. rompi pelindung badan tiga puluh set;
4. sarung tangan kulit tiga puluh pasang;
5. pengeras suara (Megaphone) satu unit;
6. flash ball empat belas pucuk dan munisinya;
7. pesawat Handy Talky (ht) satu unit; dan
8. masker gas tiga puluh buah.

b. perlengkapan perorangan :
1. pakaian PDL 1 A;
2. tongkat T; dan
3. borgol.
KONFIGURASI PERSONEL DAN PERALATAN
PELETON PENGURAI MASSA
PERHATIAN-PERHATIAN
ATAS NAMA UNDANG-UNDANG KAMI SELAKU ANGGOTA KEPOLISIAN NEGARA REPUBLIK
INDONESIA MENGHIMBAU KEPADA SAUDARA-SAUDARA SEKALIAN :
1. HENTIKAN KEGIATAN SAUDARA-SAUDARA;
2. SAYA ULANGI HENTIKAN KEGIATAN SAUDARA-SAUDARA;
3. APABILA SAUDARA-SAUDARA TIDAK MAU MENGHENTIKAN KEGIATAN YANG
SAUDARA-SAUDARA LAKUKAN MAKA KAMI AKAN MELAKUKAN TINDAKAN TEGAS;
4. KAMI AKAN MELAKUKAN TINDAKAN TEGAS SETELAH HITUNGAN MUNDUR MULAI
DARI : EMPAT, TIGA, DUA, SATU.

HIMBAUAN PELETON PENGURAI MASSA
SEBAGAIMANA DIMAKSUD DALAM PASAL 15 HURUF d