Anda di halaman 1dari 7

DAMPAK IMPOR KEDELAI TERHADAP PRODUKSI KEDELAI

LOKAL DI INDONESIA
Hessy Erlisa Frasti
hessyfrasti@student.uns.ac.id

Dewasa ini, impor merupakan suatu kebutuhan bagi suatu Negara, termasuk di
Indonesia. Indonesia melakukan impor dengan tujuan untuk membantu pemenuhan
kebutuhan masyarakat, baik terhadap barang yang dapat diproduksi sendiri maupun yang
belum mampu diproduksi oleh negara kita. Impor juga dimaksudkan akar tidak terjadi
kelangkaan terhadap suatu barang sehingga tidak terjadi peningkatan harga karena pasokan
(penawaran) barang yang berkurang.
Namun saat ini impor justru menjadi ancaman bagi stabilitas perekonomian nasional.
Penyebabnya adalah terlalu banyak barang impor yang memenuhi pasar dalam negeri, justru
dapat menghambat pemasaran produksi dalam negeri. Alasannya adalah barang impor
cenderung dipasarkan dengan harga yang relatif lebih rendah jika dibandingkan harga barang
yang diproduksi dalam negeri. Soal kualitas, ada yang lebih baik, namun ada pula yang
sebetulnya kurang layak tapi tetap laku di pasaran karena harganya yang jauh lebih murah
dari harga produk buatan dalam negeri.
Kedelai merupakan salah satu komoditi pertanian yang mempunyai pengaruh cukup
besar pada kondisi perekonomian di Indonesia. Luas area penanaman kedelai memang tidak
begitu luas,yaitu kurang dari 5% dari seluruh luas area tanaman pangan di Indonesia. Namun
komoditas ini mempunyai peranan yang sangat sentral dalam ketahanan pangan nasional
mengingat biji kedelai ini digunakan sebagai bahan baku utama dalam produksi makanan,
seperti tempe, tahu, maupun kecap yang memang banyak dikonsumsi oleh masyarakat di
Indonesia. Kedelai merupakan sumber protein nabati utama di Indonesia, namun tidak pernah
menjadi sumber pangan utama, seperti halnya padi.
Luas panen kedelai di Indonesia dari tahun 2005-2011 memang cukup fluktuatif, di
mana di tahun 2005 luas lahan yang ditanami kedelai sebesar 621.541 Ha. Kemudian di tahun
2006 menurun menjadi 580.534 Ha. Di tahun berikutnya, luas lahan yang ditanami kedelai ini
kembali mengalami penurunan seluas 121.418 Ha. Pada tahun2007 ini, luas lahan yang
ditanami kedelai termasuk yang terendah di kurun waktu 7 tahun tersebut. Pada tahun 2008,
luas lahan mengalami kenaikkan, yaitu menjadi 590.956 Ha. Kemudian di tahun 2009, lahan
yang ditanami kedelai mencapai angka tertinggi, yaitu sebesar 722.791, mengalami
peningkatan 22,31% dibandingkan tahun sebelumnya. Di tahun 2010, luas lahan kembali
mengalami penurunan, yaitu sebesar 8,57% dari tahun 2009. Dan di tahun 2011, luas lahan
kedelai kembali mengalami penurunan sebesar 5,84% dari tahun sebelumnya, menjadi hanya
622.254 Ha.
No Tahun Luas Panen
(Ha)
Produkivitas
(Hw/Ha)
Produksi
(Ton)
1 2005 621.541 13,01 808.353
2 2006 580.534 12,88 747.611
3 2007 459.116 12,91 592.534
4 2008 590.956 13,13 775.710
5 2009 722.791 13,48 974.512
6 2010 660.823 13,78 907.031
7 2011 622.254 13,78 851.286
Tabel 1. Luas Panen, Produktivitas, dan Produksi Kedelai Nasional 2005-2011
Dari segi produktivitas, dalam kurun waktu 7 tahun produktivitasnya cenderung
cukup stabil, yaitu berada di kisaran sekitar 12-14% saja. Di tahun 2005 misalnya,
produktivitas kedelainya 13,01% saja. Kemudian di tahun berikutnya, produktivitas kedelai
di Indonesia mengalami kenaikkan yang cukup drastis, yaitu sekitar 1%. Di tahun tersebut
merupakan produktivitas kedelai terendah di Indonesia selama kurun waktu 6 tahun. Di
tahun 2007, produkivitasnya mulai meningkat sebesar 0,23% menjadi 12,91. Pada tahun
2008, terjadi peningkatan yang cukup menggembiraan, di mana saat itu produktivitas kedelai
mencapai angka 13,13. Ternyata peningkatan produktivitas kedelai tidak hanya berhenti
sampai di sana, karena di tahun 2009 terjadi peningkatan produktivitas lagi, menjadi 13,48.
Di tahun berikutnya, produktivitas kacang yang mengandung banyak protein ini kembali
meningkat sebesar 0,3 menjadi 13,78. Sayangnya di tahun 2011 produktivitas kedelai justru
mengaami penurunan sebesar 0.1, menjadi 13.68.
Di sisi produksi, jumlah produksi kedelai di Indonesia pada tahun 2005-2011
cenderung fluktuatif. Di tahun 2005, jumlah produksi kedelai di dalam negeri sebesar
808.353 Ton. Tahun berikutnya justru menurun sebesar 7,51%. Kemudian di tahun 2007,
produksi kedelai dalam negeri mencapai angka terendah, yaitu menjadi 592.534 Ton,
menurun 20,74% dari tahun sebelumnya. Pada tahun 2008, angka produksi kedelai meningkat
pesat, sebesar 30,91% dari tahun sebelumnya. Di tahun 2009, angka produksi kedelai di
Indonesia mencapai puncaknya selama kurun waktu 7 tahun, yaitu sebesar 974.512. Di tahun
2010 dan 2011 produksi kedelai dalam negeri cenderung menurun, yaitu berturut-turut hanya
sebesar 907.031 di tahun 2010 dan 851.286 di tahun 2011.
Ketersediaan pangan dapat dipenuhi dari tiga sumber, yaitu: (1) produksi dalam
negeri; (2) impor; dan (3) pengelolaan cadangan pangan. Apabila suatu negara tidak adapt
memenuhi ketersediaan pangannya dari produksi dalam negeri dan pengelolaan cadangan
pangan, maka untuk memenuhi kebutuhannya negara tersebut harus mengimpor dari negara
lain. Impor adalah suatu perdagangan dengan cara memasukkan barang dari luar negeri ke
dalam wilayah pabean misalnya ke dalam wilayah pabean Indonesia dengan memenuhi
ketentuan yang berlaku. Kegiatan mendatangkan barang maupun jasa dari luar negeri dapat
dipandang sebagai suatu fungsi permintaan. Oleh karena itu Indonesia yang juga melakukan
impor baik terhadap barang-barang maupun jasa-jasa yang dihasilkan oleh negara lain, pada
dasarnya juga telah melakukan suatu permintaan terhadap barang dan jasa tersebut.
Perdagangan diartikan sebagai proses tukar menukar yang didasarkan atas kehendak
sukarela dari masing-masing pihak. Pertukaran yang terjadi karena paksaan, ancaman perang
dan sebagainya tidak termasuk dalam arti perdagangan. Alasan atau motif yang paling nyata
dalam mendorong suatu negara melakukan perdagangan internasional adalah karena setiap
negara tidak menghasilkan semua barang yang dibutuhkan. Suatu negara yang melakukan
perdagangan ini dapat melakukan realokasi sumber daya yang dimilikinya secara lebih
efisien, sehingga negara tersebut dapat memproduksi suatu barang pada tingkat harga yang
lebih rendah dibandingkan dengan negara lainnya, yang pada gilirannya hal ini dapat
meningkatkan jumlah barang yang akan diproduksi dan dikonsumsi, sehingga kesejahteraan
rakyat akan meningkat.
Tahun Luas Panen
(Ha)
Hasil
(Ton/Ha)
Produksi
(Ton)
Impor
(Ton)
Ketergantungan
thd Impor (%)
1989-1993 1.406.224 1,13 1.586.454 520.000 24,69
1993-1997 1.349.303 1,16 1.564.488 692.000 30,67
1998-2002 858.639 1,22 1.041.084 1.106.000 51,51
2003-2007 550.628 1,29 708.716 1.198.374 62,84
2008-2012 632.703 1,36 857.656 1.592.893 65,00
Tabel 2. Ketergantungan Impor Kedelai di Indonesia Tahun 1989-2012
Di Tabel 2 dijelaskan mengenai ketergantungan impor kedelai di Indonesia.
Berdasarkan tabel, angka impor di Indonesia memang cenderung terus meningkat di setiap
periode. Pada tahun 1989-1993 jumlah impor kedelai hanya sebesar 520.000 Ton, namun
meningkat di periode berikutnya, yaitu sebesar 692.000 Ton. Di periode 1998-2002 terjadi
peningkatan angka impor sebesar 414.000 Ton, angka yang cukup besar. Kemudian di
periode 2003-2007, angka impor kedelai meningkat lagi menjadi 1.198.374 Ton. Dan di
tahun 2008-2012 kembali terjadi peningkatan angka impor kedelai di dalam negeri, yaitu
menjadi 1.592.893 Ton.
Ketergantungan impor pun selaras dengan peningkatan angka impor kedelai. Di
periode 1989-1993 sebesar 24,69%, kemudian meningkat menjadi 30,67 di periode
selanjutnya. Pada periode 1998-2002 terjadi peningkatan ketergantungan impor yang cukup
drastis, yaitu naik sebesar hampir 20%. Di 2 periode terakhir, ketergantungan terhadap
kedelai luar negeri kembali meningkat, meski tidak begitu signifikan, yaitu berturut-turut
menjadi 62,84 dan 65,00. Meski angka kenaikkannya tidak begitu signifikan, namun jika kita
lihat besarnya angka ketergantungan ini, kita akan tercengang. Ternyata lebih dari 60%
kedelai yang dikonsumsi masyarakat Indonesia adalah kedelai yang diimpor dari Negara lain,
padahal Indonesia sendiri adalah Negara agraris. Indonesia mempunyai lahan yang luas yang
sangat mungkin jika ditanami kedelai sendiri.
Berbeda dengan ketergantungan impor yang nilainya selaras dengan banyaknya impor
kedelai, produksi kedelai dalam negeri justru sebaliknya. Ketika jumlah impor dan
ketergantungan impor kedelai dari Negara lain justru terus meningkat setiap periodenya,
produksi kedelai dalam negeri cenderung terus menurun di setiap periode. Dari angka
1.586.454 Ton di periode 1989, kemudian menurun menjadi 1.564.488 Ton saja di periode
selanjutnya. Di periode 1998-2002, terjadi penurunan angka produksi dalam negeri, menjadi
sebesar 1.041.084 Ton saja, hal ini mungkin terkait dengan krisis ekonomi yang melanda
dunia di tahun 1998 yang dampaknya masih terasa hingga saat ini. Di periode 2003-2007,
produksi kedelai di Indonesia kembali menurun menjadi 708.716 Ton di periode 2003-2007
dan di periode 2008-2012 produksi kedelai malah membawa kabar gembira, dengan
penigkatan produksi menjadi 857.656 Ton.
Jika diamati angka ketergantungan impor dan jumlah produksi kedelai dalam negeri,
kita akan melihat peningkatan dan penurunan. Di saat angka ketergantungan impor terus
meningkat di setiap periodenya, angka jumlah produksi di dalam negeri justru terus menurun.
Hal ini mungkin dipengaruhi beberapa faktor, seperti harga kedelai impor yang cenderung
lebih murah dibandingkan dengan harga kedelai lokal, sehingga masyarakat lebih memilih
mengkonsumsi kedelai impor daripada kedelai impor. Kemudian di sisi lain, semakin
banyaknya perumahan dan kebutuhan akan tanah yang digunakan untuk membangun
bangunan menajdi penyebab semakin sedikitnya lahan yang bisa digunakan untuk menanam
kedelai. Lebih longgarnya kebijakan impor di Indonesia juga merupakan salah satu faktor
yang turut memperngaruhi penurunan jumlah produksi di dalam negeri.
Dari sisi kebijakan impor yang berlaku di Indonesia, pada tahun 1974-1997 ada
monopoli impor oleh Bulog, saat itu seluruh impor bahan pangan dimonopoli oleh Bulog.
Selain itu, kebijakan lain di masa itu antara lain penetapan tariff bea masuk impor di periode
1981-1993 sebesar 10%, kemudian di periode 1994-1996 justru menurun menjadi 5% saja.
Hal tersebut menyebabkan barang-barang impor, termasuk kedelai membanjiri pasar lokal,
akibatnya produksi kedelai lokal tersendat karena harga kedelai impor lebih murah.
Di tahun 1998, monopoli Bulog dihapus, importir swasta bebas mengimpor. Tarif
impor di tahun 1998-2004 sebesar 0-5%. Dengan tarif impor yang bahkan dibebaskan,
tentulah kedelai impor semakin merajai kedelai yang ada di negeri kita. Ditambah lagi
kebijakan importir swasta bebas mengimpor kedelai. Kedelai lokal semakin terpuruk karena
kedelai impor bebas masuk dengan harga yang relatif lebih murah.
Di tahun 2005-2011 tarif impor kedelai kembali naik menjadi 10%, namun
ketergantungan impor sudah menjadi kebiasaan sehingga ketergantungan ini tetap saja sulit
diatasi. Jika kita lihat, ketergantungan impor di tahun-tahun antara 2005-2011 tetap saja
meningkat mqeskipun tarif impornya menjadi 10%. Selain kebijakan-kebijakan yang telah
dibahas, pada tahun 2008-2012 ada pula kebijakan pemerintah melalui program UPSUS, SL-
PTT, BLBU, CBN, GP3K untuk meningkatkan produktivitas kedelai. Namun tetap saja
belum mampu meredam angka impor kedelai. Bahkan di tahun 2011, tercatat angka
ketergantungan terhadap impor kedelai sebesar 65,00%, artinya sebesar 65% dari kedelai
yang dikonsumsi dalam negeri adalah kedelai hasil impor dari luar negeri.
Adanya impor kedelai yang setiap tahun meningkat ternyata berpengaruh langsung
terhadap produksi kedelai lokal. Hal tersebut terbukti dari adanya Tabel 2 yang menunjukkan
angka ketergantungan impor dan jumlah produksi kedelai lokal (dalam negeri). Jika impor
tidak segera diatasi, maka bukan tidak mungkin kedelai impor terus membanjiri pasar dalam
negeri dan produksi kedelai lokal akan semakin menurun. Memang sudah seharusnya
pemerintah mengambil kebijakan yang membatasi impor di dalam negeri, sehingga produk
luar tidak semakin membanjiri pasar dalam negeri. Jika pasar dalam negeri terus dibanjir oleh
produk impor, maka bukan tidak mungkin kedelai lokal akan punah dan tergantikan oleh
kedelai impor yang lebih murah, akibatnya bisa dibayangkan, jumlah pengangguran akan
semakin meningkat.
Selain pembatasan impor, kebijakan yang lain yang bisa diambil adalah intensifikasi
pada kedelai. Indonesia memiliki lahan yang cukup, bahkan sangat luas, tetapi justru
produksi kedelai kita cenderung lebih rendah jika dibandingkan negara-negara yang memiliki
lahan yang sempit. Penemuan-penemuan baru di bidang pertanian juga dapat membantu
peningkatan produksi kedelai lokal. Selain itu, pemerintah juga harus menjamin harga pupuk
tetap dalam kondisi yang normal sehigga petani kedelai tidak merasa semakin terpojokkan
dengan adanya harga pupuk yang mahal. Harga pupuk yang mahal tentunya akan berdampak
pada mahalnya harga kedelai, dan akan berdampak lagi pada pasar kedelai lokal yang
semakin kalah dengan kedelai impor yang jauh lebih murah.
Kita juga bisa belajar dari negara-negara pengekspor kedelai terbesar di dunia seperti
Amerika Serikat, Argentina, Brazil, India, Malaysia, bakan Singapura yang luas wilayahnya
sangan sempit. Kita harus belajar dari negara-negara tersebut tentang bagaimana cara
pemanfaatan lahan yang minim, namun menghasilkan kedelai yang banyak dan dengan biaya
produksi yang minimal. Sehingga kita pun bisa menaikkan produktivitas kedelai di dalam
negeri dan menurunkan angka impor kedelai dari negara lain. Bahkan bukan tidak mungkin,
melakukan ekspor kedelai ke negara-negara lain, karena pada asalnya kita adalah negara
agraris. Jadi mengapa kita tidak memanfaatkan sektor pertanian sebagai basis ekonomi kita.

DAFTAR PUSTAKA
Amaliyah, Ridha . 2010. Dampak Penerapan Agreement on Agriculture terhadap Ketahanan
Pangan Indonesia: Kasus Kedelai Impor . [online] dalam
http://journal.unair.ac.id/filerPDF/Dampak%20Penerapan%20Agreement%20on%20
Agriculture%20terhadap%20Ketahanan%20Pangan%20Indonesia%20-
%20Kasus%20Kedelai%20Impor.pdf (Diakses 31 Mei 2013 pukul 16.16).

http://tanamanpangan.deptan.go.id/doc_upload/47_Kedelai.pdf (Diakses pada 30 Mei 2013
Pukul 13.04).
Irawan, Andi. 2009. Indonesia Export, Import, and Demand for Domestic Commodities
under Liberalisation. [online] dalam
http://journal.uii.ac.id/index.php/JEP/article/view/2274 (Diakses pada 29 Mei Pukul
20.45).

Zakiah. 2011. Import of Soybean and Its Impact on National Production. [online] dalam
http://jurnal.unsyiah.ac.id/agrisep/article/view/213/199 ( Diakses pada 29 Mei 2013
Pukul 20.21).