Anda di halaman 1dari 18

ANALISIS KASUS

Skandal Manipulasi Laporan Keuangan PT. Kimia Farma Tbk.



Untuk memenuhi tugas mata kuliah Akuntansi Topik Khusus yang dibimbing oleh
Dr. Hj. Poppy Sofia Koeswayo, S.E.,MSA.,Ak.,CPA.













Disusun oleh :
Fanny Anggita
120110120066



PROGRAM STUDI AKUNTANSI
FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS
UNIVERISTAS PADJADJARAN
2014


DAFTAR ISI


BAB I. OVERVIEW KASUS 1
BAB II. TINJAUAN PUSTAKA .. 4
BAB III. PEMBAHASAN 10
BAB IV. SIMPULAN DAN SARAN 16
DAFTAR PUSAKA ...... 18



















BAB I
OVERVIEW KASUS

Kimia Farma adalah perusahaan industri farmasi pertama di Indonesia yang
didirikan oleh Pemerintah Hindia Belanda tahun 1817. Nama perusahaan ini pada
awalnya adalah NV Chemicalien Handle Rathkamp & Co. pada tahun 1958. Kemudian
Pemerintah Republik Indonesia melakukan peleburan sejumlah perusahaan farmasi
menjadi PNF (Perusahaan Negara Farmasi) Bhinneka Kimia Farma. Dan pada tanggal
16 Agustus 1971, bentuk badan hukum PNF diubah menjadi Perseroan Terbatas,
sehingga nama perusahaan berubah menjadi PT Kimia Farma (Persero).

Saat ini PT Kimia Farma adalah salah satu produsen obat-obatan terbesar milik
pemerintah Indonesia. Pada audit tanggal 31 Desember 2001, manajemen Kimia Farma
melaporkan adanya laba bersih sebesar Rp 132 milyar, dan laporan tersebut di audit
oleh Hans Tuanakotta & Mustofa (HTM). Akan tetapi, Kementerian BUMN dan Bapepam
menilai bahwa laba bersih tersebut terlalu besar dan mengandung unsur rekayasa.
Setelah dilakukan audit ulang, pada 3 Oktober 2002, hasilnya laporan keuangan Kimia
Farma 2001 disajikan kembali (restated), karena telah ditemukan kesalahan yang cukup
mendasar.

Untuk diketahui bahwa yang mengaudit tahun buku 2002 adalah kantor akuntan
HTM itu sendiri, hanya berbeda partner. Pada tahun buku 2001 yang menjadi partner
dari KAP HTM adalah Syamsul Arif, sedangkan yang menjadi partner KAP HTM dalam
pengauditan semester I tahun buku 2002 adalah Ludovicus Sensi W.

Pada laporan keuangan yang baru, keuntungan yang disajikan hanya sebesar Rp
99,56 miliar, atau lebih rendah sebesar Rp 32,6 milyar, atau 24,7% dari laba awal
yang dilaporkan. Kesalahan itu timbul pada unit Industri Bahan Baku yaitu kesalahan
berupa overstated penjualan sebesar Rp 2,7 miliar, pada unit Logistik Sentral berupa
overstated persediaan barang sebesar Rp 23,9 miliar, pada unit Pedagang Besar


Farmasi berupa overstated persediaan sebesar Rp 8,1 miliar dan overstated penjualan
sebesar Rp 10,7 miliar.

Kesalahan penyajian yang berkaitan dengan persediaan timbul karena nilai yang
ada dalam daftar harga persediaan digelembungkan. PT Kimia Farma, melalui direktur
produksinya, menerbitkan dua buah daftar harga persediaan (master prices) pada
tanggal 1 dan 3 Februari 2002. Daftar harga per 3 Februari ini telah digelembungkan
nilainya dan dijadikan dasar penilaian persediaan pada unit distribusi Kimia Farma per
31 Desember 2001. Sedangkan kesalahan penyajian berkaitan dengan penjualan adalah
dengan dilakukannya pencatatan ganda atas penjualan. Pencatatan ganda tersebut
dilakukan pada unit-unit yang tidak disampling oleh akuntan, sehingga tidak berhasil
dideteksi. Berdasarkan penyelidikan Bapepam, disebutkan bahwa KAP yang mengaudit
laporan keuangan PT Kimia Farma telah mengikuti standar audit yang berlaku, namun
gagal mendeteksi kecurangan tersebut. Selain itu, KAP tersebut juga tidak terbukti
membantu manajemen melakukan kecurangan tersebut.
Selanjutnya diikuti dengan pemberitaan di harian Kontan yang menyatakan bahwa
Kementerian BUMN memutuskan penghentian proses divestasi saham milik Pemerintah
di PT KAEF setelah melihat adanya indikasi penggelembungan keuntungan (overstated)
dalam laporan keuangan pada semester I tahun 2002. Dimana tindakan ini terbukti
melanggar Peraturan Bapepam No.VIII.G.7 tentang Pedoman Penyajian Laporan
Keuangan poin 2 Khusus huruf m Perubahan Akuntansi dan Kesalahan Mendasar
poin 3) Kesalahan Mendasar, sebagai berikut:
Kesalahan mendasar mungkin timbul dari kesalahan perhitungan matematis, kesalahan
dalam penerapan kebijakan akuntansi, kesalahan interpretasi fakta dan kecurangan atau
kelalaian. Dampak perubahan kebijakan akuntansi atau koreksi atas kesalahan mendasar
harus diperlakukan secara retrospektif dengan melakukan penyajian kembali (restatement)
untuk periode yang telah disajikan sebelumnya dan melaporkan dampaknya terhadap
masa sebelum periode sajian sebagai suatu penyesuaian pada saldo laba awal periode.
Pengecualian dilakukan apabila dianggap tidak praktis atau secara khusus diatur lain
dalam ketentuan masa transisi penerapan standar akuntansi keuangan baru.




Sanksi dan Denda
Sehubungan dengan temuan tersebut, maka sesuai dengan Pasal 102 Undang-
undang Nomor 8 tahun 1995 tentang Pasar Modal jo Pasal 61 Peraturan Pemerintah
Nomor 45 tahun 1995 jo Pasal 64 Peraturan Pemerintah Nomor 45 tahun 1995 tentang
Penyelenggaraan Kegiatan di Bidang Pasar Modal maka PT Kimia Farma (Persero)
Tbk. dikenakan sanksi administratif berupa denda yaitu sebesar Rp. 500.000.000,- (lima
ratus juta rupiah).
Sesuai Pasal 5 huruf n Undang-Undang No.8 Tahun 1995 tentang Pasar Modal,
maka:
1. Direksi Lama PT Kimia Farma (Persero) Tbk. periode 1998 Juni 2002
diwajibkan membayar sejumlah Rp 1.000.000.000,- (satu miliar rupiah) untuk
disetor ke Kas Negara, karena melakukan kegiatan praktek penggelembungan
atas laporan keuangan per 31 Desember 2001.
2. Sdr. Ludovicus Sensi W, Rekan KAP Hans Tuanakotta dan Mustofa selaku
auditor PT Kimia Farma (Persero) Tbk. diwajibkan membayar sejumlah Rp.
100.000.000,- (seratus juta rupiah) untuk disetor ke Kas Negara, karena atas
risiko audit yang tidak berhasil mendeteksi adanya penggelembungan laba yang
dilakukan oleh PT Kimia Farma (Persero) Tbk. tersebut, meskipun telah
melakukan prosedur audit sesuai dengan Standar Profesional Akuntan Publik
(SPAP), dan tidak diketemukan adanya unsur kesengajaan. Tetapi, KAP HTM
tetap diwajibkan membayar denda karena dianggap telah gagal menerapkan
Persyaratan Profesional yang disyaratkan di SPAP SA Seksi 110 Tanggung
Jawab & Fungsi Auditor Independen, paragraf 04 Persyaratan Profesional, dimana
disebutkan bahwa persyaratan profesional yang dituntut dari auditor independen
adalah orang yang memiliki pendidikan dan pengalaman berpraktik sebagai
auditor independen.








BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

Fraud is a generic term, and embrace all the multifarious means which human
ingenuity can devise, which are resorted to by one individual, to get an advantage
over another by false representations. No definite and invariable rule can be laid down
as a general proposition in defining fraud, as it includes surprise, trickery, cunning and
unfair ways by which another is cheated. The only boundaries defining it are those
which limit human knavery. (Fraud Examination; 2009 page 7-8)

Menurut definisi di atas, suatu kesalahan dapat dikategorikan sebagai fraud apabila
memenuhi beberapa aspek tertentu, yaitu:
1. Sebuah penyajian yang keliru
2. Materiality; berpengaruh besar pada pengambilan keputusan
3. Keliru
4. Merupakan kesalahan yang disengaja
5. Memperdayai/menipu
6. Bertujuan untuk merugikan
7. Diupayakan oleh seseorang

Fraud erat kaitannya dengan etika profesi akuntansi. Karena dengan terjadinya fraud
menunjukkan bahwa adanya kesalahan seorang auditor/akuntan dan kredibiltasnya
dipertanyakan.

Association of Certified Fraud Examiners (ACFE), internal fraud (tindakan
penyelewengan di dalam perusahaan ata institusi) dikelompokan menjadi 3 (tiga) jenis,
yaitu:
1. Fraud Terhadap Aset (Asset Misappropriation) Singkatnya, penyalahgunaan aset
perusahaan (institusi), entah itu dicuri atau digunakan untuk keperluan pribaditanpa ijin
dari perusahaan. Seperti kita ketahui, aset perusahaan bisa berbentuk kas (uang tunai)
dan non-kas. Sehingga, asset misappropriation dikelompokan menjadi 2 macam:


Cash Misappropriation Penyelewengan terhadap aset yang berupa kas
(Misalnya: penggelapan kas, nilep cek dari pelanggan, menahan cek pembayaran
untuk vendor)
Non-cash Misappropriation Penyelewengan terhadap aset yang berupa non-kas
(Misalnya: menggunakan fasilitas perusahaan untuk kepentingan pribadi).
2. Fraud Terhadap Laporan Keuangan (Fraudulent Statements) ACFE membagi jenis
fraud ini menjadi 2 macam, yaitu: (a) financial; dan (b) non-financial. Segala tindakan
yang membuat Laporan Keuangan menjadi tidak seperti yang seharusnya (tidak mewakili
kenyataan), tergolong kelompok fraud terhadap laporan keuangan. Misalnya:
Memalsukan bukti transaksi
Mengakui suatu transaksi lebih besar atau lebih kecil dari yang seharusnya,
Menerapkan metode akuntansi tertentu secara tidak konsisten untuk menaikan
atau menurunkan laba
Menerapkan metode pangakuan aset sedemikian rupa sehingga aset menjadi
nampak lebih besar dibandingkan yang seharusnya.
Menerapkan metode pangakuan liabilitas sedemikian rupa sehingga liabiliats
menjadi nampak lebih kecil dibandingkan yang seharusnya.
3. Korupsi (Corruption) ACFE membagi jenis tindakan korupsi menjadi 2 kelompok,
yaitu:
Konflik kepentingan (conflict of interest) Saya mengalami kesulitan mencari
kalimat yang paling tepat untuk mendeskripsikan. Contoh sederhananya begini:
Seseorang atau kelompok orang di dalam perusahaan (biasanya manajemen
level) memiliki hubungan istimewa dengan pihak luar (entah itu orang atau
badan usaha). Dikatakan memiliki hubungan istimewa karena memiliki
kepentingan tertentu (misal: punya saham, anggota keluarga, sahabat dekat, dll).
Ketika perusahaan bertransaksi dengan pihak luar ini, apabila seorang
manajer/eksekutif mengambil keputusan tertentu untuk melindungi kepentingannya
itu, sehingga mengakibatkan kerugian bagi perusahaan, maka ini termasuk
tindakan fraud. Kita di Indonesia menyebut ini dengan istilah: kolusi dan
nepotisme.
Menyuap atau Menerima Suap, Imbal-Balik (briberies and excoriation) Suap,
apapun jenisnya dan kepada siapapun, adalah tindakan fraud. Menyupa dan


menerima suap, merupakan tindakan fraud. Tindakan lain yang masuk dalam
kelompok fraud ini adalah: menerima komisi, membocorkan rahasia perusahaan
(baik berupa data atau dokumen) apapun bentuknya, kolusi dalam tender
tertentu.

Pemicu perbuatan fraud pada umumnya merupakan gabungan dari motivasi dan
kesempatan. Motivasi dan kesempatan saling berhubungan. Semakin besar kebutuhan
ekonomi seseorang yang bekerja di suatu organisasi yang pengendaliannya internnya
lemah, maka semakin kuat motivasinya untuk melakukan fraud. Terdapat empat faktor
pendorong seseorang untuk melakukan fraud, yang sering disebut teori GONE
(Pusdiklatwas BPKP) yaitu sebagai berikut:
1) Greed (keserakahan)
2) Opportunity (kesempatan)
3) Need (kebutuhan)
4) Expossure (pengungkapan)
Faktor greed dan need merupakan faktor yang berhubungan dengan pelaku fraud atau
disebut faktor individu. Adapun faktor opportunity dan exposure merupakan faktor yang
berhubungan dengan organisasi sebagai korban.
a. Faktor Generic
Faktor generik yang meliputi opportunity (kesempatan) dan exposure (pengungkapan)
merupakan faktor yang berada pada pengendalian organisasi. Pada umumnya
kesempatan melakukan fraud selalu ada pada setiap kedudukan, hanya saja adanya
kesempatan besar maupun kecil tergantung kedudukan pelaku menempati kedudukan
pada manajemen atau pegawai biasa.
b. Faktor Individu
Faktor individu yang meliputi greed (keserakahan) dan need (kebutuhan) merupakan
faktor yang ada pada diri masing-masing individu, dengan arti berada diluar
pengendalian organisasi. Faktor ini terdiri atas dua unsur yaitu:
(1) Greed factor, yaitu moral yang meliputi karakter, kejujuran dan integritas yang
berhubungan dengan keserakahan.
(2) Need factor, yaitu motivasi yang berhubungan dengan kebutuhan seperti terlilit
hutang atau bergaya hidup mewah.



FRAUD EXAMINITION
Cara pencegahan fraud dapat dilakukan dengan cara (Amrizal, 2004) yaitu sebagai
berikut:
a. Membangun struktur pengendalian yang baik
Dalam memperkuat pengendalian intern di perusahaan, COSO (The Committee of
Sponsoring Organizations of The Treadway Commission) pada bulan September 1992
memperkenalkan suatu rerangka pengendalian yang lebih luas daripada model
pengendalian akuntansi yang tradisional dan mencakup manajemen risiko, yaitu
pengendalian intern terdiri atas 5 (lima) komponen yang saling terkait yaitu:
1) Lingkungan pengendalian (control environment)
2) Penaksiran risiko (risk assessment) Standar Pengendalian (control activities)
3) Informasi dan komunikasi (information and communication)
4) Pemantauan (monitoring)
b. Mengefektifkan aktivitas pengendalian
(a) Review kinerja
(b) Pengolahan informasi
(c) Pengendalian fisik
(d) Pemisahan tugas
3) Meningkatkan kultur organisasi
Meningkatkan kultur organisasi dapat dilakukan dengan mengimplementasikan prinsip-
prinsip Good Corporate Governance (GCG). Saifuddien Hasan (2000) dalam Amrizal
(2004) mengemukakan GCG meliputi:
(a) Keadilan (Fairness)
(b) Transparansi
(c) Akuntabilitas (Accountability)
(d) Tanggung jawab (Responsibility)
(e) Moralitas
(f) Kehandalan (Reliability)
(g) Komitmen
4) Mengefektifkan fungsi internal audit



BAB III
PEMBAHASAN


Terjadinya penyalahsajian laporan keuangan yang merupakan indikasi dari
tindakan tidak sehat yang dilakukan oleh manajemen PT. Kimia Farma, yang ternyata
tidak dapat terdeteksi oleh akuntan publik yang mengaudit laporan keuangan pada
periode tersebut memunculkan pertanyaan. Apakah hal ini merupakan kesalahan dari
akuntan publik tersebut?
Badan Pengawas Pasar Modal (Bapepam) melakukan pemeriksaan atau
penyidikan baik atas manajemen lama direksi PT Kimia Farma Tbk. ataupun terhadap
akuntan publik Hans Tuanakotta dan Mustofa (HTM). Dan akuntan publik (Hans
Tuanakotta dan Mustofa) harus bertanggung jawab, karena akuntan publik ini juga yang
mengaudit Kimia Farma tahun buku 31 Desember 2001 dan dengan yang interim 30
Juni tahun 2002.
Pada saat audit 31 Desember 2001 akuntan belum menemukan kesalahan
pencatatan atas laporan keuangan. Tapi setelah audit interim 2002 akuntan publik Hans
Tuanakotta Mustofa (HTM) menemukan kesalahan pencatatan atas laporan keuangan.
Sehingga Bapepam sebagai lembaga pengawas pasar modal bekerjasama dengan
Direktorat Akuntansi dan Jasa Penilai Direktorat Jenderal Lembaga Keuangan yang
mempunyai kewenangan untuk mengawasi para akuntan publik untuk mencari bukti-bukti
atas keterlibatan akuntan publik dalam kesalahan pencatatan laporan keuangan pada
PT. Kimia Farma Tbk. untuk tahun buku 2001.
Namun dalam hal ini seharusnya akuntan publik bertindak secara independen
karena mereka adalah pihak yang bertugas memeriksa dan melaporkan adanya
ketidakwajaran dalam pencatatan laporan keuangan malah melaporkan hal yang keliru.
Padahal akuntan publik tersebut setelah diperiksa ternyata telah melaksanakan
prosedur audit yang sesuai dengan SPAP. Jika melihat dari SA Seksi 230 paragraf 12
yang menyebutkan:
(12) Oleh karena pendapat auditor atas laporan keuangan didasarkan pada konsep
pemerolehan keyakinan memadai, auditor bukanlah penjamin dan laporannya tidak


merupakan suatu jaminan. Oleh karena itu, penemuan kemudian salah saji material,
yang disebabkan oleh kekeliruan atau kecurangan, yang ada dalam laporan keuangan,
tidak berarti bahwa dengan sendirinya merupakan bukti (a) kegagalan untuk memperoleh
keyakinan memadai, (b) tidak memadainya perencanaan, pelaksanaan, atau
pertimbangan, (c) tidak menggunakan kemahiran profesional dengan cermat dan
seksama, atau (d) kegagalan untuk mematuhi standar auditing yang ditetapkan Ikatan
Akuntan Indonesia.
Seorang akuntan publik dalam melaksanakan auditnya pada umumnya
berdasarkan kepada sampling, makanya ketika ditemukan di kemudian hari terdapat
kesalahan yang tidak terdeteksi merupakan hal yang wajar, karena menurut SA Seksi
110 paragraf 1 menyebutkan:
(1) Tujuan audit atas laporan keuangan oleh auditor independen pada umumnya adalah
untuk menyatakan pendapat tentang kewajaran, dalam semua hal yang material, posisi
keuangan, hasil usaha, perubahan ekuitas, dan arus kas sesuai dengan prinsip
akuntansi yang berlaku umum di Indonesia.
Dengan melakukan sampling, otomatis terdapat suatu risiko untuk tidak
terdeteksinya suatu kesalahan dalam laporan keuangan yang diaudit. Kalau begitu
mengapa akuntan publik tersebut dikenakan sanksi untuk membayar sebesar 100 juta
karena atas risiko audit yang tidak berhasil mendeteksi adanya penggelembungan laba
yang dilakukan oleh PT. Kimia Farma tersebut ? Hal ini dapat dijelaskan sebagai
berikut:
Menurut UU Pasar Modal tahun 1995, begitu menemukan adanya kesalahan,
selambat-lambatnya dalam tiga hari kerja, akuntan publik harus sudah melaporkannya ke
Bapepam. Maka jika akuntan publik yang tidak dapat mendeteksi adanya kesalahan
penyajian tersebut ternyata baru menyadari adanya kesalahan yang tak terdeteksi
tersebut setelah mengeluarkan opininya tetapi tidak segera melaporkannya dalam periode
tiga hari, maka pantaslah akuntan publik tersebut dikenai pidana, karena ada ketentuan
yang mengatur bahwa setiap profesi akuntan itu wajib melaporkan temuan kalau ada
emiten yang melakukan pelanggaran peraturan pasar modal.
Berkaitan dengan sikap Skeptisme Profesional seorang auditor, sehingga jika akuntan
publik tersebut tidak menerapkan sikap skeptisme profesional dengan seharusnya hingga


berakibat memungkinkannya tidak terdeteksinya salah saji dalam laporan keuangan yang
material yang pada akhirnya merugikan para investor.
Menurut pemaparan kasus diatas, akuntan publik tersebut setelah melalui proses
penyelidikan ternyata tidak ditemukan adanya unsur kesengajaan untuk membantu
manajemen PT. Kimia Farma dalam penggelembungan keuntungan tersebut. Maka hal
ini berarti tidak adanya masalah yang berkaitan dengan independensi seorang auditor,
atau berarti auditor tersebut telah independen dalam melakukan jasa profesionalnya.

Keterkaitan Manajemen Risiko Etika disini adalah pada pelaksanaan audit oleh KAP
HTM selaku badan independen, kesepakatan dan kerjasama dengan klien (PT Kimia
Farma Tbk.) dan pemberian opini atas laporan keuangan klien.
Dalam kasus ini, jika dipandang dari sisi KAP HTM, maka urutan stakeholder mana
ditinjau dari segi kepentingan stakeholder adalah:
1. Klien atau PT Kimia Farma Tbk.
2. Pemegang saham
3. Masyarakat luas
Dalam kasus ini, KAP HTM menghadapi sanksi yang cukup berat dengan dihentikannya
jasa audit mereka. Hal ini terjadi bukan karena kesalahan KAP HTM semata yang
tidak mampu melakukan review menyeluruh atas semua elemen laporan keuangan,
tetapi lebih karena kesalahan manajemen Kimia Farma yang melakukan aksi manipulasi
dengan penggelembungan nilai persediaan.
Kasus yang menimpa KAP HTM ini adalah risiko inheren dari dijalankannya suatu
tugas audit. Sedari awal, KAP HTM seharusnya menyadari bahwa kemungkinan besar
akan ada risiko manipulasi seperti yang dilakukan PT. Kimia Farma, mengingat KAP
HTM adalah KAP yang telah berdiri cukup lama. Risiko ini berdampak pada reputasi
HTM dimata pemerintah ataupun publik, dan pada akhirnya HTM harus menghadapi
konsekuensi risiko seperti hilangnya kepercayaan publik dan pemerintah akan
kemampuan HTM, penurunan pendapatan jasa audit, hingga yang terburuk adalah
kemungkinan di tutupnya Kantor Akuntan Publik tersebut.
Diluar risiko bisnis, risiko etika yang dihadapi KAP HTM ini cenderung pada
kemungkinan dilakukannya kolaborasi dengan manajemen Kimia Farma dalam manipulasi


laporan keuangan. Walaupun secara fakta KAP HTM terbukti tidak terlibat dalam kasus
manipulasi tersebut, namun hal ini bisa saja terjadi.
Sesuai dengan teori yang telah di paparkan diatas, manajemen risiko yang dapat
diterapkan oleh KAP HTM antara lain adalah dengan mengidentifikasi dan menilai risiko
etika, serta menerapkan strategi dan taktik dalam membina hubungan strategis dengan
stakeholder.
1. Mengidentifikasi dan menilai risiko etika
Dalam kasus antara KAP HTM dan Kimia Farma ini, pengidentifikasian dan penilaian
risiko etika dapat diaplikasikan pada tindakan sebagai berikut:
A.) Melakukan penilaian dan identifikasi para stakeholder HTM
HTM selayaknya membuat daftar mengenai siapa dan apa saja para stakeholder yang
berkepentingan beserta harapan mereka. Dengan mengetahui siapa saja para
stakeholder dan apa kepentingannya serta harapan mereka, maka KAP HTM dapat
melakukan penilaian dalam pemenuhan harapan stakeholder melalui pembekalan kepada
para auditor senior dan junior sebelum melakukan audit pada Kimia Farma.
B) Mempertimbangkan kemampuan SDM HTM dengan ekspektasi para stakeholder, dan
menilai risiko ketidak sanggupan SDM HTM dalam menjalankan tugas audit.
C) Mengutamakan reputasi KAP HTM
Yaitu dengan berpegang pada nilai-nilai hypernorm, seperti kejujuran, kredibilitas,
reliabilitas, dan tanggung jawab. Faktor-faktor tersebut bisa menjadi kerangka kerja
dalam melakukan perbandingan.
Tiga tahapan ini akan menghasilkan data yang memungkinkan pimpinan KAP HTM
dapat mengawasi adanya peluang dan risiko etika, sehingga dapat ditemukan cara
untuk menghindari dan mengatasi risiko tersebut, serta agar dapat secara strategis
mengambil keuntungan dari kesempatan tersebut.

2. Menerapkan strategi dan taktik dalam membina hubungan strategis dengan
stakeholder
KAP HTM dapat melakukan pengelompokan stakeholder dan meratingnya dari segi
kepentingan, dan kemudian menyusun rencana untuk berkolaborasi dengan stakeholder
yang dapat memberikan dukungan dalam penciptaan strategi, yang dapat memenuhi
harapan para stakeholder HTM.



Dampak Terhadap Profesi Akuntan
Aktivitas manipulasi pencatatan laporan keungan yang dilakukan manajemen tidak
terlepas dari bantuan akuntan. Akuntan yang melakukan hal tersebut memberikan
informasi yang menyebabkan pemakai laporan keuangan tidak menerima informasi yang
fair. Akuntan sudah melanggar etika profesinya. Kejadian manipulasi pencatatan laporan
keuangan yang menyebabkan dampak yang luas terhadap aktivitas bisnis yang tidak fair
membuat pemerintah campur tangan untuk membuat aturan yang baru yang mengatur
profesi akuntan dengan maksud mencegah adanya praktik-praktik yang akan melanggar
etika oleh para akuntan publik.

Dalam hal ini, HTM telah melakukan pelanggaran etika dalam pelaksanaan pengauditan.
Hal ini dapat dibuktikan dengan hal hal berikut :
Adanya praktik discrimination of information/unfair discrimination, terlihat dari
tindakan dan perilaku yang tidak sehat dari manajemen yang berperan besar pada
kebangkrutan perusahaan, terjadinya pelanggaran terhadap norma etika corporate
governance dan corporate responsibility oleh manajemen perusahaan, dan perilaku
manajemen perusahaan merupakan pelanggaran besar-besaran terhadap kepercayaan
yang diberikan kepada perusahaan.
Adanya penyesatan informasi. Dalam kasus Enron misalnya, pihak manajemen
Enron maupun Arthur Andersen mengetahui tentang praktek akuntansi dan bisnis yang
tidak sehat. Tetapi demi mempertahankan kepercayaan dari investor dan publik kedua
belah pihak merekayasa laporan keuangan mulai dari tahun 1985 sampai dengan Enron
menjadi hancur berantakan. Bahkan CEO Enron saat menjelang kebangkrutannya masih
tetap melakukan Deception dengan menyebutkan bahwa Enron secara berkesinambungan
memberikan prospek yang sangat baik. Andersen tidak mau mengungkapkan apa
sebenarnya terjadi dengan Enron, bahkan awal tahun 2001 berdasarkan hasil evaluasi
Enron tetap dipertahankan.
Arthur Andersen, merupakan kantor akuntan publik tidak hanya melakukan
manipulasi laporan keuangan, Andersen juga telah melakukan tindakan yang tidak etis,
dalam kasus Enron adalah dengan menghancurkan dokumen-dokumen penting yang
berkaitan dengan kasus Enron. Arthur Andersen memusnahkan dokumen pada periode


sejak kasus Enron mulai mencuat ke permukaan, sampai dengan munculnya panggilan
pengadilan. Walaupun penghancuran dokumen tersebut sesuai kebijakan internal
Andersen, tetapi kasus ini dianggap melanggar hukum dan menyebabkan kredibilitas
Arthur Andersen hancur. Disini Andersen telah ingkar dari sikap profesionallisme sebagai
akuntan independen dengan melakukan tindakan menerbitkan laporan audit yang salah
dan meyesatkan.
Dari kasus ini banyak terjadi perilaku tidak etis. Perilaku tidak etis paling paling
mengemuka disini adalah adalah adanya manipulasi laporan keuangan untuk
menunjukkan seolah-olah kinerja perusahaan baik. Andersen telah menciderai
kepercayaan dari pihak stock holder untuk memberikan suatu informasi yang adil
mengenai pertanggungjawaban dari pihak agen dalam mengemban amanah.
Faktor tersebut adalah merupakan perilaku tidak etis yang sangat bertentangan dengan
nilai-nilai keadilan dalam Islam dan dalam bisnis membahayakan. Faktor penyebab
kecurangan tersebut diantaranya dilatarbelakangi oleh sikap tidak etis, tidak jujur,
karakter moral yang rendah, dominasi kepercayaan, dan lemahnya pengendalian. Hal
tersebut akan dapat dihindari melalui meningkatkan moral, akhlak, etika, perilaku, dan
lain sebagainya, karena tindakan yang bermoral akan memberikan implikasi terhadap
kepercayaan publik.















BAB IV
SIMPULAN DAN SARAN

Dalam kasus PT. Kimia Farma Tbk. diketahui terjadinya perilaku moral hazard
diantaranya manipulasi laporan keuangan dengan menggelembungkan laba bersih
daripada yang seharusnya (windowdressing). Manipulasi keuntungan disebabkan keinginan
perusahaan agar saham tetap diminati investor.
Untuk itulah kode etik profesi harus dibuat untuk menopang praktik yang sehat
bebas dari kecurangan. Kode etik mengatur anggotanya dan menjelaskan hal apa yang
baik dan tidak baik dan mana yang boleh dan tidak boleh dilakukan sebagai anggota
profesi baik dalam berhubungan dengan kolega, klien, publik dan karyawan sendiri.
Yang harus menjadi sebuah pelajaran bahwa sesungguhnya suatu praktik atau perilaku
yang dilandasi dengan ketidakbaikan maka akhirnya akan menuai ketidakbaikan pula
termasuk kerugian bagi banyak pihak. Langkah pertama dan utama dalam menerapkan
Good Corporate Governance (GCG) adalah adanya dewan komisaris yang berperan
aktif, independen, dan konstruktif. Untuk itu, dibutuhkan struktur, sistem, dan proses
yang memadai agar hal tersebut dapat terwujud. Setidaknya mencakup komposisi,
kemampuan dan pengalaman anggota dewan, serta bagaimana proses seleksi, peran,
dan penilaian kinerja mereka.
Agar sistematis dan kontinu, pelaksanaan GCG oleh perusahaan dapat dilakukan
melalui empat tindakan, yaitu: penetapan visi, misi, dan corporate values, penyusunan
corporate governance structure, pembangunan corporate culture, dan penetapan sasaran
public disclosures.
Fungsi audit internal merupakan elemen penting dari sistem pengendalian internal
perusahaan. Pedoman Good Corporate Governance menegaskan pentingnya keberadaan
fungsi audit internal ini. Fungsi ini harus dilakukan oleh pihak yang terpisah dari
operasional perusahaan sehari-hari dan dapat dilakukan oleh pihak internal perusahaan
maupun eksternal perusahaan seperti auditor eksternal. Saran Pada akhirnya semua hal
ini kembali kepada masing-masing individu auditornya dalam melaksanakan jasa
profesionalnya yang menuntut sikap independensi, obyektifitas, integritas yang tinggi,
serta kemampuan profesional dalam bidangnya.


Apapun profesi yang ditekuni, harus berdasarkan etika yang berlaku. Etika profesi
itu sendiri memiliki tujuan seperti standar etika menjelaskan dan menetapkan tanggung
jawab kepada lembaga dan masyarakat umum, membantu para profesional dalam
menetukan apa yang harus mereka perbuat dalam menghadapi dilema pekerjaan
mereka, standar etika bertujuan untuk menjaga reputasi atau nama profesional, untuk
menjaga kelakuan dan integritas para tenaga profesi.




























DAFTAR PUSTAKA

Arens, Alvin A., Randal J. Elder & Mark S. Beasley. Auditing & Assurance Services
An Integrated Approach. 10
th
edition. Prentice Education International. 2005.

Albrecht, Conan, Mark F Zimbelman & Chad O Albrecht. Fraud Examination. 3
rd

Edition. South-Western Cengage Learnig. 2009.

www.coso.org. Report of the National Commission on Fraudulent Financial Reporting.
The Committee of Sponsoring Organizations of the Treadway Commission.