Anda di halaman 1dari 9

ASUHAN KEPERAWATAN

A. Pengkajian
Data yang dikaji pada ibu dengan pre eklampsia adalah :
Data subyektif :
Data Obyektif :
Identitas pasien dan penanggung jawab Umur biasanya sering terjadi
pada primi gravida , < 20 tahun atau > 35 tahun
Riwayat kesehatan ibu sekarang Terjadi peningkatan tensi,
oedema, pusing, nyeri epigastrium, mual muntah, penglihatan kabur.
Riwayat kesehatan ibu sebelumnya Penyakit ginjal, anemia,
vaskuler esensial, hipertensi kronik, DM
Riwayat kehamilan Riwayat kehamilan ganda, mola
hidatidosa, hidramnion serta riwayat kehamilan dengan pre eklampsia atau eklampsia sebelumnya.
Riwayat penyakit Ada hubungan genetik yang
telah diteliti. Riwayat keluarga ibu atau saudara perempuan meningkatkan resiko empat sampai
delapan kali.
Pola nutrisi Jenis makanan yang dikonsumsi
baik makanan pokok maupun selingan.
Psiko sosial spiritual Emosi yang tidak stabil dapat
menyebabkan kecemasan, oleh karenanya perlu kesiapan moril untuk menghadapi resikonya.
Inspeksi : edema yang tidak hilang dalam kurun waktu 24 jam
Palpasi : untuk mengetahui TFU, letak janin, lokasi edema
Auskultasi : mendengarkan DJJ untuk mengetahui adanya fetal distress
Perkusi : untuk mengetahui refleks patella sebagai syarat pemberian SM ( jika refleks + )
- Pemeriksaan Fisik :
Pemeriksaan tekanan darah, nadi dan pernafasan minimal setiap 2 sampai 4 jam untuk menetapkan
nilai dasar dan memantau perubahan kecil sepanjang masa hamil.
Suhu setiap 4 jam atau kurang bila terjadi peningkatan suhu tubuh
Kecepatan denyut jantung janin setiap 2 sampai 4 jam atau diawasi terus menerus.
Edema dievaluasi pada wajah, ekstremitas dan sacrum setiap 4 jam; kedalaman ditentukan dengan
melakukan penekanan pada area di atas tulang
Berat badan ditentukan setiap hari pada waktu yang sama kecuali tirah baring ketat
Refleks tendon dalam dievaluasi setiap 4 jam terhadap hiperaktivitas dari tendon bisep, trisep atau
achiles
Edema pulmoner ditentukan setiap 4 jam sekali dengan melakukan auskultasi
Pelepasan plasenta dikaji setiap jam dengan memeriksa perdarahan vagina atau rigiditas uterus.
Breathing : Pernafasan meliputi sesak nafas sehabis aktifitas, batuk dengan atau tanpa sputum,
riwayat merokok, penggunaan obat bantu pernafasan, bunyi nafas tambahan, sianosis.

- Pemeriksaan penunjang :
Protein urine ditentukan setiap jam bila dipasang kateter (hasil +3 menandakan kehilangan 5 mg
protein dalam 24 jam)
Berat jenis urine ditentukan setiap jam bila dipasang kateter (hasil yang didapat 1,040 berhubungan
dengan oliguria dan proteinuria)
Hitung sel darah lengkap (termasuk hitung trombosis)
Pemeriksaan pembekuan (termasuk waktu perdarahan, PT, PTT, dan fibrinogen)
Enzim hati (Laktat Dehidrogenase (LDH), Aspartat aminotransferase (AST) (SGOT), Alanin
aminotransferase (ALT) (SGPT)
Kimia darah (BUN, kreatinin, glukosa, asam urat)
Pemeriksaan silang darah
Hematokrit, Hemoglobin, trombosis
Laboratorium : protein urine dengan kateter atau midstream ( biasanya meningkat hingga 0,3 gr/lt
atau +1 hingga +2 pada skala kualitatif.
USG : untuk mengetahui keadaan janin
NST : untuk mengetahui kesejahteraan janin.

B. Analisa Data
No Data Masalah Etiologi
1.
DS :
Klien mengatakan kalau ia merasa
nyei pada kepala, kadang-kadang
mual dan muntah, kakinya bengkak.

DO :
TD : 140/90 mmHg
Udem pada kedua ekstremitas
Hb :11 gr %
Perfusi jaringan
Hipertensi,
Vasospasme
2.











DS :
Klien mengatakan sempat minum
obat dan jamu peluntur kehamilan
tetapi tidak berhasil.

DO :
TD : 140/90 mmHg
kehamilan 39-40 mg,
Hb : 11 gr %
Reduksi urine (-)
Gerakan janin < 10x/jam.
Cidera pada janin
Fetal distress

3.


DS :
Klien mengatakan merasa cemas
menjelang persalinan.
DO :
Klien tampak cemas
Nadi : 92x/menit

Ancaman cidera pada
bayi

kecemasan

RR : 22x/menit

4.
DS :
Klien mengatakan belum paham
betul tentang kehamilannya dan
cara perawatannya.
Klien mengatakan akan kontrol ke
dokter dengan ditemani suaminya.
DO :
Klien tampak lebih ingin mengetahui
tentang perkembangan
kehamilannya.
Kurang informasi Kurang pengetahuan

C. Diagnosa Keperawatan

Perubahan perfusi jaringan b/d Hipertensi, Vasospasme siklik, Edema serebral.
Resiko tinggi cidera pada janin b/d fetal distress.
Kecemasan b/d ancaman cedera pada bayi sebelum lahir.
Kurang pengetahuan mengenai kondisi dan tindakan b/d kurang informasi.

No Diagnose keperawatan Tujuan Intervensi Rasional
1.
Perubahan perfusi
jaringan b.d.
Hipertensi,
Vasospasme siklik,
Edema serebral.
Tidak terjadi
vasospasme dan
perfusi jaringan
dengan
k/h:
- klien akan
mengalami
vasodilatasi
ditandai dengan
diuresis, penurunan
1. 1. Memantau
asupan oral dan
ifus IV MGSO4.
2 2. Memantau urin
yang kluar.
3. 3. Memantau
edema yang terlihat.
4.4.Mempertahankan
tirah baring total
11. MGSO4 adalah obat
anti kejang yang bekerja
pada sambungan
mioneural dan
merelaksasi
vasospasme sehingga
menyebabkan
peningkatan perfusi
ginjal, mobilisasi cairan
ekstra seluler (edema
dan dieresis).
tekanan darah,
edema.
dengan posisi miring. 22. Tirah baring
menyebabkan aliran
darah urtero plasenta,
yang sering kali
menurunkan tekanan
darah dan
meningkatkan dieresis.
2.
Resiko tinggi cedera
pada janin b/d fetal
distress.
Setelah dilakukan
tindakan
perawatan tidak
terjadi fetal distress
pada janin dengan
Kriteria hasil :
DJJ ( + ) : 12-12-
12
11. Monitor DJJ
sesuai indikasi.
22. Kaji tentang
pertumbuhan janin.
33. Jelaskan adanya
tanda-tanda solutio
plasenta ( nyeri
perut, perdarahan,
rahim tegang,
aktifitas janin turun ).
44. Kaji respon janin
pada ibu yang diberi
SM.
55. Kolaborasi
dengan medis dalam
pemeriksaan USG
dan NST.
11. Peningkatan DJJ
sebagai indikasi
terjadinya hipoxia,
prematur dan solusio
plasenta.
22. Penurunan fungsi
plasenta mungkin
diakibatkan karena
hipertensi sehingga
timbul IUGR.
33. Ibu dapat
mengetahui tanda dan
gejala solutio plasenta
dan tahu akibat hipoxia
bagi janin.
44. Reaksi terapi dapat
menurunkan
pernafasan janin dan
fungsi jantung serta
aktifitas janin.
55. USG dan NST untuk
mengetahui keadaan
atau kesejahteraan
janin.
3.




Kecemasan b/d
ancaman cedera pada
bayi sebelum lahir.
Ansietas dapat
teratasi dengan
Kriteria hasil:
1- Tampak rileks,
dapat istirahat
dengan tepat.
2- Menunjukkan
11. Kaji tingkat
ansietas pasien.
Perhatikan tanda
depresi dan
pengingkaran.
22. Dorong dan
berikan kesempatan
untuk pasien atau
1.1. Membantu
menentukan jenis
intervensi yang
diperlukan.
2. 2. Membuat
perasaan terbuka dan
bekerja sama untuk
memberikan informasi















ketrampilan
pemecahan
masalah.
orang terdekat
mengajukan
pertanyaan dan
menyatakan
masalah.
33. Dorong orang
terdekat
berpartisipasi dalam
asuhan, sesuai
indikasi.
yang akan membantu
mengatasi masalah.
3. 3. Keterlibatan
meningkatka perasaan
berbagi, manguatkan
perasaan berguna,
memberikan
kesempatan untuk
mengakui kemampuan
individu dan
memperkecil rasa takut
karena ketidaktahuan.
Kurang pengetahuan, kondisi dan tindakan b/d kurang informasi.

Pengetahuan pasien bertambah dengan
Kriteria hasil:
-Pasien mengerti terhadap apa yang disampaikan.
-Mampu menerapkan informasi yang didapat.
-Mentaati pengobatan.

K 1. Kaji kesiapan pasien dan hambatan belajar.
2. Jelaskan tentang hipertensi dan efeknya pada jantung
3. Berikan pengertian pentingnya kerja sama.
4. Kolaborasi dengan dokter dalam pemberian penjelasan mengenai penyakit.
1. Meningkatkan minat pasien untuk belajar.
2 Agar pasien mengerti mengenai penyakit.
3. Agar masalah dapat diatasi dengan baik.
4. Agar informasi yang disampaikan dapat lebih lengkap dan jelas.
D. Implementasi keperawatan
Implementasi keperawatan adalah pelaksanaan dari intervensi keperawatan dimana awalan kata
pada intervensi ditambah dengan kata kerja misalnya jika pada intervensi keperawatan kaji TTV
maka pada implementasi keperawatan mengkaji TTV.(Judith M.W.2007).

E. Evaluasi
Evaluasi adalah suatu proses yang berkesinambungan. Untuk menjadi efektif, evaluasi perlu
didasarkan pada criteria yang dapat diukur yang mencerminkan hasil akhir perawatan yang
diharapkan.
Ibu dan janin tidak menderita gejala sisa akibat per eklampsia atau penatalaksanaannya
Ibu tidak akan mengalami eklampsia atau komplikasi yang berat
Janin tidak akan mengalami distress
Bayi baru lahir akan dilahirkan dalam kondisi optimal tanpa suatu efek akibat penyakit maternal dan
penatalaksanaannya
Ibu akan melahirkan dalam kondisi optimal tanpa suatu akibat pada kondisi dan penatalaksanaannya
Keluarga akan mampu berkoping secara efektif terhadap keadaan ibu yang beresiko tinggi,
penatalaksanaan dan hasil akhirnya.
Jika hasil akhir bagi ibu atau bagi janin tidak menguntungkan, keluarga dibantu untuk mengatasi
kehilangan dan kesedihan.





















BAB IV
PENUTUP
A. Kesimpulan
Preeklampsia adalah penyakit dengan tanda-tanda hipertensi, odema, dan protein urine yang timbul
karena kehamilan, penyakit ini umumnya terjadi dalam triwulan ke-3 kehamilan. Preeklampsia juga
merupakan penyulit kehamilan yang akut dan dapat menyebabkan kematian pada ibu dan bayi pada
masa ante, intra dan post partum.
Preeklamsi berakibat fatal jika tidak segera ditindak. Ia merusak plasenta sehingga menyebabkan
bayi lahir dalam keadaan tidak bernyawa, atau lahir prematur, penyakit ini juga membahayakan
ginjal ibu hamil. Pada beberapa kasus, bisa menyebabkan ibu hamil mengalami koma. Pre eklamsi
adalah timbulnya hipertensi disertai proteinuria dan edema akibat kehamilan setelah usia kehamilan
20 minggu atau segera setelah persalinan. Pre eklamsi dan eklamsi adalah penyakit pada wanita
hamil yang secara langsung disebabkan oleh kehamilan.
Pre eklamsi dan eklamsi hampir secara eksklusif merupakan penyakit pada nullipara. Biasanya
terdapat pada wanita usia subur dengan umur ekstrem, yaitu pada remaja belasan tahun atau pada
wanita yang berumur lebih dari 35 tahun. Pada multipara biasanya dijumpai pada keadaan-keadaan :
kehamilan multifetal dan hidrop fetalis, penyakit vaskuler, termasuk hipertensi essensial kronis dan
diabetes mellitus, penyakit ginjal.

B. Saran
Diharapkan kepada mahasiswa dapat mempelajari dan memahami tentang penyakit pre-eklampsia
dan pencegahannya.
Dalam bidang keperawatan, mempelajari suatu penyakit itu penting, dan diharapkan kepada
mahasiswa mampu membuat konsep teoritis suatu penyakit tersebut beserta asuhan
keperawatannya.



DAFTAR PUSTAKA

Doenges Marilynn, dkk. 2000. Rencana Asuhan Keperawatan, edisi 3 . EGC : Jakarta.
Persis Mary Hamilton, (1995). Dasar-dasar Keperawatan Maternitas, EGC : Jakarta.
Price, Silvia A. 2006. Patofisiologi, volume 2. Jakarta: Buku kedokteran EGC.
Ramli Ahmad, dkk. 2000. Kamus Kedokteran. Djambatan : Jakarta.