Anda di halaman 1dari 2

Rangkuman Evaluasi Sumberdaya Lahan

Sub DAS Krasak



Teknik dalam evaluasi lahan dapat dibedakan menjadi empat teknik, yaitu teknik deskriptif/
kualitatif, statistic multiparametrik, matching, dan scoring. Dalam bahasan ini, teknik yang digunakan
dalam evaluasi lahan meliputi teknik matching dan scoring. Baik teknik matcing dan teknik scoring masih
dibagi menjadi beberapa bagian teknik lagi. Teknik evaluasi lahan secara metching dibagi menjadi tiga
macam, yaitu weight factor matching, arithmetic matching, dan subjective matching. Pada teknik
evaluasi lahan secara scoring, terbagi menjadi tiga bagian juga, yaitu penjumlahan-pengurangan,
perkalian-pembagian, dan kombinasi keduanya. Evaluasi lahan dilakukan pada sub das Krasak, dengan
bentuklahan yang terdiri atas : lereng atas gunungapi, lereng tengah gunungapi, lereng bawah
gunungapi, lereng kaki gunungapi, tanggul alam, teras sungai, lembah barranco, dan dataran alluvial.
Evaluasi lahan dengan teknik weight factor matching menghasilkan dua kelas kemampuan
lahan, yaitu VIIs dan VIIIs. Teknik ini didasarkan pada faktor pembatas yang paling berat. Kode s
menunjukkan bahwa faktor pembatas terberat adalah tanah (soil). Dari hasil kelas kemampuan lahan
tersebut, menunjukkan bahwa lahan pada sub das Krasak dapat dikelola untuk penggembalaan, hutan ,
atau cagar alam( pada kelas VII) dan cagar alam ( pada kelas VIII). Tanah mejadi faktor pembatas yang
berat dikarenakan kedalaman tanah masuk ke dalam kelas sangat dangkal-sedang dan erodibilitas
didominasi oleh kelas sangat tinggi-tinggi, sehingga mempengaruhi drainase, permeabilitas tanah. Kelas
VIII s lebih mendominasi dibandingkan dengan kelas VIIs ( di sebagian kanan kiri sungai).
Evaluasi lahan dengan teknik arithmatik matching menghasilkan enam kelas kemampuan lahan,
yaitu IVs, VIt, VIe, VIIs, VIIe, dan VIIIs. Teknik ini didasarkan pada faktor yang dominan sebagai penentu
kelas. Kelas kemampuan VIIs mendominasi di dalam sub das tersebut, sehingga sebagian lahan dapat
dikelola sebagai penggembalaan, hutan , atau cagar alam.
Evaluasi lahan dengan teknik subjective matching menghasilkan enam belas kelas kemampuan
lahan, yaitu IIIs, IIIt, IIe,IVe, IVt, Ie, VIIIt, VIIIte, VIIt, VIIte, VIIts, VIt, VIte, VIts, Vt, Vte. Teknik ini
mendasarkan pada subjektifitas peneliti, sehingga hasilnya tergantung pada pengalaman peneliti
tersebut. Faktor pembatas yang menjadi pertimbangan adalah tanah, lereng, erosi, dan tekstur tanah.
Evaluasi lahan dengan teknik scoring penjumlahan didominasi oleh kelas kemampuan I yang
dapat dikelola sebagai pertanaman intensif ( pada lereng bawah gunungapi). Selanjutnya kelas
kemampuan VIII yang dapat dikelola sebagai cagar alam dijumpai pada lereng bagian atas hingga lereng
bagian tengah gunungapi.
Evaluasi lahan dengan teknik scoring perkalian dan penjumlahan menghasilkan range yang
berbeda dengan teknik scoring penjumlahan, sehingga hasil kelas kemampuan lahan juga berbeda. Pada
bagian atas, yaitu lereng atas gunungapi, ditempati oleh kelas V, yang diperuntukkan sebagai
penggembalaan intensif. Berbeda dengan teknik scoring penjumlahan yang diperuntukkan sebagai
kawasan cagar alam. Pada lereng tengah gunungapi ditempati oleh kelas III-VIII, sehingga peruntukkan
lahan bervariasi mulai dari sebagai kawasan pertanian, penggembalaan, hutan, hingga cagar alam. Dari
perbandingan antara teknik scoring penjumlahan dan perkalian-penjumlahan, didapatkan kesimpulan
bahwa teknik scoring penjumlahan lebih menghasilkan hasil yang lebih logis dibandingkan dengan teknik
scoring perkalian-penjumlahan dilihat dari kelas kemampuan lahannya.