Anda di halaman 1dari 30

SENYAWA ORGANIK HIDROKARBON

DENGAN KARBON ELEKTROFILIK




Seperti yang dibicarakan pada kimia organik I.,
senyawa hidrokarbon adalah kelompok zat organik yang
hanya terdiri dari unsur karbon dan hidrogen, baik yang
mempunyai ikatan jenuh maupun tidak jenuh.

Dari pengamatan terhadap penelitian yang lebih saksama,
kemudian diketahui bahwa golongan senyawa organik ini
masih bisa dibedakan atas dua kelompok,
kelompok yang

bersifat minyak (fatty) yang disebut kelompok senyawa organik
hidrokarbon alifatik

yang mempunyai bau khas (fragrant, aroma) yang disebut kelompok
senyawa organik aromatik.
Dewasa ini secara definisi senyawa aromatik ini akan
mempunyai sistim elektron terkonjugasi yang mempunyai
(4n + 2) elektron walaupun senyawa itu tidak ada mempunyai bau
(Lihat kimia organik I)
Aromatisitas
Benzena dan senyawa organik
hidrokarbon siklik aromatik

Benzena merupakan senyawa organik siklik aromatik yang paling
sederhana yang pertama kali diisolasi oleh Michael faraday tahun 1825 dari
fraksi gas lampu yang terkondensasi.
Pada tahun 1834, Mitscherlich menemukan bahwa senyawa ini dapat
dibuat melalui pemanasan pada temperatur tinggi (pirolisis) asam benzoat
yang didapat dari pengolahan resin benzoin.
Mitscherlich menamakan senyawa yang mempunyai rumus empiris C6H6
ini dengan benzin, yang dalam ejaan inggris dan perancis disebut
benzene yang di Indonesia dikenal dengannama Benzena.
Dalam penulisan, kadang-kadang turunan benzena ini yang merupakan
benzena yang tersubstitusi sering disingkat sebagai Ar (Arene, benzena
sendiri sering ditulis sebagai ArH) atau sebagai Ph (phenyl = fenil).
Struktur kimia benzena


Struktur kimia benzena ini dapat digambarkan sebagai bentuk
resonansi ikatan rangkap.


Untuk penyederhanaan dalam penulisan, singkatan Ar atau Ph
sampai sekarang masih tetap dipakai.




Walaupun kurang tepat untuk penelusuran mekanisme reaksi,
sistem penulisan dengan ikatan rangkap yang terkonjugasi juga masih digunakan.



O
O
H
H
O
O
[ O ]
1.Nomenklatur

Seperti senyawa organik lainnya, pemberian nama
senyawa organik dapat mengikuti tata nama IUPAC atau
berdasarkan nama biasa (common name).
Tata nama menurut IUPAC, menggunakan nama gugus
substituen sebagai awalan dari benzena dan ditulis
sebagai satu kata.

Beberapa jenis senyawa benzena tersubstitusi, oleh
IUPAC telah disetujui untuk menggunakan common
name sebagai nama resmi. Walaupun demikian
chemical abstract masih memberikan nama tersendiri.

Apabila gugus tersubstitusi lebihdari satu, terjadi 3
kemungkinan isomer yang dinyatakan sebagai awalan
dalam bentuk kata Yunani, o (orto), p (para), dan m
(meta).

Urutan pemberian awalan disini sama dengan aturan
umum, yaitu menurut abjad. Contoh:







Apabila terdapat benzena subtitusi satu dengan nama
khusus, substitusi tambahan digunakan sebagai awalan
pada pemberian nama ini.

OH
Br
CHO
NO
2
NH
2
I
O-bromof enol
m-nitrobenzaldehid
p-iodoanilin
Apabila gugus subtitusi ini merupakan gugus-gugus yang tergolong mempunyai
nama khusus, gugus yang tidak biasa digunakan sebagai awalan digunakan
sebagai nama dan gugus subtitusi yang biasa digunakan sebagai awalan
Untuk polisubstitusi, harus digunakan
sistem penomoran.

Sifat FISIKA
Lihat KO1
Sintesis

+ Y
+
(lambat)
H
Y
H
Y
(cepat)
Z
-
Y
Reaksi substitusi elektrofilik aromatik ini
berlangsung dalam dua tahap:
REAKSI SUBSTITUSI ELEKTROFILIK
BENZENA

ArH + HONO
2
ArNO
2
+ H
2
O
H
2
SO
4
c
ArH + Cl
2
ArCl + HCl
Ar H + Br
2
ArBr + HBr
Nitrasi
Halogenasi
Sulfonasi
ArH + HOSO
3
H
SO
3
ArSO
3
H + H
2
O
Mekanisme reaksi
Ad.1
Ad.2
Ad.3
2H
2
SO
4
H
3
O
+
+ HSO
4
-
+ SO
3
C
6
H
6
+ SO
3
+ HSO
4
-
C
6
H
5
SO
3
H
C
6
H
5
SO
3
H
C
6
H
5
SO
3
-
+ H
2
SO
4
C
6
H
5
SO
3
-
+ H
3
O
+
C
6
H
5
SO
3
-
+ H
2
SO
4
Reaktifitas
Dari pengamatan yang terlihat bahwa kecepatan reaksi antara
senyawa aromatik dengan berbagai elektrofil ternyata tidak sama.
Hal ini terjadi karena masing-masing gugus elektrofil akan
mempunyai pengaruh yang berbeda pada reaktivitas dari
benzena itu sendiri.
Adanya substitusi gugus fungsi seperti NH2, OH, OCH3,
NHCOCH3, C6H5, dan CH3 akan menyebabkan senyawa
aromatik tersebut akan lebih reaktif dari benzena, sedangkan
gugus fungsi seperti NCH3+, NO2, CN, SO3H, COOH, CHO,
COR, Halogen, menyebabkan inti benzena akan menjadi kurang
reaktif.
Kalau dilihat , ternyata bahwa gugus substitusi yang bersifat
kaya elektron seperti misalnya OH dan NH2, menyebabkan cincin
aromatik akan lebih reaktif karena terjadi stabilisasi karbokation
pada atom C aromatik yang terikat pada atom yang kaya elektron

Apabila atom gugus fungsi yang teirkat pada cincin
aromatik merupakan atom yang bersifat menarik
elektron, akan terjadi deaktifasi dan senyawa tersebut
secara keseluruhan akan kurang reaktif untuk reaksi
substitusi elektrofilik.

Orientasi substitusi
1.
2.
3.
4.
5.
Substitusi pada posisi orto, terlihat pada spesies III mempunyai karbokation
tertier yang terikat dengan atom Br yang kaya elektron sekaligus penarik
elektron. Hibrida ini sangat tidak stabil, tapi bisa membentuk hibrida IV yang
relatif cukup stabil.
Substitusi elektrofilik pada posisi meta ini akan
menghasilkan hibrida yang mempunyai karbokation.
sekunder. Relatif sangat sukar terbentuk

Pada reaksi substitusi elektrofilik dengan gugus
penunjuk NO2 seperti pada reaksi 2, mekanismenya
dapat diterangkan sebagai berikut

Serangan elektrofil pada posisi orto pada
nitrobenzene
Serangan elektrofil pada posisi meta.

Disini terbentuk hibrida intermediet dengan bentuk karbokation
sekunder yang relatif sukar terbentuk, tetapi relatif mudah
untuk terbentuk dibandingkan dengan hibrida III.
Serangan elektrofil pada posisi meta.
Disini terbentuk hibrida intermediet dengan bentuk karbokation
sekunder yang relatif sukar terbentuk, tetapi relatif mudah untuk
terbentuk dibandingkan dengan hibrida III
Serangan elektrofil pada posisi para

Seperti pada serangan pada posisi orto serangan elektrofil pada
posisi para ini juga akan menghasilkan hibrida intermediet yang
tidak stabil/sukar terbentuk, terutama hibrida VIII.
Serangan elektrofil pada posisi orto

OH
OH
Y
H
Y
+
OH
Y
H
I II III
OH
Y
H
O
Y
H
H
OH
Y