Anda di halaman 1dari 10

Definisi

Ptosis merupakan suatu keadaan dimana kelopak mata atas tidak dapat
diangkat atau terbuka, sehingga celah kelopak mata menjadi lebih kecil dibandingkan
dengan keadaan normal ( dropping eye lid ). Keadaan ini dapat pula berupa kelopak
mata yang tidak dapat dibuka.
3,4
Keadaan jatuhnya kelopak mata bagian atas pada bayi yang baru lahir ini
dapat menghalangi pupil dan menghalangi lapang pandang pengelihatan. Pada
keadaan yang sedang hingga berat dapat berujung kepada mata malas yang
mengakibatkan menurunnya fungsi pengelihatan.
5

Keadaan ini dapat terjadi :
- Bilateral atau unilateral
- Seluruhnya atau sebagian
- Kongenital ataupun didapat.
4






Normalnya kelopak mata terbuka 10 mm. ptosis biasanya mengindikasikan
lemahnya fungsi dari otot levato palpebrae superior. Rata rata lebar fisura palpebrae
pada posisi tengah berkisar 11 mm, Panjang fissure palpebra berkisar 28 mm. Rata
rata diameter kornea secara horizontal adalah 12 mm, tetapi vertical 11 mm. Bila
tidak ada deviasi vertical maka refleks cahaya pada kornea berada 5,5 mm dari batas
limbus atas dan bawah.
4

Pada penderita ptosis dapat terlihat dahi yang berkerut dan alis yang terangkat
sebagai usaha untuk melawan jatuhnya kelopak mata tersebut. Pada ptosis partial
terkadang tidak dapat terlihat dengan jelas apabila penderita disuruh untuk melihat
keatas sementara pemeriksa menahan pada daerah alis agar dahinya tidak berkerut.
3,4
Ptosis kongenital adalah suatu ptosis yang didapatkan semenjak lahir yang
bersifat bilateral ataupun unilateral dan dapat bersifat herediter ataupun nonherediter.
Apabila ptosis kongenital mengenai kedua mata maka akan terjadi perubahan bentuk
muka dimana dahi dikerutkan dan posisi kepala mengadah untuk memperoleh
pengelihatan yang jelas.
4


Epidemiologi
Frekuensi dari ptosis kongenital di Amerika Serikat 70 % menyerang pada
satu mata. Dengan tingkat resiko terjadinya Ambylopia meningkat pada ptosis
kongenital pada satu mata. Biasanya ptosis kongenital mulai tampak pada tahun
pertama kehidupan. Dengan perbandiang insdensi antara laki laki dan perempuan
sama. Begitu juga dengan insidensi pada beberapa ras yang berbeda.
5


Etiologi
Keadaan ini seringkali disebabkan oleh tidak berfungsi dengan baiknya fungsi
m. levator palpebra. Lumpuhnya saraf ke III untuk levator palpebrae atau dapat pula
terjadi akibat jaringan penyokong bola mata yang tidak sempurna, sehingga bola mata
tertarik kebelakang atau enoftalmos.
3
Penyebab ptosis dapat berupa :
- Kongenital
- Miogenik
- Neurogenik

Untuk ptosis kongenital dapat bersifat herediter ataupun non herediter. Pada
keadaan herediter maka keadaan tersebut bersifat herediter dominan. Beberpa gen
yang berperan pada terjadinya ptosis kongenital PTOS 1, PTOS 2, ZFH 4 yang
mengarah kepada autosomal dominan yang berdampak ptosis kongenital terisolasi
4

Ptosis kongenital dapat disebabkan :
- Kelainan saraf
- Gangguan kelainan perkembangan
- Kelainan akibat trauma lahir.
4






Pada keadaan yang jarang ptosis kongenital dapat pula disebabkan oleh
paralisis simpatis yang disebut sebagai sindroma horner. Pada keadaan ini biasanya
iris pada mata yang terkena berwarna lebih muda dibandingkan yang lainnya.
4


Patofisiologi
Kelopak mata bagian atas akan terangkat dengan kerja dari m. Levator
Palpebrae. Pada sebagian besar kejadian ptosis kongenital droopy eyelid disebabkan
oleh muscular disgenesis. Kongenital ptosis juga dapat terjadi apabila innervasi dari
m. Levator Palpebrae terputus oleh suatu neurogenik atau disfungsi neuromuscular
junction.
6


Klasifikasi
Klasifikasi derajat ptosis :
- Ptosis ringan j ika batas kelopak mata atas menutupi kornea 1 atau 2
mm
- Ptosis sedang jika menutupi kornea 3 mm.
- Ptosis berat jika menutupi kornea 4 mmt.
4


Manifestasi
Diantaranya :

- Jatuhnya / menutupnya kelopak mata atas yang tidak normal.
- Kesulitan membuka mata secara normal.
- Peningkatan produksi air mata.
- Adanya gangguan penglihatan.
- Iritasi pada mata akibat kornea yang tertekan.
4,5

Pemeriksaan
Ketika melakukan pemeriksaan, yang pertama kali diperhatikan adalah
penyebab dari ptosis itu sendiri. Dibawa sejak lahir atau disebabkan oleh
penyakit tertentu ataudisebabkan oleh trauma.

Kemudian dapat dilakukan beberapa pemeriksaan :
- Tes tajam penglihatan, tes kelainan refraksi .
- Kelainan strabismus / mata juling.
- Produksi air mata (Schirmer test).
- Diameter pupil dan perbedaan warna iris pada kedua mata harus
diperiksa pada kasusHorner Syndrome.
- Foto lama dari wajah dan mata pasien dapat dijadikan
dokumentasi untuk melihat perubahan pada mata.

Diagnosa Banding

Kelopak Bawah Kelopak Atas Kelainan yang
Menyertai
Blefarospasme Getar Getar Mata Kering
Ptosis Kongenital Getar Ptotik sejak lahir Palsi Elevator
Ganda
Ptosis Senil Normal /
Lagoftalmos
Ptotik dan
Dermatokalasis
Nihil
Kelopak Tebal Normal Menebal dan
Indurasi
Lensa Kontak
Hilang
Sindroma Horner Getar Ptosis Stroke dan Migrain
Myasternia Gravis Normal Lelah Kelumehan
Palsy N III Normal Ptotik Pupil Lebar
Jaw Wink Normal Bervariasi Nihil


Tatalaksana
Pada ptosis kongenital maka pengobatan harus dilakukan secepatnya sebelum
penderita berusia satu tahun. Pada keadaan bilateral dapat ditunggu hingga berusia 3
sampai 5 tahun. Jenis pembedahan bergantung pada derajat ptosis yang diderita.
4

Jika fungsi dari levator masih ada maka dapat dilakukan reseksi dan
memajukan insersi dari otot levator palpebrae pada tarsus. Pembedahan ini dapat
dilakukan melalui konjungtiva ataupun melalui kulit.
4
Operasi
Traditional Frontal Sling
Prosedur ini membentuk hubungan antara otot frontal dengan jaringan tarsal
dan epitarsal pada bagian atas dari kelopak mata sehingga memberikan posisi
palpebra yang lebih baik pada tatapan. Keadaan ini memungkinkan kelopak mata atas
untuk mengangkat melalui koontraksi dari otot frontal. Bahan yang digunakan untuk
membuat sling antara otot frontal dan tarsal. Beberapa diantaranya menggunakan
bahan autogenous dan alloplastik material. Resikonya dapat berupa terjadinya
lagophtalmos dan down gaze eye serta dapat pula menimbulkan gangguan kosmetik.
7




Levator Recection and Advancement
Reseksi pada aponeurosis dari levator digunakan untuk koreksi ptosis pada
pasien dengan lebih dari 5 mm. Teknik ini dilakukan dengan paparan pada
aponeurosis levator melalui sisi depan. Insisi biasa dilakukan pada lipatan dari
kelopak mata bagian atas. Metode ini akan menghasilkan elevasi dari bentuk kelopak
mata.dengan secara efektif memendekkan dari otot levator palpebrae. Teknik ini
mempunyai keuntngan dalam menjaga struktur anatomis. Insisi yang dilakukan pun
lebih kecil antara 8 13 mm dimana akan memberikan dampak kosmetik yang lebih
baik.
7



Whitnall Sling
Digunakan untuk mengkoreksi ptosis berat dengan fungsi levator 3 5 mm.
Ligamen whitnall berperan sebagai struktur penyokong pada kelopak mata dan
rongga orbita. Prosedurnya dengan mengambil keuntungan dari struktur pendukung
tersebut. Pada prosedur ini termasuk didalamnya reseksi dari levator aponeurosis dari
ligament whitnall. Komplikasi yang ditimbulkan dapat berupa kontaminasi dari
kornea, lagophtalmos, dan prolaps konjungtiva.
7


Frontalis Muscle Flap
Muscle flap pada otot levator dilakukan pada keadaan ptosis berat dengan
gangguan fungsi dari levator kurang dari 4 mm. Metode ini merupakan ecolusi dai
frontal sling procedure. Prosedur flapnya termasuk peningkatan dari kelopak dan
memasukkan otot frontalis ke tarsal plate. Keuntungan dari tekhnik ini dapat
menghilangkna penggunaan dari jaringan alloplastik atau jaringan autolog untuk
menghubungkan bagian kaudal dari otot frontal ke kelopak mata. Komplikasinya
dapat berupa asimetris pada alis, lagophtalmos, dan over koreksi dari otot frontal
lebih kuat dari otot levator.
7


Komplikasi
Ptosis yang terjadi pada masa perkembangan bayi dapat mengakibatkan
terjadinya ambylopia, yang dapat terjadi pada satu atau kedua mata. Dimana kelopak
mata menutupi visual axis. Ambylopia dari ptosis akan berhubungan dengan
astigmatisma tinggi. Hal tersebut disebabkan oleh tekanan pada kelopak mata yang
seiring dengan berjalannya waktu dapat merubah bentuk dari kornea.
5

Pada keadaan ptosis berat dapat tidak mengganggu perkembangan dan fungsi
visual. Pernyataan tersebut dinyatakan oleh Benerch dan Yasuma. Namun hal
tersebut dibantah oleh Handerson dan Merriam. Karena apabila mengacu kepada hal
tersebut maka tidak ada indikasi pada penanganan ptosis kongenital untuk mencegah
ambylopiadan menunggu waktu yang tepat untuk koreksi kosmetik.
7



Insidensi ambylopia pada populasi umum berkisar 3 %.17 % dari simple
kongenital ptosis. Sehingga dapat disimpulkan bahwa insidensi yang tinggi terhadap
ambylopia didapatkan pada ptosis kongenital.