Anda di halaman 1dari 3

BAB I

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Hal yang menarik dimasyarakat sejak dahulu hingga kini,khususnya dikalangan
pendidik, remaja dan orang tua adalah mengenai pendidikan seks dikalangan remaja.
Masalah kehidupan seks yang tabu untuk dibicarakan secara umum, dapat menyebabkan
sebagian remaja mencari informasi secara bebas dan terkadang mencoba-coba untuk
melakukan aktifitas seks. Dengan sangat minimnya pengetahuan mengenai kesehatan
reproduksi, sangat rentan bagi mereka untuk tertular HIV/AIDS. (Kusniati, 2007)
Fenomena HIV/AIDS terus berkembang, kuman penyebabnyapun semakin beraneka
ragam, sampai kuman tersebut mutasi dan sulit diobati menjadi virus yang mematikan yaitu
HIV/AIDS. Virus HIV sulit sekali untuk disembuhkan dan sampai saat ini belum ditemukan
obat untuk mengobatinya. Virus HIV merusak sistem kekebalan tubuh penderitanya. Sampai
saat ini obat yang ada hanya dapat untuk memperpanjang hidup penderita bukan
menyembuhkannya. (Kusniati, 2007)
Sejak adanya kasus AIDS di Indonesia, sampai sekarang masih banyak masyarakat
yang acuh tak acuh bahkan stigma mereka semakin negatif. Persepsi negatif masyarakat
terhadap penderita HIV/AIDS, berdasarkan stimulus yang mereka terima. Stimulus ini salah
satunya adalah melalui informasi yang masyarakat terima tentang HIV/AIDS sehingga
terbentuk stigma dam dsikriminasi masyarakat terhadap penderita HIV/AIDS. Jika stigma
terhadap mereka sudah melekat, biasnya akan mempengaruhi interaksi mereka dengan
masyarakat, hasil penelitian yang dilakukan oleh (Waluyo; dkk, 2007) dikutip dari hasil
wawancara peneliti dengan penderita HIV/AIDS menjadi tertutup atau tidak terbuka. Karena
pada dasarnya interaksi sosial, oleh karena tanpa interaksi sosial adalah kunci dari semua
kehidupan sosial, oleh karena tanpa interaksi sosial, tidak akan mungkin akan ada kehidupan
bersama. Pertemuan orang perorangan secara badaniah tidak akan terjadi pergaulan hidup
dalam kelompok sosial. Pergaulan hidup semacam itu baru akan terjadi apabila orang-orang
perseorangan atau kelompok manusia bekerja sama, saling berbicara dan seterusnya. Untuk
mencapai satu tujuan bersama, mengadakan persaingan, pertikaian dan sebagainya, maka
dapat dikatakan bahwa interaksi sosial adalah dasar proses sosial, pengertian menunjukkan
pada hubungan-hubungan sosial yang dinamis (Soekanto, 2004).
Angka kejadian HIV/AIDS (Human Immunodeficiency Virus /AcquiredImmune
Deficiency Syndrome) menunjukkan peningkatan. Berdasarkan data WHO tahun 2002
terdapat lebih dari 25 juta orang di daerah Sub Sahara Afrika yang terinfeksi HIV. Meski
telah dilakukan pencegahan, HIV terus menyebar ke seluruh dunia dengan perkiraan 14.000
infeksi baru setiap harinya. Di Indonesia berdasarkan statistik kasus HIV/AIDS pada tahun
2010 terjadi peningkatan kasus sebanyak 591 kasus sehingga pada tahun 2010 ini telah
tercatat sebanyak 20.564 kasus dengan angka kematian sebanyak 3.936 kasus (Ditjen PPM
& PL Depkes RI, 2010). Di Puskesmas Kedungkandang angka kejadian HIV/AIDS
berjumlah 10 orang.
Menurut WHO kurang lebih 50% dari orang yang terinfeksi HIV berusia kurang dari
25 tahun, dan 20% penderita AIDS berumur kurang dari 20 tahun. Masa remaja ini
merupakan masa yang penuh perubahan, baik jasmani maupun kejiwaan, dan ingin untuk
bereksperimen, ingin mencoba-coba, termasuk tentang perilaku. Perubahan sosial yang cepat
menyebabkan remaja terpapar terhadap berbagai macam pilihan perilaku, sedangkan
beberapa perilaku tertentu memudahkan seseorang tertular penyakit HIV/AIDS. Remaja
perlu waspada tentang kemungkinan penularan penyakit AIDS, terutama melalui hubungan
seksual dan melalui jarum suntik narkotika.
Perlu ada peran yang besar dari keluarga sebagai orang-orang yang sangat dekat
dengan klien untuk bagaimana bisa merawat dengan baik dan bahkan membuat penderita
tersebut meningkat taraf kehidupannya. Peran keluarga secara informal adalah sebagai
motivator, educator, dan fasilitator bagi penderita (Putra, Hidayat dan Aisyah, 2010). Sebuah
keluarga harus menjadi penyemangat kepada anggota keluarganya yang sakit untuk
menjalani hidupnya dengan lebih baik, keluarga harus bisa memberikan informasi kesehatan
sehingga kesehatan penderita HIV/AIDS bisa menjadi lebih baik pula.
Berdasarkan uraian diatas, peneliti ingin mengetahui Bagaimana upaya keluarga
dalam meningkatkan kualitas hidup anggota keluarga penderita HIV/AIDS.
1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian di atas dapat ditarik suatu rumusan masalah yaitu Bagaimana
upaya keluarga dalam meningkatkan kualitas hidup anggota keluarga penderita HIV/AIDS

1.3 Tujuan Penelitian
Untuk mengetahui upaya keluarga dalam meningkatkan kualitas hidup anggota
keluarga penderita HIV/AIDS.
1.4 Manfaat Penelitian
Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat bagi:
1.4.1 Bagi Partisipan
Diharapkan dengan adanya penelitian ini akan menjadi pengetahuan bagi keluarga dalam
proses perawatan anggota keluarga dengan HIV/AIDS.
1.4.2 Bagi Perawat
Diharapkan dengan penelitian ini bisa menambah wawasan dan ilmu pengetahuan
dikalangan perawat untuk memberikan asuhan keperawatan yang terbaik bagi penderita
HIV.
1.4.3 Bagi Pendidikan Keperawatan
Manfaat penelitian ini sebagai bahan perbandingan dan referensi untuk penelitian
berikutnya.Selain itu hasil penelitian ini diharapkan dapat memperkaya ilmu keperawatan.