Anda di halaman 1dari 61

LAPORAN AKHIR PRAKTIKUM FITOKIMIA

Physalis Angulata L.
Daun Ciplukan

Di susun oleh :
KELOMPOK 3 (TIGA) C










JURUSAN FARMASI
FAKULTAS MIPA
UNIVERSITAS JENDERAL ACHMAD YANI CIMAHI
CIMAHI, 2014

KATA PENGANTAR

Dengan memanjatkan puji syukur ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa, atas
segala limpahan rahmat dan karunia-Nya kepada tim penulis sehingga tugas
laporan akhir Fitokimia ini dapat terselesaikan.
Penyusunan laporan ini bertujuan untuk melengkapi salah satu tugas mata
kuliah Fitokimia sebagai salah satu bagian yang akan dimasukkan ke dalam daftar
nilai. Penulis menyadari bahwa didalam pembuatan laporan ini berkat bantuan
dan tuntunan Tuhan Yang Maha Esa dan tidak lepas dari bantuan berbagai pihak
untuk itu dalam kesempatan ini penulis menghaturkan rasa hormat dan terima
kasih yang sebesar-besarnya kepada semua pihak yang membantu dalam
pembuatan laporan ini.
Tim penulis menyadari bahwa dalam proses penulisan laporan ini masih
dari jauh dari kesempurnaan baik materi maupun cara penulisannya. Namun
demikian, tim penulis telah berupaya dengan segala kemampuan dan pengetahuan
yang dimiliki sehingga dapat selesai dengan baik dan oleh karenanya, tim penulis
dengan rendah hati dan dengan tangan terbuka menerima masukan, saran dan usul
guna penyempurnaan makalah ini.
Akhir kata tim penulis berharap semoga laporan ini dapat bermanfaat,
menambah dan memperluas wawasan serta meningkatkan pengetahuan dalam
bidang ilmiah dan tentunya bermanfaat bagi kita semua.



Cimahi, Mei 2014


Penyusun


BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar belakang
Tumbuhan Ciplukan (Physalis angulata), merupakan tumbuhan liar,
berupa semak/perdu yang rendah (biasanya tingginya sampai 1 meter) dan
mempunyai umur kurang lebih 1 tahun. Tumbuhan ini tumbuh dengan subur di
dataran rendah sampai ketinggian 1550 meter diatas permukaan laut, tersebar di
tanah tegalan, sawah-sawah kering, serta dapat ditemukan di hutan-hutan jati.
Bunganya berwarna kuning, buahnya berbentuk bulat dan berwarna hijau
kekuningan bila masih muda, tetapi bila sudah tua berwarna coklat dengan rasa
asam-asam manis. Buah Ciplukan yang muda dilindungi cangkap (kerudung
penutup buah).
Kami mengambil topik ini karena tanaman ciplukan adalah tanaman yang
familiar di masyarakat umum, namun besar khasiatnya belum banyak diketahui.
Banyak masyarakat yang menganggap tanaman liar ini sebagai gulma, dan
membuangnya.
Selain itu dari berbagai referensi pustaka kandungan glikosida flavonoid
(sudarsono dkk.2002), steroid (duyeh desiawan dan yana supema.2008), kami
mendapati bahwa cecendet memiliki kandungan glikosida flavonoid dan streoid
selain itu tanaman ini mudah dibudidayakan dan dapat tumbuh dimana saja,
sehingga sangat memungkinkan bila kedepannya menjadi sekmen pasar
diproduksi menjadi jamu. Karena dewasa ini banyak masyarakat yang
memandang obat herbal dan beralih dari obat kimia, karena dinilai lebih aman.


1.2 Prinsip Percobaan
a. Berdasarkan kemampuan methanol mengekstraksi senyawa
metabolit sekunder dari daun ciplukan.

1.3 Tujuan Percobaan
Adapun tujuan dari praktikum fitokimia ini adalah :
1. Untuk mengetahui kandungan senyawa metabolit sekunder dari daun
ciplukan.
2. Untuk mengetahui kadar kandungan senyawa metabolit sekunder dari daun
ciplukan.
3. Untuk mengidentifikasi senyawa steroid dari daun ciplukan dengan metode
ekstraksi cara dingin yaitu maserasi, menggunakan pelarut methanol.


















BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
Daun merupakan salah satu organ tumbuhan yang sangat penting dan pada
umumnya tiap tumbuhan mempunyai sejumlah besar daun. Alat ini hanya tumbuh
dari batang saja dan tidak pernah terdapat pada bagian lain pada tubuh tumbuhan.
Bagian batang tempat duduknya atau melekatnya daun dinamakan buku-buku
(nodus) batang dan tempat diatas daun yang merupakan sudut antara batang dan
daun dinamakan ketiak daun (axilla), umumnya berwarna hijau (mengandung
klorofil) dan terutama berfungsi sebagai penangkap energi dari cahaya matahari
untuk fotosintesis.
Sebenarnya daun juga memiliki pigmen lain, misalnya karoten(berwarna
jingga), xantofil (berwarna kuning), dan antosianin (berwarna merah, biru, atau
ungu, tergantung derajat keasaman). Daun tua kehilangan klorofil sehingga
warnanya berubah menjadi kuning atau merah (dapat dilihat dengan jelas pada
daun yang gugur). Daun merupakan organ terpenting bagi tumbuhan dalam
melangsungkan hidupnya karena tumbuhan adalah organisme autotrof obligat, ia
harus memasok kebutuhan energinya sendiri melalui konversi energi cahaya
menjadi energi kimia.
Ciplukan adalah tumbuhan asli Amerika yang kini telah tersebar secara
luas di daerah tropis di dunia. Di Jawa tumbuh secara liar di kebun, tegalan, tepi
jalan, kebun, semak, hutan ringan, tepi hutan. Ciplukan biasa tumbuh di daerah
dengan ketinggian antara 1-1550 m dpl. Ciplukan tumbuh subur di wilayah
pedesaan terutama di wilayah dataran rendah sampai dengan ketinggian 1550 m
dpl. Ciplukan belum begitu dikenal sebagai tanaman obat di Indonesia, akan tetapi
di Amerika Latin, Selandia Baru dan Australia, Ciplukan sudah amat dikenal
sebagai tanaman obat, bahkan di keringkan, diolah dan dijadikan sebagai
makanan kecil dan diekspor ke berbagai negara.
Akar tumbuhan ciplukan pada umumnya digunakan sebagai obat cacing
dan penurun demam. Daunnya digunakan untuk penyembuhan patah tulang,
busung air, bisul, borok, penguat jantung, keseleo, nyeri perut, dan kencing nanah.
Buah ciplukan sendiri sering dimakan; untuk mengobati epilepsi, tidak dapat
kencing, dan penyakit kuning. Berikut merupakan taksonomi dari tanaman
ciplukan:

Kingdom : Plantae
Divisi : Spermatophyta
Subdivisi : Angiospermae
Kelas : Dicotyledonnae
Ordo : Solanales
Famili : Solanaceae
Marga : Physalis
Spesies : Physalis angulata L.
Nama local : Morel berry (Inggris), Ciplukan (Indonesia), Ceplukan (Jawa),
Cecendet (Sunda), Yor-yoran (Madura), Lapinonat (Seram),
Angket, Kepok-kepokan, Keceplokan (Bali), Dedes (Sasak),
Leletokan (Minahasa).

1. Ekstraksi
Ekstraksi adalah proses pemisahan suatu zat atau beberapa dari
suatu padatan atau cairan dengan bantuan pelarut. Pemisahan terjadi atas
dasar kemampuan larutan yang berbeda dari komponen-komponen
tersebut. Ekstraksi biasa digunakan untuk memisahkan dua zat
berdasarkan perbedaan kelarutan ekstrak seperti sediaan kering, kental,
atau cair dibuat dengan menyaringsimplisia nabati dan hewani menurut
cara yang cocok, di luar pengaruh matahari yang langsung.
Ekstraksi adalah pemisahan satu atau beberapa bahan dari suatu
padatan atau cairan dengan bantuan pelarut. Ekstraksi juga merupakan
proses pemisahan satu atau lebih komponen dari suatu campuran homogen
menggunakan pelarut cair (solven) sebagai separating agen. Pemisahan
terjadi atas dasar kemampuan larut yang berbeda dari komponen-komponen
dalam campuran. Pemisahan zat-zat terlarut antara dua cairan yang tidak
saling mencampur antara lain menggunakan alat corong pisah. Istilah-istilah
berikut ini umumnya digunakan dalam teknik ekstraksi:
1. Bahan ekstraksi : Bahan atau campuran bahan yang akan
diekstraksi
2. Pelarut (media ekstraksi) : Cairan yang digunakan untuk
melangsungkan
ekstraksi
3. Ekstrak : Bahan yang dipisahkan dari bahan
ekstraksi
4. Larutan ekstrak : Pelarut setelah proses pengambilan ekstrak
5. Rafinat (residu ekstraksi) : Bahan ekstraksi setelah diambil ekstraknya
6. Ekstraktor : Alat ekstraksi

Pada ekstraksi tidak terjadi pemisahan segera dari bahan-bahan yang
akan diperoleh (ekstrak), melainkan mula-mula hanya terjadi pengumpulan
ekstrak dalam pelarut. Ekstraksi akan lebih menguntungkan jika
dilaksanakan dalam jumlah tahap yang banyak. Setiap tahap menggunakan
pelarut yang sedikit. Kerugiannya adalah konsentrasi larutan ekstrak makin
lama makin rendah, dan jumlah total pelarut yang dibutuhkan menjadi
besar, sehingga untuk mendapatkan pelarut kembali biayanya menjadi
mahal. Semakin kecil partikel dari bahan ekstraksi, semakin pendek jalan
yang harus ditempuh pada perpindahan massa dengan cara difusi, sehingga
semakin rendah tahanannya. Pada ekstraksi bahan padat, tahanan semakin
besar jika kapiler-kapiler bahan padat semakin halus dan jika ekstrak
semakin terbungkus di dalam sel (misalnya pada bahan-bahan alami).



2. Tujuan Ekstraksi
1. Senyawa kimia telah diketahui identitasnya untuk diekstraksi dari
organisme
2. Bahan diperiksa untuk menemukan kelompok senyawa kimia tertentu,
misalnya alkaloid, flavanoid atau saponin, meskipun struktur kimia
sebetulnya dari senyawa ini bahkan keberadaannya belum diketahui
3. Organisme (tanaman atau hewan) digunakan dalam pengobatan
tradisional,
4. Sifat senyawa yang akan diisolasi belum ditentukan sebelumnya dengan
cara apapun.

3. Metoda ekstraksi
1. Ekstraksi dengan pelarut :cara dingin dan cara panas
cara dingin : maserasi, perkolasi
cara panas : Soxhlet, refluks,digesti, infus,dekok
2. Destilasi uap
3. Cara lainnya : Ekstraksi Berkesinambungan, Superkritikal
karbondioksida , Ekstraksi ultrasonik , Ekstraksi energi listrik

4. Maserasi
Maserasi adalah proses pengekstrakan simplisia dengan
menggunakan pelarut dengan beberapa kali pengocokan atau pengadukan
pada suhu kamar Metode maserasi digunakan untuk menyari simplisiayang
mengandung komponen kimia yang mudah larutdalam cairan penyari, tidak
mengandung benzoin, tiraks dan lilin.
Penyarian zat aktif yang dilakukan dengan cara merendam serbuk
simplisia dalam cairan penyari yang sesuai pada temperatur kamar ,
terlindung dari cahaya. Cairan penyari akan masuk ke dalam sel melewati
dinding sel. Isi sel akan larut karena adanya perbedaan konsentrasi antara
larutan di dalam sel dengan di luar sel. Larutan yang konsentrasinya tinggi
akan terdesak keluar dan diganti oleh cairan penyari dengan konsentrasi
rendah ( proses difusi ).

5. Ekstraksi cair-cair
Pada ekstraksi cair-cair, zat yang diekstraksi terdapat didalam
campuran yang berbentuk cair. Ekstraksi cair-cair sering juga disebut
ekstraksi pelarut, banyak dilakukan untuk memisahkan zat seperti iod, atau
logam-logam tertentu dalam larutan air.
Ekstraksi cair-cair digunakan sebagai cara untuk memperlakukan
sampel atau clean-up sampel untuk memisahkan analit-analit dari
komponen matrix yang mungkin menggangu pada saat kuantifikasi atau
deteksi analit. Disamping itu, ekstraksi pelarut juga digunakan untuk
memekatkan analit yang ada didalam sampel dalam jumlah kecil sehingga
tidak memungkinkan atau menyulitkan untuk deteksi dan kuantifikasinya.
Salah satu fasenya seringkali berupa air dan faes yanglain pelarut organik
seperti kloroform atau petroleum eter. Senyawa-senyawa yang bersifat
polar akan ditemukan didalam fase air,sedangkan senyawa-senyawa yang
bersifat hidrofobik akan masuk pada pelarut anorganik. Analit yang
tereksasi kedalam pelarut organik akan mudah diperoleh kembali dengan
cara penguapan pelarut, sedangkan analit yang masuk kedalam fase air
seringkali diinjeksikan secara langsung kedalam kolom.
Hubungan zat terlarut yang terdistribusi diantara dua pelarut yang
tidak saling bercampur dinyatakan pertama kali oleh Walter nernst
(1981) yang dikenal dengan hukum distribusi atau partisi jika solut
dilarutkan sekaligus kedalam dua pelarut yang tidak saling bercampur,
maka solut akan terdistribusi diantara kedua pelarut. Pada saat setimbang
perbandingan konsentrasi solut berharga tetap pada suhu tetap.
Perbandingan konsentrasi pada keadaan setimbang di dalam dua
fase disebut dengan koefisien partisi (KD). Dimana KD adalah sebuah
tetapan yand dikenal dengan koefisien distribusi atau partisi. Harga KD
tidak bergantung pada konsentrasi total solut pada kedua fase, tetap
bergantung pada suhu, jenis kedua pelarut dan solut. Hukum Nernst dalam
bentuknya yang sederhana hanya berlaku untuk larutan encer dan keadaan
solut sama atau tidak mengalami perubahan kedua dalam pelarut. Hukum
ini tidak berlaku jika solut yang terdistribusi mengalami asosiasi atau
disosiasi pada fase pelarut.
Ekstraksi cair-cair terdiri dari dua fase, yaitu:
1. Fase rafinat = fase residu, berisi diluen dan sisa solut.
2. Fase ekstrak = fase yang berisi solut dan solven.

Ekstraksi cair-cair selalu terdiri dari sedikitnya dua tahap, yaitu:
1. Pencampuran secara intensif bahan ekstraksi dengan pelarut
2. Pemisahan kedua fase cair itu sesempurna mungkin.

Pada saat pencampuran terjadi perpindahan massa, yaitu ekstrak
meninggalkan pelarut yang pertarna (media pembawa) dan masuk ke dalam
pelarut kedua (media ekstraksi). Sebagai syarat ekstraksi ini, bahan
ekstraksi dan pelarut tidak saling melarut (atau hanya dalam daerah yang
sempit). Agar terjadi perpindahan masa yang baik yang berarti performansi
ekstraksi yang besar haruslah diusahakan agar terjadi bidang kontak yang
seluas mungkin di antara kedua cairan tersebut. Untuk itu salah satu cairan
distribusikan menjadi tetes-tetes kecil (misalnya dengan bantuan perkakas
pengaduk). Tentu saja pendistribusian ini tidak boleh terlalu jauh, karena
akan menyebabkan terbentuknya emulsi yang tidak dapat lagi atau sukar
sekali dipisah. Turbulensi pada saat mencampur tidak perlu terlalu besar.
Yang penting perbedaan konsentrasi sebagai gaya penggerak pada bidang
batas tetap ada. Hal ini berarti bahwa bahan yang telah terlarutkan sedapat
mungkin segera disingkirkan dari bidang batas.
Pada saat pemisahan, cairan yang telah terdistribusi menjadi tetes-
tetes hanis menyatu kembali menjadi sebuah fasa homogen dan berdasarkan
perbedaan kerapatan yang cukup besar dapat dipisahkan dari cairan yang
lain. Kecepatan pembentukan fasa homogen yang diikuti dengan
menentukan output sebuah ekstraktor cair-cair. Kuantitas pemisahan
persatuan waktu dalam hal ini semakin besar jika permukaan lapisan antar
fasa di dalam alat semakin luas.

Pertimbangan pemakaian proses ekstraksi sebagai proses pemisahan antara
lain:
1. Komponen larutan sensitif terhadap pemanasan jika digunakan distilasi
meskipun pada kondisi vakum
2. Titik didih komponen-komponen dalam campuran berdekatan
3. Kemudahan menguap (volatility) komponen-komponen hampir sama.

Kriteria Pelarut ECC
Untuk mencapai proses ekstraksi cair-cair yang baik, pelarut yang
digunakan harus memenuhi kriteria sebagai berikut:
1. Kemampuan tinggi melarutkan komponen zat terlarut di dalam
campuran.
2. Kemampuan tinggi untuk diambil kembali.
3. Perbedaan berat jenis antara ekstrak dan rafinat lebih besar.
4. Pelarut dan larutan yang akan diekstraksi harus tidak mudah campur.
5. Tidak mudah bereaksi dengan zat yang akan diekstraksi.
6. Tidak merusak alat secara korosi.
7. Tidak mudah terbakar, tidak beracun dan harganya relatif murah.

Pertimbangan-Pertimbangan Pemilihan Pelarut
Pertimbangan-pertimbangan dalam pemilihan pelarut yang digunakan
adalah:
1. Selektifitas (factor pemisahan = )
= fraksi massa solut dalam ekstrak/fraksimassa diluant dalam ekstrak
fraksi massa solut dalam rafinat/fraksimassa diluent dalam rafinat. Agar
proses ekstraksi dapat berlangsung, harga harus lebih besar dari satu.
Jika nilai =1 artinya kedua komponen tidak dapat dipisahkan.
2. Koefisien distribusi
K = konsentrasi solut dalam fasa ekstrak
Y = konsentrasi solut dalam fasa rafinat
X sebaiknya dipilih harga koefisien distribusi yang besar, sehingga
jumlah solvent yang dibutuhkan lebih sedikit.
3. Recoverability (kemampuan untuk dimurnikan)
Pemisahan solute dari solvent biasanya dilakukan dengan cara distilasi,
sehingga diharapkan harga relative volatility dari campuran tersebut
cukup tinggi.
4. Densitas
Perbedaan densitas fasa solvent dan fasa diluent harus cukup besar agar
mudah terpisah. Perbedaan densitas ini akan berubah selama proses
ekstraksi dan mempengaruhi laju perpindahan massa.
5. Tegangan antar muka (interfasia tension)
Tegangan antar muka besar menyebabkan penggabungan (coalescence)
lebih mudahnamun mempersulit proses pendispersian. Kemudahan
penggabungan lebih dipentingkansehingga dipilih pelarut yang
memiliki tegangan antar muka yang besar.
6. Chemical reactivity
Pelarut merupakan senyawa yang stabil dan inert terhadap komponen-
komponen dalamsystem dan material (bahan konstruksi).
7. Viskositas
Tekanan uap dan titik beku dianjurkan rendah untuk memudahkan
penanganan dan penyimpanan.
8. Pelarut tidak beracun dan tidak mudah terbakar.

Ada tiga faktor penting yang berpengaruh dalam peningkatan karakteristik
hasil dalam ekstraksi cair-cair yaitu:
1. Perbandingan pelarut-umpan (S/F).
Kenaikan jumlah pelarut (S/F) yang digunakan akan meningkatan hasil
ekstraksi tetapi harus ditentukan titik (S/F) yang minimum agar proses
ekstraksi menjadi lebih ekonomis.
2. Waktu ekstraksi.
Ekstraksi yang efisien adalah maksimumnya pengambilan solut dengan
waktu ekstraksi yang lebih cepat.
3. Kecepatan pengadukan.
Untuk ekstraksi yang efisien maka pengadukan yang baik adalah yang
memberikan hasil ekstraksi maksimum dengan kecepatan pengadukan
minimum, sehingga konsumsi energy menjadi minimum.

Distribusi Nerst
Ekstraksi cair-cair ditentukan oleh distribusi Nerst atau hukum
partisi yang menyatakan bahwa pada konsentrasi dan tekanan yang
konstan, analit akan terdistribusi dalam proporsi yang selalu sama diantara
dua pelarut yang saling tidak campur. Perbandingan konsentrasi pada
keadaan setimbang di dalam 2 fase disebut dengan koefisien distribusi atau
koefisien partisi (KD) dan diekspresikan dengan:

[S]org
KD = -----------
[S]aq

[S]org dan [S]aq masing-masing merupakan konsentrasi analit
dalam fase organik dan dalam fase air; KD merupakan koefisien partisi.
Dalam prakteknya, analit seringkali berada dalam bentuk kimia yang
berbeda karena adanya disosiasi (ionisasi), protonasi, dan juga kompleksasi
atau polimerisasi karenanya ekspresi yang lebih berguna adalah rasio
distribusi atau rasio partisi (D) yang diekspresikan dengan:

(Cs)org
D = -------------
(Cs)aq

(Cs)org dan (Cs)aq masing-masing merupakan konsentrasi total analit
(dalam segala bentuk) dalam fase organik dan dalam fase air; D merupakan
rasio partisi.
Jika tidak ada interaksi antar analit yang terjadi dalam kedua fase
maka nilai KD dan D adalah identik. Analit yang mempunyai rasio distrbusi
besar (104 atau lebih) akan mudah terekstraksi ke dalam pelarut organik
meskipun proses kesetimbangan (yang berari 100% solut terekstraksi atau
tertahan) tidak pernah terjadi.
Kebanyakan ekstraksi dilakukan dengan menggunakan corong
pisah dalam waktu beberapa menit. Akan tetapi untuk efektifitas ekstraksi
analit dengan rasio distribusi yang kecil (< 1) hanya dapat dicapai dengan
mengenakan pelarut baru pada larutan sampel secara terus-menerus. Hal ini
dapat dilakuan dengan refluks menggunakan alat yang didisain secara
khusus yaitu suatu alat ekstraktor secara terus-menerus.

Pelarut organik yang dipilih untuk ekstraksi pelarut adalah:
mempunyai kelarutan yang rendah dalam air (<10%), dapat menguap
sehingga memudahkan menghilangkan pelarut organik setelah dilakukan
ekstraksi, dan mempunyai kemurnian yang tinggi untuk meminimalkan
adanya kontaminasi sampel.

Efisiensi ekstraksi dan selektifitas
Efesiensi proses ekstraksi tergantung pada nilai distribusinya (D-
nya) dan juga tergantung pada volume relatif kedua fase. Dengan
menggunakan ekstraksi, banyaknya analit yang terekstraksi dapat dihitung
dengan rumus berikut:




Vorg dan Vaq masing-masing merupakan banyaknya volume fase organik
dan fase air yang digunakan; D merupakan rasio distribusi. Analit dengan
nilai D yang kecil maka ekstraksi berulang akan meningkatkan efisiensi
ekstraksi. Rumus yang digunakan untuk ektraksi bertingkat adalah :




Caq : banyaknya analit dalam fase air mula-mula
(Caq)n : banyaknya analit dalam fase air setelah n kali ekstraksi
Vorg : banyaknya volume fase organik
Vaq : banyaknya volume fase air
N : banyaknya (frekuensi) ekstraksi

Dari persamaan di atas nampak jelas bahwa efisiensi ekstraksi meningkat
jika (i) digunakan jumlah larutan pengekstraksi yang lebih besar, atau (ii)
dengan melakukan beberapa kali ekstraksi dengan volume yang sama.

Masalah-masalah dalam ekstraksi pelarut
Beberapa masalah sering dijumpai ketika melakukan ekstraksi pelarut yaitu:
1. Terbentuknya emulsi
2. Analit terikat kuat pada partikulat
3. Analit terserap oleh partikulat yang mungkin ada
4. Analit terikat pada senyawa yang mempunyai berat molekul tinggi
5. Adanya kelarutan analit secara bersama-sama dalam kedua fase.

Terjadinya emulsi merupakan hal yang paling sering dijumpai. Oleh
karena itu jika emulsi antara kedua fase ini tidak dirusak maka recovery
yang diperoleh kurang bagus. Emulsi dapat dipecah dengan beberapa cara :
1. Penambahan garam ke dalam fase air
2. Pemanasan atau pendinginan corong pisah yang digunakan
3. Penyaringan melalui glass-wool
4. Penyaringan dengan menggunakan kertas saring
5. Penambahan sedikit pelarut organik yang berbeda
6. Sentrifugasi.

Jika senyawa-senyawa yang akan dilakukan ekstraksi pelarut berasal
dari plasma maka kemungkinan senyawa tersebut terikat pada protein,
sehingga recovery yang dihasilkan rendah. Teknik yang dapat digunakan
untuk memisahkan senyawa yang terikat pada protein meliputi :
1. Penambahan detergen
2. Penambahan pelarut organik yang lain
3. Penambahan asam kuat
4. Pengenceran dengan air
5. Penggantian dengan senyawa yang mampu mengikat lebih kuat

6. Kromatgrafi Lapis Tipis (KLT)
Kromatografi lapis tipis (KLT) adalah suatu tehnik yang sederhana
dan banyak digunakan. Metode ini menggunakan lempeng kaca atau
lembaran plastik yang ditutupi penyerap untuk lapisan tipis dan kering
bentuk silika gel, alomina, selulosa dan polianida. Untuk menotolkan
larutan cuplikan pada lempeng kaca, pada dasarnya dgunakan mikro pipet/
pipa kapiler. Setelah itu, bagian bawah dari lempeng dicelup dalam larutan
pengulsi di dalam wadah yang tertutup (Chamber) (Rudi, 2010)
Kromatografi lapis tipis digunakan untuk memisahkan komponen-
komponen atas dasar perbedaan adsorpsi atau partisi oleh pase diam
dibawah gerakan pelarut pengembang. Pada dasarnya KLT sangat mirip
dengan kromatografi kertas , terutama pada cara pelaksanaannya. Perbedaan
nyatanya terlihat pada fase diamnya atau media pemisahnya, yakni
digunakan lapisan tipis adsorben sebagai pengganti kertas. Bahan adsorben
sebagai fasa diam dapat digunakan silika gel, alumina dan serbuk selulosa.
Partikel selika gel mengandung gugus hidroksil pada permukaannya yang
akan membentuk ikatan hidrogen dengan molekul polar air. Fase diam
untuk kromatografi lapis tipis seringkali juga mengandung substansi yang
mana dapat berpendarflour dalam sinar ultra violet. Fase gerak merupakan
pelarut atau campuran pelarut yang sesuai.
Pada identifikasi noda atau penampakan noda, jika noda sudah
bewarna dapat langsung diperiksa dan ditentukan harga Rf. Rf merupakan
nilai dari Jarak relative pada pelarut. Harga Rf dihitung sebagai jarak yang
ditempuh oleh komponen dibagi dengan jarak tempuh oleh eluen ( fase
gerak ) untuk setiap senyawa, Rf juga menyatakan drajat retensi suatu
komponen dalam fase diam. Karenan itu Rf juga disebut factor referensi.
Pemisahan campuran dengan cara kromatografi didasarkan pada perbedaan
kecepatan merambat antara partikel-partikel zat yang bercampur pada
medium tertentu. Dalam kehidupan sehari-hari pemisahan secara
kromatografi dapat kita temui pada rembesan air pada dinding yang
menghasilkan garis-garis dengan jarak ternentu.
KLT adalah salah satu metode pemisahan yang paling banyak
digunakan. Prinsip kerjanya yaitu berdasarkan pada perbedaan koefisien
partisi senyawa dalam fasa diam dan fasa gerak, atau berdasarkan daya
adsorpsi senyawa pada adsorben yang bertindak sebagai fasa diam. Fasa
diam adalah fasa yang terikat pada pendukung, sedangkan dasa gerak adalah
fasa yang bergerak melalui fasa diam. Senyawa yang akan dipisahkan akan
ikut terbawa bersama fasa gerak sesuai sifat kepolarannya.
Kelebihan khas KLT dibandingkan KKt adalah keserbagunaan,
kecepatan dan kepekaannya. Keserbagunaan KLT disebabkan oleh
kenyataan bahwa disamping selulosa, sejumlah penjerap yang berbeda-beda
dapat disapukan pada pelat kaca atau penyangga lain dan digunakan untuk
kromatografi. Walaupun silica gel paling banyak digunakan, lapisan dapat
pula dibuat dari alumunium oksida, celite, kalium hidroksida, damar
penukar ion, magnesium fosfat, poliamida, sephadex, polivinil pirolidon,
selulosa dan campuran dua bahan di atas atau lebih.
Satu kekurangan KLT yang asli adalah kerja penyaputan pelat kaca
dengan penjerap. Plat dapat mengandung indicator fluoresensi atau tidak.
Indicator fluoresensi adalah senyawa yang memancarkan sinar tampak jika
disinari dengan sinar dengan panjang gelombang sinar UV. Penambahan
indicator ini memungkinkan pendeteksian samua senyawa yang
memadamkan fluoresensi bila plat diamati di bawah sinar UV dengan
panjang gelombang 254 nm.
Pelarut yang digunakan pada KLT umumnya terdapat ruang gerak
yang lebih leluasa dalam perbandingannya sebagai pengembang.
Pengembangan KLT dilakukan dengan cara pengembangan naik di dalam
suatu bejana yang dindingnya dilapisi kertas saring sehingga atmosfer dalam
bejana jenuh dengan fasa pelarut. Sedangkan untuk deteksi senyawa pada
plat KLT biasanya dilakukan dengan penyemprotan menggunakan pereaksi
penampak bercak.
Pada KLT, umumnya sering terjadi gangguan yang dapat terlihat
pada bercak yang tampak pada lempeng, diantaranya :
a. Pembentukan ekor
Jika senyawa yang dpisahkan berekor panjang, bukan berupa
bercak yang agak bundar, gejala ini yang disebut pembentukan ekor.
Penyebab utama pembentukan ekor adalah cuplikan terlalu banyak atau
pembebananyang berlebih.

b. Pencampuran pelarut
Jika dua pelarut yang sifatnya sangat berbeda dicampur untuk
memperoleh system pelarut, system ni dapat memisah pada lapisan,
membentuk dua garis depan pelarut. Kedua daerah kromatogram tersebut
akan mempunya sifat yang berbeda. Oleh karena itu, hanya pelarut yang
sifatnya sama yang diperbolehkan dicampur.

c. Garis depan tidak mendatar
Garis depan pelarut kadang-kadang membentuk busur deengan
bercak rendah di tengah. Ini umumnya disebabkan oleh ketidakjenuhan
bejana atau suhu yang tidak sama pada lapisan. Bejana harus dijenuhkan
dengan pelarut dan harus diusahakan agar tidak ditempatkan di tempat
yang beraliran udara.
Penentuan bilangan Rf pada KLT penting dilakukan untuk
memaparkan dan membedakan pigmen yang satu dengan pigmen yang
lainnya. Bilangan Rf adalah mengukur jarak antara titik awal dan pusat
bercak yang dihasilkan senyawa.
Jarak ini kemudian dibagi dengan jarak antara titik awal dan garis
depan, yaitu jarak yang ditempuh cairan pengembang. Bilangan Rf dapat
ditulskan dalam persamaan sebagai berikut :

Rf = a / b

Dimana : a = jarak antara titik awal dengan bercak dari senyawa yang duji
b = jarak antara titik awal dengan garis batas pelarut

Nilai Rf akan memberikan hasil yang berbeda-beda pada setiap
pengujian, tergantung dari kondisi kejenuhan dari bejana kromatografi,
aktivitas penjerap pada plat dan komposisi dari fasa gerak.

7. Kromatografi Lapis Tipis Preparatif
KLT preparative dilakukan dengan menggunakan lapsan tebal sampa 1
mm sebagai pengganti lapisan penjerap yang tipis (0,10 0,25 mm). Kandungan
yang sudah dipisahkan dapat diperoleh dengan cara mengerok penjerap pada plat
yang sudah dikembangkan, lalu serbuk dielus dengan pelarut, lalu disentrifugasi
untuk menghilangkan penjerap.
KLT preparative merupakan metode pilihan untuk pemisahan semua
kandungan yang larut dalam lipid, yaitu lipid, steroid, karotenoid, kunon
sederhana, dan klorofil.
8. Kromatografi Kolom
Kromatografi kolom klasik merupakan bentuk cair dan tertua yang banyak
digunakan secara tradisional. Fase diam, baik bahan yang jerap (KCP) atau film
zat cair pada penyangga (KCC), ditempatkan di dalam tabung kaca berbentuk
silinder. Pada bagian bawah tertutup dengan katup dan keran serta fase gerak
dibiarkan mengalir ke bawah melaluinya karena gaya berat. Pita senyawa linarut
bergerak melalui kolom dengan laju yang berbeda, memisah dan dikumpulkan
berupa fraksi ketika keluar dari alas kolom. Kolom kromatografi, biasanya dibuat
dengan menuangkan lumpuran atau suspensi fase diam dalam pelarut yang sesuai
diletakkan pada bagian atas kolom dan dibiarkan mengalir ke dalam lapisan atas
penjerap atau penyangga. Kemudian, fase gerak dimasukkan dan dibiarkan
mengalir mengembangkan kromatogram. Pada kondisi yang dipilih dengan naik,
linarut yang merupakan komponen campuran, turun berupa pita dengan laju yang
berlainan dan dengan demikian dipisahkan. Linarut biasanya dipisahkan dengan
cara membiarkannya mengalir keluar dari kolom dan mengumpulkannya sebagai
fraksi, seringkali dengan memakai pengumpul fraksi mekanis. Kromatogram lapis
tipis dan kertas lebih sering dikembangkan dengan pelarut tunggal atau campuran
pelarut yang tetap, sedangkan kromatogram kolom biasanya dikembangkan
dengan campuran pelarut yang terus menerus berubah dengan cara landaian.
Pemilihan fase gerak harus selektif terhadap komponen dan tidak kental
agar dapat memperkecil penurunan tekanan dan meningkatkan laju alih massa.
Pada kromatografi preparatif sering dipilih fase gerak yang atsiri untuk
mempermudah penghilangannya dari cuplikan. Sedangkan untuk pemilihan fase
diam, sebelum ada kemasan kolom dengan fase diam terikat, fase diam disaputkan
pada penyangga. Walaupun kemasan kolom yang disaputi ini jarang dipakai,
harus diingat bahwa fase diam tidak boleh larut dalam fase gerak.
9. Spektrofotometri UV-Visible
Spektrofotometri merupakan salah satu metode dalam kimia analisis
yang digunakan untuk menentukan komposisi suatu sampel baik secara kuantitatif
dan kualitatif yang didasarkan pada interaksi antara materi dengan cahaya.
Peralatan yang digunakan dalam spektrofotometri disebut spektrofotometer.
Cahaya yang dimaksud dapat berupa cahaya visibel, UV dan inframerah,
sedangkan materi dapat berupa atom dan molekul namun yang lebih berperan
adalah elektron valensi.
Sinar atau cahaya yang berasal dari sumber tertentu disebut juga sebagai
radiasi elektromagnetik. Radiasi elektromagnetik yang dijumpai dalam kehidupan
sehari-hari adalah cahaya matahari.
Dalam interaksi materi dengan cahaya atau radiasi elektromagnetik,
radiasi elektromagnetik kemungkinanan dihamburkan, diabsorbsi atau
dihamburkan sehingga dikenal adanya spektroskopi hamburan, spektroskopi
absorbsi ataupun spektroskopi emisi.
Pengertian spektroskopi dan spektrofotometri pada dasarnya sama yaitu
di dasarkan pada interaksi antara materi dengan radiasi elektromagnetik. Namun
pengertian spektrofotometri lebih spesifik atau pengertiannya lebih sempit karena
ditunjukan pada interaksi antara materi dengan cahaya (baik yang dilihat maupun
tidak terlihat). Sedangkan pengertian spektroskopi lebih luas misalnya cahaya
maupun medan magnet termasuk gelombang elektromagnetik.
Radiasi elektromagnetik memiliki sifat ganda yang disebut sebagai sifat
dualistik cahaya yaitu:
1) Sebagai gelombang
2) Sebagai partikel-partikel energi yang disebut foton.
Karena sifat tersebut maka beberapa parameter perlu diketahui misalnya panjang
gelombang, frekuensi dan energi tiap foton. Panjang gelombang (l) didefinisikan
sebagai jarak antara dua puncak.

Hubungan dari ketiga parameter di atas dirumuskan oleh Planck yang
dikenal dengan persamaanPlanck. Hubungan antara panjang gelombang frekuensi
dirumuskan sebagai
c = . v atau = c/v atau v = c/

PersamaanPlanck: hubungan antara energi tiap foton dengan frekuensi
E = h . v
E = h . c/


dimana
E = energi tiap foton
h = tetapan Planck (6,626 x 10
-34
J.s),
v = frekuensi sinar
c = kecepatan cahaya (3 x 10
8
m.s
-1
).
Dari rumus di atas dapat diketahui bahwa energi dan frekuensi suatu foton
akan berbanding terbalik dengan panjang gelombang tetapi energi yang
dimiliki suatu foton akan berbanding lurus dengan frekuensinya.
Sesuai dengan namanya spektrofotometer UV-Vis merupakan gabungan
antara spektrofotometer UV dan Visible. Pada spektrofotometer UV-Vis
menggunakan dua buah sumber cahaya berbeda yakni sumber cahaya UV dan
sumber cahaya visible.
Spektrofotometer UV-Vis merupakan spektrofotometer berkas ganda
sedangkan pada spektrofotometer VIS ataupun UV termasuk spektrofotometer
berkas tunggal. Pada spektrofotometer berkas ganda blanko dan sampel
dimasukan atau disinari secara bersamaan, sedangkan spektrofotometer berkas
tunggal blanko dimasukan atau disinari secara terpisah.
Zat yang dapat dianalisis dengan spektrofotometri UV-Vis yaitu zat
dalam bentuk larutan dan zat yang tampak berwarna maupun berwarna.
Jenis spektroskopi UV-Vis terutama berguna untuk analisis kuantitatif langsung
misalnya kromofor, nitrat, nitrit dan kromat sedangkan secara tak langsung
misalnya ion logam transisi.
Langkah-langkah utama dalam analisa dengan sinar UV/Vis
Pembentukan molekul yang dapat menyerap sinar UV/Vis
Harus dilakukan jika senyawa yang dianalisa tidak melakukan penyerapan
didaerah UV/Vis
Senyawa harus diubah menjadi bentuk lain yang dapat melakukan
penyerapan pada daerah yang dimaksud. Misalnya mengubah menjadi
berwarna atau tidak berwarna.
Pemilihan panjang gelombang agar diperoleh panjang gelombang
maksimum.
Pembuatan kurva kalibrasi. Untuk keperluan ini dibuat sejumlah larutan
standar dengan berbagai konsentrasi.
Absorbans larutan standart ini diukur kemudian dibuat grafik A versus C.
Hukum Lambert Beer terpenuhi, jika grafik berbentuk garis lurus yang
melalui titik nol.
Pengukuran sampel dilakukan pada kondisi yang sama seperti pada larutan
standart.
10. Spektrofotometri Infra Red (IR)
Spektrofotometri infra merah merupakan suatu metode mengamati interaksi
molekul dengan radiasi elektromagnetik yang berada pada daerah panjang
gelombang 0,75 1000 m. Radiasi elektromagnetik dikemukakan pertama kali
oleh James Clark Maxwell, yang menyatakan bahwa cahaya secara fisis
merupakan gelombang elektromagnetik, artinya mempunyai vektor listrik dan
vektor magnetik yang keduanya saling tegak lurus dengan arah rambatan. Berikut
adalah gambaran berkas radiasi elektromagnetik :

Saat ini telah dikenal berbagai macam gelombang elektromagnetik dengan
rentang panjang gelombang tertentu. Spektrum elektromagnetik merupakan
kumpulan spektrum dari berbagai panjang gelombang. Berdasarkan pembagian
daerah panjang gelombang, sinar infra merah dibagi atas tiga daerah: daerah infra
merah dekat, daerah infra merah pertengahan, daerah infra merah jauh.

Para ahli kimia telah memetakan ribuan spektrum infra merah dan
menentukan panjang gelombang absorbsi masing-masing gugus fungsi. Vibrasi
suatu gugus fungsi spesifik pada bilangan gelombang tertentu. Dari Tabel 2
diketahui bahwa vibrasi bengkokan CH dari metilena dalam cincin siklo pentana
berada pada daerah bilangan gelombang 1455 cm
-1
. Artinya jika suatu senyawa
spektrum senyawa X menunjukkan pita absorbsi pada bilangan gelombang
tersebut tersebut maka dapat disimpulkan bahwa senyawa X tersebut mengandung
gugus siklo pentana.








BAB III
METODELOGI PERCOBAAN

3.1 Alat dan Bahan Percobaan
3.1.1 Alat Percobaan
1. Mortir dan stemper
2. Beaker glass 250 ml
3. Gelas ukur 10 ml
4. Gelas ukur 100 ml
5. Bunsen
6. Tabung Reaksi
7. Kaki tiga
8. Kassa asbes
9. Cawan penguap
10. Pipet tetes
11. Maserator
12. Rotavapor
13. Waterbath
14. Corong pisah
15. Botol kaca 100 ml
16. Botol kaca 1L
17. Statif
18. Oven
19. Batang pengaduk
20. Kolom kromatografi
21. Vial 25 ml
22. Bejana KLT (chamber) + tutup
23. Botol semprot
24. Erlenmeyer
25. Plat silica gel GF 254
26. Pipa kapiler
27. Hairdryer
28. Spatel
29. Plat kaca
30 Ultraviolet F254 dan F356

3.1.2 Bahan Percobaan
1. Simplisia daun cecendet
2. N- Heksan
3. Etil asetat
4. Selulosa
5. Silika gel GF-254
6. Silika G60
7. Metanol
8. Kloroform
9. Amonia encer
10. HCL 1N; 5N
11. Pereaksi Dragendorf
12. Pereaksi mayer
13. Amil alkohol
14. Logam Mg
+

15. FeCl
3

16. Gelatin 1%
17. Pereaksi Anisaldehid Asam Sulfat
18. Vanilin Asam Sulfat
19. Pereaksi Leibermann Bourchard
20. NaOH
21. H
2
SO
4
Universal 5%


3.2 Prosedur Percobaan
3.2.1 Skrining fitokimia
a. Golongan Alkaloid
Serbuk simplisia dibasakan dengan amonia, kemudian di
tambahkan kloroform,digerus kukat- kuat. Lapisan kloroform dipipet
masukan dalam tabung reaksi, kemudian kedalamnya di tambahkan asam
klorida 2N . Campuran dikocok kuat kuat hingga terdapat dua lapisan .
Lapisan asam dipipet,kemudian dibagi menjadi tiga bagian.
Kepada bagian 1 ditambahkan pereaksi mayer. Terjadinya endapan
atau kekeruhan diamati. Bila terjadi kekeruhan atau endapan berwarna
putih, berarti dalam simplisia kemungkinan terkandung alkaloid.
Kepada bagian 2 ditambahkan pereaksi dragendorff. Terjadinya
endapan atau kekeruhan di amati. Bila terjadi kekeruhan atau endapan
berwarna jingga kuning, berarti dalam simplisia kemungkinan terkandung
alkaloid.
Bagian 3 digunakan sebagai blangko
a. Senyawa polifenolat
Sejumlah kecil serbuk simplisia dalam tabung reaksi dipanaskan di
atas tangas air,kemudian disaring. Kepada filtrat ditambahkan larutan
pereaksi besi (III) klorida adanya senyawa fenolat ditandai dengan
terjadinya warna hijau-biru hitam hingga hitam
b. Senyawa Tanin
Sejumlah kecil serbuk simplisia dalam tabung reaksi dipanaskan di
atas tangas air , kemudian disaring.kepada filtrat ditambahkan larutan
gelatin 1% Adanya senyawa tanin ditandai dengan terjadinya endapan
berwarna putih
c. Senyawa Flavonoid
Sejumlah kecil serbuk simplisia dalam tabung reaksi dicampur
dengan serbuk magnesium dan asam korida 2N. Campuran dipanaskan
diatas tangas air, lau disaring. Kepada filtrat ditambahkan amil alkohol,
lalu dikocok kuat kuat . Adanya flavonoid ditandai dengan terbentuknya
warna kuning hingga merah yang dapat ditarik oleh amil alcohol
d. Senyawa Monoterpenoid dan Seskuiterpenoid
Serbuk simplisia digerus dengan eter , kemudian disaring. Filtrat
ditempatkan di dalam cawan penguap , kemudian dibiarkan menguap
hingga kering. Kepada hasil pengeringan filtrat ditambahkan larutan
Vanilin 10% dalam asam sulfat pekat . Terjadinya warna warna
menjukan adanya senyawa mono dan seskuiterpenoid
e. Senyawa Steroid dan Triterpenoid
Serbuk simplisia digerus dengan eter , kemudian disaring. Filtrat
ditempatkan di dalam cawan penguap , kemudian dibiarkan menguap
hingga kering. Kepada hasil pengeringan filtrat ditambahkan pereaksi
liebermann burchard. Terjadinya warna ungu biru menunjukan adanya
senyawa steroid
f. Senyawa Kuinon
Sejumlah kecil serbuk simplisia dalam tabung reaksi dipanaskan di
atas tangas air , kemudian disaring.kepada filtrat ditambahkan larutan
KOH 5% Adanya senyawa kuinon ditandai dengan terjadinya warna
kuning
3.2.2 Maserasi
Sebanyak 250 gram simplisia dimasukkan kedalam maserator,
kemudian ditambahkan sebanyak 1,5 L Metanol sebagai pelarut. Simplisia
direndam selama 24 jam, dengan dilakukan pengadukan sebanyak 6 kali
dengan rentang waktu 1 jam. Prosedur pecobaan diatas diulang sebanyak 5
kali, hingga senyawa metabolit sekunder dapat terekstraksi secara
sempurna.
Ekstrak hasil maserasi kemudian dipekatkan dengan menggunakan
alat rotavavor, sehingga pelarut terpisah dari ekstrak. Setelah itu hasil
ekstrak hasil rotavavor di pekatkan kembali dengan menggunakan water
bath hingga mendapatkan ekstrak kental.
3.2.3 Ekstraksi Cair-Cair
Sebnyak 5 gram ekstrak kental ditimbang krmudian dilarutkan
didalam metanol dan air ( 8 : 2 ). Kemudian dimasukkan kedalam corong
isah yang selanjutnya diekstraksi dengan N- Heksan terlebih dahulu secara
berulang-ulang sebanyak 4 kali masing-masing sebanyak 75 mL. Setelah
itu, diekstraksi kembali dengan etil asetat secara berulang-ulang sebanyak
4 kali masing-masing sebanyak 75 mL hingga terjadi perubahan warna.
Hasil ekstraksi dimasukkan kedalam alat rotavavor hingga terpisah
dari pelarut, kemudian dipekatkan diatas water bath hingga ekstrak
menjadi ekstrak kental.
3.2.4 Kromatografi Kolom
a. Pengemasan Alat isolasi
Kolom dipasang tegak lurus pada statif, kemudian dibebas
lemakkan menggunakan metanol. Bagian bawah kolom dilapisi kapas
kemudian bubur selulosa dimasukkan sampai terisi dari kolom.lalu
diketuk ketuk sampai tidak terbentuk gelembung gas.
b. Pemisahan/isolasi
Silika G60 ditimbang 6 gram (tergantung ketersediaan ektrak dan
kapasitas kolom) . Dalam praktikum ini digunakan metode basah dimana
silika G60 disuspensikan menggunakan eluen N- Heksan 20 ml. Kemudian
suspensi dari silika dimasukkan ke dalam kolom lalu dimampatkan dengan
menggunakan kapas dilapisan bawah secukupnya.
Ditimbang 0.5 g ektrak, selanjutnya dielusi secara gradien sampai
menghasilkan fraksi fraksi dan ditampung ke dalam vial. Ekstrak di elusi
pertama kali dengan eluen N- Heksan 100% , kemudian secara berturut
turut dilanjutkan dengan eluen N- Heksan dan etil asetat dengan
perbandingan 9:1 8:2 7:3 6:4 5:5 4:6 3:2 1:9. Hasil kromatografi kolom
berupa fraksi. Fraksi fraksi digabung dan dianggap satu fraksi
berdasarkan warna atau profil KLT.
3.2.5 Komatografi Lapis Tipis
a. Penyiapan pengembang kromatografi
Alat dan bahan yang digunakan dipersiapkan terlebih dahulu,
kemudian dipipet sebanyak 7 mL N- Heksan dan 3 mL etil asetat.
Dimasukkan kedalam erlenmeyer dan dihomogenkan, lalu dimasukkan
kedalam chamber kurang lebih 1 cm. Larutan dijenuhkan dengan menutup
dan didiamkan.
b. Penotolan sampel
Alat dan bahan disiapkan terlebih dahulu, kemudian sampel
dilarutkan dalam 2 mL N- Heksan untuk selanjutnya ditotolkan pada ujung
lempeng (kurang lebih 1 cm dari ujung) menggunakan pipa kapiler.
c. Eluen dengan larutan pengembang
Alat dna bahan disiapkan terlebih dahulu, lempeng yang sudah
ditotol dengan sampel dimasukkan kedalam chamber kemudian ditutup
dengan segera. Setelah permukaan pelarut naik kurang lebih 5,5 cm atau
kira-kira 0,5 cm dari ujung atas, lalu angkat lempeng dari chamber dan
dimasukkan kedalam oven beberapa menit untuk menghilangkan pelarut
organik. Kemudian diamati dibawah sinar UV.

3.2.6 Kromatografi Lapis Tipis Preparatif
Disiapkan plat KLTP 20cm x 20cm. kemudian plat kaca
dibersihkan dengan aseton dan disusun diatas alat desaga. Buat bubur
silica gel dengan cara mencampurkan 10 gram silica gel GF254 dengan 20
ml aquadest dalam erlenmeyer, kocok kuat kuat sampai tercampur
homogen. Dituangkan semua bubur silica gel kedalam alat (tabung desaga)
dan segera dibalik sekaligus bubur silica gel berada diatas kaca, kemudian
segera diratakan pada kaca berikutnya sampai kaca terakhir. Diamkan
lapisan silica gel mengering diudara selama 1 hari lalu ketika akan di pakai
dipanaskan dalam open 110 120
0
C selama 15 menit. Kemudian Plat
KLTP diberikan jarak 1 cm pada bagian bawah dan bagian atas lalu
ditotolkan dengan subfraksi sampai membentuk pita. Dielusi dengan
pengembang N- Heksan : etil asetat 7:3 sampai batas atas didalam
chamber dengan pengembang yang sudah dijenuhkan dan didiamkan
hingga mengering. Plat KLTP dilihat didalam UV 365 nm. Pita yang
terbentuk dikerok kemudian dilarutkan sesuai dengan fraksinya yaitu N-
Heksan dan saring hasil kerokan dengan pelarut pengembangan yang
digunakan. Dilakukan pemantauan hasil KLTP dengan melakukan KLT
kembali, apakah benar terdapat hanya 1 spot. Bila didapat 1 spot maka di
lanjutkan dengan KLT 2D (2 dimensi)
3.2.7 Kromatografi Lapis Tipis 2D
Analit hasil kerokan pita KLTP dilarutkan dengan N- Heksan lalu
diuapkan. Setelah pekat ditotolkan kepada plat KLT, plat dimasukan
kedalam chamber yang berisi pengembang I (N- Heksan : Etil asetat 7:3),
biarkan terjadi pengembangan sampai batas yang ditentukan. Kemudian
plat di ambil dan diamati dengan sinar UV, plat dimasukan kembali
kedalam chamber yang berisi larutan pengembang II (N- Heksan : etil
asetat 5:5) dengan memutar posisi plat 90
0
biarkan beberapa saat sampai
larutan pengembang mencapai batas yang telah di tentukan. Hasilnya
dilihat dengan sinar UV .amati apakah hanya terdapat 1 spot atau terdapat
beberapa spot. Apabila hanya didapat 1 spot berarti senyawa yang didapat
adalah senyawa murni dan bisa melanjutkan analisis selanjutnya yaitu
spektrofotometri UV
3.2.8 Spektrofotometri UV-Vis
Analit hasil KLTP ditambahkan pengembang lalu diuapkan.
Setelah diuapkan ditambahkan metanol pro analisis. Dianalisis
menggunakan spektrofotometer dan dilihat berapa panjang gelombang
yang dihasilkan,catat.
3.2.9 Spektrofotometri IR
Pertama dilakukan pembuatan spektrum (kalibrasi) kemudian dilakukan
analisa sampel padat dengan teknik lempeng KBr. Sedikit KBr digerus
sampai setengah halus lali dimasukkan kedalam vial sampel yang sudah
dikeringkan, diaduk hingga homogen. dimasukkan kembali kedalam sel
dan tempatkan dalam jalan berkas sinar untuk dibuat spektrum infra
merahnya.









BAB IV
HASIL PENELITIAN

4.1 Hasil skrining
NO METABOLIT
SEKUNDER
Simplisia
1 Alkaloid +
2 Senyawa Polifenolat -
3 Tanin -
4 Flavonoid +
5 Saponin +
6 Kuinon -
7 Monoterpenoid &
Seskuiterpenoid
-
8 Steroid +
9 Triterpenoid -

4.2 hasil ekstrak
% Rendemen Ekstrak : 4,95 % b/b

4.3 Hasil Ekstraksi cair-cair
Ekstrak 1:
Methanol:air : N Heksan (1:1)
No N- Heksan yang ditambahkan






Ekstrak 2: ????????? g
Methanol:air : N Heksan (1:1)
No N- Heksan yang ditambahkan






Lapisan Methanol:air : Etil-asetat (
No. Etil-asetat yang ditambahkan






4.4 Hasil Kolom
NO
Vial
Eluen yang digunakan Volume vial
1 N- Heksan 100% 10 mL
2 N- Heksan 100% 10 mL
3 N- Heksan 100% dan 9 : 1 N-
Heksan : Etil Asetat
10 mL
4 9 : 1 N- Heksan : Etil Asetat 10 mL
5 9 : 1 N- Heksan : Etil Asetat
dan 8 : 2 N- Heksan : Etil
Asetat
10 mL
6 8 : 2 N- Heksan : Etil Asetat 10 mL
7 8 : 2 N- Heksan : Etil Asetat
dan 7 : 3 N- Heksan : Etil
Asetat
10 mL
8 7 : 3 N- Heksan : Etil Asetat 10 mL
9 7 : 3 N- Heksan : Etil Asetat 10 mL
10 7 : 3 N- Heksan : Etil Asetat 10 mL
11 7 : 3 N- Heksan : Etil Asetat 10 mL
12 7 : 3 N- Heksan : Etil Asetat 10 mL
13 7 : 3 N- Heksan : Etil Asetat
dan 6 : 4 N- Heksan : Etil
Asetat
10 mL
14 6 : 4 N- Heksan : Etil Asetat 10 mL
15 6 : 4 N- Heksan : Etil Asetat
dan 5 : 5 N- Heksan : Etil
Asetat
10 mL
16 5 : 5 N- Heksan : Etil Asetat 10 mL
17 5 : 5 N- Heksan : Etil Asetat
dan 4 : 6 N- Heksan : Etil
Asetat
10 mL
18 4 : 6 N- Heksan : Etil Asetat 10 mL
19 4 : 6 N- Heksan : Etil Asetat
dan 3 : 7 N- Heksan : Etil
10 mL
Asetat
20 3 : 7 N- Heksan : Etil Asetat 10 mL
21 3 : 7 N- Heksan : Etil Asetat 10 mL
22 2 : 8 N- Heksan : Etil Asetat 10 mL
23 2 : 8 N- Heksan : Etil Asetat
dan 1: 9 N- Heksan : Etil
Asetat
10 mL
24 1 : 9 N- Heksan : Etil Asetat 10 mL
25 1 : 9 N- Heksan : Etil Asetat 10 mL
26 1 : 9 N- Heksan dan 100% Etil
Asetat
10 mL
27 100 % Etil Asetat 10 mL
28 100 % Etil Asetat 10 mL

4.5 Hasil Kromatografi Lapis Tipis
Pengembang yang digunakan : N- Heksan : Etil asetat ( 7:3 )
Dihasilkan spot pada fraksi vial hasil Kromatografi Kolom pada nomor 4,5,6 dan
7
Fraksi Rf
4
5
6
7

Fraksi vial nomor 4,5,6 dan 7 digabungkan menjadi satu vial untuk selanjutnya
dilakukan KLTP, dengan menggunakan pengembang yang sama yaitu N- Heksan
: Etil asetat ( 7:3 ).

4.6 Hasil Kromatografi Lapis Tipis Preparatif
Dihasilkan satu pita yang menggunakan pengembang N- Heksan : Etil Asetat = 7 :
3, lalu pita tersebut dikerok untuk selanjutnya dilakukan KLT 2 dimensi. Pada
KLT 2 dimensi dihasilkan 1 spot dengan menggunakan pengembang pertama
menggunakan N- Heksan : Etil Asetat = 7 : 3 dan pengembang kedua adalah N-
Heksan : Etil Asetat = 5 : 5, dimana keduanya menghasilkan satu spot.
Rf KLT subfraksi = 0,8
Rf KLT 2D= 0,76.

4.7 Hasil spektrum UV-VIS
- Maserasi : metanol
- Kromatografi kolom : eluen yang digunakan secara
gradien (N- Heksan : etil asetat)
- Kromatografi lapis tipis : pengembang yang digunakan N- Heksan :
etil asetat (7:3)
- Diperoleh panjang gelombang maksimun 272,2 nm
4.8 Hasil spectrum Spektrofotometri IR

PEMBAHASAN

Skrining fitokimia dilakukan sebagai analisis kualitatif kandungan kimia
yang terdapat dalam simplisia. Berdasarkan hasil skrining yang dilakukan pada
serbuk simplisia daun ciplukan menunjukan positif adanya alkaloid, senyawa
flavonoid, steroid, dan saponin.
Simplisia daun ciplukan kemudian di ekstraksi, ekstraksi bertujuan untuk
menarik kandungan senyawa kimia termasuk metabolit sekunder dari simplisia
dengan menggunakan pelarut sehingga terpisah dari bahan yang tidak dapat larut
dengan pelarut cair. Pelarut yang digunakan akan mengalir ke dalam sel sehingga
menyebabkan protoplasma membengkak dan bahan kandungan sel akan larut
sesuai dengan kelarutannya Metode ekstraksi dipilih berdasarkan beberapa faktor
seperti sifat dari bahan yang akan di ekstraksi, daya penyesuaian dengan tiap
macam metode ekstraksi dan kepentingan dalam memperoleh ekstrak yang
sempurna atau mendekati sempurna. Metode ekstraksi yang dipilih adalah
maserasi.
Ekstraksi simplisia daun ciplukan dilakukan dengan cara maserasi karena
maserasi merupakan metode ekstrasi yang pengerjaannya dan alat-alat yang
digunakan sederhana. Pemilihan cara mesarasi juga bertujuan untuk menghindari
terjadinya penguraian zat aktif yang terkandung dalam sampel oleh pemanasan.
Pengerjaan ekstraksi yaitu cukup dengan merendam sampel dengan pelarut
organik selama 3 5 hari dan sesekali dikocok. Setelah 5 hari disaring dengan
kapas. Metanol digunakan sebagai pelarut dalam maserasi karena metanol
merupakan pelarut yang dapat melarutkan hampir semua senyawa organik dalam
semua bagian tumbuhan, baik polar maupun nonpolar dan metanol mempunyai
titik didih rendah (67,5 C) maka mudah diuapkan. Maserat yang diperoleh berupa
ektrak metanol diuapkan dengan alap penguap rotaryevaporator. Digunakan
rotaryevaporator sebagai alat penguap karena pelarut dapat menguap dibawah titik
didihnya dengan bantuan penurunan tekanan sehingga senyawa kimia yang
terkandung didalam pelarut tidak rusak atau terdekomposisi. Hasil yang diperoleh
berupa ekstrak metanol daun ciplukan dan ekstrak metanol kental daun ciplukan
dengan % Rendemen ekstrak 4,95 % b/b.
Selanjutnya dilakukan ekstraksi cair-cair terhadap ekstrak kental yang
diperoleh dari ekstraksi tanaman ciplukan. Hal ini dilakukan dengan tujuan agar
kita dapat melakukan dan mengamati langsung proses pemisahan senyawa dalam
ekstrak kental. Dimana ekstrak yang diperoleh akan berperan dalam identifikasi
senyawa pada masing-masing sampel untuk uji kromatografi.
Langkah pertama yang dilakukan dalam percobaan ini adalah menyiapkan
alat dan bahan yang digunakan. Selanjutnya ekstrak kental daun ciplukan
ditimbang sebanyak 5,0007 g dan 5,0001 g, lalu dimasukkan ke dalam 2 botol
yang berbeda. Pelarut yang digunakan adalah sebanyak 150 mL (1:1), terdiri dari
air:methanol (8:2) sebanyak 75 mL dan N- Heksan sebanyak 75 mL untuk
masing-masing ekstrak. Dalam hal ini digunakan methanol dengan air sebagai
pelarut polar untuk menarik senyawa-senyawa polar, dan pelarut N- Heksan
sebagai pelarut non polar untuk menarik senyawa-senyawa non polar. Hal ini
sesuai dengan prinsip like dissolves like, dimana reaktan yang non polar akan
larut dalam pelarut non polar sedangkan reaktan yang polar akan larut pada
pelarut polar.
Setelah itu, dilarutkan ekstrak kental yang didapatkan dengan
menggunakan pelarut methanol-air. Penggunaan campuran tersebut bertujuan
untuk mempercepat penguapan dari air agar lebih mudah untuk menghasilkan
ekstrak kental untuk senyawa polar. Kemudian dimasukkan ke dalam corong
pisah untuk maisng-masing hasil pencampuran kedua ekstrak, dan ditambahkan
pelarut N- Heksan. Penggunaan pelarut N- Heksan, methanol, dan air ini karena
pelarut N- Heksan bersifat non polar sedangkan methanol dan air bersifat polar
sehingga kedua pelarut tidak saling melarutkan. Hal ini terlihat dengan
terbentuknya dua lapisan dalam corong pisah, ketika N- Heksan ditambahkan ke
dalam larutan ekstrak. Kemudian kedua larutan ini dikocok sambil sesekali
membuka kran corong pisah untuk membuka gas yang ada dalam corong pisah.
Pengeluaran gas ini dilakukan guna menghindari adanya tekanan pelarut ketika
pengocokan dilakukan. Saat mengeluarkan gas ini kran harus diarahkan menjauhi
diri karena gas yang dikeluarkan tersebut bersifat toksik. Fungsi pengocokan ini
yaitu untuk memperbesar luas bidang kontak antara kedua pelarut sehingga proses
distribusi molekul-molekul ekstrak yang terlarut menjadi lebih mudah terjadi.
Namun pada pengocokan yang terlalu kencang akan menyebabkan terbentuknya
emulsi sehingga sulit terjadi pemisahan. Oleh karena itu, pengocokan yang
dilakukan tidak boleh terlalu keras. Setelah dikocok, didiamkan beberapa saat
hingga terbentuk pemisahan sempurna dari masing-masing lapisan.
Dari massa jenis kedua pelarut dapat diketahui bahwa lapisan yang atas
adalah lapisan N- Heksan sedangkan lapisan bawah adalah lapisan methanol-air.
Hal ini dikarenakan methanol-air memiliki massa jenis yang lebih besar.
Kemudian lapisan N- Heksan ditampung dalam botol. Kemudian diambahkan
kembali N- Heksan sebanyak 125 mL ke dalam corong, dikocok, dan didiamkan
kembali hingga terbentuk pemisahan sempurna dari masing-masing lapisan.
Prosedur penambahan N- Heksan ini dilakukan sebanyak 4 kali untuk ekstrak
5,0007 g dan 3 kali untuk ekstrak 5,0001 g karena prosedur ini dilakukan sampai
dihasilkan warna lapisan N- Heksan yang bening. Sehingga total N- Heksan yang
digunakan untuk ekstrak 5,0007g adalah 600 mL, sedangkan untuk ekstrak
5,0001g adalah 375mL.
Dari hasil praktikum terlihat bahwa lapisan N- Heksan dan lapisan
methanol dan air memiliki gradasi warna yang berbeda. Warna methanol-air lebih
gelap daripada warna lapisan N- Heksan. Hal ini menandakan bahwa semakin
lama, kandungan ekstrak dalam larutan tersebut semakin sedikit. Bila ekstraksi
dilakukan terus, maka lama-kelamaan warna lapisan tersebut akan menjadi bening
dimana sudah tidak ada lagi ekstrak yang larut (terdistribusi) didalamnya.
Setelah didapatkan lapisan N- Heksan yang bening dan telah ditampung
dalam botol, maka lapisan methanol-air yang terdapat dalam masing-masing
corong pisah ditambahkan etil asetat sebagai pelarut semi polar sebanyak 125 mL,
dan dilakukan prosedur seperti penambahan N- Heksan, sampai didapatkan
lapisan etil asetat yang bening. Penambahan etil asetat ini dilakukan untuk
menarik senyawa-senyawa semi polar yang tidak tertarik oleh N- Heksan dan
masih tercampur dalam larutan, sehingga dapat dihasilkan larutan yang murni
mengandung senyawa polar saja yaitu fase air. Prosedur penambahan etil asetat
ini dilakukan sebanyak 4 kali untuk ekstrak 5,0007 g dan 2 kali untuk ekstrak
5,0001 g. Sehingga total etil asetat yang digunakan untuk ekstrak 5,0007g adalah
600 mL, sedangkan untuk ekstrak 5,0001g adalah 250mL.
Setelah lapisan etil asetat ditampung dalam botol sebagai fraksi etil asetat,
lapisan metanol-air yang ada didalan corong pisan pun dimasukkan ke dalam
botol sebagai fraksi air.
PEMBAHASAN KOLOMNYAA?????
Kromatografi lapis tipis merupakan salah satu kromatografi yang
berdasarkan adsorpsi, tahapan analisis dengan kromatografi lapis tipis sama
seperti pada kromatografi kertas. Kelebihan kromatografi laspis tipis
dibandingkan dengan kromatografi kertas adalah waktu elusi yang relative lebih
pendek dan dapat digunakan untuk analisis kuantitatif.
Deteksi noda pada kromatografi lapis tipis tekadang lebih mudah dari pada
kromatografi kertas karena noda tidak berwarna atau tidak berpendar jika dikenai
sinar UV(ultraviolet) Analisis kromatografi lapis tipis (KLT) Prosedur uji dengan
KLT dilakukan untuk lebih menegaskan hasil yang didapat dari skrining
fitokimia. Karena berfungsi sebagai penegasan, maka uji KLT hanya dilakukan
untuk golongangolongan senyawa yang menunjukkan hasil positif pada skrining
fitokimia (alkaloid, saponin, steroid dan flavonoid).
Sebuah garis menggunakan pensil digambar dekat bagian bawah
lempengan dan setetes pelarut dari campuran pewarna ditempatkan pada garis itu.
Diberikan penandaan pada garis di lempengan untuk menunjukkan posisi awal
dari tetesan. Jika ini dilakukan menggunakan tinta, pewarna dari tinta akan
bergerak selayaknya kromatogram dibentuk.
Pemisahan pada kromatografi lapis tipis yang optimal akan diperoleh hanya jika
menotolkan sampel dengan ukuran bercak sekecil dan sesempit mungkin. Maka
dari itu kami menotolkan dengan hati-hati.
Ketika bercak dari totolan itu mengering, lempengan ditempatkan dalam
sebuah chamber bertutup berisi eluen dalam jumlah yang tidak terlalu banyak.
Perlu diperhatikan bahwa eluen berada di bawah garis dimana posisi bercak
totolan berada, karena jika totolan terendam oleh eluen maka tidak akan optimal
pemisahan, totolan akan bergerak ke bawah, bahkan akan melarut dalam eluen.
Alasan untuk menutup chamber adalah untuk meyakinkan bawah kondisi
dalam chamber terjenuhkan oleh uap dari pelarut. Kondisi jenuh chamber dengan
uap mencegah penguapan eluen.
Karena eluen bergerak lambat pada lempengan, komponen-komponen
yang berbeda dari campuran pewarna akan bergerak pada kecepatan yang berbeda
dan akan tampak sebagai perbedaan bercak warna.
Eluen dapat mencapai sampai pada bagian atas dari lempengan. Ini akan
memberikan pemisahan maksimal dari komponen-komponen yang berwarna
untuk kombinasi tertentu dari eluen dan fase diam.
Silika (atau alumina) merupakan fase diam yang kami gunakan. Fase diam
untuk kromatografi lapis tipis seringkali juga mengandung substansi yang mana
dapat berpendarflour dalam sinar ultra violet, Itu berarti jika anda
menyinarkannya dengan sinar UV, akan berpendar.
Pendaran ini ditutupi pada posisi dimana bercak pada kromatogram
berada, meskipun bercak-bercak itu tidak tampak berwarna jika dilihat dengan
mata. Itu berarti bahwa jika anda menyinarkan sinar UV pada lempengan, akan
timbul pendaran dari posisi yang berbeda dengan posisi bercak-bercak. Bercak
tampak sebagai bidang kecil yang gelap.
Pelarut pengembang yang digunakan pada KLT adalah N- Heksan : Etil
Asetat (7 : 3). Fraksi dari hasil ECC ditotolkan ke KLT. Tujuan dari prosedur ini
ingin mengetahui fraksi mana yang paling banyak terelusi yang kemudian akan
diisolasi. setelah dielusi didapat bahwa fraksi N- Heksan yang paling menonjol.
terlihat dari senyawa yg paling terang berpendar hijau biru di bawah sinar UV 254
nm. Selanjutnya di uji kembali fraksi N- Heksan dengan berbagai perbandingan
eluen. hal ini bertujuan untuk mengetahui senyawa yang tertarik paling banyak
mempunyai sifat non polar atau polar, mengingat bahwa prinsip kerja dari KLT
adalah adsopsi yakni metabolit yang tertarik paling atas berarti bersifat sama
dengan sifat eluen yang digunakan. Setelah dielusi dan dilihat di uv, ternyata ada
1 spot berpendar hijau terang di bagian atas dengan eluen N- Heksan : Etil Asetat
(7 : 3), menunjukkan bahwa fraksi yang tertarik adalah fraksi yang bersifat non
polar.
senyawa-senyawa pada kromatografi lapis-tipis yang menyebabkan warna
dari adalah perbedaan tingkat kepolaran warna dari senyawa-senyawa yang sejauh
mana tingkat kepolaran itu mempengaruhi perbedaan atau pemisahan yang
ditandai dengan tebentuknya spot-spot senyawa dalam kromatografi lapis-tipis itu
tergantung dari migrasi pelarut (fase mobil/fase gerak) terhadap fasa diamnya,
yaitu kromatografi lapis-tipis tersebut.
Harga Rf merupakan parameter karakteristik kromatografi kertas dan
kromatografi lapis tipis. Harga ini merupakan ukuran kecepatan migrasi suatu
senyawa pada kromatogram dan pada kondisi konstan merupakan besaran
karakteristik dan reprodusibel. Harga Rf didefinisikan sebagai perbandingan
antara jarak senyawa dari titik awal dan jarak tepi muka pelarut dari titik awal.
Harga Rf KLT yang 4 ekstrak air adalah 0,01, Rf ekstrak total 0,783, Rf
ekstrak N-Heksan 0,8, Rf ekstrak Etil asetat 0,8.
KLT preparatif dimaksudkan untuk memisahkan (isolasi) senyawa dalam
jumlah gram. KLT preparatif merupakan proses isolasi yang terjadi berdasarkan
perbedaan daya serap dan daya partisi serta kelarutan dari komponen-komponen
kimia yang akan bergerak mengikuti kepolaran pengembang, oleh karena daya
serap adsorben terhadap komponen kimia tidak sama, maka komponen bergerak
dengan kecepatan yang berbeda sehingga hal inilah yang menyebabkan
pemisahan. Pengembang yang di gunakan adalah N-Heksan : Etil Asetat (7 : 3).
Hasil KLTP yang di dapat berupa satu pita yang berflouresensi hijau, lalu
dipekatkan dengan N-Heksan. Dan di KLT kembali untuk menganalisis isolat
hasil KLTP. Hasil KLT menunjukan 1 spot pada isolat dan berflouresensi hijau
dengan Rf=0,8.
Dalam KLT 2 Dimensi, kami menggunakan eluen pertama N- Heksan: Etil
asetat 7:3, dan eluen kedua adalah N- Heksan:Etil asetat 5:5. Pemilihan eluen
pertama karena pada KLT Sebelumnya menghasilkan spot tunggal, Alasan
pemilihan eluen kedua karena eluen pertama bersifat non polar, maka eluen kedua
harus bersifat lebih polar dari eluen pertama. Sebelum menggunakan Etil asetat:
N- Heksan 5:5, kami menggunakan metanol 100 persen sebagai eluen kedua,
namun hasil yang didapat tidak ada pergerakan dari bercak pada elusi kedua. Ini
berarti eluen kedua terlalu polar, maka kami ganti menjadi etil asetat : N- Heksan
5:5, dan mendapati 1 spot, dengan Rf sebelum 2D adalah 0,8, dan Rf 2D adalah
0,76.
Cuplikan hasil KLTP dilarutkan dalam Metanol (MeOH) Pro Analisis
(P.A), dan kemudian dincerkan atau dipekatkan, kemudian diukur dengan alat
Spektroskopi UV-Visible sampai didapat tingkat serapan (daya serap) puncak di
sekitar 0.6. Hasil pengukuruan dapat dilihat pada lampiran
Dari data skrining baik simplisia, ekstrak ataupun fraksi, Daun Ciplukan
mengandung metabolit sekunder golongan steroid, hal ini ditunjang juga oleh data
penampak bercak mengarah ke arah steroid. Untuk mengetahui kandungan yang
ada dalam Daun ciplukan ini dibantu dengan melakukan percobaan instrument.
Instrument yang pertama digunakan adalah Spektroskopi Serapan UV-Visible.
Penggunaan Spektroskopi UV-Visible adalah untuk menegetahui data spectrum
UV-Visible yang akan menunjang dalam penentuan golongan metabolit sekunder
yang terkandung. Percobaan ini dilakukan dengan melarutkan sedikit cuplikan di
dalam Metanol P.A. dan kemudian diencerkan, diukur serapannya sampai didapat
tingkat serapan (daya serap) puncak utama di sekitar 0.6.
Setelah dilakukan pengukuran didapat beberapa absorban, absorban pada
0.538 memberikan 262.6 nm. Dengan absorban yang berada disekitar 0.6
(0.538) ini 262.6 nm dari literature yang dijadikan acuan hal ini bisa
didnterpretasikan bahwa cuplikan yang kita uji mengandung
berdasarkan literatur???????????????????????











DAFTAR PUSTAKA

1. Baedowi, 1998, Timbunan Glikogen dalam Hepatosit dan Kegiatan Sel
Beta Insula Pancreatisi Tikus Putih (Rattus norvegicus) Akibat Pemberian
Ekstrak Daun Ciplukan, Penelitian Tanaman Obat di Beberapa Perguruan
Tinggi di Indonesia IX, Departemen Kesehatan RI, Jakarta, 139.
2. Janurio, Filho, Petro, Kashima, Sato, and Frana, 2000,
Antimycobacterial Physalins from Physalis angulata L. (Solanaceae),
Phytotherapy Res, 16(5): 445 448
3. Harborne,J.B., 1984, metode fitokimia, ITB,Bandung
4. Tjitrosoepomo, gembong. 2007. Taksonomi tumbuhan yogyakarta: Gadjah
Mada University Pers.
5. Dra. Emma S. Wirakusumah, MSc ( Buah dan sayur untuk terapi).
6. Ditjen Tanaman Pangan dan Hortikultura, 1996.
1. http://luqmanmaniabgt.blogspot.com/2011/10/deskripsi-jambu-biji.html
2. http://www.plantamor.com/index.php?plant=1059
3. http://wocono.wordpress.com/2013/03/04/spektrofotometri-uv-vis/
4. http://wocono.wordpress.com/2013/03/03/spektrofotometri-infra-merah/
5. http://repository.ipb.ac.id/bitstream/handle/123456789/52336/RMS13_BAB
%20III_Bahan%20dan%20Metode.pdf?sequence=15



LAMPIRAN

A. Penapisan Fitokimia
1. Alkaloid





















Lapisan Kloroform
Simplisia
+ 5 ml amonia 25 %
+ 20 ml kloroform
- Digerus dimortir, dan di saring.
- Dipipet
+ HCl 2N (10% v/v)
- Dikocok
Lapisan Asam
Lapisan Basa
- Di pipet
- Di bagi menjadi 3 bagian
Blanko

Bagian I
+ Mayer
- Diamati
Hasil
Bagian II
+ Dragendorf
- Diamati
Hasil
2. Senyawa Fenolat












3. Tanin











4 g Serbuk Simplisia
- Dimasukkan ke dalam tabung reaksi
+ 100 ml air
- Dipanaskan di atas tangas air selama 30dan di saring
Hasil
Filtrat
Residu
+ FeCl
3
- Diamati
4 g Serbuk Simplisia
- Dimasukkan ke dalam tabung reaksi
+ 100 ml air
- Dipanaskan di atas tangas air selama 30dan di saring
Hasil
Filtrat Residu
+ Larutan gelatin 1 %

- Diamati
4. Senyawa Flavonoid












5. Monoterpen dan Seskuiterpen










Serbuk Simplisia
- Dimasukkan ke dalam tabung reaksi
+ Mg + 1 ml HCl 2N
- Dipanaskan di atas tangas air selama 30dan di saring
Hasil
Filtrat
Residu
+ amil alkohol, dikocok

- Diamati
2 g Serbuk Simplisia
+ 5-10 ml eter
- Digerus
- Di saring
Filtrat Residu
- Diuapkan dalam cawan
penguap
Filtrat kering



6. Steroid Dan Triterpenoid




















+Vanilin 10 % dalam H
2
SO
4

- Diamati
Hasil
2 g Serbuk Simplisia
+ 5-10 ml eter
- Digerus
- Di saring
Filtrat
Residu
- Diuapkan dalam cawan
penguap
Hasil
Filtrat kering
+ Liebermann Burchard
- Diamati
7. Senyawa Kuinon
























4 g Serbuk Simplisia
- Dimasukkan ke dalam tabung reaksi
+ 100 ml air
- Dipanaskan di atas tangas air selama 30dan di saring
Hasil
Filtrat Residu
+ KOH 5%

- Diamati
8. Senyawa saponin

























4 g Serbuk Simplisia
- Dimasukkan ke dalam tabung reaksi
+ 100 ml air
- Dipanaskan di atas tangas air selama 30dan di saring
Hasil
Filtrat Residu
- Dikocok selama 10 menit
- Didiamkan dan diamati
B. Maserasi


- Dimasukan kedalam alat maserasi (masetator)
- Ditambahkan sebanyak 1,5 L metanol
- Diaduk selama 6 jam dengan interval waktu 1
jam
- Didiamkan selama 24 jam.
- Prosedur diulang sebanyak 3kali





- Dipekatakan dengan alat rotavavor
- Diuapkan diatas waterbath hingga
pekat/kental



C. Ekstraksi Cair-Cair

-
- Ditimbang masing-masing sebanyak 5gram
- Dilarutkan dalam metanol dan air 8 : 2
- Dimasukkan kedalam corong pisah
- Diekstraksi dengan 75mL N- Heksan
sebanyak 4 kali
- Diekstraksi kembali dengan 75mL etil asetat
hingga terjadi perubahan warna

ekstrak
Ekstrak hasil maserasi
Ekstrak kental
250 gram serbuk simplisia
Ekstrak kental hasil maserasi
Eksrak cair

- Dimasukkan kedalam alat rotavavorator untuk
dipisahkan dari pelarutnya
- Disimpan kedalam cawan penguap dan
disimpan diatas water bath untuk dipekatkan


D. Kromatografi kolom
1. Pembuatan bubur selulosa


- Disuspensikan dalam 20mL N- Heksan
- Dimasukkan kedalam kolom kromatografi

- Dimasukkan 0,5 gram ekstrak kental
- Dielusi secara gradien dengan eluen pertama yaitu
N- Heksan 100%
- Kemudian secara berturut turut dilanjutkan
dengan eluen N- Heksan dan etil asetat dengan
perbandingan 9:1 8:2 7:3 6:4 5:5 4:6 3:2 1:9


E. Kromatografi Lapis Tipis
1. Penyiapan pengembang


- Dimasukkan kedalam erlenmeyer dan
dihomogenkan.
Ekstrak cair
Ekstrak kental
6 gram selulosa
Kolom yang berisi suspensi selulosa
Subfraksi kromatografi
kolom
7 mL N- Heksan dan 3 mL etil asetat.
- Dimasukkan kedalam chamber kurang lebih 1
cm.
- Larutan dijenuhkan dengan menutup dan
didiamkan.


2. penotolan dan elusidasi ekstrak


- Dilarutkan dalam 2 mL N- Heksan
- Kemudian ditotolkan pada ujung lempeng (
kurang lebih 1 cm dari ujung) menggunakan pipa
kapiler.
- Lempeng yang sudah ditotol dengan sampel
dimasukkan kedalam chamber kemudian ditutup
dengan segera.
- Setelah permukaan pelarut naik kurang lebih 5,5
cm atau kira-kira 0,5 cm dari ujung atas, lalu
angkat lempeng dari chamber.
- Dimasukkan kedalam oven beberapa menit untuk
menghilangkan pelarut organik.
- Kemudian diamati dibawah sinar UV.




F. Kromatografi Lapis Tipis Preparatif
1. Penyiapan plat kromatografi lapis tipis preparatif

- Dibersihkan dengan aseton dan disusun
diatas alat desaga
Larutan yang sudah jenuh
Ekstrak kental
spot hasil KLT
Plat Kromatografi Lapis Tipis Preparatif 20cm x 20cm
- Buat bubur silica gel dengan cara
mencampurkan 10 gram silica gel
GF254 dengan 20 ml aquadest dalam
erlenmeyer.
- kocok kuat kuat sampai tercampur
homogen
- Dituangkan semua bubur silica gel
kedalam alat (tabung desaga) dan segera
dibalik sekaligus bubur silica gel berada
diatas kaca
- segera diratakan pada kaca berikutnya
sampai kaca terakhir.
- Diamkan lapisan silica gel mengering
diudara selama 1 hari lalu ketika akan di
pakai dipanaskan dalam open 110 120
0
C selama 15 menit



2. Penotolan sampel dan elusidasi sampel



- Plat KLTP diberikan jarak 1 cm pada
bagian bawah dan bagian atas
- ditotolkan dengan subfraksi sampai
membentuk pita
- Dielusi dengan pengembang N- Heksan :
etil asetat 7:3 sampai batas atas didalam
chamber dengan pengembang yang
Plat KLTP dengan silika gel yang sudah
kering
Plat KLTP dengan silika gel yang sudah
kering
sudah dijenuhkan dan didiamkan hingga
mengering
- Plat KLTP dilihat didalam UV 365 nm
- Pita yang terbentuk dikerok
- Dilarutkan sesuai dengan fraksinya yaitu
N- Heksan dan disaring hasil kerokan
dengan pelarut pengembangan yang
digunakan
- Dilakukan pemantauan hasil KLTP
dengan melakukan KLT kembali,
apakah benar terdapat hanya 1 spot
- Bila didapat 1 spot maka di lanjutkan
dengan KLT 2D


G. Kromatografi Lapis Tipis 2D

- Dilarutkan dengan N- Heksan lalu diuapkan
- Setelah pekat ditotolkan kepada plat KLT
- Plat dimasukan kedalam chamber yang berisi
pengembang I (N- Heksan : Etil asetat 7:3)
- Dibiarkan terjadi pengembangan sampai batas
yang ditentukan
- Diambil dan diamati dengan sinar UV
- Plat dimasukan kembali kedalam chamber yang
berisi larutan pengembang II (N- Heksan : etil
asetat 5:5) dengan memutar posisi plat 90
0

- Dibiarkan beberapa saat sampai larutan
pengembang mencapai batas yang telah di tentukan
Isolat
Analit hasil kerokan pita KLTP
- di ambil dan diamati dengan sinar UV


H. Spektrofotometri UV-Vis

- Ditambahkan pengembang lalu diuapkan
- Ditambahkan metanol pro analisis.
- Dianalisis menggunakan spektrofotometer
- Dilihat berapa panjang gelombang yang dihasilkan
- Dicatat.


Spektrofotometri IR


















Senyawa murni
Analit hasil KLTP
Panjang gelombang maksimum