Anda di halaman 1dari 19

1 REFERAT FLUOR ALBUS I Intan Herlina,S.

Ked
BAB I
PENDAHULUAN

I.I Latar Belakang
Leukorea (white discharge, fluor albus, keputihan) adalah nama gejala yang diberikan
kepada cairan yang dikeluarkan dari alat-alat genital yang tidak berupa darah. Leukorea
dapat dibedakan antara leukorea yang fisiologik dan patologik. Dalam kondisi normal,
kelenjar pada serviks menghasilkan suatau cairan jernih yang keluar, bercampur dengan
bakteri, sel-sel vagina terlepas dan sekresi dari kelenjar Bartolin. Selain itu sekret vagina
juga disebabkan karena aktivitas bakteri yang hidup pada vagina yang normal. Pada
perempuan, sekret vagina ini merupakan suatau hal yang alami dari tubuh untuk
membersihkan diri, sebagai pelican dan pertahanan dari berbagai infeksi. Dalam kondisi
normal, sekret vagaina tersebut tampak jernih, putih keruh atau berwarna kekuningan ketika
mengering pada pakaian. Sekret ini non iritan, tidak mengganggu, tidak terdapat darah, dan
memliki pH 3,5-45.
2,3


I.II Tujuan
Tujuan penulisan referat ini adalah untuk mengetahui manifestasi dari Fluor Albus dan
tata laksananya, sehingga bermanfaat bagi pembaca dan penulis dalam menjalankan profesinya
kelak dalam keilmuannya




2 REFERAT FLUOR ALBUS I Intan Herlina,S.Ked


BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

II.I Anatomi

Gambar 1. Anatomi alat kelamin wanita
Genitalia eksterna
1. Vulva
Tampak dari luar (mulai dari mons pubis sampai tepi perineum), terdiri dari mons pubis,
labia mayora, labia minora, clitoris, hymen, vestibulum, orificium urethrae externum, kelenjar-
kelenjar pada dinding vagina.
2. Mons pubis / mons veneris
Lapisan lemak di bagian anterior symphisis os pubis. Pada masa pubertas daerah ini
mulai ditumbuhi rambut pubis.
3. Labia mayora
3 REFERAT FLUOR ALBUS I Intan Herlina,S.Ked
Lapisan lemak lanjutan mons pubis ke arah bawah dan belakang, banyak mengandung
pleksus vena. Homolog embriologik dengan skrotum pada pria. Ligamentum rotundum uteri
berakhir pada batas atas labia mayora. Di bagian bawah perineum, labia mayora menyatu (pada
commisura posterior).
4. Labia minora
Lipatan jaringan tipis di balik labia mayora, tidak mempunyai folikel rambut. Banyak
terdapat pembuluh darah, otot polos dan ujung serabut saraf.
5. Clitoris
Terdiri dari caput/glans clitoridis yang terletak di bagian superior vulva, dan corpus
clitoridis yang tertanam di dalam dinding anterior vagina. Homolog embriologik dengan penis
pada pria dengan panjang 2,5 cm. Terdapat juga reseptor androgen pada clitoris. Banyak
pembuluh darah dan ujung serabut saraf, sangat sensitif.
6. Vestibulum
Daerah dengan batas atas clitoris, batas bawah fourchet, batas lateral labia minora.
Berasal dari sinus urogenital.
7. Introitus / orificium vagina
Terletak di bagian bawah vestibulum. Pada gadis (virgo) tertutup lapisan tipis bermukosa
yaitu selaput dara / hymen, utuh tanpa robekan.
Genitalia interna
1. Vagina
Vagina adalah saluran yang menghubungkan bagian luar tubuh (vulva) dengan rahim dan
bersifat elastis (mudah meregang). Saluran ini memiliki panjang 7-10 cm dan lebar
kurang dari 2,5 cm. Fungsi vagina adalah sebagai tempat terjadinya hubungan seksual
(kopulasi), jalan keluar darah haid dan persalinan.
2. Uterus
4 REFERAT FLUOR ALBUS I Intan Herlina,S.Ked
Rahim (uterus) adalah organ yang berongga dengan dinding otot tebal berlapis tempat
tumbuh kembang janin. Pada saat tidak hamil ukuran rahim sebesar telur ayam dengan
ukuran panjang 7 cm dan berat sekitar 60 gram. Dalam rongga rahim dilapisi oleh selaput
lendir rahim (endometrium) yang berguna sebagai bantalan bagi janin yang tumbuh.
3. Tuba uterina falopii
Saluran telur (tuba uterina falopii) adalah saluran antara rongga rahim dengan indung
telur. Pada bagian ujungnya saluran telur berbentuk seperti jemari disebut fimbria
berfungsi menangkap sel telur yang dilepaskan indung telur saat ovulasi.
Setiap wanita yang normal memiliki sepasang di kiri dan kanan. Panjang masing-masing
saluran ini sekitar 10-12 cm. Saluran telur bagian ujung
4. Ovarium
Indung telur (ovarium) adalah sepasang kelenjar yang berbentuk oval kira-kira sebesar
ibu jari yang merupakan tempat produksi sel telur dan hormon terutama estrogen dan
progesterone

Sistem pembuluh getah bening dan kelenjar getah bening alat kelamin
Labium mayus
Ditampung oleh kelenjar-kelenjar inguinal superfisial medial, kadang-kadang oleh kelenjar-
kelenjar iliaka eksterna
Labium minus
Ditampung oleh kelenjar-kelenjar inguinal superfisial medial, inguinal dalam, dan iliaka eksterna
Kelenjar Bartholin
Ditampung oleh kelenjar-kelenjar vesikel anterior
Klitoris
5 REFERAT FLUOR ALBUS I Intan Herlina,S.Ked
Anyaman pembuluh getah bening dangkal ditampung oleh kelenjar-kelenjar inguinal superfisial
medial dan kelenjar-kelenjar inguinal dalam medial. Anyaman pembuluh getah bening dalam
ditampung oleh kelenjar-kelenjar iliaka eksterna
Uretra
Getah bening uretra ditampung oleh kelenjar-kelenjar inguinal superfisial medial, kelenjar-
kelenjar inguinal dalam, interiliaka, dan gluteal inferior
Ovarium
ditampung oleh kelenjar-kelenjar sepanjang aorta abdominialis
Uterus
Fundus uteri : sama seperti ovarium
Korpus uteri : ke kelenjar-kelenjar sepanjang aorta, kelenjar-kelenjar inguinal superfisial, dan
inter iliakal
Serviks uteri : ke kelenjar-kelenjar iliaka dan kelenjar-kelenjar sepanjang aorta
Vagina
Bagian kranial : beranastomosis dengan serviks uteri lalu ke kelenjar iliaka eksterna dan
interiliaka
Bagaian kaudal : ke kelenjar-kelenjar interiliakal gluteal inferior dan beberapa kelenjar inguinal
superfisial
Bagian dorsal : ke kelenjar anorektal

II.II Definisi
Keputihan (leukorea, fluor albus) merupakan gejala keluarnya cairan dari vagina
selain darah haid. Keputihan (fluor albus) ada yang fisiologik (normal) dan ada yang
patologik (tidak normal). Keputihan tidak merupakan penyakit melainkan salah satu tanda
dan gejala dari suatu penyakit organ reproduksi wanita (Mansjoer, 2001).
6 REFERAT FLUOR ALBUS I Intan Herlina,S.Ked



II.III Epidemiologi
Penelitian secara epidemiologi, fluor albus patologis dapat menyerang wanita mulai
dari usia muda, usia reproduksi sehat maupun usia tua dan tidak mengenal tingkat
pendidikan, ekonomi dan sosial budaya, meskipun kasus ini lebih banyak dijumpai pada
wanita dengan tingkat pendidikan dan sosial ekonomi yang rendah. Fluor albus patologis
sering disebabkan oleh infeksi, salah satunya bakteri vaginosis (BV) adalah penyebab
tersering (40-50% kasus terinfeksi vagina), vulvovaginal candidiasis (VC) disebabkan
oleh jamur candida species, 80-90% oleh candida albicans, trichomoniasis (TM)
disebabkan oleh trichomoniasis vaginalis, angka kejadiannya sekitar 5-20% dari kasus
infeksi vagina (Haryadi, 2011).

II.IV Etiologi
Penyebab Fluor Albus tergantung dari jenisnya yaitu penyebab dari yang fisiologik
dan patologik.
a. Fluor albus fisiologik
Penyebab Fluor albus fisiologik adalah faktor hormonal, seperti bayi baru lahir sampai
umur kira-kira 10 hari disebabkan pengaruh estrogen dari plasenta terhadap uterus dan
vagina janin. Kemudian dijumpai pada waktu menarche karena mulai terdapat pengaruh
estrogen. Rangsangan birahi disebabkan oleh pengeluaran transudasi dari dinding vagina.
Kelelahan fisik dan kejiwaan juga merupakan penyebab Fluor albus. (Sarwono, 2010).

b.Fluor albus patologik
Fluor albus patologik disebabkan oleh karena kelainan pada organ reproduksi wanita
dapat berupa Infeksi, adanya benda asing, dan penyakit lain pada organ reproduksi. Fluor
albus patologis sering disebabkan oleh infeksi, salah satunya bakteri vaginosis (BV),
7 REFERAT FLUOR ALBUS I Intan Herlina,S.Ked
vulvovaginal candidiasis (VC) disebabkan oleh jamur candida albicans, trichomoniasis
(TM) disebabkan oleh trichomoniasis vaginalis. (Haryadi, 2011).

Vaginosis Bakterial
Sejak Gardner mengumumkan bahwa haemophilus vaginalis yang sekarang dikenal
sebagai Gardnerella vaginalis merupakan penyebab penyakit yang disebut Vaginosis bacterial.
Begitu banyak terminologi yang dipakai untuk vaginitis yang disebabkan oleh G. vaginalis,
misalnya haemophilus vaginalis vaginitis, corynebacterium vaginale vaginitis, Gardnerella
vaginalis vaginitis, dll.
1

Epidemiologi
Penyakit vaginosis bakterial lebih sering ditemukan pada wanita yang memeriksakan
kesehatannya. Frekuensi bergantung pada tingkatan sosil ekonomi penduduk, sedangkan kriteria
mikrobiologi dan kimia yang tepat masih belum jelas. Pernah disebutkan sekitar 50% ditemukan
pada pemakai AKDR dan 85% bersama- sama dengan infeksi trichomonas. Pada penggunaan
AKDR ditemukan G.vaginalis dan kuman anaerob negatif- Gram. Hampir 90% laki- laki yang
mitra seksual wanitanya terinfeksi G.vaginalis, mengandung G.vaginalis dengan biotip yang
sama dalam uretra, tetapi tidak menyebabkan uretritis. Pada suatu penyelidikan ditemukan
adanya hubungan antara timbulnya rekurensi setelah pengobatan dengan kontak seksual.
Ditemukannya G.vaginalis sering diikuti dengan infeksi lain yang ditularkan melalui hubungan
seksual. mendapatkan bahwa pembawa kuman G.vaginalis lebih tinggi diantara pria
heteroseksual (14,5%) dibandingkan homoseksual 4,5%. (DAWSON,dkk,)

Etiologi
Gardnerella vaginalis mula- mula dikenal sebagai H.vaginalis atas dasar hasil
penyeilidikan mengenai fenotipik dan asam dioksi-ribonukleat. Tidak mempunyai kapsul, tidak
bergerak, dan berbentuk batang Gram-negatif atau variable Gram, tes katalase, oksidase,
reduksi nitrat, indole, dan urease semuanya negatif. Kuman ini bersifat anaerob fakultatif,
dengan produk akhir utama pada fermentasi berupa asam asetat, banyak galur yang juga
menghasilkan asam laktat dan asam format. Ditemukan juga galur anaerob obligat.
8 REFERAT FLUOR ALBUS I Intan Herlina,S.Ked


Gambar 2. Gambar mikroskopis clue cells Gardnerella vaginalis, diperbesar 400
kali.
6

Patogenesis
Patogenesis vaginosis bacterial sampai sekarang masih belum jelas, tetapi penelitian lain
menyatakan adanya hubungan erat antara vaginosis bacterial dengan G.vaginalis. terjadi
simbiosis antara G.vaginalis sebagai pembentuk asam amino dan kuman anaerob beserta bakteri
fakultatif dalam vagina yang mengubah asam amino menjadi amin sehingga menaikan pH secret
vagina sampai suasana yang menyenangkan bagi pertumbuhan G. vaginalis. Beberapa amin
diketahui menyebabkan iritasi kulit dan menambah pelepasan sel epitel dan menyebabkan duh
tubuh yang keluar dari vagina berbau.
G.vaginalis melekat pada sel-sel epitel vagina in vitro, kemudian menambah deskuamasi
sel epitel vagina sehingga terjadi perlekatan duh tubuh pada dinding vagina. Organisme ini tidak
invasive dan respons inflamasi local yang terbatas dapat dibuktikan dengan sedikitnya jumlah
leukosit dalam secret vagina dan dengan pemeriksaan histopatologi.

Gejala Klinis
Wanita dengan V.B akan mengeluh adanya duh tubuh dari vagina yang ringan atau
sedang dan berbau tidak enak (amis), bau lebih menusuk setelah senggama dan mengakibatkan
darah menstruasi berbau abnormal. Iritasi darerah vagina atau sekitarnya (gatal, rasa terbakar).
Sepertiga penderita mengeluh gatal dan rasa seperti terbakar, dan seperlima penderita mengeluh
9 REFERAT FLUOR ALBUS I Intan Herlina,S.Ked
timbulnya kemerahan dan edem pada vulva. Nyeri abdomen, dispareunia atau nyeri waktu
kencing jarang terjadi.
Pada pemeriksaan sangat khas, dengan adanya duh tubuh vagina bertambah, warna abu-
abu homogen, viskositas rendah atau normal, berbau, dan jarang berbusa. Duh tubuh melekat
pada dinding vagina dan terlihat sebagai lapisan tipis atau kilauan yang difus, pH sekret vagina
berkisar 4,5-5,5. Gejala peradangan umum tidak ada. Terdapat eritem pada vagina atau vulva
atau ptekie pada dinding vagina.


Diagnosis
1. Duh tubuh vagina berwarna abu- abu, homogen dan berbau
2. Pada sediaan basah sekret vagina terlihat leukosit sedikit atau tidak ada, sel epitel banyak dan
adanya kokobasil kecil-kecil yang berkelompok. Gambaran pewarnaan Gram duh tubuh
vagina diklasifikasikan menurut modifikasi criteria SPIEGEL dkk, sebagai berikut:
- Diagnosis vaginosis bacterial dapat ditegakkan kalau ditemukan campuran jenis bacteria
termasuk morfotipe Gardnerella dan batang positif-Gram atau negatif-Gram yang lain
atau kokus atau keduanya. Terutama dalam jumlah besar, selain itu dengan morfotipe
Lactobacillus dalam jumlah sedikit atau tidak ada diantara flora vaginal dan tanpa adanya
bentuk- bentuk jamur.
- Normal kalau terutama ditemukan morfotipe Lactobasillus di antara flora vaginal dengan
atau tanpa morfotipe Gardnerella dan tidak ditemukan jamur.
- Indeterminate kalau diantara criteria tidak normal dan tidak konsisten dengan vaginosis
bacterial.
Pada pewarnaan Gram juga dievaluasi ada atau tidak ada bentuk batang lengkung
Mobilluncus spp.
3. Bau amin setelah diteteskan 1 tetes larutan KOH 10% pada sekret vagina. Tes ini disebut
juga tes Sniff (tes amin)
4. pH vagina 4.5-5,5
5. Pemeriksaan kromatografi
Perbandingan suksinat dan laktat meninggi sedangkan asam lemak utama yang dibentuk
adalah asam asetat
10 REFERAT FLUOR ALBUS I Intan Herlina,S.Ked
6. Pemeriksaan biakan (kultur)
Biakan dikerjakan dengan menggunakan media : agar Casman, dan Protease peptone starch
agar,di butuhkan suhu 37
o
C selama 48-72 jam dengan tambahan CO
2

5%. Koloni sebesar
0,5-2 mm, licin. Opak dengan tepi yang jelas. Dan dikelilingi zona hemolotikbeta. Sebagai
media transfor dapat digunakan media transport Stuart atau Amies.
7. Tes biokimia
Reaksi oksidase, indol, dan urea negative, menghidrolisis hipurat dan kanji. Untuk
konfirmasi harus disingkirkan infeksi karena T.vaginalis dan C.albicans.

Penatalaksanaan
I. Topikal
1. Krim sulfonamide tripel digunakan secara luas setelah penemuan pertama vaginosis
bacterial oleh gardnerella. Penyembuhan dengan menggunakan krim ini berkisar
anatara 14-86%. Perbedaan yang cukup besar ini mungkin disebabkan perbedaan
criteria diagnostic
2. Suposutoria vaginalis yang berisi tetrasiklin memberikan angka penyembuhan sebesar
96%. Ternyata jika di berikan tetrasiklin akan manimbulkan vaginitis yang
disebabkan C.albican
II. Sistemik
Pemberian antibiotic untuk V.B tidak hanya ditujukan untuk eradikasi atau
menurunkan jumlah G.vaginalis dan kuman anaerob vaginal, tetapi juga hendaknya
mempunyai aktifitas minimal terhadap floral vaginal. Antibiotic yang digunakan dalam
pengobatan V.B ialah :
1. Metronidazol dosis 2x500 mg setiap hari selama 7 hari
2. Ampisilin atau amoksisilin dengan dosis 4x500 mg per oral selama 5 hari
memberikan kesembuhan pada 48-100% .
3. Klindamisin 300 mg per oral 2 kali sehari selama 7 hari member angka kesembuhan
hampir sama dengan metronidazol 500 mg per oral 2 kali sehari selama 7 hari.


11 REFERAT FLUOR ALBUS I Intan Herlina,S.Ked

Trikomoniasis
Definisi
Trikomoniasis merupakan infeksi saluran urogenital bawah yang disebabkan oleh
Trichomonas vaginalis dan penularannya biasanya melalui hubungan seksual.
1

Epidemiologi
Angka kejadian di Amerika Serikat sekitar 7.4 juta kasus baru setiap tahun. Angka
pastinya sukar didapat karena kebanyakan kasus ini tidak dilaporkan atau tidak terdiagnosis.
Secara global, WHO memperkirakan terdapat sekitar 180 juta kasus baru tiap tahunnya di
seluruh dunia. Sementara angka prevalensinya bervariasi dari 5% pada klien klinik KB sampai
75% pada pekerja seks.
8


Etiologi
Penyebab trikomoniasis ialah Trichomonas vaginalis yang merupakan satu-satunya
spesies Trichomonas yang bersifat patogen pada manusia dan dapat dijumpai pada traktus
urogenital.
7
Pertama kali ditemukan oleh Donne pada tahun 1836
1,7
, dan untuk waktu yang
lama sejak ditemukannya dianggap sebagai komensal.
7
Trichomonas vaginalis merupakan
flagelata berbentuk filiformis, berukuran 15-18 mikron, mempunyai 4 flagela, dan bergerak
seperti gelombang.
1
Mempunyai membran undulans yang pendek, tidak mencapai dari
setengah badannya.
Pada sediaan basah mudah terlihat karena gerakan yang terhentak-hentak.
Membentuk koloni trofozoit pada permukaan sel epitel vagina dan uretra pada wanita; uretra,
kelenjar prostat dan vesikula seminalis pada pria.
7
Parasit ini berkembang biak secara belah
pasang memanjang dan dapat hidup dalam suasana pH 5-7,5. Pada suhu 50C akan mati
dalam beberapa menit, tetapi pada suhu 0C dapat bertahan sampai 5 hari.
1
Cepat mati bila
mengering, terkena sinar matahari, dan terpapar air selama 35-40 menit.
7
12 REFERAT FLUOR ALBUS I Intan Herlina,S.Ked

Gambar.2 T.Vaginalis

Pathogenesis
Trichomonas vaginalis mampu menimbulkan peradangan pada dinding saluran urogenital dengan cara
invasi sampai mencapai jaringan epitel dan subepitel. Masa tunas rata-rata 4 hari sampai 3 minggu. Pada
kasus yang lanjut terdapat bagian-bagian dengan jaringan granulasi yang jelas. Nekrosis dapat
ditemukan di lapisan subepitel yang menjalar sampai di permukaan epitel. Di dalam vagina dan uretra
parasit hidup dari sisa-sisa sel, kuman-kuman, dan benda lain yang terdapat dalam sekret.
1


Gejala klinis
1. Wanita
Pada kasus yang diserang terutama dinding vagina, dapat bersifat akut maupun
kronis.

Pada kasus akut terlihat sekret vagina seropurulen berwarna kekuning-
kuningan, kuning-hijau, berbau tidak enak (malodorous), dan berbusa. Dinding
vagina dan labium tampak kemerahan dan sembab serta terasa nyeri. Kadang-kadang
juga terbentuk abses kecil pada dinding vagina dan serviks, yang tampak granulasi
berwarna merah dan dikenal sebagai strawberry appearance. Keluhan lain yang
mungkin terjadi adalah dispareunia, perdarahan pascakoitus, dan perdarahan
13 REFERAT FLUOR ALBUS I Intan Herlina,S.Ked
intermenstrual.

Bila sekret banyak yang keluar dapat timbul iritasi pada lipat paha
atau di sekitar genitalia eksterna. Selain vaginitis dapat pula terjadi uretritis,
Bartholinitis, skenitis, dan sistitis yang pada umumnya tanpa keluhan. Pada kasus
yang kronik gejalanya lebih ringan dan sekret vagina biasanya tidak berbusa.
1









Gambar 3. strawberry appearance

2. Laki-laki
Pada laki-laki yang diserang terutama uretra, kelenjar prostat, kadang-kadang
preputium, vesikula seminalis, dan epididimis. Pada umumnya gambaran klinis lebih
ringan dibandingkan dengan wanita. Bentuk akut gejalanya mirip uretritis nongonore,
misalnya disuria, poliuria, dan sekret uretra mukoid atau mukopurulen. Urin biasanya
jernih, tetapi kadang-kadang ada benang-benang halus. Pada bentuk kronik gejalanya
tidak khas; gatal pada uretra, disuria, dan urin keruh pada pagi hari.
1

Diagnosis
Diagnosis kurang tepat bila hanya berdasarkan gambaran klinis, karena Trichomonas
vaginalis dalam saluran urogenital tidak selalu menimbulkan gejala atau keluhan. Uretritis
dan vaginitis dapat disebabkan bermacam-macam sebab, karena itu perlu diagnosis etiologik
untuk menentukan penyebabnya.
1,7

14 REFERAT FLUOR ALBUS I Intan Herlina,S.Ked
Diagnosis trikomoniasis ditegakkan setelah ditemukannya T. vaginalis pada sediaan
langsung (sediaan basah) atau pada biakan duh tubuh penderita.
4
Respon terhadap
pengobatan dapat menunjang diagnosis. UNG yang gagal diobati dengan rejimen yang
efektif terhadap C. trachomatis dan U. urealyticum, namun respon terhadap pengobatan
dengan metronidazol, menunjang diagnosis trikomoniasis.
4

Untuk mendiagnosis trikomoniasis dapat dipakai beberapa cara, misalnya
pemeriksaan mikroskopik sediaan basah, sediaan hapus, dan pembiakan. Sediaan basah
dicampur dengan garam faal dan dapat dilihat pergerakan aktif parasit. Pada pembiakan
dapat digunakan bermacam-macam pembenihan yang mengandung serum.
1

Pemeriksaan Laboratorium
Cara pengambilan spesimen pada wanita, yaitu spesimen berupa hapusan forniks
posterior dan anterior yang diambil dengan lidi kapas atau sengkelit steril. Hendaknya
spekulum yang dipakai jangan memakai pelumas. Pada pria, spesimen yang diambil dengan
mengerok (scraping) dinding uretra secara hari-hati dengan menggunakan sengkelit steril.
Pengambilan spesimen sebaiknya dilakukan sebelum kencing pertama.
4

Bila parasit tidak ditemukan, maka dilakukan pengambilan spesimen berupa sedimen
dari 20 cc pertama urin pertama pagi-pagi. Spesimen tersebut, terutama yang diambil setelah
masase prostat dapat menghasilkan 15% hasil positif pada kasus-kasus yang tidak
terdiagnosis dengan pemeriksaan spesimen uretra. Pada spesimen tersebut dilakukan
pemeriksaan :
4

1. Sediaan Langsung (Sediaan Basah)
Lidi kapas dicelupkan ke dalam 1 cc garam fisiologis, dikocok. Satu tetes larutan
tersebut diteteskan pada gelas objek, kemudian ditutup dengan kaca penutup. Spesimen
pada ujung sengkelit dimasukkan pada satu tetes garam fisiologis yang telah diletakkan
pada kaca objek.
Sebelum diamati sediaan dipanaskan sebentar dengan hati-hati, untuk
meningkatkan pergerakan T. vaginalis. Pada pemeriksaan diperhatikan pula jumlah
leukosit.
15 REFERAT FLUOR ALBUS I Intan Herlina,S.Ked
2. Sediaan Tidak Langsung
Bila pada sediaan langsung tidak ditemukan kuman penyebab, maka dilakukan
biakan pada media Feinberg atau Kupferberg. Biakan diperlukan pada pemeriksaan
kasus-kasus asimtomatik.
Dikemukan bahwa hasil positif pada pemeriksaan sediaan basah pada wanita berkisar
antara 40-80%, sedangkan biakan berkisar antara 95%. Biakan 10-15% lebih sensitif dari
sediaan basah. Berdasarkan hal tersebut biakan masih tetap merupakan pemeriksaan yang
dianjurkan untuk menunjang diagnosis trikomoniasis.
7

Penatalaksanaan
Pengobatan dapat diberikan secara topikal atau sistemik.
(1)
Pengobatan trikomoniasis
harus diberikan kepada penderita yang menunjukkan gejala maupun yang tidak.
(4)

1. Topikal
a. Bahan cairan berupa irigasi, misalnya hidrogen peroksida 1-2% dan larutan asam laktat
4%.
b. Bahan berupa supositoria, bubuk yang bersifat trikomoniasidal.
c. Jel dan krim, yang berisi zat trikomoniasidal.
2. Sistemik
Obat yang sering digunakan tergolong derivat nitromidazol seperti:
a. Metronidazol : dosis tunggal 2 gram atau 3 x 500 mg/hari, selama 7 hari.
b. Nimorazol : dosis tunggal 2 gram.
c. Tinidazol : dosis tunggal 2 gram.
d. Omidazol : dosis tunggal 1,5 gram.
16 REFERAT FLUOR ALBUS I Intan Herlina,S.Ked
Pada waktu pengobatan perlu beberapa anjuran pada penderita:
a. Pemeriksaan dan pengobatan terhadap pasangan seksual untuk mencegah jangan terjadi
infeksi pingpong.
b. Jangan melakukan hubungan seksual selama pengobatan dan sebelum dinyatakan
sembuh.
c. Hindari pemakaian barang-barang yang mudah menimbulkan transmisi.

Kandidosis vulvovaginalis
Definisi
Kandidosis adalah penyakit jamur, yang bersifat akut atau subakut disebabkan oleh
spesies Candida, biasanya oleh spesies Candida Albicans dan dapat mengenai mulut, vagina,
kulit, kuku, bronki, atau paru, kadang-kadang dapat menyebabkan septikimia, endokarditis, atau
meningitis.
Sinonim
Kandidiasis, moniliasis.

Epidemiologi
Penyakit ini terdapat diseluruh dunia, dapat menyerang semua umur, baik laki-laki
maupun perempuan. Namun lebih banyak terkena pada wanita.

Etiologi
Yang tersering sebagai penyebab adalah Candida Albicans yang dapat diisolasi dari kulit,
mulut, selaput mukosa vagina, dan feses orang normal.

17 REFERAT FLUOR ALBUS I Intan Herlina,S.Ked

Patogenesis
Kandidiasis vaginalis merupakan infeksi vagina yang disebabkan oleh Candida sp.
Terutama C. albicans. Infeksi Candida terjadi karena perubahan kondisi vagina. Sel ragi akan
berkompetisi dengan flora normal sehingga terjadi kandidiasis. Hal-hal yang mempermudah
pertumbuhan ragi adalah penggunaan antibiotic yang berspektrum luas, penggunaan kontrasepsi,
kadar estrogen yang tinggi, kehamilan, diabetes yang tidak terkontrol, pemakaian pakaian ketat,
pasangan seksual baru dan frekuensi seksual yang tinggi. Perubahan lingkungan vagina seperti
peningkatan produksi glikogen saat kehamilan atau peningkatan hormone esterogen dan
progesterone karena kontrasepsi oral menyebabkan perlekatan candida albicans pada sel epitel
vagina dan merupakan media bagi pertumbuhan jamur. Candida albicans berkembang baik pada
lingkungan dengan pH5-6,5.

Gejala Klinis
Keluhan utama ialah gatal didaerah vulva. Pada yang berat terdapat pula rasa panas, nyeri
sesudah miksi, dan dispaneuria. Pada pemeriksaan yang ringan tampak hiperemia di labia
menora, introitis vagina, dan vagina terutama bagian bawah. Sering pula terdapat kelainan
yang khas ialah bercak-bercak putih kekuningan.




18 REFERAT FLUOR ALBUS I Intan Herlina,S.Ked

Diagnosis
1. Pemeriksaan langsung
Kerokan kulit atau usapan mukokutan diperiksa dengan larutan KOH 10% atau dengan
pewarnaan gram, terlihat sel ragi, blastospora, atau hifa semu.
2. Pemeriksaan Biakan
Bahan yang akan diperiksa ditanam dalam agar dekstrosa glukosa Sabouraud, dapat pula
dibubuhi antibiotik (kloramfenikol) untuk mencegah pertumbuhan bakteri. Perbenihan disimpan
dalam suhu kamar atau lemari suhu 37
0
C, koloni tumbuh setelah 24-48 jam, berupa yeast like
colony. Identifikasi Candida Albicans dilakukan dengan membiakkan tumbuhan tersebut pada
corn meal agar.

Penatalaksanaan
1. Menghindari atau menghilangkan faktor predisposisi.
2. Topikal :
- Larutan ungu gentian 0,5%-1% untuk selaput lendir, 1-2% untuk kulit, dioleskan 2x1
selama 3 hari.
- Nistatin : berupa krim, salap, emulsi
- Amfoterisin B
- Grup azol antara lain :
Mikonazol 2% berupa krim atau bedak
Klotrimazol 1% berupa bedak, larutan dan krim
Tiokonazol, bufonazol, isokonazol
Siklopiroksolamin 1% larutan, krim
Antimikotik yang lain yang berspektrum luas
3. Sistemik
- kandidosis vaginalis dapat diberikan kotrimazol 500mg per vaginam dosis tunggal,
sistemik dapat diberikan ketokonazol 2x200mg dosis tunggal atau dengan flukonazol
150mg dosis tunggal.
19 REFERAT FLUOR ALBUS I Intan Herlina,S.Ked
- Itrakonazol : bila dipakai untuk kandidosis vulvovaginalis dosis untuk orang dewasa
2x100mg sehari, selama 3 hari.