Anda di halaman 1dari 34

Percepatan Pembangunan Sanitasi Permukiman

Buku Putih Sanitasi Kabupaten Kubu Raya Tahun 2013 II - 1



BAB II
GAMBARAN UMUM WILAYAH
KABUPATEN KUBU RAYA


2.1 Geografis, Administratif dan Kondisi Fisik
2.1.1 Kondisi Geografis
Secara geografis Kabupaten Kubu Raya berada disisi barat daya Provinsi Kalimantan
Barat atau berada pada posisi 0
0
13440,83 sampai dengan 1
0
0053,09 Lintang Selatan dan 109
0

0219,32 Bujur Timur sampai dengan 109
0
5832,16 Bujur Timur. Sedangkan secara administratif,
batas wilayah Kabupaten Kubu Raya adalah sebagai berikut:
a. Sebelah utara : berbatasan dengan Kota Pontianak dan Kabupaten Pontianak
b. Sebelah timur : berbatasan dengan Kabupaten Landak dan Kabupaten Sanggau
c. Sebelah selatan : berbatasan dengan Kabupaten Ketapang
d. Sebelah barat : berbatasan dengan Laut Natuna

2.1.2 Kondisi Fisik
A. Geologi
Secara geologis daerah Kabupaten Kubu Raya hampir seluruhnya terdiri dari endapan aluvial,
pasang surut, danau, rawa dan undak. Berdasarkan posisinya, seluruh areal studi terletak
pada formasi aluvium dan endapan rawa (Qa) yang merupakan formasi paling muda berumur
quarter. Formasi ini terdiri dari kerikil, pasir, lanau, lumpur dan gambut. Endapan ini menutupi
dataran aluvial dan pasang surut di bagian barat, lembah sungai kapuas dan lembahlembah
sungai besar lainnya yang mengalir ke terain perbukitan yang terpotongpotong dan kedalam
dataran aluvial. Bagian barat dan selatan terdiri dari endapanendapan laut dan sungai baru
berumur paling muda dan menempati seluruh zona pertanian bagian barat Kubu Raya. Zona
pantai terdiri dari cekungan liat yang tertutup oleh rawarawa gambut dan dilintasi danau
danau dangkal dan rawa yang terkena banjir secara periodik yang berada di antara teras
teras tertutup gambut.


Percepatan Pembangunan Sanitasi Permukiman
Buku Putih Sanitasi Kabupaten Kubu Raya Tahun 2013 II - 2

B. Jenis Tanah
Jenis tanah yang ditemui di Kabupaten Kubu Raya yaitu jenis tanah aluvial, gleisol, organosol,
regoso, podsolik dan kombisol.
1. Aluvial
Jenis tanah Aluvial disebut juga sebagai tubuh tanah endapan. Jenis tanah ini masih
muda, belum mengalami perkembangan, berasal dari bahan induk aluvium. Secara
keseluruhan tanah aluvial mempunyai sifat fisika kurang baik sampai sedang, tekstur
beraneka ragam, struktur tanahnya pejal atau tanpa struktur, serta konsistensinya keras
waktu kering dan teguh waktu lembab.
Sifat kimia dari tanah jenis ini sedang sampai baik, reaksi tanahnya masam sampai netral,
kandungan bahan organiknya rendah, kandungan unsur haranya relatif kaya dan banyak
tergantung pada bahan induknya, kesuburan tanahnya sedang sampai tinggi.
Penyebarannya di daerah dataran aluvial sungai (hasil dari lumpur yang mengendap),
dataran aluvial pantai, dan daerah cekungan (depresi).
2. Gleisol
Tanah yang selalu jenuh air sehingga berwarna kelabu atau menunjukkan sifat-sifat
hidromorfik lain.
3. Organosol Gley Humus atau Tanah Gambut atau Tanah Organik
Jenis tanah ini berasal dari bahan induk organik seperti dari hutan rawa atau rerumput
rawa, dengan ciri dan sifat: tidak terjadi deferensiasi horizon secara jelas, ketebalan lebih
dari 0.5 meter, warna coklat hingga kehitaman, tekstur debu lempung, tidak berstruktur,
konsistensi tidak lekat-agak lekat, kandungan organik lebih dari 30% untuk tanah tekstur
lempung dan lebih dari 20% untuk tanah tekstur pasir, umumnya bersifat sangat asam (pH
4.0), kandungan unsur hara rendah.
Berdasarkan penyebaran topografinya, tanah gambut dibedakan menjadi tiga yaitu:
a. gambut ombrogen: terletak di dataran pantai berawa, mempunyai ketebalan 0.5-16 m,
terbentuk dari sisa tumbuhan hutan dan rumput rawa, hampir selalu tergenang air,
bersifat sangat asam;
b. gambut pegunungan: terbentuk di daerah topografi pegunungan, berasal dari sisa
tumbuhan yang hidupnya di daerah sedang (vegetasi spagnum).
Percepatan Pembangunan Sanitasi Permukiman
Buku Putih Sanitasi Kabupaten Kubu Raya Tahun 2013 II - 3

c. gambut topogen: terbentuk di daerah cekungan (depresi) antara rawa-rawa di daerah
dataran rendah dengan di pegunungan, berasal dari sisa tumbuhan rawa, mempunyai
ketebalan 0.5-6 m, bersifat agak asam, kandungan unsur hara relatif lebih tinggi; dan
Berdasarkan susunan kimianya tanah gambut dibedakan menjadi:
a. gambut oligotrop, bersifat sangat asam, miskin O2, miskin unsur hara, biasanya selalu
tergenang air;
b. gambut eutrop, bersifat agak asam, kandungan O2 serta unsur haranya lebih tinggi;
c. mesotrop, peralihan antara eutrop dan oligotrop.
4. Regosol
Tanah bertekstur kasar dengan kadar pasir lebih dari 60%, hanya mempunyai horison
penciri ochrik, histik atau sulfurik.
5. Podsolik
Jenis tanah podsolik pada umumnya terdapat pada berbagai jenis bahan induk seperti tufa
masam, batuan pasir (sandstones) atau endapan kuarsa. Tanah ini memiliki solum tanah
yang paling tebal yaitu 90 180 cm, warna merah hingga kuning, tekstur tanahnya
lempung hingga berpasir, struktur gumpal, konsistensinya gembur di bagian atas dan
teguh di lapisan bawah (aerasinya buruk), kandungan bahan organiknya kurang dari 5%,
kandungan unsur hara (fosfor, nitrogen, kalium, kalsium, magnesium, belerang, seng)
rendah, reaksi tanah (pH) sangat masam sampai agak masam yaitu 4 5,5. Tanah ini
berasal dari batuan pasir kuarsa, tuf vulkanik, bersifat asam. Tersebar di daerah beriklim
basah tanpa bulan kering, curah hujan lebih dari 2.500 mm/tahun. Tanah mineral telah
berkembang, kejenuhan basa rendah.
Secara keseluruhan tanah ini memiliki sifat kimia kurang baik, dapat terjadi keracunan
alumunium dan mangan untuk lahan kering dan keracunan besi pada persawahan.
Kekahatan merupakan kendala utama kesuburan pada tanah Podsolik Merak Kuning
(PMK). Sifat fisika jenis tanah ini tidak mantap karena sifat agregratnya kurang baik,
sehingga peka erosi terhadap erosi (kelas IV; skor 60). Kesuburannya adalah rendah
sampai sedang.
6. Kombisol
Tanah dengan horisin kambik, atau epipedon umbrik atau molik.Tidak ada gejala-gejala
hidromorfik (pengaruh air).
Percepatan Pembangunan Sanitasi Permukiman
Buku Putih Sanitasi Kabupaten Kubu Raya Tahun 2013 II - 4


C. Klimatologi
Di Kabupaten Kubu Raya dan umumnya di Indonesia, hanya dikenal dua musim yaitu
musim kemarau dan musim penghujan. Musim kemarau biasanya terjadi pada bulan Juni sampai
dengan bulan September. Sedangkan musim penghujan bisa terjadi pada bulan Desember sampai
dengan bulan Maret. Keadaan ini berganti setiap setengah tahun setelah melewati masa peralihan
pada bulan April Mei dan Oktober November.
Curah hujan dipengaruhi oleh berbagai faktor diantaranya adalah iklim, keadaan geografi
dan perputaran / pertemuan arus udara. Pada tahun 2011 di Kabupaten Kubu Raya rata-rata curah
hujan berkisar 260,8 mm. Curah hujan terendah tercatat pada bulan Juli yaitu 144,1 mm dan
tertinggi tercatat pada bulan Oktober yaitu sebesar 533,2 mm.
Sedangkan rata-rata hari hujan pada tahun 2011 adalah 16 hari. Jumlah hari hujan terbanyak
terjadi pada bulan Oktober yaitu 27 hari, sedangkan terendah terjadi pada bulan Juli yaitu 10 hari.

D. Topografi
Secara keseluruhan wilayah Kabupaten Kubu Raya terdiri dari dataran rendah, umumnya
datar, sebagian bergelombang dan sebagian kecil berbukit dengan kemiringan 0% - 60%.
Meskipun hampir seluruh wilayah Kubu Raya berupa dataran rendah dan rawa-rawa dengan
ketinggian 10 m dan kemiringan < 2%.

E. Sistem Lahan
Kabupaten Kubu Raya berdasarkan peta sistem lahan diklasifikasikan dengan kondisi
lahan seperti berikut:

Komposisi Sistem Lahan di Wilayah Kabupaten Kubu Raya
No
Sistem Lahan
(Nama dan
simbol dalam
peta)
Keterangan
1

Gambut (GBT) Mempunyai kemiringan rata-rata < 2 %
Kedalaman gambut > 200 cm
Berada pada ketinggian 1 30 m dengan batas ketinggian 0 10 m
Berlokasi pada rawa gambut dalam dengan permukaan yang cembung
atau berkubah
Percepatan Pembangunan Sanitasi Permukiman
Buku Putih Sanitasi Kabupaten Kubu Raya Tahun 2013 II - 5

Jenis tanah : Tropohemists dan tropofibrists

2

Honja (HJA) Berada pada ketinggian rata-rata 20-120 m dpl
Mempunyai kemiringan rata-rata 16-25% (curam)
Tipe lahan berbukit-bukit, batuan beku, dataran yang bergelombang
Tipe batuan granit, granodiorit, schist, andesit, basalt
3 Kahayan (KHY) Mempunyai kemiringan rata-rata < 2 %
Kedalaman gambut 26 50 cm
Berada pada ketinggian 0 25 m dengan batas ketinggian 0 10 m
Berlokasi pada topografi pantai rata dan daerah yang dibelah oleh sungai
air tawar
Tanah ini berasal dari deposisi laut saat ini (bergaram) dan sungai
muda/gambut topografi, gabungan daratan muara sungai, sungai dan
pantai.
Jenis tanah : Tropaquents, fluvaquents dan tropohemists
Tanah ini sesuai untuk lahan kering, lahan basah, perikanan, pengairan
sawah pasang surut dan kehutanan

4
Kaj Kajapah (KJP)
Dataran lumpur di daerah pasang surut dibawah bakau dan nipah
Lereng < 2 %
Berada di Ketinggian < 2 m
5 Mendawai
(MDW)
Mempunyai kemiringan rata-rata < 2 %
Kedalaman gambut 51 200 cm
Berada pada ketinggian 1 30 m dengan batas ketinggian 1 10 m
Berlokasi pada daerah rawa gambut dangkal
Jenis tanah : tropohemists, troposaprists, dan Tropaquents
Sistem mendawai memiliki potensi sebagai hutan produksi yang dikelola
dengan ketat dan menerapkan tebang pilih
6 Maput (MPT) Berada pada ketinggian rata-rata 50-120 m dpl
Mempunyai kemiringan rata-rata 41-60% (terjal)
Tipe batuan sandstone, shale, mudstone
Tipe lahan perbukitan tanpa endapan tidak berorientasi asimetris
Karakter tanah resapan baik
7 Pakalunai (PLN) Berada pada ketinggian rata-rata 50-800 m dpl
Mempunyai kemiringan rata-rata 41-60% (terjal)
Tipe batuan granit, schist, andesit, basalt, grandiorit
Penggunaan lahan kebanyakan hutan dataran lembah, sebagian diolah

8
Puting (PTG)
Pantai-pantai dan lembah-lembah diantaranya
Lereng <2 %
Berada pada ketinggian 2-10 m
9 Telawi (TWI) Ketinggian rata-rata 50-1800 m dpl
Kemiringan rata0rata 40-60%
Vegetasi hutan basah dataran rendah
Iklim hujan tahunan 2100-4000 mm
Sumber : Land Sistem West Kalimantan (RePPProT)
Percepatan Pembangunan Sanitasi Permukiman
Buku Putih Sanitasi Kabupaten Kubu Raya Tahun 2013 II - 6

Dari tabel diatas dapat dijelaskan bahwa Kabupaten Kubu Raya mempunyai sistem lahan
yang bermacam-macam diantaranya adalah gambut, honja, kahayan, kajapah, mendawai, maput,
pakalunai, puting, dan telawi.

2.1.3 Administratif
Kabupaten Kubu Raya merupakan kabupaten yang ada di Kalimantan Barat dengan luas
wilayah Kabupaten Kubu Raya 6.985,24 km atau sekitar 4,75% dari luas wilayah Provinsi
Kalimantan Barat.Wilayah Kabupaten Kubu Raya terdiri dari 9 kecamatan, kecamatan yang
memiliki wilayah terluas adalah Kecamatan Batu Ampar (2.002,70 km
2
atau 28,67% dari luas
Kabupaten Kubu Raya) dan Kecamatan dengan wilayah terkecil adalah Kecamatan Rasau Jaya
yaitu 111,07 km
2
atau 1,59% dari luas Kabupaten Kubu Raya.
Tabel 2.1
Daerah Aliran Sungai (DAS) di Wilayah Kabupaten Kubu Raya
Tahun 2011


















Percepatan Pembangunan Sanitasi Permukiman
Buku Putih Sanitasi Kabupaten Kubu Raya Tahun 2013 II - 7

Tabel 2.2
Nama, Luas Wilayah Per Kecamatan dan Jumlah Desa Tahun 2011

No Kecamatan Ibukota Desa Luas (Km2)
1 Batu Ampar Padang Tikar 14 2,002.70
2 Terentang Terentang 9 786.40
3 Kubu Kubu 20 1,211.60
4 Teluk Pakedai Teluk Pakedai 14 291.90
5 Sungai Kakap Sungai Kakap 12 453.17
6 Rasau Jaya Rasau Jaya 6 111.07
7 Sungai Raya Arang Limbung 16 929.30
8 Sungai Ambawang Ambawang Kuala 13 726.10
9 Kuala Mandor B Kuala Mandor 5 473.00
109 6,985.24 Kabupaten Kubu Raya
TABEL 3.1.
WILAYAH ADMINISTRASI KABUPATEN KUBU RAYA
Sumber : Kabupaten Kubu Raya Dalam Angka Tahun 2012

Peta 2.1 Daerah Aliran Sungai Wilayah Kabupaten Kubu Raya
Peta2.2 Administrasi Kabupaten Kubu Raya

2.2 Demografi
Metode yang digunakan untuk mengetahui jumlah penduduk sampai tahun rencana adalah metode
peramalan (forecasting). Pada dasarnya metode analisis ini mencoba mencari pola
kecenderungan pertumbuhan masa lalu sebagai masukan untuk meramalkan kondisi masa depan.
Analisis dengan menggunakan metode ini dipermudah dengan adanya perangkat lunak komputer
yang dikenal dengan Statgraphics (statistical graphics system).
Beberapa hal penting yang berkaitan dengan analisis (serta prosedur perhitungannya) adalah:
1. Harus tersedia minimal delapan rentang waktu data (time series) penduduk yang akan
diperkirakan jumlahnya di masa depan. Semakin banyak data proses penghalusan
(smoothing) menjadi semakin akurat, karena kesalahan juga kecil.
2. Untuk meminimalkan kesalahan, dilakukan perhitungan secara berulang (iterasi) dengan
berbagai macam parameter hingga ditemukan kesalahan yang paling kecil (mendekati nol).

Percepatan Pembangunan Sanitasi Permukiman
Buku Putih Sanitasi Kabupaten Kubu Raya Tahun 2013 II - 8

Metode yang digunakan untuk proyeksi jumlah penduduk ada 3, yaitu sebagai berikut :
1. Metode Matematik, ada 2 cara, yaitu:
a. Linear Rate of Growth, ada 2 cara yaitu:
- Arithmathic Rate of Growth(Pertumbuhan Penduduk Aritmatik rata-rata):
pertumbuhan penduduk dengan jumlah yang sama setiap tahun Pn= P0(1+rn).
- Geometric Rate of Growth(Pertumbuhan Penduduk Geometrik rata-rata):
pertumbuhan penduduk menggunakan dasar bunga berbunga (bunga majemuk)
Pn=P0 (1+r)n.
b. Eksponential Rate of Growth(Pertumbuhan Penduduk Eksponensial rata-rata):
Pertumbuhan penduduk secara terus menerus setiap hari dengan angka pertumbuhan
penduduk yang konstan Pn= P0 ern
Dimana P0: jumlah penduduk pada tahun awal
Pn: jumlah penduduk pada tahun ke-n
r: tingkat pertumbuhan penduduk dari tahun awal ke tahun ke-n.
n: banyak perubahan tahun.
2. Metode Komponen
Metode ini sering digunakan dalam penghitungan proyeksi penduduk.Metode ini melakukan
tiap komponen penduduk secara terpisah dan untuk mendapat proyeksi jumlah penduduk
total, hasil proyeksi tiap komponen digabungkan.
Metode ini membutuhkan data-data sebagai berikut:
a. Komposisi penduduk menurut umur dan jenis kelamin yang telah dilakukan perapihan
(smothing).
b. Pola mortalitas menurut umur.
c. Pola fertilitas menurut umur.
d. Rasio jenis kelamin saat lahir.
e. Proporsi migrasi menurut umur.
Rumus proyeksi penduduk : Pn = Po ( 1 + r )
n

Keterangan : Pn = jumlah penduduk pada tahun n (ditanyakan)
Po =jumlah penduduk pada tahun 0 / tahun dasar (diketahui)
n = jumlah tahun antara 0 hingga n
r = tingkat pertumbuhan penduduk pertahun ( dalam % )
Percepatan Pembangunan Sanitasi Permukiman
Buku Putih Sanitasi Kabupaten Kubu Raya Tahun 2013 II - 9

Pada hakekatnya pembangunan merupakan usaha untuk meningkatkan taraf hidup dan
kesejahteraan masyarakat.Sejak semula telah disadari bahwa pembangunan bukanlah hal
yang mudah dan pembangunan mencakup segi segi yang luas dan multidimensi. Penduduk
dari satu sisi merupakan sumber utama dalam proses pembangunan karena bagaimanapun
juga penduduklah yang berperan secara aktif dalam proses pembangunan tersebut.
Kekuatan yang mempengaruhi jumlah penduduk dapat dari faktor alamiah dan non
alamiah.Faktor yang mempengaruhi dari jumlah penduduk bersifat alamiah seperti fertilitas
dan mortalitas, sedangkan faktor non alamiah seperti migrasi baik migrasi keluar maupun
migrasi masuk.
Pada tahun 2011 penduduk Kabupaten Kubu Raya tercatat sebesar 511.235 jiwa.Jika dibagi
dengan luas wilayah Kabupaten Kubu raya yang cukup luas yakni 6.985,24 km
2
, maka
kepadatan penduduk tercatat sebesar 73 jiwa per km
2
. Penyebaran penduduk di Kabupaten
Kubu Raya terlihat belum merata,Kecamatan Sungai Kakap memiliki kepadatan penduduk
terbesar yaitu sebesar 229 jiwa per km
2
, diikuti Kecamatan Rasau Jaya dengan kepadatan
penduduk sebesar 217 jiwa per km
2
dan diikuti Kecamatan Sungai Raya sebesar 207 jiwa per
km
2
. Sedangkan Kecamatan Terentang memiliki kepadatan penduduk yang paling jarang
adalah yakni 13 jiwa per km
2
.
Laju pertumbuhan penduduk di Kabupaten Kubu Raya selama kurun waktu 2010 2011
adalah sebesar 2,05%. Laju pertumbuhan penduduk tertinggi terjadi di Kecamatan Sungai
Kakap yaitu sebesar 2,73%dan Kecamatan Rasau Jaya yaitu sebesar 2,49%. Dari segi
geografis, wilayah Kecamatan Sungai Kakap berbatasan langsung dengan kota Pontianak,
hal ini juga sedikit mempengaruhi perkembangan jumlah penduduk yang ada. Sedangkan di
Kecamatan Rasau Jaya cukup tinggi karena perkembangan industri sehingga menarik orang
untuk bekerja pada industriindustri tersebut.









Percepatan Pembangunan Sanitasi Permukiman
Buku Putih Sanitasi Kabupaten Kubu Raya Tahun 2013 II - 10

Tabel 2.3
Jumlah dan Kepadatan Penduduk
Tahun 2009 2011

Jmlh Pddk Kepadatan Jmlh Pddk Kepadatan Jmlh Pddk Kepadatan
1 Batu Ampar 2,002.70 32,533 16 33,113 17 33,660 17
2 Terentang 786.40 10,011 11 10,177 13 10,375 13
3 Kubu 1,211.60 36,140 27 36,469 30 36,829 30
4 Teluk Pakedai 291.90 18,467 56 18,767 64 19,064 65
5 Sungai Kakap 453.17 99,084 211 101,200 223 103,966 229
6 Rasau Jaya 111.07 22,960 194 23,499 212 24,084 217
7 Sungai Raya 929.30 184,233 223 188,014 202 191,929 207
8 Sungai Ambawang 726.10 63,404 82 65879*) 91 67207*) 93
9 Kuala Mandor B 473.00 23,576 46 23,852 50 24,121 51
6,985.24 490,408 71 500,970 72 511,235 73 Jumlah
Sumber : Badan Pusat Statistik Kabupaten Kubu Raya Tahun 2012
*) Belum Termasuk warga Perum IV yang pengakuannya masuk Kota Pontianak
Tahun 2009 Tahun 2010 Tahun 2011
No Kecamatan Luas (km2)






















Percepatan Pembangunan Sanitasi Permukiman
Buku Putih Sanitasi Kabupaten Kubu Raya Tahun 2013 II - 11

Tabel 2.4
Jumlah dan Kepadatan Penduduk 2011
dan Proyeksi Penduduk 2012 - 2016

1 Batu Ampar 2,002.70 1.65 33,660 17 34,215 17 34,780 17 35,354 18 35,937 18 36,530 18
2 Terentang 786.40 1.95 10,375 13 10,577 13 10,784 14 10,994 14 11,208 14 11,427 15
3 Kubu 1,211.60 0.99 36,829 30 37,194 31 37,562 31 37,934 31 38,309 32 38,688 32
4 Teluk Pakedai 291.90 1.58 19,064 65 19,365 66 19,671 67 19,982 68 20,298 70 20,618 71
5 Sungai Kakap 453.17 2.73 103,966 229 106,804 236 109,720 242 112,715 249 115,793 256 118,954 262
6 Rasau Jaya 111.07 2.49 24,084 217 24,684 222 25,298 228 25,928 233 26,574 239 27,236 245
7 Sungai Raya 929.30 2.08 191,929 207 195,921 211 199,996 215 204,156 220 208,403 224 212,737 229
8 Sungai Ambawang*) 726.10 2.02 67,207 93 68,565 94 69,950 96 71,363 98 72,804 100 74,275 102
9 Kuala Mandor B 473.00 1.13 24,121 51 24,394 52 24,669 52 24,948 53 25,230 53 25,515 54
6,985.24 2.05 511,235 73 521,715 75 532,410 76 543,325 78 554,463 79 565,830 81
Sumber : Badan Pusat Statistik Kabupaten Kubu Raya Tahun 2012
*) Belum Termasuk warga Perum IV yang pengakuannya masuk Kota Pontianak
Laju
Pertumbuhan
Kepad
atan
Kepa
datan
Jmlh Pddk Jmlh Pddk
Jumlah
Tahun 2012 Tahun 2013 Tahun 2014
Kecamatan No
Jmlh Pddk
Kepa
data
n
Jmlh Pddk Jmlh Pddk
Kepa
data
n
Tahun 2011
Luas (km2) Kepa
datan
Tahun 2015 Tahun 2016
Kepa
datan
Jmlh Pddk







Percepatan Pembangunan Sanitasi Permukiman
Buku Putih Sanitasi Kabupaten Kubu Raya Tahun 2013 II - 12


2.3 Keuangan dan Perekonomian Daerah

Tabel 2.5
REKAPITULASI REALISASI APBD KABUPATEN KUBU RAYA TAHUN 2009-2013

NO REALISASI ANGGARAN
TAHUN RATA 2
2009 2010 2011 2012 2013
PERTUM
BUHAN
A Pendapatan (a.1+a.2+a.3)
a.1 Pendapatan Asli Daerah (PAD)
a.1.1 Pajak Daerah
a.1.2 Retribusi Daerah
a.1.3 Hasil pengolahan kekayaan daerah yang dipisahkan
a.1.4 Lain-lain pendapatan daerah yang sah
a.2 Dana Perimbangan (Transfer)
a.2.1 Dana bagi hasil
a.2.2 Dana alokasi umum
a.2.3 Dana alokasi khusus
a.3 Lain-lain Pendapatan yang Sah
a.3.1 Hibah
a.3.2 Dana darurat
a.3.3 Dana bagi hasil pajak dari provinsi kepada kab./kota
a.3.4 Dana penyesuaian dan dana otonomi khusus
a.3.5 Bantuan keuangan dari provinsi/ pemerintah daerah lainnya
B Belanja (b.1+b.2)
b.1 Belanja Tidak Langsung
Percepatan Pembangunan Sanitasi Permukiman
Buku Putih Sanitasi Kabupaten Kubu Raya Tahun 2013 II - 13

b.1.1 Belanja Pegawai
b.1.2 Bunga
b.1.3 Subsidi
b.1.4 Hibah
b.1.5 Bantuan sosial
b.1.6 Belanja bagi hasil
b.1.7 Bantuan keuangan
b.1.8 Belanja tidak terduga
b.2 Belanja Langsung
b.2.1 Belanja pegawai
b.2.2 Belanja barang dan jasa
b.2.3 Belanja modal
C Pembiayaan
Surplus/
Defisit
Anggaran

Sumber : Realisasi APBD Tahun 2009-2013, diolah
Percepatan Pembangunan Sanitasi Permukiman
Buku Putih Sanitasi Kabupaten Kubu Raya Tahun 2013 II - 14

Tabel 2.6
REKAPITULASI REALISASI BELANJA SANITASI SKPD KABUPATEN KUBU RAYA TAHUN 2009-2013

NO SKPD
TAHUN RATA2
2009 2010 2011 2012 2013
PERTUM
BUHAN
1 Dinas Cipta Karya, Tata Ruang dan Kebersihan
1.a Investasi
1.b Operasional/ pemeliharaan (OM)
2 Badan Lingkungan Hidup
2.a Investasi
2.b Operasional/ pemeliharaan (OM)
3 Dinas Kesehatan
3.a Investasi
3.b Operasional/ pemeliharaan (OM)
4 Bappeda
4.a Investasi
4.b Operasional/ pemeliharaan (OM)
5 Badan Lingkungan Hidup
5.a Investasi
5.b Operasional/ pemeliharaan (OM)
6
Badan Pemberdayaan Masyarakat dan
Pemerintahan Desa
6.a Investasi
6.b Operasional/ pemeliharaan (OM)
7 Belanja Sanitasi (1++6)
8 Pendanaan investasi sanitasi Total (1a+..+6a)
9 Pendanaan OM (1b+.+6b)
10 Belanja Langsung
Percepatan Pembangunan Sanitasi Permukiman
Buku Putih Sanitasi Kabupaten Kubu Raya Tahun 2013 II - 15

11
Proporsi Belanja Sanitasi - Belanja Langsung
(7/10)
12
Proporsi Investasi Sanitasi - Total Belanja Sanitasi
(8/7)
13 Proporsi OM Sanitasi - Total Belanja Sanitasi (9/7)

Keterangan : Investasi termasuk di dalamnya pembangunan sarana prasarana, pengadaan lahan, pelatihan, koordinasi, advokasi, kampanye dan
studi-studi yang terkait dengan sanitasi

















Percepatan Pembangunan Sanitasi Permukiman
Buku Putih Sanitasi Kabupaten Kubu Raya Tahun 2013 II - 16

Tabel 2.7
BELANJA SANITASI PERKAPITA KABUPATEN KUBU RAYA TAHUN 2009-2013

NO DESKRIPSI
TAHUN RATA2
2009 2010 2011 2012 2013
PERTUM
BUHAN
1 Total Belanja Sanitasi Kabupaten
2 Jumlah Penduduk


Sumber : APBD dan BPS, diolah










Percepatan Pembangunan Sanitasi Permukiman
Buku Putih Sanitasi Kabupaten Kubu Raya Tahun 2013 II - 17























Percepatan Pembangunan Sanitasi Permukiman
Buku Putih Sanitasi Kabupaten Kubu Raya Tahun 2013 II - 18

Tabel 2.8
TABEL PETA PEREKONOMIAN KABUPATEN KUBU RAYA TAHUN 2009-2013

NO DESKRIPSI
TAHUN RATA2
2009 2010 2011 2012 2013
PERTUM
BUHAN
1 PDRB harga konstan (struktur perekonomian) (Rp.)
2 Pendapatan Perkapita Kabupaten (Rp.)
3 Pertumbuhan Ekonomi (%)


Percepatan Pembangunan Sanitasi Permukiman
Buku Putih Sanitasi Kabupaten Kubu Raya Tahun 2013 II - 19

2.4 Tata Ruang Wilayah
A. Tujuan Penataan Ruang Wilayah Kabupaten Kubu Raya
Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten Kubu Raya yang merupakan matra ruang dari
kebijakan pembangunan daerah (Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah)
Kabupaten Kubu Raya, harus mengacu pada RTRWN dan RTRWP Kalimantan Barat.
Dengan demikian, tujuan penataan ruang wilayah Kabupaten Kubu Raya harus selaras
dengan visi dan misi pembangunan daerah baik dalam kaitannya dengan pembangunan
daerah Kabupaten Kubu Raya maupun dalam kedudukannya sebagai bagian dari wilayah
Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Visi Kabupaten Kubu Raya adalah Kabupaten Kubu Raya Terdepan Dan Berkualitas.
Visi tersebut dijabarkan dengan sepuluh misi yaitu:
1. Meningkatkan dan mengembangkan kualitas dan kuantitas pendidikan formal dan non
formal.
2. Meningkatkan derajat kesehatan masyarakat dan layanan kesehatan yang bermutu,
mudah, murah, cepat dan tepat.
3. Meningkatkan dan mengembangkan sarana dan prasarana infrastruktur wilayah yang
merata, layak, dan bermutu sesuai dengan dinamika sosialekonomi yang memperhatikan
resiko dampak lingkungan kumulatif.
4. Meningkatkan nilai penting dan menjaga kualitas serta kelestarian fungsi lingkungan hidup
berikut ketersediaan sumber daya alam.
5. Meningkatkan daya tarik, mengembangkan iklim investasi yang kondusif dan layanan
perizinan yang prima serta dapat dipertanggungjawabkan sehingga dapat sekaligus
menciptakan lapangan kerja baru yang lebih luas.
6. Meningkatkan, mengembangkan dan memberdayakan potensi sumber daya alam,
kehutanan, pertanian, perkebunan, peternakan, pertambangan, energi sumberdaya
mineral, keanekaragaman hayati, perikanan dan kelautan yang berkelanjutan bersamaan
dengan pengembangan kompetensi sumber daya manusia yang dibutuhkan.
7. Meningkatkan dan mengembangkan sistem ekonomi kerakyatan yang berbasis potensi
sumberdaya alam, sumberdaya manusia, teknologi dan kemitraan.
8. Meningkatkan dan mengembangkan potensi sektor pembangunan pariwisata dan
kebudayaan daerah yang memiliki keunikan, dan kompetitif.
Percepatan Pembangunan Sanitasi Permukiman
Buku Putih Sanitasi Kabupaten Kubu Raya Tahun 2013 II - 20

9. Meningkatkan kinerja Pemerintah Daerah dan penataan birokrasi (kelembagaan) dan
kepegawaian yang berdisiplin, propesional, efisien, efektif, kreatif dan inovatif dalam
rangka memenuhi prinsip-prinsip good governance serta penegakan hukum.
10. Meningkatkan dan mengembangkan tatanan kehidupan masyarakat yang beriman,
bertaqwa, berakhlak mulia, berbudaya, dan bertoleransi sehingga menjadi basis kekuatan
modal sosial budaya.

Berdasarkan hal tersebut, maka tujuan penataan ruang Kabupaten Kubu Raya adalah:
1. Mendorong dan mempercepat terwujudnya Kabupaten Kubu Raya terdepan dan
berkualitas yang merupakan visi Kabupaten Kubu Raya
2. Mewujudkan pemanfaatan ruang yang optimal antara kebutuhan pengembangan wilayah
dengan potensi sumber daya alam, sumber daya manusia, teknologi dan kemitraan
3. Mengoptimalkan keuntungan geografis diwilayah pesisir sebagai pintu gerbang Provinsi
Kalimantan Barat dari laut dan udara
4. Menumbuhkan sektorsektor basis yang didominasi oleh sektor pertanian untuk
mendukung pengembangan sektor permukiman, perkotaan dan industri

B. Kebijakan dan Strategi Pengembangan Struktur Ruang
Kebijakan pengembangan struktur ruang meliputi:
1. Peningkatan akses pelayanan perkotaan dan pusat pertumbuhan ekonomi wilayah yang
merata dan berhierarki; dan
2. Peningkatan kualitas dan jangkauan pelayanan jaringan prasarana transportasi, energi,
sumber daya air, dan telekomunikasi yang terpadu dan merata di seluruh wilayah.

Strategi untuk peningkatan akses pelayanan perkotaan dan pusat pertumbuhan ekonomi
wilayah meliputi:
1. Menetapkan pola pengembangan sistem pusat-pusat pertumbuhan wilayah sebagai dasar
untuk mendistribusikan berbagai sarana dan prasarana pengembangan wilayah secara
proporsional dan merata.
2. Meningkatkan aksesibilitas antarkawasan perkotaan, antara kawasan perkotaan dan
kawasan perdesaan, serta antara kawasan perkotaan dan kawasan strategis yang
Percepatan Pembangunan Sanitasi Permukiman
Buku Putih Sanitasi Kabupaten Kubu Raya Tahun 2013 II - 21

memerlukan aksesibilitas untuk percepatan perkebangannya terutama kawasan-kawasan
yang memiliki nilai strategis dari sudut kepentingan ekonomi yang berpengaruh terhadap
pertumbuhan ekonomi kabupaten;
3. Mengembangkan pusat pertumbuhan baru di kawasan yang belum terlayani atau relatif
jauh dari pusat pertumbuhan yang telah ada dalam rangka mempercepat upaya
pemerataan pelayanan dan peningkatan kualitas sumber daya manusia melalui
peningkatan pelayanan kesehatan dan pendidikan baik formal maupun informal;
4. Mendorong perkembangan kawasan perkotaan dan pusat pertumbuhan lainnya untuk
peningkatan keefektifan dan efisiensi pelayanan terhadap wilayah di sekitarnya yang
lebih lanjut dapat mendorong perkembangan wilayah perdesaan.

Strategi untuk peningkatan kualitas dan jangkauan pelayanan jaringan prasarana wilayah
meliputi:
1. Menetapkan pola pengembangan sistem prasarana jaringan transportasi
2. Menetapkan pola pengembangan sistem prasarana jaringan listrik
3. Menetapkan pola pengembangan sistem prasarana telekomunikasi
4. Menetapkan pola pengembangan sistem prasarana pelayanan air bersih sesuai dengan
pola pengembangan sistem pusat-pusatpermukiman dan memberikan kerangka jaringan
yang efisien dan efektif dalam menunjang pengembangan kawasan budidaya dan
pengembangan kawasan strategis.
5. Meningkatkan jangkauan dan kualitas jaringan prasarana dan mewujudkan keterpaduan
pelayanan transportasi darat, laut, dan udara hingga memberikan pelayanan yang
optimal terhadap daerah-daerah terpencil atau terisolir dengan diiringi peningkatan
kualitas dan kuantitas sarana perhubungan.
6. Meningkatkan dan menjaga kelancaran transportasi yang menghubungkan daerah pesisir
dan daerah pedalaman dalam rangka mendukung upaya peningkatan kegiatan produksi
dan memperlancar kegiatan pemasaran hasil produksi serta mempersiapkan secara dini
jalur utama evakuasi bencana;
7. Meningkatkan kualitas jaringan prasarana serta mewujudkan keterpaduan sistem jaringan
sumber daya air;
Percepatan Pembangunan Sanitasi Permukiman
Buku Putih Sanitasi Kabupaten Kubu Raya Tahun 2013 II - 22

8. Meningkatkan pelayanan air bersih dengan mempercepat pembangunan instalasi
pendistribusian terutama pada daerah yang telah memiliki sumber air baku berkualitas
baik yang dapat didistribusikan secara gravitasi.
9. Meningkatkan jangkauan dan kualitas jaringan kelistrikan serta mewujudkan keterpaduan
sistem penyediaan tenaga listrik secara interkoneksi yang mengubungkan Kab. Kubu
Raya dengan kabupaten lainnya yang berbatasan
10. Pengembangan jaringan energi untuk memanfaatkan energi terbarukan dan tak
terbarukan secara optimal dengan mendorong perkembangan industri yang mengasilkan
bioenergi.
11. Mendorong pengembangan prasarana telekomunikasi terutama di kawasan terisolir.

C. Kebijakandan Strategi Pengembangan Pola Ruang
Kebijakan dan strategi pengembangan pola ruang meliputi:
1. Kebijakan dan strategi pengembangan kawasan lindung
2. Kebijakan dan strategi pengembangan kawasan budi daya
3. Kebijakan dan strategi pengembangan kawasan strategis

1. Kebijakan dan Strategi Pengembangan Kawasan Lindung
Kebijakan pengembangan kawasan lindung meliputi:
a. pemeliharaan dan perwujudan kelestarian fungsi lingkungan hidup; dan
b. pencegahan dampak negatif kegiatan manusia yang dapat menimbulkan kerusakan
lingkungan hidup.

Strategi untuk pemeliharaan dan perwujudan kelestarian fungsi lingkungan hidup
meliputi:
a. menetapkan kawasan-kawasan berfungsi lindung, yang meliputi kawasan yang
memberikan perlindungan kawasan bawahannya, kawasan perlindungan setempat,
kawasan pelestarian alam dan suaka alam, kawasan cagar budaya, serta kawasan
lindung lainnya guna menjamin terciptanya pembangunan berkelanjutan yang
berwawasan lingkungan;
Percepatan Pembangunan Sanitasi Permukiman
Buku Putih Sanitasi Kabupaten Kubu Raya Tahun 2013 II - 23

b. mengembalikan dan meningkatkan fungsi kawasan lindung yang telah menurun
akibat pengembangan kegiatan budi daya, dalam rangka mewujudkan dan
memelihara keseimbangan ekosistem wilayah; dan
c. mewujudkan kawasan hutan dengan luas paling sedikit 30% (tiga puluh persen) dari
luasnya sesuai dengan kondisi ekosistemnya.

Strategi untuk pencegahan dampak negatif kegiatan manusia yang dapat menimbulkan
kerusakan lingkungan hidup meliputi:
a. menyelenggarakan upaya terpadu untuk melestarikan fungsi lingkungan hidup;
b. melindungi kemampuan lingkungan hidup dari tekanan perubahan dan/atau dampak
negatif yang ditimbulkan oleh suatu kegiatan agar tetap mampu mendukung
perikehidupan manusia dan makhluk hidup lainnya;
c. melindungi kemampuan lingkungan hidup untuk menyerap zat, energi, dan/atau
komponen lain yang dibuang ke dalamnya;
d. mencegah terjadinya tindakan yang dapat secara langsung atau tidak langsung
menimbulkan perubahan sifat fisik lingkungan yang mengakibatkan lingkungan
hidup tidak berfungsi dalam menunjang pembangunan yang berkelanjutan;
e. mengendalikan pemanfaatan sumber daya alam secara bijaksana untuk menjamin
kepentingan generasi masa kini dan generasi masa depan;
f. mengelola sumber daya alam tak terbarukan untuk menjamin pemanfaatannya
secara bijaksana dan sumber daya alam yang terbarukan untuk menjamin
kesinambungan ketersediaannya dengan tetap memelihara dan meningkatkan
kualitas nilai serta keanekaragamannya; dan
g. mengembangkan kegiatan budidaya yang mempunyai daya adaptasi bencana di
kawasan rawan bencana.

2. Kebijakan dan Strategi Pengembangan Kawasan Budidaya
Kebijakan pengembangan kawasan budi daya meliputi:
a. perwujudan dan peningkatan keterpaduan dan keterkaitan antarkegiatan budi daya;
dan
Percepatan Pembangunan Sanitasi Permukiman
Buku Putih Sanitasi Kabupaten Kubu Raya Tahun 2013 II - 24

b. pengendalian perkembangan kegiatan budi daya agar tidak melampaui daya dukung
dan daya tampung lingkungan.

Strategi untuk perwujudan dan peningkatan keterpaduan dan keterkaitan antarkegiatan
budi daya meliputi:
a. menetapkan kawasan budi daya yang memiliki nilai strategis serta pemanfaatan
sumber daya alam secara sinergis untuk mewujudkan keseimbangan pemanfaatan
ruang wilayah;
b. memberikan arahan pemanfaatan ruang untuk pengembangan kegiatan budi daya
unggulan khususnya perkebunan dan pertambangan serta kegiatan budi daya yang
potensial berkembang selaras dengan strategi pengembangan struktur ruang agar
sinergis dan berkelanjutan untuk mendorong perkembangan perekonomian
kawasan dan wilayah sekitarnya;
c. mengembangkan dan melestarikan kawasan budi daya pertanian pangan untuk
mewujudkan ketahanan pangan nasional disertai dengan upaya untuk peningkatan
produksi dan produktivitas pertanian serta pengembangan agroindustri dan
agrobisnis di kawasan perdesaan;
d. mengembangkan pulau-pulau kecil dengan pendekatan gugus pulau untuk
meningkatkan daya saing dan mewujudkan skala ekonomi;

Strategi untuk pengendalian perkembangan kegiatan budi daya agar tidak melampaui
daya dukung dan daya tampung lingkungan meliputi:
a. membatasi perkembangan budi daya di kawasan rawan bencana untuk
meminimalkan potensi kejadian bencana dan potensi kerugian akibat bencana;
b. mengembangkan ruang terbuka hijau dengan luas paling sedikit 30% dari luas
kawasan perkotaan; dan
c. mengendalikan kegiatan budidaya di pulau - pulau kecil agar eksistensi pulau pulau
tersebut dapat dipertahankan.


Percepatan Pembangunan Sanitasi Permukiman
Buku Putih Sanitasi Kabupaten Kubu Raya Tahun 2013 II - 25

3. Kebijakan dan Strategi Pengembangan Kawasan Strategis
Kebijakan pengembangan kawasan strategis meliputi:
a. pengembangan dan peningkatan fungsi kawasan yang berperan penting dalam
perkembangan perekonomian kabupaten;
b. pemanfaatan sumber daya alam dan/atau teknologi tinggi secara optimal untuk
meningkatkan kesejahteraan masyarakat;
c. pengembangan kawasan tertinggal untuk mengurangi kesenjangan tingkat
perkembangan antarkawasan.
d. pelestarian dan peningkatan fungsi dan daya dukung lingkungan hidup untuk
mempertahankan dan meningkatkan keseimbangan ekosistem, melestarikan
keanekaragaman hayati, serta mempertahankan dan meningkatkan fungsi
perlindungan kawasan;

Strategi untuk pengembangan dan peningkatan fungsi kawasan yang berperan penting
dalam perkembangan perekonomian kabupaten meliputi:
a. mengembangkan pusat pertumbuhan berbasis potensi sumber daya alam dan
kegiatan budi daya unggulan sebagai penggerak utama pengembangan wilayah;
b. memberikan arahan pengembangan bagi kawasan strategis yang memiliki
pertumbuhan cepat dengan harapan agar pertumbuhan pada kawasan tersebut
mampu memicu perkembangan wilayah belakangnya;
c. mengelola pemanfaatan sumber daya alam agar tidak melampaui daya dukung dan
daya tampung kawasan;
d. mengelola dampak negatif kegiatan budi daya agar tidak menurunkan kualitas
lingkungan hidup dan efisiensi kawasan;
e. meningkatkan pelayanan prasarana dan sarana penunjang kegiatan ekonomi.
f. mengintensifkan promosi peluang investasi; dan
g. menciptakan iklim investasi yang kondusif.

Strategi untuk pemanfaatan sumber daya alam dan/atau teknologi tinggi secara optimal
meliputi:
Percepatan Pembangunan Sanitasi Permukiman
Buku Putih Sanitasi Kabupaten Kubu Raya Tahun 2013 II - 26

a. mengembangkan kegiatan penunjang dan/atau kegiatan turunan dari pemanfaatan
sumber daya dan/atau teknologi tinggi;
b. meningkatkan keterkaitan kegiatan pemanfaatan sumber daya dan/atau teknologi
tinggi dengan kegiatan penunjang dan/atau turunannya; dan
c. mencegah dampak negatif pemanfaatan sumber daya alam dan/atau teknologi tinggi
terhadap fungsi lingkungan hidup, dan keselamatan masyarakat.

Strategi untuk pengembangan kawasan tertinggal dan terisolir meliputi:
a. memanfaatkan sumber daya alam secara optimal dan berkelanjutan;
b. membuka akses dan meningkatkan aksesibilitas antara kawasan tertinggal dan pusat
pertumbuhan wilayah terdekat;
c. mengembangkan prasarana dan sarana penunjang kegiatan ekonomi masyarakat;
d. meningkatkan akses masyarakat ke sumber pembiayaan; dan
e. meningkatkan kualitas dan kapasitas sumber daya manusia dalam pengelolaan
kegiatan ekonomi.

Strategi untuk pelestarian dan peningkatan fungsi dan daya dukung lingkungan hidup
meliputi:
a. menetapkan kawasan strategis berfungsi lindung;
b. melestarikan keaslian fisik serta mempertahankan keseimbangan ekosistem di
kawasan strategis berfungsi lindung;
c. mencegah pemanfaatan ruang di kawasan strategis yang berpotensi mengurangi
fungsi lindung kawasan;
d. membatasi pengembangan prasarana dan sarana di dalam dan di sekitar kawasan
strategis yang dapat memicu perkembangan kegiatan budi daya yang dapat
menggangggu fungsi lindung kawasan;
e. mengembangkan kegiatan budi daya tidak terbangun di sekitar kawasan strategis
sebagai zona penyangga yang memisahkan kawasan strategis berfungsi lindung
dengan kawasan budi daya terbangun; dan
f. merehabilitasi fungsi lindung kawasan yang menurun akibat dampak pemanfaatan
ruang yang berkembang di dalam dan di sekitar kawasan strategis.
Percepatan Pembangunan Sanitasi Permukiman
Buku Putih Sanitasi Kabupaten Kubu Raya Tahun 2013 II - 27

Peta 2.3 Rencana Pusat Layanan Kabupaten / Struktur Ruang
Peta 2.4 Rencana Pola Ruang Kabupaten Kubu Raya
2.5 Sosial Budaya
2.5.1 Data Fasilitas Pendidikan
Pendidikan di suatu daerah atau suatu negara merupakan salah satu faktor yang
mempunyai kontribusi yang signifikan terhadap perkembangan dan kemajuan daerah atau negara
tersebut. Hal ini dikarenakan semakin tinggi tingkat pendidikan maka akan lebih mudah menerima
dan mengembangkan pengetahuan serta teknologi. Dengan menguasai ilmu pengetahuan dan
teknologi maka diharapkan dapat tercipta sumber daya manusia yang dapat berperan dalam
meningkatkan produktifitas yang pada akhirnya dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
Pendidikan merupakan salah satu masalah penting yang menjadi perhatian pemerintah.
Hal ini dikarenakan tingkat pendidikan masyarakat dapat dijadikan salah satu indikator yang
menunjukkan kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) yang ada pada suatu bangsa. Apabila tingkat
pendidikan semakin tinggi maka kualitas SDM yang ada juga semakin bagus. Perkembangan yang
terjadi di dunia pendidikan khususnya di Kabupaten Kubu Raya cukup menggembirakan. Hal ini
tidak terlepas dari peran serta semua pihak baik institusi pemerintah maupun swasta. Peran serta
tersebut dapat dilihat dalam hal penyediaan sarana fisik maupun non fisik yang ada. Pada tahun
2011 terdapat 67 TK, 501 SD, 188 SLTP dan 68 SLTA/SMK di Kabupaten Kubu Raya.
Perkembangan penduduk di masa yang akan datang menuntut peningkatan jumlah fasilitas
pendidikan berupa ruang belajar yang mampu menunjang pengembangan pengetahuan dan
keterampilan anak sekolah sesuai dengan kurikulum yang berlaku.












Percepatan Pembangunan Sanitasi Permukiman
Buku Putih Sanitasi Kabupaten Kubu Raya Tahun 2013 II - 28

Tabel 2.9
Jumlah Fasilitas Pendidikan di Kabupaten Kubu RayaTahun 2011

1 Batu Ampar 2 36 12 4
2 Terentang 1 21 5 1
3 Kubu 4 43 13 3
4 Teluk Pakedai 7 28 7 2
5 Sungai Kakap 5 69 26 7
6 Rasau Jaya 6 21 10 6
7 Sungai Raya 23 130 60 24
8 Sungai Ambawang 11 103 36 19
9 Kuala Mandor B 8 50 19 2
67 501 188 68
Sumber : Kabupaten Kubu Raya Dalam Angka, Tahun 2012
Jumlah
SD / MI Negeri
dan Swasta
SMP / MTS Negeri
dan Swasta
SMA / SMK / MA
Negeri dan Swasta
Kecamatan No
TK Negeri /
Swasta


2.5.2 Jumlah Penduduk Miskin
Persoalan kemiskinan merupakan salah satu bagian dari dinamika kehidupan masyarakat
Kabupaten Kubu Raya.Kemiskinan terkait erat dengan status tahapan keluarga sejahtera. Dalam
menentukan status tahapan keluarga sejahtera telah ditetapkan 21 (dua puluh satu) indicator dan
keluarga dikategorikan kedalam (sumber: BKKBN, 2010) :
1) Keluarga prasejahtera (Pra-KS) yaitu keluarga yang belum mampu memenuhi kebutuhan
dasarnya (basic need) secara minimal seperti kebutuhan pangan, sandang, papan, kesehatan
dan pendidikan. Keluarga prasejahtera di Kabupaten Kubu Raya mencapai 3.031 keluarga
atau 2,71% dari total keluarga.
2) Keluarga Sejahtera I (KS-I) yaitu keluarga yang telah dapat memenuhi kebutuhan dasarnya
secara minimal tetapi belum dapat memenuhi keseluruhan kebutuhan social psikologisnya
(Socio Psikological Needs) seperti ibadah, makanan protein hewani, pakaian, ruang untuk
interaksi keluarga, dalam keadaan sehat, mempunyai penghasilan, bias baca tulis latin dan
Keluarga Berencana. Keluarga Sejahtera I di Kabupaten Kubu Raya mencapai 41.294
(36,31%).
3) Keluarga Sejahtera II (KS-II) yaitu keluarga yang telah memenuhi kebutuhan dasarnya dan
kebutuhan social psikologinya akan tetapi belum dapat memenuhi keseluruhan kebutuhan
perkembangannya (developmental needs) seperti : peningkatan agama, menabung interaksi
Percepatan Pembangunan Sanitasi Permukiman
Buku Putih Sanitasi Kabupaten Kubu Raya Tahun 2013 II - 29

dalam keluarga, ikut berkegiatan di masyarakat dan mampu memperoleh informasi. Keluarga
yang termasuk dalam kategori ini adalah 59.711 KK (52,6%).
4) Keluarga Sejahtera III (KS III) yaitu keluarga yang telah memenuhi kebutuhan dasar,
kebutuhan social psikologinya dan kebutuhan perkembangannya namun belum mampu
memberikan sumbangan (kontribusi) yang maksimal terhadap masyarakat, seperti secara
teratur memberikan sumbangan, belum dapat berperan aktif dalam mengurus lembaga
kemasyarakatan atau yayasan.Keluarga dengan kategori ini terdiri dari 7.352 KK (6,46%).

Tabel 2.10
Banyaknya Keluarga Sejahtera Dirinci Menurut Kecamatan
Di Kabupaten Kubu Raya Tahun 2011

NO KECAMATAN
SEGMENTASI KESEJAHTERAAN KELUARGA
JUMLAH
PRA KS KS-I KS-II KS-III KS-III Plus
1 2 3 4 5 6 7 8
1 Batu Ampar 460 3,728 4,778 762 218 9,946
2 Terentang 112 1,434 1,906 152 5 3,609
3 K u b u 234 4,335 4,625 1,012 82 10,288
4 Teluk Pakedai 475 2,995 288 219 78 4,055
5 Sungai Kakap 2 8,490 14,262 1,975 482 25,211
6 Rasau Jaya 23 2,271 2,711 787 475 6,267
7 Sungai Raya 1,645 10,245 20,094 1,315 554 33,853
8 Sui. Ambawang 3 4,826 8,026 895 392 14,142
9 Kuala Mandor B 127 2,970 3,021 235 15 6,368
2011 3,081 41,294 62,281 7,352 2,301 116,259
2010 6,489 34,548 51,083 17,583 2,626 112,284
2009 6,118 33,827 34,384 16,222 - 90,621
Sumber : Kabupaten Kubu Raya Dalam Angka 2012


2.5.3 Jumlah Rumah
Jumlah rumah di Kabupaten Kubu Raya diperkirakan 109.515 unit yang terdistribusi ke
seluruh wilayah Kabupaten Kubu Raya yang terdapat perbedaan yang cukup mencolok antara
satu kecamatan dengan kecamatan lainnya.Jumlah yang cukup besar berada pada wilayah-
wilayah bagian utara yang berbatasan dengan Kota Pontianak seperti Kecamatan Sungai
Percepatan Pembangunan Sanitasi Permukiman
Buku Putih Sanitasi Kabupaten Kubu Raya Tahun 2013 II - 30

Raya<Sungai Kakap dan sebagian Sungai Ambawang. Hal ini disebabkan pola commuter
masyarakat yang bekerja di Kota Pontianak lebih memilih tinggal di sekitar pinggiran kota
mengingat harga lahan yang tinggi di Kota Pontianak.
Untuk wilayah Kecamatan Sungai Raya jumlah rumah paling tinggi dibandingkan wilayah
lainnya, hal ini disebabkan oleh status Kecamatan Sungai Raya yang pusatnya menjadi ibukota
kabupaten, di samping memang di kecamatan ini telah berkembang kawasan permukiman sebagai
limpahan perkembangan Kota Pontianak, didukung dengan berbagai infrastruktur penting berskala
propinsi dan nasional, seperti jalan nasional Pontianak Bandara Supadio serta bandara itu
sendiri.
Kecamatan BatuAmpar merupakan kecamatan dengan jumlah rumah relative tinggi di wilayah
selatan Kabupaten Kubu Raya.Hal ini disebabkan oleh peranan kecamatan ini yang cukup penting
dalam perekonomian wilayah selatan terutama saat kejayaan sector kehutanan beberapa tahun
yang lalu.

Tabel 2.11
Jumlah Rumah Per Kecamatan

NO KECAMATAN JUMLAH RUMAH
1 2 3
1 Batu Ampar 7.018
2 Terentang 2.416
3 K u b u 8.283
4 Teluk Pakedai 3.343
5 Sungai Kakap 22.778
6 Rasau Jaya 5.708
7 Sungai Raya 41.477
8 Sui. Ambawang 13.928
9 Kuala Mandor B 4.564
KAB. KUBU RAYA 109.515
Sumber : Kabupaten Kubu Raya Dalam Angka, 2012




Percepatan Pembangunan Sanitasi Permukiman
Buku Putih Sanitasi Kabupaten Kubu Raya Tahun 2013 II - 31

2.5.4 Rumah Kumuh
Keberadaan permukiman kumuh tidak layak huni pada seluruh kecamatan di Kabupaten Kubu
Raya dapat dilihat pada table 2.12. Kecamatan Sungai Raya menjadi kecamatan yang memiliki
kawasan kumuh terluas, sekitar 7,35 hektar tersebar di permukiman pinggiran Sungai Kapuas dan
sebagian tersebar sporadic di pusat-pusat permukiman lainnya. Sedangkan di kecamatan-
kecamatan lain, kawasan kumuh tersebar dalam kelompok kecil-kecil di pusat kecamatan di
pinggiran sungai.
Tabel 2.12
JUMLAH RUMAH DI KAWASAN KUMUH DI KABUPATEN KUBU RAYA

NO KECAMATAN
LUAS JUMLAH PERSENTASE THD
KAWASAN RUMAH DI TOTAL RUMAH DI
KUMUH KAWASAN KAWASAN KUMUH
(Ha) KUMUH
1 2 3 4 5
1 Batu Ampar 6.64 746 21.12
2 Terentang 1.22 137 3.88
3 K u b u 1.53 172 4.87
4 Teluk Pakedai 3.88 436 12.34
5 Sungai Kakap 3.28 368 10.42
6 Rasau Jaya 4.51 507 14.35
7 Sungai Raya 7.35 826 23.39
8 Sui. Ambawang 1.92 216 6.12
9 Kuala Mandor B 1.10 124 3.51
2011 31.43 3,532 100.00
Sumber : Hasil Survey Tim Penyusun RP4D Kabupaten Kubu Raya, 2011

Peningkatan kualitas lingkungan permukiman kumuh diarahkan dengan rehabilitasi berupa KIP (Kampoong
Improvement Programme) yaitu peningkatan/ perbaikan prasarana dan sarana lingkungan.Upaya
peremajaan lingkungan kumuh juga dapat diarahkan dengan konsep redevelopment (menata ulang
kawasan), pembangunan rumah susun dan dengan memadukan konsep agar masyarakat penghuni lama
tidak tergusur.



Percepatan Pembangunan Sanitasi Permukiman
Buku Putih Sanitasi Kabupaten Kubu Raya Tahun 2013 II - 32

2.6 Kelembagaan Pemerintah Daerah
Berdasarkan Peraturan Daerah Nomor 14 Tahun 2009 tentang Susunan Organisasi
Perangkat Daerah Kabupaten Kubu Raya, berikut adalah susunan organisasi perangkat daerah
yang terdapat di Kabupaten Kubu Raya :

Percepatan Pembangunan Sanitasi Permukiman
Buku Putih Sanitasi Kabupaten Kubu Raya Tahun 2013 II - 33


Gambar 2.1 Struktur Organisasi Pemerintahan Daerah kabupaten Kubu Raya
Percepatan Pembangunan Sanitasi Permukiman
Buku Putih Sanitasi Kabupaten Kubu Raya Tahun 2013 II - 34




Catatan : Semua Peta skalanya minimal 1 : 25.000 atau 1 : 50.000