Anda di halaman 1dari 11

MAKALAH KIMIA BAHAN PANGAN

LEMAK
Disusun guna memenuhi tugas mata kuliah Kimia Bahan Pangan
Dosen Pengampu : Khamidinal, M.Si



Oleh :
Umi Nur Hasanah (10670003)
Atina Rizanatul Fahriyah (10670009)
Zuyinatul Latifah (10670021)
Ike Ayu Hana (10670032)
Achmad Munaji (10670043)
Aprilia Ike Nur Wijayanti (10670054)
Yuni Astuti (12670011)
Rinta Nur Ariyani (12670020)
Benny Yanuar Dwi Satrio (12670037)
Sri Wahyuni Setyaningsih (12670046)


PROGRAM STUDI PENDIDIKAN KIMIA
FAKULTAS SAINS DAN TEKNOLOGI
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SUNAN KALIJAGA
YOGYAKARTA
2013
BAB I
PENDAHULUAN
Fungsi lemak umumnya yaitu sebagai sumber energi, bahan baku hormon, membantu
transport vitamin yang larut lemak, sebagai bahan insulasi terhadap perubahan suhu, serta
pelindung organ-organ tubuh bagian dalam. Lemak dalam pangan juga berfungsi untuk
meningkatkan palatibilitas (rasa enak, lezat). Sebagian besar senyawa atau zat yang
bertanggung jawab terhadap flavor pangan bersifat larut dalam lemak.
Sebuah penelitian pernah melaporkan bahwa hewan-hewan percobaan yang tidak
mendapatkan jumlah lemak yang cukup dalam makanannya akan mengalami hambatan
pertumbuhan, bahkan ada yang berhenti tumbuh dan akhirnya mati. Kurangnya lemak dalam
makanan juga akan menyebabkan kulit menjadi kering dan bersisik.
Lemak terdapat dalam tubuh hewan (termasuk manusia) sebagai cadang energi, yang
tersebar di seluruh jaringan, mengelilingi jaringan atau sebagai komponen jaringan, bahkan
terdapat jaringan yang sebagian besar terdiri dari lemak, yaitu jaringan adipose. Berbeda
dengan hewan mamalia, ikan menyimpan cadangan energi dalam bentuk lemak di dalam
hatinya (lebih dari 50% beratnya). Peranan lemak ikan dalam mencegah penyakit jantung
koroner telah dibuktikan. Hal ini terutama karena peranan asam lemak eikosapentaenoat
(EPA) dan dekosaheksaenoat (DHA), yang terkenal dengan sebutan asam lemak omega-3.
Sekitar duapertiga lemak yang tersedia dalam bahan pangan berasal dari lemak hewan
dan sepertiga lainnya dari sumber nabati terutama dalam bentuk minyak goreng. Beberapa
jenis lemak makanan berasal dari biji-bijian dan kacang-kacangan (kecap, kacang tanah,
kedelai, sawit, jagung, biji bunga matahari, dan lain-lain). Penggunaan minyak goreng di tiap
daerah yang berasal dari bahan mentah yang berbeda dipengaruhi oleh faktor-faktor sosial,
budaya, ekonomi, geografi, dan teknologi.






BAB II
PEMBAHASAN

1. Pengertian Lemak
Lemak merupakan sumber energi yang dapat menyediakan energi sekitar 2,25 kali
lebih banyak dari pada yang diberikan oleh karbohidrat (pati, gula) atau protein. Istilah
lemak atau minyak lebih umum digunakan dari pada lipida. Lemak bersifat padat pada suhu
ruang, sedangkan minyak bersifat cair.
Lemak adalah bentuk energi berlebihan yang disimpan oleh hewan, sehingga jumlah
lemak dalam hewan yang dijadikan bahan pangan ditentukan oleh keseimbangan energi
hewan tersebut. Secara praktis, semua bahan pangan hewani, mengandung lemak. Bahkan
daging sapi rendah lemak (lean meat) mengandung 28% lemak, yang memberikan
konstribusi 77% dari kalori makanan, sedangkan 51% lemak dalam cheddar cheese
memberikan 73% dari kalori makanan.
Semua lemak yang terdapat dalam bahan pangan nabati ditemukan dalam bentuk
minyak. Dalam serealia seperti jagung atau kacang-kacangan seperti kedelai, lemak terdapat
baik dalam komponen germ maupun dalam endospermnya. Sebagian besar sayuran dan buah-
buahan secara praktis tidak mengandung lemak, kecuali alvokat dan durian. Lemak dalam
bahan pangan yang dikonsumsi akan memberikan rasa kenyang, karena lemak akan
meninggalkan lambung secara lambat, yaitu sampai 3,5 jam setelah dikonsumsi tergantung
dari ukuran dan komposisi pangan. Hal ini akan memperlambat timbulnya rasa lapar.
Lemak dalam pangan berperan sebagai pelarut dan pembawa (carrier) vitamin-
vitamin larut lemak (A, D, E, dan K). Lemak sebanyak paling sedikit 10% dari total energi
yang dikonsumsi diperlukan untuk penyerapan pro-vitamin A, misalnya dari wortel, pepaya
dan lain-lain. Semua hal yang mempengaruhi penyerapan lemak, misalnya kerusakan saluran
empedu atau ketengikan pada lemak, akan mengurangi ketersediaan (availabilitas) vitamin-
vitamin tersebut.
Lemak tersusun dari tiga elemen dasar, yaitu karbon, hydrogen dan oksigen. Secara
kimiawi, lemak merupakan bagian dari lipida, yang merupakan ester asam lemak dengan
gliserol. Gliserol mempunyai tiga gugus hidroksi yang masing-masing mengikat (melalui
ikatan ester) satu molekul asam lemak, sehingga satu molekul lemak terdiri atas satu molekul
gliserol dan tiga molekul asam lemak. Oleh karena itu, lemak/minyak disebut sebagai
triasilgliserol (asli = asam lemak) atau secara umum disebut sebagai trigliserida (meskipun
nama yang paling benar secara kimiawi adalah triasilgliserol). Triasilgliserol disebut juga
sebagai lemak netral.
2. Fungsi Lemak
Lemak adalah satu zat gizi makro yang memiliki peran penting bagi tubuh untuk
menyimpan kelebihan energi yang berasal dari makanan. Karena itu, lemak memiliki
berbagai fungsi yang sangat penting untuk mempertahankan tubuh tetap sehat. Kebutuhan
lemak harian untuk orang indonesia adalah sekitar 15% dari kebutuhan energi total. Lemak
memiliki berbagai macam fungsi diantaranya :
1. Sumber energi
Lemak merupakan sumber energi yang besar di dalam tubuh, dan menghasilkan 9 kkal pada
setiap gramnya, dan jumlah ini jauh lebih besar dari pada energi yang dihasilkan protein dan
karbohidrat yaitu hanya sebesar 4 kkal untuk setiap gramnya. Lemak di dalam tubuh berasal
dari asupan makanan sehari-hari, baik itu berasal dari sumber karbohidrat, protein, maupun
dari lemak itu sendiri. Lemak yang berada di dalam tubuh disimpan pada bagian-bagian
berikut ini: 50% pada jaringan bawah kulit (daerah subkutan), 45% pada rongga perut yang
menyelimuti organ dalam, dam 5% pada jaringan intramuskular.
2. Sumber Asam Lemak Esensial
Untuk beberapa jenis asam lemak tubuh memiliki kemampuan untuk memproduksinya
sendiri tetapi ada beberapa jenis asam lemak yang sangat penting bagi tubuh tetapi tubuh
tidak dapat memproduksinya sendiri, yaitu asam lemak esensial, karena itu kita perlu
mengonsumsi lemak yang cukup untuk memperoleh jenis asam lemak ini.
3. Alat angkut vitamin larut lemak
Beberapa vitamin seperti vitamin larut lemak, tidak dapat didapatkan manfaatnya oleh tubuh
tanpa bantuan lemak, karena lemaklah yang membantu proses transportasi dan absopsi nya.
Selain itu, lemak juga mengandung beberapa vitamin larut lemak ini, sehingga dengan
mengonsumsi lemak yang cukup tubuh kita juga memperoleh manfaat vitamin larut lemak
ini.

4. Menghemat Protein
Pada kondisi tertentu tubuh membutuhkan energi yang sangat banyak seperti dalam kondisi
sakit, pada kondisi ini tanpa adanya lemak tubuh akan menggunakan protein tubuh juga untuk
memenuhi kebutuhan energi. Protein sendiri memiliki fungsi penting sebagai zat pengatur
dan membantu tubuh meningkatkan fungsi imunitasnya, dengan bantuan lemak, protein
melakukan fungsi utamanya sebagai zat pengatur tanpa harus terbuang percuma memenuhi
kebutuhan energi yang besar.
5. Memberi rasa kenyang
Lemak adalah salah satu zat gizi yang mempu memperlambat sekresi asam lambung dan
memperlambat pengosongan lambung sehingga memberikan efek kenyang lebih lama.

6. Sebagai pelumas
Untuk pengeluaran sisa percernaan, lemak memiliki fungsi sebagai pelumas untuk membantu
pengeluarannya.
7. Memelihara suhu tubuh
Sebanyak 50% lemak terdistribusi di bawah lapisan kulit, hal inilah yang membuat tubuh
tetap hangat meskipun kondisi di luar tubuh sedang dalam cuaca dingin, dengan demikian
tubuh tidak kehilangan panas tubuh secara cepat.
8. Pelindung organ
Sebanyak 45% lemak pada rongga perut, membuat organ-organ yang berada didalam rongga
perut akan terselubungi oleh lemak, sehingga lemak dapat melindungi organ tersebut dari
benturan dan bahaya lain dari luar tubuh.
3. Perbedaan Lemak dengan Minyak
Minyak
1. Pada temperature kamar berwujud cair
2. Berasal dari Tumbuhan
3. Biasa disebut margarin
4. Umumnya tidak jenuh (terdapat ikatan rangkap)
5. Mudah rusak / tengik karena terjadinya reaksi oksidasi pada ikatan rangkap
6. Titik leleh rendah
7. Contohnya asam oleat (C17H33COOH), asam linoleat (C17H31COOH) dan asam
linolenat(C17H29COOH)

Lemak
1. Pada temperature kamar berwujud padat
2. Berasal dari hewan
3. Biasa disebut mentega
4. Umumnya jenuh (tidak terdapat ikatan tangkap)
5. Tidak mudah rusak / tengik
6. Titik leleh tinggi
7. Contohnya Asam Palmitat (C
15
H
31
COOH) dan asam stearat (C
17
H
35
COOH)

4. Peranan Lemak Dalam Bidang Pangan

Secara praktis, semua bahan pangan hewani, mengandung lemak. Bahkan daging sapi
rendah lemak (lean meat) mengandung 28% lemak, yang memberikan konstribusi 77% dari
kalori makanan, sedangkan 51% lemak dalam cheddar cheese memberikan 73% dari kalori
makanan.
Lemak dalam bahan pangan yang dikonsumsi akan memberikan rasa kenyang, karena
lemak akan meninggalkan lambung secara lambat, yaitu sampai 3,5 jam setelah dikonsumsi
tergantung dari ukuran dan komposisi pangan. Hal ini akan memperlambat timbulnya rasa
lapar.
Lemak dalam pangan berperan sebagai pelarut dan pembawa (carrier) vitamin-
vitamin larut lemak (A, D, E, dan K). Lemak sebanyak paling sedikit 10% dari total energi
yang dikonsumsi nampaknya diperlukan untuk penyerapan pro-vitamin A, misalnya dari
wortel, papaya dan lain-lain. Semua hal yang mempengaruhi penyerapan atau penggunaan
lemak, misalnya kerusakan saluran empedu atau ketengikan pada lemak, akan mengurangi
ketersediaan (availabilitas) vitamin-vitamin tersebut.
Lemak dalam pangan juga berfungsi untuk meningkatkan palatibilitas (rasa enak,
lezat). Sebagian besar senyawa atau zat yang bertanggung jawab terhadap flavor pangan
bersifat larut dalam lemak. Juga diduga bahwa lemak dalam pangan akan menstimulir
mengalirnya cairan pencernaan.
Peranan lemak yang pertama dalam tubuh adalah sebagai persediaan energi yang
disimpan dalam jarinagn adipose. Sejumlah tertentu lemak dalam tubuh, yaitu kira-kira 18%
dari berat badan untuk wanita dan 15-18% untuk pria, adalah normal dan diinginkan.
Peranan yang kedua adalah sebagai regulator tubuh. Karena lemak (lipid) merupakan
elemen esensial bagi membran tiap-tiap sel dan merupakan precursor prostaglandin, maka
pengembilan dan ekskresi nutrient oleh sel dapat dikatakan diatur oleh lemak, demikian juga
beberapa fungsi tubuh yang esensial dikontrol oleh lemak.
Suatu senyawa mirip hormon yang mempunyai kemampuan menstimulir kontraksi
otot polos dalam saluran darah diidentifikasi sebagai prostaglandin. Penelitian lebih lanjut
menunjukkan paling sedikit terdapat 6 macam prostaglandin dan semuanya disintesis dari
asam arahidonat. Prostaglandin menunjukkan bermacam-macam fungsi, misalnya
meningkatkan kehamilan, menginduksi kerja, menyebabkan keguguran dan sebagainya.
Lemak terdapat dalam tubuh hewan (termasuk manusia) sebagai cadang energi, yang
tersebar di seluruh jaringan, mengelilingi jaringan atau sebagai komponen jaringan, bahkan
terdapat jaringan yang sebagian besar terdiri dari lemak, yaitu jaringan adipose. Berbeda
dengan hewan mamalia, ikan menyimpan cadangan energi dalam bentuk lemak di dalam
hatinya (lebih dari 50% beratnya). Peranan lemak ikan dalam mencegah penyakit jantung
koroner telah dibuktikan. Hal ini terutama karena peranan asam lemak eikosapentaenoat
(EPA) dan dekosaheksaenoat (DHA), yang terkenal dengan sebutan asam lemak omega-3.

5. Dampak Kekurangan Kelebihan Lemak
Makanan sumber lemak biasanya lebih mahal dari pada makanan sumber karbohidrat.
Bandingkan misalnya, harga 1 kg beras dan harga 1kg minyak goreng. Karena itu konsumsi lemak biasanya
dipengaruhioleh tingkat penghasilan. Apabila penghasilan bertambah, konsumsi lemak
meningkat, dan sebaliknya.
Kenyataan di Indonesia, masyarakat berpenghasilan rendah mengkonsumsi lemak
kurang dari 10% konsumsi energi. Golongan masyarakat ini perlu meningkatkan konsumsi
lemak. Sebaliknya masyarakat berpenghasilan tinggi cenderung mengkonsumsi lemak berlebihan sehingga
harus mengurangi konsumsi lemak. Keseimbangan konsumsi lemak sangat penting bagi tubuh, karena baik
kelebihan maupun kekurangan lemak memiliki efek yang tidak baik bagi tubuh, berikut adalah beberapa dampak
kelebihan dan kekurangan lemak bagi tubuh.

A. Dampak kekurangan lemak
1. Lemahnya penyerapan vitamin
Terlalu banyak menguras lemak dalam tubuh dan mengkonsumsi makanan rendah
lemak akan menyebabkan vitamin yang berharga seperti A, D, E, dan K terganggu
penyerapannya. Tubuh juga membutuhkan lemak untuk menyerap vitamin tersebut.
Vitamin diatas tersimpan di dalam organ hati dan jaringan lemak. Apalagi vitamin
tersebut sangat dibutuhkan khususnya pada usia pertumbuhan.
2. Makan berlebihan
Seperti efek balas dendam. Beberapa orang yang memutuskan untuk diet, pada suatu
waktu tertentu di batas kesabarannya, mereka memutuskan untuk menyerah dan makan
lebih nayak daripada sebelum diet karena lemak yang kurang akan lebh cepat memicu
rasa lapar. Selain itu konsumsi produk rendah lemak justru terdapat gula tambahan
yang efeknya sama saja bagaikan melempar bumerang. Konsumsi produk tersebut sama
saja dengan Anda mengkonsumsi lemak secara berlebihan.
3. Depresi
Selain mengancam kesehatan fisik, ternyata kekurangan lemak secara berlebihan juga
menyebabkan gangguan mental. Asam lemak dan omega 3 berperan dalam proses
perilaku dan kondisi perasaan. Asam lemak dan omega 3 ini adalah pembentuk hormon
dan senyawa kimia dalam otak. Beberapa penelitian menyebutkan bahwa rendahnya
asupan lemak terkait dengan gangguan mental seperti depresi, gangguan bipolar,
skizofrenia, gangguan makan dan ADHD.
4. Penurunan pertumbuhan otak
Kekurangan asam lemak esensial (Omega -3 dan Omega -6) pada masa janin
mengakibatkan penurunan pada pertumbuhan otak. Pertumbuhan otak yang terganggu
akan mengakibatkan penurunan fungsi otak, yaitu kemampuan kognitif rendah, yang
tidak dapat diperbaiki kemudian.
5. Kelainan pada kulit
Kekurangan asam linoleat pada anak-anak dan orang dewasa mengakibatkan kelainan pada
kulit yaitu ekzema. Pada ekzema kulit mengalami inflamasi yaitu radang disertai panas kering
dan bersisik. Ekzema terjadi pada bayi yang mendapat makanan mengandung asam
linoleat kurang dari 0,1% energi makanan. Pada orang dewasa ekzema terjadi jika
makanan tidak mengandung lemak. Untuk memenuhi kecukupan asam lemak esensial, susu
formula bayi sekarang ditambah asam linolenat sehinggarasio asam linoleat terhadap
asam linolenat mendekati 5 : 1.
B. Dampak kelebihan lemak
1. Penurunan hormon insulin
Penelitian memperlihatkan bahwa lemak berlebihan dalam tubuh terutama pada
pankreas dapat menganggu kerja insulin. Sebuah penelitian mempelajari tentang
hubungan lemak pankreas dengan sensitivitas insulin. Lemak pada pankreas
(pancreatic fat) merupakan lemak yang berhubungan dengan peningkatan Visceral
Adipose Tissue(VAT), yaitu lemak yang melapisi organ-organ tubuh bagian dalam. Jika
lemak ini mengalami peningkatan maka resiko obesitas juga akan semakin tinggi,
karena kenaikan VAT juga mempengaruhi kenaikan BMI. Penelitian ini menemukan
bahwa semakin tinggi pancreatic fat Anda, maka sensitivitas insulin akan semakin
rendah. Artinya, jumlah insulin yang diproduksi dalam tubuh akan semakin sedikit dan
resiko Anda terkena diabetes bisa jadi meningkat.
2. Obesitas
Obesitas adalah BB sangat berlebih yang terutama disebabkan akumulasi lemak tubuh.
Pada umumnya, para ahli sepakat bahwa IMT e" 30 dinyatakan sebagai obesitas, yaitu
BB dalam kg dibagi pangkat dua tinggi badan (TB) dalam cm . Pada keadaan tertentu,
IMT tidak dapat digunakan, misalnya pada lanjut usia, kehamilan, edema. Berdasarkan
Penyebaran Lemak, obesitas akan membahayakan kesehatan jika kelebihan lemak di
dalam tubuh tersebar pada tubuh bahagian atas, seperti perut, dada, leher dan muka.
Berdasarkan ini maka dapat digolongkan atas kegemukan tipe buah apel (sebahagian
besar berupa sel lemak yang besar dan jenuh) dan tipe buah pir (sebahagian besar
berupa sel lemak yang kecil dan tidak jenuh). Obesitas ebagai salah satu efek dari
kelebihan lemak juga dapat memicu timbulnya penyakit-penyakit pengiring diantaranya
adalah gagal jantung, strok, dan hipertensi.
3. Peningkatan kolesterol
Peningkatan kadar kolesterol di dalam darah merupakan faktor resiko penyakit jantung dan
pembuluh darah dengan gejala awal tekanan darah tinggi (hipertensi) kebiasaan dan pola makan berperan
besar dalam pengendalian kadar kolesterol di dalam darah. Upaya yang dapat dilakukan
untuk mempertahankan kadar normal kolesterol di dalam darah meliputi
mempertahankan berat badan normal, tidak mengkonsumsi berlebih lemak dan lemak
jenuh, mengatur keseimbangan konsumsi asam lemak tak jenuh dan menguranggi
konsumsi makanan berkadar tinggi kolesterol.
4. Mendorong pertumbuhan tumor
Pengamatan pada hewan percobaan menunjukkan konsumsi berlebih lemak jenuh
maupun lemak tak jenuh, mendorong terjadinya pertumbuhan tumor. Perlu diingat,
faktor resiko kanker banyak sekali,makanan hanya salah satu di antaranya. Perubahan
dan pola makan tidak menjamin seseorang terhindar dari kanker. Penelitian pada hewan
menunjukkan, untuk menghindari penyakit kronis seyogyanya konsumsi asam lemak
Omega -6 dikurangi dan konsumsi asam lemak Omega -3 ditingkatkan. Konsumsi asam
linolenat sebanyak 8,4% energi menunjukkan hasil terbaik.
5. Hiperaktif terhadap alergi
Penelitian di Jepang menunjukkan, konsumsi berlebih asam lemak linoleat dan
perubahan pada keseimbangan asam lemak esensial yang dikonsumsi mengakibatkan
tubuh hiperaktif terhadap berbagai zat penyebab alergi. Meningkatkan rasio asam
lemak Omega -3 atau Omega-6 di dalam sel berperan dalam alergi dan inflamasi akan
menurunkan reaktifitas tubuh terhadap alergi dan inflamasi.
















BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
1. Lemak adalah bentuk energi berlebihan yang disimpan oleh hewan, sehingga
jumlah lemak dalam hewan yang dijadikan bahan pangan ditentukan oleh
keseimbangan energi hewan tersebut. Secara praktis, semua bahan pangan
hewani, mengandung lemak.
2. Peranan lemak yang pertama dalam tubuh adalah sebagai persediaan energi yang
disimpan dalam jarinagn adipose dan sebagai regulator tubuh.
3. Sekitar duapertiga lemak yang tersedia dalam bahan pangan berasal dari lemak
hewan dan sepertiga lainnya dari sumber nabati terutama dalam bentuk minyak
goreng.




B. Daftar Pustaka

Boyle, MA and SL roth.2010. Personal Nutrition. Wadsworth, cengange learning.
Fessenden. 1982. Kimia Organik Jilid 2 Edisi Ketiga. Jakarta. Erlangga.
Ngili, Yohanes.2010. Biokimia Dasar. Bandung: Rekayasa Sains.
Winarno, F.G. 1997.Kimia Pangandan Gizi. Jakarta: PT.Gramedia Pustaka Utama.
Sackheim, G. I., and Schultz, R. M. (1979). Chemistry for the Health Science. New
York: Macmillan Company.