Anda di halaman 1dari 1

Dunia Dalam Kaca

Jika kalian mengira bahwa aku adalah manusia, kalian salah. Aku tidaklah
punya jiwa seperti kalian para pembaca. Aku hanyalah imajinatif seorang penulis
yang berkreasi tanpa batas dan melahirkan aku. Anggaplah aku mempunyai jiwa
dan melihat semua kejadian-kejadian yang dialami oleh majikanku. Aku melihat
semuanya melalui dalam kaca. Ya, aku adalah boneka penguin dalam kaca
bundar yang berisikan air raksa.
Aku pernah berada di tangan seorang anak kecil yang rumahnya terbakar,
aku pernah berada di atas dashboard truk besar dengan supirnya yang jorok,
sempat juga berada di kerumunan para pencuri dan pada akhirnya


Aku dibuat pada pertengahan bulan November, di mana dinginnya kota
Seattle pada waktu itu membekukan para pekerja yang sedang membuat diriku.
Singkat cerita, aku telah dibuat. Dan jadilah boneka penguin dalam kaca bundar
yang berisikan air raksa. Terdapat beberapa buah salju mainan yang diisikan di
dalamnya, jika kalian mengocoknya dengan kuat, salju itu seakan-akan
bertebaran kemana-mana.
Teman-teman ku yang lainnya dikirimkan secara masal ke daerah
Spokane, sebagian ke Kanada dan sebagian lainnya ke Anchorage. Aku dan
beberapa temanku berakhir di New York. Entah kenapa, mungkin sebagian besar
dari diriku dilahirkan dengan berbagai pernak-pernik yang mahal.
Perjalanan dari Seattle ke New York tidaklah singkat. Aku disusun secara
rapi dengan gabus-gabus bulat mengelilingiku. Sebelum masuk ke dalam kardus
yang rapih, aku bisa melihat cap besar bertuliskan NEW YORK di atas kardus.
Jadi, memang ini tidak salah bahwa aku akan dikirim ke New York.
Aku tidak merasakan letih ataupun pegal-pegal seperti kebanyakan
manusia alami jika perjalanan jauh dan melelahkan. Pesawat yang membawaku
sampai tepat pada jam 8 pagi di bandar udara John F. Kennedy di New York
itupun jika perkiraan ku tepat. Segera dengan sigap kardus-kardus yang
berisikan boneka penguin sepertiku lainnya dipisahkan dari kargo pesawat dan
diangkut oleh mobil pengangkut dari area kargo.
Lima dos ini dikirim ke toko mainan di daerah 5th avenue. kata seorang
bersuara bass.
Tidak ada sahutan yang pasti, yang terdengar hanyalah hembusan nafas
dan langkah kaki beberapa orang. Sudah pasti, kita semua tidak lagi naik mobil
namun diangkut oleh beberapa orang.
5
th
avenue. kata seorang pria lainnya. Desahan nafasnya begitu terasa.
Kami di dalam kardus sedikit merasakan guncangan ketika aku yakin
bahwa sekarang berada di dalam truk yang akan membawa kami ke 5
th
avenue.
Tidak begitu yakin berapa yang tersisa dari sepuluh dos yang dikirimkan ke New
York. Yang jelas 5 dos berakhir di 5
th
avenue.