Anda di halaman 1dari 16

Analisis Stratigrafi Regional untuk Hidrokarbon

di Cekungan Kutai, Kalimantan Timur



Group Stratigraphy :

SARI
Cekungan Kutai merupakan cekungan paling ekonomis kedua di Indonesia setelah cekungan
Dumai. Cekungan ini mengalami penurunan selama masa akhir paleosen hingga pertengahan Eosen
Oligosen, berkaitan dengan basement rifting. Sebagian cekungan ini mengalami pengangkatan
pada akhir Oligosen.Kemudian pengangkatan cekungan dan inversi dimulai sejak awal Miosen
bersamaan dengan pengendapan serangkaian endapan aluvial dan delta yang luas.Pengendapan
endapan delta ini berlangsung terus hingga saat ini.Daerah di Cekungan Kutai yang paling banyak
menghasilkan hidrokarbon adalah Delta Mahakam yang sangat terkenal dengan kompleks deltanya.
Di sisi lain, Delta Mahakam juga mempunyai potensi yang masih cukup besar pada deep marine
sand deposits

PENDAHULUAN
Menurut peneliti yang lain, secara regional di daerah Kalimantan, litologi penyusun Zona
Cekungan Mahakam dan Kutai yang tersingkap sekarang antara lain didominasi oleh Endapan
Kuarter dan batuan-batuan Sedimen berumur Paleosen (Tersier Awal) hingga Plistosen atau Kuarter
Awal (W. Hamilton, 1978; Halien, 1969 dan Pupiluli, 1973 dalam Rienno Ismail, 2008).
W. Hamilton (1978) dalam Rienno Ismail (2008), juga menyatakan bahwa secara regional, di
daerah Kalimantan batuan dasarnya yang tersingkap antara lain terdiri dari batuan sedimen, beku dan
malihan serta kombinasi dari ketiganya, yang diduga berumur Pra-Trias (Perem) pada Masa
Paleozoikum hingga Masa Mesozoikum yang berumur Kapur Akhir.
Cekungan Kutai berada di Kabupaten Kutai Kertanegara, Provinsi Kalimantan Timur, secara
geografis daerah tersebut terletak antara ( 0o - 6 o) LU, ( 0o - 9 o) LS dan 116o30 - 116o45
Cekungan Kutai yang luasnya + 50.000 km2, cekungan ini mulai diisi sedimen pada permulaan
Tersier sampai Kuarter.Dataran cekungan ini terus melebar ke arah Timur.Pengisisan cekungan ini
dimulai dari lingkungan laut sampai fluvial, pada pengendapan lingkungan paralik banyak
diendapkan batubara yang diselingi endapan sedimen.Pada Miosen Bawah terjadi siklus regresi,
lingkungan daratan mulai melebar ke arah Timur Laut.Di atas endapan tersier diendapakan aluvium
yang terdiri dari lempung, lanau dan gambut, endapan ini mengisi bagian yang rendah.
Geologi Regional Cekungan Kutai

Cekungan Kutai merupakan cekungan terluas (165.000 km2) dan terdalam (12.000 14.000
meter) di Indonesia yang terletak di pantai timur Kalimantan dan
daerah paparan sebelahnya. Cekungan Kutai merupakan cekungan hidrokarbon yang berumur
Tersier dimana minyak dan gas bumi terperangkap pada batupasir berumur Miosen dan Pleistosen.
Cekungan ini terbentuk dan berkembang akibat proses-proses pemisahan diri akibat regangan di
dalam lempeng Mikro Sunda yang menyertai interaksi antara lempeng Sunda dengan lempeng
Pasifik di sebelah Timur, lempeng Hindia Australia di selatan, dan lempeng Laut Cina Selatan di
utara.

Kerangka Tektonik Cekungan Kutai

Cekungan Kutai meliputi suatu area seluas 60.000 km2, terletak di pantai timur Kalimantan,
terdiri dari sediment Tersier yang berkembang setebal 14 km. cekungan ini dibatasi oleh
Semenanjung Mangkalihat di sebelah utara, suatu tinggian yang memisahkan Cekungan Kutai
dengan Cekungan Tarakan, paparan Paternoster dan Tinggian Meratus di sebelah selatan, Tinggian
Kuching di sebelah barat, dan paparan benua Selat Makassar di sebelah timur . Lapangan Semberah
berlokasi di Cekungan Kutai Bawah pada tepi bagian barat area cekungan yang terbukti
menghasilkan minyak. Proses tektonik yang berkaitan dengan sejarah pembentukan Cekungan Kutai
adalah rifting Selat Makassar sepanjang Eosen Tengah sampai Oligosen Awal (Asikin, 1995). Pada
periode ini gaya berarah SE, yang merupakan manifestasi proses tumbukan 13 India dengan lempeng
benua Asia, memacu rifting Selat Makassar sepanjang rangkaian strike-slip fault parallel yang
merupakan reaktifasi struktur sebelumnya yaitu Adang Fault, Mangkalihat Fault, dan lain-lain.
Proses ini merupakan inisiasi pembentukan Cekungan Kutai sebagai rift basin. Trend cekungan
mengikuti arah rezim rekahan teraktifasi yang merupakan faktor pendorong bagi terbentuknya
Cekungan Melawi,Cekungan Ketungau, dan Cekungan Kutai. Katili (1984) berpendapat bahwa
Cekungan Kutai adalah sebuah aulakogen, yaitu cekungan yang terbentuk akibat system rekahan
segitiga (Triple junction rifting), yang berkaitan dengan rifting Selat Makassar pada awal Tersier.
Pendapat ini didukung pula oleh Van De Weerd dan Armin (1992) yang menjelaskan bahwa
Cekungan Kutai terbentuk pada Kala Eosen Tengah sebagai cekungan ekstensional.
Awal pengendapan yang terjadi di Cekungan Kutai adalah sepanjang rentang Eosen Akhir
Oligosen, dimana pada kala itu proses transgresi mencapai maksimum, terutama di Cekungan Kutai
Bawah (Lower Kutai Basin). Sepanjang rentang Miosen Awal, cekungan mulai terisi oleh sediment Delta
Mahakam. Proses ini mengalami peningkatan dan sangat intensif pada Kala Miosen Tengah dimana
terjadi pembalikan tektonik pertama (first major tectonic inversion) berupa pengangkatan Kompleks
Orogenik Kuching dan dimulainya proses regresi (Van de Weerd dan Armin, 1992). Proses pembalikan
tektonik ini menyebabkan aliran Sungai Mahakam purba tertutup dan
beralih menjadi aliran yang berlaku hingga saat ini (Resen), dan diikuti oleh intensifikasi
progradasi Delta Mahakam. Pembalikan tektonik kedua terjadi pada masa Mio Pliosen, yaitu pada saat
terjadi tumbukan (collision) antara Banggai Sulawesi. Proses ini membentuk pola struktur geologi
dengan dominasi arah NNE SSW yang merupakan arah struktur umum Cekungan Kutai yang
tersingkap saat ini (Van de Weerd dan Armin, 1992) yaitu berupa rangkaian antiklin dengan dan jalur
thrust fault di bagian selatan barat. Rangkaian antiklin ini dikenal sebagai Antiklinorium Samarinda.
Stratigrafi
Stratigrafi daerah Cekungan Kutai merupakan endapan-endapan sedimen Tersier sebagai hasil
dari siklus transgresi dan regresi laut dan memiliki kesebandingan dengan cekungan Barito serta
Cekungan Tarakan (Satyana et al., 1999 dalam Rienno Ismail, 2008). Urutan transgresif dapat
ditemukan dengan baik di sepanjang daerah pinggiran cekungan tanpa endapan klastik yang berbutir
kasar dan serpih yang diendapkan pada lingkungan paralis hingga laut dangkal
Urutan regresif Cekungan Kutai mengandung endapan klastik delta hingga paralis yang banyak
mengandung lapisan batubara dan lignit.Sistem delta yang berumur Miosen Tengah berkembang
secara cepat ke arah timur dan ke arah tenggara. Progradasi ke arah timur dan tumbuhnya delta yang
terus menerus sepanjang waktu diselang-selingi oleh fasa transgresif secara lokal (Koesoemadinata,
1978 op cit Satyana et al., 1999 dalam Rienno Ismail, 2008). Batupasir yang terbentuk di delta plain
dan delta front yang regresif berumur Miosen Tengah merupakan reservoir di sejumlah lapangan
minyak dan gas bumi di Cekungan Kutai.
Batuan tertua yang ada di Cekungan Kutai berupa batuan metamorf yang menjadi pembentuk
batuan dasar dan berumur Paleozoikum dan Mesozoikum (Satyana et al., 1999 dalam Rienno Ismail,
2008).Di atas batuan dasar ini secara tidak selaras diendapkan Formasi Kiham Haloq berupa alluvial
berumur Paleosen yang terletak dekat dengan batas cekungan bagian barat (Moss dan Chambers,
2000 dalam Rienno Ismail, 2008).Pada kala Eosen cekungan terus mengalami pendalaman akibat
pemekaran batuan dasar, sehingga terjadi peristiwa transgresi yang mengendapkan Formasi
Mangkupa berupa serpih yang diendapkan pada lingkungan laut terbuka hingga marginal marine
(Satyana et al., 1999 dalam Rienno Ismail, 2008).
Berikut merupakan urutan stratigrafi dari batuan yang tua ke muda :
Basement Cekungan
Dalam Petroleum of Indonesian Basins, Vol. XI, tentang Cekungan Kutai yang disusun oleh
Pertamina BPPKA (1997), basement Cekungan Kutai terdiri atas 3 jenis batuan yang
merepresentasikan proses masing-masing, yaitu :
1. asosiasi batuan sediment yang telah terubah dan memperlihatkan variasi derajat metamorfisme.
2. basemen batuan beku yang tersingkap di area bagian hulu sungai Mahakam, merupakan hasil dari
proses vulkanik yang terjadi pada sepanjang kala Eosen Awal - Eosen Tengah.
3. Basemen vulkanik Pra Tersier ditembus oleh Sumur Gendring (bagian Tenggara Kutai).
Berdasarkan penanggalan, batuan ini terbentuk pada kala Kapur Awal.

Lapisan Boh
Endapan Tersier Tertua adalah Lapisan Boh (Boh Beds), tersusun atas serpih, batulanau, dan
batupasir halus. Lapisan ini berumur Awal Eosen Tengah, ditunjukkan oleh keberadaan foraminifera
Globorotalia bullbrooki. Tersingkap di area hulu Sungai Mahakam, Sungai Boh, secara lokal di
Tanjung Mangkalihat, dan di bagian utara cekungan yaitu daerah Bungalun, Tabalar, dan Sungai
Karang (Van Bemmelen, 1949, p.131).
Lapisan Keham Halo
Pada saat peralihan Eosen Tengah Eosen Akhir terdapat suatu fase regresi yang sangat
kuat, diperlihatkan oleh adanya clastic wegde yang dilanjutkan dengan endapan marine berumur
Eosen Akhir Oligosen Awal. Unit klastik tersebut dinamakan Lapisan Keham Halo, tersusun dari
batupasir dan konglomerat yang berkembang sangat tebal di bagian barat Cekungan Kutai, yaitu
mencapai ketebalan 1400 2000 m.
Lapisan Atan
Unit marine yang berada di atas Lapisan Keham Halo yang terdiri dari serpih dan mudstone
dikenal sebagai Lapisan Atan yang berumur Eosen Akhir Oligosen Awal, berkembang mencapai
ketebalan 200 400 m. unit marine ini sangat kaya akan foraminifera, dan menunjukkan suatu
kisaran umur menerus antara P15 P21 (N2).
Formasi Marah
Formasi Marah diendapkan pada Kala Oligosen Akhir (N2/ N3), diendapkan secara tidak
selaras di atas Lapisan Atan. Ketidakselarasan ini disebabkan oleh suatu fase tektonik yang secara
kuat menyebabkan terbentuknya struktur geologi di daerah tersebut dan mengubah sumber sediment
dari selatan menjadi dari arah barat. Proses ini merefleksikan pola pengendapan di Cekungan Kutai
hingga saat ini. Formasi Marah tersusun oleh batupasir, konglomerat, dan sedikit endapan vulkanik
klastik, dengan sisipan serpih dan batu bara yang signifikan. Bahan klastik ini berasal dari arah barat.
Penyebarannya ke arah timur tidak diketahui secara pasti namun diperkirakan mencapai hilir Sungai
Mahakam resen. Formasi Marah berkembang mencapai ketebalan 120 m.
Formasi Pamaluan
Formasi Pamaluan yang merupakan suatu unit serpih batulanau marine diendapkan secara
selaras di atas Formasi Marah pada Kala Oligosen Akhir, yang merupakan satu paket pengendapan
transgresif. Ketebalan formasi ini mencapai 1000 m. Analisa foraminifera mengindikasikan bahwa
formasi ini berada pada kisaran zona N3 N5 (BPPKA Pertamina, 1997).
Kelompok Bebulu
Di atas Formasi Pamaluan diendapkan batugamping dari Formasi Maruat. Lapisan
batugamping ini membentuk platform melebihi sebagian Cekungan Kutai dengan ketebalan
mencapai 100 200 m. umur formasi adalah Miosen Awal, atau berada pada kisaran N6 N9.
Formasi Maruat pada kisaran N8 N9 diendapkan bersamaan dengan Formasi Pulau Balang secara
selaras dengan perubahan fasies secara lateral. Formasi Pulau Balang tersusun atas batulempung dan
serpih dengan perselingan ataupun sisipan batugamping dan batupasir. Unit ini berkembang
mencapai ketebalan 1500 m. kedua formasi ini merupakan anggota Kelompok Bebulu.
Kelompok Balikpapan
Kala Miosen Tengah dimulai dengan pengendapan secara tidak selaras di atas batugamping
Formasi Maruat yaitu Formasi Mentawir bersamaan dengan Formasi Gelingseh secara selaras
dengan perubahan fasies secara lateral, Kelompok Balikpapan (Marks et.al., 1982). Formasi
Mentawir tersusun atas batupasir massif dengan ukuran butir halus sedang, mengalami perselingan
dengan batulempung, batulanau, serpih, dan batubara. Unit ini berkembang setebal 540 m di
Balikpapan namun menyerpih ke arah offshore. Formasi Gelingseh terdiri dari batulempung,
batulanau dan batupasir. Formasi ini diendapkan sepanjang Miosen Tengah atau berada pada kisaran
N9 N14. di atas Formasi Mentawir dan Formasi Gelingseh diendapkan secara selaras Formasi
Klandasan, Kelompok Balikpapan. Keseluruhan formasi di atas merupakan Kelompok Balikpapan,
terendapakan dalam rentan umur sepanjang Miosen Tengah Miosen Akhir. Kisaran waktu ini
ditutup oleh suatu proses regresi besar, hal ini diindikasikan oleh kehadiran unit klastik yang lebih
muda, dikenal sebagai Formasi Kampung Baru.
Formasi Kampung Baru
Rentang Kala Pliosen Kuarter diawali dengan pengendapan Formasi Kampung Baru,
diendapkan di sepanjang rentang Pliosen dengan kontak secara tidak selaras dengan Kelompok
Balikpapan. Formasi ini tersusun oleh batupasir, batulanau, serpih, dan kaya akan batubara. Unit
klastik yang lebih kasar berkembang di bagian bawah dari formasi dengan kisaran ketebalan 30
120 m. Ke arah timur, batupasir berubah fasies menjadi unit serpih. Unit klastik halus pada bagian
teratas dari formasi ini memberikan bukti yang baik akan adanya fase transgresi pada Pliosen Akhir,
diperlihatkan dengan berkembangnya fasies karbonat.keseluruhan formasi ini diendapkan di
sepanjang rentang Kala Pliosen.
Kelompok Mahakam
Rentang Kala Pleistosen Resen ditandai dengan pengendapan fasies deltaic yang dikenal dengan
Formasi Handil Dua. Formasi ini diendapkan bersamaan dengan unit fasies laut yang berkembang
kea rah lepas pantai yang dikenal dengan Formasi Attaka. Bagian atas dari kedua formasi ini
mencerminkan proses pengendapan system Delta Mahakam saat ini.
Delta Mahakam
Delta Mahakam yang terbentuk pada muara Sungai Mahakam bagian Timurn Kalimantan
memisahkan Pulau Kalimantan dengan Pulau Sulawesi. Delta Mahakam ini merupakan daerah yang
memiliki kandungan hidrokarbon yang sangat besar mencapai lebih dari 5 milliar barrel (Moss et al.,
1997) yang merupakan akumulasi batupasir dari fasies deltaic bar dan channel. Delta Mahakam
modern merupakan delta aktif yang terbentuk pada kondisi tropik yang dipengaruhi oleh pasang
surut yang sangat besar dan pengaruh fluvial (Allen & Thouvenin, 1976) dan adanya progradasi
sejak akhir transgresi Holosen sekitar 5000 6000 tahun yang lalu. Secara umum Delta Mahakam
terbentuk akibat pengaruh energi arus rendah (low wave energy) serta campuran antara endapan
sungai (fluvial) dan arus pasang surut (tidal dan fluvial dominated).
Stratigrafi Delta Mahakam
Stratigrafi Delta Mahakam sangat dipengaruhi oleh keberadaan Tinggian Kuching di sebelah
barat, dimana sedimen yang diendapkan di Delta Mahakam berasal dari padanya. Sedimen tersebut
umumnya terdiri dari sedimen berbutir halus, membundar baik dengan pemilahan yang baik.
Kandungan kuarsa dalam sedimen tersebut mengandung kuarsa dalam batupasir pada progradasi
awal dari batuan granitik
Sunda Shield (Allen & Chamber, 1998). Pola sedimentasi Delta Mahakam yang diawali fase
regresi yang membentuk sedimen-sedimen tebal yang terakumulasi di bagian timur cekungan
dengan adanya hubungan stratigrafi antara sedimen tersebut dengan fasies sedimentasi yang berbeda,
tetapi secara umum sedimen tersebut menunjukkan adanya siklus regresi dan transgrasi. Pola delta
plain dan delta front yang terdapat di Delta Mahakam secara umum mengandung akumulasi
hidrokarbon.

Batuan Induk
Menurut Stevano eet.al (2001) daerah Mahakam memiliki tiga jenis batuan yang dapat
menjadi batuan induk antara lain : batubara, lempung organik dan marine mudstone. Batubara dan
lempung organik dapat berasosiasi dengan lingkungan pengendapan dari fluvial deltai-plain sampai
delta-front, sedangkan marine mudstone berasosiasi dengan dengan lingkungan dari distal deltafront
sampai abyssal plane.
Persentase batubara yang hadir pada Delta Mahakam lebih besar dari pada lempung organik
dan marine mudstone, hal ini sesuai dengan jumlah akomodasi sedimen gambut yang besar dan
Delta Mahakam secara geografis berada pada daerah equatorial. Lempung organik yang diendapkan
pada lingkungan delta-plain hingga deltafront memiliki material organik yang berasal dari
transportasi sisa-sisa tumbuhan yang berupa debris.
Menurut Peterson and al., 1997, pada Lower Kutai Basin terdapat dua tipe batubara yang
teridentifikasi yaitu tipe lipnitic (lebih cenderung minyak) dan tipe vitrinic (lebih cenderung gas) .
nilai persentase batubara yang relatif tinggi yang terdapat pada lower kutai basin salah satunya
dipengaruhi oleh jumlah akomodasi sedimen yang cukup besar dan letak geografis dari delta
mahakam yang berada disekitar garis khatulistiwa. Batubara ini memiliki nilai Total Organic
Carbon (TOC) sekitar 65 % , nilai Genetic Potential (GP) sebesar 175 mg/g dan Hydrogen Indices
(HI) lebih besar dari 250. dilihat dari data di atas, jenis hidrokarbon yang terbentuk pada Lower
Kutai Basin mayoritas adalah minyak.

Migrasi Hidrokarbon

Pada Cekungan Kutai migrasi hidrokarbon yang dominan adalah secara lateral, tanpa kontrol
yang kuat dari pengangkutan regional. Batuan induk yang berada di lingkungan Delta disalurkan
secara efisien dari chanel-chanel batupasir yang menerus dan beberapa mouth bar.
Ketidakmenerusan antara delta-front bar dan distributary channel juga terjadi pada migrasi
hidrokarbon dengan jarak yang relatif luas. Sedangkan pada batupasir yang terisolasi, hidrokarbon
akan terperangkap secara stratigrafi. Stevano Mora dkk (2001) menulis tentang migrasi hidrokarbon
di daerah Semberah Cekungan Kutai. Kesimpulannya adalah bahwa zona generasi minyak (Ro =
0.6), minyak telah tercapai di bawah kedalaman 700 m. Minyak di sekitar struktur yang ada pada
daerah telitian berasal dari batuan sumber yang ada di sekitar reservoir dan tepatnya pada bagian
sayap-sayap antiklin yang bermigrasi ke puncak.

Reservoar

Akumulasi minyak dan gas bumi yang terdapat di daerah Mahakam umumnya ditemukan
pada reservoar yang berumur Miosen Tengah sampai Miosen Akhir, reservoar karbonat tidak terlalu
banyak yang mengandung cadangan hidrokarbon bernilai ekonomis dan secara signifikan akumulasi
hidrokarbon juga dapat ditemukan pada endapan turbidit. Pada lapangan minyak yang berada di
darat (onshore) reservoir pada umumnya terdiri dari sedimen-sedimen fluvial dan Distributary
Channel, dimana jarak distribusi antara tubuh batupasir dan jumlah akomodasi sedimen sangat
mengontrol konektivitas dari reservoar-reservoar tersebut. Reservoar pada daerah telitian terdapat
pada Formasi Mentawir Kelompok Balikpapan. Reservoar pada bagian dalam lepas pantai (inner
offsshore) terdiri dari sedimensedimen lower delta-plain dan sedimen-sedimen delta-front. Sedimen-
sedimen distributary channel juga hadir dengan dimensi yang sama dengan reservoar darat, tetapi
lebih jarang muncul. Reservoar pada delta-front terdiri dari sedimen-sedimen mouth bar. Reservoar
pada daerah lepas pantai hingga laut dalam biasanya terdiri dari endapan-endapan turbidit batupasir
lempungan.

Perangkap dan Lapisan Penutup

Lapangan-lapangan minyak dan gas yang berada di Delta Mahakam memiliki perangkap
struktur dan stratigrafi. Reservoar-reservoar yang berupa endapan fluvial, distributary channel dan
mouth bar biasanya terdapat di bagian sayap dari antiklin, dan dapat juga muncul sebagai perangkap
campuran antara struktur dan stratigrafi. Komponen-komponen stratigrafi muncul di bagian utara
dan selatan Sungai Mahakam modern, dimana paleo-channelnya miring terhadap sumbu struktur.
Lapisan penutup yang berada di Delta Mahakam umumnya berupa batulempung (Shale), sedangkan
di bagian laut dalam umunya didominasi oleh sejumlah besar mudstone.


ENDAPAN PASIR LAUT DALAM DARI CEKUNGAN KUTAI (HIDROKARBON)
Pembahasan ini akan banyak membahas mengenai outcrops sedimen berumur Oligo-Miosen di
sekitar daerah Balikpapan, Sepaku, Tenggarong dan Samarinda, yang terletak di Cekungan Kutai
bagian bawah sepanjang area antiklinorum Samarinda. Arti outcrops ini menjadi penting karena
mencerminkan salah satu karakteristik yang khas berupa turbidite sandstone yang dapat menjadi
kandidat reservoir yang bagus di daerah ini. Selain difokuskan kepada karakteristik sedimen deep
marine, Analisis ini secara umum membahas mengenai stratigrafi serta sistem minyak bumi dari
Lower Cekungan Kutai. outcrop deep marine sand (sistem turbidit) yang akan dikunjungi berada
dalam rentang umur N2 - N8. seperti yang telah dibahas sebelumnya, endapan deep marine ini
mempunyai sifat dan karakteristik deep marine sands dari Paleo Delta Mahakam yang sangat
berbeda dengan endapan shallow marine turbidites di pro-delta atau pun daerah paparan.
Hasil akhir yang diharapkan adalah pemahaman tentang variasi system minyak bumi yang
berkembang di Lower Kutai Basin dengan menitikberatkan pada adanya potensi deep water sand
baik sebagai reservoir maupun perbedaannya dengan fasies yang lainnya seperti pro-delta sand.
Delta Mahakam merupakan daerah yang memiliki kandungan hidrokarbon yang sangat besar
mencapai lebih dari 5 milliar barrel (Moss, et.al., 1997) yang merupakan akumulasi batupasir dari
facies deltaic bar dan channel.


KESIMPULAN

Cekungan Kutai berada pada daerah yang memiliki tektonik yang kompleks. Adanya interaksi
konvergen antara 3 lempeng utama, yakni Lempeng Indo-Australia, Lempeng Pasifik, dan Lempeng
Asia yang membentuk daerah Timur Kalimantan yang menghasilkan bebarapa kerangka tektonik .
Bagian Barat daya dari Kalimantan merupakan bagian dari continental passive margin, yang
terbentuk pada zaman Kapur Awal sebagai bagian dari lempeng Asia Tenggara yang dikenal sebagai
Sunda land. Pada zaman Tersier, terjadi peristiwa interaksi konvergen yang menghasilkan beberapa
formasi akresi pada daerah Kalimantan.
Cekungan Kutai merupakan cekungan yang sangat potensial untuk sumber hidrokarbon, dimana
pada tiap tiap formasi dan sistem sedimentasi dari cekungan ini sangat memungkinkan adanya
hidrokarbon yang melimpah.Daerah utama yang kaya hidrokarbon pada cekungan Kutai ini adalah
pada daerah Delta Mahakam yang diperkirakan mencapai lebih dari 5 milliar barrel. Delta Mahakam
ini merupakan akumulasi batupasir darifacies deltaic bar dan channel.









DAFTAR PUSTAKA

http://aryadhani.blogspot.com/2012/07/stratigrafi-regional-cekungan-kutai.html
http://id.scribd.com/doc/51505925/CEKUNGAN-KALIMANTAN
http://bkpmd.kalselprov.go.id/potensi-daerah/pertambangan-dan-energi
http://psdg.bgl.esdm.go.id/index.php?option=com_content&view=article&id=341&Itemid=378





















LAMPIRAN












Fisiografi dan tatanan regional Kalimantan Timur (Paterson et al., 1997)











Lokasi Cekungan Kutai Pada Tatanan Tektonik Pulau Kalimantan
(SEMCO, 2004)

Perkembangan Arah Struktur NNE-SSW dan NW-SE Pada Mio-Pliosen di Cekungan Kutai
(SEMCO, 2004)









Batas-batas Cekungan Kutai (Allen dan Chambers, 1998















Stratigrafi dan kerangka tektonik Cekungan Kutai (Satyana, et al., 1999)



























Kesebandingan stratigrafi Cekungan Barito, Kutai, dan Tarakan (Satyana, et al., 1999)
















Evolusi area Mahakam (Mora, et al., 2001)


Batuan Induk Distributaris Fasies & Delta Mahakam (SEMCO, 2004)