Anda di halaman 1dari 3

Explain why ions are separated into groups in the qualitative analysis scheme rather than the entire

sample being analyzed for each ion?


Jawaban:
Analisis kualitatif merupakan analisis untuk menentukan ada tidaknya suatu ion dalam sampel
(larutan). Karena dalam larutan mengandung banyak ion, maka untuk menguji adanya suatu ion secara
spesifik diperlukan adanya pemisahan ion sehingga dalam identifikasi tidak terjadi kesalahan. Analisis ini
berlaku untuk kation dan anion.Dalam metode kualitatif, digunakan beberapa pereaksi yang disebut
dengan reagen diantaranya pereaksi golongan dan pereaksi spesifik, kedua pereaksi ini digunakan untun
mengetahui jenis anion atau kation dalam suatu larutan.
Dalam melakukan analisis kualitatif menggunakan seperangkat prosedur yang dinamakan bagan
analisis kualitatif. Setiap analisis terbagi menjadi 3 bagian:
1. Pemeriksaan pendahuluan terhadap larutan
Perhatikan warna, bau dan sifat fisik yang khusus apa saja
Uji reaksi terhadap kertah lakmus:
a) Larutan netral : tak ada asam bebas , basa bebas, garam dan asam
terhidrolisis sehingga memberikan reaksi asam atau basa
b) Larutan basa: dapat disebabkan adanya logam alkali dan alkali tanah,
karbonat, sulfide, hipoklorit dan peroksida
c) Larutan asam : dapat disebabkan oleh asam bebas, garam asam , garam
yang terhidrolisis dan memberikan reaksi asam
Uapkan larutan sampai kering dan catat warna dan penampilan residu. Jika tak ada
residu, maka zat hanya mengandung zat atisiri
2. Pemeriksaan ion logam (kation) dalam larutan
3. Pemeriksaan anion dalam larutan
Dalam analisa kualitatif cara memisahkan ion logam tertentu harus
mengikuti prosedur kerja yang khas. Zat uji harus disiapakan atau diubah dalam bentuk suatu larutan.
Untuk zat padat harus dipilih zat pelarut yang cocok. Pelarut-pelarut yang biasa digunakan adalah air,
asam klorida encer, asam klorida pekat, asam nitrat encer, asam nitrat pekat, dan air raja. Ion-ion logam
pada golongan-golongan diendapakan satu persatu, endapan dipisahkan dari larutannya dengan cara
disaring atau diputar dengan sentrifuge, endapan dicuci untuk membebaskan dari larutan pokok atau
dari filtrat dan tiap-tiap logam yang mungkin ada harus dipisahkan. Endapan tersebut dapat berbentuk
kristal atu koloid dan dengan warna yang berbeda-beda.
Suatu endapan juga terbentuk ketika larutan menjadi terlalu jenuh. Kelarutan sama dengan
konsentrasi molar dari larutan jenuhnya. Kelarutan bergantunga pada berbagai kondisi seperti tekanan ,
suhu, konsentrasi bahan lain dan jenis pelarut. Perubahan kelarutan dengan perubahan tekanan tidak
mempunyai arti penting dalamanalisa kualitatif, karena semua pekerjaan dilakukan dalam wadah
terbuka pada tekananatmosfer.
Kenaikan suhu umumnya dapat memperbesar kelarutan endapan kecuali pada beberapa
endapan seperti kalsium sulfat berlaku sebaliknya. Perbedaan kelarutan karena suhu ini dapat
digunakan sebagai dasar pemisahan kation.
Misalnya, pemisahan kation Ag,Hg(I), dan Pb dapat dilakukan dengan mengendapkan ketiganya
sebagai garam kloridakemudian memisahkan Pb dari Ag dan Hg(I) dengan memberikan air panas.
Kenaikan suhu akan memperbesar kelarutan Pb sehingga endapan tersebut larut sedangkan kedua
kationlainnya tidak. Kelarutan bergantung juga pada sifat dan konsentrasi bahan lain yang adadalam
campuran larutan itu. Bahan lain tersebut dikenal dengan ion sekutu dan ion asing.Umumnya kelauran
endapan berkurang dengan adanya ion sekutu yang berlebih dan dalam prakteknya ini dilakukan dengan
memberika efek yang sebaliknya yaitu melarutkan endapan. Hal ini terjadi karena adanya pembentukan
kompleks yang dapatlarut denga ion sekutu tersebut
Kation-kation diklasifikasikan dalam 5 golongan berdasarkan sifat-sifat kation itu terhadap
beberapa reagen golongan. Dimana suatu reagensia golongan akan memisahkan golongan khususnya
dari golongan-golongan berikutnya dan bukan dari golongan-golongan pendahulunya.
Golongan 1 kation golongan ini membentuk endapan dengan asam klorida encer. Ion-ion golongan ini
adalah timbel, merkurim (I) raksa dan perak
Golongan II kation golongan ini tidak bereaksi dengan asam klorida, tetapi membentuk endapan dengan
hydrogen sulfide dalam suasana sam mineral encer. Ion-ion golongan ini adalam merkurium (II),
tembaga, bismuth, cadmium, arsenic (III), arsenic (V), stibium (III), timah (II) dan timah (III) (IV). Keempat
ion yang pertama merupakan sub golongan IIa dan keenam yang terakhir sub golngan IIb. Sementara
sulfide dari kation dalam golongan IIa tak dapat larut dalam ammonium polisulfida, sulfide dari kation
dalam golongan IIb justru dapat larut
Golongan III kation golongan ini tak bereaksi dengn asam klorida encer, ataupun dengan hydrogen
sulfide dalam suasana asam mineral encer. Namun, kation ini membentuk endapan dengan ammonium
sulfide dalam suasana netral atau amoniakal. Kation-kation golongan ini adalah kobalt (II), nikel (II), besi
(II), besi (III), kromium (III), aluminium, zink dan mangan (II).
Golongan IV kation golongan ini tak bereaksi dengan reangensia golongan I, II dan III. Kation-kation ini
mebentuk endapan dengan ammonium karbonat dengan adanya ammonium klorida, dalam suasana
netral atau sedikit asam. Kation-kation golongan ini adalah: kalsium, stronsium, dan barium.
Golongan V kation-kation yang umum, yang tidak bereaksi dengan reagensia-reagensia golongan
sebelumnya, merupakan kation yang terakhir, yang meliputi ion-ion magnesiaum, natrium, kalium,
ammonium, litium,dan hydrogen
Cara identifikasi anion tidak begitu sistematik seperti pada identifikasi kation. Salah satu cara
penggolongan anion adalah pemisahan anion berdasarkan kelarutan garam-garam perak, garam-garam
kalsium, barium dan seng. Selain itu ada cara penggolongan anion menurut Bunsen, Gilreath dan Vogel.
Bunsen menggolongkan anion dari sifat kelarutan garam perak dan garam bariumnya, warna,
kalarutan garam alkali dan kemudahan menguapnya. Gilreath menggolongkan anion berdasarkan pada
kelarutan garam-garam Ca, Ba, Cd dan garam peraknya. Sedangkan Vogel menggolongkan anion
berdasarkan pada proses yang digunakan dalam identifikasi anion yang menguap bila diolah dengan
asam dan identifikasi anion berdasarkan reaksinya dalam larutan. Identifikasi anion yang menguap bila
diolah dengan asam dibagi dua lagi yaitu anion membentuk gas bila diolah dengan HCl encer atau
H
2
SO
4
encer, dan anion yang membentuk gas atau uap bila diolah dengan H
2
SO
4
pekat. Demikian pula
identifikasi anion berdasarkan reaksi dalam larutan dibagi dua yaitu anion yang diidentifikasi dengan
reaksi pengendapan dan dengan reaksi redoks. Berikut adalah reaksi-reaksi sampel dengan asam sulfat
dingin.
Anion lainnya tidak memberikan reaksi dengan asam sulfat pekat dalam keadaan dingin, tetapi
nitrat bereaksi menghasilkan uap coklat dari NO2 yang dihasilkan, dan asetat memberikan bau khas
cuka jika direaksikan dengan asam sulfat pekat.
Identifikasi anion meliputi analisis pendahuluan, analisis anion dari zat asal dan analisis anion
dengan menggunakan larutan ekstra soda. Dari hasil analisis sebelumnya (data kelarutan) dan
pengetahuan tentang kation yang ada, dapat memberikan petunjuk tentang anion yang mungkin ada
atau tak ada dalam larutan sampel. Sebagai contoh, zat asal larut dalam air panas, kation yang
ditemukan Pb2+, anion yang mungkin ada adalah klorida karena PbCl2 larut dalam air panas. Tidak
mungkin nitrat karena timbal nitrat mudah larut dalam air dingin.
Analisis kualitatif menggunakan dua macam uji, yaitu reaksi kering dan reaksi basah. Reaksi
kering dapat digunakan pada zat padat dan reaksi basah untuk zat dalam larutan.
Untuk Reaksi Kering pemeriksaan Anion dalam sampel yang masih berbentuk zat biasanya
dilakukan dengan menggunakan larutan Ekstrak Soda (ES). Larutan ekstrak soda dibuat dengan
memasak cuplikan dalam larutan jenuh natrium karbonat selama 10 menit, lalu disaring. Filtrat yang
diperoleh disebut ekstrak soda (ES). Karena ES suasana basa maka larutan ES ini tidak dipergunakan
tanpa pengaturan suasana yang tepat. Biasanya sebelum digunakan ditambahkan dulu asam.
Fungsi larutan ekstrak soda adalah untuk mengendapkan kation logam berat dan untuk
mempertinggi kelarutan anion.. Pada pemanasan dengan penambahan Na
2
CO
3
ion-ion logam
diendapkan dalam bentuk oksida, hidroksida, karbonat dan karbonat basa. Bila Na
2
CO
3
yang
ditambahkan banyak maka CrO
4
2-
yang dapat larut makin banyak.