Anda di halaman 1dari 15

KERANGKA ACUAN KERJA

(KAK)


































KERANGKA ACUAN KERJA
(KAK)

KEGIATAN PENYUSUNAN RENCANA DETAIL TATA RUANG KAWASAN
PERKOTAAN KECAMATAN KENDIT
KABUPATEN SITUBONDO

Uraian Pendahuluan
1


1. Latar Belakang

Penataan ruang dengan pendekatan kegiatan utama kawasan terdiri atas
penataan ruang kawasan perkotaan dan penataan ruang kawasan perdesaan.
Untuk mencapai pembangunan ekonomi dan sosial yang berkelanjutan perlu
adanya kebijakan yang mengintegrasikan pembangunan perkotaan dan perdesaan.
Pengembangan perkotaan dan perdesaan yang seimbang membutuhkan
penguatan perencanaan mulai tingkat nasional, regional sampai lokal. Upaya untuk
mengkoordinasi pembangunan sektoral di daerah yang selama ini telah dilakukan
dalam bentuk program pemanfaatan ruang, dapat diamati masih belum mantap.
Hal ini terutama dikaitkan dengan keberadaan rencana tata ruang belum
merupakan suatu kesatuan dengan rencana pembangunan jangka panjang maupun
jangka menengah daerah, baik dari segi substansinya maupun landasan
perundangannya.
Penataan ruang kawasan perdesaan diarahkan untuk pemberdayaan
masyarakat perdesaan, pertahanan kualitas lingkungan setempat dan wilayah yang
didukungnya, konservasi sumberdaya alam, pelestarian warisan budaya lokal,
pertahanan kawasan lahan abadi pertanian pangan untuk ketahanan pangan, dan
penjagaan keseimbangan pembangunan perdesaan dan perkotaan. Penyediaan
infrastruktur dan layanan publik yang sesuai dengan karakter fisik perdesaan yang
menyebar perlu juga dipertimbangkan, mengingat hubungan antara perkotaan dan
perdesaan di sekitarnya tergantung dari infrastruktur yang menghubungkannya.
Penataan ruang perdesaan harus disesuaikan dengan kegiatan-kegiatan
perekonomian dan sosial yang ada di kawasan yang bersangkutan. Kawasan
perdesaan merupakan kawasan yang memiliki kegiatan utama disektor pertanian
dalam arti luas baik tanaman pangan, perikanan, perkebunan, kehutanan maupun
peternakan, termasuk didalamnya kegiatan pengelolaan tumbuhan alami dan
kegiatan pengelolaan sumberdaya alam, dengan susunan fungsi kawasan sebagai
tempat permukiman perdesaan, pelayanan jasa pemerintahan, pelayanan sosial,
dan kegiatan ekonomi. Oleh karena itu dapat dikatakan bahwa membangun
pertanian dalam arti luas pada hakekatnya membangun perekonomian desa itu
sendiri.
Penataan ruang kawasan perdesaan diselenggarakan sebagai bagian
dari penataan ruang wilayah nasional atau wilayah propinsi dan kabupaten atau
kota. Penataan ruang kawasan perdesaan diselenggarakan pada kawasan
perdesaan yang merupakan bagian wilayah kabupaten dapat pula berupa kawasan
agropolitan.
Untuk menyelaraskan pembangunan yang terjadi antara perkotaan
dengan perdesaan dalam satu kecamatan maupun dengan perkotaan dan
perdesaan di kecamatan sekitar sebagai hinterland diperlukan produk perencanaan
tata ruang beserta pengaturan penataan ruang yang lebih rinci berupa Rencana
Detail Tata Ruang Kawasan Perdesaan sebagai penjabaran dari Rencana Tata
Ruang Wilayah (RTRW) Kabupaten, yang nantinya berfungsi sebagai arahan
program pemanfaatan ruang serta pedoman kegiatan pengendalian pemanfaatan
ruang kawasan perdesaan sebagai kawasan agropolitan.
Perdesaan di Kabupaten Situbondo sampai saat ini belum mempunyai
rencana tata ruang kawasan perdesaan. Sedang kondisi perkembangan
pembangunan perdesaan di Kabupaten Situbondo pada umumnya relatif masih
kurang mantap. Untuk mengantisipasi perkembangan ke depan, terutama sebagai
tindak lanjut dengan adanya Undang-undang Nomor 26 Tahun 2007 tentang
Penataan Ruang sebagai pengganti Undang-undang Nomor 24 Tahun 1992,
diperlukan produk Rencana Detail Tata Ruang Kawasan Perdesaan sebagai
rencana rinci tata ruang wilayah. Rencana Detail Tata Ruang Kawasan (RDTRK)
Perdesaan maupun Perkotaan dan Rencana Tata Ruang Kawasan Strategis
merupakan rencana rinci tata ruang sebagai perangkat operasional RTRW
Kabupaten dan sebagai dasar penetapan peraturan zonasi.
Sebagai penjabaran dari Rencana Umum Tata Ruang Kabupaten ke
dalam rencana rinci, Rencana Detail Tata Ruang Kawasan (RDTRK) Perdesaan

1
Uraian Pendahuluan memuat gambaran secara garis besar mengenai pekerjaan yang akan dilaksanakan.
memuat arahan rencana pemanfaatan ruang kawasan dan ketentuan pengendalian
pemanfaatan ruang kawasan. Arahan pemanfaatan ruang kawasan perdesaan
secara terperinci disusun untuk menyiapkan perwujudan ruang dalam rangka
pelaksanaan program-program pembangunan perdesaan. Rencana Detail Tata
Ruang Kawasan (RDTRK) Perdesaan juga merupakan rencana yang menetapkan
blok-blok peruntukan pada kawasan fungsional perdesaan, sebagai penjabaran
kegiatan kedalam wujud ruang, dengan memperhatikan keterkaitan antara
kegiatan dalam kawasan fungsional, agar tercipta lingkungan yang harmonis antara
kegiatan utama dan kegiatan penunjang dalam kawasan fungsional tersebut.

2. Maksud dan Tujuan

Maksud dari kegiatan penyusunan Rencana Detail Tata Ruang Kawasan
(RDTRK) Perdesaan Kapongan Kabupaten Situbondo ini adalah :
1. Menyiapkan perwujudan ruang, dalam rangka pelaksanaan program
pembangunan perdesaan.
2. Menjaga konsistensi pembangunan dan keserasian perkembangan kawasan
perdesaan dengan RTRW Kabupaten Situbondo.
3. Menciptakan keterpaduan, keterkaitan dan keseimbangan antar Wilayah
Perdesaan serta keserasian antar sektor.
4. Menjaga konsistensi perwujudan ruang kawasan melalui pengendalian
program-program pembangunan.

Tujuan dari kegiatan penyusunan Rencana Detail Tata Ruang Kawasan
(RDTRK) Perdesaan Kapongan Kabupaten Situbondo adalah tersedianya dokumen
Rencana Tata Ruang Kawasan (RDTRK) Perdesaan Kapongan, dalam rangka :
1. Terciptanya pola tata ruang perdesaan yang tumbuh dan berkembang dengan
tetap memperhatikan aspek keselarasan, kelestarian dan keseimbangan serta
berkelanjutan.
2. Adanya koordinasi penataan ruang yang integral pada pola penataan ruang
perdesaan, khususnya perdesaan pada kecamatan yang saling berdekatan dan
mempengaruhi.
3. Tersusunnya indikasi program yang saling terkait, integral dan menyeluruh
pada perdesaan, khususnya pada wilayah kecamatan yang saling berdekatan
dan mempengaruhi.

3. Sasaran

Sasaran yang ingin dicapai dari kegiatan penyusunan Rencana Detail Tata
Ruang Kawasan (RDTRK) Perdesaan Kapongan Kabupaten Situbondo, antara ain :
1. Mengiventarisir data dan permasalahan melalui survey lapangan, penjaringan
aspirasi masyarakat, study literatur, kajian terhadap studi-studi yang pernah
dilaksanakan, pendataan pada instansi terkait serta pendataan lain sepanjang
diperlukan sebagai masukan (input) bahan analisa,
2. Menganalisa fungsi kawasan, struktur ruang kawasan, jenis intensitas sarana
dan prasarana utama kawasan, demografi, potensi dan masalah pada wilayah
rencana, struktur dan pemanfaatan ruang, kebutuhan sarana dan prasarana,
kebutuhan dan sistem utilitas, tata guna lahan, sebagaimanan yang dimaksud
dalam arahan Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Kabupaten Situbondo
maupun Propinsi Jawa Timur, menganaisa zoning kawasan serta syarat
zoning, dan analisa-analisa lain yang diperlukan sesuai dengan peraturan
perundang-undangan yang berlaku.
3. Menyusun dokumen draft Fakta dan Analisa, dokumen draft Rencana,
dokumen draft Executive Summary sebagai materi pembahasan dalam rapat
koordinasi,
4. Menyelenggarakan rapat koordinasi dalam forum Badan Koordinasi Penataan
Ruang Daerah (BKPRD) Kabupaten Situbondo dan atau dengan Kelompok
Kerja Perencanaan Tata Ruang,
5. Menyiapkan materi dan menyampaikan presentasi dalam forum seminar yang
penyelenggaraannya difasilitasi oleh tim BKPRD dengan mengikutsertakan
instansi terkait, organisasi profesi serta tokoh masyarakat,
6. Merevisi dokumen draft Fakta dan Analisa dan draft Rencana menjadi
dokumen Fakta dan Analisa sebagai laporan antara dan Laporan Rencana
berdasarkan hasi rapat kordinasi/seminar, serta diengkapi resume dukumen
Laporan Rencana dalam bentuk dokumen Executive Summary dan Album
Peta,
7. Menyusun Laporan Pendahuluan dan Laporan Akhir penyelenggaraan kegiatan
penyusunan RDTRK Perdesaan Kapongan.

4. Lokasi Kegiatan Wilayah perencanaan dalam penyusunan Rencana Detail Tata Ruang Kawasan
Perdesaan Kecamatan Kapongan Kabupaten Situbondo.

5. Sumber Pendanaan Sumber Dana Penyusunan Rencana Detai Tata Ruang Kawasan Perdesaan
Kapongan berasal dari Penjabaran APBD 2010 Kabupaten Situbondo.

6. Nama dan
Proyek/Satuan Kerja
Pejabat Pembuat
Komitmen


Nama Pejabat Pelaksana Teknis Kegiatan : Edy Wiyono, S.Sos
Proyek/Satuan Kerja :
Penyusunan Rencana Detai Tata Ruang Kawasan Perdesaan Kapongan /
Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (BAPPEDA) Kabupaten Situbondo
Data-Data Penunjang

7. Data Dasar Kabupaten Situbondo merupakan salah satu wilayah kabupaten yang
terletak di sebelah timur wilayah Propinsi Jawa Timur dan terkenal dengan sebutan
Daerah Wisata Pantai Pasir Putih. Secara geografis, wilayah Kabupaten Situbondo
berada pada posisi 113
o
30 114
o
42 Bujur Timur dan 7
o
35 7
o
44 Lintang
Selatan. Kabupaten Situbondo terdiri dari 17 kecamatan, 132 desa dan 4 kelurahan
yang berbatasan dengan Sebelah Barat berbatasan dengan Kabupaten
Probolinggo, Sebelah Utara berbatasan dengan Selat Madura Sebelah Timur
berbatasan dengan Selat Bali dan Sebelah Selatan berbatasan dengan Kabupaten
Bondowoso dan Kabupaten Banyuwangi.
Luas wilayah Kabupaten Situbondo mencapai 1.638,50 Km
2
atau sekitar
163.850 Ha bentuknya memanjang dari Barat menuju ke Timur dengan panjang
sekitar 150 Km. Pantai utara umumnya berdataran rendah, di sebelah selatan
merupakan daerah perbukitan, dengan rata-rata lebar wilayah mencapai 11 Km.
Dari total luasan wilayah kecamatan, terlihat bahwa kecamatan Banyuputih
mempunyai wilayah terluas, yaitu sekitar 481,67 Km
2
. Dan di Kecamatan
Banyuputih juga terdapat Taman Nasional Baluran serta bentangan hutan jati
sampai dengan batas wilayah Banyuwangi Utara. Sedangkan wilayah dengan luas
terkecil adalah Kecamatan Besuki, yaitu mencapai luasan sekitar 26,41 Km
2
. Dari
total 17 kecamatan yang ada di wilayah Kabupaten Situbondo, 13 kecamatan
memiliki pantai dan yang lainnya tidak memiliki pantai adalah Kecamatan
Sumbermalang, Jatibanteng, Situbondo dan Panji.
Kabupaten Situbondo merupakan kabupaten yang terletak di wilayah
tropis, dengan suhu rata-rata mencapai 24,7
o
C 27,9
o
C. Kabupaten Situbondo
berada pada ketinggian 0 1.250 meter di atas permukaan laut. Jenis tanah di
wilayah kabupaten Situbondo terdiri dari jenis alluvial, regosol, gleysol, renzine,
grumosol, mediteran, latosol dan andosol.
Pada tahun 2008, jumlah penduduk di wilayah Kabupaten Situbondo
sebanyak 640.882 jiwa, terdiri dari 312.394 penduduk laki-laki dan 328.488
penduduk perempuan dengan rincian sebagai berikut : Kecamatan Panji (65.170
jiwa), Kecamatan Besuki (58.448 jiwa), Kecamatan Panarukan (51.645 jiwa),
Kecamatan Banyuputih (49.956 jiwa), Kecamatan Asembagus (49.139 jiwa),
Kecamatan Situbondo (47.967 jiwa), Kecamatan Arjasa (40.179 jiwa), Kecamatan
Kapongan (36.717 jiwa), Kecamatan Jangkar (36.214 jiwa), Kecamatan Mangaran
(30.669), Kecamatan Kendit (28.472 jiwa), Kecamatan Sumbermalang (27.817
jiwa), Kecamatan Bungatan (26.148 jiwa), Kecamatan Suboh (25.336 jiwa),
Kecamatan Mlandingan (22.837 jiwa), Kecamatan Jatibanteng (22.352 jiwa), dan
Kecamatan Banyuglugur (21.816 Jiwa). Pada tahun 2008 tingkat kepadatan
penduduk di Kabupaten Situbondo mencapai 391 jiwa/Km. Wilayah kecamatan
terpadat adalah Kecamatan Besuki dengan tingkat kepadatan mencapai 2.213
jiwa/Km, sedangkan Kecamatan dengan tingkat kepadatan terkecil adalah
Kecamatan Banyuputih dengan kepadatan mencapai 104 jiwa/Km. Jumlah Rumah
Tangga (RT) di Kabupaten Situbondo pada tahun 2008 mencapai 212.333 Rumah
Tangga atau rata-rata 3 jiwa/RT. Jumlah rumah tangga terbanyak berada di
Kecamatan Panji yaitu mencapai 19.730 RT, sedangkan yang terkecil berada di
Kecamatan Jatibanteng yaitu sebanyak 7.195 RT.
Penggunaan tanah di Kabupaten Situbondo, peruntukan paling luas
adalah hutan dengan luas sekitar 734,07 Km
2
(44,80%). Luas peruntukan tanah
lainnya adalah : permukiman 32,55 Km
2
(1,99%), persawahan 303,65 Km
2

(18,53%), pertanian tanah kering 279,62 Km
2
(17,07%), kebun campuran 4,14 Km
2

(0,25%), perkebunan 17,80 Km
2
(1,09%), semak belukar 24,93 Km
2
(1,52%),
padang rumput 49,70 Km
2
(3,04%), tanah rusak 107,36 Km
2
(6,55%), tanah tandus
63,15 Km
2
(3,85%), tambak 18,66 Km
2
(1,14%), Rawa 1,82 Km
2
(0,11%), dan lain-
lain 9,99 Km
2
(0,06%).
Secara geografis Kecamatan Kapongan terletak disebelah Timur Ibukota
Kabupaten Situbondo, Kecamatan Kapongan berbatasan sebelah utara dengan
Kecamatan Mangaran dan Selat Madura, sebelah timur dengan Kecamatan Arjasa,
sebelah selatan dengan Kabupaten Bondowoso, dan sebelah barat berbatasan
dengan Kecamatan Panji, dengan luas wilayah kecamatan 44,547 Km
2
atau
4.454,7 Ha dengan jumlah penduduk sebanyak 36.565 jiwa dengan 13.101 RT atau
2,79 jiwa/RT dengan tingkat Kepadatan 821 jiwa/Km
2
. Lokasi Perdesaan Kapongan
terdiri Desa Curah Cotok, Desa Gebangan, Desa Kandang, Dea Landangan, Desa
Peleyan, Desa Pokaan, Desa Seletreng, dan Desa Wonokoyo. Adapun luas seluruh
wilayah perdesaan mencapai 3.852,1 Ha, jumlah penduduk sebanyak 29.972 jiwa
dengan tingkat kepadatan 778 jiwa/Ha.

8. Standar Teknis Standart Dokumen Laporan

PENDAHULUAN
1. Kebutuhan Penyusunan Rencana Detail Tata Ruang
(RDTR) Kawasan Perdesaan;
2. Landasan Hukum;
3. Pengertian Umum;
4. Tujuan dan Sasaran;
5. Manfaat;
6. Kedudukan Pedoman;
7. Ruang Lingkup Penyusunan Pedoman;

KETENTUAN UMUM
1. Maksud, Tujuan, dan Sasaran Penyusunan RDTR Kawasan
Perdesaan;
2. Fungsi Perencanaan ;
3. Ketentuan Penyusunan;
a. Kedudukan RDTRK, dalam jenjang perencanaan tata ruang RDTRK
merupakan produk rencana operasional, pengambangan, dan panduan
rancang bangun;
b. Persyaratan
c. Kriteria Tipologi Kawasan, kawasan perdesaan dan
kawasan strategis
d. Penentuan Kawasan Perencanaan
4. Muatan RDTRK, struktur dan sistematika RDTRK memuat langkah-langkah
penentuan tujuan dan sasaran pembangunan kawasan perencanaan
5. Format RDTRK, Format RDTRK mempertimbangkan faktor ekonomis dan
kebutuhan pembangunan daerah;
6. Masa Berlaku RDTRK, RDTRK dilaksanakan dalam rentang waktu 20 (dua
puluh) tahun, atau sesuai dengan masa berlaku Rencana Tata Ruang Wilayah,
dan ditinjau kembali setiap 5 (lima) tahun, terkecuali terjadi perubahan besar
dalam struktur ruang wilayah, maka peninjauan RDTR disesuaikan dengan
perubahan Rencana Tata Ruang Wilayahnya.

PROSES DAN KETENTUAN TEKNIS RENCANA DETAIL TATA RUANG
KAWASAN
1. Persiapan Penyusunan RDTRK, tahap awal penyusunan RDTR adalah
mempersiapkan seluruh sumber daya dan sumber dana serta urgensi dari
kegiatan RDTR bagi pembangunan daerah
2. Pengumpulan dan Pengolahan Data
a. Tujuan
b. Pelaksanaan Kegiatan
c. Muatan Data dan Informasi
d. Elaborasi Data, meliputi alaborasi penduduk dan elaborasi kebutuhan
sektoral
3. Analisis Kawasan Perencanaan
a. Tujuan dan Manfaat
b. Prinsip Dasar
c. Muatan Analisis
Analisis Struktur Kawasan Perencanaan
Analisis Peruntukan Blok, kajian terhadap peruntukan dan pola ruang
ayang ada
Analisis Prasarana Transportasi, kebutuhan jaringan pergerakan dan
fasilitas penunjang
Analisis Utilitas Umum
Analisis Amplop Ruang, terciptanya ruang yang akomodatif terhadap
berbagai jenis kegiatan yang direncanakan, dalam mewujudkan
keserasian dan keasrian lingkungan
Analisis Kelembagaan dan Peran Masyarakat, dengan mengkaji
struktur kelembagaan yang ada, fungsi dan peran lembaga, meknisme
peran masyarakat
4. Perumusan dan Ketentuan Teknis Rencana Detail Tata
Ruang Kawasan Perdesaan
a. Konsep Rencana, konsep rencana disusun berdasarkan hasil analisis
masalah dan potensi kawasan
b. Produk Rencana Detail Tata Ruang Kawasan Perdesaan
Tujuan Pengembangan
Rencana Struktur Ruang Kawasan
- Rencana Persebaran Penduduk
- Struktur Kawasan Perencanaan, muatan struktur kawasan
disusun menurut simpul dan sentra kegiatan fungsional dari
fungsi kawasan
- Rencana Blok Kawasan
- Rencana Skala Pelayanan Kegiatan
- Rencana Sistem Jaringan
Rencana Sistem Jaringan Pergerakan
Rencana Sistem Jaringan Utilitas
Rencana Peruntukan Blok, muatan peruntukan blok dituangkan dalam
bentuk rencana peruntukan, dan dirinci menurut blok-blok
perencanaan
Rencana Penataan Bangunan dan Lingkungan, atau dikenal istilah
Amplop Ruang, merupakan hasil analisis daya dukung lahan, daya
tampung ruang dan kekuatan investasi serta ekonomi setempat
- Pengertian
- Maksud dan Tujuan
- Komponen Yang Diatur
Indikasi Program Pembangunan
5. Legalisasi Rencana Detail Tata Ruang, perlu adanya suatu upaya penetapan
rencana tata ruang dalam bentuk PERDA




PENGENDALIAN RENCANA DETAIL TATA RUANG KABUPATEN
1. Tujuan Pengendalian
2. Komponen Pengendalian
a. Zonasi, klasifikasi zonasi adalah jenis dan hirarki zona yang disusun
berdasarkan kajian teoritis, kajian perbandingan, maupun kajian empirik
untuk digunakan di daerah yang disusun Peraturan Zonasinya
b. Insentif dan Disinsentif
c. Perijinan dalam Pemanfaatan Ruang
d. Pengendalian Pemanfaatan Ruang Melalui Pengawasan

KELEMBAGAAN DAN PERAN MASYARAKAT
1. Kelembagaan
2. Peran Masyarakat
a. Manfaat
b. Prinsip Utama
c. Bentuk Peran Masyarakat dalam Pelaksanaan Penataan Ruang
d. Bentuk Peran Masyarakat dalam Pengendalian Pemanfaatan Ruang
e. Tata Cara Peran Masyarakat dalam Pelaksanaan Peraturan Zonasi
f. Pelayanan Minimal dalam Penyampaian Informasi Penataan Ruang
3. Peran Masyarakat dalam Pengendalian Pemanfaatan
Ruang
a. Bentuk Peran Masyarakat dalam Pengendalian Pemanfaatan Ruang
b. Tata Cara Peran Masyarakat dalam Pengendalian Pemanfaatan Ruang

Standart Dokumen Spasial
Standard Dokumen Spasial yang terdiri dari Album Peta dan Peta A3,
sekurang-kurangnya memenuhi ketentuan berikut :

1. Ketentuan-ketentuan Untuk Album Peta
a. Menggunakan jenis kertas glossy ukuran A0,
b. Diproses dengan digital GIS menggunakan software MapInfo,
c. Dicetak menggunakan Ploter,
d. Informasi spasial peta meliputi :
Peta administratif wilayah perencanaan,
Peta Existing Penggunaan Lahan Kawasan Perdesaan dengan skala
1: 50.000,
Peta Rencana Penggunaan Lahan Kawasan Perdesaan dengan
skala 1 : 50.000,
Peta Rencana Pengembangan Kawasan Perdesaan dengan skala
1 : 50.000,
Peta Rencana Utilitas Kawasan Perdesaan skala 1 : 50.000.
e. Terdapat kolom untuk legenda disebelah kanan dengan ukuran yang
proporsional serta memuat :
Tulisan Pemerintah Kabupaten Situbondo,
Lambang Daerah Kabupaten Situbondo berwarna,
Judul : Rencana Detail Tata Ruang Kawasan Perdesaan ...........
Kabupaten Situbondo 2011-2030,
Tema peta misalnya : Peta Rencana Kawasan ........
Perdesaan............ Kabupaten Situbondo,
Informasi penjelasan terhadap tema peta harus dilengkapi dengan
Arah mata angin,
Skala garis dan nomeris,
Terdapat garis tepi kertas,
Terdapat garis tepi spasial (garis dalam) agak tipis,
Terdapat informasi koordinat geografi diposisi antara garis tepi kertas
dengan garis tepi dalam (garis tepi spasial).
f. Cover Album Peta A0 :
Cover menggunakan kertas glossy dengan ketebalan 0,3 mm,
dimaksudkan agar saat penyimpan peta tidak tergulung/terlipat,
Cover dilapisi kertas glossy warna biru tua dengan dihiasi Peta
Rencana Detail Tata Ruang Kawasan Perdesaan.......Kabupaten
Situbondo,
Muka cover terdapat tulisan Peta Rencana Detail Tata Ruang
Kawasan Perdesaan ........, tulisan berwarna kuning gading dengan
posisi, besar tulisan dan ketebalan disesuaikan dengan luas cover,
Hiasan cover berupa Peta Rencana Tata Ruang Kawasan
Perdesaan..........Kabupaten Situbondo berwarna sesuai sifat datum
agak pusat, dimaksudkan agar tulisan lebih menonjol,
Sudut kiri atas cover terdapat lambang daerah berwarna sesuai
ketentuan,besarnya/luasnya disesuaikan dengan luas cover,
Cover dibuat dalam edisi lux,
- Album Peta A0 dibuat dalam rangkap 2 (dua) semua asli,
- Semua informasi dalam Album Peta direkam dalam CD, Cover
CD/luar terdapat tulisan Peta Rencana Detail Tata Ruang
Kawasan Perdesaan ............... Kabupaten Situbondo,
- Perekaman Peta A0 kedalam CD sesuai format A0,
- Album Peta dan CD hasil perekaman diserahkan pada pimpinan
kegiatan sesuai perjanjian.
2. Ketentuan-ketentuan Peta A3
a. Terdiri dari Peta Existing, Peta Analisa dan Peta Rencana,
b. Skala Peta menyesuaikan ukuran kertas,
c. Terdapat kolom legenda disebelah kanan dengan luas yang cukup,
d. Terdapat kolom untuk legenda disebelah kanan dengan ukuran yang
proporsional serta memuat :
Tulisan Pemerintah Kabupaten Situbondo,
Lambang Daerah Kabupaten Situbondo berwarna,
Judul : Rencana Detail Tata Ruang Kawasan
Perdesaan..........Kabupaten Situbondo 20102030,
Tema peta misalnya : Peta Rencana Kawasan ........Perdesaan .........
Kabupaten Situbondo, dan lain-lain,
Informasi penjelasan terhadap tema peta harus dilengkapi dengan
arah mata angin,
Skala garis dan nomeris,
Terdapat garis tepi kertas,
Terdapat garis tepi spasial (garis dalam) agak tipis,
Terdapat informasi koordinat geografi diposisi antara garis tepi kertas
dengan garis tepi dalam (garis tepi spasial).

Standart Dokumen Executive Summary
Standard Dokumen Excecutive Summary merupakan dokumen resume
dari produk dokumen rencana, dengan outline sekurang-kurangnya sama dengan
outline dokumen rencana dimaksud, yaitu draft Laporan Rencana dan Laporan
Rencana.

Standart Dokumen Laporan Akhir
Standard Laporan Akhir merupakan progress report yaitu bahasan umum
menyeluruh yang wajib dibuat oleh Konsultan penyusun berisi informasi tentang
pelaksanaan kegiatan konsultan mulai dari awal/ persiapan sampai pada laporan
akhir. Untuk itu dalam Laporan Akhir sekurang-kurangnya memuat hal-hal, sebagai
berikut :
Bab I Pendahuluan
a. Latar Belakang, yaitu latar belakang disusunnya Rencana Detail Tata Ruang
Kawasan Perdesaan,
b. Maksud, yaitu maksud disusunnya Rencana Detail Tata Ruang Kawasan
Perdesaan,
c. Tujuan, yaitu tujuan disusunnya Rencana Detail Tata Ruang Kawasan
Perdesaan,
d. Ruang Lingkup, yaitu ruang lingkup bahasan dan ruang lingkup kawasan.
Untuk ruang lingkup kawasan supaya disebutkan lokasinya (posisi geografis)
dan batas-batasnya,
e. Kerangka Pendekatan, yaitu kerangka pendekatan paling layak dan
mempunyai korelasi tertinggi terhadap Rencana Detail Tata Ruang Kawasan
Perdesaan,
f. Metodologi, yaitu cara menyusun, cara menganalisa, cara menyimpulkan dan
cara merencanakan kawasan perkotaan, sehingga menjadi aplikatif untuk
dilaksanakan.
g. Sistematika Pembahasan, yaitu sistematika pembahasan laporan secara
menyeluruh.
BAB II Pelaksanaan Pekerjaan
Meliputi dasar hukum dan dasar pelaksanaan pekerjaan, pengertian umum dan
batasan-batasan, gambaran umum ruang lingkup pekerjaan, rencana pekerjaan,
metode pelaksanaan, pemberdayaan personel dan penjadwalan pekerjaan.
Bab III Struktur Organisasi dan Komposisi Tenaga Ahli
a. Organisasi Dalam Pekerjaan, yaitu organisasi yang terlibat dalam pekerjaan
penyusunan RDTRK Perdesaan baik secara eksternal maupun internal,
b. Tenaga ahli yang terlibat,
c. Jadwal seluruh kegiatan selama 1 (satu) tahun anggaran dari awal kegiatan
sampai akhir kegiatan,
Bab IV Pelaporan Akhir
Meliputi kerangka (outline) penyusunan produk akhir serta progress report beserta
penjelasan singkat. Progress report merupakan laporan pencapaian kinerja dari
pelaksanaan pekerjaan kegiatan Penyusunan RDTRK Perdesaan Kapongan,
yang meliputi uraian program, kegiatan, indikator kinerja (yang terdiri dari capaian
program, masukan/input, keluaran/output, hasil/outcome), formula indikator, satuan
indikator kinerja, target kinerja, realisasi kinerja dan keterangan atau penjelasan
singkat.
Bab V Penutup
Lampiran-lampiran :
a. Jadwal Pelaksanaan Kegiatan (Time Schedule),
b. Daftar penggunaan tenaga, jumlah pendayagunaan dan waktu/lama
pendayagunaan,
c. Daftar Riwayat Hidup masing-masing tenaga ahli,
d. Daftar perolehan data dari SKPD dan Instansi Terkait,
e. Berkas check-list dan kuesioner hasil survey pendataan dan penjaringan
masyarakat,
f. Outline Laporan,
g. Dokumentasi, Flashdisk 2 GB.


9. Studi-Studi Terdahulu Studi yang pernah dilaksanakan untuk mendukung penyusunan RDTRK
Perdesaan Kapongan adalah :
a. RTRW Kabupaten Situbondo,
b. Masterplan Air Bersih Perkotaan Kabupaten Situbondo,
c. Masterplan Air Bersih Perdesaan Kabupaten Situbondo,
d. Tatanan Transportasi Lokal (Tatralok) Kabupaten Situbondo,
e. Rencana Detail Tata Ruang Kawasan Lindung Kabupaten Situbondo,
f. Rencana Detail Tata Ruang Kawasan Pariwisata Kabupaten Situbondo,
g. Rencana Detail Tata Ruang Kawasan Perkotaan Besuki,
h. Potensi Sumber Daya Air Kabupaten Situbondo,
i. Kajian Penanggulangan Kawasan Rawan Bencana Banjir,
j. Perencanaan Penanganan Resiko Bencana Berbasis Masyarakat.

10. Referensi Hukum Aspek hukum dan peraturan perundangan yang berkaitan dalam penyusunan
Rencana Detail Tata Ruang Kawasan (RDTRK) Perdesaan Kapongan, antara lain :
1. Undang-Undang Nomor 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang (Lembaran
Negara Republik Indonesia Tahun 2007 Nomor 68, Tambahan Lembaran
Negara Nomor 4725);
2. Undang-undang Nomor 11 Tahun 1967 tentang Ketentuan-Ketentuan Pokok
Pertambangan (Lembaran Negara Tahun 1967 Nomor 22, Tambahan
Lembaran Negara Nomor 2831);
3. Undang-undang Nomor 5 Tahun 1960 tentang Peraturan Dasar Pokok Pokok
Agraria (Lembaran Negara Tahun 1960 Nomor 104, Tambahan Lembaran
Negara Nomor 2043);
4. Undang-undang Nomor 5 Tahun 1984 tentang Perindustrian (Lembaran
Negara Tahun 1984 Nomor 22, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3274);
5. Undang-undang Nomor 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam
Hayati Dan Ekosistemnya (Lembaran Negara Tahun 1990 Nomor 49,
Tambahan Lembaran Negara Nomor 3419);
6. Undang-undang Nomor 15 Tahun 1985 tentang Ketenagalistrikan (Lembaran
Negara Tahun 1985 Nomor 74, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3317);
7. Undang-undang Nomor 9 Tahun 1990 tentang Kepariwisataan (Lembaran
Negara Tahun 1990 Nomor 78, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3427);
8. Undang-undang Nomor 4 Tahun 1992 tentang Perumahan dan Permukiman
(Lembaran Negara Tahun 1992 Nomor 23, Tambahan Lembaran Negara
Nomor 3469);
9. Undang-undang Nomor 5 Tahun 1992 tentang Benda Cagar Budaya
(Lembaran Negara Tahun 1992 Nomor 27, Tambahan Lembaran Negara
Nomor 3470);
10. Undang-undang Nomor 13 Tahun 1992 tentang Perkerataapian (Lembaran
Negara Tahun 1992 Nomor 47, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3479);
11. Undang-undang Nomor 14 Tahun 1992 tentang Lalu Lintas Angkutan Jalan
(Lembaran Negara Tahun 1992 Nomor 49, Tambahan Lembaran Negara
Nomor 3480);
12. Undang-undang Nomor 23 Tahun 1997 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup
(Lembaran Negara Tahun 1997 Nomor 68, Tambahan Lembaran Negara
Nomor 3699);
13. Undang-undang Nomor 41 Tahun 1999 tentang Kehutanan (Lembaran Negara
Tahun 1999 Nomor 167, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3888);
14. Undang-undang Nomor 7 Tahun 2004 tentang Sumber Daya Air (Lembaran
Negara Tahun 2004 Nomor 32, Tambahan Lembaran Negara Nomor 4377);
15. Undang-undang Nomor 25 Tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan
Pembangunan Nasional (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004
Nomor 104, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4421);
16. Undang-undang Nomor 31 Tahun 2004 tentang Perikanan (Lembaran Negara
Tahun 2004 Nomor 118, Tambahan Lembaran Negara Nomor 4433);
17. Undang-undang Nomor 38 Tahun 2004 tentang Jalan (Lembaran Negara
Tahun 2004 Nomor 132, Tambahan Lembaran Negara Nomor 4444);
18. Undang-undang Nomor 18 Tahun 2008 tentang Pengelolaan Sampah
(Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2008 Nomor 69);
19. Undang-undang Nomor 38 Tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan Pusat
dan Daerah;
20. Peraturan Pemerintah Nomor 27 Tahun 1999 tentang Analisa Dampak
Lingkungan Hidup (Lembaran Negara Tahun 1999 Nomor 59, Tambahan
Lembaran Negara Nomor 3838);
21. Peraturan Pemerintah Nomor 16 Tahun 2004 tentang Penatagunaan Tanah.
(Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 45, Tambahan
Lembaran Negara Nomor 4385);
22. Peraturan Pemerintah Nomor 16 Tahun 2005 tentang Pengembangan Sistem
Penyediaan Air Minum (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2005
Nomor 33, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4490);
23. Peraturan Pemerintah Nomor 34 Tahun 2006 tentang Jalan (Lembaran Negara
Republik Indonesia Tahun 2006 Nomor 86, Tambahan Lembaran Negara
Republik Indonesia Nomor 4655);
24. Peraturan Pemerintah Nomor 26 Tahun 2008 tentang Rencana Tata Ruang
Wilayah Nasional (Lembaran Negara Tahun 2008 Nomor 48, Tambahan
Lembaran Negara Nomor 4833);
25. Peraturan Pemerintah Nomor 42 Tahun 2008 tentang Pengelolaan Sumber
Daya Air (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2008 Nomor
82,Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4858);
26. Peraturan Presiden Nomor 36 Tahun 2005 tentang Pengadaan Tanah Bagi
Pelaksanaan Pembangunan Untuk Kepentingan Umum;
27. Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor 05/PRT/M/2008 tentang Pedoman
Penyediaan dan Pemanfaatan Ruang Terbuka Hijau di Kawasan Perkotaan;
28. Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor : 11/PRT/M/2009 tentang Pedoman
Persetujuan Substansi Dalam Penetapan Rancangan Peraturan Daerah
Tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Provinsi Dan Rencana Tata Ruang
Wilayah Kabupaten/Kota, Beserta Rinciannya.
29. Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor 63 Tahun 1993 tentang Garis
Sempadan dan Sungai, Daerah Manfaat Sungai, Daerah Penguasaan Sungai
dan Bekas Sungai;
30. Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 9 Tahun 1998 tentang Tata Cara
Peran serta Masyarakat Dalam Proses Perencanaan Tata Ruang di Daerah;
31. Peraturan Menteri Negara Agraria Nomor 2 Tahun 1999 tentang Izin Lokasi;
32. Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 01 tahun 2007 Tentang Penataan
Ruang Terbuka Hijau Kawasan Perkotaan
33. Keputusan Menteri Kimpraswil No. 327/KPTS/M Tahun 2002 tentang Pedoman
Penyusunan Rencana Tata Ruang
34. Keputusan Menteri Dalam Negeri Nomor 59 Tahun 1987 tentang Pedoman
Penyusunan Rencana Kota;
35. Keputusan Menteri Lingkungan Hidup Nomor 17 Tahun 2001 tentang Jenis
Rencana Usaha dan / atau kegiatan yang wajib di lengkapi dengan analisis
mengenai dampak lingkungan hidup
36. Peraturan Daerah Provinsi Daerah Tingkat I Jawa Timur Nomor 11 Tahun 1991
tentang Penetapan Kawasan Lindung di Provinsi Daerah Tingkat I Jawa Timur;
37. Peraturan Daerah Provinsi Jawa Timur Nomor 8 Tahun 2005 tentang Rencana
Pembangunan Jangka Menengah Daerah;
38. Peraturan Daerah Provinsi Jawa Timur Nomor 2 Tahun 2006 tentang Rencana
Tata Ruang Wilayah Propinsi Jawa Timur.

11. Ruang Lingkup
Kegiatan
Ruang lingkup kegiatan Penyusunan Rencana Detail Tata Ruang Kawasan
Perdesaan Kapongan, yaitu :
1. Pengertian tentang RDTR baik menyangkut kedudukan, syarat dan ketentuan,
dan kawasan fungsional yang direncanakan;
2. Pengertian-pengertian istilah baku dalam Penyusunan Penataan Ruang;
3. Pedoman tentang informasi dan data yang diperlukan untuk menuju proses
selanjutnya, termasuk metode inventarisasinya;
4. Pedoman yang berkaitan dengan kegiatan analisis aspek dan faktor-faktor
yang terkait dalam penyusunan Rencana Detail Tata Ruang Kawasan,
termasuk dalam pembagian unit perencanaan serta penentuan kawasan
fungsional yang akan direncanakan;
5. Pedoman yang berkaitan dengan materi, kedalaman materi, pengelompokan
materi yang diatur serta direncanakan untuk Rencana Detail Tata Ruang
Kawasan;
6. Pedoman teknis yang merinci tentang syarat-syarat, ketentuan dan kriteria
pengaturan dan rencana kegiatan fungsional dalam Rencana Detail Tata
Ruang Kawasan, dan penyusunan zonasi;
7. Pedoman yang berkaitan dengan materi pengendalian dan partisipasi
masyarakat dalam penyusunan Rencana Detail Tata Ruang Kawasan.

12. Keluaran
2
Keluaran yang dihasilkan dalam penyusunan RDTRK Perdesaan
Kapongan, meliputi :
a. Dokumen Laporan Pendahuluan,
b. Dokumen Fakta dan Analisa (draft dan final),
c. Dokumen Rencana (draft dan final),
d. Dokumen Executive Summary (bahan seminar dan rapat
Raperda),

2
Dijelaskan pula keterkaitan antara suatu keluaran dengan keluaran lain.
e. Album Peta,
f. Laporan Akhir berikut Flashdisk.
Hubungan/Keterkaitan antar out put sebagaimana dimaksud pada item
diatas adalah, sebagai berikut :
a. Laporan Pendahuluan merupakan laporan rencana kerja, yang memuat
wawasan penyedia jasa terhadap kegiatan yang akan dilaksanakan berikut
rencana kerja dan rencana mobilisasi tenaga.
b. Dokumen Fakta dan Analisa merupakan laporan antara, yang memuat hasil
pendataan dilapangan baik data primer maupun sekunder serta hasil analisa
sebagai out putnya. Dalam pelaksanaan pendataan perlu melibatkan peran
serta masyarakat melalui forum rapat koordinasi dalam rangka penjaringan
aspirasi masyarakat, sebagaimana ketentuan peraturan perundang-undangan,
c. Dokumen draft Rencana merupakan dokumen yang disusun berdasar hasil
Analisa setelah melalui beberapa rapat koordinasi teknis Tim BKPRD, yang
selanjutnya direvisi berdasar hasil seminar yang menghasilkan dokumen
Laporan Rencana,
d. Dokumen draft Executive Summary adalah ringkasan (resume) dari dokumen
draft Rencana sebagai bahan/materi seminar, sedang ringkasan (resume) dari
dokumen Laporan Rencana menjadi Executive Summary Rencana disusun
sebagai bahan/materi perubahan Raperda menjadi Perda,
e. Album Peta dibuat dalam skala inchi/detail (1 : 50.000 dan atau 1 :
25.000),
f. Laporan Akhir merupakan progress report, adalah laporan akhir
penyelenggaraan kegiatan oleh pihak penyedia jasa beserta Tim Koordinasi
BKPRD sejak awal sampai selesainya kegiatan.

13. Peralatan, Material,
Personil dan Fasilitas
dari Pejabat
Pelaksana Teknis
Kegiatan

Selama jangka waktu pelaksanaan pekerjaan, pengguna barang/jasa memfasilitasi
penyediaan tempat rapat koordinasi dan penyiapan surat menyurat serta 1 (satu)
set meja tulis untuk staf penyedia barang/jasa didalam ruang bidang Penataan
Ruang Sarana dan Prasarana Wilayah Bappeda Kabupaten Situbondo, jika
dianggap perlu dalam rangka untuk mempercepat penyelesaian pekerjaan.

14. Peralatan dan
Material dari
Penyedia Jasa
Konsultansi

Selama jangka waktu pelaksanaan pekerjaan penyedia barang/jasa berkewajiban
menyediakan seluruh sarana prasarana yang memadai demi terlaksananya
pekerjaan dengan sebaik-baiknya.

15. Lingkup Kewenangan
Penyedia Jasa

Pengguna barang/jasa melimpahkan kewenangan kepada penyedia
barang dan jasa selama pelaksanaan pekerjaan penyusunan RDTRK Perdesaan
Kapongan Kabupaten Situbondo dalam hal antara lain :
1. Survey dan pendataan dengan kunjungan ke Instansi terkait di lingkup
Kabupaten Situbondo dan atau Propinsi jawa Timur,
2. Penyiapan materi dan presentasi dalam forum penjaringan aspirasi masyarakat
dan dalam forum rapat koordinasi,
3. Menyiapkan dokumen rencana lengkap serta menyiapkan laporan-laporan
(Pendahuluan, Antara dan Akhir).

16. Jangka Waktu
Penyelesaian
Kegiatan
Jangka waktu pelaksanaan kegiatan penyusunan RDTRK Perdesaan Kapongan
dilaksanakan dalam 120 (seratus dua puluh) hari kalender atau sekitar 4 (empat)
bulan.


17. Personil Posisi Kualifikasi Jumlah
Orang Bulan
3

Tenaga Ahli :
Team Leader








Ahli Arsitektur
Team Leader yang disyaratkan
adalah seorang Sarjana
Perencanaan Wilayah dan Kota
(Teknik Planologi) yang telah
berpengalaman selama 7
(tujuh) tahun untuk S1 atau 3
(tiga) tahun untuk S2.

Ahli Arsitektur yang disyaratkan
adalah Sarjana Teknik
1 orang x 4 bln








1 orang x 4 bln

3
Khusus untuk Metode Evaluasi Pagu Anggaran jumlah orang bulan tidak boleh dicantumkan.












Ahli Teknik Sipil












Ahli Lingkungan












Ahli Sosial












Ahli Ekonomi













Ahli Pertanian
Arsitektur yang telah
berpengalaman 5 (lima) tahun
untuk S1 atau 1 (satu) tahun
untuk S2. Jumlah tenaga ahli
arsitektur yang dibutuhkan
minimal 1 (satu) orang
ditambah 1 (satu) orang asisten
dengan pengalaman 3 (tiga)
tahun untuk S1.

Ahli Teknik Sipil yang
disyaratkan adalah Sarjana
Teknik Sipil yang telah
berpengalaman 5 (lima) tahun
untuk S1 atau 1 (satu) tahun
untuk S2. Jumlah tenaga ahli
sipil yang dibutuhkan minimal 1
(satu) orang ditambah 1 (satu)
orang asisten dengan
pengalaman 3 (tiga) tahun
untuk S1.

Ahli Lingkungan yang
disyaratkan adalah Sarjana
Teknik Lingkungan yang telah
berpengalaman 5 (lima) tahun
untuk S1 atau 1 (satu) tahun
untuk S2. Jumlah tenaga ahli
lingkungan yang dibutuhkan
minimal 1 (satu) orang
ditambah 1 (satu) orang asisten
dengan pengalaman 3 (tiga)
tahun untuk S1

Ahli sosial yang disyaratkan
adalah Sarjana Sosial yang
berpengalaman dibidang sosial
dan telah berpengalam 5 (lima)
tahun untuk S1 atau 1 (satu)
tahun untuk S2. Jumlah tenaga
ahli sosial yang dibutuhkan
minimal 1 (satu) orang
ditambah 1 (satu) orang asisten
dengan pengalaman 3 (tiga)
tahun untuk S1.

Ahli ekonomi yang disyaratkan
adalah Sarjana ekonomi yang
berpengalaman dibidang
ekonomi dan telah berpengalam
5 (lima) tahun untuk S1 atau 1
(satu) tahun untuk S2. Jumlah
tenaga ahli ekonomi yang
dibutuhkan minimal 1 (satu)
orang ditambah 1 (satu) orang
asisten dengan pengalaman 3
(tiga) tahun untuk S1.

Ahli Pertanian yang disyaratkan
adalah Sarjana Pertanian yang
berpengalaman dibidang
pertanian dan telah
berpengalaman 5 (lima) tahun
untuk S1 atau 1 (satu) tahun
untuk S2. Jumlah tenaga ahli
pertanian yang dibutuhkan
minimal 1 (satu) orang












1 orang x 4 bln












1 orang x 4 bln












1 orang x 4 bln












1 orang x 4 bln













1 orang x 4 bln
ditambah 1 (satu) orang asisten
dengan pengalaman 3 (tiga)
tahun untuk S1.


Tenaga Pendukung (jika ada) :
Asisten Tenaga Ahli





Suveyor





Drafter/ Operator
Komputer




Tenaga
Administrasi



Sarjana (S1) sesuai dengan
jurusan masing-masing tenaga
ahli dan telah berpengalaman
selama 3 (tiga) tahun.

Tenaga surveyor yang
disyaratkan adalah minimal
lulusan S1 yang
berpengalaman minimal 3 (tiga)
tahun.

Drafter/Operator Komputer
yang disyaratkan adalah
minimal lulusan STM
berpengalaman minimal 5 (lima)
tahun.

Tenaga Administrasi yang
disyaratkan adalah lulusan
SLTA berpengalaman minimal 5
(lima) tahun dibidang
administrasi proyek.

6 orang x 4 bln





4 orang x 2 bln





2 orang x 4 bln





1 orang x 4 bln


18. Jadwal Tahapan Pelaksanaan Kegiatan



Laporan

19. Laporan
Pendahuluan
Outline Dokumen Laporan Pendahuluan sebagaimana dimaksud dalam
Standard Teknis Operasional pada uraian diatas, yang antara lain berisi :
1. Pemahaman Kerangka Acuan Kerja (KAK) yang diartikulasikan sebagai
persepsi terhadap KAK,
2. Penjabaran KAK kedalam item-item jenis dan urutan kegiatan (menampilkan
jadwal kegiatan),
3. Struktur organisasi dan tata kerja personil yang bertanggung jawab,
4. Pendekatan dan metodologi yang akan digunakan dalam pelaksanaan
pekerjaan,
5. Bahan dan rencana kegiatan survey,
6. Rancangan laporan Antara,

Dokumen Laporan Pendahuluan disiapkan dalam waktu 2 (dua) minggu semenjak
dikeluarkannya Surat Perintah Kerja (SPK). Laporan pendahuluan ini diserahkan
setelah dibahas dan disetujui oleh tim teknis didasarkan atas masukan dari
pembahas yang hadir, laporan ini diserahkan sebanyak 6 buku (tidak termasuk
draft), disusun dalam ukuran A-4 diketik 1,5 spasi.

1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4
1 Persiapan Pekerjaan
2 Kegiatan Survey
3 Penyusunan Laporan Pendahuluan
4 Penyusunan Fakta dan Analisa
5 Penyusunan Draft Rencana
6 Penyusunan Rencana
7 Penyusunan Laporan Akhir
Bulan (Minggu)
No. Langkah Kegiatan I II III IV
20. Dokumen Fakta dan
Analisa











Outline Dokumen Fakta Analisa ini sebagaimana dimaksud dalam
Standard Teknis Operasional pada uraian diatas, yang antara lain berisi :
1. Hasil Survey
2. Data Existing
3. Temuan lokasi-lokasi permasalahan
4. Penyebab permasahan pada lokasi yang bersangkutan
5. Peta dasar dan peta lainnya
6. Metode analisis yang dipilih
Laporan ini disusun dalam ukuran kertas A-3 diketik dengan spasi 1,5 diserahkan
sebanyak 6 buku (tidak termasuk draft)
21. Dokumen Draft
Rencana
Berupa rancangan rencana yang berisikan hasil dari analisis yang
dilakukan dan menghasilkan perumusan tujuan, kebijakkan dasar perencanaan,
alternatif rencana struktur dan rumusan pembangunan yang disertai peta-peta dan
diagram. Dokumen Draft Rencana disiapkan dalam waktu 2 (dua) minggu setelah
laporan fakta dan analisa diserahkan dan telah disetujui oleh tim teknis didasarkan
atas masukan dari pembahas yang hadir. Outline Dokumen Draft Rencana ini
sebagaimana dimaksud dalam Standard Laporan pada uraian Bab terdahulu.
Dokumen Draft Rencana disusun dalam ukuran kertas A-4 diketik 1,5
spasi, diserahkan sebanyak 20 buku sebelum kegiatan rapat koordinasi/seminar
dilakukan.
22. Dokumen Laporan
Rencana
Merupakan buku utama yang mencakup isi rencana yang disusun dari Draft
Rencana yang telah disempurnakan dengan berpedoman dari hasil keputusan
rapat koordinasi/seminar. Dokumen ini disiapkan dalam waktu 2 (dua) minggu
setelah rapat koordinasi/seminar. Dokumen ini diserahkan setelah dibahas dan
disetujui oleh tim teknis didasarkan atas masukan dari pembahas yang hadir.
Dokumen Laporan Rencana disusun dalam ukura A3, diketik 1,5 spasi, diserahkan
sebanyak 20 eksemplar (tidak termasuk draft).

23. Album Peta Merupakan kumpulan peta utama yang menjadi hasil dari kegiatan
penyusunan rencana tata ruang, album peta yang diserahkan adalah :
1. Peta administratif wilayah perencanaan 1 : 50.000,
2. Peta Existing Penggunaan Lahan masing-masing Kawasan Perdesaan skala 1:
50.000,
3. Peta Rencana Penggunaan Lahan masing-masing Kawasan Perdesaan skala
1 : 50.000,
4. Peta Rencana Pengembangan masing-masing Kawasan Perdesaan skala 1 :
50.000,
5. Peta Rencana Utilitas Kawasan masing-masing Perdesaan skala 1 :
50.000,
6. Album Peta dijilid sebanyak rangkap 2.

24. Dokumen Executive
Summary
Dokumen Executive Summary terdiri dari 2 macam berkas dokumen, yaitu
:
1. Executive Summary sebagai bahan seminar, disusun dalam ukuran A4
merupakan resume dari Dokumen Draft Rencana, diketik dengan spasi 1,5,
sebanyak 20 buku,
2. Executive Summary sebagai bahan rapat pembahasan Raperda, disusun
dalam ukuran A4 merupakan resume Dokumen Laporan Rencana, diketik
dengan spasi 1,5, sebanyak 60 buku .

25. Dokumen Laporan
Akhir
Laporan akhir adalah progress report, merupakan kumpulan laporan
pelaksanaan kegiatan, disusun dalam ukuran A4 diketik dengan spasi 1,5,
diserahkan sebanyak 6 buku (tidak termasuk draft). Dokumentasi Laporan Akhir
beserta seluruh dokumen hasil kegiatan dalam media Flashdisk 2 GB sebanyak 2
unit diserahkan pada Pejabat Pelaksana Teknis/Pejabat Pembuat Komitmen.

Hal-hal Lain

26. Produksi Dalam Negeri Semua kegiatan jasa konsultansi berdasarkan KAK ini harus dilakukan di dalam
wilayah Negara Republik Indonesia kecuali ditetapkan lain dalam angka 4 KAK
dengan pertimbangan keterbatasan kompetensi dalam negeri.

27. Persyaratan Kerjasama Jika kerjasama dengan penyedia jasa konsultansi lain diperlukan untuk
pelaksanaan kegiatan jasa konsultansi ini maka persyaratan berikut harus dipatuhi :

28. Pedoman
Pengumpulan Data
Lapangan

Pengumpulan data lapangan harus memenuhi persyaratan berikut :
1. Data Primer
Data Primer diperoleh dari wawancara (interview) langsung di lapangan dari
beberapa narasumber dan pengamat lapang.
2. Data Sekunder
Data Sekunder diperoleh dengan mencatat data dari berbagai sumber instansi
yang ada kaitan dengan penelitian ini, antara lain dari membaca buku dan
informasi tertulis yang tersedia di tempat penelitian yang ada kaitannya dengan
obyek penelitian serta mencatat atau menyalin data yang telah dibukukan dari
instansi-instansi terkait.

29. Ahli Pengetahuan Jika diperlukan, Penyedia Jasa Konsultansi berkewajiban untuk menyelenggarakan
pertemuan dan pembahasan dalam rangka alih pengetahuan kepada personil
proyek/satuan kerja Pejabat Pembuat Komitmen berikut :