Anda di halaman 1dari 4

SJSN

Tahunan WHO: Primary Helath Care : Now More Than Ever, pada tahun 2008, menyatakan
secara lugas bahwa negara dengan layanan kesehatan primer yang kuat dan mumpuni mampu
menciptakan sistem layanan kesehatan yang tidak hanya bermutu, namun hemat dalam
pembiayaannya. Pemerintah Indonesia, sebagaimana tercermin dalam UU No 40 tahun 2004
tentang Sistem Jaminan Sosial Nasional (SJSN), telah sadar sepenuhnya dengan peran sistem
pelayanan primer yang vital dalam memenuhi hajat sehat masyarakat luas.
Hampir 10 tahun waktu yang diperlukan untuk mempersiapkan. 1 Januari 2014, Jaminan
Kesehatan Nasional (JKN), salah satu bentuk implementasi SJSN, secara resmi dan bertahap
mulai diselenggarakan secara nasional. JKN merupakan suatu sistem dengan tujuan luhur -
agar semua masyarakat mendapatkan pelayanan kesehatan yang merata dan tidak
diskriminatif. Berdasar peta jalan Jaminan Kesehatan Nasional, 121,6 juta1 masyarakat
Indonesia akan terlayani dan menjadi peserta JKN pada 1 Januari 2014, ketika BPJS (Badan
Pelaksana Jaminan Sosial) Kesehatan pertama kali beroperasi. Untuk melayani semua
pesertanya, JKN menguatkan sistem pelayanan berjenjang, yang terdiri dari pelayanan
primer, pelayanan sekunder pada dokter spesialis, dan pelayanan tersier pada dokter
subspesialis. JKN mengedepankan sistem pelayanan primer yang diharapkan mampu menjadi
ujung tombak penyelenggaraan, menyelesaikan 80% permasalahan, mengupayakan upaya
promotif-preventif, dan sekaligus mencegah kebocoran anggaran.
Program JKN mengedepankan sistem pelayanan primer sekaligus mendayagunakan peran
dokter layanan primer sebagai garda utama sistem pelayanan kesehatan. Mengingat
pentingnya dokter pelayanan primer pada JKN, tentu dibutuhkan suatu daftar kompetensi
terukur dokter layanan primer yang dapat digunakan oleh BPJS. Implikasinya adalah
penyesuaian sistem pendidikan kedokteran terhadap sistem JKN. Pemerintah lantas
berinisiatif untuk merancang produk perundangan, yang salah satu tujuannya,
mengakomodasi proses persiapan dan pendidikan dokter layanan primer melalui pengesahan
UU No 20 Tahun 2013 tentang Pendidikan Kedokteran. UU No 20 tahun 2013
memperkenalkan istilah Dokter Layanan Primer sebagai strata baru pendidikan kedokteran di
Indonesia. Sebagai tambahan, hanya dokter layanan primer, dokter spesialis, dan dokter
subspesialis yang bisa masuk dan berada di dalam sistem Jaminan Kesehatan Nasional.
Kelak, hanya dokter layanan primer dan dokter praktik umum yang telah mengikuti program
yang dapat menjadi dokter-dokter penyedia pelayanan kesehatan primer. Semua dokter-
dokter fresh graduated harus mengikuti pendidikan dokter layanan primer bila ingin menjadi
bagian dari sistem sebagai penyedia pelayanan kesehatan primer. Bila tidak, seorang dokter
praktik umum tanpa kompetensi dokter layanan primer hanya bisa berpraktik swasta di
tengah-tengah sistem JKN yang membuat masyarakat tak perlu membayar tiap kali berobat.

Dokter Praktik Umum dan Dokter Layanan Primer
Selama ini, kita acapkali dibingungkan dengan dua istilah berikut, dokter umum dan dokter
layanan primer. Penggunaan istilah-istilah tersebut sering tumpah tindih dan overlapping.
Pada UU No 20 Tahun 2013, istilah Dokter Layanan Primer tak dideskripsikan secara rinci
dan hanya disebutkan untuk diatur kembali melalui peraturan pemerintah2. Penggunaan
istilah ini penting, mengingat selama ini istilah dokter layanan primer seringkali diidentifikasi
sebagai dokter-dokter lulusan fakultas kedokteran/program studi pendidikan dokter.
Sementara di pasal 8 ayat 3 UU No 20 tahun 2013, dokter layanan primer adalah jenjang baru
pendidikan yang dilaksanakan setelah program profesi dokter dan program interrnship, serta
setara dengan jenjang pendidikan profesi spesialis.
Menurut dr. Sugito Wonodirekso, M.S., DPU, PKK, Ketua Umum Perhimpunan Dokter
Keluarga Indonesia (PDKI), perbedaan dua istilah sebenarnya dapat dilakukan melalui
identifikasi terhadap tingkat pendidikan masing masing3. Lulusan fakultas
kedokteran/program studi pendidikan dokter dapat dianggap sebagai dokter layanan primer
dasar (basic primary care doctor) karena kewenangannya hanya sebatas pelayanan primer.
Mereka sebenarnya dapat juga dianggap sebagai dokter praktik umum atau dalam bahasa
inggris dikenal sebagai General Practitioner. Istilah ini digunakan karena cakupan batasan
pelayanan yang diberikan tidak dibatasi oleh usia, jenis kelamin, sistem organ, dan jenis
penyakit pasien. Istilah dokter praktik umum, dan bukan dokter umum, disepakati untuk
digunakan sebagai terjemahan dari istilah General Practitioner, dalam Muktamar IDI tahun
2000 di Malang. Terkait UU No 20 tahun 2013, perlu ditekankan bahwa sebenarnya dokter-
dokter fresh-graduated adalah dokter layanan primer dasar (basic primary care doctor), yang
memerlukan suatu proses pendidikan lanjutan untuk menjadi dokter layanan primer paripurna
(advanced primary care doctor). Di Inggris dan negara-negara persemakmuran Britania,
proses penddikan lanjutan ini adalah berupa proses magang selama 3 tahun untuk dokter-
dokter lulusan fakultas kedokteran di tempat praktek dokter-dokter senior bersertifikat selama
3 tahun.
Di berbagai kesempatan yang dihadirkan4, pengurus besar PDKI menyampaikan suatu
gambaran proses pendidikan dokter layanan primer paripurna yang berlangsung selama 2
tahun dan 1 tahun masa internship. Gambaran yang disampaikan PDKI bersesuaian dengan
pasal 8 ayat 3 UU No 20 Tahun 2013 bahwa program dokter layanan primer sebagaimana
dimaksud pada ayat (1) merupakan kelanjutan dari program profesi Dokter dan program
internsip yang setara dengan program dokter spesialis.. Gambaran yang disampaikan PDKI
ini disebut sebagai pendidikan generalis, bukan-namun-setara spesialis, bagi dokter-dokter
yang berminat untuk melanjukan studi di pendidikan dokter layanan primer. Gelar yang
rencananya akan diberikan bagi dokter yang telah lulus program pendidikan dokter layanan
primer adalah SpFM (Spesialis Famili Medisin).


1 Januari 2014, yang disetarakan dengan dokter spesialis dan sub-spesialis. Berikut poin-poin
pentingnya yang dapat tercatat.
1. Dokter Layanan Primer diharapkan dapat menjadi dokter yang berperan holistik, bukan
hanya dokter yang berorientasi curative, namun juga berorientasi pada kedokteran keluarga,
kedokteran okupasi, kedokteran komunitas, kemampuan manajerial, kepemimpinan. Selain
itu, Dokter Layanan Primer diharapkan dapat menjadi ahli dalam prediktor based on research
time, epidemiologi, memiliki keahlian khusus sesuai dengan penyakit yang
mewabah/dominan di daerah kerjanya.
2. Dokter umum yang telah lulus ujian kompetensi (sejak Agustus 2013 disebut exit exam),
bahkan yang telah mengikuti Interenship dianggap belum memenuhi kompetensi yang
diharapkan pada sistem Jaminan Kesehatan Nasional.
3. Dokter Layanan Primer diharapkan bisa berperan sebagai gate keeper yang akan
menangani 80% kasusnya sendiri hingga tuntas, sedangkan 20% kasus akan diserahkan ke
pelayanan kesehatan jenjang berikutnya. Hal ini harus dilakukan mengingat akan terjadi
pemborosan biaya apabila setiap kasus yang ditangani harus dirujuk.
4. Dokter Praktek Umum, fresh graduated Fakultas Kedokteran, dianggap sebagai stem cell
yang bisa menjadi apa saja, Peneliti, Klinisi, Dokter Layanan Primer bahkan berkarir di
bidang politik.
5. Dalam Kerangka Kualifikasi Nasional Indonesia Bidang Kedokteran, Dokter Layanan
Primer dimasukan dalam tingkat 8 dimana tingkat 9 merupakan standar tertinggi. Kualifikasi
Sumber Daya Tingkat 8 yang dimaksud mendeskripsikan bahwa Dokter Layanan Primer
dihasilkan melalui Program Pendidikan Dokter Spesialis. Pada Diskusi Publik UU No 20
Tahun 2013 tentang Pendidikan Kedokteran di FKUI, Program Pendidikan Dokter Layanan
Primer disebut sebagai Generalis, bukan spesialis. Pendidikan Generalis, setara dengan
pendidikan spesialis. Penyebutan generalis karena ranah kompetensi Dokter Layanan Primer
tidak tercakup pada sistem organ atau keahlian tertentu saja.
6. Saat bekerja, dibutuhkan pengetahuan bahwa DLP bekerja dalam sistem yang memiliki
clinical pathway. Strata pendidikan baru, salah satunya, diperlukan untuk mendidik dokter
layanan primer yang mengetahui cara kerja sistem Jaminan Kesehatan Nasional. Proses
pendidikan Generalis, Dokter Layanan Primer, akan dibiayai oleh negara. Selain itu, berdasar
pasal 31 Ayat 1 Huruf B UU No 20 Tahun 2013 bahwa setiap mahasiswa program
pendidikan dokter layanan primer, spesialis, dan subspesialis berhak menerima insentif di
Rumah Sakit Pendidikan dan Wahana Pendidikan.
7. Penyelenggaraan Pendidikan Dokter Layanan Primer hanya dapat dilakukan di fakultas
kedokteran yang berakreditasi A yang bisa menyelenggarakan. Hal ini sesuai dengan pasal 8
ayat 1 UU No 20 tahun 2013 bahwa Program dokter layanan primer, dokter spesialis-
subspesialis,dan dokter gigi spesialis-subspesialis sebagaimana dimaksud dalam Pasal 7
ayat (5) huruf b hanya dapat diselenggarakan oleh Fakultas Kedokteran dan Fakultas
Kedokteran Gigi yang memiliki akreditasi kategori tertinggi untuk program studi kedokteran
dan program studi kedokteran gigi.
Berkaitan dengan penyampaian poin-poin tersebut, forum mengajukan berbagai pertanyaan
dan sanggahan terkait Dokter Layanan Primer yang dapat dikerucutkan menjadi tiga poin
utama, yakni Urgensi Strata Baru Pendidikan Dokter Layanan Primer, Keterbatasan Kuota,
Kapitasi, dan Perkembangan sistem Jaminan Kesehatan Nasional.


Urgensi Strata Baru Pendidikan Dokter Layanan Primer
Sesuai dengan pasal 8 ayat 3 UU No 20 tahun 2013, dijelaskan bahwa pendidikan dokter
layanan primer merupakan jenjang pendidikan lanjutan setara spesialis yang dapat diikuti
oleh dokter lulusan program studi pendidikan dokter. Program pendidikan dokter layanan
primer tidak diwajibkan, namun diharuskan untuk dokter-dokter baru lulusan program studi
pendidikan dokter yang menginginkan untuk dibiayai sistem sebagai dokter layanan primer
pada Jaminan Kesehatan Nasional. Diisukan bahwa seluruh biaya pendidikan dokter layanan
primer akan dibiayai oleh negara. Sesuai dengan pasal 31 ayat 1 poin b bahwa peserta
program pendidikan dokter layanan primer, dokter spesialis, dan dokter subspesialis akan
mendapatkan insentif dari rumah sakit pendidikan dan wahana pendidikan. Fenomena yang
terjadi di Indonesia saat ini adalah bahwa meningkatnya jumlah dokter spesialis secara
signifikan. Saat ini, selentingan kalau mau cepat kaya, dokter spesialis dulu diterima sangat
baik di kalangan mahasiswa kedokteran. Hal ini menyebabkan posisi frontliner dokter-dokter
praktik umum sebagai penyedia pelayanan kesehatan primer secara tidak langsung
termarginalkan dan degradasi minat mahasiswa kedokteran. Oleh sebab itu, sesuai dengan
amanat UU No 20 Tahun 2013, bahwa program pendidikan dokter layanan primer akan
menjadi jenjang pendidikan baru setara spesialis.

mengemuka dari beberapa unsur pimpinan dekanat beberapa institusi pendidikan dokter,
Universitas Islam Sultan Agung, Universitas Swadaya Gunung Jati, Universitas Kristen Krida
Wacana, dan Universitas Sriwijaya. Fokus pertanyaan adalah terkait hal-hal berikut.
1. Sosialisasi Program Pendidikan Dokter Layan Primer ke rumah sakit pendidikan. Sampai
saat ini, roadmap tentang pendidikan dokter layanan primer belum jelas dan tertuliskan dalam
peraturan pemerintah manapun (per Oktober 2013). Apabila pendidikan dokter layanan
primer dilaksanakan di rumah sakit pendidikan, tentu akan terjadi permasalahan baru terkait
daya tampung rumah sakit pendidikan.
2. Sosialisasi program penndidikan dokter layanan primer ke orang tua/perwalian mahasiswa.
Adanya jenjang strata baru tentu akan berimplikasi pada rencana masa depan mahasiswa dan
dianggap hanya mempersulit.
3. Berkaca dari hasil Uji Kompetensi, ada kesan bahwa dokter-dokter tamatan program
pendidikan dokter saat ini dianggap tidak kompeten untuk bisa bergabung dalam sistem
Jaminan Kesehatan Nasional sehingga strata baru pendidikan dokter layanan primer dianggap
perlu.