Anda di halaman 1dari 21

Kesehatan Mental

Disusun Oleh :
Choirun Nisa Wijyanti (11511637)




Universitas Gunadarma
2013
A. Konsep Sehat Dimensi

Emosi
Chaplin (1989) dalam Dictionary of Psychology mendefiniskan emosi sebagai suatu keadaan
yang tersangsang adari organism mencakup perubahan-perubahan yang disadari, yang
mendalam sifatnya dari perubahan perilaku.
Dilihat dari segi perkembangan manusia bahwa emosi sebagai perasaan atau afeksi yang
timbul ketika seseorang sedang berada dalam suatu keadaan atau suatu interaksi yang
dianggap penting olehnya. Dan emosi juga merupakan reaksi subjektif terhadap pengalaman
yang diasosiasikan dengan perubahan fisiologis dan perilaku manusia. Terdapat tiga dasar
emosi, yaitu cinta, takut, dan marah. Kita mencintai hal yang membuat kta senang, takut
kalau ada hal yang mengancam rasa aman kita, dan marah kalau ada yang mengganggu atau
menghambat jalan dan usaha untuk mencapai apa yang kita inginkan. Ketiga dasar emosi ini
diturunkan dan bersifat universal.
Terdapat tiga ciri perilaku dan pemikiran pada rang yang emosinya disebut matang, yaitu
memilik disiplin diri, detrminasi diri, dan kemandirian. Seseorang yang memiliki disiplin diri
dapat mengatur dirinya, hidup teratur, menaati hukum dan peraturan. Orang yang memiliki
determinasi diri akan dapat membuat keprusan sendiri dalam memecahkan suatu masalah dan
melakukan apa yang telah diputuskannya. Ia tidak mudah menyerah dan akan mengganggap
masalah baru lebih sebagai tantangan daripada sebagai ancaman. Individu yang mandiri akan
berdiri di atas kakinya sendiri. Ia tidak banyak menggantungkan diri pada orang bmbingan
orang laindan kendali orang lain, melainkan lebih mendasarkan diri pada kemampuan,
kemauan dan kekuatan diri sendiri. Orang yang sehat secara emosi dapat terlihat dari
kestabilan dan kemampuannya mengontrol dan mengekspresikan perasaan (marah, sedih atau
senang) secara tidak berlebihan. Mampu mendidiplikan diri.
Intelektual
Dikatakan sehat secara intelektual yaitu jika seseorang memiliki kecerdasan dalam kategori
yang baik mampu melihat realitas. Memilki nalar yang baik dalam memecahkan masalah atau
mengambil keputusan.

Sosial
Manusia merupakan makhluk sosial, yang tidak sekedar mau dan bersedia serta mampu
bekerja untuk mencapai prestasi yang lebih tinggi dari pada dikerjakan sendiri, melainkan
juga karena tidak dapat bertahan hidup sendiri. Manusia adalah makhluk solider bukan soliter.
Menurut Edam. C, Sosial adalah cara tentang bagaimana para individu saling berhubungan.
Salah satunya dengan proses sosial, dimana dengan cara interaksi sosial. Kesehatan sosial
akan terwujud apabila seseorang mampu berhubungan dengan orang lain atau kelompok lain
secara baik, tanpa membedakan ras, suku, agama atau kepercayan, status sosial, ekonomi,
politik, serta saling toleran dan menghargai. Kesehatan sosial terwujud apabila seseorang
mampu berhubungan denganorang lain atau kelompok lain secara baik, tanpa membedakan
ras, suku,agama atau kepercayan, status sosial, ekonomi, politik, dan sebagainya, sertasaling
toleran dan menghargai.
Fisik
Kesehatan fisik terwujud apabila sesorang tidak merasa dan mengeluh sakit atau tidak adanya
keluhan dan memang secara objektif tidak tampak sakit. Semua organ tubuh berfungsi
normal atau tidak mengalami gangguan.
Spiritual
Spiritual sehat tercermin dari cara seseorang dalam mengekspresikan rasa syukur, pujian, dan
kepercayaan. Spiritual sehat tercermin dari cara seseorang dalam mengekspresikan rasa
syukur, pujian, kepercayaan dan sebagainya terhadap sesuatu di luar alam fanaini, yakni
Tuhan Yang Maha Kuasa (Allah SWT dalam agama Islam). Misalnya sehat spiritual dapat
dilihat dari praktik keagamaan seseorang. Aspek spiritual juga dapat terlihat dari bagaimana
seseorang menjalani kehidupannya, mencakup nilai dan keyakinan yang dilaksanakan,
hubungan dengan keluarga atau teman, dan kemampuan mencari harapan dan arti dalam
hidup. Spiritual bertindak sebagai suatu tema yang terintegrasi dalam kehidupan seseorang.
Spiritual seseorang akan mempengaruhi cara pandangnya terhadap kesehatan dilihat dari
perspektif yang luas.
Fryback (1992) menemukan hubungan kesehatan dengan keyakinan terhadap kekuatan yang
lebih besar, yang telah memberikan seseorang. keyakinan dan kemampuan untuk mencintai.
Kesehatan dipandang oleh beberapa orang sebagai suatu kemampuan untuk menjalani
kehidupan secara utuh. Pelaksanaan perintah agama merupakan suatu cara seseorang berlatih
secara spiritual.
Orang-orang yang sehat secara spiritual adalah orang-orang yang menyerahkan diri kepada
agama kepercayaannya masing-masing, dan kondisi jiwa dan id mereka secara rohani di
anggap sehat karena mereka mempunyai pikiran yang jernih dan tidak melakukan hal-hal
dalam luar batas dan juga berpikir secara rasional.
Mental
Dalam kesehatan mental atau bisa juga disebut dengan kesehatan jiwa yaitu suatu keadaan
yang memungkinkan perkembangan fisik, intelektual dan emosional yang optimal dari
seseorang dan perkembangan itu berjalan selaras dengan keadaan orang lain (pasal 1 UU
No.3 tahun 1966 tentang kesehatan mental).
B. Teknik Perkembangan Kepribadian

a. Erik Erikson
Pemikiran erikson yang sangat terkenal adalah tentang krisis identitas. Ia menyatakan bahwa
pada tahap perjuangan psikososial akan membentuk kontribusi pada pembentukan
kepribadian. Dari remaja hingga seterusnya, perjuangan itu berbentuk krisis identitas dimana
adanya titik balik dalam hidup seseorang yang dapat memperkuat atau memperlemah
kepribadiannya. Ada delapan tahap perkembangan menurut erikson :
a) Basic Trust vs Bsic Mistrust (0-1 thn)
Kebutuhan akan rasa aman dan ketidakberdayaan menyebabkan konflik yang dialami oleh
anak dalam tahap ini adalah kepercayaan. Bila rasa aman terpenuhi, maka akan berkembang
pula kepercayaan nya pada lingkungan. Dan sebaliknya bila terganggu dengan lingkungan,
maka akan sulit untuk mengembangkan kepercayaan. Kepercayaan ini akan terbina dengan
baik apabila dorongan oralis pada bayi terpuaskan, misalnya untuk tidur dengan tenang,
menyantap makanan dengan nyaman dan tepat waktu, serta dapat membuang kotoron
(eliminsi) dengan sepuasnya.
Oleh sebab itu, pada tahap ini ibu memiliki peranan yang secara kwalitatif sangat
menentukan perkembangan kepribadian anaknya yang masih kecil. Apabila seorang ibu bisa
memberikan rasa hangat dan dekat, konsistensi dan kontinuitas kepada bayi mereka, maka
bayi itu akan mengembangkan perasaan dengan menganggap dunia khususnya dunia sosial
sebagai suatu tempat yang aman untuk didiami, bahwa orang-orang yang ada didalamnya. Ibu
memegang peranan penting pada masa ini.
b) Autonomy vs Shame & Doubt (1-3 thn)
Pada masa ini sampai batas-batas tertentu anak sudah bisa berdiri sendiri, dalam arti duduk,
berdiri, berjalan, bermain, minum dari botol sendiri tanpa ditolong oleh orang tuanya, tetapi
di pihak lain dia telah mulai memiliki rasa malu dan keraguan dalam berbuat, sehingga
seringkali minta pertolongan atau persetujuan dari orang tuanya.
Pada tahap kedua adalah tahap anus-otot (anal-mascular stages), masa ini biasanya disebut
masa balita yang berlangsung mulai dari usia 18 bulan sampai 3 atau 4 tahun. Tugas yang
harus diselesaikan pada masa ini adalah kemandirian (otonomi) sekaligus dapat memperkecil
perasaan malu dan ragu-ragu. Apabila dalam menjalin suatu relasi antara anak dan
orangtuanya terdapat suatu sikap/tindakan yang baik, maka dapat menghasilkan suatu
kemandirian. Namun, sebaliknya jika orang tua dalam mengasuh anaknya bersikap salah,
maka anak dalam perkembangannya akan mengalami sikap malu dan ragu-ragu. Dengan kata
lain, ketika orang tua dalam mengasuh anaknya sangat memperhatikan anaknya dalam aspek-
aspek tertentu misalnya mengizinkan seorang anak yang menginjak usia balita untuk dapat
mengeksplorasikan dan mengubah lingkungannya, anak tersebut akan bisa mengembangkan
rasa mandiri atau ketidaktergantungan. Pada usia ini menurut Erikson bayi mulai belajar
untuk mengontrol tubuhnya, sehingga melalui masa ini akan nampak suatu usaha atau
perjuangan anak terhadap pengalaman-pengalaman baru yang berorientasi pada suatu
tindakan/kegiatan yang dapat menyebabkan adanya sikap untuk mengontrol diri sendiri dan
juga untuk menerima control dari orang lain. Misalnya, saat anak belajar berjalan, memegang
tangan orang lain, memeluk, maupun untuk menyentuh benda-benda lain.
c) Initiative vs Guilt (4-5 thn)
Masa pra sekolah (Preschool Age) ditandai adanya kecenderungan initiative guilty. Pada
masa ini anak telah memiliki beberapa kecakapan, dengan kecakapan-kecakapan tersebut dia
terdorong melakukan beberapa kegiatan, tetapi karena kemampuan anak tersebut masih
terbatas adakalanya dia mengalami kegagalan. Kegagalan-kegagalan tersebut menyebabkan
dia memiliki perasaan bersalah, dan untuk sementara waktu dia tidak mau berinisatif atau
berbuat.
Tahap ketiga ini juga dikatakan sebagai tahap kelamin-lokomotor (genital-locomotor stage)
atau yang biasa disebut tahap bermain. Tahap ini pada suatu periode tertentu saat anak
menginjak usia 3 sampai 5 atau 6 tahun, dan tugas yang harus diemban seorang anak pada
masa ini ialah untuk belajar punya gagasan (inisiatif) tanpa banyak terlalu melakukan
kesalahan. Masa-masa bermain merupakan masa di mana seorang anak ingin belajar dan
mampu belajar terhadap tantangan dunia luar, serta mempelajari kemampuan-kemampuan
baru juga merasa memiliki tujuan. Dikarenakan sikap inisiatif merupakan usaha untuk
menjadikan sesuatu yang belum nyata menjadi nyata, sehingga pada usia ini orang tua dapat
mengasuh anaknya dengan cara mendorong anak untuk mewujudkan gagasan dan ide-idenya.
Akan tetapi, semuanya akan terbalik apabila tujuan dari anak pada masa genital ini
mengalami hambatan karena dapat mengembangkan suatu sifat yang berdampak kurang baik
bagi dirinya yaitu merasa berdosa dan pada klimaksnya mereka seringkali akan merasa
bersalah atau malah akan mengembangkan sikap menyalahkan diri sendiri atas apa yang
mereka rasakan dan lakukan.
d) Industry vs Inferiority (6-11 thn)
Masa Sekolah (School Age) ditandai adanya kecenderungan industryinferiority. Sebagai
kelanjutan dari perkembangan tahap sebelumnya, pada masa ini anak sangat aktif
mempelajari apa saja yang ada di lingkungannya. Dorongan untuk mengatahui dan berbuat
terhadap lingkungannya sangat besar, tetapi di pihak lain karena keterbatasan-keterbatasan
kemampuan dan pengetahuannya kadang-kadang dia menghadapi kesukaran, hambatan
bahkan kegagalan. Hambatan dan kegagalan ini dapat menyebabkan anak merasa rendah diri.
Tahap keempat ini dikatakan juga sebagai tahap laten yang terjadi pada usia sekolah dasar
antara umur 6 sampai 12 tahun. Salah satu tugas yang diperlukan dalam tahap ini ialah adalah
dengan mengembangkan kemampuan bekerja keras dan menghindari perasaan rasa rendah
diri. Saat anak-anak berada tingkatan ini area sosialnya bertambah luas dari lingkungan
keluarga merambah sampai ke sekolah, sehingga semua aspek memiliki peran, misalnya
orang tua harus selalu mendorong, guru harus memberi perhatian, teman harus menerima
kehadirannya, dan lain sebagainya. Tingkatan ini menunjukkan adanya pengembangan anak
terhadap rencana yang pada awalnya hanya sebuah fantasi semata, namun berkembang
seiring bertambahnya usia bahwa rencana yang ada harus dapat diwujudkan yaitu untuk dapat
berhasil dalam belajar. Anak pada usia ini dituntut untuk dapat merasakan bagaimana rasanya
berhasil, apakah itu di sekolah atau ditempat bermain. Melalui tuntutan tersebut anak dapat
mengembangkan suatu sikap rajin. Berbeda kalau anak tidak dapat meraih sukses karena
mereka merasa tidak mampu (inferioritas), sehingga anak juga dapat mengembangkan sikap
rendah diri.
Oleh sebab itu, peranan orang tua maupun guru sangatlah penting untuk memperhatikan apa
yang menjadi kebutuhan anak pada usia seperti ini. Kegagalan di bangku sekolah yang
dialami oleh anak-anak pada umumnya menimpa anak-anak yang cenderung lebih banyak
bermain bersama teman-teman dari pada belajar, dan hal ini tentunya tidak terlepas dari
peranan orang tua maupun guru dalam mengontrol mereka.
e) Identity vs Role Confusion (12-10 thn)
Tahap kelima merupakan tahap adolesen (remaja), yang dimulai pada saat masa puber dan
berakhir pada usia 18 atau 20 tahun. Masa Remaja (adolescence) ditandai adanya
kecenderungan identity Identity Confusion. Sebagai persiapan ke arah kedewasaan
didukung pula oleh kemampuan dan kecakapan-kecakapan yang dimilikinya dia berusaha
untuk membentuk dan memperlihatkan identitas diri, ciri-ciri yang khas dari dirinya.
Dorongan membentuk dan memperlihatkan identitasdiri ini, pada para remaja sering sekali
sangat ekstrim dan berlebihan, sehingga tidak jarang dipandang oleh lingkungannya sebagai
penyimpangan atau kenakalan. Dorongan pembentukan identitas diri yang kuat di satu pihak,
sering diimbangi oleh rasa setia kawan dan toleransi yang besar terhadap kelompok
sebayanya. Di antara kelompok sebaya mereka mengadakan pembagian peran, dan seringkali
mereka sangat patuh terhadap peran yang diberikan kepada masing-masing anggota.
Pencapaian identitas pribadi dan menghindari peran ganda merupakan bagian dari tugas yang
harus dilakukan dalam tahap ini.
Menurut Erikson masa ini merupakan masa yang mempunyai peranan penting, karena
melalui tahap ini orang harus mencapai tingkat identitas ego, dalam pengertiannya identitas
pribadi berarti mengetahui siapa dirinya dan bagaimana cara seseorang terjun ke tengah
masyarakat. Lingkungan dalam tahap ini semakin luas tidak hanya berada dalam area
keluarga, sekolah namun dengan masyarakat yang ada dalam lingkungannya. Masa pubertas
terjadi pada tahap ini, kalau pada tahap sebelumnya seseorang dapat menapakinya dengan
baik maka segenap identifikasi di masa kanak-kanak diintrogasikan dengan peranan sosial
secara aku, sehingga pada tahap ini mereka sudah dapat melihat dan mengembangkan suatu
sikap yang baik dalam segi kecocokan antara isi dan dirinya bagi orang lain, selain itu juga
anak pada jenjang ini dapat merasakan bahwa mereka sudah menjadi bagian dalam kehidupan
orang lain. Semuanya itu terjadi karena mereka sudah dapat menemukan siapakah dirinya.
Identitas ego merupakan kulminasi nilai-nilai ego sebelumnya yang merupakan ego sintesis.
Dalam arti kata yang lain pencarian identitas ego telah dijalani sejak berada dalam tahap
pertama/bayi sampai seseorang berada pada tahap terakhir/tua. Oleh karena itu, salah satu
point yang perlu diperhatikan yaitu apabila tahap-tahap sebelumnya berjalan kurang lancar
atau tidak berlangsung secara baik, disebabkan anak tidak mengetahui dan memahami siapa
dirinya yang sebenarnya ditengah-tengah pergaulan dan struktur sosialnya, inilah yang
disebut dengan identity confusion atau kekacauan identitas. Akan tetapi di sisi lain jika
kecenderungan identitas ego lebih kuat dibandingkan dengan kekacauan identitas, maka
mereka tidak menyisakan sedikit ruang toleransi terhadap masyarakat yang bersama hidup
dalam lingkungannya.
f) Intimacy vs Isolation ( 21-40 thn)
Tahap pertama hingga tahap kelima sudah dilalui, maka setiap individu akan memasuki
jenjang berikutnya yaitu pada masa dewasa awal yang berusia sekitar 20-30 tahun. Masa
Dewasa Awal (Young adulthood) ditandai adanya kecenderungan intimacy isolation. Kalau
pada masa sebelumnya, individu memiliki ikatan yang kuat dengan kelompok sebaya, namun
pada masa ini ikatan kelompok sudah mulai longgar. Mereka sudah mulai selektif, dia
membina hubungan yang intim hanya dengan orang-orang tertentu yang sepaham. Jadi pada
tahap ini timbul dorongan untuk membentuk hubungan yang intim dengan orang-orang
tertentu, dan kurang akrab atau renggang dengan yang lainnya. Jenjang ini menurut Erikson
adalah ingin mencapai kedekatan dengan orang lain dan berusaha menghindar dari sikap
menyendiri. Periode diperlihatkan dengan adanya hubungan spesial dengan orang lain yang
biasanya disebut dengan istilah pacaran guna memperlihatkan dan mencapai kelekatan dan
kedekatan dengan orang lain. Di mana muatan pemahaman dalam kedekatan dengan orang
lain mengandung arti adanya kerja sama yang terjalin dengan orang lain. Akan tetapi,
peristiwa ini akan memiliki pengaruh yang berbeda apabila seseorang dalam tahap ini tidak
mempunyai kemampuan untuk menjalin relasi dengan orang lain secara baik sehingga akan
tumbuh sifat merasa terisolasi.
Erikson menyebut adanya kecenderungan maladaptif yang muncul dalam periode ini ialah
rasa cuek, di mana seseorang sudah merasa terlalu bebas, sehingga mereka dapat berbuat
sesuka hati tanpa memperdulikan dan merasa tergantung pada segala bentuk hubungan
misalnya dalam hubungan dengan sahabat, tetangga, bahkan dengan orang yang kita
cintai/kekasih sekalipun. Sementara dari segi lain/malignansi Erikson menyebutnya dengan
keterkucilan, yaitu kecenderungan orang untuk mengisolasi/menutup diri sendiri dari cinta,
persahabatan dan masyarakat, selain itu dapat juga muncul rasa benci dan dendam sebagai
bentuk dari kesendirian dan kesepian yang dirasakan. Oleh sebab itu, kecenderungan antara
keintiman dan isoalasi harus berjalan dengan seimbang guna memperoleh nilai yang positif
yaitu cinta.
Dalam konteks teorinya, cinta berarti kemampuan untuk mengenyampingkan segala bentuk
perbedaan dan keangkuhan lewat rasa saling membutuhkan. Wilayah cinta yang
dimaksudkan di sini tidak hanya mencakup hubungan dengan kekasih namun juga hubungan
dengan orang tua, tetangga, sahabat, dan lain-lain. Ritualisasi yang terjadi pada tahan ini
yaitu adanya afiliasi dan elitisme. Afilisiasi menunjukkan suatu sikap yang baik dengan
mencerminkan sikap untuk mempertahankan cinta yang dibangun dengan sahabat, kekasih,
dan lain-lain. Sedangkan elitisme menunjukkan sikap yang kurang terbuka dan selalu
menaruh curiga terhadap orang lain.
g) Generativitas Vs Stagnasi (41-65 thn)
Masa dewasa (dewasa tengah) berada pada posisi ke tujuh, dan ditempati oleh orang-orang
yang berusia sekitar 30 sampai 60 tahun. Masa Dewasa (Adulthood) ditandai adanya
kecenderungan generativity-stagnation. Sesuai dengan namanya masa dewasa, pada tahap ini
individu telah mencapai puncak dari perkembangan segala kemampuannya. Pengetahuannya
cukup luas, kecakapannya cukup banyak, sehingga perkembangan individu sangat pesat.
Meskipun pengetahuan dan kecakapan individu sangat luas, tetapi dia tidak mungkin dapat
menguasai segala macam ilmu dan kecakapan, sehingga tetap pengetahuan dan kecakapannya
terbatas. Untuk mengerjakan atau mencapai hal hal tertentu ia mengalami hambatan.
Apabila pada tahap pertama sampai dengan tahap ke enam terdapat tugas untuk dicapai,
demikian pula pada masa ini dan salah satu tugas untuk dicapai ialah dapat mengabdikan diri
guna keseimbangan antara sifat melahirkan sesuatu (generativitas) dengan tidak berbuat apa-
apa (stagnasi).
Generativitas adalah perluasan cinta ke masa depan. Sifat ini adalah kepedulian terhadap
generasi yang akan datang. Melalui generativitas akan dapat dicerminkan sikap
memperdulikan orang lain. Pemahaman ini sangat jauh berbeda dengan arti kata stagnasi
yaitu pemujaan terhadap diri sendiri dan sikap yang dapat digambarkan dalam stagnasi ini
adalah tidak perduli terhadap siapapun. Maladaptif yang kuat akan menimbulkan sikap terlalu
peduli, sehingga mereka tidak punya waktu untuk mengurus diri sendiri. Selain itu
malignansi yang ada adalah penolakan, di mana seseorang tidak dapat berperan secara baik
dalam lingkungan kehidupannya akibat dari semua itu kehadirannya ditengah-tengah area
kehiduannya kurang mendapat sambutan yang baik. Harapan yang ingin dicapai pada masa
ini yaitu terjadinya keseimbangan antara generativitas dan stagnansi guna mendapatkan nilai
positif yang dapat dipetik yaitu kepedulian. Ritualisasi dalam tahap ini meliputi generasional
dan otoritisme. Generasional ialah suatu interaksi/hubungan yang terjalin secara baik dan
menyenangkan antara orang-orang yang berada pada usia dewasa dengan para penerusnya.
Sedangkan otoritisme yaitu apabila orang dewasa merasa memiliki kemampuan yang lebih
berdasarkan pengalaman yang mereka alami serta memberikan segala peraturan yang ada
untuk dilaksanakan secara memaksa, sehingga hubungan diantara orang dewasa dan
penerusnya tidak akan berlangsung dengan baik dan menyenangkan.
h) Integrity vs Despair (+65 thn)
Tahap terakhir dalam teorinya Erikson disebut tahap usia senja yang diduduki oleh orang-
orang yang berusia sekitar 60 atau 65 ke atas. Masa hari tua (Senescence) ditandai adanya
kecenderungan ego integrity despair. Pada masa ini individu telah memiliki kesatuan atau
intregitas pribadi, semua yang telah dikaji dan didalaminya telah menjadi milik pribadinya.
Pribadi yang telah mapan di satu pihak digoyahkan oleh usianya yang mendekati akhir.
Mungkin ia masih memiliki beberapa keinginan atau tujuan yang akan dicapainya tetapi
karena faktor usia, hal itu sedikit sekali kemungkinan untuk dapat dicapai. Dalam situasi ini
individu merasa putus asa. Dorongan untuk terus berprestasi masih ada, tetapi pengikisan
kemampuan karena usia seringkali mematahkan dorongan tersebut, sehingga keputusasaan
acapkali menghantuinya.
Dalam teori Erikson, orang yang sampai pada tahap ini berarti sudah cukup berhasil melewati
tahap-tahap sebelumnya dan yang menjadi tugas pada usia senja ini adalah integritas dan
berupaya menghilangkan putus asa dan kekecewaan. Tahap ini merupakan tahap yang sulit
dilewati menurut pemandangan sebagian orang dikarenakan mereka sudah merasa terasing
dari lingkungan kehidupannya, karena orang pada usia senja dianggap tidak dapat berbuat
apa-apa lagi atau tidak berguna. Kesulitan tersebut dapat diatasi jika di dalam diri orang yang
berada pada tahap paling tinggi dalam teori Erikson terdapat integritas yang memiliki arti
tersendiri yakni menerima hidup dan oleh karena itu juga berarti menerima akhir dari hidup
itu sendiri. Namun, sikap ini akan bertolak belakang jika didalam diri mereka tidak terdapat
integritas yang mana sikap terhadap datangnya kecemasan akan terlihat. Kecenderungan
terjadinya integritas lebih kuat dibandingkan dengan kecemasan dapat menyebabkan
maladaptif yang biasa disebut Erikson berandai-andai, sementara mereka tidak mau
menghadapi kesulitan dan kenyataan di masa tua. Sebaliknya, jika kecenderungan kecemasan
lebih kuat dibandingkan dengan integritas maupun secara malignansi yang disebut dengan
sikap menggerutu, yang diartikan Erikson sebagai sikap sumaph serapah dan menyesali
kehidupan sendiri. Oleh karena itu, keseimbangan antara integritas dan kecemasan itulah
yang ingin dicapai dalam masa usia senja guna memperoleh suatu sikap kebijaksanaan.
b. Sigmund Freud
Freud adalah teoritisi pertama yang memusatkan perhatiannya kepada perkembangan
kepribadian dan menekankan pentingnya peran masa bayi dan awal-anak dalam membentuk
karakter seseorang. Freud yakin bahwa struktur dasar kepribadian sudah terbentuk pada usia
5 tahun dan perkembangan kepribadian sesudah usia 5 tahun sebagian besar hanya
merupakan elaborasi dari struktur dasar tadi. Anehnya, Freud jarang sekali meneliti anak
secara langsung. Dia mendasari teorinya dari analisis mengeksplorasi jika pasien, dengan
mengembalikan mereka ke pengalaman masa kanak-kanaknya.
Tahapan Perkembangan Freud membagi perkembangan kepribadian menjadi 3 tahapan yakni
tahap infatil (0 - 5 tahun), tahap laten (5 - 12 than) dan tahap genital (> 12 tahun). Tahap
infatil yang faling menentukan dalam membentuk kepribadin, terbagi menjadi 3 fase,
yakni fase oral, fase anal,dan fase falis. Perkembangan kepribadian ditentukan oleh
perkembangan insting seks, yang terkait dengan perkembangan bilogis, sehingga tahap ini
disebut juga tahap seksual infatil. Perkembangan insting seks berarti perubahan kateksis seks
dan perkembangan bilogis menyiapkan bagian tubuh untuk dipilh menjadi pusat kepuasan
seksul (arogenus zone).


a) Tahap Infantil
Pemberian nama fase-fase perkembangan infatil sesuai dengan bagian tubuh daerah erogen
yang menjadi kateksis seksual pada fase itu. Yang menjadi fase dalam tahapan ini
adalah fase oral yang berlangsung dari 0 sampai umur satu tahun dan fase analyang
berlangsung dari umur satu tahun hingga usia 3 tahun serta fase falic yang berlangsung dari
usia 3 tahun hingga berumur 5 atau 6 tahun.
b) Tahap Laten
Pada tahap laten, impuls seksual mengalami represi, perhatian anak banyak tercurah kepada
pengembangan kognitif dan keterampilan.
c) Tahap Genital
Baru sesudah memasuki tahap ini (genital), secara biologis terjadi perkembangan pubertas
yang membangunkan impuls seksual dari represinya untuk berkembang mencapai
kemasakan. Pada umumnya kemasakan kepribadian dapat dicapai pada usia 20 tahun.
Fase Fase Perkembangan
1. Fase Oral (usia 0 1 tahun)
Pada fase ini mulut merupakan daerah pokok aktivitas dinamik atau daerah kepuasan seksual
yang dipilih oleh insting seksual. Makan/minum menjadi sumber kenikmatannya.
Kenikmatan atau kepuasan diperoleh dari ransangan terhadap bibir-rongga mulut-
kerongkongan, tingkah laku menggigit dan menguyah (sesudah gigi tumbuh), serta menelan
dan memuntahkan makanan (kalau makanan tidak memuaskan). Kenikmatan yang diperoleh
dari aktivitas menyuap/menelan (oral incorforation) dan menggigit (oral agression)
dipandang sebagai prototip dari bermacam sifat pada masa yang akan datang. Kepuasan yang
berlebihan pada masa oral akan membentuk oran incorporation personality pada masa dewasa,
yakni orang menjadi senang/fiksasi mengumpulkan pengetahuan atau mengumpulkan harta
benda, atau gampang ditipu (mudah menelan perkataan orang lain). Sebaliknya,
ketidakpuasan pada fase oral, sesudah dwasa orang menjadi tidak pernah puas, tamak
(memakan apa saja) dalam mengumpulkan harta.
Oral agression personality ditandai oleh kesenangan berdebat dan sikap sarkatik, bersumber
dari sikap protes bayi (menggigit) terhadap perlakuan ibunya dalam menyusui. Mulut sebagai
daerah erogen, terbawa sampai dewasa dalam bentuk yang lebih bervariasi, mulai dari
menguyah permen karet, menggigit pensil, senang makan, menisap rokok, menggunjing
orang lain, sampai berkata-kata kotor/sarkastik. Tahap ini secara khusus ditandai oleh
berkembangnya perasaan ketergantungan, mendapat perindungan dari orang lain, khususnya
ibu. Perasaan tergantung ini pada tingkat tertentu tetap ada dalam diri setiap orang, muncul
kapan saja ketika orang merasa cemas dan tidak aman pada masa yang akan datang.
2. Fase Anal (usia 1 3 tahun)
Pada fase ini dubur merupakan daerah pokok ktivitas dinamik, kateksis dan anti kateksis
berpusat pada fungsi eliminer (pembuangan kotoran). Mengeluarkan faces menghilangkan
perasaan tekanan yang tidak menyenangkan dari akumulasi sisa makanan. Sepanjang tahap
anal, ltihan defakasi (toilet training) memaksa nak untuk belajar menunda kepuasan bebas
dari tegangan anal. Freud yakin toilet training adalah bentuk mulaidari belajar memuaskan id
dan superego sekaligus, kebutuhan id dalam bentuk kenikmatan sesudah defakasi dan
kebutuhan superego dalam bentuk hambatan sosial atau tuntutan sosial untuk mengontrol
kebutuhan defakasi. Semua hambatan bentuk kontrol diri (self control) dan penguasaan
diri (self mastery).
Berasal dari fase anal, dampak toilet training terhadap kepribadian di masa depan tergantung
kepada sikap dan metode orang tua dalam melatih. Misalnya, jika ibu terlalu keras, anak akan
menahan facesnya dan mengalami sembelit. Ini adalah prototip tingkahlaku keras kepala dan
kikir (anal retentiveness personality). Sebaliknya ibu yang membiarkan anak tanpa toilet
training, akan membuat anak bebas melampiaskan tegangannya dengan mengelurkan kotoran
di tempat dan waktu yang tidak tepat, yang di masa mendatang muncul sebagai sifat
ketidakteraturan/jorok, deskruktif, semaunya sendiri, atau kekerasa/kekejaman (anal
exspulsiveness personality). Apabila ibu bersifat membimbing dengan kasih sayang (dan
pujian kalau anak defakasi secara teratur), anak mendapat pengertian bahwa mengeluarkan
faces adalah aktivitas yang penting, prototif dari, sifat kreatif dan produktif.
3. Fase Phallic (usia 3 5/6 tahun)
Pada fase ini alat kelamin merupakan daerah erogen terpenting. Mastrubasi menimbulkan
kenikmatan yang besar. Pada saat yang sama terjadi peningkatan gairah seksual anak kepada
orang tuanya yang mengawali berbagai perganian kateksis obyek yang penting.
Perkembangan terpenting pada masa ini adalah timbulnya Oedipus complex, yang diikuti
fenomena castration anxiey (pada laki-laki) dan penis envy (pada perempuan).
Odiepus kompleks adalah kateksis obyek kepada orang tua yang berlawanan jenis serta
permusuhan terhadap orang tua sejenis. Anak laki-laki ingin memiliki ibunya dan
menyingkirkan ayahnya; sebaliknya anak perempuan ingin memilki ayahnya dan
menyingkirkan ibunya. Pada mulanya, anak (laki dan perempuan) sama-sama mencintai
ibuny yang telah memenuhi kebutuhan mereka dan memandang ayah sebagai saingan dalam
merebut kasih sayang ibu. Pada anak laki-laki, persaingan dengan ayah berakibat anak cemas
kalau-kalau ayah memakai kekuasaannya untuk memenangkan persaingan merebut ibunya.
Dia cemas penisnya akan dipotong oleh ayahnya. Gejala ini disebut cemas dikebiri atau
castrationanxiety. Kecemasan inilah yang kemudian mendorong laki-laki mengidentifikasi iri
dengan ayahnya. Identifikasi ini mempunyai beberpa manfaat: anak secara tidak langsung
memperoleh kepuasan impuls seksual kepada ibunya, seperti kepuasan ayahnya. perasaan
erotik kepada ibu 9yang berbahaya) diubah menjadi sikap menurut/sayang kepada
ibu. identifikasi kemudian menjadi sarana tepenting untuk mengembangkan superego adalah
warisan dari oedipus complex.
identifikasi menjadi ritual akhir dari odipus kompleks, yang sesudah itu ditekan(repressed) ke
ketidaksadaran. Pada anak perempuan, rasa sayang kepada ibu segera berubah menjadi
kecewa dan benci sesudah mengetahui kelaminnya berbeda dengan anak laki-laki. Ibuya
dianggap bertanggung jawab tergadap kastrasi kela innya, sehingga anak perempuan itu
mentransfer cintanya kepada ayahnya yang memiliki organ berharga (yang juga ingin
dimilikinya). Tetapi perasaan cinta itu bercampur dengan perasan iri penis (penis elvy) baik
kepada ayah maupun kepada laki-laki secara umum.
Tidak seperti pada laki-laki, odiepuskompleks pada wanita tidak direpres, cinta kepada ayah
tetap menetap walaupun mengalami modifikasi karena hambatan realistik pemuasan seksual
itu sendiri. Perbedaan hakekat odipus kompleks pada laki-laki dan wanita ini (disebut oleh
pakar psikoanalisis pengikut freud : electra complex) merupakan dasar dari perbedaan
psikologik di antara pria dan wanita. Electra complex menjadi reda ketika gadis menyerah
tidak lagi mengembangkan seksual kepad ayahnya, dan mengidentifikasikan diri kembali
kepada ibunya. Proses peredaan ini berjalan lebih lambat dibanding pada anak laki-laki dan
juga kurang total atau sempurna. Enerji untuk mengembangkan superego adalah enerji yang
semula dipakai dalam proses odipus. Penyerahan enerji yang lamban pada wanita membuat
superego wanita lebih lemah/lunak, lebih fleksibel, dibanding superego laki-
laki.Perbadinganantara odipus kompleks laki-laki dan perempuan, diikhtisarkan pada tabel
dibawah.
4. Fase Latent (usia 5/6 12/13 tahun)
Dari usia 5 atau 6 tahun sampai remaja, anak mngalami periode perbedaan impuls seksual,
disebut periode laten. Menurut Freud, penurunan minat seksual itu akibat dari tidak adanya
daerah erogen baru yang dimunculkan oleh perkembangan biologis. Jadi fase laten lebih
sebagai fenomena biologis, alih-lih bgian dari perkembangan psikoseksual. Pada fase laten
ini anak mengembangkan kemampuan sublimasi, yakni mengganti kepuasanlibido dengan
kepuasan nonseksual, khususnya bidang intelektual, atletik, keterampilan dan hubungan
teman sebaya. Fase laten juga ditandai dengan percepatan pembentukan super ego; orang tua
bekerjasama dengan anak berusaha merepres impuls seks agar enerji dapat dimanfaatkan
sebesar-besarnya untuk sublimasi dan pembentukan superego. Anak menadi lebih mudah
mempelajari sesuatu dibandingkan dengan masa sebelum da sesudahnya (masa pubertas).
5. Fase Genikal (usia 12/13 dewasa)
Fase ini dimulai dengan perubahan biokimia dan fisiologi dalam diri remaja. Sistem
endoktrin memproduksi hormon-hormon yang memicu pertumbuhan tanda-tanda seksual
sekunder (suara, rambut, buah dada, dll) dan pertumbuhan tandasesual primer. Impuls
pregenital bangun kembali dan membawa aktivitas dinamis yang harus diadaptasi, untuk
mencapai perkembangan kepribadian yang stabl. Pada fase falis, kateksis genital mempunyai
sifat narkistik; individu mempunyai kepuasan dari perangsangan dan manipulasi tubuhnya
sendiri, dan orang lain diingkan hanya karena memberikan bentuk-bentuk tambahan dari
kenikmatan jasmaniah. Pada fase genital, impuls seks itu mulai disalurkan ke obyek di luar,
seperti; berpartisipasi dalam kegiatan kelompok, menyiapkan karir, cinta lain jenis,
perkawinan dan keluarga. Terjadi perubahan dari anak yang narkistik menjadi dewasa yang
berorientasi sosial, realistik dan altruistik.
Fase genital berlanjut sampai orang tutup usia, dimana puncak perkembangan seksual dicapai
ketika orang dewasa mengalami kemasakan kepibadian. Ini ditandai dengan kemasaka
tanggung jawab seksual sekaligus tanggung jawab sosial, mengalami kepuasan melalui
hubungan cinta heteroseksual tanpa diikuti dengan perasaan berdosa atau perasaan bersalah.
Pemasan impuls libido melalui hubungan seksual memungkinkan kontrol fisiologis terhadap
impuls genital itu; sehinggaakan membebaskan begitu banyak energi psikis yang semula
dipakai untuk mengontrol libido, merepres perasaan berdosa, dan dipakai dalam konflik
antara id-ego-superego dalam menagani libido itu. Enerji itulah yang kemudian dipakai untuk
aktif menangani masalah-masalah kehidupan dewasa; belajar bekerja, menunda kepuasan,
menjadi lebih bertanggung jawab. Penyaluran kebutuhan insting ke obyek di luar yang
altruistik itu telah menjadi cukup stabil, dalam bentuk kebiasaan-kebiasaan melakukan
pemindahan-pemindahan,sublimasi-sublimasi dan identifikasi-identifikasi.
c. Gordon Allport
Kepribadian manusia menurut Allport adalah organisasi yang dinamis dari system psikofisik
dalam individu yang turut menentukan cara-caranya yang unik atau khas dalam
menyesuaikan diri dengan lingkungannya. Kemudian Allport juga berpendapat bahwa
kepribadian yang neurotis dan kepribadian yang sehat merupakan hal yang mutlak terpisah.
Namun dalam hal ini tang menjadi kelebihan Allport adalah tentang antisipasi, Dalam teori
Allport antisipasi adalah penting untuk menentukan siapa dan apakah kita ini, dalam
membentuk identitas diri kita. Dalam teori Allport juga memandang bahwa kesehatan
psikologis adalah melihat ke depan, tidak melihat ke belakang, dapat dikatakan bahwa
seluruh teori yang dikemukakan oleh Allport ini sangat bertentangan dengan teori-teori yang
dikemukakan oleh Freud.
a. Ciri-Ciri Kepribadian yang Matang Menurut Allport
Menurut Allport, faktor utama tingkah lalu orang dewasa yang matang adalah sifat-sifat yang
terorganisir dan selaras yang mendorong dan membimbing tingkah laku menurut prinsip
otonomi fungsional.
Kualitas Kepribadian yang matang menurut allport sebagai berikut:
o Ekstensi sense of self
- Kemampuan berpartisipasi dan menikmati kegiatan dalam jangkauan yang luas.
- Kemampuan diri dan minat-minatnya dengan orang lain beserta minat mereka.
- Kemampuan merencanakan masa depan (harapan dan rencana)
o Hubungan hangat/akrab dengan orang lain
- Kapasitas intimacy (hubungan kasih dengan keluarga dan teman) dan compassion
(pengungkapan hubungan yang penuh hormat dan menghargai dengan setiap orang)
o Penerimaan diri
Kemampuan untuk mengatasi reaksi berlebih hal-hal yang menyinggung dorongan
khusus (misal : mengolah dorongan seks) dan menghadapi rasa frustasi, kontrol diri,
presan proporsional.
o Pandangan-pandangan realistis, keahlian dan penugasan
Kemampuan memandang orang lain, objek, dan situasi. Kapasitas dan minat dalam
penyelesaian masalah, memiliki keahlian dalam penyelesain tugas yang dipilih,
mengatasi pelbagai persoalan tanpa panik, mengasihani diri, atau tingkah laku lain yang
merusak.
o Objektifikasi diri: insight dan humor
Kemampuan diri untuk objektif dan memahami tentang diri dan orang lain. Humor tidak
sekedar menikmati dan tertawa tapi juga mampu menghubungkan secara positif pada
saat yang sama pada keganjilan dan absurditas diri dan orang lain.
o Filsafat Hidup
Ada latar belakang yang mendasari semua yang dikerjakannya yang memberikan tujuan
dan arti. Contohnya lewat agama. Untuk memahami orang dewasa kita membutuhkan
gambaran tujuan dan aspirasinya. Tidak semua orang dewasa memiliki kedewasaan yang
matang. Bisa saja seseorang melakukan sesuatu hal tanpa tahu apa yang ia lakukan.
Struktur dan Dinamika Kepribadian
Organisasi dinamis dalam seseorang yang terdiri dari sistem-sistem psikofisis yang
menentukan keunikan penyesuaian dirinya dengan lingkungan. Dua hal yang menjadi
tekanan utama adalah kepribadian merupakan sesuatu yang berkembang dan unsur-unsurnya
saling terkait. Dalam pencarian definisi kepribadiannya Alllport dengan hati-hati menyadari
istilah karakter dan temperamen.
- Karakter (watak) adalah segi kepribadian yang dinilai. Seseorang sering dinilai memiliki
karakter baik atau buruk.
- Temperamen adalah disposisi yang erat kaitannya dengan faktor biologis atau fisik.
Dalam hal ini hereditas memainkan peranan penting dan bersama intelegensi dan fisik
membentik kepribadian.
Sifat-sifat dan Disposisi-disposisi Personal
Sifat adalah Kecenderenungan untuk berespons dengan cara tertentu ; tendensi neuropsiki.
Sifat bukanlah bentukan konsep abstrak lewat sebuah pengamatan melainkan kenyataan
objektif. Selain itu sifat juga bukanlah sekedar eksistensi nominal. Sifat umum adalah ciri-ciri
(sifat) yang terdapat pada banyak orang.
Disposisi Personal: keunikan-kekhususan (sifat) pada individu. Contoh : Dalam sebuah
kelompok ada 20 orang menunjukkan sifat keagresifan (common trait). Tapi kita tidak bisa
mengtakan 20 orang itu menunjukkan/mewujudkan keagresifannya lewat jalan yang sama.
Mungkin ada yang asertif dan kompetitif, sarkastic dan bermusuhan, dan mungkin lewat
kekerasan fisik. Personal deposisi dapat disebut sebagai sub kategori atau jalan khusus sifat
terwujud. Sifat tidak hanya membimbing suatu tingkah laku tapi juga memulai tingkah laku
dan dalam beberapa hal memerankan peran memotivasi yang penting. Contoh : Seseorang
yang punya sifat ramah/suka bergaul, tidak suka duduk sendiri di rumah menunggu orang lain
menghubunginya. Dia akan mencari teman-temannya. Akan tetapi sebuah sifat tidak pernah
sebagai motivator murni tingkah laku beberapa dorongan baik internal maupun eksternal
yang mendahului tindakan. Contoh : Jika seseorang suka pergi ke disko, secara umum dia
orang yang suka bergaul tapi ada tingkah laku khusus bahwa dia suka mendengarkan musik.
Hubungan Sifat, Kebiasaan, Sikap dan Tipe :
Keempat hal tersebut merupakan kecenderungan (predisposisi) yang unik, hasil dari faktor
genetik dan pembelajaran dan mendorong/menuntun tingkah laku seseorang .
- Kebiasaan
Kurang lebih umum ( sifat /trait paling umum) , respons khusus pada stimulus tertentu,
kurang evaluatif. Contoh: Huming ketika mendengarkan musik, membaca dengan
bersuara.
- Sikap
Lebih umum dari kebiasaan, penekanan segi lingkungan (kecenderungan untuk berespon
positif atau negatif terhadap objek tertentu), paling evaluatif. Contoh: Kesukaan terhadap
partai, atau makanan tertentu.
- Tipe
Abstraksi/pengelompokan sifat-sifat; mementingkan keajegan/keteraturan sekumpulan
sifat. Akan tetapi tipe menyembunyikan (sifat)keunikan pribadi dan menunjukan
perbedaan perbuatan yang tidak begitu cocok dengan kenyataan.
Disposisi Pokok, Disposisi Sentral dan Disposisi Sekunder
- Disposisi Pokok
Sesuatu yang begitu umum sehingga dapat ditemukan pada setiap individu. Contoh :
Orang Narcistik adalah orang yang memberikan perhatian kuat dan terus-menerus pada
kebutuhan dan ketertarukannya.
- Disposisi Sentral
Kecenderungan karakter yang kuat (khas) pada seseorang. Contoh: Mungkin kita
menggambarkan karya Shakespeare (Hamlet) introspektif, obsesif, melankolis, dramatik.
- Disposisi Sekunder
- Berfungsi terbatas, kurang menentukan dalam deskripsi kepribadian dan lebih terpusat
pad respon yangt dicocokinya. Contoh: Seseorang yang menyenangkan, mungkin
meledak marah ketika seseorang menghina kelompoknya.
Perkembangan Kepribadian
Allport melihat bahwa anak yang baru lahir sebagai seorang ciptaan keturunan, hanya
memiliki dorongan primitif, dan tingkah laku reflek ,tidak memiliki kepribadian tapi
memiliki potensi yang akan terpenuhi atau terbentuk pada saat pertumbahan dan
pematangannya. Dalam Perkembangan Proprium Allport membagi dalam beberapa tahap
sebagai berikut:
1) 0-3 tahun :
Pembanguanan keadaran diri : sense of bodily self (enak tidak enak), perasaan identitas diri
berkelanjutan kesadaran sebagai subjek yang berkembang. Dalam hal ini bahasa menjadi
faktor yang penting. Harga diri atau kebanggaan sebagai periode terakhir dimanan\ anak
ingin melakukan sesuatu, membuatnya terwujud, dan mengontrol dunianya.
2) 4-6 tahun:
Perluasan diri dan gambaran diri. Dalam perluasan diri, perasaan keterhubungan dengan
orang-orang dan hal-hal yang penting dalam lingkungannya. Relasi anak dan lingkungan
tempat dia tumbuh terhubung sangat penting. Muncul perasaan lingkuangan tersebut adalah
bagian dirinya. Gambaran diri; terkait dengan penanaman-penanaman nilai, tangung jawab
moral, intensi, tujuan dan pengetahuan diri yang akan berperan mencolok dalam
kepribbadiannya kelak.
3) 6-12 tahun:
Kesadaran diri. Pengenalan kemampunan diri mengatasi persoalan-persoalan dengan alasan
dan gagasan karena anak bergerak dari lingkungan keluarga ke masyarakat.
4) Remaja
Propriate striving, pembanguanan tujuan dan rencana ke depan: intensi-intensi, long-range
purposes,distant goals.Persoalan utama berkaitan dengan identitas, apakah saya seorang
anak atau dewasa?
5) Kedewasaan
Menurut Allport, faktor utama tingkah lalu orang dewasa yang matang adalah sifat-sifat yang
terorganisir dan selaras yang mendorong dan membimbing tingkahlaku menurut prinsip
otonomi fungsional.














DAFTAR PUSTAKA
Feist ,Jess & Georgy J.Feist . 2012. Teori Kepribadian (bagian 1). Jakarta : Salemba
Humanika.
Feist, Jess & Georgy J.Feist . 2012. Teori Kepribadian (bagian 2). Jakarta : Salemba
Humanika.
Basuki ,Heru A.M. 2008. Psikologi Umum. Jakarta: Universitas Gunadarma.
Riyanti, Dwi B.P & Prabowo Hendro. 1998. Psikologi Umum 2. Jakarta: Universitas
Gunadarma.
Basuki, Heru A.M. 2005. Kreatifitas, Keberbakatan, Intelektual, Dan Faktor-faktor
Pendukung Dalam Pengembangannya. Jakarta: Universitas Gunadarma.
Papalia, Diane E.; Olds, Sally W.; Feldman, Ruth Duskin. 2009. Human development.
Eleventh Edition. Mc Graw Hill Company, Inc London.
Wiramihardja, A. Sutardjo. 2004. Pengantar Psikologi Klinis. Bandung: PT. Refika Aditama.