Anda di halaman 1dari 29

RHINITIS ALERGI

OLEH :
M. RAIS AKBAR ( C 111 07 119 )
ANDI WIJA INDRAWAN P ( C 111 08 129 )

PEMBIMBING :
dr. HANDAYANI SRIWARDANI
PENDAHULUAN
Rhinitis alergi merupakan masalah kesehatan global dan
angka kejadiannya mengalami peningkatan di banyak
negara.
Angka kejadian rhinitis alergi secara umum berkisar 25%
terutama pada remaja dan dewasa.
Indonesia 10-26%
DEFINISI
Rhinitis alergi adalah suatu kondisi inflamasi
membran mukosa hidung yang ditandai
dengan gejala bersin, rinore, kongesti hidung
dan gatal pada hidung akibat paparan alergen
ANATOMI
FISIOLOGI HIDUNG
Organ
pembau
Respirasi
Proteksi
PATOFISIOLOGI
FAKTOR RISIKO
Internal
Genetik / Riwayat
Keluarga
Jenis Kelamin
Eksternal
Non-Alergen (Suhu, gaya
hidup)
Alergen (Debu rumah,
tungau, kecoa, hewan
peliharaan)
DIAGNOSIS
Anamnesis
Pemeriksaan Fisis
Pemeriksaan Penunjang
Anamnesis
Gejala : beringus, bersin-bersin, dan hidung
tersumbat disertai gejala tambahan berupa
gatal atau rasa perih pada hidung
Riwayat atopi di keluarga serta manifestasi
penyakit alergi lain
Sumber alergen
PEMERIKSAAN FISIS
Allergic Shiner
Allergic salute
Allergic crease
PEMERIKSAAN FISIS
Facies Adenoid Geographic Tongue
PEMERIKSAAN FISIS
RA : mukosa konka inferior atau media pucat
diliputi sekret hidung seromukoid, udem
atau hipertrofi
PEMERIKSAAN PENUNJANG
Pemeriksaan in Vitro
Pemeriksaan IgE total serum
Pemeriksaan IgE spesifik serum (dengan metode RAST/
Radioallergosorbent test)
Pemeriksaan radiologik
Tes Kulit
DIAGNOSIS BANDING
Rhinitis
vasomotor
Non-alergic rhinitis
eosinophilic
syndrome (NARES).
PENATALAKSANAAN
Non Farmakologi (Penghindaran alergen)
Farmakologi
Immunoterapi
Operatif
FARMAKOLOGI
Antihistamin
Agonis adrenergik alfa ( Dekongestan )
Kortikosteroid
Anti Leukotrien
ANTIHISTAMIN
Lini pertama untuk RA
Antagonis reseptor H1
Efektif untuk menghilangkan gejala rinore dan bersin
sebagai akibat dilepaskannya histamin
Generasi pertama : Sangat efektif, Efek sedasi,daya
kerjanya pendek ( klorfeniramin,difenhidramin)
Generasi kedua : non-sedatif , masa kerja yang
panjang, sebagian menyebabkan gannguan jantung
( astemizol, terfenadin , loratadin )
Feksofenadin dan desloratadin efektif untuk RAP
DEKONGESTAN
Beraksi pada reseptor adrenergik pada mukosa
hidung vasokonstriksi, menciutkan mukosa
yang membengkak,dan memperbaiki pernafasan
sehinggan menghilangkan gejala hidung tersumbat.
Penggunaan secara topikal tidak dianjurkan > 7 hari.
Contoh : Topikal ( fenileprin, efedrin, dan derivat
imidazolin ) , Sistemik ( efedrin, fenil propanolamin,
pseudo-efedrin)
KORTIKOSTEROID
Kortikosteroid intranasal ( budesonide,
beklometason, flutikason, triamsinolon)
Penggunaan secara sistemik dapat dengan
cepat mengatasi inflamasi yang akut
sehingga dianjurkan hanya untuk
penggunaan jangka pendek yakni pada
gejala hidung tersumbat yang berat.
ANTI LEUKOTRIEN
Bertujuan untuk menghambat kerja
leukotrien sebagai mediator inflamasi yakni
dengan cara memblokade resptor leukotrien
atau menghambat sintesis leukotrien.
Contoh : Zafirlukast, Zileuton.
IMMUNOTERAPI
Bersifat kausatif
Imunoterapi merupakan proses yang lambat
dan bertahap dengan menginjeksikan
allergen yang diketahui memicu reaksi alergi
pada pasien dengan dosis yang meningkat
Tujuannya adalah agar pasien mencapai
peningkatan toleransi terhadap allergen,
sampai tidak lagi menunjukkan reaksi alergi
jika terpapar oleh allergen tersebut.
KOMPLIKASI
Polip hidung
Otitis media yang sering residif, terutama
pada anak-anak.
Sinusitis paranasal
PROGNOSIS
Secara umum baik. Penyakit rhinitis alergi ini
secara menyeluruh berkurang dengan
bertambahnya usia
Remisi spontan dapat terjadi sebanyak 15-
25% selama jangka waktu 5-7 tahun
SYUKRON KATSIRAN !