Anda di halaman 1dari 12

LAPORAN

SILA KE 4 PANCASILA
KERAKYATAN YANG DIPIMPIN OLEH HIKMAT KEBIJAKSANAAN
DALAM PERMUSYAWARATAN PERWAKILAN

Oleh :

Dudung Awaludin (103030083)
Eman Sulaeman (103030084)
M Yodi (103030080)
Bambang S (103030115)
M fazar (103030045)
Haristian (103030117)
Aditya (113030040)











JURUSAN TEKNIK MESIN
FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS PASUNDAN
BANDUNG
2014
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Dalam kehidupan negara, secara yuridis dan konstitusional Pancasila
mempunyai kedudukan sebagai ideologi nasional. Sebagai ideologi nasional,
pancasila mempunyai kedudukan sebagai pandangan hidup bangsa dan dasar
negara Republik Indonesia. Sebagai pandangan hidup bangsa, Pancasila
merupakan perwujudan nilai-nilai luhur bangsa yang dilakukan secara turun-temurun
oleh bangsa Indonesia dalam kehidupan sehari-hari. Sebagai dasar negara,
Pancasila merupakan acuan/landasan dalam bertindak dan mengambil keputusan
dalam kehidupan berbangsa dan bernegera.
Berkaitan dengan kedudukan pancasila sebagai ideologi nasional, sudah
seharusnya seluruh warga negara Indonesia menghayati dan mendalami nilai dan
makna yang terkandung dalam pancasila. Selain penghayatan dan pendalaman nilai
serta makna yang terkandung dalam pancasila, setiap warga negara harus
menjalankan nilai dan makna tersebut dalam kehidupan sehari-hari secara
konsekuen dan bertanggung jawab. Oleh sebab itu, dibutuhkan kesungguhan tekad
bagi setiap warga negara dalam menghayati, mendalami dan melaksanakan nilai
dan makna pancasila untuk mewujudkan tujuan negara sebagaimana yang
tercantum dalam alinea keempat pembukaan UUD 1945.
Pada dasarnya, pemahaman sebagian besar warga negara terhadap makna
dan nilai yang terkandung dalam pancasila sudah cukup baik. Namun, dalam
penghayatan dan pelaksanaan nilai dan makna ini masih terdapat banyak
kekurangan dan penyimpangan. Untuk itu, dalam makalah ini akan dibahas
mengenai penyimpangan yang ada dalam pelaksanaan pancasila. Didahului dengan
pembahasan mengenai arti pancasila, makalah ini akan membahas tentang makna,
nilai dan penyimpangan yang terkandung dalam pancasila khususnya pada sila
keempat. Diharapkan dengan pembahasan mengenai hal tersebut akan diperoleh
masukan yang membangun agar dapat digunakan untuk memperbaiki sikap kita
sebagai warga Negara dalam melaksanakan nilai yang terkandung dalam pancasila.


B. Rumusan Masalah
Dalam laporan ini berikut beberapa rumusan masalah yang akan kami bahas
diantaranya :
1. Apa makna yang terkandung dari sila ke-4 dalam Pancasila?
2. Nilai-nilai dan butir-butir apa yang terkandung dalam sila ke-4 Pancasila?
3. Apa penyimpangan yang terjadi pada sila ke-4?
C. Tujuan
Di dalam penyusunan laporan ini ada beberapa tujuan yang ingin kami
paparkan antara lain sebagai berikut :
1. Memahami makna yang terkandung darai sila ke-4 dalam Pancasila
2. Memahami nilai-nilai yang terkandung dalam sila ke-4 dalam Pancasila
3. Mengetahui penyimpangan-penyimpangan yang terjadi pada sila ke-4 dalam
Pancasila di Negara Indonesia.










BAB II
PEMBAHASAN

A. Sila Keempat Pancasila
Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam
permusyawaratan, perwakilan



Makna dari simbol kepala banteng
Banteng (latin: Bos Javanicus ) atau biasa disebut dengan lembu liar
merupakan hewan sosial yang suka berkumpul.
Kepala banteng juga dimaknai sebagai lambang tenaga rakyat.


Kerakyatan berasal dari kata rakyat, yaitu sekelompok orang yang berdiam
dalam satu wilayah negara tertentu. Rakyat meliputi seluruh manusia itu, tidak
dibedakan oleh tugas (fungsi) dan profesi (jabatan). Kerakyatan yang dipimpin oleh
hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan mengandung arti bahwa
Indonesia demokrasi langsung dan demokrasi tidak langsung (demokrasi
perwakilan). Demokrasi perwakilan sangat penting dalam suatu negara yang
mempunyai daerah luas dan warga yang banyak seperti Indonesia. Referendum
sebagai salah satu perwujudan demokrasi langsung dapat dilakukan dengan
memilih wakil-wakil perantaraan rakyat.

Jadi, Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam
permusyawaratan/perwakilan berarti bahwa " kekuasaan yang tertinggi berada
ditangan rakyat ". Kerakyatan disebut juga kedaulatan rakyat (rakyat yang
berdaulat/berkuasa) atau Demokrasi (rakyat yang memerintah). Hikmat
kebijaksanaan berarti penggunaan pikiran atau rasio yang sehat dengan selalu
mempertimbangkan persatuan dan kesatuan bangsa, kepentingan rakyat dan
dilaksanakan dengan sadar, jujur, dan bertanggungjawab serta didorong oleh itikad
baik sesuai dengan hati nurani. Permusyawaratan adalah suatu tata cara khas
kepribadian Indonesia untuk merumuskan dan atau memutuskan suatu hal
berdasarkan kehendak rakyat, hingga tercapai keputusan yang didasarkan
kebulatan pendapat atau mufakat. Perwakilan adalah suatu sistem dalam arti tata
cara (prosedur) mengusahakan turut sertanya Rakyat mengambil bagian dalam
kehidupan bernegara, antara lain melalui badan-badan perwakilan.

Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam
permusyawaratan/perwakilan berarti bahwa Rakyat dalam melaksanakan tugas
kekuasaannya baik secara langsung maupun tidak langsung (Perwakilan) ikut dalam
pengambilan keputusan - keputusan dalam musyawarah yang dipimpin oleh pikiran
yang sehat secara penuh tanggungjawab, baik kepada Tuhan Yang Maha Esa
maupun kepada rakyat yang mewakilinya. Sila Ke IV ini merupakan sendi yang
penting asas kekeluargaan masyarakat Indonesia serta merupakan suatu asas,
bahwa tata Pemerintahan Republik Indonesia didasarkan atas kedaulatan rakyat.
Sebagaimana ditegaskan dalam alenia ke-IV Pembukaan UUD 1945 : Maka
disusunlah kemerdekaan Indonesia, yang berkedaulatan Rakyat.
Sila ke-empat, yaitu Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan
dalam permusyawaratan perwakilan, yang mengandung arti atau makna penerimaan
dari rakyat oleh rakyat, untuk rakyat dengan cara musyawarah dan mufakat melalui
lembaga-lembaga perwakilan. Dimana sila ke-empat memiliki nilai-nilai demokrasi
yang berhubungan dengan hak dan kewajiban Warga Negara Indonesia (WNI)
sebagai berikut:
1. Kerakyatan
Berarti kekuasaan tertinggi berada ditangan rakyat, berarti Indonesia
menganut demokrasi. Yang menjadi dasar hak dan kewajiban Warga Negara
Indonesia (WNI) disini adalah kekuatan atau kekuasaan rakyat dalam
menentukan kepemimpinan dan kedaulatan bangsa Indonesia.



2. Hikmat kebijaksanaan
Berarti penggunaan pikiran yang sehat dengan selalu
mempertimbangkan persatuan dan kesatuan bangsa, kepentingan rakyat dan
dilaksanakan dengan sadar, jujur, dan bertanggungjawab, serta didorong
oleh itikad baik sesuai dengan hati nurani. Yang menjadi dasar hak dan
kewajiban Warga Negara Indonesia (WNI) disini adalah ikut andil dalam
pelaksanaan pencapaian persatuan bangsa dengan sikap yang baik dan
positif.
3. Permusyawaratan
Berarti bahwa dalam merumuskan atau memutuskan suatu hal,
berdasarkan kehendak rakyat, dan melalui musyawarah untuk mufakat. Yang
menjadi hak dan kewajiban Warga Negara Indonesia (WNI) disini adalah
memperoleh hasil keputusan musyawarah yang dihasilkan dari keputusan
mufakat.
4. Perwakilan
Berarti suatu tata cara mengusahakan turut sertanya rakyat mengambil
bagian dalam kehidupan bernegara, antara lain dilakukan melalui badan
perwakilan rakyat. Yang menjadi hak dan kewajiban Warga Negara indonesia
(WNI) disini adalah mendapatkan perlindungan secara damai dan mentaati
aturan-aturan Negara.
5. Adanya kebebasan yang harus disertai dengan tanggungjawab baik terhadap
masyarakat bangsa maupun secara moral terhadapTuhan yang Maha Esa.
6. Menjujung tinggi harkat dan martabat kemanusiaan.
7. Menjamin dan memperkokoh persatuan dan kesatuan dalam hidup bersama.
8. Mengakui atas perbedaan individu, kelompok, ras, suku, agama, karena
perbedaan adalah merupakan suatu bawaan kodrat manusia.
9. Mengakui adanya persamaan hak yang melekat pada setiap individu,
10. Mengarahkan perbedaan dalam suatu kerjasama kemanusiaan yang
beradab.

B. Nilai dan Butir - Butir Sila Ke-4 Pancasila
Nilai yang terkandung dalam sila kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat
kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan didasari oleh sila ketuhanan
yang Maha Esa, kemanusiaan yang adil dan beradab, serta persatuan Indonesia,
dan mendasari serta menjiwai sila Keadilan Sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.

Nilai filosofis yang terkandung di dalamnya adalah bahwa hakikat negara adalah
sebagai penjelmaan sifat kodrat manusia sebagai makhluk individu dan makhluk
sosial.Hakikat rakyat adalah merupakan sekelompok manusia sebagai makhluk
Tuhan yang Maha Esa yang bersatu yang bertujuan muwujudkan harkat dan
martabat manusia dalam suatu wilayah negara.Rakyat adalah merupakan subjek
pendukung pokok negara.Negara adalah dari, oleh dan untuk rakyat, oleh karena itu
rakyat adalah merupakan asal mula kekuasaan negara. Maka nilai-nilai demokrasi
yang terkandung dalam sila keempat adalah :


Adanya kebebasan yang harus disertai dengan tanggung jawab baik terhadap
masyarakat bangsa maupun secara moral terhadap Tuhan yang Maha Esa.
Menjunjung tinggi harkat dan martabat manusia.
Menjamin dan memperkokoh persatuan dan kesatuan dalam hidup bersama.
Mengakui atas perbedaan individu, kelompok, ras, suku, agama, karena
perbedaan adalah merupakan suatu bawaan kodrat manusia.
Mengakui adanya persamaan hak yang melekat pada setiap individu,
kelompok, ras, suku,maupun agama.
Mengarahkan perbedaan dalam suatu kerja sama kemanusiaan yang
beradab.
Menjunjung tinggi atas musyawarah, sebagai moral kemanusiaan yang
beradab.
Mewujudkan dan mendasarkan suatu keadilan dalam kehidupan sosial agar
tercapainya tujuan bersama.


Butir-butir sila ke-4 dalam Pancasila:
Sebagai warga negara dan warga masyarakat, setiap manusia Indonesia
mempunyai kedudukan, hak dan kewajiban yang sama.
Tidak boleh memaksakan kehendak kepada orang lain.
Mengutamakan musyawarah dalam mengambil keputusan untuk kepentingan
bersama.
Musyawarah untuk mencapai mufakat diliputi oleh semangat kekeluargaan.
Menghormati dan menjunjung tinggi setiap keputusan yang dicapai sebagai
hasil musyawarah.
Dengan itikad baik dan rasa tanggung jawab menerima dan melaksanakan
hasil keputusan musyawarah.
Di dalam musyawarah diutamakan kepentingan bersama di atas kepentingan
pribadi dan golongan.
Musyawarah dilakukan dengan akal sehat dan sesuai dengan hati nurani
yang luhur.
Keputusan yang diambil harus dapat dipertanggungjawabkan secara moral
kepada Tuhan Yang Maha Esa, menjunjung tinggi harkat dan martabat
manusia, nilai-nilai kebenaran dan keadilan mengutamakan persatuan dan
kesatuan demi kepentingan bersama.
Memberikan kepercayaan kepada wakil-wakil yang dipercayai untuk
melaksanakan pemusyawaratan


C. SIKAP-SIKAP POSITIF HAK DAN KEWAJIBAN SESUAI SILA KE-4 :
Dalam berbangsa dan bernegara sebagai Warga negara Indonesia (WNI) kita
harus selalu bersikap positif agar tercipta persatuan, kedamaian, dan kesejahteraan
rakyat. Sikap- sikap positif tersebut adalah :
Mencintai Tanah Air (nasionalisme).
Menciptakan persatuan dan kesatuan.
Ikut serta dalam pelaksanaan pembangunan.
Mempertahankan dan mengisi kemerdekaan.
Menghormati dan menjunjung tinggi setiap keputusan yang dicapai sebagai
hasil musyawarah.
Mengeluarkan pendapat dan tidak boleh memaksakan kehendak orang lain.
Sebagai warga negara dan warga masyarakat, setiap manusia Indonesia
mempunyai kedudukan, hak, dan kewajiban yang sama.
Memperoleh kesejahteraan yang dipimpin oleh perwalian.




D. PELANGGARAN HAK DAN KEWAJIBAN YANG TERDAPAT PADA SILA KE-
EMPAT :
Setelah bersikap positif yang sesuai nilai Pancasila, masih saja terdapat
pelanggaran-pelanggaran. Sesungguhnya pelaksaanan Pancasia sila ke-4 belum
dilaksanakan secara maksilmal di Indonesia ini. Masih banyak pelanggran-
pelanggaran yang terjadi yang berhubungan dengan sila ke-4, seperti :
Demonstrasi atau ujuk rasa yang dilakukan tanpa melapor kepada pihak yang
berwajib, sesugguhnya demonstrasi adalahhal yang sah dan juga hak kita
sebagai warga negara untuk dapat menyampaikan aspirasi kita. Namun bila
itu dilakukan sesuai dengan perosedur yang telah ditentukan dan tertulis
dalam UU no. 9 tahun 1998, dimana sebelum melakukan tindak demonstrai
kita harus melapor terlebih dahulu kepada pihak yang berwajib dan
memberikan laporan yang secara detail tentang demonstasi yang akan
dilakukan, sehingga tidak terjadi kerusuhan.
Banyaknya orang yang tidak menerima dan menghargai pendapat orang lain,
seperti yang terjadi pada saat sidang panipurna.
Terdapat kecurangan dalam penarikan suara PEMILU, seperti lembar pemilu
yang telah dicontreng, kotak pemilu yang tidak disegel, adanya penyuapan
serta pemerasan dalam pada penentuan suara.
Dan masih banyak lagi pelanggaran yang dilakukan baik oleh pemerintahan
ataupun oleh warga negara Indonesia, yang disebabkan kurangnya rasa
soliditas dan persatuan hingga sikap gotongroyong, sehingga sebagiankecil
masyarakat terutama yang berada di perkotaan justru lebih mengutamakan
kelompoknya, golongannya bahkan negara lain dibandingkan kepentingan
negaranya.
Banyak warga Negara/masyarakat belum terpenuhi hak dan kewajibannya
didalam hukum.
Ketidak transparannya lembaga-lembaga yang ada didalam Negara
Indonesia dalam sistem kelembagaannya yang menyebabkan masyarakat
enggan lagi percaya kepada pemerintah.
Banyak para wakil rakyat yang merugikan Negara dan rakyat, yang
seharusnya mereka adalah penyalur aspirasi demi kemajuan dan
kesejahteraan Negara Indonesia.
Banyak keputusan-keputusan lembaga hukum yang tidak sesuai dengan azas
untuk mencapai mufakat,sehingga banyak masyarakat yang merasa
dirugikan.
Banyak masyarakat yang kurang bisa menghormati adanya peraturan-
peraturan yang dibuat oleh pemerintah.
Demonstrasi yang dilakukan tanpa melapor kepada pihak yang berwajib.
Kasus kecurangan terhadap pemilu, yang melihat bukan dari sisi kualitas,
tetapi dari kuantitas.
Lebih mementingkan kepentingan pribadi atau golongan daripada
kepentingan bersama atau masyarakat.
Menciptakan perilaku KKN.
Pejabat pejabat Negara yang diangkat cenderung dimanfaat untuk loyal dan
mendukung kelangsungan kekuasaan presiden.

E. Implementasi dari sila ke-4 dalam Pancasila
Pelaksanaan sila ke-4 dalam masyarakat pada hakekatnya didasari oleh sila
Ketuhanan Yang Maha Esa, Kemanusiaan yang Adil dan Beradab, serta Persatuan
Indonesia, dan mendasari serta menjiwai sila Keadilan sosial bagi seluruh Rakyat
Indonesia. Hak demokrasi harus selalu diiringi dengan sebuah kesadaran
bertanggung jawab terhadap Tuhan Yang Maha Esa menurut keyakinan beragama
masing-masing, dan menghormati nilai-nilai kemanusiaan, serta menjunjung tinggi
persatuan. Adapun pelaksanaan /implementasi dari penerapan sila ke-4 dari
pancasila adalah;
1. Sebagai warga Negara dan masyarakat, setiap manusia mempunyai
kedudukan, hak dan kewajiban yang sama.
2. Mengutamakan musyawarah dalam mengambil keputusan untuk kepentingan
bersama diatas kepentingan pribadi dan golongan.
3. Dengan itikad baik dan rasa tanggungjawab menerima dan melaksanakn
hasil keputusan musyawarah.
4. Tidak boleh memaksakan kehendak orang lain.
5. Musyawarah untuk mencapai mufakat diliputi oleh semangat kekeluargaan.
6. Menghormati dan menjunjung tinggi setiap keputusan yang dicapai dalam
musyawarah.
7. Keputusan yang diambil harus dapat dipertanggung jawabkan secara moral
kepada Tuhan Yang Maha Esa, menjunjung tinggi harkat dan martabat
manusia, dan keadilan, serta mengutamakan persatuan dan kesatuan
bersama.
8. Memberikan kepercayaan kepada wakil-wakil yang dipercayai untuk
melaksanakan permusyawaratan.

F.Kesimpulan
Berikut beberapa kesimpulan dari pembahasan kami tentang sila ke-4 diatas :
1. Pancasila digunakan sebagai dasar negara dan ideologi negara.
2. Pancasila juga digunakan sebagai tolak ukur dalam berpikir dan bertingkah
laku.
3. Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam
permusyawaratan perwakilan merupakan sila keempat pancasila, yang
mengandung arti atau makna penerimaan dari rakyat oleh rakyat, untuk
rakyat dengan cara musyawarah dan mufakat melalui lembaga-lembaga
perwakilan
4. Terdapat nilai-nilai sila keempat antara lain menjunjung tinggi asas
musyawarah sebagai moral kemanusiaan yang adil dan beradab dan
mewujudkan dan mendasarkan suatu keadilan dalam kehidupan social agar
tercapainya tujuan bersama.
5. Implementasi sila keempat adalah menerapkan nilai-nilai yang terdapat pada
sila keempat antara lain menghargai persamaan derajat yaitu setiap manusia
memiliki persamaan hak dan kewajiban, mengutamakan musyawarah untuk
mencapai mufakat, serta dengan itikad baik dan rasa tanggung jawab
menerima dan melaksanakan hasil keputusan musyawarah
6. Sila keempat telah diterapkan di Indonesia, namun masih ada pelanggaran
antara lain demonstrasi yang dilakukan tanpa melapor kepada pihak yang
berwajib, tidak menerima hasil musyawarah dan kasus kecurangan terhadap
pemilu dan masih banyak pelanggran yang dilakukan oleh warga negara dan
juga pemerintah yang tidak sesuai dengan Pancasila sila ke-empat
dikarenakan masih ada masyarakat yang lebih mementingkan kepentingan
kelompoknya daripada kepentingan Negara.
DAFTAR PUSTAKA

http://ukhtiyayuk.blogspot.com/2012/09/penjelasan-sila-ke-4.html
syahri93.blogspot.com/2013/07/makna-sila-ke-4-pancasila.html
nastitipujirahayu.blogspot.com/2012/03/sila-4-pancasila.html
bayumusty.blogspot.com/2011/12/kandungan-isi-dari-sila-ke-empat.html
chan22.blogspot.com/2013/04/analisis-sila-ke-empat-pancasila.html
https://id.m.wikipedia.org/wiki/Berkas:Pancasila_Sila_4_Buffalo%27s_Head.s
vg