Anda di halaman 1dari 8

1

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Agama merupakan suatu kepercayaan kepada Tuhan Yang Maha Esa
yang dianut seseorang dan menjadi suatu hal yang sangat penting di dalam
menuntun jalan hidup orang tersebut untuk mencapai kebahagiaan lahir dan
batin. Semua agama yang ada di dunia ini pada dasarnya sama, yaitu
mengajarkan seseorang untuk senantiasa berbuat baik dimanapun dan
kapanpun. Dengan berbuat baik maka akan menambah amal dan pahala
seseorang, dimana amal dan pahala tersebut akan memberikan dampak yang
baik serta manfaat bagi kehidupan seseorang saat ini maupun di masa yang
akan datang. Setiap umat beragama diharapkan untuk mampu mengamalkan
ajaran agama dalam kehidupan sehari-hari baik di lingkungan rumah, di
sekolah, maupun di masyarakat.
Seperti halnya agama, di zaman sekarang ini politik merupakan hal yang
sering diperbincangkan oleh masyarakat luas. Hal itu membuktikan bahwa
politik menjadi salah satu bagian penting dalam kehidupan manusia. Banyak
orang berlomba-lomba ingin terjun ke dunia politik dengan tujuan memajukan
bangsa dan negara. Namun ironisnya, belakangan ini penyelenggaraan politik
kerap dikaitkan dengan hal-hal yang bersifat negatif seperti KKN. Hal-hal
yang berhubungan dengan politik sangat identik dengan praktek kecurangan
para peserta politik. Politik yang pada awalnya bersih, telah dinodai oleh
perbuatan oknum-oknum terkait yang tidak bertanggung jawab.
Maka dari itu, kami mencoba untuk mengaitkan antara ajaran agama
dengan dunia politik. Bagaimana orang-orang yang ingin berkecimpung dalam
dunia politik harus dibekali dasar agama yang kuat, sehingga mampu
menghindarkan diri dari hal-hal yang bersifat negatif. Berdasarkan latar
belakang tersebut, maka penulis tertarik menyusun sebuah karya tulis dengan
judul, Politik Dalam Perspektif Hindu.


2

1.2 Rumusan Masalah
Adapun rumusan masalah yang dapat dibuatkan dalam karya tulis ini
adalah sebagai berikut :
1. Apakah pengertian dan sumber ajaran agama Hindu tentang Politik
(Nitisastra) ?
2. Bagaimana peranan politik dari Negara Kesatuan terpuruk ke alam
penjajahan hingga lahir Bangsa dan Negara Kesatuan Republik
Indonesia ?
3. Apakah kontribusi agama Hindu dalam kehidupan politik berbangsa
dan bernegara ?

1.3 Tujuan Penulisan
Adapun tujuan dari penyusunan karya tulis ini adalah sebagai berikut :
1. Mengetahui pengertian dan sumber ajaran agama Hindu tentang
Politik (Nitisastra).
2. Mengetahui peranan politik dari Negara Kesatuan terpuruk ke
alam penjajahan hingga lahir Bangsa dan Negara Kesatuan
Republik Indonesia.
3. Mengetahui kontribusi agama Hindu dalam kehidupan politik
berbangsa dan bernegara.

1.4 Manfaat Penulisan
Adapun manfaat-manfaat yang diperoleh adalah sebagai berikut :
1. Memberikan tambahan pengetahuan baik bagi mahasiswa, maupun
masyarakat mengenai pengertian dan peranan politik menurut
perspektif Hindu.






3

BAB II
ISI

2.1 Pengertian dan sumber Ajaran Agama Hindu Tentang Politik
(Nitisastra)
Kata politik yang sering dikenal dalam bahasa Indonesia dapat
disamakan dengan kata Nitisastra dalam bahasa Sansekerta. Dalam kamus
kecil Sansekerta Indonesia, kata niti berarti kemudi, pimpinan, politik dan
sosial etik, pertimbangan dan kebijakan. Kata sastra berarti perintah, ajaran,
nasehat, aturan tulisan ilmiah. Dalam kamus Bahasa Jawa Kuno, kata niti
berarti kebijakan politik atau ilmu tata Negara. Sastra berarti Ilmu
Pengetahuan atau kitab pelajaran. Sedangkan dalam kamus Sansekerta Inggris
karya Arthur Mac Donnel, kata niti berarti Wordly Wisdom (Kebijakan
Duniawi), Etika Sosial Politik dan Tuntutan Politik.
Dari berbagai macam uraian di atas dapat disimpulkan bahwa Nitisastra
adalah ilmu pengetahuan tentang politik untuk menyelenggarakan
pemerintahan suatu negara dalam rangka mencapai cita-cita negara maupun
masyarakat sejahtera. Ajaran Nitisastra dalam sastra-sastra Hindu tak pernah
lepas dari pembahasan tentang pentingnya upaya untuk mewujudkan
masyarakat sejahtera. Jadi politik dalam perspektif Hindu adalah pengetahuan
untuk menyelenggarakan pemerintahan suatu negara guna mencapai tujuan
menciptakan masyarakat sejahtera.

2.2 Sumber Ajaran Nitisastra
2.2.1 Kitab-kitab Veda (Sruti)
Bila dicermati pemikiran tentang Nitisastra sudah terdapat dalam kitab-
kitab Sruti. Sebagai diketahui masing-masing kitab Sruti mempunyai Upaveda
tersendiri, dimana kitab Atharvaveda dikenal sebagai kitab yang memuat
pengetahuan tentang pemerintahan, ekonomi, pertanian, ilmu sosial dan lain
4

sebagainya. Jadi kitab Atharvaveda merupakan kitab Sruti yang memuat
ajaran Nitisastra.

2.2.2 Kitab-kitab Smerti
Kitab Nitisastra tersebar dalam kitab-kitab Smerti. Kitab Manava
Dharmasastra banyak sekali memuat ajaran-ajaran Nitisastra. Dalam Adhyaya
VII memuat berbagai aturan tentang kenegaraan dan berbagai aspek hukum
yang juga berkaitan dengan upaya penyelenggaraan pemerintahan negara.
Dalam kitab ini ditemukan penggunaan istilah Raja Dharma, dimana kata
Raja disamakan artinya dengan kepala negara.

2.2.3 Kitab-kitab Itihasa
Kitab Ramayana dan Mahabrata merupakan dua kitab yang
menceritakan tentang kepahlawanan yang keseluruhannya memuat tentang
etika dan cara-cara mengelola pemerintahan Negara. Itihasa Ramayana dan
Mahabrata sangat berkaitan dengan sejarah perkembangan Agama Hindu
dimasa lalu. Dapat dikatakan seluruh kitab Ramayana dan Mahabrata memuat
ajaran tentang Nitisastra. Dalam Ramayana Kakawin, sangat popular asas-asas
kepemimpinan yang disebut Asta Brata.

2.2.4 Kitab-kitab Purana
Kitab Purana dikenal juga sebagai kitab yang memuat cerita-cerita kuno
yang menceritakan kejadian-kejadian dimasa lalu. Kitab Purana ini banyak
jumlahnya dan bila dicermati di dalamnya banyak memuat ajaran tentang
Nitisastra.



5

2.2.5 Kitab-kitab, Lontar-lontar maupun Naskah-naskah lainnya yang bersumber
dari Naskah Sansekerta maupun Jawa Kuno
Slokantara maupun Sarasamuscaya juga memuat tentang ajaran
Nitisastra yang kadang-kadang dikemas dalam bentuk cerita yang
mengandung kiasan tentang pemerintahan maupun masalah sosial. Dalam
Tantri Kamandaka banyak juga cerita yang memuat tentang ajaran Nitisastra.
Di Bali yang sebagian besar penduduknya beragama Hindu, merupakan daerah
subur yang menumbuhkan karya sastra Agama Hindu. Ada beberapa lontar
yang memakai judul Niti, dan isinya tak begitu jauh berbeda dengan naskah-
naskah Niti yang lainnya.

2.3 Dari Negara Kesatuan terpuruk ke alam penjajahan
Di saat Gajah Mada dilantik menjadi Mahapatih Kerajaan Majapahit ia
mengucapkan sumpah yang dikenal dengan nama Sumpah Palapa. Walaupun
banyak yang menyangsikan isi dari sumpah itu, namun Mahapatih Gajah
Mada tetap kukuh pada pendiriannya untuk menyatukan Nusantara. Secara
perlahan-lahan satu persatu wilayah Nusantara dipersatukan dalam satu negara
yang besar, yaitu Negara Majapahit. Pada saat itulah Kerajaan Majapahit
mencapai puncak kejayaannya. Sejarah telah membuktikan bahwa Majapahit
telah meletakkan dasar-dasar Negara Kesatuan.
Namun seiring berjalannya waktu, Majapahit sebagai Negara Kesatuan
pun runtuh, dan wilayah Nusantara tercerai-berai kembali. Gaung persatuan
sudah tak ada lagi. Pada saat itulah kaum kapitalis mulai mengincar nusantara,
yang diawali dari kedatangan bangsa Portugis dan Belanda. Karena hilangnya
rasa kesatuan dan persatuan setelah Majapahit runtuh, Nusantara kemudian
tenggelam dalam penjajahan Belanda.

2.4 Lahir Bangsa dan Negara Kesatuan Republik Indonesia
Masa penjajahan menyebabkan seluruh rakyat Nusantara menderita dan
sengsara. Seluruh kekayaan alam dikuras habis dan para penduduk diperbudak
6

oleh para penjajah yang tak memiliki hati nurani. Sejarah memberikan
pengalaman bahwa akibat terkoyaknya rasa persatuan dan kesatuanlah yang
menjerumuskan nusantara ke dalam masa penjajahan.
Perkembangan politik dunia Internasional pada saat itu ikut memberi
pengaruh bangkitnya rasa kesadaran nasional untuk mewujudkan persatuan
dalam memperjuangkan kemerdekaan bangsa. Dari berbagai macam peristiwa
yang telah dilalui mulai dari timbulnya kebangkitan nasional hingga peristiwa
sumpah pemuda, dapat memberikan gambaran bahwa rasa persatuan dan
kesatuan sudah mulai muncul. Pada hakekatnya, persatuan Indonesia itu lahir
dari kesadaran bahwa untuk mencapai tujuan kemerdekaan, persatuan
merupakan suatu keharusan yang tidak dapat ditawar lagi, demikian pula
untuk mempertahankan kemerdekaan, membangun dan mengisi kepentingan
Bangsa dan Negara.
Akhirnya, berkat persatuan dan kesatuan bangsa, perjuangan Bangsa
Indonesia mencapai puncaknya dengan diproklamasikannya Kemerdekaan
Republik Indonesia pada tanggal 17 Agustus 1945 oleh Soekarno-Hatta selaku
wakil bangsa Indonesia. Pada saat itulah lahir Bangsa Indonesia dan Negara
Kesatuan Republik Indonesia yang berdasarkan Pancasila dengan Konstitusi
UUD 1945, serta lambang Negara Garuda Pancasila dengan Sasanti Bhineka
Tunggal Ika.

2.5 Kontribusi Agama Hindu dalam Kehidupan Politik Berbangsa dan
Bernegara
Sasanti Bhineka Tunggal Ika yang baris lengkapnya berbunyi Bhineka
Tunggal Ika Tan Hana Dharma Mangrwa diangkat dari karya Rakawi Mpu
Tantular dalam Kakawin Sutasoma. Secara harfiah kalimat itu berarti berbeda-
beda itu, satu itu, tidak ada kebajikan/kebenaran/kewajiban mendua. Dalam
konteks politik berbangsa dan bernegara sesuai dengan cita-cita bangsa dan
negara, kalimat Sasanti ini mempunyai makna bahwa Indonesia berbeda-beda,
tetapi tetap satu, sebagai Warga Negara Indonesia tidak ada kebajikan yang
mendua kecuali cinta pada Bangsa dan Negara Kesatuan Republik Indonesia.
7

Sasanti BhinekaTunggal Ika ini merupakan basis politik yang patut menjadi
pedoman dalam menentukan kebijakan apapun dalam penyelenggaraan
Negara ini.
Veda jelas-jelas menganjurkan persatuan, karena dengan persatuan itu
sesungguhnya kebahagiaan bersama dapat dicapai. Persatuan yang dimaksud
bukanlah hanya antara sesama melainkan persatuan dengan semua golongan
yang berbeda-beda seperti yang dimaksud Sasanti Bhineka Tunggal Ika.
Politik berbangsa dan bernegara bagi bangsa Indonesia pada dasarnya
adalah penanaman kesadaran bahwa berdasarkan sejarahnya kita adalah satu
Bangsa Indonesia yang menempati satu negara, yaitu Negara Kesatuan
Republik Indonesia. Kesadaran inilah yang perlu dipupuk dan dikembangkan
dari khasanah budaya bangsa termasuk dari nilai-nilai Agama.















8

BAB III
PENUTUP

3.1 Simpulan
Adapun simpulan yang dapat penulis kemukakan berkaitan dengan
materi adalah Nitisastra merupakan ilmu pengetahuan tentang politik untuk
menyelenggarakan pemerintahan suatu negara dalam rangka mencapai cita-
cita negara maupun masyarakat sejahtera. Ajaran Nitisastra dalam sastra-sastra
Hindu tak pernah lepas dari pembahasan tentang pentingnya upaya untuk
mewujudkan masyarakat sejahtera. Jadi politik dalam perspektif Hindu adalah
pengetahuan untuk menyelenggarakan pemerintahan suatu negara guna
mencapai tujuan menciptakan masyarakat sejahtera.
Ada berbagai macam sumber ajaran Nitisastra yaitu Kitab-kitab Veda
(Sruti), kitab-kitab Smerti, kitab-kitab Itihasa, kitab-kitab Purana, Lontar-
lontar maupun naskah-naskah lainnya yang bersumber dari Naskah Sansekerta
maupun Jawa Kuno. Politik sangat berperan dalam menyatukan kembali
rakyat Indonesia dan membebaskan diri dari masa penjajahan.

3.2 Saran
Adapun beberapa saran yang dapat penulis sampaikan mengacu pada
materi ini adalah sebagai berikut :
3.2.1 Kepada masyarakat yang ingin berkecimpung dalam dunia politik diharapkan
agar mampu menerapkan ajaran agama agar mampu menghindarkan diri dari
hal-hal yang bersifat negatif, sehingga politik yang awalnya berfungsi sebagai
pemersatu bangsa dapat berjalan dengan baik seperti sedia kala.

Anda mungkin juga menyukai