Anda di halaman 1dari 15

1

MENINGKATKAN HASIL BELAJAR MATEMATIKA MELALUI METODE PENEMUAN


TERBIMBING BERBASIS TEORI BRUNER DALAM MATERI BANGUN RUANG SISI
LENGKUNG SISWA KELAS IXB SMP NEGERI 2 MINASATENE
KABUPATEN PANGKEP

Harwana

Abstrak : Penelitian ini merupakan Penelitian Tindakan Kelas (Clasroom
Action Research), yang dilaksanakan dua siklus dengan materi bangun ruang
sisi lengkung. Subjek penelitian ini adalah siswa kelas IXB SMP Negeri 2
Minasatene Kabupaten Pangkep tahun pelajaran 2012/2013 sebanyak 31
orang. Tujuan penelitian ini adalah meningkatan hasil belajar matematika
melalui metode penemuan terbimbing berbasis teori Bruner. Penelitian ini
menggunakan pendekatan kualitatif dan pendekatan kuantitatif dengan
teknik pengumpulan data melalui lembar observasi dan tes hasil belajar.
Hasil penelitian dengan metode penemuan terbimbing berbasis teori Bruner
menunjukkan bahwa dapat meningkatkan hasil belajar matematika yang
ditunjukkan dengan meningkatnya nilai rata-rata siswa pada siklus I ke
siklus II yaitu 76 menjadi 82 dan meningkatnya nilai jumlah siswa yang
tuntas belajar dari 64,5% menjadi 87,1%.

Kata Kunci : Hasil belajar, penemuan terbimbing, teori Bruner.

Pendahuluan
Pendidikan adalah usaha sadar untuk menumbuhkembangkan potensi sumber daya manusia
melalui kegiatan pembelajaran. Berdasarkan informasi dan diskusi dengan teman-teman guru matematika
di sekolah masih kurang aktif dalam siswa pembelajaran matematika, siswa belum terbiasa untuk
mengungkapkan pendapatnya sendiri, bahkan menemukan sendiri jawaban dari masalah yang dihadapi
juga belum terbiasa. Selain itu masih ada siswa yang kurang tertarik terhadap pelajaran matematika, dan
juga tidak suka terhadap pelajaran matematika.
Namun dibalik semua itu, yang terjadi selama ini adalah masih banyak siswa yang menganggap
bahwa matematika tidaklah lebih sekedar berhitung dan bermain dengan rumus-rumus dan angka-angka.
Saat ini banyak siswa yang hanya menerima begitu saja pengajaran matematika di sekolah, tanpa
mempertanyakan mengapa dan untuk apa matematika harus diajarkan. Tidak jarang muncul keluhan
bahwa matematika hanya membuat pusing siswa dan dianggap sebagai momok yang menakutkan bagi
siswa.
Adapun salah satu penyebab kesulitan pembelajran matematika di SMP, terdapat beberapa
materi pembelajaran yang hanya berhitung dan bermain dengan rumus-rumus dan angka-angka, akan
tetapi dibutuhkan kemampuan dalam mengkomunikasikan pengetahuan awal yang diperoleh dari
kehidupan nyata siswa atau dari topik-topik teori yang dipelajari sebelumnya dengan pengetahuan baru
dalam pembelajaran. Salah satu materi pembelajaran yang dimaksud adalah bangun ruang sisi lengkung.
Salah satu alternative yang dapat meningkatkan hasil belajar dan motivasi siswa untuk belajar matematika
yaitu melalui belajar penemuan. Teori belajar penemuan merupakan suatu metode dalam pembelajaran.
Ide dasar dari teori penemuan ini adalah siswa akan mudah mengingat suatu konsep tersebut mereka
dapatkan sendiri melalui metode belajar penemuan. (Dahar, 1988:121).
Lebih lanjut, Bruner juga memperkenalkan konsep perkembangan kognisi anak-anak yang
mewakili tiga bentuk representasi enaftif, ikonik, dan simbolik. Pada tahap enaktif misalnya, pengetahuan
anak diperoleh dari aktivitas gerak yang dilakukannya seperti pengalaman langsung atau kegiatan konkrit.
Tahap representasi ikonik adalah masa ketika pengetahuan anak diperoleh melalui sajian gambar, atau
grafis lainnya seperti film dan gambar statis. Sedangkan tahap repsentasi simbolik adalah suatu tahap
dimana anak mampu memehami atau membangun pengetahuan melalui proses bernalar dengan
menggunakan symbol bahasa seperti kata-kata atau simbolisasi abstrak lainnya (Ratumanan, 2004:51)
Dengan demikian teori belajar penemuan Bruner sangat menyarangkan keaktifan siswa dalam
proses belajar secara penuh untuk bias menemukan kembali berdasarkan interaksi yang dilakukannya
dengan lingkungannya melalui serentetan pengalaman-pengalaman yang lampau. Menurut (Rochaminah,
2010:126) pembelajaran penemuan berpengaruh terhadap kemampuan berpikir kritis matematis, ditinjau


2

berdasarkan klasifikasi LPTK dan kemampuan akademik mahasiswa calon guru. Kemampuan berpikir
kritis matematis mahasiswa calon guru dari LPTK dengan baik dalam kategori cukup sedangkan
mahasiswa calon guru dari LPTK dengan klasifikasi cukup dalam kategori rendah.
Lebih lanjut menurut Ruseffendi (1988:329) belajar penemuan itu penting, sebab matematika
adalah bahasa yang abstrak dan akan lebih melekat bila melalui metode penemuan.
Belajar melalui metode penemuan berpusatkan pada siswa menyebabkan siswa berkembang
potensi intelektualnya. Dengan menemukan hubungan dan keteraturan dari materi yang sedang dipelajari,
siswa menjadi lebih mudah mengerti struktur materi yang dipelajari. Siswa lebih mudah mengingat
konsep, struktur atau rumus yang telah ditemukan (Rochaminah, 2010:9).
Kurang mampunya siswa mengindentifikasi dan menemukan rumus luas bangun ruang sisi
lengkung, serta menyelesaikan soal cerita yang terkait dengan luas bangun ruang sisi lengkung,
kemungkinan akan berakibat kurangnaya siswa memahami permasalahan-permasalahan dalam kehidupan
sehari-hari yang berhubungan dengan matematika. Adanya permasalahan itu diduga bahwa pembelajaran
kurang bermakna bagi siswa.
Berdasarkan hal tersebut, maka penerapan teori belajar Bruner bisa menjadi alternatif untuk
memberikan pemahaman tentang konsep bangun ruang sisi lengkung secara lebih tepat, karena dalam
pembelajarannya membutuhkan keaktifan siswa. Keterlibatan dan keaktifan siswa dalam pembelajaran
sangat baik bagi pengalaman belajarnya karena menuntut siswa untuk mencari dan menemukan sendiri
konsep bangun ruang yang dipelajari. Untuk mengatasi permasalahan yang diuraikan tersebut, maka
masalah penelitian dirumuskan bahwa apakah terdapat peningkatan hasil hasil belajar matematika
melalui metode penemuan terbimbing berbasis teori Bruner dalam materi bangun ruang sisi lengkung
siswa kelas IXB SMP Negeri 2 Minasatene Kabupaten Pangkep.

Kajian Teori
Beberapa konsep yang berkaitan dalam pembahasan ini adalah belajar matematika, hasil belajar
matematika, pembelajaran matematika melalui penemuan terbimbing, teori belajar penemuan menurut
Jerome S. Bruner, BRSL

Belajar matematika
Belajar menurut Slameto (2010:2) adalah suatu proses usaha yang dilakukan seseorang untuk
memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan, sebagai hasil pengalamannya
sendiri dalam interaksi dengan lingkungannya. Tetapi tidak semua perubahan yang terjadi pada seseorang
merupakan perubahan dalam arti belajar. Perubahan dalam belajar mempunyai ciri-ciri antara lain, terjadi
secara sadar, bersifat kontinu dan fungsional, bersifat positif dan aktif, bertujuan atau berarah, dan
mencakup seluruh aspek tingkah laku.
Secara umum belajar dapat diartikan sebagai terjadinya perubahan pada diri seseorang yang
belajar karena pengalaman. Gagne (dalam Dimyati dan Mudjiono, 2009:12) membagi belajar terdiri atas
tiga tahapan diantaranya adalah tahap persiapan belajar, pemerolehan dan unjuk perbuatan serta alih
belajar. Pada tahap persiapan dilakukan tindakan mengarahkan perhatian, pengharapan dan mendapatkan
kembali informasi. Pada tahap pemerolehan digunakan untuk persepsi selektif, sandi semantik,
pembangkitan kembali dan respons, serta penguatan. Tahap alih belajar meliputi perisyaratan untuk
membangkitkan, pemberlakuan secara umum. Dari tahap-tahap tersebut mempermudah guru melakukan
pembelajaran.
Menurut Piaget (dalam Trianto, 2009:29), perkembangan kognitif sebagian besar ditentukan
oleh manipulasi dan interaksi aktif anak dengan lingkungan. Berdasarkan pengalaman-pengalamannya
dan manipulasi lingkungan penting bagi terjadinya perubahan dan perkembangan. Sedangkan Nur (dalam
Trianto, 2007:14) mengemukakan bahwa interaksi sosial dengan teman sebayanya, khususnya dalam
berargumentasi dan berdiskusi akan membantu memperjelas pemikiran yang pada akhirnya membuat
pemikiran-pemikiran itu menjadi logis. Kedua pendapat ini memandang pentingnya interaksi sosial yang
bersifat aktif dari siswa dengan lingkungannya khususnya temannya sebayanya dalam berdiskusi.
Menurut Suharsimin (dalam Masruhan, 2006:19) mengartikan bahwa belajar merupakan suatu
proses karena adanya usaha untuk mengadakan perubahan terhadap diri manusia yang melakukan, dengan
maksud memperoleh perubahan dalam dirinya, baik berupa pengetahuan, ketrampilan maupun sikap.
Proses belajar oleh Bruner (dalam Nasution, 2006:9) membedakannya pada tiga fase, yakni (1) informasi,
(2) transformasi, dan (3) evaluasi. Ketiga fase ini selalu ada dalam proses belajar.


3

Matematika mempunyai beberapa karakteristik, salah satunya adalah objek kajianya bersifat abstrak.
Menurut Hudojo (1988:3), belajar matematika merupakan kegiatan mental yang tinggi, karena
matematika berkaitan dengan ide-ide abstrak yang diberi simbol-simbol yang tersusun secara hirarkis dan
penalarannya deduktif. Untuk mempelajari matematika haruslah bertahap, berurutan serta berdasarkan
pada pengalaman belajar yang lalu (sebelumnya).
Sejalan dengan itu Sudjadi (dalam Dalyana. 2004:17) menyatakan bahwa untuk dapat
menguasai matematika diperlukan cara belajar berurutan, setapak demi setapak, dan berkesinambungan.
Tiro (2005:134-135) menguraikan secara padat tentang matematika sebagai suatu sistem
aksiomatis yang memiliki karakteristik yaitu (1) terdapat unsur prima (undefined terms) sebagai
komponen utama, (2) seperangkat postulat (unproven statements) juga sebagai suatu komponen, (3)
semua definisi atau teorema dibuat dengan menggunakan unsur prima, postulat, definisi atau teorema
yang sudah ada sebelumnya, dan (4) nilai benar dan salah ditentukan atau diukur oleh hukum-hukum
yang sudah ada. Oleh karena itu, dalam mempelajarinya selain mengacu pada beberapa cara belajar di
atas, diperlukan cara khusus yang tidak sama dengan mempelajari mata pelajaran lain jika diinginkan
hasil yang lebih memuaskan.
Berbagai pendapat di atas menunjukkan bahwa belajar matematika merupakan kegiatan mental
yang tinggi, dilakukan secara berurutan, setapak demi setapak, kontinu, mempunyai keterkaitan antara
satu dengan yang lainnya dan menggunakan pengalaman belajar sebelumnya.

Hasil belajar matematika
Belajar adalah suatu proses yang menghasilkan suatu perubahan. Perubahan perilaku pebelajar
dapat diindikasikan dari hasil belajar yang mereka peroleh. Sudjana (2008:22) berpendapat bahwa hasil
belajar adalah kemampuan-kemampuan yang dimiliki oleh siswa setelah ia menerima pengalaman
belajarnya.
Berdasarkan pengertian hasil belajar yang telah diuraikan, maka hasil belajar adalah ukuran
yang menyatakan seberapa besar tujuan pembelajaran yang telah dicapai oleh siswa setelah melakukan
kegiatan belajar dalam suatu interval atau penggalan waktu tertentu melalui pemberian tes sebagai
evaluasi belajar baik secara lisan ataupun tulisan. Dalam proses belajar mengajar selalu diarahkan agar
mencapai hasil belajar yang optimal dalam mata pelajaran tertentu. Untuk mengetahui ketercapaian hasil
belajar siswa dapat dilakukan dengan evaluasi atau tes.
Sudjana (1989:35) mengemukakan bahwa tes pada umumnya digunakan untuk menilai dan
mengukur hasil belajar siswa terutama hasil belajar kognitif berkenaan dengan penguasaan bahwa
pengajaran sesuai dengan pendidikan pengajaran. Berdasakan uraian di atas, maka yang dimaksud dengan
hasil belajar matematika adalah kemampuan yang dicapai siswa setelah mengikuti proses pembelajaran
yang diperoleh melalui pemberian tes hasil belajar. Secara khusus, hasil belajar matematika adalah
kemampuan siswa dalam memecahkan masalah yang diberikan oleh guru dalam proses pembelajaran atau
melalui pemberian tes pada akhir proses pembelajaran.
Hasil dari proses pembelajaran, selain kemampuan kognitif siswa yang ditunjukkan dengan
kemampuan pemecahan masalah adalah kemampuan afektif yang ditunjukkan dengan rasa senang untuk
belajar dan menggunakan hasil belajarnya dalam kehidupan sehari-hari. Kemampuan afektif tersebut
secara khusus dalam penelitian ini dinamakan disposisi. Untuk mengukur disposisi matematik siswa
misalnya digunakan instrumen berupa angket dan lembar observasi. Penilaian sikap siswa terhadap proses
pembelajaran sangat penting, sehingga Setiap mata pelajaran yang dipelajari pada sekolah tingkatan dasar
sampai tingkatan menengah ada penilaian afektifnya.

Pembelajaran matematika melalui penemuan terbimbing
Belajar matematika memiliki peranan penting dalam berbagai aspek kehidupan. Banyak
permasalahan dan kegiatan dalam hidup kita yang harus diselesaikan dengan menggunakan ilmu
matematika seperti menghitung, mengukur, dan lain-lain. Oleh karena itu diperlukan pemahaman yang
lebih baik tentang bagaimana cara membelajarkan matematika itu pada siswa.
Menurut Hamzah (2003:125), matematika bersifat hierarkis, yaitu suatu materi merupakan
prasyarat untuk mempelajari materi berikutnya. Maksudnya, untuk mempelajari matematika hendaknya
berprinsip pada materi matematika yang disusun menurut urutan tertentu atau tiap topik matematika
berdasarkan subtopik tertentu. Seorang siswa dapat memahami suatu topik matematika jika ia telah
memahami subtopik pendukung atau prasyaratnya, penguasaan topik baru oleh seorang siswa tergantung
pada penguasaan topik sebelumnya.


4

Matematika adalah ilmu universal yang mendasari perkembangan ilmu pengetahuan dan
teknologi modern, memajukan daya pikir serta analisa manusia. Peran matematika dewasa ini semakin
penting, karena banyaknya informasi yang disampaikan orang dalam bahasa matematika seperti, tabel,
grafik, diagram, persamaan dan lainlain. Untuk memahami dan menguasai informasi dan teknologi yang
berkembang pesat, maka diperlukan penguasaan matematika yang kuat sejak dini.
Dalam sebuah artikel yang dibuat oleh Syarif (2009) didefinisikan bahwa matematika adalah (1)
studi pola dan hubungan (study of patterns and relationships) dengan demikian masing-masing topik itu
akan saling terjalin satu dengan yang lain yang membentuknya, (2). Cara berpikir (way of thinking) yaitu
memberikan strategi untuk mengatur, menganalisis dan mensintesa data atau semua yang ditemui dalam
masalah sehari-hari, (3). Suatu seni (an art) yaitu ditandai dengan adanya urutan dan konsistensi internal,
dan (4) sebagai bahasa (a language) dipergunakan secara hati-hati dan didefinisikan dalam teorema dan
simbol yang akan meningkatkan kemampuan untuk berkomunikasi akan sains, keadaan kehidupan ril, dan
matematika itu sendiri, serta (5) sebagai alat (a tool) yang dipergunakan oleh setiap orang dalam
menghadapi kehidupan sehari-hari.
Belajar matematika selama ini masih kurang diminati oleh para siswa, bahkan belajar
matematika seakan menakutkan bagi siswa. Hal ini terjadi karena pembelajaran matematika selama ini
cenderung hanya berupa kegiatan menghitung angka-angka, yang seolah-olah tidak ada makna dan
kaitannya dengan peningkatan kemampuan berpikir untuk memecahkan berbagai masalah.
Keberhasilan proses mengajar matematika tidak terlepas dari persiapan siswa dan persiapan guru. Siswa
yang siap untuk belajar matematika akan merasa senang dan dengan penuh perhatian mengikuti pelajaran
tersebut. Oleh karena itu, guru harus berupaya memelihara dan mengembangkan minat atau kesiapan
belajar siswanya melalui metode penemuan terbimbing.
Mengajar pada umumnya adalah usaha guru untuk menciptakan kondisi atau menata lingkungan
sedemikian rupa, sehingga terjadi interaksi antara siswa dengan lingkungan, termasuk guru, alat pelajaran
dan sebagainya yang disebut proses belajar, sehingga tercapai tujuan pembelajaran yang telah ditentukan.
Mengajar matematika, Sudrajat (dalam Abdi, 2009:20) bahwa pengajar harus mampu memberikan
intervensi yang cocok, bila pengajar itu menguasai dengan baik matematika yang diajarkan.
Jadi, guru harus mampu menguasai materi pelajaran yang diajarkan sebab mengajar pada
hakikatnya suatu proses, yakni proses mengatur, mengorganisasi lingkungan yang ada di sekitar siswa
sehingga dapat menumbuhkan, mendorong dan memberikan bimbingan atau bantuan kepada siswa dalam
melakukan proses belajarnya, mengingat matematika itu adalah pelajaran yang memerlukan pemusatan
pikiran untuk mengingat dan mengenal kembali semua aturan yang ada dan harus dipenuhi untuk
menguasai materi yang dipelajari.
Berdasarkan uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa proses pembelajaran matematika
merupakan suatu kegiatan yang melibatkan guru dan siswa, dimana perubahan tingkah laku siswa
diarahkan pada peningkatan hasil belajar matematika sesuai tujuan yang diharapkan, sedangkan guru
dalam mengajar harus pandai mencari metode pembelajaran yang akan membantu siswa dalam kegiatan
belajarnya misalnya dengan metode penemuan terbimbing.

Teori belajar penemuan menurut Jerome S. Bruner
Teori belajar Bruner yang terkenal adalah teori belajar penemuan (discovery learning). Bruner
(dalam Trianto, 2007:26) menganggap bahwa belajar penemuan sesuai dengan pencarian pengetahuan
secara aktif oleh manusia, dan dengan sendirinya memberi hasil yang paling baik. Dikatakan oleh Dahar
(1988:125), bahwa berusaha sendiri untuk mencari pemecahan masalah serta pengetahuan yang
menyertainya, menghasilkan pengetahuan yang benar-benar bermakna.
Teori Bruner menurutnya, (Dahar, 1988:118) bahwa dalam mempelajari manusia, ia menganggap
manusia sebagai pemroses, pemikir, dan pencipta informasi. Yang penting baginya adalah cara-cara
bagaimana orang memilih, mempertahankan, dan mentransformasikan informasi secara aktif, dan inilah
menurut Bruner inti dari belajar.
Seiring dengan teori belajar bermakna dari Ausubel, teori perkembangan kognitif Piaget, teori
Bruner (Dahar, 1988:119) berdasarkan pada asumsi, yang pertama adalah bahwa pemerolehan
pengetahuan merupakan suatu proses aktif. Keyakinannya bahwa orang yang belajar berinteraksi dengan
lingkungan secara aktif, perubahan tidak hanya terjadi di lingkungan, tetapi juga dalam orang itu sendiri.
Asumsi kedua ialah bahwa orang mengonstruksi pengetahuannya dengan menghubungkan informasi yang
masuk dengan informasi yang disimpan yang diperoleh sebelumnya.


5

Teori Bruner sebagaimana pernyataan-pernyataannya di atas menjelaskan kepada kita bahwa
sesungguhnya belajar itu terjadi pada seseorang apabila dalam diri mereka terjadi proses transformasi
informasi secara aktif, yakni bukan hanya sebagai penerima informasi tetapi lebih dari itu sebagai
pencipta informasi, melalui suatu interaksi aktif dengan lingkungan sehingga terjadi perubahan dalam
dirinya. Belajar akan berhasil apabila memungkinkan terjadinya asosiasi antara pengetahuan yang baru
yang akan dipelajari dengan pengetahuan lama yang telah disimpannya dalam struktur kognitif seseorang,
dan tentunya hal ini terjadi dalam suatu proses belajar yang memberikan kesempatan kepada siswa untuk
melakukan penemuan, penyelidikan, dan eksplorasi sehingga menghasilkan suatu makna.

Bangun Ruang Sisi Lengkung (BRSL)
Konsep adalah ide abstrak yang dapat digunakan untuk mengklasifikasikan suatu obyek termasuk
dalam contoh atau bukan contoh (Soedjadi, 2000:14). Konsep bangun ruang sisi lengkung yang
dimaksudkan dalam tulisan ini adalah bangun ruang yang memiliki sisi atau permukaan berbentuk
lengkungan yang merupakan bahan kajian matematika SMP kelas IX, yang terdiri dari tabung, kerucut,
dan bola sebagaimana dalam standar isi kurikulum pembelajaran matapelajaran matematika tingkat SMP.
Terhadap masing-masing materi pokok itu, diuraikan konsep-konsep yang mengarahkan kepada
pencapaian kompetensi dasar dan standar kompetensi, yang secara operasional dijabarkan sebagai
indikator yang harus dicapai oleh siswa yang belajar materi tersebut.
Setiap konsep yang membangun substansi pengetahuan tentang bangun ruang sisi lengkung
seperti diuraikan di atas, adalah konsep-konsep yang secara elementer akan dikonstruk oleh siswa hingga
didapatkan sebuah batasan formal yang disebut definisi-definisi dan formula-formulanya. Dijelaskan oleh
Soedjadi (2000:14) bahwa Definisi adalah ungkapan-ungkapan yang membatasi suatu konsep. Tinjauan
tentang definisi ini, maka yang akan dikonstruk oleh siswa adalah definisi yang yang digolongkan dalam
definisi analitis, yakni yang menyebutkan genus proksimum dan diffrensia spesifika atau definisi genetik
yang menyebutkan bagaimana konsep itu dibentuk atau terjadi (Soedjadi, 2000:15). Secara rinci uraian
tersebut adalah sebagai berikut.
Diantara berbagai bentuk bangun ruang, dalam matematika khususnya matematika sekolah
jenjang SMP, bangun ruang yang menjadi bahan kajian dalam pembelajaran mencakup bangun ruang
bersisi lurus, yaitu sisinya berupa bidang datar, seperti kubus, balok, prisma, limas, dan bangun ruang
bersisi lengkung. Sebagaimana pengertian bangun ruang tersebut, maka bangun ruang sisi lengkung
adalah bangun ruang yang memiliki sisi atau permukaan berbentuk lengkungan atau bidang lengkung,
baik sebagian atau keseluruhan. Termasuk dalam bangun ruang ini adalah Tabung (Silinder), Kerucut
(Cones), dan Bola (Sphere) (Ilman, dkk., 1970:10; Jurgensen dkk., 1983:367-380).
Sebagai materi pembelajaran matematika di sekolah, bangun ruang sisi lengkung memiliki objek
kajian sebagaimana objek kajian matematika yang mencakup fakta, konsep, prinsip atau teorema,
prosedur yang tidak terlepas dari konsep pada materi matematika yang mendahuluinya. Konsep bangun
ruang sisi lengkung adalah konsep geometri yang tersusun dari konsep geometri pendukungnya seperti
geometri datar dan geometri ruang yang bersisi datar. Dukungan konsep-konsep tersebut sebagaimana
uraian berikut.

a. Tabung
Konsep tabung bisa disusun batasan-batasan konsep berdasarkan ciri-ciri khusus padanya, yang
bisa diidentifikasi secara fisik dari bentuk permukaannya, cara-cara pembentukannya. Berdasarkan cara-
cara pembentukan tabung, tabung adalah bangun ruang yang dibentuk oleh perputaran model bangun
datar persegi panjang dengan poros putaran salah satu sisinya (Ilman dkk., 1970:13). Gambar 5.a berikut
mengilustrasikan konsep tersebut.
Persegi panjang ABCD dengan sisi panjang BC dan AD, sisi lebar AB dan CD diputar dengan
sumbu putaran garis k yang berimpit dengan sisi BC sejauh 360
o
atau lebih, maka terbentuk benda
putaran dengan dengan jari-jari AB = CD dan tingginya BC, serta bidang lengkung dan sisi dasar atau sisi
atas yang menyelimuti ruang, yang menjadi permukaan tabung seperti gambar berikut.


6


(a) (b) (c)
Gambar 1. Pembentukan tabung : (a) pemutaran persegi panjang,
(b) tabung lingkaran tegak, (c) tabung lingkaran tegak
Jika garis bergerak dalam arah vertikal dan garis lengkung berbentuk lingkaran maka
terbentuklah bangun ruang dengan sisi lengkung yang tegak terhadap bidang alas. Dengan demikian
bidang alasnya berbentuk lingkaran yang sejajar dengan bidang atasnya seperti Gambar 1(c).
Berdasarkan cici-ciri tabung, maka dapat diberikan batasan tabung, bahwa tabung adalah benda
berbentuk ruangan (berongga) atau bangun ruang yang memiliki sisi berbentuk bidang lengkung
sepanjang lingkaran pada dasar dan atasnya. Tabung merupakan bangun ruang yang terbentuk dari benda
putaran, yaitu persegi panjang yang diputar dengan salah satu sisinya sebagai sumbu putar. Tabung
adalah prisma tegak yang alasnya berbentuk segi tak hingga atau alasnya berbentuk lingkaran.
Konsep tabung dengan beberapa batasan, ciri, dan unsur-unsurnya melahirkan beberapa prinsip di
dalamnya, yaitu: (1) luas permukaan tabung, dan (2) volume tabung.
Luas permukaan tabung. Sebagai bangun ruang yang memiliki sisi-sisi berbentuk bidang
lengkung sepanjang lingkaran dasar dan atas, maka luas permukaan tabung ditentukan oleh luasan bidang
lengkung yang disebut selimut tabung dan luasan bidang dasar dan atas yang berbentuk lingkaran yang
kongruen. Jika suatu tabung dibuka sepanjang rusuk-rusuknya dan selimut dipotong sepanjang garis
pembentuknya dari dasar hingga atas, maka didapatkan bentangan permukaan tabung yang disebut jaring-
jaring tabung (Ilman dkk., 1970:21; Tim, 2003:104). Luas permukaan tabung dengan tinggi t dan berjari-
jari r ditentukan sebagai berikut:
Luas sisi dasar (alas) = r
2

Luas sisi atas = r
2

Luas selimut tabung = 2r . t
Jadi luas permukaan tabung adalah:
L = Luas sisi alas + luas sisi atas + luas selimut
L = r
2
+ r
2
+ 2rt
L = 2r
2
+ 2rt
L = 2r(r + t)
L = 2r(r + t)

b. Kerucut
Bangun kerucut dapat dibentuk dari beberapa cara pembentukan. Sebagaimana pada tabung,
kerucut dapat terbentuk dari sejumlah garis yang berpotongan pada satu titik dan sepanjang garis
lengkung (tidak sebidang) di luar titik potong tadi (Ilman dkk. 1970 : 28).

Gambar 2. Pembentukan kerucut
A B
C D


7

Apabila garis lengkung yang dimaksud adalah lingkaran dan garis yang menghubungkan pusat
lingkaran dan titik potong semua garis itu tegak lurus, maka bangun yang terbentuk adalah kerucut
lingkaran tegak, seperti gambar berikut.

Gambar 3. Kerucut lingkaran tegak

Perpotongan semua garis pembentuk dalam satu titik potong tersebut menjadi titik puncak
kerucut, sedangkan perpotongan garis-garis pembentuk sepanjang garis lengkung membentuk rusuk pada
sisi dasar (alas). Garis-garis pembentuk yang banyak jumlahnya akan membentuk permukaan lengkungan
sepanjang garis lengkung pada sisi dasar dan semakin ke atas semakin runcing menuju satu titik
puncaknya. Garis-garis pembentuk itu yang disebut sebagai garis pelukis kerucut. Kerucut bisa juga
terbentuk dari suatu proses perputaran bangun datar segitiga siku-siku sejauh satu putaran penuh atau
lebih dengan poros putaran adalah salah satu sisi siku-sikunya (Negoro, 1998:161; Ilman dkk,. 1970:28).
Sisi miring segitiga siku-siku yang diputar dengan sumbu putaran salah satu sisi siku-sikunya,
membentuk permukaan lengkungan yang semakin ke atas meruncing hingga titik puncaknya. Sedangkan
sisi siku-siku lainnya membentuk dasar yang berupa lingkaran putar dari titik sudut lancip segitiga siku-
siku itu. Dengan demikian kerucut yang terbentuk merupakan bangun ruang yang memiliki permukaan
bidang lengkung yang utuh dan meruncing, yang disebut sebagai selimut kerucut dan permukaan dasar
yang berbentuk bidang lingkaran, yang disebut sebagai alas kerucut.
Diantara macam-macam bangun ruang selain kerucut, yang me miliki titik puncak adalah Limas.
Nama limas tergantung dari bentuk dasarnya. Misalnya limas segi tiga, limas segi empat, limas segi lima,
limas segi enam, dan seterusnya. Namanama limas yang berdasar pada bentuk alasnya tersebut adalah
dalam kelompok limas segi beraturan, walaupun sebenarnya banyak limas dengan alas bukan segi
beraturan.
Jika kita pandang limas segi beraturan dengan banyak seginya adalah tak hingga, maka segi
beraturan tak hingga adalah membentuk lingkaran. Artinya limas yang terbentuk adalah limas dengan
dasar berbentuk bidang lingkaran. Ini adalah bangun kerucut. Dengan demikian, sebuah pemikiran yang
mengarahkan pada konsep kerucut adalah konsep limas. Jadi Kerucut dapat dipandang sebagai limas yang
alasnya berbentuk bidang lingkaran. Pemikiran ini relevan dengan pandangan Jurgensen dkk (1983:367),
Salamah (2007:45), dan Tim (2003:111), bahwa rumus-rumus untuk limas juga diterapkan pada kerucut.
Beberapa konsep dalam kerucut tersebut menjadi dasar bagi pemerolehan prinsip-prinsip yang
dalam standar isi kurikulum pendidikan matematika jenjang SMP/MTs.
Luas permukaan kerucut adalah banyaknya satu satuan luas yang memenuhi seluruh permukaan
kerucut. Permukaan kerucut terdiri dari selimut kerucut dan bidang alas kerucut. Untuk menentukan luas
permukaan kerucut, yang perlu dilakukan adalah menganalisa masing-masing bagian permukaan kerucut.
Sebagaimana digambarkan Ilman (1970:43), maka analisa permukaan kerucut bisa dilakukan
dengan membuat jaring-jaring kerucut, yakni memotong bidang-bidang permukaan kerucut sepanjang
rusuk alasnya dan salah satu garis pelukisnya.

Gambar 4. Jaring-jaring kerucut


8

Jika tinggi kerucut t, jari-jari alasnya R dan panjang garis pelukisnya s, jaring-jaring kerucut
dapat direpresentasikan sebagai berikut:

Gambar 5. Jaring-jaring kerucut lingkaran tegak
Untuk menghitung luas permukaan kerucut, maka jaring-jaring kerucut itu dapat diuraikan
menurut selimut kerucut dan bidang alasnya. Bentangan selimut kerucut adalah bidang berbentuk juring
lingkaran dengan jari-jari s dan pusat lingkaran T, panjang garis busurnya adalah sama dengan keliling
bidang lingkaran alas (yang berjari-jari R), yaitu 2R. Dengan memotong-motong juring tersebut menurut
juring-juring kecil, dan kemudian menyusunnya kembali sehingga didapatkan bangun baru sebagai
pendekatan, yaitu persegi panjang dengan panjangnya adalah panjang busur ACB dan lebarnya sama
dengan s (garis pelukis kerucut).
Berdasarkan gambar 6, maka luas permukaan kerucut terdiri dari luasan selimut kerucut dan
luasan bidang alas kerucut. Jadi, Luas permukaan kerucut yang alasnya berjari-jari R, panjang garis
pelukisnya s adalah :
L = Luas Selimut Kerucut + Luas Bidang Alas Kerucut
L = Luas persegi panjang ABCD + Luas Lingkaran O
L = (Panjang x Lebar) + R
2

L = ( 2R x s) + R
2
L = Rs + R
2

L = R (s + R)

c. Bola
Konsep bola dalam pengkajian geometri dapat didekati melalui beberapa pendekatan. Sebagai
bangun ruang, bola merupakan benda berongga yang dibatasi oleh permukaanya yang berupa lengkungan
sempurna yang dinamakan bentuk bundar. Dengan permukaannya itu dapat dengan jelas kedudukan suatu
titik di luar bola, dalam bola atau pada permukaan bola.

Gambar 6. Pembentukan bola

Jika sebuah model busur setengah lingkaran dengan garis tengahnya diputar sepanjang garis
tengah tersebut, maka terbentuk benda putaran yang disebut bola (Negoro, 1998:46; Ilman dkk.,
1970:63). Karena pada garis tengahnya terdapat titik pusat lingkaran dimaksud, maka dalam bola terdapat
sebuah titik tengah yang menjadi pusat bola. Jika dipandang permukaannya sebagai himpunan titik-titik
pada bidang lengkung tersebut, maka bola adalah himpunan titik-titik dalam ruang yang berjarak sama
terhadap satu titik tetap, yaitu pusatnya (Ilman dkk., 1970:62). Gambar 11 di atas ilustrasi pembentukan
bidang bola atau permukaan bola.
Sesuai proses pembentukan bidang bola tersebut, maka sebuah bidang bola adalah tempat
kedudukan titik-titik yang berjarak sama (= OB = r) dari sebuah titik tertentu (O = titik pusat). Dan


9

sebuah bola adalah benda ruang yang dibatasi oleh bidang bola. Sesuai batasan bola ini, maka dapat
diuraikan beberapa unsur-unsur bola, yaitu: (1) Pusat bola adalah titik O, (2) Jari-jari bola (R) atau OB,
(3) Diameter bola yaitu AC,(4) Permukaan bola, bidang , yaitu bidang bola sendiri atau yang disebut
kulit bola. Lebih lanjut, prinsip-prinsip yang dapat dilahirkan dari konsep bola adalah luas permukaan
bola.
Luas permukaan bola merupakan luasan dari bidang bola, yaitu sebuah bidang yang membatasi
letak suatu titik di luar bola dengan di dalam bola. Luas permukaan bola disebut sebagai luas bola.
Mengacu pada pengertian luasan suatu bidang, maka luas bola adalah banyaknya satu satuan luas yang
memenuhi bidang bola tersebut. Untuk mendapatkan luas bola ini bisa dilakukan melalui beberapa
pendekatan baik secara deduktif maupun secara induktif.
Secara deduktif, luas bola diturunkan dari proses berikut (Jurgensen dkk., 1983:373). Kita
bayangkan sebuah bola karet yang memiliki ketebalan t dan jari-jari bagian dalamnya adalah r .

Gambar 7. Lilitan tali pada bola dan tabung

Dengan menggunakan prinsip kekekalan luasan, luasan permukaan bola yang direpresentasikan
oleh tali dipindahkan ke permukaan tabung dengan jari-jari sama dengan jari-jari bola dan tingginya
adalah 2r. Dengan demikian, luas permukaan bola ditentukan sebagai berikut :
Luas permukaan bola = luas selimut tabung
= 2r x t
= 2r x 2r (t = 2r)
= 4r
2

Percobaan lain bisa juga dilakukan dengan menggunakan obyek konkret yang berupa bola plastik
atau benda lain yang menyerupai bola, misalnya buah jeruk. Mengapa buah jeruk? Buah jeruk memiliki
kulit yang bisa dikupas dan dapat ditempelkan kembali sesuai dengan tujuan percobaan (Soedjadi,
2007:73). Begitu pula model bola plastik, misalnya.
Percobaan dengan model bola yang memakai buah jeruk sebagai idealisasi bola, dapat dilakukan
dengan membelah jeruk tersebut menjadi dua bagian sama (menurut bidang tengahnya), dan penampang
jeruk yang berupa bidang lingkaran adalah model yang menjadi dasar tempat penempelan ulang kulit
jeruk yang dipotong-potong kecil. Dengan penempelan ini, kulit setengah jeruk dapat memenuhi
sebanyak dua lingkar an tersebut. Artinya luas permukaan setengah jeruk (setengah bola) sama dengan
dua kali luas lingkaran yang jari-jarinya sama dengan jari-jari jeruk (bola). Gambar berikut adalah
ilustrasi percobaan menempel kulit jeruk pada lingkaran yang jari-jarinya sama dengan jari-jari bola
jeruk.

Gambar 8. Tempelan kulit jeruk

Sesuai ilustrasi di atas, dapat diturunkan hubungan bahwa luas permukaan setengah bola sama
dengan dua kali luas daerah lingkaran. Jika jari-jari bola adalah r, dan juga jari-jari lingkaran, maka secara
matematis dapat dituliskan sebagai berikut :
Luas Permukaan Bola = 2 x Luas Lingkaran


10

= 2 x r
2

= 2r
2

Luas 1 Permukaan Bola = 2 x 2r
2

= 4r
2

Pelaksanaan Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan di SMP Negeri 2 Minasatene pada kelas IXB tahun pelajaran
2012/2013. Jumlah siswa pada kelas IXB pada waktu diobservasi adalah 31 orang. Secara rinci
pelaksanaan penelitian untuk dua siklus ini sebagai berikut. Siklus I (minimal 3 kali pertemuan) dan
Siklus II (minimal 3 kali pertemuan): Tahapan-tahapan penelitian pada siklus I dan II adalah
(1) Tahap Perencanaan, (2) Tahap Tindakan, (3) Obsevasi,dan (4) Tahap refleksi

Teknik pengumpulan data
Teknik pengumpulan data yang dilakukan dalam penelitian ini adalah data mengenai
kemampuan guru dalam mengelolah/melaksanakan kegiatan pembelajaran, diperoleh dari lembar
pengamatan pengelolaan pembelajaran dan data dari hasil belajar matematika siswa diperoleh dari hasil
tes yang diberikan pada setiap akhir siklus.

Teknik analisis data
Analisis data dilaksanakan berdasarkan data yang terkumpul yaitu dianalisis secara kualitatif
dan kuantitatif. Hasil analisis digunakan untuk menjawab rumusan masalah.

Analisis data hasil belajar matematika
Analisis dilakuakan terhadap nilai/skor yang diperoleh siswa dari tes hasil belajar yang diberikan
setelah dilakukan kegiatan pada setiap siklus. Analisis hasil belajar siswa diarahkan pada pencapaian
secara indivual dan secara klasikal, dengan ketentuan bahwa, seorang siswa dikatakan mencapai
ketuntasan minimal secara individual jika ia memperoleh nilai tes hasil belajar minimal 67. Selanjutnya
pembelajaran dikatakan tuntas secara klasikal, jika minimal 85% siswa mencapai ketuntasan minimal.

Indikator keberhasilan
a. Bila terjadi peningkatan skor rata-rata, dan terjadi peningkatan jumlah siswa yang mencapai
ketuntasan hasil belajar. Berdasarkan ketentuan minimal yaitu 67, secara klasikal jika 85% dari jumlah
siswa yang tuntas belajar.
b. Bila terjadi perubahan positif siswa dari siklus I ke siklus II setelah dilaksanakannya proses belajar
mengajar dengan menggunakan metode penemuan terbimbing.

Hasil Penelitian Siklus I
a. Perencanaan
Pada tahap perencanaan siklus I peneliti menelaah silabus pada Kurikulum Tingkat Satuan
Pendiddikan (KTSP) materi pemebelajaran matematika kelas IX SMP dengan materi bangun ruang sisi
lengkung. Hasil telaah ini ditetapakan 3 sub materi yang dijadikan sebagai bahan pembelajaran selama 3
kali pertemuan pada siklus I ditambah 1 kali pertemuan untuk evaluasi. Pada pertemuan pertama bahan
pembelajarannya adalah identifikasi tabung. Pada pertemuan kedua identifikasi kerucut dan pertemuan
ketiga identifikasi bola.
Setelah itu peneliti membuat rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP) yang sesuai dengan
metode penemuan terbimbing untuk dijadikan sebagai pedoman dalam melaksanakan pembelajaran di
kelas. Selanjutnya peneliti membuat lembar kerja Siswa (LKS) yang memuat kompetensi dasar, indikator,
materi pokok, dan beberapa soal. Selain itu peneliti merangcang soal-soal yang diberikan kepada siswa
dalam bentuk uraian singkat. Pemberian soal ini merupakan alat evaluasi yang bertujuan untuk mengukur
hasil belajar siswa pada setiap pertemuan.
b. Pelaksanaan Tindakan
Pelaksanaan pembelajaran dilaksanakan selama tiga kali pertemuan, yaitu tanggal 18, 21, dan 25
September 2012. Terlibat dalam pelaksanaan tindakan adalah dua orang guru yang berperan sebagai



11

observer yang membantu guru peneliti melakukan pengamatan dan pengumpulan data menggunakan
instrumen yang sudah dirancang.
c. Observasi dan Evaluasi
1) Analisis data secara kualitatif
Kegiatan observasi dan evaluasi dilakukan untuk mengumpulkan data proses pelaksanaan
tindakan dan dampak-dampaknya selama proses pembelajaran berlangsung dan hasil belajar, serta faktor
lain yaitu respon siswa terhadap pembelajaran yang sudah dijalaninya.
Pada awal pelaksanaan pembelajaran siklus pertama, diperoleh data hasil observer, mengenai
kemampuan guru dalam melaksanakan pembelajaran dengan menggunakan metode penemuan
terbimbing. Berdasarkan pengamatan bahwa, secara umum kemampuan guru dalam mengelola
pembelajaran sudah berjalan dengan baik, namun masih terdapat beberapa hal yang perlu dilakukan
perbaikan. Kedua pengamat bersama-sama menilai bahwa, guru meskipun sudah menyampaikan tujuan
pembelajaran tetapi belum jelas bagi siswa. Selain itu juga menilai bahwa, pemberian motivasi dan
apersepsi oleh guru belum tepat sasaran. Itulah beberapa hal yang penting untuk diperbaiki dalam
pembelajaran oleh guru yang menggunakan metode penemuan terbimbing berbasis teori Brunner.
Selama pembelajaran berlangsung pengamat juga memperhatikan kegiatan siswa. Berdasarkan
lembar observasi kegiatan siswa pada awal siklus pertama diperoleh data bahwa, secara umum siswa
memberikan perhatian seadanya terhadap penyampaian tujuan pembelajaran, penyampaian motivasi dan
apersepsi, pengorganisasian materi, serta pembuatan rangkuman hasil pemebelajaran. Pada pertemuan
pertama belum ditemukan berjalan optimal, namun pada pertemuan kedua sudah mulai berkembang.
Beberapa indikator siswa mulai percaya diri ditunjukkan oleh adanya keinginan siswa dalam menjelaskan
kepada temannya yang lain tanpa rasa takut salah. Dari pertemuan pertama dan seterusnya sampai
pertemuan ketiga pada siklus pertama, terjadi perubahan-perubahan pada guru dalam mengelolah
pembelajaran, pada siswa dalam kegiatan pemebelajaran
2) Analisis data secara kuantitatif
Setelah diterapakan tindakan pembelajaran pada siklus I berupa pembelajaran dengan metode
penemuan terbimbing selama 3 kali pertemuan. Pada pertemuan keempat 28 September 2012
dilaksanakan tes hasil belajar siswa siklus I. Adapun hasil analisis deskriptif terhadap nilai perolehan
siswa setelah diterapakan metode penemuan terbimbing pada siklus I siswa kelas IXB, disajikan pada
tabel berikut.
Tabel 4.1 Statistik nilai tes hasil belajar pada siklus I.
Statistik Nilai Statistik
Subjek 31
Nilai ideal 100
Nilai tertinggi 100
Nilai terendah 54
Nilai rata-rata 76

Jika niali hasil belajar siklus I dari siswa yang menjadi objek penelitian dikategorikan ke dalam
lima kelas interval berdasarkan pengkategorian yang dikemukan pada Bab III, maka diperoleh tabel
distribusi dan persentase nilai tes sebagai berikut:

Tabel 4.2. Distribusi frekuensi dan persentase hasil belajar pada siklus I
No Rentang Nilai Kategori Frekuensi Persentase (%)
1 84-100 Sangat Tinggi 13 42%
2 68-83 Tinggi 7 22,5%
3 51-67 Sedang 11 35,5%
4 34-50 Rendah 0 0
5 0-33 Sangat rendah 0 0
Jumlah 31 100

Berdasarkan tabei 4.1 dan 4.2, diperoleh informasi tentang hasil belajar siswa pada siklus I yaitu
42% atau 13 orang yang hasil belajarnya berada pada kategori sangat tinggi, 22,5% atau 7 orang siswa


12

hasil belajarnya berada pada kategori tinggi, 35,5% atau 11 orang siswa hasil belajarnya berada pada
kategori sedang, tidak ada pada kategori rendah, dan sangat rendah.
Dari sudut pandang ketuntasan belajar secara kuantitatif. Pada siklus I ketuntasan belajar
matematika siswa kelas IXB SMP Negeri 2 Minasatene dapat dilihat pada table berikut:

Tabel 4.3 Deskripsi ketuntasan belajar matematika pada siklus I
KKM Kategori Frekuensi Persentase
67 Tidak tuntas 11 35,5%
67 Tuntas 20 64,5%

Berdasarkan pada Tabel 4.3 di atas tampak bahwa dari 31 siswa kelas IXB SMP Negeri 2
Minasatene yang dites pada siklus I, terdapat 11 orang siswa atau 35,5% siswa belum mencapai nilai
KKM (tidak tuntas) dan 20 orang siswa atau 64,5% orang siswa yang telah mencapai nilai KKM (tuntas).
Hal ini menunjukkan bahwa ketuntasan belajar secara klasikal belum tercapai, karena jumlah siswa yang
mencapai ketuntasan belajar masih kurang dari 85%.
Hasil Penelitian Siklus II
a. Perencanaan
Pada tahap perencanaan siklus II peneliti telah menetapkan 3 materi bangun ruang sisi lengkung
yang ditelaah pada perencanaan siklus I. tiga materi tersebut diselesaikan 3 kali pertemuan ditambah satu
kali pertemuan untuk evaluasi pada siklus II. Pertemuan pertama bahan pembelajarannya adalah
menemukan luas sisi tabung. Pada pertemuan kedua bahan pembelajarannya adalah menemukan luas sisi
kerucut. Pada pertemuan ketiga bahan pembelajarannya adalah menemukan luas sisi bola.
Setelah itu peneliti menggunakan pada siklus kedua ini semua perangkat pembelajaran lanjutan
dari siklus I berupa RPP dan LKS dan semua perangkat penelitian berupa lembar observasi pelaksanaan
pembelajaran dengan metode penemuan terbimbing berbasis teori Bruner.

b. Pelaksanaan tindakan
Tahap tindakan pada siklus II terdiri dari 3 kali pertemuan pembelajaran ditambah 1 kali
pertemuan untuk evaluasi hasil belajar matematika dengan metode penemuan. Tiap pertemuan
pembelajaran mempunyai tujuan yang diharapkan dari siswa. Secara berurutan, tujuan-tujuan yang ingin
dicapai setelah pertemuan adalah siswa dapat menemukan luas bangun ruang sisi lengkung.
Peneliti yang berlaku sebagai guru pemberi tindakan mengikuti tahapan-tahapan pembelajaran
pada RPP. Tetapi ada beberapa hal yang perlu diperhatikan selama siklus II yaitu sebagaimana yang
direkomondasikan pada bagian akhir siklus I.

c. Pelaksanaan observasi dan evaluasi
1) Analisis data secara kualitatif
Masih seperti pada siklus I, peneliti masih diobservasi oleh dua orang guru. Kedua guru tersebut
mengobservasi tentang pelaksanaan pembelajaran.
Pada siklus II, diperoleh data hasil observasi atau pengamatan observer, mengenai kemampuan
guru dalam melaksanakan pembelajaran dengan menggunakan metode penemuan terbimbing berbasis
teori Bruner. Berdasarkan hasil pengamatan bahwa kemampuan guru dalam mengelola pembelajaran
sudah berjalan dengan baik. Salah satu indikatornya adalah bertambah meningkatnyan aktivitas siswa.
Beberapa hal yang perlu dilakukan perbaikan dari siklus I sudah berjalan dengan lancar. Kedua pengamat
bersama-sama menilai bahwa, guru sudah menyampaiakan tujuan pemebelajaran dan menjelaskan dengan
jelas kepada siswa. Pengamat juga menilai bahwa, pemberian motivasi dan apersepsi oleh guru sudah
tepat sasaran dan menarik bagi siswa.
Berdasarkan lembar observasi kegiatan siswa pada siklus II diperoleh data bahwa, siswa sudah
memberikan perhatian yang serius terhadap penyampaian tujuan pembelajaran, penyampaian motivasi
dan apersepsi dan, pengorganisasian materi. Pada tahapan terakhir proses pembelajaran siswa mampu
membuat rangkuman meskipun dengan arahan dari peneliti.

2) Analisis data secara kuantitatif
Setelah diterapkan tindakan pembelajaran hasil perbaikan pada siklus I selama tiga kali
pertemuan. Pada pertemuan keempat hari jumat 12 Oktober 2012 dilaksanakan tes hasil belajar


13

matematika. Adapun hasil analisis deskriptif terhadap nilai perolehan siswa pada siklus II, di sajiakan
pada table berikut.

Table 4.4 Statistik nilai hasil belajar matematika pada siklus II.
Statistik Nilai Statistik
Subjek
Nilai ideal
Nilai terendah
Nilai tertinggi
Nilai rata-rata
31
100
62,5
100
82

Jika nilai hasil siklus II dari siswa yang menjadi subjek penelitian dikategorikan ke dalam lima
kelas interval berdasarkan pengkategorian yang dikemukakan pada Bab III, maka diperoleh table
distribusi dan persentase nilai tes sebagai berikut.

Table 4.5. Distribusi frekuensi dan persentase hasil belajar pada siklus II
No Rentang Nilai Kategori Frekuensi Persentase (%)
1 84-100 Sangat Tinggi 14 45,2%
2 68-83 Tinggi 12 38,7%
3 51-67 Sedang 5 16,1%
4 34-50 Rendah 0 0
5 0-33 Sangat rendah 0 0
Jumlah 31 100

Berdasarkan tabei 4.4 dan 4.5, diperoleh informasi tentang hasil belajar siswa pada siklus II yaitu
45,2% atau 14 orang yang hasil belajarnya berada pada kategori sangat tinggi, 38,7% atau 12 orang siswa
hasil belajarnya berada pada kategori tinggi, 16,1 % atau 5 orang siswa hasil belajarnya berada pada
kategori sedang, dan tidak ada pada kategori rendah dan sangat rendah.
Apabila niali tes hasil belajar siklus I dibandingkan dengan siklus II maka terjadi peningkatan-
peningkatan di antaranya pada nilai rata-rata dari 76 menjadi 82, jumlah siswa yang memperoleh nilai
pada kategori sangat tinggi yaitu dari 13 orang menjadi 14 orang, dan niali terendah dari 54 menjadi 62,5
Dari sudut pandang ketuntasan belajar secara kuantitatif. Pada siklus II ketuntasan belajar
matematika siswa kelas IXB SMP Negeri 2 Minasatene dapat dilihat pada tabel berikut:

Tabel 4.6. Deskripsi ketuntasan belajar matematika pada siklus II
KKM Kategori Frekuensi Persentase
67 Tidak tuntas 27 87,1%
67 Tuntas 4 12,9%

Berdasarkan table 4.6 di atas tampak bahwa dari 31 siswa kelas IXB SMP Negaeri 2 Minasatene
yang dites pada siklus II, terdapat 4 orang atau 12,9% siswa yang belum mencapai nilai KKM (tidak
tuntas) dan 27 orang siswa atau 87,1% siswa yang telah mencapai nilai KKM (tuntas). Hal ini
menunjukkan bahwa ketuntasan belajar secara klasikal sudah tercapai, karena jumlah siswa yang
mencapai ketuntasan belajar lebih dari 85%.

d. Refleksi
Berdasarkan rangkaian kegiatan pada silklu II, mulai dari perencanaan tindakan, pelaksanaan
tindakan, observasi, dan evaluasi semua mengalami kemajuan kearah positif yang signifikan. Kegiatan
pembelajaran oleh guru maupun siswa sudah berjalan sesuai dengan rencana pembelajaran penemuan
terbimbing berbasis teori Bruner. Nilai rata-rata siswa yang merupakan gambaran hasil belajar
matematika sudah berada pada kategori tinggi yaitu 82. Ketuntasan belajar pada siklus II sudah mencapai
87,1% atau 27 orang siswa dinyatakan telah tuntas belajar dan 12,9 atau 4 orang siswa dinyatakan belum
tuntas.
Dari data nilai hasil belajar matematika siswa siklus I ke siklus II ada beberapa yang perlu
diuraiakan. Hampir semua siswa mengalami peningkatan pada nilai yang diperoleh. Ada empat siswa
yang mengalami penurunan yaitu (1) Kamaruddin yang memperoleh nilai dari 79 menjadi 76.5, (2) Muh.


14

Rusli yang memperoleh nilai dari 88 menjaidi 83.5, (3) Sukran yang memperoleh nilai dari 88 menjaidi
84, dan (4) Suriati yang memperoleh nilai dari 83 menjaidi 82. Berdasarkan hasil wawancara singkat
peneliti dengan keempat siswa tersebut mengatakan bahwa pada saat pembelajaran merasa kurang sehat
setelah mengikuti kegiatan ekstrakurikuler di sekolah.
Apabila dicermati proses pembelajaran yang menggunakan metode penemuan dan hasil belajar
yang dicapai, yaitu dari siklus I ke siklus II, yang ditunjukkan oleh analisis hasil observasi dan hasil tes
hasil belajar, telah mengalami peningkatan. Oleh karena itu peneliti tidak perlu lagi melanjutkan proses
pemeblajaran pada siklus berikutnya.
Pembahasan Hasil Penelitian
Pada bagian ini peneliti membahas hasil penelitian tindakan kelas yang telah dilaksanakan selama
2 siklus di kelas IXB SMPN 2 Minasatene Kabupaten Pangkep tahun pelajaran 2012/2013. Ada dua
komponen yang menjadi hasil dari penelitian ini yaitu (1) keterlaksanaan proses pembelajaran dengan
metode penemuan terbimbing berbasis teori Bruner, dan (2) hasil belajar matematika. Keduan komponen
tersebut akan dibahas berikut ini:

1. Keterlaksanaan proses pembelajaran dengan metode penemuan terbimbing berbasis
teori Bruner
Keterlaksanaan proses pembelajaran dapat dilihat dari kegiatan yang telah dilakukan oleh guru
dan kegiatan apa pula yang telah dilakukan siswa. Keduanya berjalan beriringan, yang berarti bahwa
kalau guru memberikan tindakan maka siswa memperhatikan dengan serius penjelasan tersebut.
Berdasarkan lembar observasi pengamat secara umum menilai bahwa proses pembelajaran
dengan metode penemuan terbimbing sudah dilaksanakan dengan baik. Hal ini diperkuat oleh semakin
tingginya tingkat rata-rata ketuntasan yang diselesaikan oleh siswa dari pertemuan awal sampai ke
pertemuan-pertemuan berikutnya.

2. Hasil belajar matematika dengan metode penemuan terbimbing berbasis teori Bruner
Hasil belajar matematika dalam penelitian ini mengacu pada hasil analisis data tes pada materi
BRSL. Data tes hasil belajar matematika diperoleh dari tes pada siklus I dan siklus II.
Pada tes hasil belajar siklus II jumlah siswa 31 orang, nilai rata-rata hasil belajar adalah 82 dari
nilai ideal 100 dengan nilai tertinggi 100 diperoleh 5 orang siswa dan nilai terendah 62.5 diperoleh 5
orang siswa. Setelah nilai siswa dikelompokkan ke dalam lima kategori maka 14 orang siswa berada pada
kategori sangat tinggi, 12 orang berada kategori tinggi, dan 5 orang siswa berada pada kategori sedang.
Untuk kategori rendah dan sangat rendah tidak ada. Berdasarkan kriteria ketuntasan belajar bahwa siswa
dinyatakan tuntas mempelajari luas apabila memperoleh nilai 67 (nilai KKM). Dari data hasil tes
belajar siklus II diperoleh 4 orang siswa atau 12,9% belum tuntas dan 27 orang siswa atau 87,1% sudah
tuntas. Hal ini berarti pada siklus II, secara klasikal ketuntasan belajar sudah dicapai karena >85% siswa
sudah tuntas.
Berdasarkan hasil belajar analisis data tersebut di atas, terlihat terjadi peningkatan hasil belajar
matematika. Hal ini ditunjukkan oleh meningkatnya nilai rata-rata hasil belajar siswa dan semakin
banyaknya siswa yang mencapai nilai ketuntatasan belajar dari siklus I ke siklus II.

Kesimpulan
Kesimpulan yang dapat ditarik dari penelitian ini adalah (1) meningkatkan kemampuan siswa
dalam pembelajaran matematika dengan metode penemuan terbimbing berbasis teori Bruner pada materi
bangun ruang sisi lengkung dengan memberikan penjelasan tentang tujuan pembelajaran, penyampaian
motivasi dan apersepsi yang tepat dan menarik. (2) Melalui metode penemuan terbimbing berbasis teori
Bruner dapat meningkatkan hasil belajar matematika.

Saran
Berdasarkan kesimpulan yang dikemukakan di atas, maka terdapat saran yang perlu
disampaiakan adalah : (1) Pembelajaran matematika melalui metode penemuan terbimbing berbasis teori
Bruner dalam pembelajaran disarankan (a) sehubungan dengan tujuan pembelajaran untuk tidak sekedar
menyampaikan tetapi hendaklah untuk menjelaskannya, (b) memberikan motivasi dan apersepsi yang
tepat dengan materi yang diberikan kepada siswa, (c) bimbinglah siswa dalam menyelesaikan kesulitan
dengan memberikan pertanyaan-pertanyaan yang mengarah pada penyelesaian, bukan memberikan


15

jawaban atas kesulitan, (2) Agar hasil belajar matematika siswa mencapai hasil maksimal, diharapakan
penelitian ini seyogyanya juga dilakukan pada materi yang lain, (3)Untuk penelitian selanjutnya, bagi
peneliti yang berminat mengembangkan penelitian yang sama, hendaklah mencermati keterbatasan
penelitian ini, sehingga hasil penelitian dapat lebih berkualitas dan lebih sempurna.
Daftar Rujukan
Abdi, I Nyoman. 2009. Efektifitas Pembelajaran Matematika Disertai Penyajian Metafora pada Siswa
Kelas VII SMP Negeri 3 Ladongi Kolaka.
Alwi, Hasan. 2001. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka.
Dahar, R.W. (1988). Teori-teori Belajar. Jakarta: Departemen P dan K Direktorat Jenderal Tinggi Proyek
Pengembangan Lembaga Pendidikan tenaga Kependidikan
Dimyati dan Mudjiono. 2009. Belajar dan Pembelajaran, Jakarta: Rineka Cipta.
Hudojo, H. 1988. Mengajar Belajar Matematika. Jakarta: Depdikbud.
Ilman, Oetjoep M, dkk. 1970. Ilmu Ukur Ruang Djilid 3 Untuk Kelas III. Djakarta: Widjaja Djakarta.
Jurgensen, Ray C., dkk. 1983. Geometry. Teachers Edition. Boston: Houghton Mifflin Company.
Nasution, S. 2006. Berbagai Pendekatan dalam Proses Belajar dan Mengajar. Jakarta: Bumi Aksara.
Nurdin. 2007. Model Pembelajaran Matematika yang Menumbuhkan Kemampuan Metakognitif untuk
Menguasai Bahan Ajar. Disertasi tidak diterbitkan. Surabaya: PPs UNESA.
Ratumanan, T.G. 2004. Belajar dan Pembelajaran. Surabaya: Unesa University Press
Rochaminah, Sutji. 2010. Penggunaan Metode Penemuan untuk Meningkatkan Kemampuan Berpikir
Kritis Matematis Mahasiswa Keguruan. Makalah. Online. (http://www.puslitjaknov.
Depniknas.go.id/data/file/ 2010/makalah_peserta/.pdf) Diaskes tanggal 18 september 2010.
Ruseffendi, E.T. (1988). Pengantar kepada Membantu Guru Mengembangkan Kompetensinya dalam
Pendidikan Matematika unruk meningkatkan CBSA. Bandung: Tarsito.
Slameto. 2010. Belajar & Faktor-Faktor yang Mempengaruhinya. Jakarta: Rineka Cipta.
Soedjadi, R.. 2000. Kiat Pendidikan Matematika di Indonesia. Jakarta: Ditjen Dikti Depdiknas.
Sudjana, Nana. 1989. Penilaian Hasil Proses Belajar Mengajar. Bandung: Remaja Rosdakarya.
Sudjana, Nana. 2008. Penilaian Hasil Proses Belajar Mengajar. Bandung: Remaja Rosda Karya.
Tiro, M. A. 2005. Mencari Kebenaran: Suatu Tinjauan Filosofi. Edisi kedua. Makassar: Andira
Publisher.
Trianto. 2007. Model-model Pembelajaran Inovatif Berorientasi Konstruktivistik. Jakarta: Prestasi
Pustaka Publisher.
Upu. Hamzah. 2003. Problem Posing dan Problem Solving dalam Pembelajaran Matematika. Bandung:
Pustaka Ramadhan.